Work Text:
#1
Kondisi di lapangan itu sulit diprediksi. Mau se-gembel apapun penampilan Yudistira, kalau sudah dekat kumpulan orang-orang yang mencurigakan, bisa saja ia tetap terlihat mencolok. Itu kenapa dia selalu mencoba lay low. Mencoba untuk berbaur dan menghilang. Tapi untuk hari ini, Yudis rasa ia harus melakukan hal yang berbeda. Saat mengamen (lebih ke diminta survei lapangan suspected target oleh Mas Juna) ia melihat beberapa anggota Q-RAVVA memasuki sebuah gang kecil menuju storage room yang cukup luas, membawa tas dan koper besar. Mas Juna’s intel was right– tapi kita gak expect mereka melakukan sesuatu hari ini!
“Jun, ini gue deketin ya—“
“Mundur, Yudis.” Potong yang lebih tua.
“Hah? Apa sih Jun, tanggung! Lu emang gak denger tadi, ini bukti penting!”
“Yudis, lu sendirian. There’s no backup available. Mundur, lu cuma ditugasin buat survei.”
“Tapi belum tentu kita lihat mereka jelas-jelas lagi ngelakuin sesuatu kayak gini lagi— aku mau ambil bukti aja, kok!”
“Yudis…”
Sedetik, dua detik diantara mereka. Sebelum derap kaki terdengar dari jaringan.
“Ah, biarlah!” Tidak menghiraukan kata Arjuna, Yudistira terus maju untuk menginvestigasi. Memangnya hanya Mas Kula dan Mas Juna yang bisa pergi dalam misi rahasia? Yudis lebih dari sekedar intel!
“Yudistira! Dibilang mu—“ Dilepasnya earphone yang menghubungkannya dengan Arjuna. Ia akan coba dengan caranya hari ini. Yudistira tidak bodoh, ia tahu kapan harus mundur.
(Yang Yudistira tidak tahu adalah fakta bahwa Arjuna sudah mual di depan laptopnya. Hati tidak berhenti berdegup, mata pusing ke sana sini memantau situasi dari tracker. Mencoba menghubungi adiknya.)
——
Satu jam kemudian, Yudistira sudah kembali di motor— sehat sentosa, untungnya— dalam perjalanan pulang. Dengan earphone yang sudah menyala kembali, Yudis merasa telinganya mulai sakit.
“Lu nggak dengerin gue! Do you know what could’ve happened? Lu bahkan matiin comms! Lu mikir apaan sih?!” Menggebu-gebu, Arjuna dengan suara tingginya membentak. Ini nih yang bikin sakit.
“Tapi kan gue juga cuma liat doang Jun...” Yudistira menghela nafas berat, mata memicing dan alis mengerut. “Buktinya gue aman aja sekarang.” Lanjut Yudistira.
“Aman aja pala kau! Lu dikejar hampir 20 orang! 20 orang, Yudis! Untung jalan di luar rame dan mereka gak liat Lu lagi! You literally went into a lion's den! Unprepared!”
Sebelum Yudis bisa kembali membentak, Nakula—sejak kapan Nakula tersambung?— memotong, “Udah, udah. Juna, tutup dulu comms-nya.”
“Ah Mas! Yudis nih—“
“Iya, Juna. Tutup dulu. Istirahat, calm down.”
Arjuna menggerutu namun menutup sambungan mereka. Hanya tersisa Yudistira dan Nakula sekarang.
“Kenapa sih Mas, dia marah-marah mulu?”
“Because you were stupid.” Jawab Nakula dengan ketus.
“Mas!”
“Bener, Yudis. You were reckless.”
Yudistira mengerang malas. “Mas jangan ikut-ikutan kayak si Juned deh.”
“Ya tapi kan bener!” Nada Nakula meninggi. “Lagian, tadi aku tuh diminta tolongin dia buat ikutan nyoba reach kamu. Jangan lah kamu mati-matiin comms gitu tiba-tiba, aku juga jadi takut.”
Nakula menghela nafas. “Dia begini karena khawatir. He cares about you— about us—a lot, Yudis. Kita semua juga cuma mau kamu aman. Bahkan dia gak mention kalau kelompok itu sekarang pasti kabur, kan?”
Percakapannya dengan Mas Nakula berakhir saat Yudistira bergeming. Nakula mendoakannya pulang selamat sampai rumah, sementara kata-katanya masih terus terngiang di kepala Yudistira. Sepanjang waktu Arjuna memarahinya, tidak sekali pun ia menyinggung kalau Yudis telah menggagalkan misi yang sudah mereka rencanakan sejak lama itu– hanya karena ia membuat para target kabur. Arjuna cuma marah karena Yudistira tidak aman.
Hanya angin kencang dan matahari yang tinggal seperempat menemaninya. Tangannya mengencang di stang motor setiap Yudistira mengingat apa yang telah ia lakukan, sebelum beberapa waktu kemudian, gerbang familiar terlihat.
“Yudis!”
Belum sempat seluruh badannya masuk rumah, Arjuna yang terlihat kalut sudah di depannya. Dengan cepat Arjuna menangkup pipi Yudistira. Dibalikkan, melihat yang kanan dan kiri. Jaketnya dibuka sampai lengan. Mengelus dengan lembut, memeriksa dengan seksama. Luka se-sedikit apapun membuatnya mendengus pelan, bertanya lagi dan lagi, sakit? Kena apa tadi? Perih gak?
Yudistira hanya bisa menukik alis. Apalah luka gores kecil dari tangan yang terlalu ingin tahu dibandingkan Yudistira yang keren dan kuat ini?
Arjuna masih berlanjut. Menepuk-nepuk lengannya, sebelum menjauh sedikit dan memindai sekali lagi.
“Bener nggak ada yang sakit, dek?”
“Nggaaaak.”
“Beneran?
“Serius!”
Merasa cukup, sang kakak menepuk pundaknya, raut wajah melega. “Good job. Makasih udah jaga diri.” Arjuna mendekat lagi, berbisik dengan pelan, “Don't ever do something like that again. Nanti kubunuh kau.”
Barulah Arjuna sang kakak merasa tenang untuk kembali menjadi Arjuna, sang ex-agen rahasia, pemimpin mereka. Ia meninggalkan Yudistira tertegun, sementara ia bertanya dengan rinci tentang penemuan Yudistira di luar sana. Mengingatkan hal-hal kecil yang bahkan ia lupa sampaikan. Nanti laporan aku bikin, kamu bisa lihat bareng Mas Nakula rekapnya. Tolong kabarin Mas Dewa sama Bima to keep an eye out for news on their new location.
Yudistira melihat Arjuna mengalir kembali ke pekerjaannya. Mata kembali tegas, badan kembali tegap. Sang adik tertawa kecil, bener ya kata Mas Kula, orang yang paling galak itu mungkin orang yang paling khawatir.
#2
“Okay. They’re all gone. Good job everyone.” Suara berat Sadewa terdengar lega di earphone mereka.
Semua tertawa lemas, adrenalin mulai turun dan detak jantung mulai melambat. Mereka baru menyelesaikan operasi melawan Q-RAVVA, menyelamatkan beberapa sandera yang Aya dengar saat ia sendiri tertangkap.
Arjuna melihat sekitar, mencentang to-do list imajiner di kepalanya. Nakula, sebagai tim penyelamat, baru saja jalan menuju kantor Azure bersama para sandera untuk mengurus kepulangan mereka. Nanti Sadewa akan menjemput mereka semua ke kantor Azure untuk membantu kembarannya. Mereka aman. Sesuai rencana.
Waktunya memeriksa adik-adiknya yang ada disini. Dipanggilnya Yudistira yang masih ngos-ngosan karena berlari kesana-kemari memastikan tidak ada lagi sandera yang tersisa. Diperiksa adiknya itu dengan tangan yang ahli, seperti sudah melakukan ini ribuan kali. Adiknya pun diam saja, tersenyum dengan lembut. Tangan kanan diusap, pipi dibelai, pertanyaan dilontarkan. Yudistira hari ini bekerja dengan aman, sehat, and with minimal damage.
“Makasih udah hati-hati.” Kata Arjuna. Dibalas dengan senyum geli yang tulus bagi orang yang tepat.
Sekarang adiknya yang satu lagi. “Bima! Sini, Bim.”
Yang dipanggil tidak menyahut, tidak bergerak.
“Bim?” Arjuna berdiri untuk menghampiri. “Bima kenapa?”
Di sana, ada Bima yang sedang memegangi tangan kanannya, wajah meringis kesakitan. Pelan pelan, Arjuna dengan lembut menarik tangan kiri Bima untuk melihat lengan kanannya. Ada luka sayat yang cukup besar, membentang dari bawah bisepnya sampai tepat di bawah sikunya.
“Eh! Kok gak bilang?!” Pekik Arjuna.
“A-aku gak sadar, baru kerasa sakit sekarang… Tadi beneran gak kerasa apa-apa, Mas.” Kata Bima dengan lirih. Arjuna melihat lukanya lagi, memutuskan lukanya tidak terlalu dalam.
“Probably the adrenaline.” Dengan tenang, Juna mengeluarkan sapu tangan dari jasnya dan menekan lukanya. “Ini tahan di sini Bim, jangan dilepas.”
Arjuna berdiri dan mulai meneliti setiap bagian badan Bima. Pusing? Tadi ada yang kena kepala nggak? Ada yang dislokasi? Tadi Mas liat kamu kena pukul kayu.
“Mentang-mentang badan lu gede, garda depan atau apalah itu, kalo sakit itu tetap bilang.” Tegur Arjuna.
Bima mencibir, muka mengerut seperti anak anjing yang sedang dimarahi. Jika ia punya telinga anjing, pasti sudah rata dengan kepalanya.
“Iya maaf Mas Juna…” Bima mengalihkan pandangannya dari mata menghakimi Arjuna. Sebelum Arjuna bisa mengomel lagi, Bima merasakan sesuatu berdenyut di belakang kepalanya.
Bima merengek, “Kalau gitu, tolong cek belakang kepala aku dong, Mas. Kok kayak sakit gitu sih.”
Juna segera berjinjit dibelakang Bima, dengan hati-hati membelah surai ungu itu untuk melihat di antaranya. “Ah— memar, Bim. Kayaknya nanti bengkak.”
“Kena apa ini tadi?” Arjuna bertanya.
“Gak inget… antara kayu yang tadi atau bat. But they were pretty weak, so I'm not too concerned..?”
“Kamu gak pusing atau mual, kan? Semoga bener cuma lebam aja.” Arjuna kembali ke depan Bima, memindai seluruh badannya. Adiknya yang satu ini pasti paling banyak menerima cedera saat menjalani misi, tapi juga yang paling tahan rasa sakit. Meskipun begitu, Arjuna tetap khawatir, tetap mengusap lembut dan memeriksa setiap bagian adiknya.
“Udah. Thank you ya, Bim. You did good.”
——
“You seem happy. Did something happen? It went well kan, tadi.” Sadewa bertanya dari balik kemudi. Adiknya yang duduk di kursi penumpang sedari tadi tersenyum melihat keluar jendela, persis ekspresinya setelah mendapat pokemon kesukaannya. Hanya ada mereka berdua di mobil saat ini. Tadi, Sadewa mengajukan diri untuk membawa perlengkapan mereka lebih dulu ke rumah. In a spur of the moment, Arjuna menyarankan untuk membawa Bima juga agar ia bisa beristirahat, sementara Arjuna dan Yudistira akan pulang bersama Nakula sambil membeli sarapan untuk mereka semua.
“Well, no, — eh maksudnya, yes it went well, but! Gak ada yang spesifik, gitu. It’s just… nice.” Jawab Bima.
“What is?”
Bima kembali melihat ke luar jendela mobil. Mata sayu, mengingat sesuatu yang jauh.“Uh… Dulu, pas gue belum kenal Mas Juna and— all of you, gitu. I needed to, you know, take care of my own wounds. Every single time.”
Di benak Sadewa, terbayang anak laki-laki berambut ungu yang badannya terlalu tinggi, sendirian di gang kecil. Dengan tangannya yang terlalu kikuk ia mencoba membalut lukanya sendiri. Hasilnya mencong-mencong, matanya menahan tangis. Ke mana anak ini akan pulang, jika saat terluka pun ia sendirian? Sadewa tidak suka memikirkan ini. Ia kembali memperhatikan Bima.
“Jadi tadi pas sama Mas Juna… I found out ternyata rasanya diperbanin, diobatin sama orang lain feels really really good.”
Oh.
Sadewa harus berterima kasih kepada Arjuna lagi karena sudah mengenalkan mereka ke satu sama lain. Senyuman Bima terlihat tenang, tidak lagi takut dan kesakitan seperti anak laki-laki berambut ungu yang ada di kepala Sadewa. Arjuna yang membuat mereka bisa melihat senyuman ini. Arjuna yang memulai semua ini.
Langit mulai terang, cahaya merah muda dan ungu memenuhi mobil. Di pagi yang tenang ini, mereka pulang ke rumah dengan rasa puas. Puas karena mereka masih bersama-sama, puas karena semuanya aman.
“You’re awfully sappy tonight.” Ejek Sadewa.
Bima mendengus, “It’s the concussion.”
“You don't even have a concussion.”
+1:
“Juna, Juna tenang dulu.” Suara Nakula hampir putus-putus di earphone Arjuna. Hal itu sungguh tidak membantu mood buruknya dan tangannya yang hampir gemetar. Hampir. Dia ex-secret agent yang profesional, dia bisa bekerja di bawah tekanan. Dia jago, dia handal. Semua jenis misi sudah pernah ia kerjakan dengan sempurna— namun ia belum pernah dihadapkan oleh ini.
Terperangkap dengan bom waktu yang tersisa enam menit dan comms yang hampir putus. Arjuna sudah memarahi dirinya sendiri seribu kali, kok bisa gue sebodoh ini? Kok bisa gue ketangkep sama Q-RAVVA? Kapan mereka masukin biusnya?
At least yang lain aman. Itu yang terus dipikirkan Arjuna. Pasti semuanya sudah di rumah, sehat dan tidak kenapa-napa. Saat tangannya yang terborgol mulai mereda hampir-gemetarnya, suara besar Bima membangunkan Juna dari lamunan.
“Dengerin kita ya Mas, we’re gonna tell you what to do! Mas tenang aja, take a deep breath!” Suara Bima terdengar terlalu gugup dan takut untuk menenangkan Arjuna, A for Effort.
“Dengerin aku terus jawab ya Jun.” Nakula memotong.
“Type of Bomb?” Tanyanya.
Kind of suitcase-shaped.
“Okay. Now tell us what you see.”
Ada beberapa kabel. Warnanya merah, kuning, kuning, merah.
“Oke— kita mulai dari situ.”
Arjuna lupa kalau Nakula itu detektif professional. Arjuna berterima kasih bahwa kakaknya itu juga mengerti hal seperti ini, bukan hanya Juna sendiri. Ia juga bisa mendengar coretan kertas yang pasti berasal dari Bima, dan suara Yudis bergumam membaca petunjuk.
“Angka terakhir di serial number ganjil?” Lanjut Nakula.
GQ1324. Genap.
“Potong kabel kuning yang terakhir.”
Terburu-buru, Arjuna membuka antingnya dan memotong kabel dengan keras. “Aman. Bisa. The light turned green.”
Beberapa helaan nafas lega terdengar dari earphone Arjuna. Timer bergerak ke tiga menit terakhir.
“Masih ada yang lain. Ada…4 tombol, setiap tombol ada simbolnya. Ada tanda tanya kebalik, laba-laba pake tongkat, simbol paragraf, sama huruf… hijaiyah…”
Adik dan kakaknya terdiam, Bima bisa terdengar mencoba untuk tidak tertawa.
“… Uh, dipencet urutannya paragraf, laba-laba, tanda tanya, terus huruf… huruf hijaiyah.” Nakula selesai menginstruksi, sementara sayup-sayup terdengar Yudistira dan Sadewa yang tidak bisa tidak tertawa. Arjuna bersyukur mereka masih bisa tertawa. Arjuna tidak mau mendengar apapun selain gelak tawa bahagia saudara-saudaranya di (yang bisa jadi adalah) saat-saat terakhirnya.
“Kok ketawa sih! ah, Dew, stop— Udah. Juna, bisa?” Cecar Nakula.
“Bisa. Sisa… sisa satu. Ada diamond. Warnanya biru, juning, merah, hijau.”
“Okay— time?”
“Two minutes.”
Semuanya langsung hening, hanya suara beep beep dari puzzle di depan Arjuna dan suara kertas manual dari Nakula yang terdengar. Dengan cepat, Arjuna mendeskripsikan tombol di depannya.
“Hijau, beep.”
“…Pencet kuning.” Jawab Nakula.
Arjuna melanjutkan, “Sekarang hijau, terus biru.”
“Pencet merah.”
Suara kencang terdengar dari puzzle bersamaan dengan lampu merah yang sekarang menyala. Tangan Arjuna mulai berkeringat.
“Mas— kayaknya salah, ini ada lampu merahnya udah dua! Mas ini giman—“
“Juna, Juna tenang. Sebentar—“
Arjuna tidak bisa tenang. Ia seperti sudah melupakan semua trainingnya sebagai agen rahasia, terlena dengan bantuan kakak dan adiknya akhir-akhir ini. Ia tidak bisa tenang, karena dalam satu menit, kemungkinan besar adik dan kakaknya harus mendengar ledakan besar tanpa bisa melakukan apa-apa. Dalam satu menit, kemungkinan besar ia tidak bisa melihat adik perempuannya lagi. Dalam satu menit, Arjuna akan—
“Jun, Juna! Tadi pas pertama kali, kamu habis lampu biru nyala pencet apa?” Yudistira bertanya, nada keras.
“Merah.”
“Kayaknya lu harus pencet yang sebelumnya, terus tombol yang baru. It’s a sequence. The previous rule still applies. Jadi tadi habis lampu biru, pencet kuning, baru merah.”
“Ini… strike-nya udah dua. Ini, mungkin terakhir kalinya aku bisa—“
“Juna, stop. Save it. We know how it works now, so do it. This will not be the last time you talk to us.” Sadewa memotong perkataan Arjuna yang sudah mulai mabuk.
“Tapi Mas, intinya kalo gue kenapa-napa, Aya—“
“Saya gak mau tau. Aya bakal masih bisa diurus sama kamu. Sekarang kasih tau lampu yang nyala apa. Listen to Nakula and focus, Arjuna.”
Dengan helaan nafas yang goyah, Arjuna menjawab. “Merah.”
“Ini the second strike. Berarti pencet hijau.” Nakula melanjutkan instruksinya.
“Merah, kuning. Sisa 20 detik…”
“Hijau, biru.” Balas Nakula.
“Merah, kuning, hijau. Mas, 15 seconds—“
“Hijau, biru, kuning. Last one, Juna.”
“Merah kuning hijau hijau— berarti hijau biru kuning kuning—“
Bip. Tombol terakhir ditekan Arjuna. Semua berharap ada sebuah nafas lega atau tawa bahagia, namun—
“Mas, dek. Ini timer-nya nggak berhenti.”
Apa?
Suara dari earphone Arjuna seketika ricuh. Mas! Maksudnya apa? Juna, get away! Arjuna, jangan tinggalkan kami! Arjuna sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat mereka berhenti berbicara. Arjuna ingin mengingat semua suara, semua kata-kata, semua cara bicara yang sedang terdengar di telinganya saat ini. Suara Nakula yang bulat, suara Sadewa yang berat. Cara bicara Bima yang belepotan, cara bicara Yudistira yang terlewat santai. Ia harus ingat.
Dengan mendesak, ia baru berbicara,” Hei. Selain gue minta tolong jagain Aya—“
“Mas —“
“Juna—“
“Tolong jaga diri, ya. Thank you udah selalu jaga diri. Sisa.. sisa tiga detik.”
Di beberapa detik selanjutnya, tidak ada yang berkata apa-apa. Tidak ada lagi yang berani bertanya. Hanya Arjuna, kakak-kakaknya, serta adik-adiknya menunggu kepastian. Menunggu konfirmasi bahwa mimpi buruk ini benar adanya. Menunggu sebuah hai, ini hanya prank!, sebuah teriakan histeris, atau sebuah ledakan.
Namun yang terdengar adalah suara robotic yang kaku. “Bomb defused.”
What the hell. Barulah Arjuna dan saudaranya bisa bernafas lega. Arjuna rasa badannya tiba-tiba lemas. Semua tenaganya hilang. Ia hanya bisa duduk diam, menatap bom yang sudah mati di depannya. Tidak menghiraukan adik kakaknya yang sedang grasak-grusuk, samar-samar berteriak “Bentar Mas! Kita OTW! We’ll get you out!”
Pikirannya penuh tentang bagaimana ia lengah hari ini. Agen rahasia apa yang sebodoh ini sampai bisa terbius dan tertangkap? How weak has he become?
Arjuna yang dulu adalah agen rahasia terbaik karena satu alasan. Ia tidak takut mati. Semua misi yang berbahaya ia jalankan, mengetahui Aya aman di rumah, akan hidup lebih baik tanpanya, lupa dengannya. Nothing to lose.
Namun sekarang… he has so much. Dua adik baru, dua kakak baru, Aya yang sudah kembali padanya— dia dimiliki dan memiliki terlalu banyak. Ini berefek pada pekerjaannya. This shouldn't happen. Dia harus menjauh. Ini terlalu berbahaya untuk saudara-saudaranya. Jika sekarang ia tertangkap, besok bisa Yudistira. Bisa Sadewa. Bisa Aya lagi.
Ia harus mencoba berdiri sendiri lagi. Mencari tagu bagaimana caranya orang-orang tersayangnya ini aman. Ia harus lebih berusaha lagi, lebih jago lagi—
Terjerumus dalam angannya, Arjuna tidak dengar suara hentakan pintu yang sedang didobrak, teriakan Bima yang kencang, (“Mas Juna!”) dan derap lari kakak-adiknya, sebelum mereka menghambur ke pelukannya.
“Juna! Juna gak papa?”
“What did they do to you? Ada yang sakit? Are you nauseous?”
“Eh bentar— sini borgolnya mas lepas dulu—“
Ah. Seketika, semua pemikiran tentang meninggalkan orang-orang ini sirna. I can’t imagine my life without them anymore.
Seraya kakak dan adiknya sibuk memindai seluruh bagian tubuh Arjuna, bertanya dan mengelus, mengusap dan memeriksa, Arjuna hanya bisa diam menikmati. Akhirnya tenang bisa melihat orang-orang yang dia sayang aman dan sehat.
Arjuna yang dulu tidak keberatan mati demi menjaga adik dan kakaknya. Arjuna yang sekarang sadar ia harus ada bersama mereka juga. Ada untuk melihat mereka bahagia, melihat mereka sehat. Dia harus lebih kuat lagi. Lebih pintar lagi. Dia harus hidup agar bisa bersama-sama, selamanya.
