Actions

Work Header

home

Summary:

“Ini belum lama jadi kok. Haha,” tawanya kering, Keonho yakin kalau mereka harus segera keluar dari situasi yang bisa timbulkan canggung. “Tadinya mau kejutan sih.”

“It’s still surprise me, though. Aku sampai gak tahu harus ngomong apa lagi.”

“Tapi cocok ‘kan?”

“Apanya?”

Rumahnya. Kayak kamu. Buat kamu. “Kamu ‘kan tadi minta aku bawa ke tempat yang tenang. Ya, ini. Cocok ‘kan?”

Kalau ada pepatah pernah bilang; sometimes home is not a place, it can be a person. Bagi Keonho, dia ingin bisa mengusakan keduanya. Rumah, dan Seonghyeon.

Rumahnya, adalah Seonghyeon.

Notes:

GOD. i was so high on keonhyeon live pill the moment i found out about it.............. trs aku punya wip yang blm sempet dilanjut terima kasih atas live-nya jadi ini bisa kelar pada akhirnya. ini lahir dari beberapa konsep karena di kepalaku selalu ada, 1) keonho fell first then love HARDER, 2) seonghyeon GAK PEKA trs TELAT NYADARNYA, 3) YEARNER KEONHO, 4) keonhyeon miskom karena cinta perasaan itu rumit yknow, 5) keonhyeon ENDGAME

tapi ya kalo dipikir lagi ini lebih ke words vomit aja deh karena bayangin ini 14rb kata isinya sebenernya cuma MISKOM!!! so, happy reading, ig? semoga kuat sampai akhir dan gak ketiduran di tengah jalan... trims.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu, semua dimulai dari satu hembusan nafas lelah yang sumbernya dari Seonghyeon. Kemudian sosok yang tidak pernah beranjak jadi dari sisinya; Keonho, menoleh khawatir.

“Mau pulang?”

Ada jeda; Seonghyeon tidak cukup berani menjawab ketika isi kepalanya justru sudah terlalu riuh soal si empunya suara yang baru saja lontarkan ajakan pulang padanya.

Ahn Keonho. Teman terdekatnya, sahabat yang sudah dikenalnya sejak mereka berdua bahkan masih belum fasih bicara. Ahn Keonho. Sosok yang sepertinya selalu mampu memahami Seonghyeon lebih dari siapa pun meski hanya dari sebuah gestur sederhana. Ahn Keonho. Sebuah nama yang tidak bisa Seonghyeon pungkiri sudah jadi sumber berisik dalam kepalanya untuk beberapa lama ini.

“Seonghyeon?" tegur Keonho, setelah rasanya cukup lama ia menunggu Seonghyeon yang tak kunjung beri respon atas ajakannya. Pun seingatnya, belakangan ini suasana hati sahabatnya itu memang sedang tidak dalam kondisi yang baik. Maka Keonho berubah pikiran; tidak ada dirinya memberikan penawaran, melainkan sebuah tindakan yang menurutnya tepat dilakukan. “Ayo, aku antar kamu pulang.”

“Enggak.” Bahkan Seonghyeon sendiri kaget dengan bagaimana jawaban spontannya terdengar begitu lugas. “Bawa aku ke tempat lain aja.”

“Kemana?”

“Somewhere… safe. Jauh dari berisik yang bikin kepalaku sakit.” Adalah sebuah jawaban gila, karena tentu saja Seonghyeon baru saja meminta dirinya untuk dibawa pergi kepada sumber dari kegelisahannya sendiri. Tapi, ini Keonho. Aku percaya kamu soalnya. “Bisa ‘kan?”

Maka setelahnya, tidak sulit bagi permintaan Seonghyeon untuk dapat dikabulkan; apa pun bentuknya akan selalu Keonho usahakan, kalau itu demi apa pun Seonghyeon inginkan.

 


 

Lantas seiring dengan waktu yang berlalu, kepercayaan yang Seonghyeon pasrahkan di kursi penumpang mobil Keonho itu sama sekali tak pernah ia prediksi akan jadi keputusan yang akan dirinya sesali.

Di antara mereka berdua, saling memiliki rahasia dari satu sama lain sudah bisa dikategorikan sebagai satu tindakan yang nyaris mustahil dilakukan. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Bahkan hanya dengan sebuah sorot familiar yang saling ditukar, akan mampu dengan mudah kirimkan pesan soal gambaran apa yang masing-masing dari mereka pikirkan. 

Maka Seonghyeon menyesal ketika ia tahu Keonho membawanya ke daerah sebelah utara yang jauh dari pengapnya hiruk-pikuk kota, lalu dirinya dihadapkan dengan fakta kalau Keonho baru saja membangun sebuah rumah baru yang sedikit pun tidak pernah Seonghyeon ketahui apa pun soal itu.

“I literally had no idea. Sengaja ya selama ini disembunyiin dari aku?” Ada perasaan tidak nyaman yang belum dapat Seonghyeon gambarkan secara jelas seperti apa. Satu hal yang pasti, Seonghyeon ingat dirinya pernah cerita soal bagaimana ia punya gambaran tentang rumah impiannya di masa depan. Lalu kini, sejauh pada matanya mampu memandang maka semua gambaran itu terwujud hampir sangat mendetail dan begitu nyata. Seonghyeon tahu dan bisa merasakannya, tapi jadi berpura-pura adalah jalan yang dipilihnya. “Punya pencapaian baru kok enggak langsung kamu bagi ke aku sih kabar bahagianya...”

Keonho hanya tersenyum kecil, lantas memandang sang sahabat. Dan untuk pertama kalinya selama mereka saling kenal, Seonghyeon merasa takut dalam memaknai arti di balik sorot yang hanya tertuju padanya itu.

Kadang apa yang jadi mimpi kamu pada akhirnya jadi mimpiku juga, Seonghyeon. Misalnya ini, aku lakukan semua ini juga karena kamu.

Dan Keonho tahu, Seonghyeon bisa dengan mudah menelusuri jalan pikirannya. Pun ia juga mengerti kalau sorot yang Seonghyeon balas berikan kini adalah berarti Keonho harus kembali menahan dirinya kali ini.

“Ini belum lama jadi kok. Haha,” tawanya kering, Keonho yakin kalau mereka harus segera keluar dari situasi yang bisa timbulkan canggung. “Tadinya mau kejutan sih.”

“It’s still surprise me, though. Aku sampai gak tahu harus ngomong apa lagi.”

“Tapi cocok ‘kan?”

“Apanya?”

Rumahnya. Kayak kamu. Buat kamu. “Kamu ‘kan tadi minta aku bawa ke tempat yang tenang. Ya, ini. Cocok ‘kan?”

Padahal sebenarnya semua ini justru membuat kepala Seonghyeon jadi berat. Tapi karena ia sendiri juga bingung harus merespon bagaimana, maka yang dapat diberikan hanyalah sebatas jawaban singkat, “Lumayan.”

Keonho mengangguk cukup puas. Telapak tangannya menyentuh halus bawah punggung Seonghyeon, menuntun keduanya untuk lebih masuk ke dalam rumah. “Sekarang kamu mau apa dulu? Makan? Mandi? Atau langsung istirahat?”

Segala rumit dalam kepala Seonghyeon rasanya semakin sulit untuk diuraikan. Niatnya minta untuk Keonho bawa pergi adalah untuk coba memahami perasaannya sendiri terhadap sahabatnya satu ini, tapi sekarang rasanya seperti ia sudah tidak punya banyak sisa energi untuk mencari tahu lebih dalam lagi.

“Langsung istirahat aja. Aku gak bawa baju ganti.”

“Pakai baju aku aja,” usul Keonho. “Banyak yang masih baru dan belum aku pakai juga.”

“Yaudah deh... kalau gitu aku mandi dulu. Baru istirahat."

“Boleh.”

Setengah jam kemudian, semua agenda mandi telah selesai dilakukan. Anehnya, entah kenapa insting dalam diri Seonghyeon mendorongnya untuk memilih pakai kaos yang dia ingat sudah pernah Keonho pakai sebelumnya. And, God. Seonghyeon thinks he’s going insane because it feels warm like Keonho. It smells like Keonho. He feels so safe.

“Aku tidur di kamar satunya lagi ya,” ungkap Keonho yang kini tengah berdiri di daun pintu, pandangannya lurus pada Seonghyeon yang duduk di tepi ranjang. “Panggil aja kalau butuh apa-apa,” lanjutnya kemudian.

“Enggak.” Di seumur hidupnya, rasanya Seonghyeon tidak pernah merespon sebuah kalimat secepat barusan. “Kamu tidur sama aku. Di sini.”

“What?! Seonghyeon—“

“—we just sleep, and nothing else. Biasa juga begitu ‘kan? Atau apa ada yang salah sama itu?”

Keonho sendiri tidak tahu jawaban atas itu, maka ia diam.

“Enggak mau?” tanya Seonghyeon mencoba santai, sementara ada rasa ketakutan atas penolakan yang sedang ia coba abaikan. “Yaudah—“

“—yaudah ambil posisi yang bener,” potong Keonho cepat. Pintu kamar pun ia tutup, kemudian melangkah menuju ranjang. “Aku mau langsung tidur sekarang. Ngantuk.” 

“Iya,” angguk Seonghyeon setuju. “Aku juga mau langsung tidur kok.”

Tidak ada percakapan berarti lagi setelahnya, karena keduanya sudah sama-sama lelah juga maka hanya lelapnya tidur lah yang menyambut mereka. Tapi di dua jam kemudian Keonho tiba-tiba saja terbangun dari lelapnya, dan hal pertama yang menyapa ruang pandangnya adalah eksistensi Seonghyeon yang masih terlelap dengan damai di hadapannya. Ada jarak dalam rentang kurang dari tiga puluh sentimeter memisahkan antara mereka, dengan segala kenangan dan perasaan yang tertahan di dalam dadanya.

We just sleep, and nothing else. Biasa juga begitu ‘kan? Atau apa ada yang salah sama itu?

Kalimat Seonghyeon beberapa jam lalu terngiang jelas dalam telinga, yang kemudian berakhir mengantarkan Keonho pada memori di masa lalu ketika mereka masih duduk di bangku kelas tiga SMP.

Dulu pertanyaan yang hampir sama juga pernah muncul dalam benak Keonho versi remajanya. Lucunya lagi, situasinya pun tidak jauh berbeda. Ketika faktanya mereka adalah sahabat yang sudah banyak habiskan waktu bersama sedari kecil, maka melaksanakan agenda tidur bersama jelas adalah suatu hal yang sangat biasa. Tapi anehnya pada satu malam, Keonho tiba-tiba menyadari kalau ada sesuatu yang rasanya berbeda. Keonho versi remaja kelas tiga SMP itu merasakan satu hal yang tidak biasa, karena untuk pertama kalinya agenda sleepover mereka harus dihantui dengan satu perasaan asing yang belum ia pahami maknanya apa.

Apa yang salah sih? Pikir Keonho dulu. Kenapa tidur bersampingan dengan Seonghyeon jadi buat jantungnya berdebar lebih cepat dibandingkan biasanya? Kenapa melihat Seonghyeon yang terlelap dengan damai bisa membuatnya jadi memikirkan tiga kata “lucu banget sih…” secara berulang terus? Kenapa ketika berada dalam jarak yang sedekat ini, jadi buat Keonho ingin menarik Seonghyeon ke dalam pelukannya?

Apa yang salah dari agenda sleepover mereka sampai bisa membuat Keonho merasakan semua perasaan baru ini? Malam itu, Keonho jadi berpikir sedikit lebih keras dari pada ketika dirinya tengah kerjakan soal di setiap ujian akhir semesteran.

Lalu pertanyaan itu pada akhirnya baru bisa dengan yakin Keonho jawab di dua tahun setelahnya, ketika telah semakin banyak waktu ia habiskan bersama Seonghyeon, seiring dengan kemampuan berpikirnya yang semakin tajam menuju kedewasaan dan emosinya makin berkembang jadi lebih matang. Keonho versi remaja yang duduk di bangku kelas dua SMA itu akhirnya sadar kalau tidak ada yang salah dengan agenda sleepover malam itu. Melainkan semua itu sumbernya hanya punya satu jawaban pasti, bahwa perasaannya terhadap Seonghyeon berubah dan berkembang jadi suatu rasa yang mulai bisa didefinisikan sebagai;

rasa yang selalu inginkan Seonghyeon untuk berada di sisinya secara konstan,  

rasa yang begitu menyenangkan, yang buatnya tak bisa untuk tidak tersenyum setiap kali ia melihat keberadaan Seonghyeon,

rasa yang juga begitu tidak nyaman setiap kali melihat Seonghyeon ada pandangi orang lain dengan binar ketertarikan,

rasa yang membakar di dadanya setiap ia lihat ada orang lain yang menurutnya sudah berada terlalu dekat dengan Seonghyeon,

rasa yang menguasai hatinya, buat Keonho jadi merasa serakah dengan inginkan Seonghyeon lebih dari seharusnya.

Semua perasaan itu, tidak bisa Keonho rasakan kepada siapa pun kecuali Seonghyeon. Maka akhirnya, Keonho mengakui perasaan itu dengan satu kesimpulan pasti; Keonho jatuh cinta pada Seonghyeon. 

Dan cintanya, tidak hilang sampai sekarang.

Keonho tidak bisa dengan mudah lepaskan perasaannya, ia masih bertahan dan masih terus jatuh cinta pada sahabat sedari kecilnya itu sampai detik ini. Bahkan mungkin, ini akan tetap berlanjut sampai nanti. Keonho tidak merasa dirinya perlu untuk berhenti. He just—can’t.

Seonghyeon...,” suaranya mengalun ringan, sebab Keonho hanya ingin itu cukup dirinya saja yang mendengarkan. Tangannya kemudian bergerak untuk rapikan poni rambut yang jatuh tak beraturan, lantas sesuatu dalam diri Keonho secara tak sadar malah mendorongnya untuk merangsek maju. There comes the urge to kiss Seonghyeon all of sudden. Tapi kemudian, tidak. Gerakannya terhenti ketika antara bibirnya dengan kening Seonghyeon hanya tinggal berjarak dua inci. 

Fucking hell. You can't kiss your best friend, Keonho. Get a grip on yourself.  

Kesadarannya menampar dengan telak, lalu buat Keonho jadi bergerak mundur kembali pada posisi semula. Ada hembuskan nafas penuh kepasrahan, dan pandangan yang begitu mendambakan. “...aku sayang kamu.”

I love you.

Keonho tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan itu secara lantang, terlebih mengungkapkan secara langsung ketika Seonghyeon berada di hadapan.

 

(Keonho tidak pernah tahu malam itu, bahwa ketika akhirnya ia kembali berkelana di alam mimpinya, ada Seonghyeon yang justru terbangun dengan logika yang masih berada di setengah sadarnya. Masih ada nafas lelah di tengah kantuk yang masih membelenggunya, sementara fokusnya terbagi pada wajah damai Keonho yang terlelap di hadapannya. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan Seonghyeon pasrah pada instingnya untuk kemudian merangsek maju dan mencium Keonho tepat di bibirnya.)

 


 

Keesokan harinya, Keonho terbangun karena silau mentari pagi yang mengintip melalui tirai jendela kamar yang setengah terbuka. Lalu setelah semua nyawanya kembali terkumpul pada realita secara utuh, ia pun tersadar pada absennya kehangatan dari sisi lain ranjang yang terlihat kosong. 

“Seonghyeon?” 

Keonho yang selanjutnya tidak menerima jawaban pun nyaris terserang panik andai saja rungunya tidak terlanjur menangkap keributan dari luar kamar. Bunyinya seperti peraduan antara perabotan di dapur, maka Keonho arahkan tungkainya untuk bergerak menuju ke sana.

“Keonho? Udah bangun?”

Seonghyeon ada di sana, berdiri memunggungi Keonho karena fokus pada makanan yang tengah ia masak. Sedangkan Keonho hanya bisa berdiri bagai orang bodoh sebab semua situasi yang ditangkap pandangannya sekarang sukses buat tubuhnya seolah jadi malfungsi.

Ini bagai gambaran masa depan yang hanya sanggup Keonho simpan sebatas pada sebuah harapan semu belaka.

Harapan semu yang indah; masa depan yang hanya akan dihabiskan Keonho bersama dengan Seonghyeon. Makanya kini tidak banyak hal yang mampu Keonho pikirkan selain betapa dirinya ingin sekali memeluk Seonghyeon sekarang, lalu menciumnya, juga ungkapkan rentetan kalimat soal seberapa banyak rasa sayangnya dan seberapa besar ia inginkan Seonghyeon untuk selamanya.

“Keonho?” panggil Seonghyeon lagi, sambil sedikit menoleh dari balik bahunya. Lantas ia kecilkan api kompor untuk kemudian mengecek waktu pada jam dinding; jam sembilan pagi. Lalu sepenuhnya berbalik dan melempar pandangan bingung pada Keonho. Halo? Good morniiiiiing?”

Keonho terperanjat, agaknya merasa malu juga karena sepertinya ia tertangkap basah telah melamun. Maka ia berdehem untuk hilangkan kecanggunannya sendiri. “Iya—haha. Udah bangun. And, yeah. Good morning, Seonghyeon.”

“Are you… ok? Kok aneh sih....”

Aku mau pagiku setiap harinya kayak gini terus, bisa gak? “Oke, kok. Cuma nyawa aku belum kekumpul semua aja, kayaknya? Terus lapar juga. Haha. Sorry.”

“Yaudah, cuci muka dulu gih? Atau mau sekalian mandi?” usul Seonghyeon. “Nanti begitu selesai dan kamu balik, sarapannya udah siap.”

Keonho mengangguk tanpa suara, dan Seonghyeon berbalik kembali untuk lanjutkan agenda memasak sarapan pagi bagi mereka berdua.

Lalu tidak butuh waktu lama, di setengah jam kemudian mereka sudah duduk saling berhadapan di meja makan. Kontras dengan situasi Keonho yang terlihat lahap menyantap sarapannya, Seonghyeon sudah selesai dengan makanannya karena ia memang tidak ambil porsi yang banyak juga sejak awal. Lalu gilanya adalah, Seonghyeon jadi tidak punya hal lain yang dilakukan selain menjadikan Keonho sebagai pusat perhatian.

“Kenapa udah selesai makannya?”

“Kenyang.”

“Tadi porsi yang kamu ambil itu sedikit, Seonghyeon.”

“Kenyaaaang, Keonho.”

Seonghyeon merengut manja, dan Keonho langsung menyerah begitu saja. Memang dasar lelaki lemah. Niatnya memecah keheningan yang sejak tadi mengisi ruang di antara mereka adalah untuk alihkan perhatian Seonghyeon darinya, dan respon yang Seonghyeon berikan jelas sama sekali tidak menguntungkan bagi Keonho. Entah Seonghyeon sadar atas segala sikapnya itu, tapi Keonho jelas memahami soal dirinya; ia tidak sanggup untuk lama-lama jadi pusat perhatian Seonghyeon yang terlihat betapa cantik dan begitu menggemaskan di matanya.

Tidak, ketika Keonho sudah punya urgensi untuk mencium Seonghyeon sejak tadi malam.

Oke, change of plan; ubah topik pembicaraannya. Ayo cari distraksi. Distraksi, distraksi, distraksi.

“Kamu dapet bahan makanan dari mana?” Keonho berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat tengah menutupi salah tingkahnya. “Aku gak inget ada sediain stok apa pun sebelumnya.”

“Aku belanja dulu."

“Sendiri?!” tanya Keonho kaget, yang langsung Seonghyeon respon dengan sebuah anggukan penuh keyakinan. Lalu Keonho melanjutkan, “Kamu tahu daerah sekitaran sini?”

“Enggak, tapi aku bisa tebak kalau rumah ini ada di lokasi yang strategis banget.” Sebab Seonghyeon pernah bilang pada Keonho, kalau itu adalah salah satu detail dari bagaimana rumah impiannya di masa depan. “Jadi gak susah buat aku cari tahu kalau lagi butuh sesuatu. I can just read the maps.”

Keonho menelan sempurna suapan terakhir dari sarapannya, kini makanan pada piring di hadapan sudah bersih tak tersisa. “Kenapa gak bangunin aku dulu biar bisa temenin kamu?”

“Aku mampu sendiri.”

“Seonghyeon.”

“Ok, fine.” Ada sesuatu dalam diri Seonghyeon yang buatnya jadi tiba-tiba ingin berpasrah begitu saja. Padahal Keonho memang biasa bersikap seperti itu, perubahan nada bicara yang jadi terdengar sedikit lebih tegas setiap kali ia menegur itu sama sekali bukan hal baru bagi Seonghyeon. Tapi belakangan ini, eksistensi Keonho memang telah mengusik dan menjebak Seonghyeon dalam perasaan yang membingungkan. “Kamu tidur pules banget tadi. Lucu banget… gemes gitu. Aku gak tega buat ganggu.”

Apa? Lucu banget, katanya? Gemes? 

“Hah? Gimana?”

“Apa?”

“Kamu bilang aku apa barusan?”

“Kamu tidurnya pules banget.”

“Terus. Selain itu.”

“Aku gak tega buat ganggu.”

“Sebelum itu!!”

“Lucu...?” tanyanya ragu, tapi kemudian—oh. Seonghyeon baru sadar kalau mulutnya sudah melontarkan kata yang begitu menggelikan. Tapi kemudian ia bahkan sampai tak sadar tetap lanjut menyuarakan apa yang ada di kepalanya secara terang-terangan. “Haha… iya. Lucu... yang gemes gitu....”

Distraksi  my ass,  umpat Keonho dalam hati. Fokusnya sama sekali tidak teralihkan, dan perasaannya kini justru jadi makin berantakan; urgensi dalam dirinya sudah bukan sebatas pada keinginan untuk mencium sang sahabat yang terlihat makin menggemaskan di hadapannya lagi sekarang, melainkan kepalanya sudah sampai menyusun segala skenario masa depan untuk habiskan waktu seumur hidupnya bersama Seonghyeon selamanya.

Gak bisa, gak bisa, gak bisa. Sadar, Keonho. Bahaya.

Tapi Keonho akan selalu punya sisi rasionalnya sendiri, yang pengaruhnya besar terhadap kontrol diri. Maka sejauh apa pun Seonghyeon buat ia jadi merasa terbang begitu tinggi, Keonho akan selalu mampu untuk kembali menapaki bumi.

 

(“Jangan ngaco, Keonho. Kita ini sahabat—sahabat dari kecil malah.”

Adalah kalimat kunci—sebuah ultimatum—dari kenangan masa lalu ketika Keonho pernah nekat melempar pertanyaan dengan setengah bercanda berupa, “Gimana kalau aku maunya kamu yang jadi pacarku?”)

 

Maka Keonho selalu berusaha untuk berhati-hati, sama seperti bagaimana dirinya yang tetap banyak menahan diri sejak malam tadi.

“Biar aku yang cuci piring.” And Keonho is a man of his words. Maka meski telah gagal berkali-kali dalam mencari distraksi, ia pilih untuk jadi tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Rencananya diganti lagi; membatasi jarak dari Seonghyeon untuk sementara waktu ini. Segala alat bekas sarapan pun ditumpuk, lalu Keonho angkut ke dalam kitchen sink tanpa sedikit pun ia menoleh pada Seonghyeon. “Dapur juga sisanya biar aku yang bersihin, jadi kamu bebas mau ngapain abis ini. Anggap aja rumah sendiri.” Rumah kita.

Seonghyeon tidak menjawab. Ia pilih untuk tetap duduk di kursinya dan menyaksikan bagaimana si empu dari punggung yang kemudian membelakanginya itu terlihat sibuk dengan kegiatan mencuci peralatan makan dan peralatan masak lain yang belum sempat Seonghyeon cuci sebelumnya.

Sedangkan Keonho, entah kenapa tetap bisa merasakan kalau pusat perhatian Seonghyeon kembali tertuju hanya pada dirinya, dan ia jelas jadi frustasi dibuatnya. Pun semua peralatan yang kotor kini telah semua disabun itu sama sekali tidak membantunya untuk meredakan debaran di hati. Lagi, dan lagi, ia gagal mendapat distraksi. 

“Kamu—“ Keonho terus berusaha untuk menghindar dan hentikan apa pun itu yang tengah Seonghyeon lakukan “—gak punya rencana buat ngelakuin sesuatu hari ini?”

“Enggak.”

“Terus mau diem gak jelas sambil lihatin aku kayak gitu?”

“Iya,” jawab Seonghyeon dengan begitu santainya, tanpa tahu sebesar apa efek yang ia punya terhadap sang sahabat sejak kecilnya itu. “You’re nice to look at, though. Aku suka lihatin kamu.” 

Satu piring yang tengah dibasuh air nyaris saja terselip jatuh dari genggaman Keonho. “Shit.”

“Kenapa?” Seonghyeon refleks bertanya dengan khawatir, “Ada apa?”

“Enggak,” geleng Keonho. “It’s just—boring? Yes, so boring. Haha.”

“Hah? Apaan tiba-tiba boring?”

“Ya kamu, boring. Gak asik.” Keonho memang juara satu mengalihkan topik untuk menghindar dan menutupi perasaannya. “Selama ini aku selalu gak mau berkomentar, demi jaga perasaan kamu—obviously. But this time is an exception, so I’m just gonna say it; coping mechanism kamu dari patah hati itu selalu gak asik, Seonghyeon.”

Patah hati.

Benar, patah hati. Seonghyeon menggigit bilah bibir bawahnya. Sejauh yang Keonho tahu adalah Seonghyeon tengah melalui fase patah hati terberat karena hubungan dengan kekasih terakhirnya baru saja kandas dua minggu yang lalu. Tapi yang Keonho tidak tahu, Seonghyeon sudah melewati apapun fase sialan itu sejak dari tiga hari pertama pasca ia putus, pun Seonghyeon seperti baru saja kembali tersadarkan kalau di hari-hari selanjutnya justru Keonho lah satu-satunya sumber dari segala gundah yang terus berputar seperti siklus tanpa akhir di hatinya.

“Right…, haha.” Tawa Seonghyeon terdengar hambar. “Patah hati.”

“So you better change that, Seonghyeon. Ini udah mau dua minggu, atau lebih? Kamu sama sekali gak kelihatan bergairah, gak asik. Jadi coba angkat pantat kamu dari kursi itu terus ngapain gitu, kek? Lakuin apa pun itu kegiatan yang asik.”

Dan terima kasih kepada waktu yang sudah membiasakan mereka dalam jangka waktu yang lama, hingga sering kali tidak sulit bagi keduanya untuk memahami makna sebenarnya dari apa yang ingin disampaikan pada satu sama lainnya. Maka kening Seonghyeon berkerut heran, nada bicaranya merajuk tak suka seiring dengan bibirnya yang termanyun-manyun tak nyaman. “Are you trying to get rid of me? Ngusir nih?”

“Enggak,” koreksi Keonho. “Bukan ngusir kamu dari rumah ini maksud aku.”

“Sama aja. Kamu lagi ngusir aku dari jangkauan kamu.”

Tentu saja Seonghyeon dapat menebak dengan tepat. Keonho memang sedang tidak dalam kondisi yang mampu untuk menghadapi Seonghyeon sekarang—tidak, ketika yang Seonghyeon lakukan adalah sesuatu yang bagi Keonho begitu di luar kebiasaan.

Jadi kalau terus dibiarkan, Keonho (yang sebagaimana dirinya tetaplah jadi lelaki lemah kalau kaitannya dengan Seonghyeon) mungkin saja bisa tiba-tiba lepas kendali, tidak hanya bertindak gegabah seperti dengan tiba-tiba hampiri Seonghyeon dan menciumnya (demi Tuhan, urgensi sialan untuk mencium Seonghyeon ini tidak juga lenyap dari kepalanya) tapi juga mungkin ia bisa berubah wujud jadi manusia bodoh yang tanpa pikir panjang akan asal lemparkan pernyataan cintanya di sana-sini dengan begitu berantakan, dan kemudian semua itu akan berakhir menghancurkan segala apa pun itu yang telah ia jalin bersama Seonghyeon selama hampir di seumur hidup mereka. No fucking way.

“You know what?” Keonho hentikan sejenak kegiatan mencucinya; menyisakan beberapa alat masak yang tersisa, lalu membasuh tangannya dan kemudian mengelapnya sampai kering. Lantas setelahnya ia berbalik menatap Seonghyeon dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Semalam aku bermimpi aneh.”

Fine, pikir Keonho. Kalau dengan mengungkit soal patah hatinya Seonghyeon ke permukaan sama sekali tidak berefek apa-apa, maka sepertinya Keonho harus ambil langkah yang sedikit lebih nekat lagi. Mungkin Seonghyeon akan jadi merasa tak nyaman, mungkin mereka berdua akan jadi canggung setelahnya, tapi toh itu semua adalah resiko yang paling kecil efek sampingnya untuk sekarang. So, fuck it. 

Sementara di sisi lain, Seonghyeon pilih untuk ikuti alur yang Keonho inginkan. Kira-kira sejauh mana Keonho akan terus mengelak darinya? Karena demi Tuhan, Seonghyeon tidak bodoh untuk bisa memahami kalau Keonho memang tengah berusaha melepaskan dirinya sejenak dari Seonghyeon.

“Mimpi apa?”

“Kamu cium aku.” Seonghyeon membeku, dan ia tak mampu untuk lempar sepatah kata bantahan apa pun setelahnya. Sedangkan Keonho bisa melihat dengan jelas semua itu. Dan pikirnya, keputusan yang diambil memang sudah tepat. Lantas ia melanjutkan, untuk semakin menekan Seonghyeon, “And somehow… it feels so real.”

“Keonho… a-aku sebenarny—bentar. Kamu se-semal—fuck. Apa sih?” Kalimatnya belepotan, Seonghyeon sadar betul akan itu. Ia tidak mau terlihat lebih bodoh lagi, maka senjata pamungkas yang selalu ampuh melindungi dirinya pun akhirnya digunakan; “Ngaco banget. Kita ini sahabat, Keonho.”

Sebuah respon template. Keonho sudah bisa duga, tapi bohong juga rasanya kalau ia tidak bilang di salah satu sudut hatinya ada rasa yang bagai tersengat listrik juga. “Iya, aku ngerti.”

Ada hening menyapa keduanya selama beberapa menit setelahnya. Keonho sengaja tak angkat bicara lagi, ia ingin beri ruang bagi Seonghyeon untuk merespon senyaman yang ia ingin berikan. Sedangkan di sisi lain Seonghyeon mengabaikan setitik rasa bersalah di sudut hatinya, yang sialnya malah buat dirinya jadi punya ruang untuk banyak rasakan hal lain. Lalu dengan satu hembusan nafas panjang, akhirnya ia kemudian ambil satu keputusan. “Sekarang aku udah kepikiran mau ngapain.”

“Tiba-tiba?” Keonho pura-pura kaget dan bingung—ia putuskan untuk ikuti alur Seonghyeon yang sudah bisa diduga pasti ingin menghindar kecanggungan yang mungkin terjadi. Lalu mana kala Keonho lihat respon Seonghyeon yang hanya mengedikkan bahunya cuek, ia pun lanjut bertanya, “Mau ngapain emang?”

“Thrifting.” jawab Seonghyeon antusias. “Aku tahu jarak dari sini ke salah satu pusat thrift itu pasti gak makan waktu lebih dari satu jam.”

“Abis tanya-tanya ke warga lokal sini sambil tadi belanja ya?”

“Enggak,” geleng Seonghyeon. “Tapi ini gampang ditebak. Keonho, aku masih inget dulu pernah cerita ke kamu kalau aku mau lokasi rumah masa depanku itu ada di tempat yang gampang buat sekedar windows shopping.”

Keonho sempat rasakan seluruh otot di tubuhnya tiba-tiba jadi kaku, sebab kalimat yang didengarnya barusan itu jelas bermakna satu; Seonghyeon sudah tahu. Soal rumah ini, dan segala cerita di baliknya.

“Terus kamu maunya gimana?”

Sedangkan pertanyaan itu, jelas keduanya mengerti tidak hanya bermakna satu; kamu tahu aku bangun rumah ini buat kamu, terus kamu mau kita gimana? Kamu maunya aku ngelakuin apa? Kamu mau terus lanjut soal ini atau gimana? Kamu maunya apa sekarang? Tapi Keonho tidak akan menuntut, ia akan ikuti apa pun pilihan makna yang dipilih Seonghyeon.

“Ya thrifting!” jawab Seonghyeon. What a safe answer. “Tapi kamu temenin aku.”

“Yaudah, sana! Aku mau lanjut beresin semua ini dulu.” Keonho pasrah, lalu berbalik untuk kembali lanjutkan tugas membersihkan bekas sarapan mereka dan bersih-bersih dapur yang sempat tertunda. “Kamu mulai siap-siap aja.”

“Oke. Keperluan buat kamu juga aku bantu buat siapin ya? Boleh?”

Bagus. Berarti Keonho hanya perlu siapkan mental dan perasaannya saja, karena ini berarti misinya untuk sementara waktu menjaga sedikit jarak dari Seonghyeon telah resmi gagal; kalah telak, tidak dapat terelak. “Boleh, Seonghyeon.”

 


 

Lalu waktu bergulir dengan Keonho mengekori Seonghyeon yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak ada kecanggungan, dan semua berjalan sebagaimana mereka biasa menghabiskan waktu berdua.

“Hey,” panggil Seonghyeon tiba-tiba di tengah kegiatannya memilih atasan baju. “Keonho,” panggilnya lagi.

“Apa?”

I really kissed you last night. Ciuman itu… bukan mimpi. “Enggak. Iseng aja manggil.”

“Ngambek gak kalau aku bilang kamu aneh dan gak jelas?”

“Ngambek.”

“Aneh. Gak jelas.”

“Keonho, I swear to God.” Seonghyeon melempar sebuah jaket yang cukup tebal ke arah muka Keonho. “Brengsek,” umpatnya kesal.

Sementara Keonho hanya tertawa puas. Menggoda Seonghyeon sampai kesal dan air mukanya jadi setengah cemberut adalah salah satu hal yang tidak akan membuatnya lelah untuk menikmati betapa jantungnya seperti hanya berdebar untuk Seonghyeon saja.

 


 

Empat jam berlalu setelahnya, dan rasa lapar adalah satu-satunya yang berhasil menghentikan mereka. Maka sekarang keduanya tengah duduk berhadapan dan menunggu pesanan makan datang. Dan sejujurnya, Seonghyeon tidak menyadari kalau ternyata sudah selama itu waktu berlalu kalau saja tadi Keonho tidak ada tiba-tiba bertanya, “Gimana? Seneng enggak mainnya?”

Itu adalah pertanyaan mudah, begitu pula jawabannya; senang—aku seneng banget malah. Tapi kalau semua bahagia yang Seonghyeon hari ini rasa bisa buat dirinya lupa diri sampai ternyata ia tidak merasa kalau waktu sudah berlalu begitu cepatnya, maka fakta itu masih sulit ia terima. Seonghyeon justru jadi kesulitan untuk sekedar berikan jawaban sesederhana “iya” saja.

Keonho ini… sudah seberapa besar pengaruhnya buat hidupnya, ya? Apa arti Keonho yang sebenarnya bagi Seonghyeon? Jujur saja, Seonghyeon tidak pernah benar-benar memikirkannya.

“Enggak, ya?” Pertanyaan itu lebih terdengar seperti Keonho yang menarik kesimpulannya sendiri, karena Seonghyeon tak kunjung beri jawaban—ia terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Semua tadi itu masih kurang bikin kamu seneng?” ulang Keonho.

“Enggak kok.” Oke stop overthinking, Seonghyeon. Jalani dan ikuti aja apa yang menurut kata hati kamu bener. Seonghyeon terus mengirim sugesti pada dirinya, berharap pada sebagaimana tujuan awalnya menginjakkan kaki ke sini akan bisa segera ia dapatkan; Seonghyeon hanya tengah mencari sebuah jawaban. “Aku seneng….”

“Are you sure?”

“You want me to prove it or something?”

“Yes, please. Sini, senyum dulu coba.”

“Senyumku mahal. Kamu berani bayar berapa emang?”

Keonho tertawa. Sassy Seonghyeon is back. Atau setidaknya, Seonghyeon sudah jauh lebih baik dan melupakan sedikit soal patah hatinya. Keonho jadi sedikit lebih lega. “Bagus. Aku tenang buat ninggalin kamu sendirian buat sementara kalau gitu.”

“Mau kemana emang?”

“Toilet. Mau ikut?”

Bibir Seonghyeon mencebik jijik, “Gross.”

Keonho kembali tertawa sebelum benar-benar pergi tinggalkan Seonghyeon sendirian di meja sana, yang tak lama setelahnya tiba-tiba dirinya ada dihampiri oleh salah satu pelayan. Lalu tidak hanya sampai situ, Pelayan tersebut tahu-tahu malah menyerahkan sebuah kupon spesial valentine—yang sebenarnya sudah terlewat beberapa hari itu—dan ternyata punya benefit tambahan khusus untuk pelanggan yang berpasangan.

“Maaf—” Seonghyeon sempat berdehem canggung sebelum ia melanjutkan, “—tadi itu saya ke sini bukan dengan pacar tapi—”

“—a-ah, begitu ya? Maaf.” Si Pelayan menyesal, air mukanya menampilkan campuran antara panik dan malu karena sudah salah tarik kesimpulan. “Kalian pasti pasangan muda yang baru menikah, ya. Aduh, maaf sekali lagi. Saya harusnya lebih peka lagi.”

“Eh, enggak!” Seonghyeon tidak mengerti kenapa ia langsung mengelak dengan begitu panik (atau salah tingkah?) seperti barusan. “Kami itu cuma teman!”

“Betul! Teman!” Lantas si Pelayan mengerling jenaka. “Teman tapi menikah ‘kan?”

“Bukan—”

“—iya juga gak apa-apa, kok. Saya maklum. Masih malu-malu karena baru menikahnya ya pasti?” Kali ini tidak ada kerlingan jenaka, melainkan tawa kecil menggoda. “Padahal natural banget kalian tadi mesranya. Pegangan tangan dari masuk sampai duduk, enggak mau lepas.”

“Eh….”

“Iya. Lengket banget loh kalian berdua.” Si pelayan tertawa renyah setelahnya, yang oleh Seonghyeon sendiri terdengar makin samar seiring dengan berisik dalam kepalanya yang muncul lagi. “Kalau begitu saya pamit undur diri. Mohon maaf atas keterlambatan kami yang baru berikan kuponnya sekarang. Selamat menikmati makanannya nanti, dan jangan lupa untuk gunakan kuponnya!”

Lalu dengan begitu, Seonghyeon kembali ditinggal sendirian. Ia ditinggal hanya dengan isi pikiran yang bercabang untuk kembali mencari jawaban.

Natural banget mesranya. Pegangan tangan dari masuk sampai duduk, enggak mau lepas.

Mesra banget, ya? Padahal ‘kan, mereka hanya sekedar berpegangan tangan. Padahal ‘kan, mereka memang sungguhan hanya sebatas teman—sahabat sedari kecil, lebih tepatnya. Memangnya berpegangan tangan hanya boleh dilakukan oleh dua orang yang berpacaran (atau lebih dari itu) saja? Bukannya tidak, ya?

Seonghyeon mengetuk-ngetuk jari di atas meja, ia merasa gelisah tiba-tiba. Jawaban yang tengah dicarinya nampak seperti akan segera ditemukannya, tapi satu sudut dalam hatinya justru merasa kalau mungkin ia belum siap untuk menerimanya.

Kalau perlakuan yang sederhana saja sampai buat orang berkesimpulan bahwa Seonghyeon dan Keonho punya hubungan lebih dari sekedar teman, lalu apa yang mungkin akan orang lain pikirkan kalau sampai mereka bisa lihat bagaimana nyamannya mereka berdua bertukar atensi dan afeksi sehari-hari? Apa yang mungkin mereka simpulkan kalau sampai mereka tahu kalau Keonho bahkan punya akses penuh untuk jadikan paha Seonghyeon sebagai bantalan kepalanya? Atau Seonghyeon yang punya akses penuh untuk jadikan bahu dan dada Keonho sebagai sandarannya? And vice versa. Atau mereka berdua yang tidak pernah ragu untuk berbagi rasa aman dan hangat dengan saling bertukar peluk untuk waktu yang bahkan tak ada batasnya?

Semakin lama maka semakin Seonghyeon mulai mengerti masalah utamanya sekarang, dan pengertiannya ini pada akhirnya buat gelisahnya digantikan dengan emosi lain membuatnya jadi lebih tak nyaman; panik dan ketakutan. Terlebih ketika memorinya kemudian berputar pada kejadian di beberapa minggu lalu:

 

(Seonghyeon tidak mengerti juga, ada dimana letak kesalahannya sehingga ia bisa sampai ada di titik ini. Padahal setidaknya enam bulan lalu ia masih yakin kalau semua akan berjalan baik bagi keduanya; cintanya berbalas, kasih sayangnya tidak berkembang sendirian, dan mereka berdua akan punya perjalanan yang bahagia kalau ia tetap mau berusaha untuk mereka berdua.

“Haha. Lucu deh. Apa tadi kata kamu? You’re breaking up with me? You’ve got to be kidding me.” Suara itu terdengar marah dan begitu menghakimi, yang bahkan Seonghyeon juga tidak bisa mengerti kenapa bisa sampai seperti itu? Ketika kenyataannya, Seonghyeon lah yang berada dalam posisi dikhianati. “Hubungan ini aku yang mulai, aku yang pertama kali ambil inisiatif. So you don’t get to say it’s over, Seonghyeon. I do.”

Lantas semua harapan yang Seonghyeon miliki tentang mereka berdua pupus seketika; sedikit pun tidak ada yang bersisa. Tidak ada yang bahagia yang bisa diraih bersama, kalau hanya Seonghyeon saja yang berusaha.

“Fine! Let’s make it make sense then.” Pada akhirnya Seonghyeon memang menyerah, tapi ia juga masih punya harga diri yang tidak bisa dibiarkan untuk diinjak-injak begitu saja—terlebih oleh orang sebrengsek lelaki di hadapannya kini. “Kamu yang mulai, dan kamu yang berhak buat mengakhiri ‘kan? Fine. Semuanya jelas udah berakhir kalau begitu dong? Kita udah berakhir, di detik pertama kamu biarkan orang itu masuk ke kamarmu. Kita udah berakhir, di detik kamu yang secara sadar udah biarkan dia pelan-pelan hancurkan semua yang udah susah-susah kita bangun!”

“Itu semua cuma salah paham, Seonghyeon!”

“Stop bohong! Aku ini gak bodoh!”

“Kamu cuma lagi kemakan ego kamu!”

“Memangnya kamu enggak?!” Ini mungkin jadi suara paling keras yang pernah ia keluarkan selama hampir satu tahun mereka menjalin hubungan. “Kamu marah dan gak terima aku putusin duluan kayak gini memangnya pantes buat disebut apa kalau bukan kemakan ego sendiri, hah?!”

“For fuck’s sake. Don’t act like you’re so innocen—“

“—I am innocent,” potong Seonghyeon tegas. Matanya menatap nyalang, nafasnya terengah karena luapan amarah yang begitu membuncah. And you’re a cheater. A fucking traitor.”

“AND SO YOU ARE!”

Seonghyeon tertegun, yang pada tiga detik pertama ia sama sekali tidak bisa memproses semuanya barang sedikit pun sehingga tubuhnya pun tidak bisa merespon apa pun. “…what?”

“Iya. Ini semua gak cuma soal aku aja, karena yang pacaran bukan aku sendirian ‘kan? Jadi, apa kamu pikir ketika akhirnya aku lakukan itu semua adalah karena aku satu-satunya yang jadi sumber masalah di sini? Enggak!”

“So, is it me?” tanya Seonghyeon tak habis pikir. “Masalahnya ada di aku?”

“IYA! Makanya kamu tuh harusnya SADAR DIRI!” jawabnya membentak lagi, dan Seonghyeon dengan sekuat tenaga mencoba bertahan untuk tetap kokoh berdiri atas kakinya sendiri meski ia harus menerima tajamnya pandangan si lelaki di hadapan yang sepenuhnya telah dikuasai oleh marah yang membutakan. Lantas telunjuknya teracung nyalang tepat di depan wajah Seonghyeon. “You never love me since the first place.”

Rasanya lucu ketika di antara mereka berdua sudah jelas diketahui siapa yang ternyata mengkhianati kepercayaan yang sudah dibangun bersama, tapi justru sekarang tiba-tiba kenyataannya diputar balik untuk membuat Seonghyeon seolah jadi paling bersalah di antara mereka. Maka ia singkirkan tangan yang teracung padanya itu, dan menghempas dengan kasar. “How dare you speak to me like that.”

“Jujur aja sama perasaan kamu. It won’t hurt, Darling,” suranya sarat akan sarkasme seraya ia mendengus sebal, yang kemudian diiringi dengan senyum remeh yang terlihat begitu merendahkan. “Gak usah munafik jadi orang!”

Seonghyeon rasanya sulit untuk percaya, kalau orang di hadapannya sekarang adalah sosok yang sungguhan tulus ia sayang selama ini. It hurts so much, dan itu terproyeksi dari bagaimana selanjutnya suaranya terdengar begitu bergetar, “Tutup mulut kamu!”

“Enggak. Denger baik-baik—“ tampik si lelaki, dan kini Seonghyeon baru sungguhan menyadari bahwa yang namanya ego tinggi adalah sebenar-benarnya terwujud dalam sosok di hadapannya kini. Lantas semua terasa makin nyata bagi Seonghyeon mana kala telunjuk tadi kembali teracung nyalang padanya, yang secara spesifik kali ini diarahkan tepat ke dadanya. Ada penekanan kuat di setiap kata yang terucap, dengan tanpa melepas kontak mata yang terjalin di antara mereka. “—hati kamu ini. Berdetak. Buat. Laki-laki. Lain. Sejak. Awal.”

Seonghyeon terkejut sampai kehabisan kata untuk ke kesekian kalinya. “…what?”

“And it’s for Keonho.”

“Gak usah bawa nama orang lain!” hardik Seonghyeon tak suka. Terlebih nama yang tiba-tiba diungkit adalah Keonho, sahabatnya yang paling berharga. “Ini cuma soal kita berdua.”

“Iya, dan Keonho muncul lebih dulu di antara kita berdua!” Nadanya semakin tinggi, semakin marah. “Orang lain termasuk kamu mungkin gak sadar soal ini, tapi aku enggak! Aku sadar! It’s him, Seonghyeon. It’s always been him!”

Seonghyeon tidak bisa menerima semua tuduhan itu, lantas ia mengelak dengan kembali menegaskan peringatannya, “Aku bilang, gak usah kamu bawa nama orang lain.”

“Dan aku bilang, kamu jangan munafik jadi orang!” Suara bentakan itu adalah sebuah gerbang awal dari teriakan penuh kefrustasian yang mengikuti selanjutnya. “Akui aja apa susahnya sih? KEONHO, KEONHO, KEONHO, KEONHO! CUMA DIA YANG ADA DI HIDUP KAMU SELAMA INI!”)

 

“Seonghyeon!” Bagai diambil dalam satu tarikan, alambawah sadar Seonghyeon terpaksa kembali kepada realita. Riuh dalam kepalanya tergantikan fokus pada si empunya suara yang barusan memanggil dengan cukup keras—Keonho, entah sejak kapan dia sudah kembali duduk di hadapan. “Are you ok? Kenapa sampai ngelamun begitu?”

Seonghyeon menggeleng. “Enggak. Gak kenapa-napa.”

“Yakin?” tanya Keonho khawatir. “Mau pulang aja?”

“Apa sih? Gak usah lebay,” elak Seonghyeon, karena ia sungguhan belum siap kalau harus jujur soal bagaimana riuh dalam kepalanya didominasi oleh Keonho saja. Lalu rasanya, seperti semesta tengah berada di pihaknya; pandangannya jatuh pada jaket Keonho. Oke, saatnya alihkan topik pembicaraan. “Kamu habis ngapain aja sih di toilet? Kok basah gitu?”

Keonho tundukkan kepalanya untuk melirik bagian yang ditunjuk Seonghyeon. “Gak sengaja kena ciprat aja.”

Seonghyeon berdecak gemas. “Bayi,” cibirnya. “Habis main air ‘kan tadi? Ngaku!”

“Kamu pukir usiaku berapa? Lima tahun?”

“Jujur, batita sih. Bawah tiga tahun.”

“Ha. Lucu,” sarkas Keonho, yang sejurus kemudian malah air mukanya jadi merengut tak suka. “Kita seumuran ya, kali aja kamu lupa.”

“Aku lebih tua, ya. Gak usah ngaku-ngaku,” koreksi Seonghyeon penuh protes. “Lagian ke toilet aja kayaknya mesti aku anterin deh? Masa masih teledor sampe kecipratan gitu? Bayi!”

“Oh, c’mon? It’s not a big deal?” Keonho balas protes. “Gak usah bereaksi seolah-olah setiap aku abis dari toilet jadi basah gini ya.”

“Ya itu cuma contoh kecil aja maksudnya.” Seonghyeon dan egonya yang selalu enggan kalah setiap kali beradu argumen kekanakan dengan Keonho. “Coba refleksi deh. Sehariiiii aja kamu ada bebas tanpa aku omelin karena tingkahmu, pernah gak?”

Sayangnya, kemarin pun Keonho harus kena omel perkara keteledorannya karena sampai ada sedikit tumpahan makanan yang tak sengaja mengotori jas yang dikenakannya. Belum lagi di hari-hari sebelumnya, juga dengan segala hal yang telah banyak Seonghyeon lakukan untuknya. Maka kalau sudah begini, Keonho juga sungguhan jadi tak berdaya. “Enggak….”

“Nah, ‘kan? Bayi. Harus ada di bawah pengawasan terus.” Seonghyeon tersenyum menang, yang sejurus kemudian ia menggeleng keheranan. “Kamu tuh kalau gak ada aku, jadinya bakal gimana deh?”

“Gak pernah bayangin, dan kamu juga gak perlu buat mikirin.”

“Kok gitu? Kamu ‘kan gak bisa selamanya sama aku terus?”

“Bisa. Kalau kamu mau berusaha buat bertahan di dekat aku terus,” jawab Keonho tanpa ragu, meski sorot matanya berubah jadi meredup; ia tak bisa membohongi siapa pun kalau bayangan Seonghyeon yang tidak berada dalam jangkauannya adalah sebuah gambaran hidup yang begitu gelap. “Dan aku juga enggak akan mungkin biarin kamu pergi gitu aja.”

Andai saja ada yang langsung bertanya pada Seonghyeon soal seberapa serius Keonho terlihat di matanya sekarang? Ia mungkin akan sampai berani bersumpah dengan seluruh hidupnya kalau barusan itu sungguh Keonho sama sekali tidak main-main dengan ucapannya. Dan Seonghyeon sebenarnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena isi kepalanya justru makin jadi berkecamuk setelahnya. Beruntungnya, tak lama kemudian ada pelayan restoran yang menginterupsi untuk antarkan hidangan yang telah mereka pesan sebelumnya.

“Makan dulu aja deh ya?” usul Seonghyeon, sementara dalam hatinya berseru lega. “Biar ada tenaga kalau mau lanjut debatnya.”

“Makan aja dulu—“ Keonho mengoreksi, ”—dan gak perlu ada debat lanjutan. Abis ini mending kita jalan-jalan lagi.”

Maka yang selanjutnya terjadi adalah bagai reka ulang adegan dari sarapan tadi pagi, dimana keduanya fokus habiskan makanan masing-masing. Hanya saja bedanya terlihat mana kala Keonho lah yang jadi lebih dulu selesaikan makannya dan berakhir dengan dirinya memperhatikan bagaimana Seonghyeon habiskan sisa makanannya.

“Mau tambah lagi gak?” tanya Keonho, yang dibalas dengan sebuah gelengan. Lalu ia lanjut berkomentar, “Tapi Kamu tadi sarapannya sedikit.”

Seonghyeon kembali menggeleng, kemudian lanjut habiskan sisa makanannya. Lantas ketika akhirnya suapan terakhir berhasil ditelan sempurna, baru lah ia buka suara. “Udah cukup, aku kenyang.”

Tapi yang selanjutnya Keonho ucapkan justru buat Seonghyeon jadi keheranan, sebab lelaki itu malah tiba-tiba berdecak remeh dan mencibirnya, “Bayiiiiiiiii.”

“Hah?”

“Ngaca gih.” Keonho menyarankan, dan Seonghyeon buru-buru ambil ponselnya dan bercermin di layar sana; ada sisa saus di sudut bibirnya. Keonho terkekeh kecil melihatnya, “Jadi yang bayi di antara kita berdua itu siapa? Orang makan kamu belepotan gitu.”

“Masih kamu—“ lalu bibir Seonghyeon mencebik sebal. “—si enggak mau kalah.”

“Mending kamu ngaca lagi deh coba, terus bersihin.”

“Enggak. Mending kamu bantu aku aja.” Persetan dengan segala pertimbangan yang selama ini selalu dipikirnya sendirian, cepat atau lambat pun Seonghyeon harus temukan jawaban atas perasaannya. Dan sementara di sisi lain alis camar Keonho menukik bingung sebagai responnya, Seonghyeon justru malah mengikis jarak antara mereka berdua dengan mencondongkan badannya ke depan. “Bersihin sausnya dong.”

Keonho tertawa kecil pada akhirnya. Seonghyeon dengan segala permintaannya yang random, siapa lah Keonho yang punya kuasa untuk menolak? Lantas ia raih selembar tissue untuk kemudian diarahkan ke wajah Seonghyeon. “Tapi ini berarti kamu yang bayinya di antara kita, ya?”

“Ih—“ Seonghyeon mengelak dari jangkauan tangan Keonho. “—jangan pake itu!”

“Lah? Terus pake apa?”

Seonghyeon lantas meraih tangan Keonho yang masih terangkat di udara, untuk kemudian tangan mereka berdua jadi bertaut di atas permukaan meja. “Pake bibir kamu.”

“The fuck.” Keonho sepenuhnya yakin ia tidak salah dengar, tapi juga jawaban Seonghyeon jelas-jelas adalah sesuatu yang rasanya tidak mungkin nyata terucapkan. “Pake apa kamu bilang?”

“Pakai bibir kamu.” Badan Seonghyeon makin dicondongkan ke depan, dan matanya berani menyorot dengan lantang—termasuk adrenalinnya ikut terpacu dan tertantang. “Ayo bersihin sini.”

“Seonghyeon,” Peringat Keonho. Air liurnya ia telan sendiri di tenggorokan yang tiba-tiba terasa begitu kering. “Jangan bercanda.”

“Please?”

Lalu dunia di sekeliling Seonghyeon tiba-tiba terasa bagai jadi buram, fokusnya terpecah kecuali pada bagaimana reaksi Keonho tanpa banyak bicara kini mulai bergerak maju ke arahnya dengan begitu lamban bagai punya efek slow motion di film yang biasa ia tonton. Pandangan mereka berdua saling besirobok, dan terkunci. Seonghyeon mulai pusing, dan pikirnya ia tidak perlu banyak berpikir lagi setelah ini. Maka tahu-tahu jarak antara wajah keduanya sudah jadi begitu intim hingga ia bisa rasakan bagaimana hembusan nafas Keonho menerpa wajahnya.

Munafik kalau Seonghyeon bilang dirinya tidak berdebar—fucking hell! Rasanya seperti jantungnya bisa loncat kapan saja keluar dari rongga dadanya sekarang. Maka perhatiannya ia alihkan, ke mana pun asal bukan di kedua netra kelam milik Keonho. Lantas pandangannya turun bergulir turun dan berakhir terfokus pada bibir Keonho selama beberapa detik, yang kemudian tanpa sadar malah pandangannya jadi kembali naik untuk kembali balas menatap Keonho.

“Are you sure?”

Seonghyeon kehilangan kemampuan bicaranya begitu pertanyaan dengan suara rendah itu Keonho lontarkan. Nyatanya si yang lebih tua satu bulan itu tidak biasanya jadi selemah ini, tapi kali ini memang sudah jadi keputusannya untuk berhenti berpikir dan melupakan segala gengsi; Seonghyeon hanya ingin ikuti kata hati. Maka sekuat tenaga ia tetap pandangan mereka agar tidak terputus, pun tubuhnya tetap bergeming dengan kondisi satu tangan yang masih bertaut dengan milik Keonho tadi—genggamannya makin erat, seolah kirimkan sinyal kalau ia sama sekali tidak keberatan. Lalu yang selanjutnya Seonghyeon lihat adalah Keonho yang memiringkan kepala seiringan dengan makin terkikisnya jarak antara mereka dan buat Seonghyeon jadi refleks menutup kedua kelopak matanya. Makin lama, makin jantungnya berdebar sampai rasanya nyaris seperti mau meledak.

Tapi kemudian, semua ekspektasinya hangus terbakar oleh rasa bingung, ketika sudut bibirnya justru tidak disapu dengan bibir, melainkan oleh ibu jari.

“Huh?!” Seonghyeon membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah Keonho yang sudah kembali pada posisinya semula; duduk di kursinya sambil acungkan satu ibu jari tangannya. Di sana ada sisa saus dari sudut bibir Seonghyeon yang kemudian dibersihkan dengan tissue. ”Keonho, what the fuck.

“Udah bersih tuh, Bayi.” Keonho balas merespon dengan cuek. “Lain kali minta dibersihinnya jangan aneh-aneh, deh.”

“Keonho!”

“Apa?”

“Aku gak minta kamu bersihin pake ibu jari!” rengut Seonghyeon kecewa. Lantas ia melanjutkan dengan nada suara yang makin lama makin melirih kedengarannya, “Why didn’t you kiss me….”

“Excuse me?” Sekali lagi, Keonho mendengar jelas apa yang Seonghyeon ucapkan tapi ia masih enggan untuk percaya begitu saja. “Ulang coba, ngomong apa kamu barusan?”

Tapi Seonghyeon justru menjawab dengan sebuah sindiran keras. “Cupu.”

“What?!”

“It’s just a kiss!” tegas Seonghyeon. “Dan kamu tuh—kamu cupu. Banget.”

“No, it's not that simple—“ sangkal Keonho tidak setuju. “—and friends don’t kiss, Seonghyeon. Seharusnya, enggak ada yang kayak begitu.”

Benar. Penolakan Keonho adalah tindakan yang rasional, dan Seonghyeon harus akui itu. Keonho dan Seonghyeon hanya sekedar teman—sahabat karib sejak kecil yang nyaris tak pernah terpisahkan. Maka itu artinya, memang tak seharusnya bagi mereka berdua untuk berciuman. Pun Seonghyeon baru menyadari, mindset yang Keonho miliki tak lebihnya adalah sebuah prinsip yang selama ini selalu Seonghyeon yakini.

Sial.

Seonghyeon tidak bisa mendebat lagi setelahnya. Rasa kecewa sudah terlanjur membasuh seluruh raga, yang berakhir pada tidak ada lagi sedikit pun tenaga tersisa. Keonho terlihat sama sekali tidak terganggu setelahnya, dan itu semakin membuat Seonghyeon merasa frustasi dibuatnya.

Tapi terus, memang Seonghyeon bisa apa setelahnya? Tidak ada. Maka di beberapa jam selanjutnya, ia pilih untuk bermain cantik sebagaimana Keonho yang bersikap seolah di antara mereka tidak ada terjadi apa-apa.

“Seneng enggak?” tanya Keonho lagi, setelah akhirnya mereka putuskan untuk pulang.

Pertanyaan itu dijawab tanpa Seonghyeon berani menjatuhkan sedikit pun pandangan pada sang sahabat, “Seneng. Makasih banyak udah nemenin aku seharian ini.”

Bohong.

Nyatanya, Seonghyeon pulang dengan satu kesimpulan yang diiringi sebuah penyesalan; Seonghyeon telah jatuh cinta pada Keonho, sahabatnya sendiri. Cintanya itu datang terlambat, dan sepertinya tidak mampu bersinggungan dengan cinta Keonho yang ia tahu telah datang terlebih dulu—terlalu dini, hingga buat semua rasa itu kini mungkin telah mati sendiri.

 


 

Langit malam sudah benar-benar menggelap. Setelah akhirnya mereka kembali ke rumah dan membersihkan badan, kini keduanya sudah siap untuk kembali beristirahat setelah seharian ini rasanya begitu banyak hal terjadi dan menguras energi.

“Kamu mau aku tidur dimana malam ini?”

Seonghyeon hanya merespon seadanya; dengan tanpa sedikit pun melirik Keonho, ia berlalu memasuki kamar yang di malam sebelumnya mereka gunakan untuk tidur berdua. “Hmm… terserah.”

Sedikit pun Keonho tidak keberatan dengan fakta kalau Seonghyeon seperti tidak inginkan mereka tidur bersama seperti sebelumnya. Tapi masalahnya adalah Keonho bisa rasakan ada perubahan besar terjadi pada susana hati Seonghyeon, dan ia bisa menebak kalau itu bukan suatu perubahan yang cenderung baik. Maka itu lah yang akhirnya mendorong Keonho untuk mengekori Seonghyeon sampai ke kamar.

“Seonghyeon, aku mau masuk ya?”

Seonghyeon menyahut dari dalam kamar, “Keonho, ini rumah kamu. Masuk aja.”

Lalu yang selanjutnya menyambut Keonho adalah Seonghyeon yang sudah memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang; bersandar di kepala ranjang sambil terfokus pada layar ponselnya.

“Are you ok?” Keonho terlihat khawatir, begitu kontras dengan Seonghyeon yang tampak tenang dan tak menunjukkan emosi apa pun. “Did something bad happen?”

Meski berbohong pada Keonho sama artinya dengan sia-sia, Seonghyeon tetap melakukannya. “I’m fine. Why wouldn’t I?”

“Who are you trying to fool right now? Me?” sarkas Keonho sehalus mungkin. “Ada apa sebenernya? Seharian ini masih belum cukup buat sedihnya kamu ya?”

Right. Tentu saja Keonho masih tetap berpikir Seonghyeon bersedih karena putus cinta. “Bisa kamu stop ungkit-ungkit soal itu gak? I already get over him, Keonho. Harus berapa kali sih aku bilang?”

“Aku enggak akan jadi begini, kalau kalimat itu ada tercermin di sikap kamu. Tapi ini enggak, aku gak lihat itu selama ini.” Ada frustasi yang jelas terselip di antara kalimat Keonho. “Juga selama ini aku gak banyak bicara karena aku tahu kamu butuh waktu dan aku gak mau desak kamu. Tapi ini bahkan udah hampir dua minggu, dan satu-satunya yang aku lihat di diri kamu adalah gelisah dan sama sekali gak ada gairah. Aku ini khawatir, Seonghyeon. Mau sampai kapan?”

“Oke, maaf karena udah bikin kamu khawatir,” sesal Seonghyeon, dan untuk pertama kalinya ia menatap Keonho langsung tepat di matanya malam itu. “Tapi ini udah bukan soal dia lagi.”

“Terus soal apa? Soal siapa?” Keonho justru jadi dibuat makin khawatir. “Enggak bisa kamu bagi sama aku kayak biasanya emang?”

Enggak bisa, karena ini soal perasaan aku ke kamu. “Udah lah. Aku mau tidur. Ngantuk.”

“Aku mau tidur di sini kayak kemarin malam kalau gitu.” Dan Seonghyeon sudah bersiap untuk menolak, Keonho tahu itu. Maka ia menyela dengan cepat, “We just sleep, Seonghyeon. Nothing else. Atau ada yang salah sama itu dan kamu keberatan?”

Seonghyeon tahu, itu adalah kalimat yang persis diucapkan olehnya kemarin malam. Sial, umpatnya dalam hati. Kenapa rasanya semua hal seperti berbalik padanya bagai boomerang sih? Emosi dalam dadanya jadi bergulir tak nyaman, ia tidak ingin membiarkan semua itu bertahan lama. 

“Yaudah ‘kan aku udah bilang terserah juga tadi?” Seonghyeon menyalakan lampu tidur di samping ranjang. “Tolong sekalian kamu matiin lampu kamarnya dulu.”

Lantas Keonho tutup pintu kemudian matikan lampu. Setelahnya langsung bergerak naik ke ranjang tanpa banyak suara, dan berbaring memposisikan badannya dengan nyaman. Lalu ketika ia melirik ke sampingnya, yang bisa dilihatnya adalah Seonghyeon yang seperti sudah nyaman memunggunginya.

“Did I do something wrong?” Keonho tahu kalau seharusnya ia merasa puas dengan apa yang sudah didapatnya sekarang. Seharusnya ia tidak menekan Seonghyeon lebih dari ini. Seperti biasanya. Tapi rasa janggalnya perasaan akibat penasaran jauh lebih besar dibanding rasa takutnya sekarang. “Kamu marah ‘kan? Atau ini cuma perasaan aku aja? ”

“Cuma perasaan kamu aja.”

“Terus kenapa kamu tidurnya munggungin aku?”

Benci. Seonghyeon benci dengan fakta kalau ia terlambat menyadari dan menerima perasaannya terhadap Keonho. Ia benci mendengar betapa pertanyaan Keonho yang begitu biasa itu, kini mampu menciptakan sebuah skenario dalam kepala Seonghyeon soal bagaimana mereka berdua kini terasa seperti pasangan yang sudah menikah dan sedang alami pertengkaran sepele. Ia benci mengakui kalau jauh dalam lubuk hatinya, bahkan skenario yang sebegitu buruk pun masih tetap ia amini.

“Ya lagi pengen aja?” Seonghyeon menjawab dengan begitu kentara sebalnya, dan Keonho menafsirkan ini sebagai jawaban iya. Pun Seonghyeon menyadari kesalahannya itu, maka kepalanya berpikir cepat untuk menutupi kecerobohannya. “Maksudnya, ya biar bisa hadap ke jendela. Aku mau stargazing dulu sebelum tidur.”

Keonho mendengus remeh—Seonghyeon tidak bisa lihat, tapi ia jelas bisa dengar. Lalu yang selanjutnya dirasakan adalah ranjang yang sedikit bergoyang karena kehilangan beban di satu sisinya. Keonho pergi? pikir Seonghyeon. Tapi bahkan sebelum ia bisa pastikan itu, tahu-tahu Keonho sudah masuk dalam lantang pandangnya; berdiri menjulang sambil menggenggam ujung kain gorden di salah satu sisinya.

“Seriously? Pengen stargazing dulu lewat jendela?” sarkas Keonho, kemudian diringi satu tarikan pada gorden sehingga tiga perempat bagian jendela yang terhubung dengan balkon itu awalnya tertutupi pun jadi sepenuhnya terbuka. Lalu kedua tangannya di lipat di depan dada. “Lain kali kalau mau bohong, minimal berdasar sama situasi yang logis dulu. Apa yang bisa kamu lihat dari celah sekecil tadi coba, hm?”

Argh! Seonghyeon harusnya tahu soal lebih ini dari siapa pun; ia dan Keonho tidak akan mampu menipu satu sama lainnya dengan mudah begitu saja. Jadi, haruskah ia menyerah sekarang? Seonghyeon berdecak kesal. “Oke, makasih atas sarannya? Terus mau kamu apa sekarang?”

Mau kamu jujur. Ada masalah apa? Aku ada salah apa? “Enggak ada.”

Kini giliran Seonghyeon menyadari kalau Keonho berbohong, ia bisa menebak kalau sahabatnya itu pada akhirnya memilih untuk menahan diri. Keonho selalu seperti itu, dan Seonghyeon yang sekarang sama sekali tidak tahu harus bagaimana menyikapi ini semua selain menghindar. “Yaudah? Aku mau tidur kalau gitu.”

“Oke. Good night.”

Seonghyeon membalas seadanya, dan Keonho kembali ke sisi ranjang seperti sebelumnya. Seonghyeon tetap pada posisi yang memunggungi, tapi Keonho justru memilih untuk berbaring menyamping dan menghadap punggung sahabatnya itu. Lalu hanya ada hening yang mengisi ruang dan waktu di antara mereka setelahnya, begitu kontras dengan isi kepala Seonghyeon yang lagi-lagi riuh dipenuhi berbagai soal tentang Keonho.

“Keonho?” panggil Seonghyeon pada akhirnya, karena ternyata sulit rasanya untuk bisa menahan semuanya sendiri lebih lama lagi. Lalu ia mengintip kecil dari balik bahunya; Keonho terlihat berbaring tenang dan sama sekali tidak merespon panggilan Seonghyeon. Maka ia pun kembali bertanya dengan volume suara yang sedikit lebih besar dari sebelumnya, “Udah tidur ya?”

“Hadap aku dulu, kalau kamu mau ada ngomong sesuatu.” Keonho menjawab dengan lugas. “Lihat aku.”

Seonghyeon terdiam kaku tapi jantungnya berpacu, sebab Keonho menjawabnya dengan jelas—begitu mengindikasikan kalau dirinya ada dalam kondisi yang sepenuhnya sadar. Ada takut yang seperti tengah coba menguasai Seonghyeon, buat dirinya nyaris kembali jadi pengecut dan berhenti melanjutkan apa yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Tapi satu sisi lain dalam dirinya merasa kalau semua ini harus diakhiri sekarang juga. It’s now or never.

“Enggak mau,” jawab Seonghyeon yang menunjukkan penolakan terhadap apa yang Keonho inginkan. Ia enggan berbalik dan menatap Keonho. “Kita masih bisa bicara dengan posisi kayak gini.”

“Seong—“

“—peluk aku.”

“—hyeon…?”

“Peluk aku, Keonho,” pinta Seonghyeon tanpa ragu, meski permukaan seprai yang semakin kusut dalam genggamannya kini jadi pelampiasan soal seberapa keras dirinya tengah melawan takut akan penolakan. “Kenapa? Enggak mau?”

“Buat apa?” Ini bukan berarti Keonho tidak mau melakukan apa yang Seonghyeon inginkan, tapi setidaknya ia harus tahu dulu dasar dari semua keanehan tindakan Seonghyeon. Keonho tidak mau ambil resiko karena ia telah gegabah dalam memaknai apa yang tengah terjadi. “Kamu sadar enggak sih kalau seharian ini, atau bahkan dari kemarin, kamu enggak bersikap kayak biasanya?”

“Karena aku memang lagi enggak baik-baik aja,” lirih Seonghyeon yang ia pastikan kalau Keonho akan tetap mampu mendengarnya. “That’s why I asked you to hug me.”

Lalu dengan begitu saja, Keonho menyerah pada semua pertahananya. Seonghyeon sedang membutuhkan presensinya, maka siapalah dirinya untuk bersikap egois dan banyak menuntut Seonghyeon hanya demi memuaskan rasa penasarannya sekarang?

“Oke,” jawab Keonho tenang. Kemudian ia bergeser maju, pun Seonghyeon berusaha memposisikan diri senyaman mungkin sehingga kini punggungnya rapat dengan dada Keonho. “Angkat dulu kepalanya,” pintanya kemudian, supaya memudahkan baginya untuk mendekap Seonghyeon dalam peluknya.

Seonghyeon menurut tanpa suara, sambil kembali berusaha mengatur posisinya sampai dirasa kalau tubuhnya sudah benar-benar dipeluk dengan begitu pas seolah mereka adalah sepasang puzzle yang saling melengkapi. And, God. Seonghyeon berani bersumpah kalau rasanya seperti jiwanya dibasuh hangat paling nyaman.

Safe and sound.

Setelahnya tidak ada yang mengisi ruang di antara mereka selain nafas keduanya yang seperti saling bersahut dalam hening. Seonghyeon tidak tahu apakah Keonho sudah tidur atau belum, tapi baginya tidak akan ada nyaman dari hangat presensi Keonho bisa ia dapatkan dari alam mimpi dalam bentuk apa pun. Seonghyeon enggan berbagi waktu meski hanya dengan tidur yang bahkan dibutuhkan oleh tubuhnya sendiri.

Kemudian instingnya mendorong Seonghyeon untuk mendekap lengan yang melingkar di perutnya, lantas ibu jarinya bergerak memberi usapan-usapan lembut di sana.

Pergerakan kecil itu membuat Keonho membuka kelopak matanya. Gagal sudah dirinya untuk menjemput kantuk yang sudah ia usahakan sejak tadi. “Seonghyeon,” bisiknya memanggil.

“Kenapa belum tidur?”

Pertanyaan itu Keonho respon dengan balas melempar pertanyaan juga, “Are you feeling better now?”

Seonghyeon menggigit sudut bibirnya, sementara ia meringis dalam hatinya. Jujur saja Seonghyeon tidak bisa langsung menjawab, tidak tahu harus bagaimana kasih jawaban. Dibiarkannya pertanyaan itu menggantung di udara sementara hening yang mengiringi justru membuat seluruh inderanya jadi bekerja makin tajam, karena di balik punggungnya ini Seonghyeon jadi seperti bisa merasakan bagaimana jantung Keonho seperti berdebar hanya untuk dirinya.

Shit.

Tombol perasaannya seperti langsung dinyalakan untuk emosi yang jadi bertolak belakang sekarang. Tidak ada tenang, tidak ada nyaman. Hanya ada penyesalan dan kebingungan yang tidak berani Seonghyeon konfrontasi langsung untuk saat ini. Sementara di sisi lain dapat Keonho rasakan bagaimana tubuh dalam dekapnya itu seperti mulai menegang.

“Oke, I’m sorry,” ungkap Keonho menyesal. “Gak perlu dijawab. Tapi tidur aja, ya? You need rest.”

“No,” jawab Seonghyeon pada akhirnya. “I feel… regretful. God. This feeling—it’s so ugly.”

Tapi yang Keonho tahu, bahwa semua ini sedikit pun tidak ada hubungannya dengan dirinya. It’s not about him. Selama ini Keonho masih meyakini bahwa akar masalahnya adalah kandasnya kisah Seonghyeon dengan si mantan kekasih. That fucking jerk.

“Sini deh, hadap aku dulu,” pinta Keonho selembut mungkin. Pelukannya dilonggarkan. “Look at me.”

Kali ini Seonghyeon menurut, meskipun ia berbalik dengan setengah ragu. Pun pandangannya turun tertunduk, enggan untuk balas menatap Keonho.

“Lihat aku, Seonghyeon.”

Seonghyeon menyerah. Mereka sudah dalam posisi seperti ini juga, memang dia bisa apa lagi sekarang? Tidak ada.

Kini pelukan Keonho jadi sepenuhnya terlepas, sebab satu tangannya kini sibuk merapikan poni Seonghyeon lalu menyelipkan anak rambut ke belakangan telinganya. “Sekarang dengar aku baik-baik.” Telapaknya kini mendekap sisi wajah cantik di hadapannya, seraya ibu jarinya mengusap lembut di pipi. “Trust me. Nothing about you are ugly. I swear to God, Seonghyeon. You’re the epitome of beauty.”

Tidak ada yang mempersiapkan Seonghyeon untuk ini semua, dimana rasanya terlalu banyak hal yang harus diterimanya hanya dalam waktu sesingkat satu hari ini saja. It’s so overwhelming.

Seonghyeon tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menangis jelas bukan sebuah pilihan, meski sebesar apapun keinginan untuk menangis itu ingin ia wujudkan. Berbicara? Jelas tidak bisa. Rasanya isi kepala sudah dipenuhi melebihi dari kapasitasnya, jadi mana mungkin Seonghyeon bisa menyusun kalimat utuh yang tidak beresiko menghancurkan kedamaian yang selama ini selalu ditawarkan dari hubungan persahabatan mereka?

Maka responnya kemudian adalah bergerak instingtif dengan menghamburkan diri pada pelukan hangat di hadapan yang ia tahu akan selalu menerimanya tanpa banyak memberi penghakiman.

Lantas Keonho merengkuh semua yang Seonghyeon pasrahkan tanpa perlu diperintahkan, tanpa pernah sedikit pun merasa keberatan. Apapun demi membuat Seonghyeon merasa aman. 

Maka sementara ada manifestasi dari perasaannya dalam debaran kencang yang kini tengah Keonho coba kesampingkan, sebelah tangannya kemudian bergerak untuk mengusap kepala Seonghyeon dengan sentuhan seolah dirinya adalah objek rapuh yang berharga dan harus sangat Keonho jaga.

“Sekarang denger,” pinta Keonho. Nadanya memang tidak terdengar tegas mengintimidasi, tapi Seonghyeon tetap bisa merasakan kalau kalimat yang kemudian akan dilanjutkan adalah sesuatu yang mutlak tidak menerima bantahan. “He being a cheater has nothing to do with you, at all. It’s not that because you lack on something, or anything like that. You’re already perfect in your own way, Seonghyeon.”

Pelukan pun sedikit Seonghyeon longgarkan, untuk kemudian dia beranikan diri supaya bisa memandang Keonho pada akhirnya. “He still think I’m the one at fault, though. Aku kurang cinta sama dia, katanya.”

“Who give a fuck? We all know he's a moron, anyway. Pemikiran sama opininya sampai semua.”

Satu hal baru yang akhirnya kembali Seonghyeon pelajari di hari ini;  sebesar ia bisa rasakan berbagai bentuk dukungan moral yang Keonho beri untuk setiap jalanan kasih yang tak pernah terlewat Seonghyeon bagi pada sahabatnya, sebesar itu pula kini Seonghyeon menyadari bahwa hampir semua mantan kekasihnya selalu sukses dapat caci-maki sepenuh hati dari Keonho  yang paling sebanyak tujuh kali dalam sebulannya.

 

(“Kenapa sih kamu tuh kayak gak bisa langsung approve aja gitu tiap aku kenalin sama cowok yang lagi deketin aku?” Seonghyeon pernah bertanya, setelah dia coba pertemukan Keonho dengan seorang supermodel terkenal yang merupakan salah satu rekan kerjanya Juhoon. Si supermodel saat itu tengah ada dalam “talking stage” dengannya. “Mana kamu kalau ngomong tuh ya suka jelek banget asbunnya, kayak minta banget buat dicabein sumpah. Udah kayak si paling tahu isi akal bulus dan jeleknya modus mereka.”

Keonho mengedikkan bahu cuek. Air mukanya terlihat begitu santai seolah kalimat yang selanjutnya keluar dari mulutnya bukanlah sebuah bukti nyata dari cara kerja brain-to-mouth-filter yang tidak berfungsi nyata. “No offense. But it's a fact, Seonghyeon. You always have the same damn pattern; your taste in men? It's awful.”

“Oh, shut the fuck up. I took full offense in that.” Seonghyeon merengut tak suka. “Sini gak, kamu? Aku beneran cabein ya mulutnya. Sini!!!”)

 

Kembali ke masa sekarang, Seonghyeon jadi mulai terpikirkan untuk melakukan percobaan. “I do,” responnya atas pernyataan Keonho sebelumnya. “I give a fuck about his dumbass opinion.”

“Oh, come on? Can you stop? He’s not worth your time and energy, Seonghyeon. Idiot dan sampah juga kayaknya masih sebutan yang terlalu kebagusan buat dia,” omel Keonho serius. “Kamu layak buat orang yang milyaran kali lebih baik dari dia.”

“Siapa?” tanya Seonghyeon penasaran, dengan fokus yang mengunci Keonho dalam satu pandangan. “Contohnya, siapa?” ulangnya lagi dengan sedikit menyiratkan tantangan.

Aku. Cukup satu kata itu saja yang Seonghyeon harapkan, yang tanpa ia tahu kalau kata yang sama juga sudah Keonho siapkan di ujung tenggorokan.

Tapi, tidak. Semua itu berakhir tidak disuarakan. Terima kasih kepada penguasaan diri Keonho yang sebenarnya sudah tidak banyak tersisa itu, sehingga tentu saja Keonho tetap bertahan dalam garis hubungan persahabatan dengan memberikan sebuah jawaban klise yang aman, “He’ll come to you at the right time. Don't worry.”

Lagi, dan lagi, Seonghyeon harus menelan pahit dari rasanya kecewa hari ini. Sialnya, kali ini rasanya seperti berkali lipat lebih pahit dari waktu Keonho menolak permintaan ciumnya tadi siang. Ini seperti asumsi terburuk yang Seonghyeon punya sejak di detik pertama ia sadar akan perasaannya itu kini jadi terbukti; Seonghyeon baru menyadari, ketika lebihnya cinta yang Keonho miliki sudah mati.

It's all too fucking late now, Seonghyeon. Congratulations.

Dan Seonghyeon tahu betul kalau Keonho pasti akan menyadari perubahan emosi dalam dirinya mulai terjadi, sehingga yang selanjutnya dia lakukan adalah dengan menghamburkan diri dalam peluk Keonho lagi.

Konyol memang. Seonghyeon bersembunyi kepada sumber dari patah hatinya itu sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Sebanyak sedih dan kecewa yang Seonghyeon rasa atas segala penyesalan dari keterlambatannya memahami perasaan sendiri, sebanyak itu pula dirinya hanya bisa memikirkan bahwa tidak ada orang lain yang bisa kasih tenang tanpa ada balas memberi tekanan kalau bukan Keonho orangnya.

“Udah ngantuk, hm?”

Seonghyeon balas dengan bergumam seadanya. And God, apalah arti tinggi dan proporsional badan mereka secara fisik kalau nyatanya di dalam kepala Seonghyeon justru dia merasa begitu kecil berada dalam rengkuhan Keonho sekarang. Fuck love and his stupid come late realization crush. 

“Good night, Keonho.” Suara Seonghyeon teredam, karena posisinya juga kini dia benamkan wajahnya di dada Keonho. “Semoga kamu gak mimpi aneh malam ini.” Mimpiin aku please…

Keonho terkekeh. “Night, Seonghyeon. Semoga aku mampir di mimpi kamu.”

“God. I hate you.”

“Hhm’m… I love you too.”

Paling tidak, untuk malam ini biarkan Seonghyeon dan patah hatinya diberi ruang untuk bernafas dan mempersiapkan diri untuk esok hari. Maka tidak akan jadi masalah ‘kan kalau pada akhirnya Seonghyeon pilih untuk menganggap bahwa ungkapan cinta itu nyata. It’s genuine in not so platonic way. Pun bagaimana debaran jantung Keonho yang bisa dengan jelas didengarnya dengan jelas kini, akan Seonghyeon anggap sebagai bukti kalau paling tidak cinta Keonho itu memang nyata hadirnya khusus untuk Seonghyeon saja, walau mungkin hanya setitik wujudnya.

Biarkan semua hal yang mungkin besok pagi akan Seonghyeon anggap sebagai halusinasi, paling tidak oleh setiap yang bertahan di sepanjang malam akan terus mengamini.

 


 

Hangat sinar mentari menyapa kembali dan membangunkan Keonho sebagaimana pagi sebelumnya terjadi. Meski tak lama setelahnya justru dingin dari hampanya kesendirian lah yang menyelimutinya, sebab presensi Seonghyeon sama sekali hilang dalam jangkauan. Hanya saja kali ini Keonho tidak begitu banyak menaruh peduli. Tubuhnya ia rebahkan jadi telentang untuk kemudian menatap lurus pada langit-langit kamar di hadapan. Pikirnya, sekarang ini semua hal masih ada dalam kendali. Semua masih baik-baik saja ketika Seonghyeon juga terlelap damai dalam pelukannya semalaman penuh, dan mungkin sekarang Seonghyeon tengah sibuk melakukan sesuatu di salah satu sudut ruangan lain di rumah ini.

Tapi kemudian Keonho mulai menyadari kalau hening itu seperti tidak bergulir menuju satu titik akhir yang pasti, seperti tidak ada lagi kehidupan selain Keonho sendiri. Maka setiap sudut di semua ruangan pun Keonho sambangi; nihil.

Mungkin Seonghyeon sedang keluar sebentar untuk belanja lagi, Keonho berusaha tetap tenang. Tapi kemudian sepuluh menit berlalu, Seonghyeon tak kunjung kembali. Lalu dua puluh menit, tiga puluh menit, dan bahkan Seonghyeon sama sekali tidak bisa dihubungi. Alarm waspada perlahan menyala untuk kirimkan sinyalnya pada kepala—Keonho seperti akan kehilangan Seonghyeonnya—dan mulai berperang melawan sisi rasionalitasnya dimana ia masih bisa berpikir kalau Seonghyeon tidak akan pergi kemana pun—karena tidak ada alasan yang cukup logis bagi Keonho untuk benar-benar kehilangan Seonghyeon dari sisinya.

Tapi kemudian semakin dipikir maka semakin kekuatan dari rasionalitas jadi melemah, tergantikan dengan fakta bahwa kepergian Seonghyeon yang tanpa aba-aba begini adalah sebuah hal yang tidak biasa—mau dipikir bagaimana pun, tindakan Seonghyeon seperti sebuah pertanda yang tidak bisa Keonho maknai dengan baik. Maka akhirnya panik pun menguasai Keonho pada akhirnya, sampai sudah tidak ada adapun yang ia pikirkan kecuali mencari dimana keberadaan Seonghyeon sekarang.

Keonho tidak dipedulikan sedikit pun soal bagaimana rambut bangun tidurnya yang masih mencuat kemana-mana, atau kaos tidur kusutnya dan celana pendek yang buat ia terlihat begitu serampangan mengganggu penglihatan. Persetan dengan penampilan dan segala detail lain yang tidak sempat ia pikirkan.

Lalu sewaktu Keonho hendak meraih kunci mobilnya, lantas pandangannya tertarik pada secarik sticky note yang tertempel di sana. Ada banyak coretan yang tidak bisa ditebak apa tulisan di baliknya, tapi Keonho tetap bisa tahu kalau Seonghyeon lah penulisnya. Lalu ia ambil kertas itu, dan diperhatikannya dengan seksama.

Ada ada banyak coretan di sana, menutup berbagai kata yang tidak bisa Keonho tebak apa. Tapi Keonho bisa rasa, seperti tersirat banyak bimbang di balik sana; ada banyak pesan yang ingin Seonghyeon sampaikan, namun berakhir ia tahan. Kemudian fokusnya beralih pada sisa tiga baris pesan yang bersih dari coretan.

Aku pulang dijemput supir.
Don’t worry.
Keonho, I’m sorry.

Seonghyeon pulang bersama supirnya, itu aman. Seonghyeon minta untuk tidak khawatir, itu bisa Keonho lakukan, andai saja baris lanjutan di bawahnya bukanlah sebuah permintaan maaf. Maaf untuk apa? Keonho tidak mengerti. Dan kalau itu soal dirinya, Keonho tidak akan peduli. Tapi kalau itu soal sesuatu yang buruk tengah Seonghyeon hadapi sendiri, maka ia sama sekali tidak punya toleransi.

Keonho harus menyusul Seonghyeon sekarang.

 


 

Beruntungnya, segala kebaikan paling tidak selalu berpihak pada Keonho disepanjang perjalanan menuju rumah Seonghyeon. Jalanannya begitu lancar memungkinkannya untuk melaju dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dibanding biasanya, yang selama itu juga Keonho tidak pernah melewatkan barang sedetik pun untuk terus menghubungi Seonghyeon. Hasilnya? Tentu saja nihil, lagi.

Mobil berhenti di lampu merah, dan Keonho mengetuk-ngetuk jarinya pada setir kemudi dengan gelisah. Lantas ia melirik sekilas pada kaca spion depan, and God, he’s such a mess. Pun Keonho baru sadar kalau ia bahkan tidak sempat untuk mencuci muka. Lalu ketika lampu hijau menyala, Keonho menginjak pedal gas. Lalu ia baru tersadar lagi, kakinya kini hanya beralaskan slipper dalam rumah. Great. Seonghyeon ada tiba-tiba meninggalkan Keonho selama beberapa jam saja, tapi ia sudah sebegini berantakan dibuatnya.

Meskipun sebetulnya sangat wajar bagi Keonho untuk terdampak sebesar itu ketika panik sudah benar-benar menguasainya, karena sebenarnya kepergian Seonghyeon seperti tidak bisa dianggap sesederhana ia hanya ingin pulang ke rumahnya duluan. Seonghyeon tidak begitu pandai menyembunyikan perasaannya, ia adalah sosok yang Keonho kenal lebih senang mengkonfrontasi langsung ketika tengah menghadapi ketidaknyamanan. Maka kalau belakangan ini Keonho rasa justru seperti Seonghyeon banyak menahan—bahkan sembunyikan—darinya sampai ia seperti kabur begini, itu artinya memang Seonghyeon tengah hadapi satu masalah baru yang belum ia pahami bagaimana seharusnya ia menyikapi.

Tapi, apa? Keonho merasa punya hak untuk tahu jawabannya, karena firasatnya mengatakan kalau ia seperti punya andil di dalamnya. Jadi, apa? Keonho benar-benar membutuhkan jawabnya.

Mobilnya kemudian berbelok dan memasuki kawasan perumahan yang sudah Keonho hafal betul jalannya bahkan jika harus mengemudi dengan mata yang tertutup. Pun meski sampai saat ini Seonghyeon masih sama sekali belum dapat dihubungi, tapi Keonho yakin kalau tidak ada kebohongan yang ditulis Seonghyeon soal pulang; dia pasti berada di rumahnya sekarang.

Maka di sepuluh menit kemudian, di sana lah Keonho pada akhirnya; berdiri di depan pintu kayu besar rumah Seonghyeon.

“Saya mau tunggu di sini sampai Seonghyeon mau turun dan temuin saya langsung,” ungkap Keonho pada salah satu pekerja di sana yang menerima kedatangannya. “Tolong sampaikan juga ke Seonghyeonnya ya, Pak. Makasih banyak.”

Lima menit kemudian, tidak ada presensi Seonghyeon yang menyambutnya. Melainkan satu panggilan telepon masuk yang langsung Keonho terima di detik pertama deringnya menyala.

“Pulang, Keonho.” Adalah hal pertama yang menyapa telinga. “Please.”

Tapi Keonho tidak goyah. “Turun, Seonghyeon.”

“Kamu—bisa gak jangan kay—“

“—bisa,” potong Keonho cepat. “Kamu mau apa juga aku kasih, tapi turun dulu. Say it right to my face.”

Ada satu helaan nafas bisa Keonho dengar, sebelum akhirnya sambungan telepon pun diputus Seonghyeon duluan. Tak lama setelahnya, Seonghyeon turun seperti apa yang Keonho harapkan.

“God. You look awful,” ungkap Seonghyeon, setengah meringis.

Keonho mendengus. “And whose fault is that?”

“Kamu yang bener aja dong—” Seonghyeon menunjuk pada slipper yang ia ingat selalu Keonho pakai selama di rumah barunya itu. “—bahkan gak sampai ganti sandal dulu?”

“And whose fault is that?” ulang Keonho tegas. Ia tahu kalau Seonghyeon tengah berusaha menghindar, tapi sudah cukup bagi Keonho selama ini untuk terus menahan dirinya. Maka dia tetap menuntut, sedikit lebih keras dari biasanya. “Memang apa yang kamu harapkan dari aku yang tiba-tiba ditinggalin pas waktu masih tidur, terus satu-satunya jejak yang aku temuin cuma selembar permintaan maaf di sticky note?” 

Bibir Seonghyeon terkatup rapat, kedua tangan di tiap sisi tubuhnya perlahan mengepal erat. Pikirannya masih terasa begitu kacau, jadi ia sedang tidak ingin membahas apapun tentang semua itu sekarang. Seonghyeon takut dirinya justru akan melakukan hal bodoh yang akan ia sesali nantinya.

“Seonghyeon.” Keonho tidak bisa menahan lebih lama lagi. “Jawab.”

“Maaf.”

“Maaf buat apa?”

Seonghyeon mengigit sudut bibirnya. Lantas ia beranikan diri untuk menatap Keonho tepat di matanya. “Udah pergi gitu aja tanpa bilang.”

“Cuma itu?” tanya Keonho yang masih belum puas dengan jawaban yang Seonghyeon berikan. “Di sticky note juga kamu minta maaf buat itu?”

“Memang kamu pikir buat apa lagi?”

“Seonghyeon, can you not—“

“—I can’t.” Seonghyeon buru-buru memotong. Sedikit lagi. Keonho hanya perlu mendorongnya sedikit lagi, dan Seonghyeon yakin pertahannya akan runtuh begitu saja. “Can you just—go. Leave me alone.”

Keonho membeku. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Seonghyeon benar-benar mengusir Keonho dari sisinya. “What’s wrong with you?” lirihnya, ada frustrasi yang terselip di balik pertanyaan yang penuh desperasi. “Kamu maunya apa sih?”

“Aku maunya kamu tepatin omongan kamu,” jawab Seonghyeon tak kalah frustasi. “You want me to come and say it to your face, right? Here you go: leave me alone, Keonho.”

“No.” Keonho butuh alasan lebih dari itu. “Gimana bisa aku pergi di saat kamu bersikap kayak gini? Kayak, aku dibuang karena habis ngelakuin satu kesalahan gini?”

“But I need time!” pekik Seonghyeon yang sudah kehabisan akal. Tubuhnya jatuh merosot hingga berjongkok dan wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangan, lantas ia lanjut bicara meskipun dengan suara yang teredam, “I need space—to breath. To think. Everything.”

Berantakan.

Cara Seonghyeon menjelaskan, maupun emosi yang Keonho rasakan, dan apa pun kini yang tengah keduanya alami; semuanya berantakan. Terima kasih pada penguasaan diri Keonho yang gagal ia pertahankan. Egonya tidak hanya berhasil mendorong Seonghyeon sampai ambang batas kekuatan, melainkan juga mendorong keduanya menuju jurang kehancuran. Well done, Keonho. Well fucking done.

“Seonghyeon—I’m so sorry.” Keonho ikut berjongkok. Tangannya meraih kedua pergelangan tangan Seonghyeon dan melingkar lembut di sana. “I’ll go, ok? As you wish—I’ll go. Tapi lihat aku dulu.”

Di detik selanjutnya, Keonho bisa dengan mudah menarik kedua tangan Seonghyeon. Lalu tidak ada rasa yang menguasai hatinya lagi selain dari pada sebuah penyesalan besar ketika apa yang Keonho lihat selanjutnya adalah bagaimana kedua bola mata yang biasanya menyorot hangat dengan lembut itu kini nampak kehilangan binarnya.

Seonghyeon memandang Keonho seolah dia adalah satu-satunya yang paling ia butuhkan dan jadi orang terakhir yang paling ingin dilihatnya sekarang di saat yang bersamaan. Sementara si yang jadi objek pandangan Seonghyeon hanya bisa menghela nafas pasrah. Keonho bingung; Seonghyeon yang ia pikir sudah dikenalnya dengan baik selama ini, sekarang justru menjadi sebuah teka-teki yang paling sulit untuk ia pahami.

Lantas tangan Keonho kembali bergerak, kini berakhir menangkup kedua sisi wajah Seonghyeon. Ibu jarinya mengusap halus di area bawah matanya. Dilihatnya kini semakin jelas, bagaimana kedua netra itu mulai berkaca-kaca, pupilnya bergetar gelisah.

Jangan nangis. Apalagi kalau itu karena aku. “Seonghyeon, you look… very confused…”

“I am…”

“And I’m sorry. Aku udah terlalu menekan kamu barusan,” sesalnya tulus. Sekali lagi Keonho menyadari; persetan dengan perasaannya sendiri, prioritasnya adalah Seonghyeon sebelum siapa pun di dunia ini. He loves him that much. Lalu Keonho melanjutkan, “I’ll go, and I’ll give you space. Tapi kita berdiri dulu, ya? Aku gak bisa pergi kalau hal terakhir yang bakal aku ingat adalah kamu yang jongkok gak elit kayak gini.”

Seonghyeon mendengus, sambil ia lepaskan kedua tangan Keonho dari wajahnya. Tapi kemudian satu sudut bibir jadi sedikit terangkat naik karenanya. “Konyol,” cibirnya, seraya bangkit berdiri juga pada akhirnya.

“Yaudah, aku pulang ya?” Keonho kembali meraih tangan Seonghyeon untuk digenggamnya lagi. “Take your time, as much as you need. I’ll be waiting.”

Seonghyeon mengangguk kecil. “Okay.”

Lalu Keonho berjalan mundur, dengan langkah-langkah kecil yang sengaja ia buat lambat. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan tangannya masih enggan untuk melepaskan. Sementara Seonghyeon hanya diam, membiarkan—menikmati—setiap tingkah konyol yang Keonho ingin lakukan.

“Aku gak maksa.” Empat langkah, lima langkah, dan kini hanya tinggal ujung jari telunjuk dan jari tengah yang masih bertaut. “Ini cuma harapan aku aja. Jangan lama-lama, ya? Nanti aku kangen soalnya.”

Lalu genggaman terlepas sepenuhnya. Keonho berbalik dengan senyum kecil yang agak dipaksakan, semua hal yang baru saja terjadi terasa begitu memberatkan perasaan. Sementara Seonghyeon hanya diam, menyaksikan bagaimana punggung Keonho bergerak semakin jauh lalu hilang di balik mobilnya yang kemudian melaju pulang.

God. Seonghyeon harus benar-benar memikirkan semuanya dengan matang.

 


 

Keonho is a man of his words—itu adalah salah satu prinsip hidupnya selalu diusakan untuk Keonho buktikan setiap harinya. Maka ketika dulu dirinya pernah bilang pada Seonghyeon kalau ia akan menunggu, then he’ll wait.

Ini sudah hari ketujuh sejak terakhir kali Keonho bertemu dengan Seonghyeon, dan sudah selama itu pula tidak ada komunikasi dalam bentuk apa pun yang terjalin antara mereka berdua. Maka di setiap harinya selalu ia lalui dengan berharap pada Seonghyeon; paling tidak, ia menunggu muncul satu saja notifikasi atas nama sahabat yang sangat dirindukannya itu. Ini berarti Keonho sama sekali tidak berusaha untuk menghubungi atau bahkan mengirim sinyal duluan, karena sekali lagi, dia sudah bilang kalau dia akan menunggu saja.

Tapi ini sudah hari ketujuh.

Keonho mengacak rambutnya frustasi, kemudian merebahkan tubuhnya dengan pasrah diatas empuknya ranjang—ranjang di kamar yang sama dengan terakhir kali Seonghyeon menginap di rumahnya. Pandangannya berlahan menjadi semakin buram seiring dengan semakin lamanya ia menatap kosong pada langit-langit tinggi di hadapannya yang kini terlihat gelap, karena bahkan ia tidak cukup menaruh peduli untuk sekedar menyalakan lampu kamarnya. Lantas cukup lama ia berpikir—menimbang satu-dua hal—sebelum akhirnya ia menarik ponsel dari saku celananya untuk kemudian membuka kamera depannya.

Snap! Snap! Tap. Tap. Tap. Tap.

Seluruh atensinya kemudian hanya terpusat pada layar ponsel yang kini menampilkan sebuah roang obrolan antara dirinya dan Seonghyeon. Lalu foto yang baru saja diambil itu pun dilampirkan dan diiringi oleh sebuah kalimat “I miss you” saja, untuk dikirim setelahnya.

Persetan dengan prinsip hidup. Peduli apa memang Keonho pada ucapannya tempo hari lalu? Tidak ada. Ini sudah hari ketujuh, dan rasanya Keonho bisa berubah jadi gila sekarang juga.

Lalu di sepuluh menit setelahnya, baru lah Keonho punya keberanian untuk mengecek ponselnya kembali. Nihil. Tidak ada satu pun notifikasi masuk dari Seonghyeon. Lantas ia kembali membukan ruang obrolan mereka, dan—read. Status pesannya sudah berubah jadi dibaca, namun tidak ada balasan yang ia terima setelahnya.

Ah, sial. Keonho spontan membanting benda pipih itu, yang beruntungnya masih mendarat di empuknya permukaan ranjang. Lantas ia menutup matanya dengan punggung lengannya, diiringi dengan sebuah hela nafas penuh putus asa. Lalu perlahan tapi pasti, semua rasa lelah pun menariknya masuk ke dalam alam mimpi sehingga di menit selanjutnya hanya ada deru nafas teratur yang mengisi seisi ruangan.

Keonho terlelap untuk beberapa saat yang tidak ia sadari, sampai akhirnya bunyi bel terpaksa menariknya bangun dalam keadaan yang sangat bingung. Di tengah usahanya yang masih mengumpulkan seluruh kesadarannya, otaknya dipaksa untuk berpikir lebih keras dari seharusnya. Ia tidak merasa punya urusan apapun dengan tetangga mana pun, pun tidak ingat kalau ada pesan sesuatu. Terlebih ini adalah rumah baru, tidak ada yang tahu keberadaan rumah ini kecuali—oh, oh. Seluruh kesadarannya langsung terisi penuh seketika, ia bangun dari ranjangnya dengan setengah terloncat dan langsung berlari menuju pintu dengan terburu.

Pikirannya hanya tertuju pada satu orang, sebagaimana nama satu orang yang dirapalnya dalam hati sebelum ia terlelap tidur tadi. Seonghyeon. Seonghyeon. Seonghye—

Lalu pintu dibuka, dan yang selanjutnya menyapa Keonho adalah persis dengan apa yang paling ia inginkan.

Seonghyeon.

“Keonh—?!” Greep!

Kalimat sapaan itu tidak dapat diselesaikan—nama Keonho bahkan belum sempat disebut secara utuh—karena Keonho sudah terlanjur menarik Seonghyeon ke dalam sebuah pelukan yang penuh dengan kelegaan.

“Makasih. Seonghyeon, makasih banyak.” Peluknya semakin erat, seolah takut Seonghyeon akan langsung lepas dan menghilang andai Keonho longgarkan sedikit saja peluknya. Lalu dihirupnya aroma tubuh Seonghyeon, seolah hanya dengan begitulah ia bisa yakin kalau sosok dalam peluknya kini memang benar adanya. “I miss you… I miss you so much.”

Dan tidak sulit bagi Seonghyeon untuk beradaptasi, tidak sulit baginya untuk memahami karena ia datang dengan kerinduan yang sama besarnya. Maka peluk itu dibalasnya dengan hangat sebanyak yang mampu dirinya berikan.

“I miss you too, Keonho,” lirihnya. Lalu mereka bertahan dalam posisi saling melepas rindu lewat peluk itu selama beberapa saat, sampai akhirnya Seonghyeon angkat bicara, “Ini… kita enggak akan masuk? Aku pegel…”

Lalu tidak ada yang mempersiapkan Seonghyeon untuk menerima respon yang selanjutnya Keonho berikan. Sahabarnya itu sama sekali tidak melepaskan pelukannya, ia memutar posisi tubuh mereka hanya untuk menutup pintu dengan menendangnya. Kemudian ia berjalan menuju ruang tengah—masih dengan Seonghyeon yang ada dalam pelukan.

“K-keonho—!” Seonghyeon mencoba protes di tengah usahanya yang cukup kepayahan dalam menyesuaikan langkah dengan Keonho. “Lepas dulu ‘kan bis—eh?! Whoa—Keonho!!”

Keonho menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa, masih tanpa melepas peluknya dari Seonghyeon. Lalu kini posisinya, Keonho yang terduduk dan Seonghyeon jadi berada tepat di atas pangkuannya.

“Fifteen minutes.” Akhirnya Keonho buka suara lagi, “At least, kasih waktu sebentar aja buat kita begini. Aku bener-bener kangen kamu. Jadi aku butuh ini, kalau enggak nanti aku jadi gila.”

Tapi kamu emang udah gila, pikir Seonghyeon. Selama tujuh hari itu rasanya seperti Seonghyeon menyiksa diri sendiri karena harus menjaga jarak dengan Keonho, membiarkannya benar-benar absen dengan mencoba melupakan presensinya yang ternyata semua itu sia-sia. Seonghyeon tidak bisa. Tanpa Keonho, seperti ada bagian dalam dirinya yang tertinggal setiap kali ia hendak tidur di tiap malamnya. Bayangan Keonho selalu muncul di balik kelopak matanya. Maka selama tujuh hari itu juga Seonghyeon banyak berpikir soal mereka, dengan berbagai bentuk skenario buruk serta seberapa besar kemungkinan itu terjadi. Selama itu pula Seonghyeon banyak mempersiapkan diri, untuk membicarakan soal perasaannya dan menerima apapun itu keputusan Keonho dalam menyikapinya. Tapi kemudian hanya dalam kurun waktu yang seperti tak lebih lama dari tujuh menit itu, Keonho mampu dengan begitu saja membuyarkan semuanya. Semudah itu bagi Keonho untuk membuat Seonghyeon melupakan setiap hal yang sudah persiapkan. Gila.

“Seonghyeon,” panggil Keonho yang tak kunjung mendapat jawaban. “Boleh, ya?”

Ya, kalau sudah begini memang Seonghyeon bisa apa lagi? Lantas ia berusaha lepas dari dekapan Keonho, bukan untuk melepaskan diri sepenuhnya namun hanya untuk sedikit memberi ruang untuk memudahkannya bicara sambil memandang tepat di kedua netra si lawan bicara. Beruntungnya Keonho dapat menangkap sinyal dari gesturnya dengan tepat, sehingga pelukan pun dilonggarkan.

“Ini udah lewat lima menit ya.”

“Iya.” Keonho tidak bisa menyembunyikan senyumnya. “Sisa empat puluh lima menit lagi berarti.”

“Huh?” Seonghyeon protes. “Kamu mintanya lima belas menit ya tadi.”

“Kamu salah denger,” elak Keonho. “I said fifty, not feefteen.”

“Serously. I hate you.”

Keonho hanya terkekeh tanpa dosa, sementara Songhyeon berakhir menjatuhkan kepalanya untuk kemudian jadi bersandar pada bahu Keonho. Pada akhirnya juga ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri ketika kedua tangan Keonho semakin melingkar erat di pinggangnya, maka tidak ada hal lain yang Seonghyeon rasakan selain nyaman.

Lalu hening. Tidak ada lagi yang mengisi ruang di antara mereka selain hembus nafas masing-masing yang seperti saling bersahut, begitu kontras dengan bagaimana isi kepala Seonghyeon yang mulai jadi berisik; memikirkan apa yang harus ia katakan setelah ini? Bagaimana baiknya mengungkapkan perasaannya selama ini? Ah, sial. Semua yang sudah Seonghyeon persiapkan rasanya bagai sungguhan menguap hilang dari kepalanya.

“Oh, fuck you, Keonho.”

“What?!”

“Eh? I’m sorry,” jawab Seonghyeon cepat. Ia sendiri sebenarnya kaget karena sampai lepas kontrol untuk membiarkan isi kepalanya disuarakan tanpa sempat disaring terlebih dulu, saking sudah frustrasinya. “I’m just… confuse.”

“Ah.” Ingatan Keonho berputar pada kejadian di teras rumah Seonghyeon minggu lalu. “So, you’re still confuse. Udah bisa dibagi ke aku belum sekarang? Mau coba?”

“Mau…, tapi bingung.” Seonghyeon menghela nafas. Lantas lengannya melingkar di leher Keonho, sebagai sebuah usaha menenangkan keributan dalam kepalanya. “You just—you ruined everything.”

“Me? Why?”

“Because—“ Seonghyeon menggigit sudut bibirnya. Ragu, takut. Tapi dalam kepalanya juga sudah tidak ada yang bisa ia pikirkan lagi selain— “I love you.”

Kalimat itu meluncur pada akhirnya. Tidak dramatis; tanpa tangis atau pun malu-malu kucing, melainkan seperti setengah spontan atas dasar desperasi yang sudah tidak bisa Seonghyeon bendung lagi.

Tubuh Keonho membeku selama sepersekian detik. “Seonghyeon—“ panggilnya pelan, penuh hati-hati. “Jangan bercanda.”

“Bercanda apa sih?” Lantas Seonghyeon melepas peluknya. Kedua tangan tersampir di pundak Keonho, lalu pandangannya menatap lurus pada kedua netra sahabat di hadapannya itu dengan tulus. “Aku sayang kamu, Keonho. Aku cinta kamu. I love you,” ulangnya serius dan berkali-kali, demi memberi penegasan yang pasti.

Lalu hening, lagi. Bukan tenang seperti yang sebelumnya tawarkan, melainkan pengap dengan segala perasaan dari dua jiwa yang sudah lama saling menahan dan kini telah menemukan celah untuk bisa dibebaskan. Dan segala skenario yang dipikirkannya selama ini perlahan mulai kembali mengisi kepalanya, pun jadinya ia sudah mempersiapkan rentetan kalimat yang harus diberikan andai saja Keonho tidak memberi jawaban sesuai dengan yang ia harapkan.

“But we’re friends, Seonghyeon.”

And that’s it. You’re getting rejected. Seonghyeon berkata pada dirinya sendiri, dan seharusnya ia balas Keonho dengan segala kalimat penerimaan yang sudah dipersiapkan karena “ditolak Keonho” juga sebenarnya adalah salah satu skenario paling memungkinkan untuk terjadi.

“And so what?” Tapi kadang memang antara isi hati dan kepala punya keinginan yang berbeda, sebagaimana kepalanya yang bilang kalau Seonghyeon seharusnya terima saja tapi justru hatinya berkata lain pada akhirnya, “I’m completely aware that we’re friends, Keonho. Thank you very much. Tapi terus kamu maunya aku gimana? Berhenti buat enggak suka? Enggak bisa. A-aku sadar kalau—God. Ini gak boleh? Mungkin. Harusnya gak gini. T-tapi, enggak. Gak bisa. Aku—“

“—Seonghyeon.”

“—aku tetep suka. Kamu tetap berisik di kepala aku. Setiap hari. Maunya kamu ter—“

“—Seonghyeon,”

“—aku suka tiap kamu—“

“—Seonghyeon. Baby—” Kali ini Keonho memotong dengan jauh lebih tegas. Lalu sebelah tangannya naik ke sisi wajah Seonghyeon, dan sukses membuatnya benar-benar berhenti bicara seketika. “—calm down. Breath. You’re panicking right now.”

“I am.” Seonghyeon langsung merespon. “Kamu nolak aku dan aku—“

“—kata siapa? Aku enggak bilang begitu,” potong Keonho lagi. Ibu jarinya bergerak mengusap perlahan tulang pipinya, seperti yang sudah biasa dilakukannya. Familiar dan hangat. “Aku cuma bilang kalau kita ‘kan teman.”

“Dan aku bilang, itu gak merubah apa pun,” balas Seonghyeon, dan ia bisa melihat langsung bagaimana sorot Keonho semakin melembut dan tubuh di bawahnya seperti mulai melepas ketegangan yang sedari tadi masih tertahan. Itu memberinya sedikit lebih banyak keberanian, maka melanjutkan dengan lebih tenang, “Gak peduli seberapa besar usaha aku buat lupain kamu atau seberapa banyak alasan logis yang aku cari buat bikin semua rasa ini hilang, enggak ada satu pun yang berhasil bikin aku berhenti buat sayang sama kamu. I love you so much and I want you so bad in the most selfish way. Dan pikiranku langsung kacau karenanya. Makanya aku kabur waktu itu, karena aku takut. God, aku takut banget bakal ngelakuin sesuatu yang malah jadi aku sesali nantinya.”

“Kayak apa?”

“Kayak, aku jujur ke kamu sekarang. Aku jujur sayang kamu yang juga aku maunya kamu buat enggak nolak aku, maunya kamu balas sayang yang sama besarnya. I want you to want me as much as I do.” Seonghyeon belum selesai bicara, dan ia tahu Keonho pun tahu dan masih tetap setia menunggu. Lantas ia angkat satu tangannya untuk mendekp punggung tangan Keonho yang masih setia menangup sisi wajahnya. Seonghyeon meremas kecil di sana, sebagai sebuah gestur untuk semakin menguatkan dirinya. “Jadi aku gak siap kamu tolak, dan aku pasti ngelakuin hal bodoh karena itu. I gotta ruined everything for us, and I don’t want that.”

God. Sedikit pun tidak pernah Keonho pikir kalau akan ada hari dimana ia menyaksikan semua ini, mendengar bagaimana dirinya begitu diinginkan oleh Seonghyeon dengan sebegini besarnya. Man… it’s too good to be true. Rasanya seperti semua beban berat dari cinta yang ia pikir tak berbalas itu langsung terangkat dari pudaknya dan itu perlahan membuat Keonho bagai mengawang di atas awan.

“Seonghyeon—“

“—aku belum selesai,” potong Seonghyeon tegas. “But I think I’ve made up my mind. Walau barusan panik, tapi sekarang aku udah jauh lebih baik. Aku gak apa-apa kalau kamu tolak pun, karena aku cuma mau jujur—sama diriku sendiri, sama kamu. That’s all,” ungkapnya. Ada hening selama sepersekian detik, sebelum akhirnya ia menambahkan, “I still want you, though,” bisiknya pelan, penuh pengharapan.

“Kenapa kamu pikir—“ tangan Seonghyeon kini ditarik untuk ia genggam, dan meski sudah berubah bentuk kontak fisiknya pun tapi afeksi yang disalurkan lewat usapan lembut ibu jarinya itu masih tetap sama. “—aku bakal nolak kamu, sih?”

“Karena—“ aku pikir terlambat buat sadarnya, dan perasaan kamu buat aku udah enggak sebesar dulu; udah mati. Tapi, wow. Baru menyusun kalimat itu dalam kepalanya saja ternyata sudah membuat Seonghyeon seperti mau muntah. Maka tentu sekarang ia kesulitan untuk benar-benar mengucapkan semuanya. “—I just—I prepared for the wors—“

“I love you, Seonghyeon,” ucap Keonho pada akhirnya. Tulus dan lepas, tanpa pertahanan apa pun yang selama bertahun-tahun ini selalu menahannya sendirian. Tangan dalam genggamannya pun Keonho tarik, untuk kemudian dia cium satu persatu punggung jemarinya dengan penuh damba dan cinta. “It’s beyond you can imagine. I built this house with the thought of you, yang kalau aku enggak bisa punya kamu sebagai rumahku maka aku akan ciptakan bentuk fisik lain dari kamu.”

Seonghyeon tidak tahu sejak kapan matanya mulai berkaca-kaca. Demi Tuhan, ia sangat ingin menangis tapi semuanya masih ditahan. Sementara dalam hatinya terasa hampir seperti ingin meledak, karena bahagia dan lega yang membasuh seluruh jiwa. “Keonho…”

“I’ve loved you for almost my whole life. I love you with my whole life, Seonghyeon.”

“Brengsek,” maki Seonghyeon, suaranya bergetar di antara kelegaan dan haru yang menyatu jadi satu. “Kalau gitu terus kenapa tadi kamu bilang kalau kita cuma temen? A-aku pikir—aku kira perasaan kamu udah tersisa lagi buat aku…”

“Aku gak mau kamu keliru, Seonghyeon,” jawab Keonho. “Dulu kamu bilang jangan ngaco, karena kita sahabat.”

God. Kalimat itu lagi. “Itu dulu, Keonho.”

“Okay, sorry?” Keonho agak terdengar defensif. “For making sure that we’re doing it in the right way.”

“No, I’m sorry,” ungkap Seonghyeon tak enak. “Dulu aku emang bilang ngaco, tapi sekarang….“

Seonghyeon sengaja menggantung kalimatnya, sehingga Keonho tak sabar menunggu dibuatnya. “Tapi sekarang…?”

“Sekarang aku bilang, jangan berhenti.” Pandangan mereka tidak pernah terputus sejak tadi, dan Seonghyeon bisa lihat bagaimana perubahan sorot Keonho yang kini jauh jadi lebih dalam, lebih mendamba. God, he wants me so bad. Maka kini Seonghyeon mendekap satu sisi wajah Keonho dengan telapak tangannya, lalu pandangannya jadi turun jatuh di ke dua bibir Keonho selama beberapa detik untuk kemudian kembali menjalin kontak mata kembali. “Don’t hold back, Keonho—“ Ibu jarinya mengusap tulang pipi Keonho, persis seperti yang biasa ia lakukan padanya. “—go and make sure you do me the right way.”

Lantas siapa lah Keonho untuk menolak? Siapa lah Keonho untuk menahan diri dan berhenti?

Maka Keonho menarik lembut leher Seonghyeon untuk kemudian mempertemukan bibir mereka ke dalam satu ciuman yang begitu jauh berbeda dari bagaimana rasanya ketika Seonghyeon cium Keonho di setengah sadarnya malam itu.

Ciuman ini terasa sangat berbeda dan istimewa, karena ini nyata dan Seonghyeon melakukan semuanya bersama Keonho yang selama ini hanya dia lah yang selalu memenuhi isi kepala.

Ciuman yang sebelum ini bagi Seonghyeon hanya sekadar kontak fisik atas dasar dorongan kebutuhan biasa itu, kini bersama Keonho akhirrnya membuat ia jadi sadar bahwa ini bisa punya makna yang jauh lebih dari itu semua. Ini tidak hanya sekedar hangat dari sebuah cumbuan semata, melainkan hangat dari bagaimana Keonho berusaha benar-benar melepaskan segala cintannya yang tak sempat diungkap secara verbal melalui sentuhan bibir yang penuh damba.

Bersama Keonho Seonghyeon jadi mengerti kenapa ciuman banyak digambarkan sebagai momen manis yang membuat seisi perut jadi menggelitik menyenangkan.

Lantas Seonghyeon jadi semakin terhanyut manakala tangan Keonho bergerak ke sisi wajah Seonghyeon, memiringkannya sedikit, dan tangan yang satunya bergerak ke belakang kepalanya dengan lembut untuk kemudin semakin memperdalam ciuman mereka. Pun akhirnya tangan Seonghyeon melingkar di leher Keonho, sesekali jemarinya naik meremas ujung rambut Keonho selagi ia mengimbangi ciuman mereka.

Bersama Keonho Seonghyeon jadi mengerti seberapa besar dia didamba, sebab Keonho seperti sudah begitu lama tahu persis apa yang diinginkan dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya melakukannya.

Lalu waktu bagai berubah jadi sebuah konsep kabur yang buat keduanya berpikir kalau mereka bisa melakukan ini untuk selamanya. Tidak ada yang diburu-buru, tidak ada lagi yang harus dibuat menunggu. Seonghyeon hanya tahu kalau kini sudah tidak ada lagi jarak yang memisahkan di antara mereka, pun Keonho hanya tahu kalau mulai sekarang tidak ada lagi ruang keragu-raguan dalam dirinya jika itu berhubunan sengan Seonghyeonnya.

Tidak ada yang tersisa lagi selain Seonghyeon untuk Keonho, dan Keonho hanya milik Seonghyeonnya seorang.

“God.” Meski sebenarnya mereka enggan berhenti juga, tapi Keonho akhirnya jadi yang pertama memisahkan cumbu mereka. Di tengah nafasnya yang terengah, ia berkata, “Aku harap ini bukan mimpi.”

Seonghyeon tertawa kecil. “Kalau ini mimpi berarti kamu harus cepet-cepet bangun.” Kedua tangannya naik untuk merapikan rambut Keonho yang begitu berantakan. “Bangun dan ubah mimpi ini jadi kenyataan buat kita berdua.”

“Kenapa harus aku?”

“Ya, karena kamu cinta aku?”

“Iya, sih. Bener. I love you.” Keonho masih meyempatkan diri untuk mencuri kecup di bibir Seonghyeon. “You told me not to hold back. And now I gotta say to you, Seonghyeon. There’s no going back. Paham ya?”

“Paham, Keonho.” Seonghyeon sama sekali tidak keberatan. He’s even very happy with that. Tapi kemudian sorotnya sedikit berubah menjadi sedih. “Maaf ya, aku baru sadarnya sekarang. Harusnya udah dari dulu kita begini…”

Tangan Keonho kembali melingkar di pinggang ramping Seonghyeon. Lalu pelukannya dieratkan, menarik Seonghyeon lebih dekat lagi. “It’s okay. Now think about it again, even if I have to wait longer than this, I still wouldn’t mind.”

“Enggak, now you got me.” Seonghyeon menyatukan dahi mereka, lantas kedua tangannya mengangkup sisi wajah Keonho dan mengusapnya halus di sana. Sorotnya kembali teduh, hangat dan penuh cinta. “I’ll make it up to you. Kamu punya seluruh waktuku mulai dari sekarang.”

“I love you, Seonghyeon.” Keonho memejamkan matanya, menikmati tenang dari kelegaan atas cinta Seonghyeon yang terasa menyelimuti dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Maka ketika ia membuka mata dan menatap lSeonghyeon tepat di kedua matanya, tidak ada sedikit pun rasa yang tersisa selain kesungguhan kuat di balik sorotnya. “I will never stop loving you.”

Lalu hening. Seonghyeon berusaha menyusun kalimat di dalam kepalanya. Tapi, nihil. Ia sudah benar-benar kehabisan jawaban verbal untuk membalas segala yang telah diterimanya selama ini. Maka selanjutnya, giliran Seonghyeon yang menarik Keonho dalam sebuah ciuman, sebanyak yang telah Keonho beri padanya—bahkan lebih, andai saja itu mungkin untuk dilakukannya.

Ciuman yang manis, nyata, dan janji tersirat bahwa Seonghyeon tidak akan pernah pergi dari sisi Keonho tanpa seizinnya.

Selamanya, di rumah ini, hanya akan ada cinta mereka berdua.

 

Notes:

ada yang kuat baca sampe akhir gak sih? halo? kalo ada selamat ya... keren bgt. mau nangis aku... udah sempatkan buat coba dan dilanjut sampai akhir tuh... wah. trs jg ini tulisan bukan yg tipe akan dibaca dua kali dah jadiii makasih udah baca ya. beneran makasih banyak!!! i hope u always stay happy and healthy.

p.s. kalo selama baca ada kasih efek samping pusing atau bahkan sampe muntah aku minta maaf ya... jujur i GET YOU karena selama nulis jg aku pun pengen muntah... greget pengen cepet kelar dan ingin terbebas...