Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-23
Words:
2,789
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
13
Bookmarks:
1
Hits:
126

I Painted You Too Late

Summary:

Masa SMA bagi kebanyakan orang adalah masa yang menyenangkan. Dan setiap orang memiliki caranya masing-masing. Seperti Youngjae selama hidupnya menjadikan melukis sebagai caranya untuk berekspresi, hingga tiba-tiba datang Shinyu yang merubah hampir seluruh hidupnya.

Notes:

hello, this is my first time on AO3 and I know this is quite long, but i hope you guys don't get bored and like it! ^^ thankyou everyone.

Work Text:

masa SMA bagi kebanyakan orang adalah masa yang menyenangkan. di mana mereka bisa mengejar impian mereka, di mana mereka bisa bermain bersama teman-teman hingga larut malam, mencoba segala hal baru, bahkan hingga percintaan yang selalu membuat perut geli dan tersenyum sendiri saat memikirkannya. Youngjae pun termasuk salah satu orang yang merasakan bahwa masa SMA itu menyenangkan, sedikit menyenangkan. Walau ia bukan anak berprestasi dalam bidang akademik, namun karya lukisnya akan selalu terpampang di setiap pameran sekolah. Bahkan guru-guru mengakui bakat lukis yang dimiliki Youngjae. Tidak memiliki struktur yang berbentuk layaknya lukisan lain, hasil goresan kuasnya menghasilkan garis yang tidak selalu sama. Serta warnanya yang selalu bervariasi, bisa dibilang hasil karya milik Youngjae akan selalu bersifat abstrak. Namun, dalam lukisan itu ada suatu hal yang selalu membuat orang tertarik. Ada nyawa dalam lukisan yang terkadang membuat beberapa orang melihatnya dengan terenyuh, tersenyum, ataupun merasakan kesal. Dan mereka memuji lebih Youngjae akan hal itu.

Youngjae bukan anak yang terkenal di kalangan siswa sekolah. Relasi di mana-mana dan main ke sana ke sini? tidak. Separuh sekolah lebih mengenalnya dengan lukisannya yang menghiasi tembok sekolah. Lelaki itu lebih condong menyendiri, bahkan temannya bisa dihitung dengan jari, teman terdekatnya adalah kuas yang selalu ada di genggamannya. Tentu, banyak orang yang menyayangkan hal itu. Banyak dari mereka memberi usulan kepada orang tua Youngjae

"Coba suruh ikut event aja bu, siapa tau dia bisa nambah temen" bahkan ada yang mengatakan, "Atau gak coba diikutkan club di sekolah saja supaya dia bisa ngajarin anak lain"

Namun sama saja, Youngjae tetaplah... Youngjae. Ia tetap memilih menyendiri, mengajari dalam diam dengan tangannya yang lebih banyak membantu. Hari-harinya tetap sama, tidak ada yang berubah. Dan dia lebih senang dengan ketetapan seperti ini, hanya dirinya dengan kuas dan kanvas di depannya, yang menyambutnya setiap kali ia pulang sekolah. Youngjae beruntung karena sekolah memberi fasilitas untuknya menggunakan lab seni setelah pulang sebagai tempatnya berkreasi. Aman, nyaman, tentram, hanya dirinya dan suara gesekan kuas. Hanya dirinya dan dunianya. Ia menikmati setiap waktu miliknya bersama lukisan yang ia kerjakan. Hanya dengan melukis ia bisa merasakan kebebasan dalam berekspresi, ia bisa merasakan tenang. Dengan melukis ia bisa mengeksplor dirinya. 

Begitu nyaman dan fokus Youngjae dengan kanvas di depannya sampai suara kardus jatuh menghentikan kegiatan lelaki tersebut. Youngjae dengan cepat menoleh kaget, dibelakang, ada seorang laki-laki dengan seragam yang sama namun warna di samping lengannya berbeda. Lelaki itu kelabakan berusaha menjelaskan sambil berdiri. Dahi Youngjae mengernyit, matanya berusaha fokus untuk melihat warna di lengan lelaki itu dengan jelas. Kuning? oh, pasti anak kelas XII. Secara ia memiliki warna merah berarti kelas XI, dan hijau milik adek kelasnya.

Youngjae tetap diam saat melihat lelaki itu dengan buru-buru membereskan kardus kembali ke asalnya. Saat lelaki itu berbalik, mata mereka bertemu. Keduanya tertegun. Youngjae menatap lelaki di depannya dari atas sampai bawah hingga matanya bertemu dengan manik mata lelaki tersebut, dan untuk pertama kali ia merasakan sparks lain yang tidak pernah ia rasakan, hingga perutnya terasa terlilit. Lelaki tersebut beralih menatap lukisan di belakang Youngjae, mulutnya menganga, dengan kagum dan binar mata yang gemerlap, Ia memuja lukisan milik Youngjae. Dengan berani ia mengambil langkah dekat, menatap lukisan itu dengan sangat lekat. Youngjae memilih bergeser, melihat lelaki itu yang sedang fokus dengan lukisannya. Sungguh aneh, ia sudah sering melihat tatapan orang terhadap karya miliknya, semua tatapan mereka sama. Namun lelaki di depannya, memberikan tatapan yang jauh berbeda. Tatapan yang selama ini tanpa sadar Youngjae inginkan. Tatapan mengagumi tanpa adanya penghakiman. Tatapan yang Youngjae yakin bahwa lelaki itu bisa merasakan emosi yang ia sampaikan pada lukisannya.

"Itu belum selesai," celetuk Youngjae. Diam terlalu lama membuat dirinya sedikit kikuk. Lelaki itu beralih, matanya berganti menatap mata kecil Youngjae. Ia tersenyum, senyum itu, begitu tulus dan sangat memikat, Youngjae hampir salah tingkah sendiri. 

"Lukisan lo... bagus." Ia berkata jujur, dan menatap lagi lukisan tersebut.

Youngjae tidak menjawab, jujur ia bingung harus membalas apa. Ia memang tidak memiliki skills bersosialisasi karena baginya, sendiri adalah hal yang paling cocok untuknya. Dan untuk pertama kalinya ia merutuki dirinya sendiri karena tidak mau bersosialisasi dengan anak-anak lain.

"Gue Shinyu, XII IPA III." tangannya terulur, suaranya memecah lamunan Youngjae. Lelaki itu—Shinyu berganti menatap Youngjae lagi, mengharapkan sedikit ramah tamah dari Youngjae yang terlihat sangat cuek, walau aslinya ia lebih ke merasa canggung satu ruangan dengan kakak kelas.

"Youngjae kak, XI IPS II." tangannya meraih milik Shinyu, dan mengayunkannya sesuai dengan ingatan Youngjae saat melihat ibunya menerima tamu.

Dan sejak saat itu, kemunculan Shinyu tidak lagi menjadi kebetulan sesaat, namun perubahan untuk kehidupan Youngjae. Entah bagaimana lelaki itu akan muncul setiap kali ia berada di lab seni. Dan setiap kali Youngjae berusaha mengusir, lelaki itu memiliki seribu alasan untuk tetap tinggal.

"Kakak gak pulang? udah sore," tanya Youngjae yang aslinya hanya sekedar basa-basi karena ia merasa tidak nyaman jika ada orang lain saat ia melukis.

Shinyu yang duduk di belakang hanya mengangkat bahu. Tetap menonton Youngjae dengan alat lukisnya. "Belum, pak sapto bilang tadi mau ketemu di sini." 

Youngjae tau itu hanya bualan belaka,  namun ia tidak berani berkata lebih. Dan semesta dengan sengaja membuat Youngjae akhirnya merasa nyaman dengan kehadiran Shinyu di lab, ia menganggap Shinyu sebagai teman yang menemaninya, walau ada sedikit angannya ingin lebih. 

Dan entah bagaimana, lelaki itu akan muncul saat Youngjae berada di gerbang sekolah menunggu jemputan. Dan dengan seribu alasan yang Shinyu berikan, ia berhasil mengantar Youngjae pulang ke rumah menggunakan motor butut miliknya. Entah bagaimana lelaki itu muncul di depan kelas Youngjae dengan sandwich dan buah strawberry kesukaan Youngjae, Shinyu tetaplah Shinyu, ia membuat berbagai alasan agar bisa makan bersama.

"Ih sana kamu makan sama yang lain aja, jangan sama aku kak," ujar Youngjae. 

Youngjae bukan tipikal orang yang akan keluar untuk istirahat dan makan di kantin. Ia lebih memilih untuk bekal dan makan di kelas. Youngjae tau, Shinyu bukanlah tipe orang seperti dirinya. Namun Shinyu, ia tetap menarik kursi di sebelah Youngjae dan menaruh strawberry kesukaan Youngjae. 

"Makan, gak usah banyak omong nanti makin kurus lo." Ucap Shinyu sambil memakan sandwich miliknya. 

Youngjae berdecak, ia melihat strawberry dan sandwich di depannya. "Tau dari mana aku suka strawberry?" 

"Ganci lo." 

"Hah?" 

Shinyu beralih menatap tas Youngjae dan menunjuk pada gantungan kunci strawberry yang tergantung. Youngjae yang melihat itu tersadar, ia mengangguk paham dan membuka bungkus sandwich sebelum memakannya.  Sejak saat itu, mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama. Entah bagaimana Shinyu bisa mengajak Youngjae ke kantin dan makan bersamanya. Dan entah mengapa, bagi Youngjae, asal ada Shinyu maka semua baik-baik saja. 

Dan entah bagaimana, untuk pertama kalinya Shinyu membuat Youngjae merasakan kehidupan remaja SMA pada umumnya, merasakan bebas, dan dengan mudah mengeluarkan senyum dan celoteh lucu kepada Shinyu. Dan untuk pertama kalinya, hatinya terisi penuh dengan adanya kehadiran Shinyu. Bagaimana tidak? hampir separuh harinya diisi oleh lelaki tersebut. Makan siang bersama, menemaninya melukis, sampai mengantar dirinya pulang. Bahkan jika akhir pekan mereka berdua keluar bersama untuk sekedar melihat danau atau taman. Mencari ide, kalau kata Youngjae.

"Lo emang pingin jadi pelukis ya?" tanya Shinyu pada suatu saat mereka duduk di pinggir danau.

Mereka baru saja memberi makan burung pada ujung jalan, dan memilih untuk duduk di pinggir danau dengan ice cream yang mereka beli pada bapak-bapak dengan gerobak ice cream, sambil menikmati senjanya langit. 

"Sejujurnya... kalau di tanya mimpi, aku pingin jadi pengacara," balas Youngjae tidak terduga, Shinyu menatapnya tidak percaya. 

"Pengacara? itu jauh banget sama apa yang lo lakuin sekarang."

Youngjae terkekeh mendengar ucapan Shinyu. Ia paham orang lain juga akan terkejut jika tau mimpi yang sebenarnya ingin Youngjae kejar. matanya menatap langit yang mulai jingga. Ice cream pada tangannya tinggal separuh.

"Terus kenapa lo ngelukis?" tanya Shinyu penasaran, matanya menatap Youngjae yang sibuk dengan ice creamnya. 

"Aku mungkin bisa jadi pengacara, kalau ekonomi bukan masalah," balas Youngjae.

Ia beralih, kali ini matanya membalas netra Shinyu. Ia hanya tersenyum di saat Shinyu terdiam mendengar jawabannya.

"Tapi aku bersyukur dengan keadaan aku sekarang. Ngelukis juga salah satu hobi yang aku suka, dan aku tetap enjoy ngejalaninnya." 

"Gak nyesel?" 

Youngjae terdiam, kalimat itu, ia tidak tau harus bereaksi bagaimana. Nyesel? mungkin, pengacara adalah satu-satunya mimpi yang membuat ia ingin tetap hidup. Tapi apa yang ia dapatkan saat ini sudah lebih dari cukup. Shinyu yang paham bahwa Youngjae tidak ingin menjawab hanya tersenyum. 

"Kalau kamu, kak? kamu pingin jadi apa?" tidak ingin canggung, Youngjae berusaha mengganti topik mereka.

Tidak ada balasan cepat dari Shinyu. Namun, ia bisa mendengar helaan nafasnya. Tatapan mereka kini terputus, Shinyu lebih memilih menatap air tenang di danau depan mereka. Kali ini, bahasa tubuhnya berubah menjadi sedikit lebih tegang.

"Gue pingin jadi dokter," balas Shinyu pelan.

Youngjae mengangguk seakan mengerti, ia tersenyum. Tidak salah, banyak anak yang mengambil jurusan IPA agar mereka bisa menjadi dokter ataupun dalam jurusan kesehatan.

"Aku yakin kamu bisa jadi dokter." Youngjae mengatakannya dengan berseri, matanya bertemu lagi dengan langit di atasnya. Diam-diam berdoa agar mimpi lelaki di sebelahnya bisa terwujud.

Shinyu terdiam, tidak ada reaksi yang ia berikan. Entah, pikirannya berkelana ke segala hal yang bisa terjadi dan yang tidak akan terjadi. Namun, melihat Youngjae tersenyum di sebelahnya, ia rasa semuanya akan baik-baik saja.

Setidaknya masih ada lo di samping gue, Jae.

Youngjae telah menjadi tempat dimana ia bisa dengan bebas berekspresi, menjadi dirinya sendiri. Layaknya Youngjae dengan bebas mengekspresikan dirinya dengan lukisan, ia ingin melakukan itu dengan Youngjae yang berada di sampingnya. Di sampingnya saat mereka sesekali berjalan kaki menuju rumah. Di sampingnya saat mereka makan sandwich bersama.

Dan di sampingnya seperti saat ia melihat Youngjae melukis di lab seni. Di sini, moment yang paling Shinyu sukai. Hanya ada kesunyian, hanya ada Youngjae dengan lukisannya dan Shinyu dengan agenda membantu walau sebenarnya lebih merecoki Youngjae. Kesunyian itu hanya bertahan sebentar, Tawa mereka lebih cepat memenuhi isi lab, cat pada kuas yang seharusnya tergores di kanvas berganti tergores pada lengan Shinyu.

Dan Shinyu tak mau kalah, tangannya mengambil cat dengan jari telunjuknya dan mengejar Youngjae yang sudah kabur duluan. Ia menarik lengan Youngjae, keduanya hanya bisa tertawa, nakalnya Shinyu ia menaruh cat hijau di hidung Youngjae membuat wajah lelaki itu tampak konyol.

"Ih kak, susah tau ngapusnya!" Youngjae berbalik menatap Shinyu dan berusaha menghapus cat pada hidungnya.

"Eh lihat tangan gue lebih banyak ya." Shinyu menunjuk lengannya.

Lagi dan lagi mereka hanya tertawa, dan tidak ada yang menghentikan mereka. Tidak ada yang bisa, mungkin. Tangan Shinyu terulur untuk mengacak rambut Youngjae, mengacaknya karena ia tau Youngjae akan semakin kesal. Ia gesit berbalik saat Youngjae mengejarnya. Berlari hingga ia berhenti di sudut lab seni dan tanpa sengaja menjatuhkan kanvas kecil.

"Eh?"

Shinyu mengambil kanvas kecil tersebut dan tersenyum. Saat Youngjae berhasil menyusulnya ia menyerahkan kanvas itu pada Youngjae, membuat lelaki itu bingung.

"Lo gak mau ngelukis gue?" ucapan Shinyu membuat Youngjae sedikit terkejut.

"Ngelukis kamu?"

"Iya, boleh lukis gue gak?"

Youngjae ragu, selama ia melukis ia sangat mahir dengan abstrak, garis-garisnya selalu membentuk gambar yang menyatu. Namun menggambar wajah manusia? ia tidak yakin. Ia selalu gagal dalam hal tersebut, berkali-kali ia berlatih dan mencoba melukis wajah seseorang, tetapi semuanya berakhir tidak selesai.

Shinyu dapat merasakan keraguan Youngjae. Ia menarik tangan Youngjae memaksanya menerima kanvas tersebut.

"Ngelukis itu semua sama. Gue yakin lo aslinya bisa, cuma gak nemu orang yang pas aja buat lo lukis," ucap Shinyu berusaha meyakinkan Youngjae.

"Tapi..."

Shinyu terkekeh, ia mengelus rambut Youngjae lembut layaknya kucing, merapikannya sebelum netra keduanya bertemu. 

"Gue gak maksa lo buat ngelukis sekarang, gue cuma ngomong supaya lo tau aja... masih banyak hal yang bisa lo eksplor, lo coba. Kalau gagal, coba lagi, kalau gagal, coba lagi dan perbaiki." badannya beralih berjalan menuju kanvas lukis milik Youngjae yang hampir selesai, Shinyu duduk di sebelah kursi Youngjae. 

"Yuk lanjut, tinggal dikit." 

Entah mengapa hati Youngjae bergetar mendengar kalimat Shinyu. Tidak semua orang dapat memahami perasaannya layaknya Shinyu memahami dirinya. Berkali-kali ia gagal, dan yang ia dapat hanyalah tuntutan dan cemoohan sehingga Youngjae tidak berani melukis selain abstrak. Namun mendengar kalimat Shinyu, hatinya tergerak untuk mencoba sesuatu yang baru. 

Kakinya tergerak mengambil langkah menuju kanvas yang cukup besar itu, tangannya terangkat mengambil kuas dengan cat warna hitam. Dengan latar warna yang sudah menyatu, ia sentuh kanvas dengan kuas di jemarinya, menggores kesana kemari dengan pola. Wajahnya serius, lebih serius dari yang pernah Shinyu lihat. 

Dan dengan begitu, Shinyu berhasil menjadi orang yang membantu Youngjae menyelesaikan karyanya dengan objek kucing di tengah lukisan. Begitu apik, bentuk wajahnya jelas, tentu ada sentuhan khas milik Youngjae. 

Shinyu dengan bangga menatap Youngjae. Ia berdiri dan memandang lukisan didepannya dengan kagum. Puas? sangat. Shinyu tau Youngjae bisa lebih dari apa yang selama ini Youngjae lakukan, dan Youngjae membuktikan hal itu.

"Bagus." 

Youngjae yang mendengar pujian itu tersenyum malu. Matanya menatap lukisan di depannya, ia sendiri aslinya tidak menyangka akan berhasil menggambar wajah kucing, dan ia merasa cukup puas. 

Di rasa bahunya berat akan tangan Shinyu, Youngjae menoleh. Ia bisa melihat jelas ekspresi bangga dari Shinyu, Youngjae bahagia. Ia senang, melihat Shinyu begitu bangga pada dirinya, pada hasil karyanya, ia tidak bisa menahan untuk tidak memeluk Shinyu. 

Shinyu yang mendapat kejutan hanya terkekeh, tanpa sadar membalas pelukan Youngjae. 

"Gue bakal jadi orang pertama yang akan selalu bangga sama lo, Jae. Orang yang bakal selalu dukung lo di mana pun, dan kapan pun." ucap Shinyu sambil mengelus surai rambut Youngjae. 

Mata mereka bertemu, dan hanya ada keheningan di sana. Tidak ada suara, namun biarkan mata mereka yang berbicara. 

"Jangan pernah berhenti melukis ya." 


"Jangan pernah berhenti melukis ya."

Dan itu adalah kalimat terakhir yang Youngjae dengar. 

Sudah hampir seminggu Youngjae tidak bertemu dengan Shinyu. Tidak ada kabar dari lelaki tersebut. Kabar terakhir yang ia terima dari Shinyu adalah pesan di mana ia sedang sibuk dengan persiapan ujian akhir. Tentu, Youngjae percaya akan hal itu. 

Youngjae pernah mendengar bahwa kelas XII adalah angkatan yang paling sibuk jika mendekati akhir semester. Ia hanya berpikir, bahwa Shinyu harus serius dalam persiapannya agar berhasil menjadi dokter nanti. Ia hanya berpikir bahwa dengan ia tidak mengganggu Shinyu, maka ia bisa mendukung Shinyu dalam persiapannya. 

Namun semua salah. 

Karena di tempat inilah ia berakhir, pemakaman. 

Saat menerima telfon dari teman satu klubnya, Youngjae dengan cepat menuju kemari. Ia pikir temannya bohong, ia pikir ini semua hanya lelucon yang di buat oleh Shinyu.

Tuhan tidak mungkin sejahat itu, kan? 

Namun di sini ia berada. Makam yang masih terlihat baru, tanah yang masih basah, bunga yang masih merekah merah. Dan nama Shin Junghwan tertulis pada nisan. 

Youngjae berdiri di samping makam dengan badan yang bergetar, air matanya dengan lancang keluar tanpa izin. Namun, saat ia terduduk di samping nisan, tangisnya pecah tak tertahankan. 

Kenapa hanya ia yang tak tau bahwa Shinyu mengidap penyakit jantung? Kenapa hanya ia yang tak tau apa yang di alami Shinyu selama ini? Kenapa Shinyu tidak pernah cerita kepadanya? Kenapa? Dan kenapa engkau, Tuhan, mengambil Shinyu dari kehidupannya. 

Tangisannya meraung kencang. Ia tidak pernah menyangka akan kehilangan Shinyu secepat ini. 

"Kenapa kak.. kenapa kamu ninggalin aku?! Kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa kamu selalu khawatirin aku padahal harusnya kamu yang perlu dikhawatirin. Kenapa kamu tega senyum dan bikin cerita tentang masa tua kita kalau kamu tau umur kamu gak lama..." bibirnya bergetar, air matanya jatuh berkali-kali membasahi bajunya sendiri. 

"Kak... kita belum ke aquarium, katanya kamu mau ngajak aku setelah ujian. Kita belum night ride pake motor kamu yang butut itu. Kita belum main ke pantai pas malem hari. Aku belum ngelukis wajah kamu. Kita belum... aku belum..." tangisnya terisak.

Banyak hal yang belum mereka lakukan, atau yang belum Youngjae lakukan.

"Aku belum nyatain perasaan aku kak..."

Youngjae mengigit bibirnya dalam, berusaha menahan sakit dalam dirinya. Tatapannya kabur, air matanya tidak berhenti jatuh.

"Aku belum sempat bilang aku sayang kamu, aku cinta kamu, aku... aku sayang banget sama kamu, kak." tangisannya semakin pecah. ia genggam erat nisan yang berada di depannya.

"Kalau aku tau itu terakhir kali kita ketemu, aku bakal ngelukis kamu dengan indah kak. Lukisan paling indah yang akan kamu lihat."

Hatinya semakin sakit. semuanya menjadi andai dalam pikirannya. Andai ia berani menyatakan perasaannya, andai ia menanyakan alasan Shinyu ingin menjadi dokter, andai dan andai.

Tangannya perlahan menghapus air mata yang membasahi pipi. Ia menatap makam Shinyu yang indah dengan bunga-bunga yang cantik. Perlahan Youngjae mengeluarkan kanvas kecil, sebuah bunga. Hasil lukisannya saat ia diam-diam melukis untuk Shinyu, niatnya ingin ia berikan saat selesai ujian. Namun lukisan itu akan menjadi bukti bahwa ia sangat menyayangi Shinyu. Ia taruh kanvas tersebut di sebelah nisan. 

"Makasih udah memeluk raga kecilku kak. Aku banyak belajar dari kamu kak, banyak banget. Aku bersyukur, sangat bersyukur bisa kenal kakak," bisik Youngjae, walau matanya sembab tetapi ia berusaha untuk tersenyum. 

Aku bersyukur, kakak yang menjadi cinta pertamaku.

Kalau kamu tidak bisa abadi di dunia ini, maka biarlah kamu abadi di dalam karyaku. 

Dan Youngjae menepati janjinya. 

Untuk pertama kali dalam hidupnya. Satu-satunya lukisan wajah miliknya yang selesai adalah wajah Shinyu. Dan itu adalah lukisan Youngjae paling indah yang pernah Youngjae buat. Hanya untuk Shinyu seorang.