Actions

Work Header

Is This Love?

Summary:

For Fourth, love is too difficult to define. For Gemini, love is Fourth.

Chapter 1: You Have Shielded Me Without a Word and Now I Will Reflect You Like a Mirror

Notes:

Song for this chapter : SHINee - Honesty

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Mereka baru berusia tujuh tahun saat pertama kali bertemu : Fourth yang ceria dan bermata cerah, serta Gemini, anak orang asing dari kerabat tetangganya.

Saat itu udara sangat panas ketika Gemini pindah ke suatu rumah di ujung jalan, tepat di tempat Fourth bisa melihat dari teras rumahnya. Mereka seumuran dan Fourth langsung tertarik padanya. Mungkin karena ia baru, asing, atau mungkin karena ia pemalu dan butuh bimbingan. Mungkin karena ia tinggal cukup dekat di ujung jalan sehingga Fourth bisa datang mengganggunya kapan saja ia mau. Mungkin lagi, karena Fourth tak punya teman yang bisa ia beri segala hal yang lebih dari sekadar senyum terlatih, dan mungkin ia hanya ingin punya teman—hanya satu teman—untuk dirinya sendiri.

Mungkin karena semua alasan di atas.

Hari itu, Fourth membuat keputusan penting untuk mengetuk pintu rumah Bibi Mook tempat Gemini tinggal, didorong oleh keinginannya sendiri dan dorongan antusias dari orang tuanya. Tetangganya itu adalah wanita yang baik (Fourth ingat Bibi Mook sering membagi masakannya ke rumah, Fourth suka sekali dengan ayam panggangnya), dan Fourth berusaha mengingat hal ini ketika ia menolak beberapa desakan Bibi Mook bahwa Gemini tidak terlalu suka bermain ke luar rumah.

Kalau dari perhitungan bulan, hari itu seharusnya sudah masuk musim hujan tapi sepertinya musim panas masih berlangsung. Cahaya matahari masih terik, udaranya cenderung menyengat dan Fourth masih butuh kipas angin menemaninya menonton TV, yang artinya mungkin ia bisa memancing si anak asing untuk pergi keluar dengan janji es krim. Atau action figure. Atau bermain sepeda. Atau... yah, pasti akan ada sesuatu—Fourth bisa bersumpah demi boneka beruang kesayangannya yang kedua (bukan yang pertama karena ia tidak mau bersumpah demi sesuatu yang berharga seperti nyawanya)—bahwa ia akan mengetahui alasan apa itu sebelum musim panas berakhir.

Gemini malu-malu ketika Bibi Mook membawanya ke teras depan. Ekspresinya terlalu kaku dibandingkan dengan senyuman ribuan watt yang selalu ada di wajah Fourth. Mereka digiring ke halaman depan rumah Bibi Mook agar tidak menghalangi pintu masuk, dan sungguh, Fourth tidak tahu untuk apa semua keributannya dengan Bibi Mook tadi—karena memang Gemini malu-malu dan agak pendiam pada awalnya, tetapi dia sama sekali tidak tampak seperti harus dibujuk terlalu banyak. Fourth bertanya dan Gemini menjawab dengan bahasa Thailand yang tidak buruk. Nampaknya anak laki-laki asing itu sedikit kewalahan oleh antusiasme Fourth, tetapi sama sekali tidak mengabaikan apa saja yang ditanyakan.

“Jadi, kamu dari mana?”

“Amerika.”

“Tapi di Amerika yang mana?” Seolah-olah ia hafal semua nama negara bagian yang membuat kepalanya pusing sejak membuka atlas.

“Los Angeles.”

“Lalu kenapa kamu datang ke sini?”

“Ibu dan Ayahku terlalu sibuk.”

“Ibu dan Ayahku juga sibuk.”

“Ibu dan Ayahku lebih sibuk.”

Fourth menghela nafas, mengalah, terdengar terlalu dewasa untuk usianya.

“Bibi Mook bilang kamu tidak suka bermain di luar.”

“Iya, tapi tidak juga.”

Fourth tidak mengerti apa maksudnya, tapi ia mengangguk-anggukkan kepala. “Kenapa tidak?”

“Aku tidak suka saja.”

“Kalau es krim? Kamu suka?”

Gemini mengerjap sebentar, mengagumi seberapa mahir anak ini membanting topik. “Kurasa begitu.”

“Aku akan tanya Ibu, apa kita bisa beli es krim bersama di akhir pekan kalau gerobaknya datang.”

“Oh. Oke.”

Senyum Fourth terkembang lebar, lebih lebar dari sebelumnya yang sudah di atas kemampuan Gemini. Ia senang karena ia tidak perlu mencoba semua alasan untuk memancing Gemini bermain keluar dan sudah berhasil di opsi pertama.


Fourth senang mengobrol dengan Gemini. Dia menjawab semua pertanyaannya dan tidak menatapnya seperti orang gila. Sejujurnya, Gemini menatap hampir semua hal dengan tatapan heran; tatapan yang sama seperti yang diberikan ibu Fourth saat membacakan dongeng untuk Fourth sebelum tidur. Suasananya tenang dan santai, dan semuanya tampak membuat Gemini bahagia.

Fourth memetik sekuntum bunga putih kecil dari kebun tetangga sebelahnya dan memberikannya kepada Gemini secara diam-diam sebelum ia harus pulang ke rumah. Fourth berseri-seri bangga meskipun itu tindakan yang nakal, karena setidaknya ia punya oleh-oleh untuk diberikan kepada teman barunya. Fourth, tentu saja, menyerah pada rasa bersalah dan memberi tahu ibunya apa yang telah diperbuatnya. Namun, ibunya justru memberinya imbalan atas kejujurannya, alih-alih memarahinya. Tahu-tahu, Fourth punya uang receh untuk membeli dua es krim corong kalau nanti gerobak es krim datang—asalkan ia meminta maaf kepada Bu Tun si pemilik bunga di sebelah rumah.

Keesokan harinya, ketika Fourth keluar di pagi hari, Gemini sudah menunggunya di luar, di tangga depan rumahnya. Mereka berjalan menyusuri jalanan, terkadang berlari, semakin lama semakin cepat. Fourth mengatakan bahwa mereka bisa membeli es krim kapan pun mereka mau, seperti yang ia katakan, dan kali ini senyum Gemini terpancar dari matanya. Mereka terus mengobrol dengan seru, sesekali berhenti untuk duduk di sisi jalan, menunggu gerobak es krim datang.

Beberapa hari berlalu dan gerobak es krim tidak datang sama sekali, membuat Fourth kesal setengah mati. Setiap pagi Fourth akan memindahkan uang receh dari saku celananya yang kemarin ke celana yang baru disiapkan Ibu, dan ia berharap mereka akan sudah bisa digunakan hari ini. Fourth benar-benar kesal sampai ia hampir menangis tetapi Gemini tampaknya tidak keberatan.

Mereka masih berjalan dan mengobrol, dan akhirnya menghabiskan waktu seharian bersama, mengelus kucing-kucing liar atau bermain kata bersama di bawah terik matahari. Terkadang Fourth meminta Gemini untuk mengajarinya beberapa kata bahasa Inggris, tetapi pengucapannya sulit dan ia akan salah, dan mereka pun tertawa bersama tanpa ada ketersinggungan. Pada suatu saat, Fourth bahkan tidak ingat bahwa anak laki-laki yang tertawa dengan suara aneh itu adalah anak yang sama dengan anak yang bersembunyi di balik kaki Bibi Mook. Anak yang pemalu, asing, dan baru. Karena Gemini yang sekarang adalah anak yang sangat cerewet dengan lelucon payah dan suara tawanya yang aneh.

Ketika gerobak es krim akhirnya datang, mereka berdua sedang berada di dalam rumah Fourth untuk minum air es dan nyaris tak mendengar suara lonceng dari gerobak. Adik Fourth, Front, memberi tahu sesaat setelah gerobak melewati rumah mereka, sengaja untuk mengganggu kakaknya. Fourth dan Gemini lantas berpandangan dan berebut memakai sandal, sudah bergegas keluar rumah. Mereka harus mengejar penjual itu di tengah cuaca kering, mereka berteriak-teriak meminta penjual itu berhenti, dan panasnya musim panas sama sekali tidak membantu, tetapi mereka tahu itu akan sepadan.

Ketika mereka akhirnya menyusul gerobak itu, terengah-engah dan tertawa, membuat si penjual tua meniru senyum mereka, Fourth mengajukan pertanyaan.

“Apa yang kau inginkan, Gemi?”

Gemini tidak ragu untuk menyahut, penuh rasa percaya. “Pilihkan untukku.”

Tak lama kemudian mereka makan es krim di pinggir jalan. Mereka berkeringat dan baunya seperti matahari, tapi itu tak jadi masalah. Fourth memilih rasa es krim yang aneh untuk mereka berdua ; rasanya seperti soda, dengan taburan stroberi dan potongan permen yang membuat kembang api di mulut. Dan lagi-lagi, Gemini memandangnya dengan cara yang sama seperti ia memandang hal-hal di sekitarnya.

Fourth mulanya berniat untuk membelikannya rasa yang berbeda agar mereka berdua bisa saling mencoba dua rasa sekaligus, tapi rasanya kurang adil. Ia pikir mereka punya cukup waktu untuk mencoba semua rasa. Rasa es krim yang berbeda untuk setiap hari bersama Gemini terdengar menyenangkan. Fourth tersenyum melihat es krimnya karena rasanya manis dan meletup-letup, lalu menoleh ke arah Gemini yang berekspresi terkejut. Gemini segera menoleh ke arah Fourth yang menertawakannya.

“Apa?” tanya Fourth.

“Tidak ada,” jawab Gemini. Singkat. Namun, Fourth tahu maksudnya.

Fourth membiarkan Gemini menghabiskan es krimnya dengan khidmat. Membiarkan es krimnya sendiri meleleh sampai ke tangan dan buru-buru menjilatinya sambil terkekeh.

Es krim milik Gemini hilang lebih dulu. Sedikit mengejutkan Fourth karena siapa anak kecil yang bisa menghabiskan es krim secepat itu? Fourth bahkan belum sempat menggigit cone-nya yang renyah.

Gemini cemberut di tempatnya saat ia sadar kalau es krimnya sudah habis. Lalu menoleh pada Fourth yang masih kewalahan dengan rasa dingin di mulutnya.

“Kau selalu makan secepat ini?” Fourth bertanya, terdengar terlalu tua untuk usianya.

Gemini mengangkat bahunya yang kecil, tanda ia tak tahu. Namun matanya masih menampakkan kesedihan, terlebih ketika ia melirik es krim milik Fourth yang masih tersisa.

Fourth sempat menimbang apakah ia harus menawarkan es krimnya pada Gemini, tapi ia memutuskan untuk tidak melakukannya karena es krim Gemini habis akibat ulahnya sendiri, dan mereka sudah punya jatah yang sama. Fourth sudah diajarkan berbagi dengan Front oleh Ibu, termasuk jika dalam kasus seperti ini; kata Ibu, adil itu bukan berarti Fourth harus memangkas jatahnya sendiri.

“Lihat matahari terbenam saja. Warnanya seperti es krim.” Fourth menunjuk ke atas, merujuk pada langit yang mirip dengan toping es krim mereka hari ini.

Gemini hanya menatap langit sesaat sebelum berpaling, matanya langsung tertunduk. “Aku tidak suka matahari terbenam.”

“Tapi kenapa?”

“Itu salah,” katanya, alisnya berkerut. “Ibuku bilang langit itu biru.”

“Langit juga boleh berwarna seperti es krim.” Fourth meraih tangan Gemini dengan tangannya yang lengket ketika anak laki-laki yang lain hanya cemberut lagi. “Ayo, kita lihat matahari terbenam. Kamu bisa bilang ke Ibumu dan Bibi Mook kalau kita makan es krim yang warnanya seperti langit.”

Gemini mendongak dengan enggan, menikmati warna jingga, merah muda, dan semburat putih yang masih mengintip di antara pemandangan yang tak alami. Mungkin memang agak indah. Mungkin langit tak selalu harus biru. Mereka tetap di sana hingga gelap, dan Fourth tak melepaskan tangan Gemini hingga mereka berpisah untuk pulang.

Mereka menghabiskan hari-hari seperti itu hingga musim panas berakhir, lalu mereka berangkat ke kelas satu bersama dengan mata berbinar-binar.


Fourth ingat selama liburan ia sering membagi gula-gula dan cokelat warna-warni kepada Gemini. Awalnya anak asing itu tidak berani memakannya, menyebutkan nasihat Ibunya tentang gula berlebihan dan sakit gigi, tapi Fourth tetap menyuruhnya mencoba dan menyebutkan soal sikat gigi seperti yang diingatkan Ibunya sendiri. Dan hasilnya adalah Gemini jadi menyukai makanan-makanan manis itu. Fourth bahkan berhasil memergoki anak laki-laki itu sedang makan cokelat berlapis permen di kelas, lapisan gula di luarnya menodai bibirnya dengan warna-warna yang bercampur aduk.

“Kita tidak boleh makan kalau bukan jam istirahat, tahu,” bisik Fourth, berusaha agar guru di depan tidak menyadarinya.

“Oh,” mata Gemini melebar dan ia menelan ludah dengan malu-malu. “Aku tidak tahu.”

Fourth hanya berusaha menyembunyikan tawanya melihat Gemini yang tampak seperti rusa kena sorot lampu mobil. Ia pikir lebih baik ia ketahuan olehnya, bukan oleh gurunya. Dan agak lucu juga bagaimana Gemini mengotori bibirnya dengan warna yang sama yang dulu sangat ia takuti. Fourth lantas menyodorkan air minumnya kepada Gemini, membiarkan anak itu membersihkan barang bukti secepatnya.

Rasanya cukup lucu ketika mengingat Gemini selalu berakhir menyukai apapun yang tadinya tidak ia sukai, tapi Fourth suka.


Mereka berumur delapan tahun dan berada di kelas dua yang berbeda ketika Fourth melenggang masuk ke kelas Gemini dan mendorong sebuah meja entah punya siapa hingga menyatu dengan milik Gemini. Dia melakukannya setiap jam makan siang dan Gemini sangat menikmatinya hingga tak bisa menghentikannya. Dia tersenyum seperti biasa, dan Fourth langsung mengutarakan apa pun yang ada di pikirannya seperti biasa.

Seperti biasa.

“Gemi, maukah kau menjadi sahabatku?”

Gemini tidak begitu mengerti apa maksudnya. Dia mendengar teman-teman sekelasnya mengatakannya dan menurutnya itu bagus. Fourth tersenyum penuh harap padanya, jadi dia hanya mengangguk. Sejujurnya, jika Fourth memintanya untuk menjadi apa pun, Gemini tahu dia mungkin akan tetap mengiyakan.

“Tentu.” Sahut Gemini di sela-sela mengunyah nugget brontosaurus.

“Keren!” kata Fourth, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kesungguhannya. “Ayo makan siang, Sahabatku.”

Gemini tersenyum, menyukai bagaimana panggilan barunya keluar begitu saja dari mulut Fourth di hadapannya. Dan begitu saja, mereka pun makan siang.

Malamnya, Fourth menariknya untuk menginap di rumahnya. Bibi Mook mengizinkan setelah membuat mereka berjanji untuk tidur tepat waktu dan tidak begadang karena besok masih harus pergi ke sekolah. Ibu Fourth juga heran pada awalnya, tapi menyerah untuk menentang saat mendengar alasan Fourth mengajak Gemini menginap adalah karena Gemini sekarang resmi menjadi sahabatnya.

Ibu Fourth mengajak Gemini makan malam bersama di meja makan yang jumlah kursinya pas karena Ayah Fourth sedang tidak ada di rumah. Ibu Fourth memasak dengan sangat baik, terutama masakan Thailand yang punya cita rasa agak terlalu pedas di lidah Gemini. Tapi itu tidak masalah, karena Ibu Fourth menghidangkan udang dan mi yang menjadi favorit Gemini dan ia hanya perlu meminta Ibu Fourth untuk mengisi ulang gelasnya kalau lidahnya mulai menyerah.

Fourth mengoceh kapanpun dan dimanapun, termasuk saat makan malam. Ia bercerita tentang teman mereka yang jatuh dari kursi karena terlalu mengantuk di pelajaran kedua, lalu berpindah pada penjual ketan mangga yang selalu ada di ujung jalan dekat sekolah. Front juga ikut andil dalam perbincangan dan Gemini baru tahu kalau Front ternyata tidak lebih pendiam darinya. Gemini masih menggigit ekor udang saat Ibu Fourth menawarkan hidangan sayur yang membuatnya otomatis mengernyit.

“Cobalah sayurnya juga, Gemini. Itu baik untuk tubuhmu.”

“Gemi tidak suka sayur.” Fourth yang lebih dulu menyahut, menjadi juru bicara tanpa diminta. Ia lalu berpaling pada Gemini yang menunduk di atas piringnya. “Mungkin lain kali kau akan suka sayur juga seperti sekarang kau suka gula-gula dan permen warna-warni.”

Gemini tidak terlalu suka ide itu. Ia sudah pernah mencoba makan sayuran seperti Fourth tapi ia masih belum bisa menyukainya. Dan tidak mau menyukainya. Namun, Gemini tetap mengangguk pada Fourth yang menunggu. Lalu membiarkan Fourth mengambil alih semua sayuran yang tersisa, karena dia memang menyukainya. Dan Gemini senang karena Fourth tidak pernah memaksanya untuk melakukan apapun. Kalaupun Gemini akhirnya menyerah, itu adalah karena Gemini mau menyerah, bukan karena paksaan dari Fourth sama sekali.


Gemini baru saja berulang tahun kesembilan saat ia mendapati dirinya kecewa setengah mati. Ibunya sudah berjanji untuk menyusulnya ke Thailand dan membawakan banyak sekali lego kesukaannya, tapi pagi itu Ibunya menelepon Bibi Mook dan membawa kabar yang sebaliknya.

“Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan,” begitu katanya, dan Gemini semakin kesal karena dialah anak Ibunya tapi dia bisa ditinggalkan.

Gemini menangis seharian di kamarnya dan Bibi Mook menyerah untuk mengetuk pintu kamarnya setelah percobaan kelima. Gemini rindu Ibu dan Ayah, dan ia sebenarnya tidak mengerti kenapa ia harus tinggal bersama Bibi Mook bukannya bersama orang tuanya seperti anak-anak yang lain. Gemini sudah diberitahu kalau kedua orang tuanya terlalu sibuk, tapi orang tua Fourth juga sibuk dan mereka masih ada bersama Fourth di Thailand, bukan di Amerika. Gemini diberitahu kalau ia harusnya mengerti, tapi ia tetap tidak mengerti.

Ketukan di pintu kamarnya kembali terdengar dan Gemini yakin itu bukan Bibi Mook—karena Bibi Mook tidak mungkin mengetuk sebanyak dua belas kali tanpa berhenti. Gemini mengangkat kepalanya dari atas bantal, mengusak matanya yang bengkak seperti ikan koki dan ia terduduk di kasur dengan isakan yang masih cukup keras.

“Gemini!” Seseorang memanggilnya dengan ceria dan itu mengonfirmasi dugaan Gemini tentang itu bukan Bibi Mook menjadi valid.

Suara ceria dan penuh semangat itu tentu saja milik Fourth. Dan Gemini panik karena Fourth adalah orang terakhir dalam daftar yang ingin ia temui dalam keadaan buruk seperti ini.

“Paman es krim akan lewat sebentar lagi! Aku mau kita coba yang rasa teh hijau!” Suara penuh antusiasme Fourth kembali terdengar dan Gemini sudah bisa membayangkan bagaimana wajah Fourth saat ini.

“Aku tidak mau teh hijau.” Gemini menyahut dengan suaranya yang serak. Tenggorokannya sakit karena terlalu banyak menangis.

“Kenapa?”

Bibir Gemini mengerucut alami, membayangkan. “Rasanya seperti sayuran.”

“Sayur itu enak. Kau akan bisa memakannya karena ini es krim bukan sayur.” Fourth membalas lagi dari balik pintu. Gemini bisa mendengar suaranya lebih keras dari sebelumnya, seperti anak itu bicara tepat di celah pintu dan kusen, membuat suaranya menyeruak ke dalam kamar.

“Aku tidak mau es krim.” Gemini masih ingin menangis.

“Lalu kau mau apa?”

“Ibu.”

Ada jeda sebentar dan suara gemerisik yang mencurigakan dari balik pintu. Bayangan dari bawah pintu menunjukkan kalau Fourth sedang mondar-mandir dengan ribut. Lalu suaranya kembali terdengar dari celah pintu. “Ibumu akan datang kalau kau mau makan sayur,” Fourth menjeda, “dan es krim teh hijau,” lalu kembali menambahkan, “dan keluar dari kamar.”

Gemini diam, baru menyadari kalau ia sudah berhenti menangis. Ia mengusap wajahnya asal dengan telapak tangan lalu berjalan malas ke arah pintu.

“Hei, sudah lama tidak bertemu!” Fourth tersenyum lebar sekali saat Gemini membuka pintu.

“Kita baru berpisah kemarin sore.”

“Tapi kemarin wajahmu tidak sejelek ini.” Fourth menunjuk wajah Gemini lalu merangkul pundaknya dengan seenaknya. “Cuci mukamu dan ayo kita beli es krim!”

Gemini tidak tahu kenapa ia menuruti ucapan Fourth sampai akhirnya keduanya duduk di sisi trotoar dengan masing-masing satu corong es krim hijau di tangan.

“Rasanya seperti sayur.” Gemini mendengus seusai menjilat es krimnya. Rasanya sesuai dengan apa yang ada di bayangannya.

Fourth menoleh dengan lagaknya yang dewasa. “Jangan dipikirkan. Ini es krim, bukan sayur.”

Gemini tidak suka rasa es krimnya tapi ia tetap memakannya sambil sesekali mendongak ke arah langit, menunggu matahari terbenam. Biasanya Gemini akan menghabiskan es krimnya lebih dulu daripada Fourth tapi kali ini Fourth lebih cepat. Anak itu mengelap tangannya yang lengket ke atas rerumputan di sekitar mereka.

“Kau tau, aku terkadang bosan dengan Ibuku. Mungkin kau mau berbagi Ibuku denganku?” Fourth mengatakannya dengan santai dan tenang. Wajahnya masih penuh semangat seperti saat Gemini menemukannya pertama kali dari balik kaki Bibi Mook di hari ia pindah.

“Kau sudah berbagi Ibu dengan Front.” Kata Gemini kembali menjilat es krimnya dengan enggan.

Fourth menyungging senyum. “Tidak masalah kalau kau mau bergabung. Aku tidak keberatan sama sekali.”

Gemini tidak menjawab lagi. Ia tahu kalau tidak mungkin ia berbagi Ibu Fourth dengan Fourth dan Front, tapi ia merasa sedikit lebih baik. Terlebih ketika Fourth memasang senyuman sejuta watt seusai menyenggol lengannya dengan siku dengan sengaja.

“Jangan menangis sendirian lagi, Gemi.”

“Kenapa?”

“Lebih asyik menangis sambil makan es krim, 'kan?”

Tentu saja Gemini setuju.

Ibu Gemini mungkin tidak ada bersamanya tapi Gemini punya Fourth yang akan mengajaknya membeli es krim saat ia sedih.


Gemini dan Fourth berusia sepuluh tahun ketika Fourth sangat-sangat menyukai sepak bola. Di sekolah, Fourth akan bermain sepak bola setiap jam istirahat dan setelah pulang sekolah. Di akhir pekan juga Fourth akan mengajak Gemini bermain sepak bola, terkadang bersama Ayah Fourth juga. Dan Fourth itu tidak hanya bermain, dia memang mahir. Kaki-kakinya yang kecil itu sangat lincah dalam menggiring bola dan Gemini pikir Fourth akan cocok untuk jadi pemain profesional saat besar nanti.

Gemini sendiri juga menyukai sepak bola meski tidak sebesar kesukaan Fourth. Dia bisa bermain dan dulu Ayahnya sendiri juga pernah membawanya menonton pertandingan di stadion. Sebenarnya, dibanding sepak bola, Gemini lebih suka golf dan tennis. Ayahnya sudah mengajari beberapa olahraga dan sepertinya Gemini tidak terlalu suka permainan yang terlalu banyak berlari. Mungkin ada hubungannya juga dengan asthma-nya. Dan sekarang, saat Fourth benar-benar mendedikasikan waktunya untuk bermain sepak bola, tentu saja Gemini tidak pernah memikirkan cara untuk menolaknya. Fourth sangat suka bermain sepak bola dan Gemini sangat suka bermain dengan Fourth.

Sampai suatu sore, ketika Fourth mengantarkan Gemini sampai ke teras rumahnya seperti biasa, Bibi Mook menahannya sebentar sambil menawarkan biskuit susu beraroma kayu manis. Dengan dua keping yang diambilnya tanpa malu, Fourth membungkuk berterimakasih, dan segera berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri.

Gemini sudah ambruk ke sofa ketika Bibi Mook menghampiri. Wanita itu masih tersenyum, tapi Gemini tahu kalau Bibi Mook tidak sedang terlalu senang. Mungkin karena Gemini tidak langsung mandi dan malah mengotori sofanya dengan keringat di tubuh dan rambut. Mungkin karena Gemini pulang lima belas menit lebih terlambat dari sebelumnya. Atau mungkin karena Gemini sekarang terlihat seperti ikan yang baru saja terdampar dari air.

“Kalian sedang suka bermain sepak bola, ya?” Bibi Mook duduk di sisi lain sofa. Ketika Gemini mengangguk, tangan Bibi Mook mampir ke rambutnya yang lepek. “Bisa tidak kalau bermain sepak bolanya dikurangi sedikit?”

“Kenapa?”

“Kamu kesusahan tidur akhir-akhir ini karena terlalu kelelahan dan sesak nafas, 'kan?”

Gemini tidak menjawab, tapi juga tidak menyangkal. Ia tidak mengerti kenapa ini menjadi penting, karena ia sendiri tidak mempermasalahkannya. Gemini suka bermain dengan Fourth, termasuk bermain sepak bola. Dan kalau itu artinya harus membuatnya sesak nafas, itu tidak apa-apa. Asal Gemini bisa bermain bersama Fourth. Dan Fourth senang karena itu.

Tapi anehnya, keesokan harinya Fourth berhenti mengajaknya bermain sepak bola. Gemini sudah membawa dua botol air minum, kaos dan sepatu ganti, juga cemilan yang lebih banyak dari hari-hari biasanya untuk bersiap-siap. Ia sangat antusias, ketika melihat Fourth keluar dari kelasnya yang berada di ujung lorong. Gemini mengangkat tangan tinggi-tinggi, memanggil Fourth yang kelihatan ragu-ragu sembari memilin tali tas. Senyuman Gemini masih ada di sana saat matanya menangkap segerombolan anak laki-laki sekelas Fourth kelihatan merangkul Fourth selagi mereka berjalan ke arah Gemini.

“Fotfot..” Gemini memanggil, suaranya pelan karena terhalang rasa heran. Memperhatikan Fourth dan teman-temannya saling menepuk pundak sebelum mereka pergi meninggalkan Fourth sambil berbisik-bisik.

“Aku tidak bermain hari ini.” Fourth berujar, sambil mencoba tersenyum meski Gemini tahu matanya tidak berkata begitu. “Ayo kita pulang saja.”

“Kenapa?” Gemini bertanya saat Fourth sudah hampir berjalan melaluinya. “Kau suka sekali sepak bola.”

Fourth tidak langsung menjawab dan Gemini tahu kalau Fourth sedang mencari-cari jawaban. “Aku mau es krim.”

“Baiklah,” Gemini mengangguk pada akhirnya, mengekori Fourth yang tidak secerah biasanya.

Hari itu mereka menghadang gerobak es krim dan mendapatkan es krim rasa kelapa dengan taburan kacang dan gula merah yang rasanya seperti selera nenek-nenek—menurut Fourth. Keduanya masih tertawa, berbincang, dan saling bergandengan saat hendak menyeberang jalan. Namun Gemini tahu kalau ada yang salah, terlebih ketika ia menyadari kalau dua botol air yang memberatkan tasnya berakhir sia-sia.

Keesokan harinya, Gemini dihampiri beberapa orang yang ia ingat adalah teman Fourth bermain sepak bola. Gerombolan yang sama dengan yang berpapasan dengan Gemini kemarin di lorong sebelum jadwal bermain sepak bola yang batal.

“Kau sakit, ya?” Salah seorang dari mereka bertanya dan Gemini tidak mengerti kemana arah mereka merujuk.

“Aku tidak.” Gemini menyahut, mencoba terdengar tegar meski sebenarnya ia sangat tidak menyukai situasi ini.

“Kau sakit.” Mereka memutuskan tanpa mendengarkan jawaban Gemini sama sekali. “Kalau kau sakit setidaknya biarkan Fourth bermain sepak bola dengan kami.”

“Apa maksudnya?” Gemini mengerjap.

“Fourth tidak mau bermain sepak bola lagi karena katanya kau sakit kalau bermain sepak bola.” Salah satu orang yang lain akhirnya menjabarkan, berhasil memberikan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di kepala Gemini sejak mendapati sahabatnya itu kehilangan binar di matanya.

Gemini akhirnya memutuskan untuk bicara pada Fourth saat si yang lebih muda mendatangi kelasnya untuk makan siang seperti biasa. Ia kelihatan ceria dan cerah, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di sorot matanya.

“Jangan berhenti bermain sepak bola karenaku, Fotfot.” Gemini berujar setelah membagi nugget dinosaurusnya kepada Fourth.

Fourth mendadak mencebik, matanya berkaca-kaca, seperti ia akhirnya menemukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan emosinya yang sejak kemarin terpendam. “Aku tidak mau kau tidak bisa tidur karena sesak.”

“Bibi Mook yang bilang?”

Fourth menggeleng tapi kemudian mengangguk. “Aku mendengar kalian tempo hari.”

“Kukira kau sudah pulang waktu itu.”

“Aku kembali lagi karena ingin meminta biskuit lagi—itu enak, aku mau pamer pada Front—dan,” Fourth berhenti, mendongak dengan lelehan air mata di pipinya, “aku tidak mau kau sakit.”

“Kau bisa bermain dengan mereka, kalau kau ingin.” Solusi itu terlontar dengan pemikiran paling polos dari kepala Gemini kecil. Dia mengatakannya seolah ia adalah orang paling setuju dengan opsi itu, meski kenyataannya Gemini sungguh ingin menyangkal dirinya sendiri. “Aku bisa menontonmu setiap pertandingan. Dan mungkin bermain sebentar kalau aku rasa aku akan baik-baik saja.”

“Apakah kau akan baik-baik saja?”

“Entahlah,” Gemini mengedik. “Aku bukannya yang akan mati kalau bermain denganmu—”

“Aku tidak mau kau mati.”

“Aku juga tidak mau.” Gemini tersenyum, menyodorkan tisu ketika Fourth mulai terganggu dengan air matanya sendiri. “Kita masih bisa melakukan yang lainnya bersama-sama.”

“Apa misalnya?”

“Bulutangkis sebenarnya lebih ringan.”

“Aku tidak bisa bulutangkis.”

“Aku bisa mengajarimu.” Gemini menawarkan. “Tapi aku tidak semahir kau dalam bermain sepak bola.”

“Aku tidak masalah.” Fourth menarik ingusnya yang hampir keluar, mengundang tawa dari Gemini yang langsung membantunya dengan tisu lagi. “Asalkan bersama sahabatku.”

Gemini tersenyum dan itu artinya ia setuju. Dengan diskusi penuh air mata dari Fourth itu dihasilkan keputusan kalau Gemini akan menonton setiap pertandingan Fourth dan mereka akan bermain bulutangkis di dekat rumah setiap sore. Fourth menyebutkan soal ini kepada Ayahnya dan ternyata Ayah Fourth punya solusi lebih baik yaitu mengajak mereka berdua bermain futsal—yang lapangannya jauh lebih kecil dari sepak bola, jadi Gemini bisa lebih aman saat berlari—dengan pengawasannya sendiri. Gemini tentu tidak punya keinginan untuk menolak sama sekali. Dan ia bersyukur karena Fourth juga setuju.


“Aku tidak suka ini.”

Gemini sudah sebelas tahun ketika itu. Dahinya berkerut selagi memeluk mangkuk berisi popcorn caramel buatan Ibu Fourth. Di sampingnya, Fourth tampak tidak senang dengan komentar Gemini tentang film yang mereka tonton.

“Ayolah, coba saja.”

“Duh, Fourth, aku masih akan menontonnya. Aku hanya bilang aku tidak suka.”

“Kau terlalu cepat menyimpulkan. Ayo kita coba!” Fourth berseri-seri, menekan tombol play pada remote setelah DVD berhasil dimasukkan ke dalam pemutar.

Malam itu Gemini menginap di rumah Fourth lagi untuk akhir pekan dan mereka sedang di sofa, menonton film yang menurut Gemini hanya bisa digambarkan seperti tiruan murahan The Lord of the Rings (sebenarnya, Gemini juga belum menonton The Lord of the Rings sejak awal, tetapi dia berasumsi kalau dalam film itu juga ada peri dan kurcaci, pertempuran, dan adu pedang, hanya saja sedikit lebih bagus daripada yang sebenarnya mereka tonton sekarang). Fourth nampak tertarik, matanya berbinar ke arah layar TV sampai membiarkan Gemini memakan popcorn-nya sendirian. Gemini tidak tahu apa yang seru untuk ditonton tentang pria-pria yang saling menyerang dan ditusuk dengan pisau tajam atau tertusuk panah, tetapi dia membiarkan anak laki-laki yang lebih muda itu bertindak sesukanya.

Gemini tidak takut dengan film hantu, juga film pembunuhan. Tapi Ibunya selalu bilang kalau film-film itu tidak cocok untuk anak sekolah dasar sepertinya, dan Gemini selalu berpikir kalau Ibunya itu orang tua, dan orang tua selalu benar. Tapi Fourth sepertinya tidak pernah diberitahu hal itu, atau memang dia saja yang tidak mendengarkan. Tapi sekarang mereka sedang menonton di rumah Fourth dan jika orang tua Fourth membiarkan mereka berdua menonton film ini sendirian, maka itu artinya tidak akan seburuk itu.

Sepertinya.

Atau tidak.

Gemini tidak menyadari ia bersembunyi di balik selimutnya saat melihat beberapa prajurit terjatuh dari atas kuda setelah tertancap panah. Reaksi yang berbeda dari Fourth yang kini melompat dalam duduknya seperti sedang menyaksikan bola sepak yang berhasil menjebol gawang.

“Hei, kau benar-benar bayi besar. Darah dan semacamnya itu palsu, kau tahu.” Fourth berujar setelah berhasil menemukan rambut Gemini yang menyumbul dari balik selimut. Tangannya terulur mengambil alih mangkuk popcorn yang sempat dilupakan.

“Aku tahu,” jawab Gemini, malu-malu. “Bukan itu.”

“Lalu apa?”

Hening sejenak dan Gemini berpikir, tetapi ia tidak bisa benar-benar memutuskan untuk menjawab.

“Aku tidak tahu.”

Fourth mendesah. Gemini tidak berpikir ia kesal; ia tidak terdengar kesal. Lagipula, Fourth tidak pernah benar-benar kesal padanya. Ia hanya mengambil remote dari meja kopi dan menekan jeda, dan tiba-tiba layar membeku pada gambar udara dari pertempuran yang sedang berlangsung.

“Kau tidak perlu begitu—”

“Tidak apa-apa, Gemi,” kata Fourth, senyumnya tidak goyah sedikit pun. “Ayo kita mengobrol saja.”

Terkadang Gemini tidak tahu dari mana asalnya. Fourth selalu memahaminya, menyesuaikan diri dengannya. Fourth selalu membelanya sejak kelas satu ketika anak-anak lain mengganggunya karena terlalu pendiam. Dia masih selalu membelanya sekarang, ketika mereka mengganggunya untuk hal lain. Gemini bersyukur untuk itu, karena dia terlalu baik dan pendiam untuk benar-benar peduli membela dirinya sendiri, dan Fourth selalu menepis para perundung seolah-olah itu bukan apa-apa. Gemini juga senang, karena Fourth tampaknya tidak setuju dengan apa pun yang mereka katakan. Fourth membelanya karena dia ingin. Karena dia selalu tulus dan baik dan dia akan melakukannya bahkan jika itu bukan Gemini, karena dia pikir itu hal yang benar untuk dilakukan.

Fourth bahkan membelanya dari ketakutannya sendiri. Dari matahari terbenam di masa lalu hingga tombol jeda di masa sekarang. Terkadang Gemini berharap dia bisa melakukan hal yang sama untuknya, tetapi dia tidak yakin apakah Fourth takut pada apa pun.

“Aku akan segera berusia 11 tahun, Gemi.”

“Kamu benar.”

Gemini bertanya-tanya apakah Fourth terkadang berpikir kalau bisikan orang-orang tentang dirinya itu benar. Karena Gemini juga masih diam-diam mendengar kalau Fourth suka berpura-pura melindungi Gemini dari mereka. Ia juga beberapa kali melihat orang-orang yang merundungnya berusaha mendekati Fourth dengan mengajaknya makan siang bersama atau main ke suatu tempat setelah pulang sekolah.

“Apakah kamu mengundang seseorang?”

“Entahlah, selalu hanya kita.” Fourth menyahut kelewat santai. “Apakah kamu mau aku mengundang orang-orang?”

“Ini hari ulang tahunmu, Fotfot.”

“Ya, jadi aku mau kamu ikut.”

Gemini diam sesaat. Tidak mengerti. Fourth bisa saja punya banyak teman yang keren karena Fourth sendiri juga keren. “Apa kamu tidak mau punya teman lain?”

“Apa maksudmu?” Fourth terlihat serius sekarang. Alisnya berkumpul di tengah, memandang Gemini lekat-lekat, menunggu penjelasan.

“Maksudku... orang-orang di sekolah benar-benar menyukaimu,” Gemini berhenti sejenak sebelum menambahkan, “tapi mereka tidak menyukaiku.”

Gemini bisa mendengarnya bergema di kepalanya. Orang-orang tertawa dan menunjuk-nunjuk ketika mereka pikir dia tak bisa melihat mereka sekilas, karena dia selalu membuntuti Fourth atau selalu menempel padanya. Karena dia orang asing yang bergantung pada pria populer, ramah, dan ceria itu untuk bertahan hidup. Dia pernah mendengar desas-desus tentang anting emas di telinganya karena sudah ditindik sejak lahir, tentang pakaian yang dikenakannya, cara dia menggerakkan tangannya, dan cara dia menempel pada Fourth seolah-olah dia menyukainya, atau, lebih tepatnya, jatuh cinta padanya. Gemini memang mencintainya—Fourth adalah sahabatnya. Tapi kemudian semua orang menambahkan sedikit variasi pada frasa itu dan tiba-tiba itu membuatnya takut. Mereka membuatnya terdengar seperti hal yang buruk. Gemini bisa memahami alasannya dari film romantis yang mereka tonton bersama, tapi sepertinya dia tidak ingin bertanya.

“Persetan dengan mereka.”

Mata Gemini terbelalak mendengar ucapan itu, tiba-tiba melesat ke sekeliling ruangan karena Fourth biasanya tidak mengucapkan kata-kata kasar seperti itu. Dia hampir lupa apa yang dikatakan anak laki-laki yang lebih muda sebagai tanggapannya, dan dia memutuskan dia tidak ingin kembali ke sana saat dia mengingatnya.

“Hei, jangan bicara seperti itu.”

“Tidak ada orang lain di sini,” kata Fourth, mendekat ke sofa sebelum menyandarkan kepalanya di bahu Gemini. Gemini hampir bisa mendengar seringai tipis di wajahnya. “Dan kau tidak akan mengadu pada Ibu.”

“Siapa bilang aku tidak akan,” sahut Gemini. Itu lebih seperti pernyataan datar daripada pertanyaan.

“Aku tau kau tidak akan melakukannya.”

Itu semacam kekalahan yang manis saat ia tak bisa membantah dan hanya bisa melontarkan tawa sembari menatap film yang terhenti.

“Orang tuaku bilang mereka akan membelikanku ponsel untuk ulang tahunku. Aku bisa mengirimimu pesan bahkan saat kau tidak di sini.” Fourth berujar lagi, mulutnya penuh dengan popcorn yang sudah tidak terlalu renyah.

“Mm.” Gemini bergumam menanggapinya, matanya tak lepas dari remah-remah popcorn dan noda caramel yang menodai bibir Fourth.

“Kedengarannya keren, kan?” Suara Fourth melengking dengan khas. Terdengar sangat bahagia.

Gemini masih diam di tempatnya, berpikir. Tangannya menggaruk pelipis, sedikit memilah-milah kata yang mana yang harus ia pakai untuk memberitahu Fourth tanpa membuat kebahagiaannya terpatahkan. “Bukankah aku juga harus punya kalau kau mau mengirimiku pesan?”

“Kau bisa minta Bibi Mook.” Fourth masih tersenyum, bertahan dengan antusiasmenya yang membumbung tinggi.

“Dia tidak akan membelikannya untukku.” Ungkap Gemini sambil membayangkan bagaimana Bibinya itu akan melotot dramatis saat ia meminta dibelikan satu. Mungkin nasib baik kalau Bibi Mook tidak mulai menceramahinya dua hari dua malam dan berakhir menambah jam belajar untuknya.

“Dia akan membelikannya,” kata Fourth, kepalanya kembali jatuh di bahu Gemini, lembut tapi yakin.

“Tidak mungkin, Fot.”

“Kalau begitu bilang pada Ibu dan Ayahmu di Amerika.”

Gemini mendongak ke langit-langit ruangan, membayangkan. “Mungkin bisa, tapi tidak bisa secepat itu.”

“Aku akan menunggu.” Kata Fourth final. Ia sempatkan mendongak pada wajah Gemini, memamerkan binar cerianya yang sama seperti biasanya tanda bahwa ia benar-benar tidak masalah untuk menunggu sampai Gemini benar-benar dibelikan ponsel. Dan Gemini tidak pernah tahu bagaimana cara menyanggah kebahagiaan itu, jadi ia membiarkan Fourth kembali menjatuhkan kepalanya pada pundaknya.

Gemini berpikir sejenak. Lagi. Kilasan memori tentang waktu-waktu yang ia habiskan dengan Fourth mendadak muncul dalam benaknya. Bagaimana Fourth adalah orang pertama yang meraihnya, mengajaknya pergi keluar saat Gemini hanyalah seorang anak asing, pendiam, dan baru di lingkungan mereka. Bagaimana Fourth selalu berada di sampingnya, menggenggam tangannya, berjalan bersamanya tanpa syarat apapun. Bagaimana Fourth menerima semua kekurangan Gemini, memahaminya, dan bahkan mencari cara untuk membuat kesetaraan di antara mereka. Bagaimana Fourth selalu menjaganya, melindunginya, mengurusnya, membawakan cahaya matahari yang sebelumnya tidak pernah Gemini bayangkan akan sehangat ini.

Gema bisikan orang-orang mulai kembali muncul dalam benaknya dan Gemini rasa mungkin rumor-rumor itu terbukti benar malam ini, tepat saat ini juga. Saat wajah Fourth kelihatan berseri karena pantulan cahaya dari layar televisi Saat Fourth terasa sangat kecil duduk di sampingnya, menyampirkan kepala ke bahunya. Saat Fourth tertawa di samping telinganya, membuat Gemini tanpa sadar terus berpikir bagaimana cara agar tawa itu kembali secepatnya.

Sebagian dari diri Gemini berharap saat ia duduk di sofa ini—dengan cahaya oranye redup dan bingkai film yang dijeda di sekeliling mereka, dengan Fourth di pundaknya, dan dengan deru nafas yang bersahutan di tengah keheningan—bahwa Fourth akan menyadarinya.

Tapi sebagian besar dirinya tidak siap untuk itu.

Gemini tidak akan siap untuk itu.

Notes:

If you think you've read this on Twitter, that's me. And you can leave comments anonymously through my tello or alterspring :
tellonym
alterspring