Actions

Work Header

feed me love, give it time (maybe in another life)

Summary:

Hyunjin hidup di dunia yang penuhi dengan kepalsuan, di mana bahkan ketidakberdayaannya pun tidak nyata karena Seungmin tidak pernah selesai menulis ceritanya.

Notes:

title taken from here

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pernahkah kalian bertanya-tanya bagaimana rasanya mencintai seorang penulis? Atau pernahkah kalian membiarkan pikiran kalian berkelana begitu jauh hanya untuk membayangkan bagaimana rasanya memiliki cinta yang tidak dapat ditarik kembali dan terasa bagai penebusan dari masa lalu yang agak hambar?

Selayaknya orang-orang naif di luaran sana, Hyunjin pernah mengalami jatuh cinta pada orang yang salah. Kalian mungkin akan berpikir kalau orang itu berhati dingin atau terlibat kriminalitas dan semacamnya. Namun, tidak. Karena dia hanya seorang penulis yang selalu ia lihat di balik jendela.

Seungmin, namanya. Dan selayaknya orang yang kesehariannya diisi dengan mencipta, laki-laki itu agak unik. Ia seakan memiliki jenisnya sendiri, spesiesnya sendiri. Sensitif dan kuat di saat yang bersamaan. Romantis sekaligus realis yang putus asa. Hampir tidak pernah menangis, selalu lebih senang bercumbu dengan kata-kata, berdarah tinta di atas kertas, dan Hyunjin mencintainya setengah mati.

Mencintai seorang penulis terasa seperti jatuh pada tumpukan perasaan paling abstrak dan gila di dunia.

Hyunjin melihat bagaimana Seungmin menulis jutaan kombinasi huruf untuk membentuk keindahan di atas kertas.

Ia menggambarkan ciuman seperti aroma buku tua; gaun yang mengembang saat kau berputar; pipi yang bersemu; dan lampu-lampu peri dalam setoples.

Namun tak jarang Hyunjin melihat bagaimana Seungmin dapat menggunakan jutaan kombinasi huruf yang sama untuk menyebabkan patah hati. Dia menggambarkan pertengkaran seperti hutan yang terbakar di tengah musim dingin; dan juga badai topan di siang bolong.

Mencintai seorang penulis terasa seperti sedang bersama seseorang yang menderita gangguan kepribadian ganda.

Hyunjin tidak pernah bisa memprediksi apa yang tengah terjadi di kepala Seungmin. Tidak sepertinya yang tenang mengikuti arus, Seungmin selalu punya sesuatu untuk dicemaskan.

Terkadang ia terganggu karena warna cat tembok di ruangan kerjanya terlalu suram, atau karena kopinya terlalu manis, tapi sebenarnya ia terusik karena seorang rekan penulis yang meragukan kualitas tulisan yang tengah digarapnya. Mereka bilang akan sulit baginya untuk menulis karya yang lebih baik, jika karya pertamanya langsung sukses besar di pasaran. 

Pernah satu waktu Seungmin menghabiskan seharian untuk duduk berjam-jam di depan komputer, mengetik, menghapus, dan mengetik lagi sampai berhasil menciptakan paragraf yang sempurna, Hyunjin masih mendapatinya terlihat begitu frustasi.

Menyalahkan dirinya sendiri karena tidak pernah merasa cukup sampai akhirnya Jeongin–kekasihnya–datang dan menjadi satu-satunya hal yang menjaganya tetap waras di dunianya yang gila.

Jeongin akan bertanya apa maunya, apa yang dapat dilakukannya, dan mereka akan selalu mengakhiri hari yang panjang itu dengan pelukan permintaan maaf untuk kesalahan yang tidak pernah ada.

Mencintai seorang penulis terasa seperti memerankan sebuah pertujukan drama.

Sebagai seorang penulis, Seungmin memiliki ingatan yang bagus. Hyunjin selalu mendapatinya memperhatikan detail-detail sepele untuk dimasukan pada tulisannya dan membiarkan orang lain mengkritik karakternya. 

Dari balik jendela, sering kali Hyunjin temui Seungmin terbangun di waktu yang begitu dini sembari mengonsumi sejumlah kopi. Netranya tak henti-henti beralih dari layar komputer dan keyboard secara bergantian sampai matahari berada di atas kepala.

Lalu, setelah kalimat terakhir selesai dengan diimbuhinya tanda titik, Hyunjin jadi tahu kalau laki-laki itu terjaga semalaman hanya untuk menulis tentang bantingan pintu dan kepergian Jeongin setelah pertengkaran mereka kemarin sore dalam versi hiperbola. Dan meskipun orang lain mungkin berpikir apa hebatnya dijadikan tokoh jahat dicerita kekasihmu sendiri, Hyunjin selalu iri dibuatnya. 

Karena jika ada orang yang bertanya, seperti apa rasanya mencintai seorang penulis? Maka Hyunjin akan bilang, “Rasanya nggak mudah, kau tahu?”

Sebab tidak ada yang benar-benar bisa ia lakukan selain menunggu sang jenius menggunakannya sebagai salah satu pahlawan dalam ceritanya.

Terutama ketika di penghujung hari yang Hyunjin dapatkan hanyalah jendelanya yang menggelap tanda ia bahkan tidak tertarik untuk mempertimbangkan untuk menulis barang satu paragraf pun tentangnya.

Tapi apa boleh buat, kan? Mungkin Hyunjin hanya perlu bersabar sedikit lagi, bisa jadi esok hari ia akan lebih beruntung. 

Namun, entah bagaimana, tiba-tiba saja terjadi keajaiban dalam semalam.

Hyunjin ingat betul kalau Seungmin bilang ia akan pergi ke kantor penerbitan untuk membicarakan soal manuskripnya dan menghilang sepanjang hari, tapi petang itu jendelanya tiba-tiba menyala di waktu yang tidak biasa, bedanya kali ini tak ada sang penulis di tempat biasanya. 

Di sebrang sana justru ada Jeongin yang duduk di kursi kerja Seungmin. Sedangkan sang pemilik berdiri sambil bersedekap di ambang pintu, maniknya redup dan wajahnya semrawut—campuran rasa lelah dan gelisah yang tak dapat dibendung. Mungkin Penulis Kang habis mencela hasil kerjanya lagi hari ini. 

"Kamu yakin mau menghapusnya? Tidak mau memikirkannya sekali lagi?" Jeong tiba-tiba bersuara, tangannya terpaku di atas papan ketik yang ia hadiahkan untuk Seungmin ketika ia berhasil merilis buku pertamanya.

Meskipun enggan, Hyunjin tak punya pilihan selain menguping pembicaraan mereka berdua. Dalam hidupnya yang membosankan, mengamati segala hal yang Seungmin lakukan sudah seperti kemewahan baginya.

Dari tempatnya duduk, ia dapat melihat Seungmin ragu-ragu. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai, kebiasaannya saat sedang bimbang. Di saat seperti ini Hyunjin selalu berharap ia bisa mendekat dan menghiburnya.

"Ya, hapus saja," katanya final.

Tapi Jeongin kelihatan khawatir, ia tidak langsung melakukan apa yang diperintahkan meski ia yang menawarkan diri membantu di awal. 

"Kamu nggak akan menyesalinya?" 

"Nggak."

"Benarkah?"

"Yup."

"Lalu apa yang akan terjadi setelah ini? Apa kamu bakal berhenti nulis?"

Seungmin bergeming di tempatnya, tapi Hyunjin tahu ada suara kecil di dalam kepalanya yang tengah mengolok-oloknya: Apa kamu pecundang? Apa kamu benar-benar mau mengakhirinya begitu saja? 

"Aku nggak tahu, Jeongin-ah. Mungkin Penulis Kang benar, it wasn't a real talent, it was just a one time hit. Aku cuma beruntung waktu itu." 

Jeongin beranjak dari kursi, lalu menghampiri Seungmin dan memeluknya erat. Melihatnya membuat Hyunjin kesal setengah mati, jadi ia berusaha mengalihkan pandangannya meskipun tidak bisa. 

"Kamu nggak seharusnya dengerin Penulis Kang, karena kalian orang yang berbeda. Dia punya caranya sendiri, dan kamu punya caramu sendiri. Nggak semua yang dia omongin soal tulisanmu itu berarti benar. Kamu harus mulai belajar buat lebih percaya sama dirimu sendiri."

Seandainya Seungmin melihat Hyunjin dengan cara yang sama dan membiarkannya mencintai laki-laki itu juga, mungkin ia yang akan berada di posisi Jeongin sekarang. 

"Aku tahu, tapi aku harus nyingkirin itu dulu."

Jeongin tak banyak protes dan hanya mengangguk setuju, cara paling tepat untuk menghibur laki-laki itu tanpa melewati batas.

"Ok, apapun maumu."

Membiarkan Seungmin mengeratkan pelukan mereka seakan ia tengah berusaha mencuri lebih banyak kehangatan yang Jeongin miliki untuk dirinya sendiri. Saat Hyunjim pikir ia akan menghabiskan sisa waktunya memandangi mereka berdua dengan iri, kemesraan itu tidak berlangsung lama, karena Jeongin kembali ke meja kerjanya, kali ini dengan Seungmin mengekor tepat di belakangnya. 

Jemari Jeongin menggerakkan kursor dengan lincah, lalu ia berkata, "Aku bakal hapus sekarang," dan Seungmin tak banyak membantah, kali ini jauh lebih yakin.

"Selamat tinggal, Hyunjin-ah." Apa?

Terdengar bunyi klik sebanyak dua kali, dan sebelum Hyunjin sempat memproses apa yang terjadi, tiba-tiba ia merasa seakan dirinya disedot ke dalam kegelapan tak berujung.

Tidak.

Hyunjin merasa napasnya tercekat. Apa ia tenggelam? Kakinya berusaha menendang-nendang dengan kuat, seperti saat ia berenang, berpikir ia mungkin bisa naik lagi ke permukaan, tapi sia-sia. Hyunjin panik. Jemarinya berusaha meraih sesuatu tapi hanya kehampaan yang didapatinya.

Tidak!

Tidak!

Tidak!

Hyunjin berusaha berteriak lagi, tapi tidak ada satupun suara yang keluar. Lalu ia juga berusaha menangis dengan kencang, berharap kali ini suaranya akan terdengar, tapi bahkan tidak ada airmata yang keluar. 

Seungmin!

Lalu Hyunjin sadar—Seungmin telah membuangnya; laki-laki itu telah menyerah padanya. Hal yang mereka bicarakan, hal yang paling ingin Seungmin lenyapkan adalah dirinya.

Alasan Hyunjin tidak bisa bicara, tidak bisa menangis, dan juga tidak bisa lagi hidup karena Seungmin telah menghapus kisahnya. Laki-laki itu tidak lagi membutuhkannya.

Seungmin!

Hyunjin ingin berteriak lebih kencang, menangis sampai sesenggukkan, tapi tidak ada yang terjadi karena Seungmin lah yang seharusnya memutuskan apa yang akan terjadi padanya.

Hyunjin mulai bertanya-tanya di mana salahnya.

Apa saat ia mulai terjaga sedikit lebih lama untuk memandangi si penulis yang tertidur di depan monitor setelah mengetik tanpa henti semalaman suntuk?

Saat ia mulai tak sabaran dan berharap laki-laki itu akan lanjut menulis tentangnya?

Saat ia mulai jatuh cinta pada sang pencipta?

Sial. Seandainya saja Hyunjin dapat mengulang waktu, ia berharap ia tidak jatuh cinta pada Seungmin.

Meski laki-laki itu membandingkan Hyunjin dengan mentari, maupun menuliskannya puisi dengan tinta darah yang diambil dari hatinya, atau mengatakan bahwa ia adalah muse terbaiknya sekalipun, Hyunjin bersumpah ia tidak akan menaruh hati pada laki-laki itu.

Karena pada akhirnya, Hyunjin tahu ia tidak akan lebih berarti daripada kesepuluh jari milik Seungmin. Laki-laki itu hanya akan membuatnya terlena dengan caranya menggambarkan dirinya sebagai Juliet dan membuatnya lupa kalau cerita itu hanya berakhir dengan tragedi.

Hyunjin hanya akan menjadi inspirasi dari karya-karya yang menguntungkannya sampai Seungmin mulai bosan dan berakhir membuangnya seperti yang dilakukannya sekarang ini.

Meski begitu, jika sekarang ia diberikan keajaiban untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiei, maka Hyunjin akan bersujud dan memohon pada Seungmin, lalu berkata: Maaf, aku nggak akan minta terlalu banyak, jadi jangan buang aku.

Sayangnya, sekarang tidak ada lagi yang dapat Hyunjin lakukan selain membiarkan dirinya tenggelam dan tenggelam, terseret lebih jauh dalam kegelapan.

Karena bahkan ketidakberdayaannya pun tidak nyata sebab Seungmin tidak pernah menuliskannya.

Notes:

inspired by a fic i read back in 2016 about a fic chara that fell in love with his reader.