Actions

Work Header

Teman Perjalanan

Summary:

Younghyun dan Wonpil, dua orang asing dengan tujuan sama tetapi maksud berbeda, bertemu dan bertukar cerita di dalam kereta. Namun siapa sangka obrolan mereka bisa menghasilkan sebuah mahakarya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“4C.. 4C..” Younghyun bersenandung riang sambil mencari nomor kursinya.

Begitu menemukan kursi yang menampilkan nomornya, pandangan Younghyun otomatis tertuju pada seseorang yang duduk di kursi sebelahnya, 4D. Kursi yang terletak di sebelah jendela.

Sepertinya laki-laki itu tidak memusatkan perhatian pada Younghyun karena sibuk membuang pandangannya keluar jendela. Younghyun menaruh ranselnya di kabin atas sebelum menempatkan dirinya dengan nyaman.

Pergerakan yang terasa di kursi sebelah membuat laki-laki 4D menoleh. Matanya bertubrukan dengan mata Younghyun, yang refleks ia sambut dengan senyum ramah.

 

Him and his extrovert ass.

 

“Hai. I guess I’ll be your seatmate for…” Younghyun melirik arlojinya, “kurang lebih 2 jam ke depan?”

Pemuda itu membalas senyum Younghyun dengan senyum kecil.

Tanpa basa-basi, Younghyun mengulurkan tangannya. “Younghyun.”

 

Again, him and his extrovert ass.

 

Pemuda 4D itu tampak bingung, tak menyangka bahwa laki-laki yang duduk di sebelahnya ini akan mengajaknya berkenalan.

Meski sarat keraguan, ia menyambut uluran tangan Younghyun. “Wonpil.”

“Ooo, Wonpil. Mau ke Busan juga?”

“Iya. Younghyun?”

“Sama.”

Kereta berjalan.

 

Younghyun sibuk dengan ponselnya, mengabari beberapa orang kalau ia sudah duduk di dalam kereta yang melaju. Sedangkan pemuda di sebelahnya bergerak mengambil earphone di saku untuk disumpalkan ke kedua telinganya, seolah menolak diajak bicara. Setelah memasang lagu, Wonpil kembali termangu menatap pemandangan di luar jendela.

Dari mana Younghyun tahu? Ia mengamati dari ekor matanya.

Satu jam perjalanan mereka habiskan tanpa ada yang bersuara, karena Wonpil masih menutup telinganya dengan earphone. Ketika kereta bergerak melintasi stasiun yang menandai titik tengah perjalanan mereka, tangannya terangkat menarik earphone dari telinga.

Wonpil menghela napas. Ia lalu melirik ke sebelah dan mendapati seatmate-nya memejamkan mata.

Wonpil merunduk, mengambil sesuatu di dalam tasnya yang ada di bawah kursi. Gerakannya dibuat sepelan mungkin, enggan membangunkan pemuda di sebelahnya.

Usahanya sia-sia.

Younghyun membuka mata ketika Wonpil kembali duduk tegak.

“Maaf membangunkanmu.”

Younghyun mengerjap dua kali, lalu tersenyum kecil. “Aku kalau di tempat umum memang mudah kebangun.”

Wonpil manggut-manggut. Ia membuka sesuatu yang tadi diambilnya — sebuah kotak makan, dan disodorkannya kotak makan tersebut pada Younghyun. “Mau?”

Younghyun menatap isi kotak makan itu.

Ada dua potong roti isi. Sepertinya Wonpil membuatnya sendiri. Atau membelinya di minimarket dan memindahkannya ke kotak makannya. Tetapi roti isi itu terlihat seperti makanan yang dibuat di rumah.

“Boleh?”

“Boleh, dong.” Wonpil menjawab ringan.

Duh, jujur saja roti isi itu terlihat menggiurkan. Meski Younghyun ingin menolak — karena tak ingin mengurangi bekal yang Wonpil bawa, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa ia tergiur.

“Aku ambil satu, ya.”

“Silakan.”

Tangannya mengambil sepotong roti isi. 

Younghyun mencobanya. Beberapa kali mengunyah, matanya membulat. Dengan cepat, ia menoleh. “Enak. Enak banget. Nggak kayak yang ada di minimarket. Ini kamu bikin?”

Pemuda yang baru dikenalnya satu jam yang lalu itu tersenyum kecil. “Ibuku yang bikin. Sengaja dikasih dua. Satunya buat teman perjalananku, katanya.”

Wonpil mengambil satu roti isi yang tersisa sebelum menutup kotak makan kosong itu. “Senang kalau kamu suka. Aku akan kabari ibuku nanti, bekalnya disukai teman perjalananku.”

Melihat seatmate-nya sudah terlihat lebih ‘mencair’, Younghyun memutuskan membuka obrolan lebih jauh.

“Kalau boleh tahu, apa tujuanmu ke Busan?”

Younghyun merasa pertanyaannya salah. Sebab, ia bisa menangkap sekelebat sorot sedih pada mata Wonpil saat mendengar pertanyaan itu.

“Eh, you don’t have to answer it. I’m sorry for being insensitive.” Younghyun berujar panik.

Wonpil mengulum senyum kecil. “Kalau kamu?”

“Aku mau cari inspirasi. Belakangan ini, otakku nge-stuck. Ideku gak ada yang oke. Sekalipun ada, rasanya kayak bukan karyaku yang biasa. Aku produser musik, by the way. I told my partner about this and he told me to get some fresh air until my brain feels fresh again. Sempat bingung mau ke mana, tapi katanya coba cari tempat yang gak terlalu jauh tapi cukup bisa bikin tenang. Then I think, Busan it is.”

“Hmm.” Wonpil mengangguk paham. “I come with the same reason. Wait, no, I can’t say it’s the same. Aku didiagnosis depresi. Then my psychologist suggested some things to do and traveling is one of them.

Kali ini, giliran Younghyun yang mengangguk paham. “Thank you for telling me your reason.”

“Bukan hal besar,” sahut Wonpil ringan. “Kamu produser, kan? May I know your genre?”

“Hmm.. Pop? And rock? A bit ballad?” jawab Younghyun. “Sebentar.” Ia mengambil ponsel di pangkuannya.

If you know their songs… I produced and wrote most of them.” Pemuda itu mendekatkan diri, menunjukkan profil sebuah band yang cukup ternama di layar ponselnya pada Wonpil.

Mata Wonpil membulat. “I know their songs! Whoa, you make good music.”

Respons itu menuai senyum malu yang dipuji. “Biasa aja…”

No, it’s not ‘biasa aja’! Those songs are amazing!” Berbanding terbalik dengan Wonpil pada awal perjalanan, kini ia terlihat lebih berenergi.

If you said so… Would you tell me which one is your favorite? Atau yang sekiranya cocok di kamu dari segi musik atau lirik.”

“Hmm.” Wonpil berpikir sejenak. “Then I would pick For Me. Itu kamu yang nulis jugakah?”

Cengiran kecil menjadi jawaban atas tanya yang dilontarkan. “Hehe.”

Wonpil kembali terbelalak. “Woooow! Aku suka banget sama lagu itu!” serunya. “Liriknya bagus banget…” Nadanya memelan seiring dengan pujian yang dilontarkan. 

Kemudian ia menatap teman perjalanannya dan berucap, “Thank you for making those songs. Somehow, your songs gave me a bit of motivation to stay here a bit longer.” 

 

Untuk sejenak, Younghyun hilang kata.

Mulutnya terbuka, hendak menanggapi kalimat Wonpil, tetapi tak ada satu pun kata yang keluar. 

Mereka masih bertukar pandang. Wonpil tersenyum kecil, ada segenggam ketulusan yang bisa Younghyun tangkap di sana. Melihat senyum itu, Younghyun melipat bibirnya, lantas memutus kontak mata mereka. 

Mendengar orang asing yang belum ada dua jam mengetahui namanya tiba-tiba memuji karyanya membuat Younghyun merasa ada sesuatu yang hangat mengalir di dada. Ia sudah cukup sering mendapat pujian atas karyanya yang dinyanyikan oleh orang lain, tetapi mendengar pujian yang ditujukan untuknya secara langsung terasa betul-betul berbeda. 

Tak lama kemudian, Younghyun menoleh lagi. “Mungkin ini alasannya aku harus bepergian,” katanya, disertai seutas senyum cerah. “Thank you for your warm words, Wonpil,” lanjutnya lembut. 

 

Percakapan mereka berlanjut. 

 

“Kalau boleh tahu, memang rencananya kamu mau bikin musik yang kayak gimana?” tanya Wonpil. 

“Hmmm,” Younghyun berpikir sejenak. “I don’t know. Tapi yang jelas bukan cinta-cintaan, lagi nggak ada mood-nya. Mungkin soal… kehidupan orang dewasa.”

“Arah positif atau negatif?” Wonpil bertanya lagi. 

“Oh, come on. Memangnya ada yang positif dari kehidupan sebagai orang dewasa ini?” canda Younghyun. 

Teman perjalanannya manggut-manggut. “Betul juga.” 

“Hmm.. Aku nggak berniat sok-sok ngasih kamu saran atau gimana, ya, tapi mungkin ini bisa jadi bahan untuk kamu pertimbangkan. Siapa tau bisa bikin kamu tercerahkan.” Wonpil memulai dengan hati-hati. Younghyun tidak menjawab, tetapi sorot matanya terlihat antusias, menanti Wonpil melanjutkan. 

“Kamu pernah mikir gak, sih, kalau orang dewasa tuh kayak zombie?” Tanpa menunggu Younghyun menjawab, Wonpil melanjutkan. “Aku sendiri sering merasa kalau aku bekerja cuma karena itu rutinitas yang harus dijalani aja. Aku menjalani hidup ya karena aku harus dan kebetulan aku masih ada di sini, bukan karena ada sesuatu yang harus aku capai atau aku gapai. Hari demi hari terlewati gitu aja, sampai lama-lama aku gak bisa merasakan diriku sendiri.”

Ia menghela napas sejenak. “Rasanya jadi kayak zombie. Hidup tapi gak hidup. Berjalan, tapi otaknya kosong. Raganya ada, tapi hatinya entah ke mana.” Wonpil tersenyum, tipis nan miris. Ia memandang lurus ke depan dan kembali menghela napas. 

Detik berikutnya, ia tersenyum cerah dan menoleh ke arah Younghyun. “Itu sedikit bahan dariku, hehe. Semoga bisa membantu. Tapi kalau ternyata enggak pun gapapa. Aku cuma mau berbagi sedikit aja, kok.” 

Tatapan Younghyun sulit dibaca. Meskipun begitu, Wonpil tidak menemukan sorot kasihan dalam mata itu sama sekali. 

Dengan intonasi pelan namun pasti, Younghyun buka suara. “Kalau aku jadikan lagu… Boleh?”

“Loh, tentu! Aku berbagi kan, rencananya memang untuk nambah-nambahin bahan pikiran kamu. Siapa tahu bisa jadi mahakarya kamu berikutnya,” jawab Wonpil antusias. 

Perlahan, kedua sudut bibir Younghyun tertarik. “Makasih, ya. I, for sure, will make this another masterpiece. And I will give the credit to you.

“Eh, nggak perlu — ”

“Kamu berhak dapat kredit itu, Wonpil.”

Wonpil menggeleng. “Nggak usah. Aku betulan cuma mengeluarkan apa yang ada di kepalaku aja. Sisanya, kamu bisa tentukan sendiri.”

“Keren banget, deh, tapi. Aku rasa kamu cukup berbakat kalau nulis lirik.” 

Wonpil mengibaskan tangannya. “Itu pemikiran spontan aja.”

“Oh, tapi kalau boleh tau, what are you doing to live this life?”

I run a restaurant.

Younghyun terbelalak. “WOW?!”

“Yeah, wow.” Wonpil mengangguk kecil. “Tapi buat apa wow kalau bikin berasa kayak zombie.” 

 

 

We will soon be arriving at Busan Central Station, the final destination of this train. Please make sure you have all your belongings with you when leaving the train. Thank you for traveling with fast and convenient KTX.

 

 

Suara announcer menginterupsi obrolan mereka.

“Udah mau sampai, nih. Boleh tolong geser?” Wonpil mengisyaratkan seatmate-nya kalau ia hendak mengambil bawaannya di kabin atas. 

“Hng? Oh!” Younghyun buru-buru berdiri, kemudian menurunkan ranselnya sendiri dan sebuah ransel abu-abu. 

Is this yours?” Ia memastikan pada Wonpil yang dijawab dengan anggukan. 

Thank you,” ucap Wonpil sambil menerima ranselnya. 

No problem.”

 

Kembali terdengar pengumuman kalau kereta akan tiba di tujuan akhir. Keduanya bersiap turun. 

 

Kereta berhenti. Pintu terbuka. Orang-orang melangkah keluar. Pun dengan kedua orang yang bertukar cerita selama perjalanan. 

 

Pintu keluar stasiun tampak jelas di depan mata. 

 

Younghyun dan Wonpil beradu pandang, lalu refleks bertukar senyum. 

“Terima kasih karena mengajakku bicara sepanjang jalan, Younghyun.”

Nooo, aku yang terima kasih karena kamu menyambut baik obrolanku. Maaf kalau aku yapping terus dan bikin kamu gak nyaman.” 

Wonpil menggeleng. “Not at all. Malah aku jadi berpikir bahwa perjalananku kali ini akan membawa hasil baik, karena aku udah mendapatkan awal yang baik.” 

Younghyun tidak bisa menahan senyumnya yang kian melebar. “I take that as a compliment.”

It is.” 

“Aku juga berterima kasih karena kamu udah mendengarkan karya-karyaku. For me, it’s more than enough.” 

You make great music. Of course I need to appreciate it when I meet the person behind the song,” balas Wonpil. “Semoga perjalananmu di sini juga membawa hasil baik, ya, Younghyun. Hope your brain got the fresh air you need.” 

I got the fresh air already, thanks to you.” Younghyun berucap tulus. “Oh ya, boleh aku tahu nama restoranmu? Aku mau berkunjung nanti.” 

“Lucky Fill. Ada di beberapa distrik di Seoul. You can search it.” 

“Will do!” Younghyun meletakkan ponselnya di saku coat-nya. “I hope you’d get better after your journey. I hope your heart feels lighter when you’re back.” 

Wonpil tersenyum. “Kayaknya kita harus berpisah di sini. Nice to meet you, Younghyun.” 

Nice to meet you, too, Wonpil. Enjoy your trip! Oh, and thank you for the sandwich!"

Dan mereka berpisah. 

 

Waktu yang dibagi antara mereka sebagai teman perjalanan memang tidak lama, tetapi mereka berhasil berbagi perasaan ringan dan suasana hati yang baik saat melangkah untuk memulai waktu masing-masing.

-

 

Empat bulan berlalu. 

 

Wonpil baru saja pulang selepas memeriksa beberapa hal di restoran. Begitu selesai mandi, ia terduduk di ranjang sembari membuka internet untuk mencari tontonan. 

 

 

 

LEMONDAY 3RD FULL ALBUM COMEBACK COUNTDOWN LIVE

 

 

 

Video yang sedang berlangsung itu berada di deretan teratas. 

Begitu membaca tajuk videonya, jari pemuda itu mengklik video tersebut.

 

Wonpil tahu grup ini. Ia mendengarkan beberapa lagu mereka. Namun, alasan kuat ia memutuskan menonton live tersebut adalah karena grup inilah yang ditunjukkan penumpang yang duduk di sebelahnya dalam perjalanannya ke Busan empat bulan lalu. 

 

Lemonday terdiri atas 3 orang yang tidak Wonpil hafal namanya. Yang Wonpil tahu, mereka bertiga memegang instrumen berbeda. Ada yang memegang gitar, keyboard, dan drum. Vokalisnya adalah si pemegang gitar dan keyboard. 

 

Saat video itu berputar, topik yang sedang dibahas adalah lagu pilihan mereka dalam album baru ini. 

 

 

“How about you, Sungjin? What’s your top pick?” Anggota berambut pirang dan berkacamata bertanya pada anggota yang duduk di tengah. 

“Oh, aku suka Zombie.” Anggota yang dipanggil Sungjin itu menjawab, kemudian ia menatap kamera. “Untuk para Haru yang belum tahu, Zombie ini adalah satu-satunya lagu di album ini tanpa campur tangan kami di dalamnya.” 

“Apa alasannya?” 

“Sudah pasti alasannya adalah proses kreatif di baliknya.” Sungjin tersenyum. 

“Nah, ini cerita menarik!” Satu anggota lainnya menyahut. “Coba ceritakan!” 

Sungjin mendengus malas pada anggota yang menyuruhnya bercerita, tetapi ia tetap membuka mulut. “Lagu ini tercipta ketika produser kami, YoungK-nim, pergi ke suatu tempat untuk brainstorming. Nah, waktu di kereta, ia mengobrol dengan teman sebelahnya. Mereka mengobrol soal alasan pergi ke tempat itu dan lain-lain, lalu si teman perjalanannya ini berbicara tentang manusia yang bertingkah seperti zombie."

"And the rest is history," sambung anggota berambut pirang.

 

 

Wonpil terpaku begitu sadar kalau cerita yang dibagikan anggota bernama Sungjin ini adalah cerita yang melibatkan dirinya. 

 

 

“Tapi lucu juga, ya, dalam waktu singkat itu mereka udah deep talk,” celetuk anggota berambut hitam yang duduk di ujung. 

“Yap, dan itu yang menjadikan proses di balik lagu ini menarik.” 

“Ini Haru ada yang komentar, ‘wah, harusnya penumpang itu namanya ditaruh di kredit album!’ Hmm, itu benar. Tapi sayangnya, kata YoungK-nim, dia menolak,” ujar anggota berambut pirang. “Yeah, intinya you know who you are, lah. Mari berikan kredit pada YoungK-nim dan teman perjalanannya dengan mendengarkan Zombie sebanyak-banyaknya ketika rilis!”

“Eh, siapa tahu si teman perjalanannya ini sedang menonton!” Anggota berambut hitam berseru. “Hai, hai, kalau kamu sedang menonton live ini, kami ucapkan terima kasih banyak atas inspirasinya yang luar biasa! Terima kasih juga karena sudah mau mendengarkan produser kami yapping HAHAHAHAH!” 

“Dowoon ada benarnya. Kasihan juga kalau penumpang ini harus mendengarkan ocehan produser kami. Thank you so much, ya!” Anggota berambut pirang melambaikan tangan ke kamera. 

 

 

 

Wonpil tidak pernah tahu siapa saja anggota Lemonday, tetapi mendapat sapaan secara tiba-tiba dari mereka membuat tawanya pecah seketika. Hatinya menghangat. 

“Terima kasih juga, teman-teman Lemonday,” balasnya pelan pada layar ponselnya, “dan tentu saja, produser kalian.”

 

 

 

Heeeei, sudah mau pukul 18.00! Mari kita sudahi, karena teman-teman Haru akan mendengarkan album ketiga kami.” 

“Jangan lupa beritahu kami lagu andalan kalian, ya!”

“Kami Lemonday, terima kasih dan sampai jumpa!” 

 

 

 

Video live berakhir. 

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00.

Tanpa pikir panjang, ia membuka platform musik andalannya untuk mencari nama grup yang baru saja ia tonton.

 

Album baru mereka muncul pada pencarian teratas. Dan lagu Zombie ada di deretan ketiga. 

Ia menekan judul itu. 

 

Breathing, but I’ve been dying inside
Nothing new and nothing feels right

I became a zombie
And there’s nothing that can cure me

So tomorrow I know I’ll be just the same
You’ll see me wishing to stop and close my eyes

 

Wonpil tersenyum, penuh haru. 

Obrolannya dengan orang asing yang ditemuinya ternyata betul-betul bisa menjadi sebuah mahakarya yang akan sampai ke telinga banyak orang. 

Notes:

cerita ini terinspirasi ketika aku lagi di kereta... terus mikir HMMM kayaknya seru kalau yp berkenalan di kereta yang kemudian bisa menghasilkan sebuah lagu baru~ DAAAN inspired by their Busan trip, of course!