Work Text:
"KUSUT amat mukamu? Bima belom ada kabar?"
Suara lembut Nakula tiba-tiba muncul di samping kiri Sadewa seiring dengan bunyi bar stools yang ditarik sebelum ia duduki. Sadewa menghela napasnya. Rusak sudah acara menyendirinya malam ini. Dari semua bar yang tersebar di ibu kota, tentu saja saudara kembarnya itu bisa menemukan Sadewa dengan mudah.
Berdempet-dempetan berbagi ruang rahim selama sembilan bulan lebih membuat dirinya lebih mudah dibaca oleh Nakula. Sadewa tidak terlalu terganggu sebenarnya. Mungkin sebagian kecil dari dirinya malah ingin ditemukan malam ini. Kesibukannya hanya menikmati campuran minuman berdasar wiski bertajuk Manhattan di dalam gelasnya sendirian. Sesekali memberikan gestur tak ingin diganggu dan menolak halus semua kode-kode yang datang dari sekitar dalam mengajaknya turun ke lantai dansa atau untuk sekadar beradu rayu untuk mengecek siapa yang akan diajak pulang ke mana.
"Rese, ya, kau."
Sadewa melirik ke sampingnya. Nakula memakai celana hitam lurus yang memamerkan kaki jenjangnya. Dipadukan dengan kemeja berbahan sutera berwarna biru muda yang senada dengan highlight di rambutnya. Ia merasa banyak mata yang mengarah pada tempat duduknya sekarang. Tidak heran, Nakula selalu memberikan efek memikat di mana pun ia berada.
Sadewa sering memperlihatkan gestur tidak suka pada yang terang-terangan merayu kembarannya itu saat masih berada dalam jarak pandangnya. Nakula terkadang meminta bantuannya untuk mengusir orang-orang yang tak diinginkannya. Namun, kini ia terlihat fokus pada Sadewa. Pandangannya menelisik, membuat Sadewa harus berpura-pura sibuk menatap bulir-bulir udara di gelasnya.
"Call aja kalo khawatir sih kataku."
"Shut it, Na. He's a big guy, he can handle tonight."
"Exactly."
"What?"
"Bima udah gede 'kan kamu bilang? Nggak usah kenceng-kenceng amat makanya. Kecualiii ...."
"Apa?"
"Nggaaak. Kamu bilang nggak jeles 'kan sama calon pacarnya Bima?"
"He's A FRIEND, Nakula." Sadewa tidak yakin dengan apa yang ia sendiri katakan. Saat menoleh, Nakula menatapnya dengan satu alis yang terangkat menyebalkan. Ia merasa harus meyakinkan lelaki di hadapannya ini. "Kalo dia dapet orang baek, ya, saya ikut senenglah."
Kini kedua alis Nakula yang naik.
"Yeah, yeah, whatever."
Nakula lalu bersandar pada backrest kursi bar sembari menatap ke belakang bahu Sadewa. Lelaki jelita itu melambaikan jemari lentiknya sambil tersenyum miring ke entah-siapa. Sadewa menoleh dan mendapati lelaki berparas tampan, mungkin di usia awal 40-an, dengan setelan kantor yang sudah dilonggarkan sedang mengangkat gelasnya ke arah mereka sambil tersenyum penuh arti pada saudara kembarnya. Sadewa mendecih sembari menggelengkan kepalanya.
"Gih, samperin. Tipemu banget itu."
"Mm, ini mau. Kamu nggak apa kutinggal?"
"Saya bukan anak umur lima belas, Na. Just go."
"Don't do anything stupid, Dewa. I'm serious. Or do." Nakula menaik-turunkan kedua alisnya jahil. SAdewa melengos.
"Tsk, I'm not you, Bawel. Bungkus dah tuh si Om Ganteng. Nggak pake cincin kawin saya liat. Go. Shoo."
"Okeee, iyaa, kupergi."
"Good."
"Just want to make sure you don't go ruin someone else's date because you're just so fucking stubborn and too busy being denial prick here."
"Heh, muncungmu!"
Belum Sadewa sukses melayangkan cubitan di hidung Nakula, lelaki itu sudah terlebih dulu melesat lincah menghindarinya sambil cekikikan lalu melangkah mantap ke arah pria yang tak henti menatapnya penuh minat. Ia pasti akan dibawa Nakula pulang ke apartemennya. Sadewa bergidik. Mengenyahkan pikiran-pikiran protektif yang mengganggu dan membiarkan adiknya bersenang-senang dengan caranya sendiri—caranya yang biasa—tanpa perlu ia intervensi.
Apakah Bima juga akan membawa seseorang pulang ke rumahnya malam ini?
Inilah yang membuat Sadewa kalut kini. Ia mendapat kabar dari sepupunya bahwa Bima akan berkencan dengan salah seorang kenalannya di dating app. Ia tahu berita sepenting itu dari Arjuna, bukan dari Bima sendiri. Bukan salah Bima, sebenarnya. Keduanya kini sedang berada dalam situasi yang kagok untuk saling berkabar soal kawan berkencan.
Mengingat memori beberapa waktu ke belakang membuat Sadewa menenggak wiskinya sampai habis.
Setahun lalu.
Bima mengetuk pintu kamarnya. Sadewa tengah berada dalam turnamen Valorant sengit kala itu. Satu kali lirikan ke arah pintu, kemudian Sadewa memberi tahu teman-teman satu timnya bahwa ia perlu istirahat dadakan. Untungnya sudah ada sepupunya yang siap sedia untuk dijadikan pemain cadangan penggantinya.
"Kenapa, Bim?"
"Putus, Mas." Cengiran Bima lebar, membuat Sadewa refleks melepas headphones dan mematikan komputernya.
"Kenapa?" Sadewa berjanji akan menghajar mantan Bima jika lelaki itu memutuskan hubungan dengan kawannya karena ia berselingkuh. Sadewa benci lelaki itu sejak awal Bima memperkenalkan mereka.
"Dijodohin dia. Sama cewek. Nggak bisa nolak." Senyum Bima tidak sampai ke mata.
Pagi harinya, lengan Sadewa keram karena semalaman dijadikan bantal Bima Bayusena.
Sembilan bulan lalu.
"Kata Yudis, kamu lagi deket sama berondong, Bim?" Sadewa membuat nada pertanyaannya sedatar mungkin walau dalam hati rasanya ingin menghujani banyak pertanyaan untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Ah, itu ...."
"Mm. Oke anaknya?"
"Nggak akan kulanjut kayaknya, Mas."
"Oh? Kenapa tuh?"
"Diporotin ternyata aku. Juna sih yang bikin aku ngeuh." Bima tertawa seperti bocah. Sadewa menatapnya untuk beberapa lama. Lalu menghela napasnya. Gamang antara ingin mengasihani atau menyukuri Bima yang tak kembali berakhir dengan seseorang yang tidak pantas untuknya.
Enam bulan lalu.
"Ada yang deketin aku, Mas. Baik banget, perhatian, kebapakan."
Sadewa tidak suka ke mana cerita ini akan berujung. Jemarinya berhenti mengetik. Keduanya sedang berhadap-hadapan melakukan Work from Anywhere bersama di sebuah kedai kopi favorit Bima.
"Terus?"
"Punya anak istri."
"Anjing."
Bima terbahak sembari memegang perutnya. Tidak membaca bagaimana amarah dengan cepat telah menguasai Sadewa.
"Udah aku tolak. Cuma nerornya, buset. Ngejar aku ke wasaf, insta, twit, Facebook segala. Gongnya tadi pagi telepon ke kantor—eh, panjang umur. Nih, telepon dia. Sehari bisa lima-enam kali begini dia." Bima menatap ponselnya dengan tatapan enggan. Sadewa menengadahkan telapak tangan kirinya. Bima menatapnya beberapa saat sebelum memberikan telepon genggamnya pada Sadewa. Raut ragu terpapar jelas di wajahnya.
"Halo? Ini bukan Bima. Mm. Saya dengar Anda nggak percaya, ya, waktu pacar saya bilang dia unavailable? Anda kurang paham Bahasa Indonesiakah? KTP-nya asal mana, by the way?"
"Mas Dewa—" Bima berbisik gelisah, kentara menginginkan Sadewa segera menyudahi pembicaraannya di telepon.
"Sure. Saya bisa jelasin langsung ke Anda. Kapan di mana, Anda aja yang tentukan. Sebentar saya hubungi pakai nomor pribadi saya. Oh, ya, nama saya Sadewa. Pacarnya Bima."
Saat Sadewa menutup panggilannya lalu menyambar ponselnya sendiri untuk menghubungi suami orang itu, Bima mengerang di sampingnya sembari menutup wajahnya dengan lengan kanan.
"Kenapa diperpanjang sih, Maaaas?"
Ganti Sadewa yang terbahak sekarang. Bima tak perlu tahu betapa menyenangkannya menghalau hama-hama tak berguna supaya menjauh dari kehidupannya, kehidupan Bima-nya. Bima tak perlu tahu betapa seriusnya Sadewa di sini. Soal ini.
Tiga bulan lalu.
"Chat sama siapa sih, senyam-senyum sendiri gitu?"
"Gladys. Cantik deh, Mas. Look."
Sadewa enggan menerima ponsel yang disodorkan Bima. Namun, tak ayal ia ambil juga. Terpampang foto seorang perempuan cantik berpostur tinggi. Langsing di tempat yang tepat dan berisi di tempat yang tepat. Profil Instagram-nya terlihat seperti model profesional.
"Mm," hanya itu komentarnya.
"Gombalnya jago banget lagi. Bikin merinding."
"Oh, ya? Kayak gimana?"
Bima memindahkan layar ponselnya ke aplikasi yang lain. Terpampang percakapan yang membuat isi perut Sadewa terasa akan dikeluarkan paksa.
"Tsk. Malas. Yang kebanyakan nge-rizz gini skip ajalah. Cek lagi deh, Jangan gampang dirayu, kamu."
"Gitu, ya, Mas?"
Setelahnya, Sadewa bisa tersenyum tenang. Semangat lelaki itu untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya tampak menguap sudah. Perhatian dan fokus Bima sudah kembali padanya.
Sebulan lalu.
"Kenapa nggak kamu aja yang sama aku, Mas?"
"Bima, no ...."
"Mas takut? Kita bisa nyoba pelan-pelan dulu. I promise aku bisa—"
"Selama ini kita banyak diskusi soal ini kenapa kamu nggak ngerti-ngerti sih, Bim? Saya mau kamu cari orang yang terbaik buat kamu. Dan itu jelas bukan saya."
"Kenapa jadi kamu yang nentuin siapa yang pantes apa enggak buat aku, Mas? Kamu nggak ada hak."
"Susah ngomong sama kamu."
"Sama. Capek ngomong sama pengecut."
"Bima—"
"Kamu pernah nggak sih, Mas, sekali aja ngeliat aku kayak ... manusia? Laki-laki biasa, yang punya perasaan?"
"Tentu aja saya ngeliat kamu sebagai manusia. Cuma saya pikir kamu ngerti saya. Saya selama ini berusaha ngelindungin kamu—"
"Dari apa? Dari orang kayak kamu? Aku bukan anak umur lima belas, Sadewa."
"Salah saya anggap kamu ngerti basis hubungan kita gimana. Kamu juga paham stance saya sama hubungan yang pake komitmen kayak gimana."
"Yang aman-aman aja kamu ajak kelonan, ajak ciuman, kapan aja tanpa ikatan apa-apa kayak aku, ya, Mas?"
"Harusnya kamu ngerti kalo itu semua—"
"Iya. Salahnya di aku. Aku yang tolol. Aku nggak ngerti. Maaf. Paling bodoh emang aku."
Malam itu, Bima berjalan keluar dari apartemennya tanpa solusi yang disepakati keduanya. Tidak dengan langkah tergesa. Tidak dengan pintu yang dibanting. Bima terlalu tenang saat keluar dari rumahnya. Juga dari kehidupannya.
Sadewa tidak menghentikannya dan memintanya untuk kembali.
Sejak saat itu, tidurnya kacau. Pun nafsu makannya menghilang entah ke mana.
Sadewa Sagara tidak tahu bisikan setan macam apa yang memengaruhi keputusannya untuk mengarahkan mobilnya ke rumah Bima Bayusena. Padahal bisa saja Bima belum pulang dari kencannya atau lelaki berambut panjang itu sudah pulang dan memiliki tamu di rumahnya yang niat ia ajak, bukan tamu tak diundang seperti Sadewa malam ini. Ia tidak peduli.
Sadewa Sagara, lelaki dengan segala teori soal relationship dan aneka logikanya soal menghindari patah hati itu mengelak menggunakan akalnya malam ini. Ia memilih mengikuti instingnya yang mengarahkan mobilnya melaju kencang kini—jam di dasbor mobilnya menunjukkan pukul satu pagi, memberinya kesempatan untuk mengebut dengan leluasa di jalanan yang relatif lengang.
Saat sudah berada di depan rumah tujuannya, tiba-tiba ia diserang kepanikan. Harus apa sekarang? Bolehkah ia masuk? Bilang apa nanti ia pada Bima? Alasan apa yang masuk akal? Jika diusir, lalu bagaimana? Tentu saja Sadewa bisa pulang ke apartemennya sendiri, ia bukan tunawisma, tapi bagaimana ia harus menghadapi penolakan Bima?
Ia menoleh ke rumah bergaya minimalis yang terlihat rimbun dengan aneka pepohonan hias dan warna cahaya hangat dari lampu-lampu taman yang dipasang tak terlihat mata. Rumah singgah favoritnya itu terlihat lebih homey dibanding rumah di samping-sampingnya. Sadewa merindukan tempat ini, tempat pulang favoritnya. Sudah satu bulan sejak terakhir ia menginjakkan kaki di halaman rumah ini.
Astaga.
Satu bulan tanpa Bima hadir di hidupnya. Bagaimana bisa Sadewa hidup selama itu?
Jika diingat-ingat, ia masih bisa berfungsi dengan baik. Pekerjaannya di kantor selesai tanpa cela. Ia masih sering berkumpul dengan para sepupu dan teman-teman lainnya. Namun, memang ada yang hilang. Setengah dari dirinya. Mungkin lebih. Ia merasa orang-orang di sekitarnya mengkhawatirkan kealpaan isi kepalanya di acara yang riuh sekali pun. Mungkin juga mereka menganggap Sadewa menyedihkan dengan karena hampir setiap saat ia akan mengecek ponselnya, berharap muncul pesan atau telepon dari seseorang yang spesifik. Satu bulan ini pula Sadewa harus merasa cukup dengan unggahan Bima di Instagram story-nya saja yang memperlihatkan bahwa lelaki itu masih hidup.
Ada mobil Bima yang diparkir di carport, membuat Sadewa bisa sedikit bernapas lega, pertanda si empunya ada di rumah. Walau masih tidak ada jaminan ia sedang sendirian dan mungkin kedatangan Sadewa akan mengganggu apa pun yang sedang Bima lakukan di dalam dengan tamunya. Namun, jika benar ada orang lain di dalam dan tamu tersebut adalah teman kencannya, Sadewa ingin mengganggu mereka sampai orang itu pergi.
Persetanlah.
Dengan tekad itulah ia mematikan mesin mobilnya di belakang mobil Bima. Untungnya rumah Bima berada sudut buntu kompleks yang membuat Sadewa bisa memarkir mobilnya di jalan tanpa khawatir mengganggu tetangga. Ia menyambar bungkusan di jok sebelahnya sebelum mematikan dan mengunci mobilnya.
Saat pintu depan rumah itu terbuka, Sadewa rasanya ingin menangis saja. Bima Bayusena berdiri di hadapannya. Rambut panjangnya ia sanggul tinggi dengan beberapa helai nakal yang lepas menjatuhi pelipis kanan dan kirinya. Kacamata dengan setengah bingkai hitam bertengger malas di hidung bangirnya. Bima terlihat nyaman dengan kaus putih polos dan celana piama bermotif kotak-kotak berwarna cokelat dan merah muda dengan bahan yang tampak lembut dan hangat. Ada sandal rumahan tebal dihiasi bordiran Pompompurin yang ia pakai dan membuat Sadewa tersenyum kecil, adalah hadiah darinya tahun lalu hasil belanja di Sanrio Ginza.
"Mas Dewa?"
"Hey ... belum tidur?"
"Belum ... sih?" Bima mungkin bingung, tapi lelaki itu berhasil menutupi keheranannya, walau nada khawatir dan kerutan di tengah dahinya kembali muncul saat menatap Sadewa dengan seksama, dari kepala sampai kaki. "You good, Mas?"
"Me? Good, I'm, uh—ini saya bawain bakwan masih anget." Sadewa mengumpat dalam hati. Mengapa ia salting begini?
Dan, ya ampun, apa Bima tidak akan memeluknya? Sudah satu bulan, loh, mereka tidak bertemu?
"Oh ... makasih?"
"Buat kamu ... nyemil? Lagi ada tamukah? Sekalian buat—" Bima menatap Sadewa heran, lalu tersenyum sambil menggeleng.
"Aku sendirian. Masuk, Mas ...."
Bima membuka pintu rumahnya lebar-lebar, mempersilakan tamu tak diundangnya masuk. Demi apa pun, Sadewa ingin menangis sekarang. Ia rindu sekali pada manusia di hadapannya kini.
Setelah menggantung jaket kulitnya di gantungan dekat pintu masuk, Sadewa mengikuti Bima masuk ke dalam. Ia mengambil duduk di sofa single, bukan tempat duduknya yang biasa karena entah mengapa Sadewa merasa menjadi tamu asing malam ini. Bukan sedang mendatangi kawan lamanya. Masih ada atmosfer yang tidak familier di antara keduanya. Untungnya Bima memberikannya ruang untuk bernapas dengan pergi ke dapur mungilnya.
Lelaki itu kembali ke ruang tengah dengan teko kaca berisi air bening, gelas dan piring untuk bakwan bawaan Sadewa. Ia terlihat menikmati waktunya sendiri saat memindahkan bakwan dari kotak kertas ke atas piring.
"Gimana date-nya tadi?"
"Mm?"
"Kata anak-anak, kamu ada kencan malem ini. Lancar?"
"Oh ... iya, lancar. Anaknya baik. Kami banyak nyambungnya. Terus ... let's say he's whole hutan Amazon." Bima terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. Kedua pipinya bersemu.
Sadewa seharusnya senang. Seharusnya. Akhirnya teman kecilnya ini bertemu dengan seseorang baik yang tidak aneh-aneh seperti mantan-mantan sebelumnya. Namun, ada jarum-jarum kecil tak kasat mata yang menusuk kulit arinya di berbagai titik yang membuat ia ingin menangis sambil berlari.
Ada apa dengan Sadewa Sagara malam ini? Ia bersumpah hanya menghabiskan satu gelas alkohol saja, mengapa melodramanya tidak selesai-selesai begini?
"Oh. Siapa namanya?" tanyanya acuh tak acuh sembari menyeruput air mineralnya hampir tandas satu gelas.
"Ega. Dia lagi S3 di Nagoya sebenernya, di sini liburan doang cuma ampe minggu depan."
"LDR dong nanti?"
"Mm, let's see, ya. Aku nggak kepikiran jauh-jauh dulu sebenernya."
"Nggak digas aja? Katanya anaknya baik?" Sadewa terus bertanya seperti perutnya tidak terasa habis ditonjok saat mengatakannya. Cari penyakit. Sadewa bisa mendengar suara Nakula menertawakannya di kepala.
"Ini anggep aja buat nambah temen aja dulu. Ngikutin nasehat kamu, Mas. Bener, 'kan, aku?" Bima tersenyum sampai sepasang matanya membentuk bulan sabit terbalik. Tusukan jarum-jarum kecil di kulit Sadewa sekarang terasa menyebar ke sekujur tubuh. Ia benar-benar merindukan orang di hadapannya ini.
Nggak, Bim. Jangan didenger nasihat saya. Sesat.
"Lagian ...."
"Iya?"
"Aku nggak biasa move on cepet. Kamu juga tau, Mas." Bima kembali menatapnya. Senyumnya tampak sedih kali ini. Ia lalu pamit untuk mengambil saus bakwan. Sadewa ingin menampar dirinya sendiri kuat-kuat. Ia tahu apa siapa yang membuat Bima sesedih itu.
Bima Bayusena tidak cocok sedih begitu.
"Kalian ada ... rencana next date?"
"Mm? Oh, masih tentatif sih. Sebelum dia jalan lagi mau ketemu dulu sekali. Belum tau kapan. Aku icip bakwannya ya, Mas—"
"Bim ...."
"Iya? Duh, masih anget, enak. Kamu makan juga, Mas!"
"Gimana kalo ... kamu jangan jadwalin next date sama dia."
"Eh? Why? Kalo Mas Dewa curiga sama anaknya, aku kasih profilnya misal kamu mau background check jadi bisa—"
"No, no, just—don't, Bima. Please?"
"Kenapa, Mas?"
"Nanti ... saya sama siapa?"
Bima melongo mendengar jawaban Sadewa. Lelaki itu menyimpan setengah bakwannya kembali ke piringnya lalu mengelap jemarinya yang berminyak dengan tisu. Ia berdeham sebelum mengeluarkan pernyataan bernada pelan yang telak meninju Sadewa di ulu hati, meskipun lelaki itu terdengar hati-hati mengutarakannya.
"I need ... more reasonable excuse, Mas Dewa."
Sadewa merasa susah menarik napas. Panik. Pandangannya berkunang-kunang dan tidak fokus. Sampai Bima menyentuh pergelangan tangannya. Nyawanya seperti kembali turun ke bumi. Menyatu dengan raganya yang tengah duduk di ruang tengah Bima, tuan rumah yang tengah menatapnya khawatir. Yang kedua telapak tangannya kini sedang digenggam Sadewa.
"Hey ... you okay?"
"Can you, uh, hold me?"
"Sure, Mas. Hey, hey, hey—"
Begitulah.
Satu sentuhan ringan yang Bima berikan di tangannya mampu membuat Sadewa luluh lantak juga pada akhirnya. Tubuhnya bergetar menahan isak, yang ujungnya lolos juga. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan seketika hilang saat Bima Bayusena membawanya ke dalam pelukan. Sadewa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bima yang berlutut di hadapannya. Menghirup semua aroma lelaki itu sebisanya. Ia juga dapat merasakan napas Bima yang menyapu perpotongan lehernya. Lelaki itu melakukan yang sama. Sepeti dua manusia yang diberikan meja penuh hidangan kesukaan pada cheat day setelah menjalani diet ketat.
"Sama saya aja, Bima. Nggak perlu LDR, nggak perlu kenalan lagi dari awal. Jangan cari orang baru, Bim. Sama saya aja. S-sorry, saya lelet. Saya banyak nyakitin kamu, maaf, maaf banget. Kacau saya nggak ada kamu, Bima. Mau mati."
Entah Bima dapat memahami atau tidak racauannya yang terpendam di bahunya, yang pasti Sadewa merasa dekapan Bima mengetat di sekeliling tubuhnya.
"Mas Dewa, Mas udah aku maafin. Jauh sebelum Mas minta maaf. Jangan mati dulu dong, nanti aku sayang-sayangin siapa?"
Sadewa melonggarkan pelukannya untuk bisa menatap Bima. Perlahan, seperti enggan, Bima menjauhkan dirinya untuk bisa saling memandang.
Sayang, katanya.
"Bim ...."
"Iya, Mas Dew?"
"Jangan move on dulu."
"'Kan tadi kubilang aku orangnya susah move on. Kamu tenang aja. Patah hati-patah hatinya masih ada ini. Masih basah." Kedua mata Bima digenangi air mata. Sadewa ingin mengecupnya.
"Maaf, ya? Nanti saya obatin yang patah-patahnya."
"Waktu itu ada yang minta aku jauhin orang yang suka ngegombal. Gimana, ya, ini?" Bima memasang wajah pura-pura berpikir. Sadewa terkekeh.
"Jangan didengerin. Orang denial itu. Plenger."
Bima tertawa. Jantung Sadewa tampaknya sempat berhenti berdetak sepersekian detik, barusan.
Sejak kapan Bima setampan ini?
Tidak, Sadewa sudah tahu seindah apa Dewa, sedari dulu. Ia kerap mendapati dirinya menatap terlalu lama saat Bima sedang berbicara soal apa pun. Kesadaran itu membuatnya ngeri. Itu dulu. Sekarang tampaknya ia harus mulai berdamai dengan kengeriannya yang menyenangkan.
"Itu ingusnya elap dulu sini ah."
Keduanya terkekeh seperti orang bodoh. Masih dengan posisi Sadewa yang duduk di sofa sambil sedikit membungkuk dan Bima yang berlutut di lantai. Bima mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil kotak tisu di meja kemudian mengusap hidung sampai ke filtrumnya. Sadewa menangkup kedua sisi wajah Bima yang menatapnya memuja, seperti tak peduli pada ingus yang baru saja ia seka. Ia membelai pipi lelaki di hadapannya dengan ibu jari.
"I missed you, Bim. So much. It hurts," bisiknya.
Sadewa membawa wajah Bima ke hadapannya untuk dikecup keningnya. Cukup lama, sampai ia merasakan kedua tangan besar Bima kembali melilit tubuhnya. Cukup lama, sampai ia merasakan basah kembali pipinya.
Seumur hidup Sadewa Sagara, baru kali ini ia merasakan rindu yang semenyesakkan ini. Padahal orang yang dirindukannya sudah ada di dekapan. Mengapa rasanya kurang? Mengapa ia serakah sekali?
"Mm. Tell me about it, Mas," bisikan Bima terasa geli karena napasnya menyapu wajah Sadewa.
Ada jemari yang mengusap air matanya lalu mengusap bibir bawahnya. Bima menatapnya, mencari persetujuan. Sadewa mengangguk kecil. Satu sapuan lembut seperti usapan angin dirasakan Sadewa di bibirnya. Kedua napas mereka bergetar, Sadewa bisa merasakannya. Ada kekehan yang menyela. Sadewa dan segala pengalamannya bisa-bisanya merasa payah saat ini. Dan ia yakin ia tidak sendirian yang merasa begitu di sini. Keduanya bergerak berhati-hati untuk saling menyentuh dan mengungkapkan sesuatu yang penting. Kecupan yang sebelumnya ragu-ragu, kian berubah menjadi lumatan-lumatan gemas selayaknya pernyataan yang tegas.
Perlahan, segala keraguan menguap dari diri Sadewa. Bima, dengan segala kontradiktif yang ada dalam dirinya—tubuh besar dengan otot di mana-mana dan sentuhannya yang lembut, contohnya—sepertinya akan mampu mengikis segala keraguan diri yang Sadewa selama ini sangka tak punya dalam waktu yang tidak akan lama. Perubahan ini cukup mengerikan dan jauh dari prinsipnya untuk selalu bermain aman. Namun, dengan Bima, sepertinya Sadewa tidak perlu banyak berhati-hati. Ia ingin mencoba memakai perasaannya dengan jujur dan sembrono.
Sepertinya menantang.
*
