Work Text:
Lantai dua mall hari ini terasa lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena ini malam Minggu, atau mungkin karena ini akhir bulan. Di tengah keramaian itu, James berdiri diam di dalam toko mainan, depan rak mainan dinosaurus yang harus ia beli karena sudah janji pada anak kakaknya.
James memutar-mutar kotak berisi dua jenis dinosaurus yang berbeda di tangannya. Keponakannya spesifik menyukai Stegosaurus, tapi yang ada di depannya hanyalah deretan T-Rex dan Triceratops. Ia menghembuskan napas panjang, merasa sedikit bodoh karena harus terjebak di rak mainan di tengah liburannya dari Taiwan.
James menoleh ke arah seorang staf toko yang sedang merapikan rak di dekatnya. "Kak, permisi... yang model Stegosaurus masih ada stoknya gak ya? Di rak depan habis soalnya," tanya James.
Staf toko itu menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu membetulkan letak kacamatanya. "Wah, Stegosaurus, ya? Kayaknya ada di gudang sih, kak. Coba sebentar saya cek dulu ke belakang ya, kak."
James mengangguk kecil, "Oke, makasih ya."
James berdiri di sana, di tengah kepungan rak mainan yang menjulang, merasa sedikit asing dengan atmosfer mall yang dulu ia hafal luar kepala. Ia menunduk, memperhatikan ujung sepatunya, mencoba mengabaikan rasa sesak yang tiba-tiba muncul karena memori tentang mall yang selalu punya cara untuk menariknya kembali ke masa lalu ini.
“Stegosaurus.”
Sebuah tangan terjulur dari samping, menyodorkan miniatur Stegosaurus yang persis seperti pesanan keponakannya. James refleks tersenyum dan hendak mengambilnya.
“Eh iya–”
James menoleh, bersiap mengucapkan terima kasih kepada staf yang tadi telah membantunya. Namun senyum di wajah James membeku seketika. Tangannya serasa tertahan di udara setelah menyadari bahwa yang di sebelahnya bukanlah sang staf toko berkaos hitam. Laki-laki itu mengenakan kaos abu-abu, dan wajahnya sangat, sangat, sangat familiar.
“Kak Anton?”
Rasanya peredaran darah di tubuh James seketika berhenti ketika mata mereka bertemu. Dunia di sekitar James seolah mendadak kehilangan suaranya. Riuh rendah anak-anak yang berlarian dan musik natal yang diputar di speaker mall menjadi latar belakang yang kabur. Di hadapannya, Anton berdiri dengan tangan masih menyodorkan miniatur dinosaurus itu.
“Hai, James.”
Suara Anton rendah, sudah tidak sepelan dan rasanya tidak sehalus suara yang dulu James dengar lewat telepon tiap malam sebelum tidur. James mengerjapkan mata, berusaha memastikan bahwa ini bukan halusinasi akibat jet lag penerbangan Taipei-Jakarta.
Tapi Anton nyata. Mantan pacarnya itu nyata ada di depannya.
Lima tahun. Itu bukan waktu yang singkat untuk membangun sebuah semesta berdua. James masih ingat betul bagaimana rasanya menjadi anak kelas 1 SMP yang jantungnya berdebu setiap kali melihat Anton berjalan di koridor sekolah. Hubungan mereka dimulai dengan kepolosan cinta monyet yang ternyata mengakar begitu kuat, bertahan melewati masa-masa puber, ujian-ujian sekolah, hingga janji-janji sayang yang mereka bisikkan di bioskop lantai atas mall ini.
Dulu, sekolah dan mall ini adalah saksi bisu cinta monyet lima tahun Anton dan James. Dari sekadar makan es krim sehabis pulang sekolah hingga kencan serius pertama di malam minggu.
Namun, benteng yang mereka bangun selama lima tahun runtuh hanya dalam waktu tiga puluh hari setelah Anton berangkat ke Amerika. Jarak ribuan mil dan perbedaan waktu belasan jam ternyata terlalu angkuh untuk dilawan oleh dua orang yang terbiasa bersandar di bahu satu sama lain. Percobaan LDR itu gagal total di bulan pertama, hanya menyisakan amarah, air mata, dan keputusan impulsif untuk saling memblokir akses komunikasi seolah-olah lima tahun itu bisa dihapus dengan satu klik block.
“Kok kamu… disini?” tangan James tidak jadi meraih Stegosaurus yang bahkan sudah ia sentuh tadi.
Anton menurunkan tangannya perlahan, masih memegang Stegosaurus itu. Senyum canggung tersungging di bibirnya. “Lagi liat-liat aja kok… gak nyangka juga tadi denger suara kamu, kirain aku halu, ternyata beneran.”
“Oh,” James mengangguk kaku.
“Kamu nyari mainan dino buat apa?” tanya Anton, menatap miniatur Stegosaurus di tangannya sendiri, lalu beralih menatap James.
James berdeham pelan, ia tidak mau terlihat gugup di depan orang yang sudah ia blokir dimanapun sejak empat tahun lalu ini. Terlebih, Anton sudah terlihat baik-baik saja di depannya sekarang. Rasanya pertemuan ini masih sangat tidak nyata.
“Buat keponakan aku,” jawab James akhirnya. Namun matanya mencoba jelalatan ke rak etalase demi menghindari Anton. “Dia suka banget Stegosaurus.”
Anton terdiam beberapa saat sebelum ia mulai bicara lagi. “Oh iya, anaknya kakak kamu udah gede berarti?”
James tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang terdengar agak getir lolos dari bibirnya. Ia menggeleng pelan, menatap Anton dengan tatapan yang sulit diartikan. “Emangnya kamu tau kalau kakak aku udah nikah, apalagi punya anak?" tanya James, suaranya sedikit lebih santai.
Anton menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena nyatanya ia masih mengorek informasi dari ibunya soal James. “Mama aku kan diundang ke wedding kakak kamu, jadi inget aja, hehe…”
James mengangguk, “oh…” sahut James. “Tapi iya, anaknya udah dua tahun, suka banget Stegosaurus, she thinks the back plates are pretty.”
Anton tersenyum, “masih jadi favorit buat anak-anak kecil ya, Stegosaurus itu. Padahal bagusan Brachiosaurus.”
"Bagusan darimana? Lehernya kepanjangan, aneh."
James menjawabnya begitu saja, reflek, tanpa saringan. Kalimat itu meluncur dengan nada meremehkan yang sangat familiar, nada yang dulu selalu ia gunakan tiap kali mereka berdebat kusir tentang hal-hal sepele.
Anton melebarkan senyumnya, kali ini terlihat lebih tulus, seolah baru saja memenangkan taruhan kecil dengan dirinya sendiri. "Justru leher panjangnya itu yang keren, James. Elegant. Daripada Stego, duri di punggungnya cuma buat defense doang, gak offensive sama sekali."
James mendengus pelan, tangannya akhirnya terulur untuk mengambil miniatur Stegosaurus dari tangan Anton. "Ya biarin. Yang penting ponakan aku suka. Daripada Brachio, cuma menang tinggi doang tapi otaknya kecil."
Anton terkekeh, “kamu bukannya suka sama Ankylosaurus ya, dulu?”
James menaikkan alisnya, sedikit mendongak menatap mata Anton, lalu mengangkat bahunya. “Gak tau deh, lupa.”
Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibir James. Mustahil ia lupa bagaimana dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku hanya untuk mendebati mengapa perisai tulang Ankylosaurus jauh lebih fungsional daripada leher jenjang Brachiosaurus yang menjadi favorit Anton.
Namun, James sadar ia tak boleh membiarkan pintu memori itu terbuka terlalu lebar. Mengingat detail sekecil itu tentang seseorang yang sudah menghilang dari hidupnya selama empat tahun hanya akan mempertegas bahwa ia belum sepenuhnya "selesai". James tidak ingin terjebak dalam nostalgia, apalagi di tengah hiruk pikuk mall yang dulu menjadi saksi bisu masa remaja mereka. Ia hanya ingin mengambil mainan ini, membayar, dan segera pergi sebelum pertahanan dirinya runtuh.
"Lupa ya?" Anton mengulang kalimat itu dengan nada yang sulit diartikan—antara maklum dan sedikit kecewa. Ia menarik tangannya kembali ke dalam saku celana. "Ya wajar sih, udah lama banget juga. Kamu udah di Taiwan berapa lama?"
"Mau jalan empat tahun," jawab James, matanya kembali fokus pada kotak Stegosaurus di tangannya, jempolnya mengusap pinggiran kemasan plastik itu dengan gugup. "I’ll be back after Christmas."
"Oh... sebentar banget," gumam Anton. Laki-laki itu bergeser sedikit, memberi jalan bagi seorang ibu yang lewat membawa kereta bayi, membuat jarak di antara mereka terkikis beberapa senti. "Kuliah kamu gimana?"
James mengangguk kaku, sambil kepalanya berpikir kenapa obrolan ini belum selesai juga. Rasanya mau kabur. “Aman kok, seru. Kamu? You’re doing good, kan?” pertanyaan James memang terdengar basa-basi. Tapi yang pasti, James akan memaki Anton jika ternyata kuliahnya bermasalah setelah hubungan lima tahunnya kandas demi kuliah Anton di Amerika sana.
"I’m doing good," Anton mengangguk pelan, James juga ikut menghela napas. "Udah mau setahun sih aku balik di Jakarta. Like, back for good. Tapi masih proses adaptasi lagi sama macetnya… It’s crazy how we used to come here just to hang out after school, sekarang aku nyetir sendiri rasanya mau gila di jalan karena macet dari rumah ke sini.”
James terdiam. Kalimat itu menghantamnya telak. Dulu, mereka ke mall ini naik kendaraan umum atau diantar jemput, duduk di kursi belakang sambil berbagi earphone dan membicarakan apa saja sampai lupa waktu. Sekarang, Anton bicara tentang kemacetan Jakarta sebagai orang dewasa yang memegang kemudi sendiri.
"Jakarta emang makin parah sih," sahut James pendek. Ia berusaha menjaga suaranya tetap datar, meski dadanya bergemuruh. "Apalagi kalau weekend begini."
"Banget. Tadi dari rumah ke sini aja sejam lebih," Anton memperhatikan James yang masih memegang kotak mainan itu dengan erat. "Kamu... selama di Taiwan gak pernah balik sama sekali?"
“Pulang kok, kalau ada break panjang dan gak sibuk disana. Tapi yaa biasanya cuma di rumah, atau ke cafe aja,” jawab James, matanya kembali menelusuri deretan rak, pura-pura tertarik pada dinosaurus lain.
Di tengah keheningan mereka, tiba-tiba staf yang tadi James mintai tolong kembali… “maaf kak, untuk Stegosaurus kayaknya sudah habis… eh— udah dapet, ya?”
James melihat kotak mainan itu di tangannya, “loh, ini?” James bingung sendiri, melihat ke Anton sambil mengangkat kotaknya.
“Oh… itu, tadi ada di situ, di deretan mobil-mobilan.” jawab Anton santai, kemudian menoleh ke arah staf toko tersebut. “Iya Mas, udah ketemu. Makasih ya.”
Setelah staf itu pergi, keheningan kembali merayap di antara mereka. Musik Natal yang memutar lagu It's Beginning to Look a Lot Like Christmas terasa sangat ironis. James menatap kotak di tangannya, merasa kalah telak. Ia ingin membenci fakta bahwa bahkan setelah empat tahun tanpa komunikasi, Anton masih menjadi pahlawannya dalam hal sekecil mencari mainan dinosaurus.
“Makasih kalau gitu,” gumam James. “Aku duluan ya, mau bayar.” James tersenyum kecil, lalu hendak melangkah jika ia tidak terhenti oleh suara Anton.
“James, bentar.”
Langkah James tertahan. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya memiringkan kepalanya sedikit, seolah memberi celah sempit bagi Anton untuk bicara namun tetap menjaga jarak aman.
"Kenapa?"
Anton menghela napasnya pelan, “kamu buru-buru?”
"Iya," jawab James bohong. Kebohongan keduanya pada Anton hari ini. Ia tidak punya agenda setelah ini, ia hanya butuh jarak. "Udah ditunggu Mama buat makan malam."
Anton mengangguk pelan, raut kekecewaan tipis melintas. "Oh... oke. Sayang banget, padahal tadinya mau ajak kamu ngopi sebentar di bawah. It's been a while."
"Maybe next time," pungkas James singkat, segera melangkah menjauh.
Lima menit kemudian, James duduk sendirian di meja food court yang kosong, menatap miniatur Stegosaurus di samping ponselnya. Ia sudah membayar mainan itu, tapi ia bohong soal janji makan malam. Ia hanya perlu duduk, bernapas, dan mencerna kejutan barusan. Ia menghembuskan napas panjang, menempelkan keningnya ke meja, memaki diri sendiri karena kebohongan yang bodoh itu.
"Loh, masih disini?"
James tersentak, hampir saja menjatuhkan kotak mainan di atas meja. Ia mendongak dan menemukan Anton berdiri di sana, lalu menarik kursi depan James tanpa izin.
“Bukannya kamu mau makan malam sama Mama kamu?”
James berdehem, berusaha memperbaiki posisi duduknya agar terlihat tidak malu-maluin. "Mamaku masih kejebak macet juga ternyata," balasnya cepat. “Kamu gak pulang?”
Anton tertawa kecil, suara rendah yang dulu selalu James dengar saat mereka sembunyi-sembunyi pacaran di perpustakaan sekolah. Laki-laki itu meletakkan kunci mobilnya di atas meja, duduk dengan santai seolah empat tahun blokir-memblokir itu tidak pernah terjadi.
"Tadinya mau pulang. Tapi aku lihat ada cowok mirip mantanku lagi bengong sendirian di food court sambil melukin mainan dinosaurus," goda Anton. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap James lurus. "You're still a bad liar, ya, dari SMP. Kamu kalau bohong telinganya merah."
James refleks memegang telinganya, yang tentu saja langsung terasa panas kayak kucing ketangkap maling rambutan. "Apaan sih. Gak ya."
"Tuh kan, makin merah," Anton terkekeh, lalu ekspresinya melembut. "Santai aja. Aku gak bakal minta balikan di tengah food court gini kok. Cuma mau ngobrol. As strangers who happen to know each other’s favorite dinosaurs."
James mendengus, akhirnya menyerah dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Oke, fine. Jakarta emang kecil ya, sampai harus ketemu kamu di rak mainan."
"Mungkin takdir?" Anton menaikkan alisnya.
"Mungkin sial," ralat James cepat, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Jadi, how was America? Bet you had a lot of fun there."
"Fun? I guess," Anton mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja mengikuti irama musik mal yang samar. "Tapi lebih banyak capeknya sih."
James mendengus, memutar kotak Stegosaurus di atas meja. "Ya kan itu pilihan kamu. Kamu yang mau ke sana, kamu yang bilang masa depan kamu ada di sana."
Kalimat itu tajam, sisa-sisa luka dari pertengkaran terakhir mereka empat tahun lalu lewat telepon. Anton terdiam sejenak, menatap pantulan lampu mal di layar ponselnya.
"Iya, sih… tapi aku kan gak tau, kalau pilihanku waktu itu punya konsekuensi kehilangan kamu di bulan pertama kuliah,” ucap Anton pelan. "I was so many miles away, and I thought I could still hold on to you. Ternyata, jarak itu nyata banget ya, James. I lost you before I even found my way there."
James memalingkan wajah, menatap kerumunan orang di lantai bawah. "Udah lewat, ah. Gak perlu dibahas lagi. Kita udah dewasa sekarang kali."
“I know. Aku cuma mau bilang… maaf. Buat semuanya yang berantakan dulu,” Anton menatap James, seakan mencari sisa afeksi yang mungkin tertinggal.
James juga hanya mengangkat alis dan tersenyum tipis untuk jawaban, tidak tau harus menjawab dengan apa, dan tidak mau terlihat masih sering kepikiran juga soal hubungan yang kandas secara menyedihkan itu.
"Susah tau, James," Anton berujar pelan, suaranya hampir tenggelam di antara bising food court. "Kayak putus sama sahabat sendiri. I used to know everything about you. Aku tahu semua kebiasaan kecil kamu—gimana kamu kalau makan bubur itu harus polos tanpa topping, gimana kamu gak suka diburu-buruin, atau cara kamu bersin tiga kali setiap kena debu. But ironically, aku bahkan gak tahu kamu tinggal dimana di Taipei.”
James tertegun. Of course you do, of course you knew everything about me, pikirnya pahit.
"Tahun pertama aku tinggal di dorm, terus pindah ke small studio apartment daerah Da’an.”
Anton mengangguk-angguk, “itu daerah deket kampus?”
James juga mengangguk pelan, ada rasa getir yang menyelinap saat menyadari bahwa sosok yang dulu paham jadwal tidurnya sampai menit terakhir, kini bahkan tidak bisa membayangkan peta hidupnya. “Deket.”
“Oh, nice,” Anton bergumam, lidahnya mengecap nama daerah itu seolah mencoba menghafalnya sekarang. “Kamu susah gak adaptasi sama bahasa atau cuaca disana?”
“Awalnya iya,” sahut James. “Tapi ya… dipaksa keadaan. Gak ada yang bisa dimintain tolong di sana juga, kan. Semuanya harus sendiri.”
Kalimat itu dikeluarkan dengan jujur. James masih ingat betapa dulu ia sangat bergantung pada Anton untuk hal-hal sepele—memilih menu makanan, menyeberang jalan, hingga membetulkan tali sepatu. Kepergian Anton ke Amerika bukan hanya memutus hubungan mereka, tapi memaksa James belajar menjadi dewasa dalam semalam.
Anton menatap James lekat, menyadari perubahan aura pada laki-laki di depannya. James yang sekarang lebih mandiri, lebih tertutup, dan punya semesta baru yang tidak menyertakan dirinya di dalamnya.
"James," suara Anton merendah, lebih serius. "Aku bener-bener udah gak tahu apa-apa soal hidup kamu empat tahun ini. Kayak looking at a familiar book but in a language I don't understand anymore."
James tersenyum tipis, kali ini tanpa sinisme. "Well… that’s the whole point of us blocking each other everywhere, kan? Aku tetep bisa lanjut hidup tanpa distraction kamu.”
"Tapi nyatanya kita ketemu lagi di sini," bantah Anton pelan. “We basically grew up in this mall.”
James terdiam sesaat, merasa percakapan ini mulai mengikis dinding pertahanan yang ia bangun susah payah sejak empat tahun lalu hingga hari ini.
"Iya," bisik James, jemarinya kini berhenti memainkan kotak mainan. "Tapi mall ini aja udah direnovasi, Kak. Lampunya yang mati diganti, toko-toko lama tutup, toko es krim yang kita dulu suka datengin sampe kita kenal sama staffnya itu udah tutup. Everything looks the same from the outside, but the inside is different."
James menarik napasnya, lalu menatap tajam ke arah Anton, seolah ingin memastikan kalimat berikutnya menembus tepat di ulu hati laki-laki itu.
"You knew everything about me, Kak. Everything. Tapi itu James yang umur tujuh belas tahun. James yang nangis pas kamu tinggal di bandara. James yang sekarang? Kamu bahkan gak tau gimana aku setengah gila ganti life plan ku. Threw away my dream uni because you’re already there, gak sanggup lah aku kalau kita harus berakhir di tempat yang sama.”
Anton tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar.
“Taipei is the safest option for me, keluarga Mama disana, and it’s so far from New York, far from Jakarta,” lanjut James, rasanya semua kata-kata keluar bak muntahan yang tidak bisa James tahan.
“Kalau kamu inget, I always hate Mandarin. But I studied the language so fucking hard right after we broke up, because English reminded me too much of you. Sounds stupid, I know, but that’s who James is now. You knew everything about me, tapi kamu gak ada—salah, malah sekarang kamu jadi alasan aku harus rebuild myself, dari nol."
Anton terpaku, tatapannya kosong mengarah pada kepalan tangan James di atas meja yang memutih. Setiap kata yang meluncur dari bibir James barusan terasa seperti hantaman palu yang meruntuhkan sisa basi 'baik-baik saja' yang mereka bangun sejak di rak mainan tadi.
"James..." suara Anton tercekat di tenggorokan, serak dan payah. "Aku... aku gak pernah tahu kalau kamu sampai sebegitunya..."
"Of course you didn't," James terkekeh sumbang, matanya mulai berkaca-kaca tapi ia menolak untuk berkedip. "Aku yang minta kita saling blokir kok. Aku yang mutusin semua akses karena setiap kali aku lihat notifikasi dari kamu, rasanya kayak dikasih harapan palsu sementara kamu sibuk sama dunia baru kamu di sana. Aku gak mau lagi kenal sama kamu. Aku gak mau lihat kamu bahagia.”
Anton mengerutkan keningnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit food court seolah mencari sisa-sisa kewarasannya di sana.
"Ya tapi kamu pikir aku bahagia di sana, James? Kamu pikir aku di Amerika itu tiap hari pesta dan lupa sama rumah?" Anton mencondongkan tubuh. "I wasn’t even that happy. It took me a very long time."
James mendongak, menatap Anton dengan kilat tidak percaya di matanya. "Gak usah bohong. I’ve seen your pictures, how you smiled so big with your friends. You look so fucking happy and I fucking hate to see those smile on you."
"Ya masa aku nangis di depan foto?" Anton memajukan tubuhnya, matanya mengunci tatapan James. "Tiap malem aku pulang ke kamar, aku cuma bisa natap HP, nungguin jam yang pas buat telepon kamu tapi berakhir ragu karena aku tahu kamu lagi sekolah atau lagi tidur. Kita putus itu bukan karena aku nemu kebahagiaan baru di sana."
Anton menghela napas panjang, suaranya melemah. "Kita putus tuh karena kita berdua sama-sama gak bisa LDR. Kita terlalu terbiasa sama jarak yang deket banget selama lima tahun. Begitu jaraknya jadi ribuan kilo, kita panik. Aku panik karena gak bisa meluk kamu pas kamu lagi sedih, dan kamu panik karena ngerasa aku pelan-pelan hilang."
"Tapi kamu yang minta putus duluan, Kak."
"Iya, dan aku minta maaf sebesar-besarnya untuk itu. Karena… apalagi sih yang masih bisa diselamatin dari hubungan kita waktu itu?" Anton menunduk, menatap kunci mobilnya dengan nanar. "Aku di sana harus bangun jam tiga pagi cuma buat denger suara kamu sebelum kamu berangkat sekolah, sementara aku sendiri baru selesai ngerjain tugas dan otakku udah mati rasa. Kamu di sini harus nahan ngantuk nungguin aku kuliah. Bener-bener gak sehat juga buat kita berdua, jaraknya tuh udah gak masuk akal.”
James terdiam. Penjelasan Anton masuk akal secara logika, namun emosi di dadanya tetap terasa seperti benang kusut yang sulit diurai. Ia membenci betapa masuk akalnya alasan itu, karena itu berarti tidak ada "penjahat" di antara mereka, hanya dua remaja yang kalah telak oleh waktu.
"Masuk akal ya," bisiknya, suaranya parau. "Logikanya masuk akal, Kak. Tapi buat anak tujuh belas tahun yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, logika itu sampah."
Ia menoleh kembali, menatap mata Anton yang kini memerah. "Kamu tahu gak apa yang paling jahat? Kamu tahu segalanya tentang aku, tapi kamu gak tau setelah kita putus, aku baru pernah ke mall ini dua kali, dan ini yang kedua. Mual aku rasanya tiap lewat sini."
Anton terdiam, tangannya yang berada di atas meja bergetar halus. Ia ingin meraih tangan James, tapi jarak tiga puluh senti di antara mereka terasa seperti Samudra Pasifik yang dulu memisahkan mereka.
"James, aku—"
"Jangan minta maaf lagi," potong James cepat, menyeka sudut matanya dengan kasar. "Aku pikir denger kamu minta maaf bakal bikin aku lebih tenang. Nyatanya gak senyembuhin itu juga, detik ini pun aku masih benci kamu.”
“Ya gak apa, benci aku aja sepuasnya. I deserve that.” jawab Anton cepat, senakin sadar bahwa sisa-sisa perasaan yang James miliki untuknya hanyalah benci.
“Tapi kamu juga harus tau hal yang James umur tujuh belas tahun gak pernah tau. Aku gak pernah lepasin kamu gitu aja. Dari sebelum putus, kalau ada yang terjadi di hidup aku, aku selalu langsung buka HP buat call kamu. Tapi aku tutup lagi HP-ku karena aku gak mau ganggu waktu tidur atau sekolah kamu. Kadang aku berdiri kayak orang bego kalau nyasar, bukannya buka Google Maps, aku malah lihat kontak kamu. Terus aku sadar kalau satu-satunya orang yang bisa bikin aku tenang kalau panik, udah aku usir pelan-pelan dari hidup aku.”
James terpaku, matanya bergetar menatap Anton.
"Empat tahun ini, James... aku bahkan udah lulus dan kerja. Tapi setiap kali aku dapet pencapaian ya rasanya hambar. Karena orang yang paling paham susahnya, orang yang nemenin aku begadang pas ujian, siapin berkas-berkas, temenin aku buat admission letter, orang yang tahu rahasia terkonyolku... gak ada di sana buat aku pamerin."
Anton mencondongkan tubuh, suaranya mengecil, intens. “Aku emang gak tau sama sekali soal James yang sekarang. Tapi aku tahu satu hal yang gak pernah berubah—kalau kamu masih James yang sama. Kamu masih suka kasih hadiah buat orang yang kamu sayang, kamu masih duduk di foodcourt kalau mau sendiri..." Anton menghela napasnya, "kamu juga masih pake gelang yang aku kasih waktu kamu juara satu ice hockey waktu kamu kelas 10.”
James reflek menarik tangannya ke bawah meja, menyembunyikan pergelangan kanannya yang memang ada tiga gelang. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang.
“Aku waktu itu cuma block kamu dua hari, just to respect your request. Tapi setelah itu I unblock all your socials, hoping we still have the chance–walaupun aku sendiri juga yang rusakin semuanya. Tapi aku gak pernah bisa liat foto kamu, karena kamu juga gak pernah unblock aku, bahkan sampai hari ini. Terus aku sadar, ya emang akunya bodoh, I ruined everything.”
James terdiam. Dua hari… dua hari? Jadi kalau James selama empat tahun ke belakang tidak menahan dirinya untuk menekan tombol unblock itu, mereka bisa saja bicara lagi? Atau bahkan... balikan?
Tapi James tidak pernah melakukannya. Ia tidak mau melihat senyum Anton lagi. James benci mereka harus berpisah dan tidak bisa tersenyum bersama Anton lagi.
Anton menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca menatap James yang membeku.
“Jadi pas tadi di rak mainan aku denger suara kamu... demi Tuhan, James, rasanya kayak jantungku copot. Aku takut salah denger, aku takut itu cuma delusiku karena kangen sama kamu. Tapi pas kamu nengok... pas mata kita ketemu lagi… guilt, regrets, kangen… semuanya kayak numpuk jadi satu, rasanya kayak sesak banget aku mau mati.”
Anton menunduk, menatap meja dengan tatapan kosong.
“James, can we... still be friends?”
Keheningan jatuh di antara mereka, lebih berat daripada riuh rendah suara piring dan denting sendok di food court. Pertanyaan Anton menggantung di udara—sebuah tawaran damai yang terasa seperti penghinaan bagi lima tahun yang mereka lalui dan empat tahun yang mereka hancurkan.
James menatap gelang di pergelangan tangannya yang tersembunyi di bawah meja. Besinya sudah sedikit pudar, tak lagi mengkilap seperti saat Anton melingkarkannya di sana setelah pertandingan hoki kelas satu SMA. Gelang itu adalah jangkar, pengingat akan versi dirinya yang paling bahagia, sekaligus paling hancur.
“Temen apaan?” tanya James dengan tawaan getir. “Kita aja gak pernah kenal sebagai temen, dari awal aku liat kamu, aku langsung mau pacarin kamu. Gak pernah aku bisa liat kamu sebagai sebatas temen.”
James menghela napasnya, lalu berdiri. Ia meraih kotak Stegosaurus-nya, memeluknya erat di dada seolah mainan plastik itu bisa melindunginya dari mohonan Anton.
"Empat tahun aku belajar buat gak butuh kamu. Aku belajar bahasa yang kamu gak tahu, aku tinggal di kota yang gak punya jejak kamu, aku bangun tidur tanpa nunggu chat dari kamu," James menarik napas gemetar. "Dan sekarang kamu minta kita jadi temen? Biar apa? Biar kamu bisa tahu detail hidupku lagi dan ngerasa 'kenal' sama aku, terus nanti kamu pergi lagi pas dunia kamu berubah?"
"James, aku gak bakal pergi lagi. Aku di sini, back for good," suara Anton mendesak, ikut berdiri.
"Justru itu masalahnya," potong James, suaranya kini setajam silet meski bergetar. "Jakarta terlalu kecil buat kita pura-pura jadi temen. Setiap sudut mall ini, setiap kafe sekitar rumah kita, bahkan jalanan macet... semuanya tuh ada kamunya. Aku gak bisa duduk makan es krim sama kamu sambil bahas cuaca seolah olah kita gak ngabisin teenage years kita bareng-bareng.”
James melangkah mundur satu tindak, menciptakan jarak fisik yang menegaskan jurang di antara mereka. “Aku pulang tuh cuma buat Christmas, buat keluarga. Bukan buat inget-inget masa lalu kita disini—apalagi jadi temen kamu. Harapan kayak gitu udah aku buang lama banget.”
James menatap gelang di pergelangannya, lalu dengan cepat melepas dari tangannya, dan meletakkan gelang pudar itu di atas meja, tepat di depan tumpukan kunci mobil dan ponsel Anton.
“Simpen aja, anggep kenang-kenangan dari hubungan kita.”
Anton terpaku menatap benda kecil itu, “James, masa begini, sih?”
“This is how our break-up should look like, Anton, gak cuma lewat call.”
James tertawa kecil, lalu pura-pura melihat layar ponselnya. “Aku harus pergi. Mama beneran udah di depan,” James berbohong untuk kesekian kalinya, namun kali ini ia tidak peduli jika telinganya memerah. Ia hanya ingin kabur dari Anton sang pemilik masa remajanya.
“James,” panggil Anton saat James sudah membalikkan badan. Anton ikut berdiri, langkahnya terhenti tepat di belakang James, lalu ia menyentuh bahu James pelan. “Jami.”
James mematung. Langkahnya terkunci di lantai mall yang dingin.
Jami.
Nama itu seperti mantra lama yang sudah kehilangan sihirnya, tapi tetap sanggup membuat dadanya nyeri. Panggilan yang dulu selalu sukses membuat pipinya merona, kini terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. James tidak langsung menoleh. Ia membiarkan nama itu menggantung di udara sejenak, membiarkan memori tentang suara Anton yang membisikkan nama itu di perpustakaan sekolah beradu dengan bising food court hari ini.
James menarik napas panjang, lalu perlahan ia melepaskan tangan Anton dari bahunya—masih tanpa melihat ke belakang. Setelah tangannya bebas, barulah James memutar tubuhnya, menatap Anton untuk terakhir kalinya.
“If that’s the case, then…” ujar Anton pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu. “Makasih banyak ya, Jami, untuk semuanya.”
James menatap wajah Anton yang kini tampak begitu rapuh, sangat berbeda dengan sosok yang ia puja saat SMP dulu. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang menjadi pembatas tegas bahwa semesta mereka sudah tidak lagi bersinggungan.
"Sama-sama, Kak," ujar James parau. "Makasih juga... buat semuanya."
Tanpa menunggu balasan lagi, James berbalik dan melangkah pergi. Kali ini, ia tidak akan berhenti lagi. Sosok Anton perlahan memudar di belakangnya, tenggelam di antara keriuhan mall yang kini terasa asing. James keluar menuju udara Jakarta yang lembap, membiarkan air matanya jatuh bersama bising kota yang tak pernah tidur.
Di meja food court, Anton masih terpaku sendirian. Ia menatap gelang pudar di tangannya—sebuah titik final dari semesta yang baru saja ia lepaskan selamanya.
