Work Text:
10 menit ga akan bikin bibir jontor.
Dan di detik pertama Riwoo mendongak untuk mengecup bibir Leehan, insting membuat Leehan mundur menjauh, namun kepalanya menabrak tembok di belakangnya sehingga ia tak dapat mundur lebih jauh.
10 menit tak akan sampai bila 1 detik saja sudah buat nyawa Leehan—atau Riwoo juga, seakan hampir melayang.
Sekarang Leehan termenung, bola matanya berlarian kehilangan fokus, tangannya bergerak naik diiringi getar tipis untuk menyentuh bibirnya sendiri, bibir tebal yang baru saja dikecup singkat oleh Riwoo si manusia paling imut sedunia versi Leehan.
Tentu saja Riwoo ikut terkejut dengan reaksi Leehan barusan. Ia mungkin telah membuat Leehan merasa tak nyaman dengan tindakannya yang sangat tiba-tiba, jadi dengan penuh kehati-hatian ia segera berucap, “maaf.”
Leehan buru-buru menggeleng lalu tanpa banyak berpikir segera meraih dan menyatukan kedua tangan Riwoo untuk digenggam, tidak ingin lelaki itu salah paham.
“K-kaget,” bisik Leehan terbata.
Riwoo mendekat. “Apa?” katanya, minta Leehan mengulang.
Dan Leehan merunduk, menciutkan tubuhnya, menghindari tatapan bingung Riwoo yang dirasanya cukup menuntut.
“Aku kaget, Kakak…,” bisiknya sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Setelah mencerna kalimat tadi Riwoo segera menjauh, memberi jarak agar Leehan dapat bernapas lebih lega, lalu ia tertawa ringan. Riwoo sendiri juga terkejut akan tindakan impulsifnya barusan.
Leehan duduk di sebelahnya saat itu, berceloteh soal ikan-ikannya yang belum ia beri makan sementara ia sendiri menunggui Riwoo menghabiskan donatnya yang sisa setengah. Leehan jadi cemberut karena khawatir, dan oleh sebab bibir cemberutnya itulah Riwoo jadi teringat akan perkataan Myung Jaehyun tempo hari soal durasi berciuman yang menurutnya tidak wajar dan membuat ia tahu-tahu maju tanpa pikir panjang.
Ia lupa, meski pernah pacaran satu kali di bangku sekolah, ia sendiri belum punya pengalaman berciuman dan ini pertama kalinya Leehan pacaran.
“Maaf, ya, Leehan,” ucapnya sambil menyembunyikan malu yang datangnya sedikit terlambat dengan menggaruk pelipis yang sebenarnya tidak gatal.
Leehan menggeleng, ia maju sedikit meskipun ragu-ragu untuk mendekat ke arah Riwoo setelah malunya mereda.
“Aku gapapa kok.”
“Jangan deket-deket, Leehan,” kata Riwoo, kali ini ia yang mundur menjauh. “Nanti kakak impulsif lagi,” guraunya dengan selipan tawa canggung.
Bibir cemberut Leehan muncul kembali. Lalu, sepersekian detik berikutnya ia tahu-tahu menarik tengkuk Riwoo, mendekatkan wajah mereka, dan membuat dahi keduanya hampir bertabrakan.
“Kenapa memangnya kalo kakak impulsif?” tanyanya dengan alis menukik seakan tak terima, berbanding terbalik dengan wajahnya yang seketika itu juga merona.
Mata Riwoo sampai melotot karena tindakan tak terduga Leehan. Ini tindakan paling berani dari seorang Leehan di sepanjang 3 bulan masa pacaran mereka.
“Aku….” Leehan berucap lirih, tetapi terhenti saat ia temukan tatap Riwoo yang menantikan.
“Kenapa, Leehan?”
Leehan tercekat. Rupanya mereka terlalu dekat hingga embusan napas Riwoo dapat ia rasakan menerpa wajahnya saat lelaki itu bertanya—ada aroma topping caramel di sana.
Ia tidak ingat bagaimana proses berpikirnya tadi hingga menghasilkan sebuah tindakan yang bisa dibilang sangat berani untuk dirinya yang bahkan belum mampu untuk menggandeng tangan Riwoo duluan meskipun berkali-kali ia sudah mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukannya.
“Kakak tutup dulu matanya baru aku lanjut.”
Riwoo tertawa gemas lantas segera menutup kedua matanya.
Namun, setelah pintanya dituruti, bukannya segera menuntaskan apa yang ingin ia ungkapkan, Leehan justru terpaku di depan wajah pacar mungilnya itu.
Leehan bersyukur Riwoo segera menurut saat ia meminta, karena ini akhirnya jadi kesempatan pertama Leehan untuk dapat memandangi wajah Riwoo dari jarak sedekat itu; tidak lebih dari sejengkal. Mana berani ia lakukan hal tersebut bila Riwoo tengah balas memandangnya.
Riwoo selalu katakan bahwa Leehan adalah adik tingkat paling cantik yang pernah Riwoo lihat, di antara tiga kelas angkatannya, pokoknya Leehan yang paling cantik! Mata Leehan berbinar cantik seperti bintang katanya.
Tapi pernahkah Kak Riwoo-nya itu memperhatikan diri sendiri di depan cermin lalu mengabsen satu persatu indahnya yang juga layak dipuja dan dikagumi? Bila belum pernah, biarkan Leehan yang lakukan, walau dalam hati.
Leehan tidak jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Riwoo. Kata Riwoo, dia pun tak sehebat itu untuk buat orang lain otomatis jatuh cinta padanya dalam satu kali pandang, Leehanlah yang memiliki kehebatan seperti itu.
Mungkin bagi Riwoo benar, tetapi Leehan kurang setuju.
Leehan memang tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, butuh memandang sekian kali baru Leehan sadar bahwa ia jatuh cinta.
Butuh tertawa bersama sekian kali baru ia sadari Riwoo punya dua gigi taring yang menyembul manis ketika tertawa.
Butuh tanpa sengaja sering duduk berdekatan di mata kuliah yang sama sampai Leehan sadar ada tahi lalat kecil nan cantik di bawah mata kanan Riwoo. Tahi lalat yang diam-diam sering ingin Leehan sentuh itu, pasti akan membuat mata Riwoo berkedip lucu bila benar-benar ia sentuh suatu waktu nanti.
Butuh berulang kali memesan menu yang sama sampai Leehan sadar, bahwa Riwoo tak pernah benar-benar mengabaikannya tiap kali ia menempatkan diri di sebelah Riwoo—yang seringnya terlihat mengerutkan dahi memandang layar laptop hingga tanpa sadar membuat mi ayamnya sendiri mengembang.
“Tumben seporsi, Han, biasanya request setengah porsi doang. Lo laper banget apa gimana? Eh, terus sekarang udah berani pake sambel?”
Waktu itu Riwoo hanya melirik sekilas pada mangkok bakso Leehan, sebelum ia mengembalikan fokusnya pada laporan praktikum yang tiada habisnya. Leehan sampai tersedak, biasanya Riwoo hanya mempersilakannya duduk dengan sikap tak acuh tanpa banyak mengajaknya bicara, siapa sangka Riwoo bahkan sadar ketika Leehan kali itu coba-coba menambahkan sambal ke dalam makanannya.
Detail-detail kecil pada Riwoo yang Leehan sadari setelah berulang kali bertemu itulah yang jadi kehebatan Riwoo di mata Leehan. Kehebatan yang buat Leehan jatuh cinta.
Riwoo punya lebih banyak detail kecil yang apabila lanjut ia jabarkan satu-persatu, butuh waktu satu malam untuk menyelesaikannya.
“Han?”
Leehan terkesiap, kesadarannya seakan ditarik kembali begitu ia dapati Riwoo telah membuka matanya. Dua menit ia biarkan Riwoo memejam dan menunggu, menuruti pintanya tanpa dapat mendengar apa yang harusnya dikatakan dari tadi.
“Aku malu,” aku Leehan akhirnya, ia palingkan wajah begitu Riwoo balas memandangnya.
Namun, kali ini Riwoo memilih tidak biarkan Leehan lari terlalu lama, sehingga ia tarik wajah Leehan untuk kembali menghadapnya.
“Kamu malu?”
Leehan mengangguk di tangkupan kedua tangan kecil Riwoo.
Riwoo menghela napasnya pelan. “Aku juga.”
Telinga Riwoo yang sontak memerah usai mengucap pengakuan singkat barusan, menarik kedua ujung bibir Leehan ke atas membentuk sebuah cengiran kecil, dan melihat bagaimana bola mata bergetar Riwoo berusaha tetap mempertahankan kontak mata dengan miliknya membuat perasaan malu Leehan perlahan luruh jadi hangat di dada—Kakak Riwoo-nya juga sedang berusaha jadi seorang pemberani rupanya.
Leehan tersenyum selagi mulai membalas tatapan Riwoo dengan sedikit lebih berani kali ini.
“Kakak.”
“Hm?”
Leehan tertawa. Ia baru saja berhasil menjawil tahi lalat di bawah mata Riwoo dengan telunjuknya begitu ia merasa sudah berani membalas tatapan Riwoo dan membuat pacarnya itu refleks berkedip lucu seperti yang selama ini sering ia bayangkan. Leehan pikir, dengan berani membalas tatapan Riwoo, ia juga akan mulai jadi berani untuk menghadapi hal-hal lain ke depannya.
“Lucu, ya, aku?”
Riwoo menangkap telunjuk Leehan dan menahan tangannya yang belum sempat ditarik kembali untuk tetap berada di dekat wajahnya, sementara Leehan perlahan mulai menurunkan pandangannya, nyalinya buyar, terlebih ketika ia rasakan remasan pelan di jarinya.
Anggukan pelan Leehan berikan. “Lucu.”
“Aku tua dari kamu, loh. Masa lucu?”
Ya emang kenapa, sih?!
Itu jawaban Leehan yang tak ia suarakan.
“Liat sini,” pinta Riwoo, tangannya menarik pelan tangan Leehan untuk mendapatkan perhatian.
Leehan tidak sanggup, keberaniannya sudah menguap sejak tangannya berada di genggaman Riwoo. Ia merengek, tidak ingin menuruti Riwoo.
Giliran Riwoo yang jadi lebih berani kala melihat Leehan kehilangan nyali. Jarinya mulai mengapit dagu Leehan dan mengangkat wajahnya naik dengan lembut, membuat Leehan mau tidak mau kembali menatap matanya.
Setelah sekilas senyum Riwoo sunggingkan sebab melihat dahi Leehan mengerut resah, ia angkat sedikit tubuhnya dari kursi, lalu mencondongkan wajahnya ke arah Leehan untuk beri kecupan sekali lagi di bibir tebalnya setelah mempertimbangkan hal tersebut di sela-sela diam dan malunya mereka. Tidak sampai dua detik, dan Leehan seakan dikutuk jadi batu kali ini.
Wajah Leehan berubah jadi udang rebus, fokus matanya entah tepatnya ke arah mana, bibirnya setengah terbuka; tak sanggup mengatup, tetapi tak sanggup berkomentar apa-apa juga, sedangkan tangannya perlahan bergerak, merayap, mencoba menggapai jari-jemari Riwoo, berusaha mencari pegangan tetapi ternyata tak sanggup, kekuatannya hilang begitu saja, sehingga Riwoo yang ambil alih untuk genggam tangan Leehan yang terasa lemas seperti jeli.
Sejurus kemudian, Riwoo tarik kursinya mendekat, serapat mungkin ke arah Leehan, tetapi derit kaki-kaki kursi yang mengganggu gendang telinga saat diseret membuat Riwoo memilih untuk segera berdiri saja, masih dengan tangannya yang menggenggam tangan lemas Leehan.
Pergerakan Riwoo diikuti kepala Leehan yang perlahan mendongak seakan ia tengah terhipnotis, bahkan Leehan kali ini juga menatap balik padanya..
Riwoo tersenyum lembut—sedikit merasa bersalah karena membuat Leehan jadi kelu begini—bukan berarti ia menyesal dan akan menghentikannya segera. Ibu jarinya naik mengusap pelipis Leehan agar pacarnya itu bisa lebih tenang saat dilihatnya napas Leehan memburu lebih cepat dibanding sebelumnya.
Usai dengan pelipis, tangan tersebut naik dan beristirahat di atas kepala Leehan, kemudian sang empunya merunduk, mempersempit jarak pandang keduanya. Senyum Riwoo tersimpul manis begitu didapatinya Leehan bahkan tak berkedip, apalagi mundur.
Lalu, Riwoo berhenti tepat sebelum ujung hidung mereka bertemu, ingin menunggu bagaimana Leehan akan merespon, meski jantungnya mulai berdegup seakan organ tersebut akan segera meledak, Riwoo ingin menunggu, ia perlu memastikan sesuatu.
Namun, tak ada yang terjadi di sekian detik berikutnya seakan Leehan juga tengah menunggunya, hingga Riwoo rasakan Leehan melerai genggaman tangan mereka, lalu meraih kedua sisi baju piyama Riwoo dengan kedua tangan, Leehan meremas piyamanya, seakan meminjam kekuatan dari sana.
“Kakak?”
“Iya, Leehan.”
Leehan menarik dalam napasnya yang tersendat karena gugup setengah mati. Dan tidak dengan berpaling ia melarikan diri, namun dengan menutup dua kelopak matanya kali ini, melarikan diri dari kedalaman tatapan Riwoo yang seakan hendak menyelaminya.
Mulutnya terbuka untuk mengucap sesuatu, tetapi ditutup kembali, wajahnya panas hanya dengan memikirkan apa yang ingin ia ucapkan.
“Kenapa?” lanjut Riwoo, jarinya kembali meraih dagu Leehan lalu menggoyangnya pelan.
Masih dengan mata memejam, Leehan menghela napasnya lagi, lalu setelah menelan semua malu dan gengsinya yang ia rasa tidak akan ada akhirnya bila tidak ia abaikan, Leehan segera mengungkap lirih apa yang ia inginkan.
“Lagi.”
Riwoo sempat tertegun, namun tidak lama, saat bibir Leehan mulai merengut karena tidak segera ditanggapi ia akhirnya bisa pastikan, bahwa sejak awal Leehan hanya malu, bukannya tidak mau.
“Gantian,” pinta Riwoo.
Leehan merengek kecil sembari membuka matanya. Ia layangkan tatapan protes pada Riwoo yang kini tertawa kecil. Seluruh jatah beraninya untuk satu tahun sudah habis saat ia minta Riwoo mengulang apa yang ia lakukan.
“Kakak berhasil jadi pemberani dan kakak jadi bisa cium Leehan tiga kali,” pamer Riwoo dengan bangga.
Lelah merunduk, Riwoo hendak duduk kembali ke kursinya, tetapi belum sempat ia sampai di sana, lengan Leehan dengan cepat meraih dan melingkari pinggang mungilnya.
“Tutup matanya,” cicit Leehan penuh malu, berbanding terbalik dengan tangannya yang membawa tubuh Riwoo merapat dan menuntunnya naik ke pangkuan.
Riwoo tergelak meski jantungnya hampir meledak. “Yang kali ini kakak jangan dianggurin lagi, ya, Leehan,” katanya sembari menutup mata, menanti Leehan menjemputnya dengan jatah lima tahun keberanian yang dihabiskan saat itu juga.
