Actions

Work Header

i want to try this with you, see where things will go

Summary:

Semuanya berawal dari Moses yang gak sengaja confess lewat chat ke Soren siang-siang. Eh, malamnya Soren dateng buat meluruskan semuanya. Siapa sangka kalau dari ketidaksengajaan itu malah akan berakhir dengan bahagia.

Notes:

mrtn as moses ; sh as soren
kh as keenan ; jju as jenar

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ada banyak sekali skenario yang sudah ia susun dengan rapi di kepalanya untuk mengutarakan perasaannya itu kepada Soren, tapi lewat pesan seperti yang ia kirimkan tadi siang benar-benar bukan salah satu di antaranya. Untuk alasan yang pertama adalah karena ia belum siap atau lebih tepatnya tak akan pernah siap. Ia jauh lebih bersedia untuk bawa perasaannya sampai mati. Ia pendam sendirian selamanya, ia jaga agar tak muncul ke permukaan dan terdeteksi oleh radar. Katakanlah ia penakut tapi ia takkan pernah siap untuk penolakan.

Perasaan yang ia sadar sudah ada sejak pertama kali ia lihat Soren dengan selebaran formulir pendaftaran untuk bergabung dengan band ala-ala yang personilnya baru dua—dirinya dan Jenar—di tangannya itu, semakin tumbuh subur setelah ia putuskan untuk menjadikannya teman menulis lagu sekaligus vokalis di bandnya. Sekarang, sudah hampir genap satu tahun ia pendam perasaannya dan sejujurnya apa yang ia kirimkan pada Soren tadi siang adalah sebuah kespontanan yang ia sendiri tak tahu dari mana asalnya datang. Ia tahu bahwa ini terlambat, tapi ia menyesalinya sekarang.

Alasan yang kedua adalah, ia selalu berpikir jika suatu saat nanti ia memang harus berkata jujur, menata semuanya dengan jelas dan rapi di atas meja untuk Soren baca dan pahami, ia akan mengatakannya secara langsung. Entah darimana rasa keberanian itu akan ia pinjam, tapi lewat pesan yang dikirimkan via ponsel benar-benar sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia ingin semuanya jelas dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk itu adalah menjabarkannya secara langsung di depan wajah Soren. Tapi, ia sudah kepalang basah. Tercebur sepenuhnya ke dalam kubangan dan tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.

Moses sibuk membawa kakinya berputar mengelilingi kamarnya sejak dua puluh menit yang lalu. Setelah ia terima pesan dari Soren yang isinya, 'Gue kesana sekarang, ya.' Pesan yang mampu buat perutnya melilit dan jantungnya berdegup cepat seperti sedang ikut lomba lari. Pun tak terhitung pula berapa kali sudah kakinya terpentok kasur dan meja karena ia tak bisa hati-hati. Kalau bisa ia ingin menghilang dari bumi, tersedot ke galaksi bima sakti atau apapun yang mampu membuatnya lari dari situasi yang akan ia hadapi.

“Ses, ini gue, Soren,” ketukan di pintu dan suara yang begitu familiar di telinganya itu mampu membuatnya terlonjak kaget. Dengan tergesa ia lari menghampiri kaca di lemarinya, berusaha merapikan penampilannya yang lebih mirip orang gila sekarang. “Ses?” ketukan terdengar sekali lagi. “Ya, sebentar.” Dengan langkah yang semakin berat, ia membuka pintu kamarnya perlahan. Di depannya sekarang berdiri Soren, dengan senyum yang ia ulas dengan indah. Tangannya yang menggengam kresek hitam itu ia angkat tinggi-tinggi agar sejajar dengan pandangannya. “Gue bawa magelangan pak Yanto nih, kesukaan lo.”

“Lah, ngapain anjir? Malah ngerepotin gini jadinya,” ia menjawab dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin. Lalu, menyingkir sedikit untuk memberikan jalan pada Soren agar bisa masuk ke kamarnya. Anak itu langsung mendudukkan dirinya dengan nyaman di karpet, sementara Moses masih setia mengulur waktu dengan cara menutup pintu kamarnya dengan pelan. “Ngerepotin apanya, sih? Cepetan sini. Gue udah minta sendok sama piring ke ibu tadi.” Moses yang paham bahwa tak ada yang bisa ia lakukan untuk kabur sekarang, akhirnya ikut duduk di karpet, memposisikan dirinya agar berhadapan dengan Soren. Ia terima bungkusan kertas coklat isi magelangan yang sudah Soren buka dan sajikan di atas piring itu dengan tetap berusaha menghindari tatapan mata dari Soren. Setelahnya, hanya ada hening yang mengisi ruangan yang rasa-rasanya begitu menyesakkan baginya. Tak ada yang berusaha membuka percakapan, masing-masing sibuk dengan magelangan di tangan.

“Eh, lo mau minum apa? Biar gue bikinin sini.” Akhirnya Moses lah yang pertama memecah kesunyian. Kakinya sudah bangkit berdiri dengan piring yang sudah kosong di tangan waktu pertanyaan itu dilontarkan, bersiap untuk melarikan diri ke dapur. “Kalau minumnya nanti dulu aja, gimana? Gue kesini kan mau ngobrol sama lo, bukannya malah diem-dieman dan lihat lo kayak mau kabur begini, Ses.”

“Eh, anjir. Sekelihatan itu ya gue mau kaburnya?” Soren yang mendengar itu sontak tertawa, “Iya, lah. Lo tuh kayak maling yang mau kabur waktu ketauan abis nyuri tahu.” Ada tawa yang Moses paksa keluarkan, tangannya pun ia bawa untuk mengusap tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus bereaksi seperti apa. “Udah, duduk sini,” ucap Soren sambil menepuk karpet di depannya.

Ada napas yang ia tarik dalam-dalam, sebelum akhirnya membuat dirinya kembali duduk di hadapan Soren yang dengan santainya masih mengulas senyum andalannya. “Jadi, yang tadi di chat itu beneran? That you like more than just a friend?” Mendengar bagaimana Soren menjabarkannya seperti itu buat keinginannya untuk menghilang jadi semakin kuat. “Sumpah, Ren. Kalau lo ngomong begitu gue makin mau kabur, anjir.”

“Ya, gimana ya, Ses. Kan, tujuan gue kesini emang mau memperjelas ini. Jadi, ya, mau gamau emang harus disebut gitu.” Ada jeda di antara mereka setelahnya. Soren yang memberi ruang kepada Moses untuk mempersiapkan diri dan Moses yang sungguh-sungguh mengapresiasi hal itu sehingga sekarang yang ia lakukan adalah diam, berusaha menata segala sesuatu yang akan ia katakan pada Soren nanti.

“Oke.” kembali ia tarik napasnya dengan panjang, sebelum akhirnya berucap dengan pelan, “Yes, i’m in love with you.” Dan entah karena ilusi atau memang matanya yang gagal berfungsi, ia dapat lihat pipi laki-laki di hadapannya ini berubah jadi merah. “Kalau lo tanya dari kapan, jujur gue gatau pastinya, Ren. I’ve found you attractive since the day lo dateng ke gue sama Jenar bareng Keenan sambil bawa formulir pendaftaran band itu. Dan rasanya, semuanya kayak ngalir gitu aja. The more days i spent with you, the more i fell in love with you.”

“So you’re just like me because i’m attractive?” Moses yang mendengar hal itu sontak menggelengkan kepalanya kencang-kencang. “Ya, enggak lah. Bukan gitu, Ren. Duh, gimana ya ngomongnya? I like you because of so many things,” Moses membantah dengan cepat. “I like the way you always take a good care of your friends. Contohnya, kayak waktu kita semua lupa makan saking nervousnya mau tampil di kafe pertama kali. Lo satu-satunya yang inget. Lo tiba-tiba pergi lagi, terus dateng-dateng bawa jatinangor buat kita semua. Kalau gak gue yakin si Keenan udah asam lambung itu.” Soren yang mendengar itu tertawa di buatnya.

“I like how you always try to be there for everyone, even when you’re not in a good place yourself,” lanjut Moses. “Eh, tapi sebenernya gue gak terlalu suka sama yang satu ini sih. Gue masih kesel waktu lo bela-belain jemput gue di Pundong jam sebelas malem padahal posisinya lo lagi ngejar deadline. Kalau lo bilang pasti gue pilih buat pesen gojek aja. Lo jadi gagal dapet A gara-gara gue, Ren.”

“Gapapa kali, Ses. Lagian emang ada yang mau ngambil orderan dari Pundong jam sebelas malem? Gojek juga males kali sama jalannya yang diportal semua itu. Mana kadang gak keliatan di maps.” Moses menggelengkan kepalanya, “Ya tapi lo jadi gagal dapet A gara-gara gue, Ren. Gue masih merasa bersalah pake banget kalau inget tentang itu.” Soren mengedikkan bahunya, “Nilai gak di bawa mati, Ses. Santai aja kali.” Moses memutar bola matanya kesal, sebelum akhirnya melanjutkan agendanya untuk mengabsen segala hal yang membuat dirinya jatuhkan hati pada laki-laki ini.

I like the way you always find your way to debate me over my opinions about the movies we’ve just watched together. Inget gak waktu lo nggak terima pas gue bilang 3 Hari untuk Selamanya gak sebagus yang orang-orang bilang? Ada kali sejaman kita debatin itu sampai akhirnya kita capek terus pilih buat makan mie dok-dok di warmindo aja.” Ingatan Soren kembali membawanya ke malam minggu itu, dimana mereka baru saja menyelesaikan film favoritnya yang sudah ia tonton berulang kali di jam sepuluh malam. “Eh, tapi buat gue itu film masih ten out of ten, ya. Absolute cinema. Gue cinta film itu kayak Wowo cinta sawit.”

“Terserah lo deh, Ren. Dasar buzzer 3 Hari untuk Selamanya,” ucapannya barusan sanggup buatnya dapatkan pukulan ringan dari Soren di lengannya. “Aduh. Bentar, ah. Gue mau lanjut lagi, nih.” Soren yang mendengarnya pun heran, “Emang masih ada lagi?” Moses mengangguk, “Dibilangin juga apa. Ada banyak banget hal yang bikin gue sayang sama lo, Soren. Gue gak akan menjabarkan semuanya satu-satu juga, sih. Bisa-bisa selesainya waktu Prabowo lengser kalau gitu mah.”

“I like how excited you get when you tell me about the book you’ve just finished, even though i know nothing about what you’re talking about. Maaf ya gue bukan bookworm kayak lo. Tapi, gue suka banget setiap kali lo mulai bahas buku-buku yang baru aja selesai lo baca. Kayak yang waktu itu tuh, kita begadang sampe jam empat pagi dan berakhir lo telat ke kelasnya pak Sustro gara-gara ngomongin soal Maurice semaleman. Sering-sering begitu, ya, Ren. Gue suka.”

“Emang gak bosen ya, dengerin gue ngomong sesuatu yang subjeknya aja lo gak paham?” tanya Soren yang di jawab dengan gelengan kepala dari Moses. “Kan, udah gue bilang. Gue suka, Res. Gak akan bosen, sumpah.” Soren hanya diam, menganggukan kepala. Namun, dapat ia rasakan hatinya menghangat. Tak pernah ia temui seseorang seperti Moses sebelumnya. Yang rela mendengarkan dirinya mengoceh tentang buku yang kerap kali dijuluki sebagai performative reading itu sampai berjam-jam lamanya.

“I like it whenever you sing. Your soft voice, your cursive technique, the way you always manage to deliver the emotions of every song. Kalau bisa gue mau dengerin lo nyanyi selamanya,” ucapannya barusan sukses membuat senyum di bibir Soren melebar. “You really have a way with words, ya. Gue jadi heran yang hobinya baca disini siapa.” Moses tertawa mendengarnya, “Kan, gue begini juga gara-gara lo, Ren. Kalau orangnya bukan lo, mana bisa gue ngomong begini.” Soren sontak melotot, “Apasih, Moses. Diem, ah.” Ada tawa yang menguar darinya. Ternyata jujur tentang perasaannya sendiri tak semenakutkan apa yang selama ini ia duga, malahan hal ini sanggup buatnya lega.

And last, for now. I like how your minds works. You have a very, very beautiful minds, and it shows in every lyric that you write for our songs, in every poem you leave in your notes. You’re truly a poet, Soren.” Moses mengucapkannya dengan perlahan dan dengan keberaniannya yang semakin meningkat di setiap kata yang ia ucap. Bahkan, kali ini ia berani untuk menatap Soren tepat di matanya.

Ada hening yang mengisi di antara mereka setelahnya. Bukan hening yang memberatkan, menyesakkan seperti yang tadi ia rasakan di awal. Hening yang kali ini tenang, tidak menyiksanya dan buat ia ingin menghilang. Soren masih setia menatapnya tepat di matanya dengan ekspresi yang tak terbaca. Namun, satu hal yang ia yakini dengan pasti, itu bukan suatu penolakan.

“Bentar, Ses. Gue gak pernah ada di posisi yang begini. So, i don’t know what to say. No one has ever said things like this to me,” dapat Moses lihat kebingungan tercetak dengan jelas di wajah Soren. “Gue nggak minta lo buat respon juga kok. Gue udah seneng dengan bisa jujur ke lo kayak gini aja. Gue ngerasa lega banget.”

Soren menggeleng, “No, gue kan tadi udah bilang kalau gue mau mengapresiasi lo dan rasa sayang lo ke gue itu. Apalagi lo habis confess, gue tahu itu gak gampang buat lo. I need to say something. Apa, ya? Aduh, gue bingung.” Moses yang melihatnya jadi gemas sendiri dan tanpa sadar tangannya sudah menjulur untuk mengusap punggung tangan Soren dengan harap dapat salurkan tenang. “Siapa sih yang mengharuskan lo buat mengapresiasi? Gak ada, kan? Gue tuh udah seneng banget karena lo masih mau berteman sama gue. Gue takut banget lo bakal ngejauh setelah gue confess setengah-setengah tadi siang.”

“Eh, gila aja. Ngapain juga gue ngejauh? Aneh, lo.” Moses menarik kembali tangannya saat ia sadar bahwa ibu jarinya masih mengusap punggung tangan temannya itu, sedikit malu. “Ya, kali aja lo jadi gak nyaman sama gue for having this feeling for you.” Mendengarnya membuat Soren menggelengkan kepalanya ribut, “Nggak mungkin, lah. Gue bukan orang yang kayak gitu, Moses. Gue tadi tuh cuma bingung aja. Gue bahkan ngiranya lo bercanda waktu bilang suka sama gue di chat.”

“Bisa-bisanya gue dibilang bercanda. Meskipun gue gak pernah bilang kalau gue suka sama lo sebelumnya, i wasn’t being subtle at all tahu. Gue malah kadang takut sendiri kalau ternyata lo udah figure all of this out by yourself terus tiba-tiba dateng buat confront gue.”

“Bentar, maksud you weren’t being subtle tuh gimana sih contohnya?” Soren yang semakin bingung memutuskan untuk bertanya. “Hadeh. Itu playlist yang gue bikin buat lo, coba deh lihat lagi daftar lagunya,” mendengar itu cepat-cepat ia tarik keluar ponsel yang sedari tadi berdiam di dalam saku jaketnya. Ia buka aplikasi pemutar musik itu dan menggulir daftar playlist yang tersimpan di dalamnya sampai akhirnya temukan yang ia cari. Playlist yang sudah Moses buat untuknya dari tahun lalu, dengan foto dirinya yang di ambil oleh Moses di taman dekat kosnya. Playlist itu judulnya sangat sederhana, hanya inisial dari namanya. Namun, setelah fokusnya ia jatuhkan pada lagu-lagu yang sudah Moses masukkan di dalamnya, ia tersadar seketika.

“Anjir, ini banyak banget Chet Baker-nya,” ucap Soren dengan lirih. Tawa Moses pun meledak seketika, “Gue bilang juga apa. I wasn’t being subtle at all. Gimana sih yang bacaannya Penguin Classics.” Bantal yang tadinya ada di kasur tepat di belakang Soren itu kini dalam sekejap sudah melayang dan mengenainya tepat di muka. “Aduh, Ren. Sakit, anjir.”

“Ya, lo ngeselin sih. Gue tuh gak ada pemikiran sama sekali kalau lo bakal suka sama gue makanya gue gak sadar, Moses. Sumpah, kalau yang bikin playlist isinya ada You’re Mine, You! begini bukan lo, gue langsung sadar kali kalau ini orang suka sama gue,” Soren berucap dengan kesal. “Emang kenapa sih kok kayak seenggak nyangka itu kalau gue suka sama lo?” Soren terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Gue kira lo suka sama kak Jenar, hehe.”

“Hah? Yang bener aja lo, anjir. Gue suka sama Jenar? Eh, gila. Jenar kan udah sama Keenan,” Moses yang mendengar hal itu kaget bukan main. Entah darimana bisa Soren mengambil kesimpulan seperti itu. “Jujur, gue mikirnya emang lo had this one sided love sama kak Jenar sih,” masih belum lepas dengan kekagetannya yang pertama, mulutnya kini menganga lebih lebar mendengar perkataan Soren yang barusan saking terkejutnya. “Sumpah, ya. Gak ngerti lagi gue anjir,” ucap Moses buat tawa Soren makin menguar kencang.

“Eh, tapi kalau dipikir-pikir lagi yang sekarang juga one sided love gak, sih?” Moses tidak berniat untuk mengatakan hal itu dengan lantang, namun entah mengapa ucapannya barusan meluncur begitu saja tanpa sempat ia tahan. Tawa yang sedetik lalu masih bebas mengudara itu kini senyap, meninggalkan hening sebagai sisanya. “Eh, Ren, sorry yang tadi nggak ada maksud apa-apa kok. Sumpah, itu cuma bercandaan doang. Jangan dipikirin. I’m okay with this, just being your friend. Gue malah bersyukur banget lo masih mau berteman sama gue, kan tadi gue udah bilang.”

Entah sudah hening keberapa yang mengisi sela-sela pembicaraan mereka malam ini. Namun sekali lagi, tawa dan percakapan mereka di redam sunyi. Soren kini tak lagi menatapnya. Pandangannya ia fokuskan pada tembok yang entah sejak kapan terasa menarik buat ia tatap. “Ren?” Moses berusaha untuk memecah kembali sepi itu. “Ren, you okay?” ucapnya sekali lagi saat yang pertama tidak mendapat balasan.

“Ah, iya. Gue oke, kok. I was just thingking that maybe we can figure this out together? Try to make this work?” Soren akhirnya menjawab dengan perlahan, nampak sekali ia sedang berhati-hati sekarang. “Hah? Bentar, maksudnya gimana?” Soren terlihat sibuk menyusun kata-kata yang ribut berlarian dalam kepalanya. “Honestly, i don’t know. I know this probably sounds confusing to you, but i’m just as confused. This is all new to me. But, the things that you said to me, they make my heart feel warm. I feel loved by you, and i like that feeling. I really do.”

“Gue bilang begini bukan karena gue merasa harus buat sayang sama lo balik. Atau karena gue cuma pengen ngerasa di sayang sama seseorang aja. Enggak ya, Moses. I’m saying this because i want to try this with you, see where things will go,” kini tatapan Soren sudah kembali jatuh kepadanya dan bukan karena Moses memang berharap. Namun, ia dapat benar-benar melihat keyakinan yang terpatri dari netra itu. “Gue tahu lo mungkin gak akan percaya karena gue pun bingung kenapa gue tiba-tiba ngomong begini. Tapi, serius deh. I want to try this with you.”

“Are you really sure about this? Maksud gue ini tuh beda banget, lho, Ren. We’re both men and i don’t even know if you’ve been into man before.” Soren menggeleng, “No, i haven’t. Tapi, apa bedanya, sih? I don’t find the idea of two men being in love scary. I mean, i have a lot of queer friends. I’ve read about it, watched stuff about it. And i don’t see a problem with figuring out my sexuality dan ternyata i’m part of them—i’m a queer too.”

“Lagian, menurut gue gak ada bedanya. Kan, bentuknya tetep sama-sama cinta. Isinya pasti juga sama-sama kasih sayang. Dan gue nyaman-nyaman aja sama hal itu—the fact that you like me. Malah gue bingung, kenapa harus gak nyaman? Kenapa gue harus punya pola pikir yang aneh kayak kebanyakan orang di luar sana?”

Moses rasanya tidak percaya, tapi mendengar keseriusan dan keyakinan yang ada pada tiap-tiap kata yang Soren katakan buat ia lega. Namun, tetap saja masih ada hal-hal yang harus ia pastikan benar-benar. “But, you know how society treats us. Maybe we’d even have to hide forever. Coba tanya Keenan sama Jenar. They look okay. But, i know a lot of awful things happened to them just because they’re both men and they love each other.”

“Iya, gue tahu kok. Gak cuma sekali dua kali juga Keenan cerita sama gue soal papanya yang marah waktu tahu kalau dia pacarnya laki-laki. But, why should we care about what people think? Kan, yang ngejalanin hubungan ini nantinya kita. Ini gimana sih, kok yang gak yakin malah lo begini? Heran gue,” dapat ia dengar Soren menghela napasnya kasar. Moses yang kegemasan sendiri itu mengulurkan tangannya, mengusap surai lembut yang di warnai coklat tua oleh pemiliknya bulan lalu. “Harusnya gue yang heran gak, sih? Kok malah jadi lo yang menggebu-gebu? Bukannya yang naksir disini gue, ya? Apa sekarang lo udah naksir gue juga?”

Soren sontak menepis tangan Moses dari rambutnya, “Ya udah sih kalau gamau.” Moses kembali tertawa, sebelum akhirnya memposisikan dirinya untuk berbicara dengan lebih serius. “Gue bukannya gak yakin atau gamau, Ren. Gue cuma mau lo bener-bener yakin sama apa yang bakal terjadi sama kita ke depannya. I like you so much and i don’t think i can hold it if you’re already giving me permission like this. Gue cuma gamau kalau akhirnya lo lari dari gue karena apa yang lo yakini di awal ternyata gak sesuai ekspektasi.”

“Enggak ada yang mau lari, Moses. I know this is all new to me and i know we still have to figure so many things out. Tapi, gue gak akan lari. I’m not gonna hurt you like that. I don’t think i could ever hurt someone who loves me the way you do.” Kini, giliran tangan Soren yang terjulur untuk membawa jemari keduanya saling bertautan. “We’ll figure it out together. Let’s take it slow and see where this goes.”

Mungkin memang Moses yang dasarnya terlalu berharap. Mungkin karena jemari mereka yang saling bertautan berbagi hangat. Mungkin juga karena netra Soren yang menatapnya lekat-lekat. Atau mungkin karena dirinya dapat dengar dan rasakan ada berbagai keseriusan yang terselip di antara kalimatnya.

Moses akhirnya mengangguk dengan mantap, menyetujui untuk segala hal yang akan mengubah sesuatu di antara mereka. Ia sadar ia terlalu banyak takutnya, ia sadar bahwa ini tidak akan mudah. Namun, jika Soren saja sudah berani dan seyakin itu, apalagi yang membuatnya tetap bertahan di tempat alih-alih maju dan melihat apa yang akan menanti mereka berdua di masa depan?

 

Notes:

tulisan ini udah ada dari desember tahun lalu di laptopku jadi kenapa gak kita lanjutin dan upload aja di ao3