Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-29
Words:
1,149
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
259

To Love With A Fighting Heart

Summary:

Somewhere between what they were and what they’ve become, Ryul and Ohyul stay—unsure if it’s enough.

Work Text:

Kwon Ohyul tidak ingat kapan semuanya mulai terasa seperti ini.

Bukan datang sekaligus, bukan sesuatu yang bisa ia tunjuk dan beri nama. Semua hadir diam-diam, seperti arus di bawah permukaan air yang tenang, menarik perlahan tanpa meminta untuk disadari. Sampai pada satu titik ia menoleh dan mengerti bahwa ia sudah terlalu jauh dari tepi untuk berpura-pura tidak bergerak. Tidak ada badai, tidak ada peringatan, hanya tarikan halus dari sesuatu yang lebih dalam dari yang ia kira mampu ia jelajahi.

Dan di suatu titik di antara itu semua, Kim Ryul ada di sana—bukan sebagai badai, bukan sebagai jangkar, melainkan sebagai laut itu sendiri. Sesuatu yang tidak ia lawan, sesuatu yang tidak bisa ia tinggalkan. Mungkin itu sebabnya terasa sulit. Bukan karena semuanya karam, melainkan karena kapal itu masih mengapung.

Jika ia menoleh cukup jauh ke belakang, ia bisa menemukan awalnya: sebuah malam yang tenang, ringan, nyaris tanpa beban. Musik mengalun samar di latar, langkah mereka tak seirama namun tetap berjalan berdampingan, seperti dua arus kecil yang bertemu tanpa sengaja dan memilih untuk tidak segera berpisah. Mereka berdiri terlalu dekat tanpa mengakuinya, tertawa pelan seolah semuanya tidak perlu berarti apa-apa—sampai sebuah sentuhan singkat terjadi di antara mereka.

Tangan Ryul sempat menyentuhnya. Ringan, ragu, tertahan sedikit lebih lama dari seharusnya. Sebuah riak kecil yang nyaris tak terasa. Tidak berarti apa-apa, sampai akhirnya berarti segalanya.

Malam itu, Ohyul masih ingat aroma udara, hangat tapi lembab, seperti laut setelah hujan ringan. Ia masih bisa mendengar nada-nada lembut yang mengalir—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat—seolah musik itu mengerti ritme jantung mereka. Ia ingat bagaimana jarinya ingin menempel, seakan berusaha melatih dirinya sendiri untuk berani, tapi berhenti di tepi keberanian itu. Ia menginginkannya terjadi lagi, tapi tidak berani berharap terlalu banyak.

Mungkin dulu semuanya terasa mudah. Meski tidak sempurna, tidak pasti, tetapi cukup untuk dijalani tanpa perlu dipertanyakan. Mereka tidak perlu menentukan arah atau memberi nama pada apa yang ada di antara mereka. Cukup membiarkannya mengalir dan percaya bahwa selama masih bersama, itu sudah cukup. Dan mungkin memang cukup, saat mereka belum tahu bahwa arus pun bisa berubah.

Perubahan tidak pernah datang sekaligus. Ia bergeser pelan, seperti garis air yang berpindah tanpa disadari, sampai akhirnya semuanya terasa berbeda. Percakapan tidak lagi tinggal selama dulu. Jeda terasa lebih berat. Sentuhan yang pernah datang begitu alami kini ragu, jarang menemukan jalannya kembali.

Awalnya tidak terasa apa-apa.
Sampai akhirnya terasa.
Sampai tidak bisa lagi diabaikan.

“Kamu ngerasa kita masih yang dulu?”

Ohyul tidak langsung menjawab. “…nggak.”

Jawaban itu datang pelan, tapi cukup untuk menggeser sesuatu di antara mereka.

Ryul menatapnya. Lama.

“Terus kenapa kita masih di sini?”

Ohyul terdiam lebih lama kali ini. Seolah apa pun yang ia katakan tidak akan benar-benar menjawab. Seolah menyadarkannya bahwa ia memang sedang berdiri di tengah sesuatu yang tak lagi pasti.

“…aku juga nggak tahu.”

Entah kenapa, itu tidak membuat mereka bergerak. Mereka tidak menjauh. Tidak juga mendekat. Namun mereka tetap tinggal. Bukan karena mereka tidak menyadari perubahan itu, melainkan karena masih ada sesuatu yang mereka kenali di dalamnya—sesuatu yang tidak lagi utuh, tapi juga belum sepenuhnya hilang.

“Kalau aku berhenti sekarang,” suara Ryul terdengar lagi, lebih pelan kali ini, “kamu bakal nahan aku?”

Ohyul menatapnya.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan dalam satu detik itu. Begitu banyak kemungkinan yang berputar di kepalanya—semuanya terasa benar, dan sekaligus tidak ada yang terasa cukup.

Akhirnya, ia menggeleng pelan.

“Aku nggak yakin aku punya hak buat itu.”

Ia tidak tahu mana yang lebih jujur—kata-kata itu, atau alasan di baliknya.

Ryul tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatapnya, seperti mencoba memahami sesuatu yang tidak benar-benar dijelaskan.

Dan untuk pertama kalinya, tinggal terasa seperti pilihan yang sunyi.

Rasanya seperti bertahan di tengah laut tanpa peta, bukan melawan satu sama lain, hanya berusaha tetap mengapung, menjaga sesuatu yang perlahan berubah bentuk tanpa benar-benar hilang. Tidak ada yang benar-benar hancur, tetapi juga tidak lagi utuh. Bertahan tidak terasa seperti pilihan. Ia menjadi satu-satunya hal yang tersisa.

“Dulu semuanya nggak terasa seberat ini ya.”

Ohyul mengangguk pelan. “Sekarang iya.”

“Rasanya gimana sekarang?”

Ohyul mengalihkan pandangan. “Kayak sesuatu pelan-pelan lepas, tapi kita masih di sini. Kayak kita lupa caranya berenang di dalam arus ini bersama.”

Hening jatuh di antara mereka.

Mungkin memang hanya itu. Bukan lautnya yang berubah, bukan mereka—hanya cara mereka bertahan di dalamnya yang perlahan hilang. Mereka tidak melawan arus, tidak memaksakan arah yang tak pernah bisa mereka kendalikan, tetapi mereka tetap tinggal.

Mengapung. Bertahan. Memilih, berulang kali, untuk tidak melepaskan, bahkan ketika tenggelam terasa lebih mudah.

Kadang, Ohyul teringat malam lain—malam ketika musik mengalun dan mereka bergerak mengikuti alunan tanpa peduli apakah mereka selaras atau tidak. Mereka terhanyut bersama, perlahan, seperti mengikuti arus yang lembut tapi pasti, tubuh mereka berirama tanpa sadar, nyaris tanpa kata. Ia bisa merasakan tangan Ryul hampir menyentuh lehernya, pura-pura tidak sengaja. Ia ingat detak jantungnya yang tak bisa ditahan, seperti ia ingin menahan sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki sepenuhnya.

Ia ingin itu terjadi lagi. Ia ingin tangan Ryul itu kembali, berani tanpa ragu. Ia ingin musik itu kembali, lembut dan mengalir, mengajarkan mereka kembali cara bergerak berirama tanpa perlu memaksakan diri.

Kadang, Ohyul membayangkan alunan itu membawa mereka kembali ke malam itu, saat tangan hampir bersentuhan tapi tidak pernah meleset, saat tubuh mereka bergerak bersama dalam keheningan yang penuh rasa. Saat itu terasa seperti mereka belajar lagi cara mencintai tanpa perlu janji.

“Menurutmu kita bakal baik-baik aja?” Suara Ryul terdengar pelan. Pertanyaan itu jatuh seperti sesuatu yang tenggelam ke dasar laut di dalam dada Ohyul—hilang dari permukaan, tapi beratnya tetap tinggal. Seperti sesuatu yang sudah tahu jawabannya, tapi tetap ingin didengar.

Ohyul menunduk sebentar, menarik napas panjang. Ia mengangkat pandangan dan untuk sesaat, mereka bertemu—dekat, terlalu dekat.

“Aku juga maunya percaya begitu,” kata Ohyul, suaranya rendah.

Ryul tidak memotong.

“Selama kamu masih di sini… dan aku juga,” lanjutnya, lebih lirih, “aku pikir kita bisa coba lagi.”

Ia tidak mengatakan “akan berhasil”.
Ia tidak mengatakan “pasti akan kembali seperti dulu.”

Hanya coba.

Perlahan—hampir tidak terlihat—tangan Ryul bergerak. Sedikit saja. Seolah ingin meraih sesuatu yang sudah terlalu sering ia genggam tanpa berpikir.

Ohyul melihat gerakan itu berhenti di tengah jalan.

Tidak ada yang mundur, tidak ada juga yang melanjutkan. Hanya jarak kecil yang tiba-tiba terasa terlalu besar.

Ryul menarik tangannya kembali, nyaris tanpa suara. Anehnya, itu terasa lebih menyakitkan daripada jika mereka benar-benar saling menyentuh. Ia menatap Ohyul sedikit lebih lama. Seperti ingin memastikan sesuatu—atau mungkin, mengingatnya.

Ryul tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Kali ini, diamnya terasa seperti jawaban itu sendiri. 

Bukan janji.
Bukan kepastian.

Hanya sesuatu yang tetap mereka pegang, meski perlahan kehilangan bentuknya.

Mereka tetap di sana. Mereka tetap tinggal. Mereka tetap bersama—walau tidak saling mendekat, walau tidak saling menjauh.

Dan untuk saat ini—cukup.

Mereka masih bertahan.

Karena mencintai dengan hati yang terus bertarung tidak pernah benar-benar tentang menang, melainkan tentang tetap bertahan di dalamnya, selama masih ada sesuatu yang membuat mereka memilih untuk tidak pergi.