Work Text:
Aku tidak tau apa yang aku tidak miliki.
Anego, sepertinya tidak ingin berhenti sejenak untuk ku. Entah apa yang aku lakukan: hatinya kian bergeser pemilik, tetapi tiada hari dimana aku bangun—dan mendapati kasihnya untuk ku.
Apa yang kurang dari diri ini?
Aku tidak pernah menginginkan belas kasihku dibalas sepanjang masa—aku cukup sadar bahwa kau adalah seseorang yang bebas, sementara aku… hanyalah penjara yang secara perlahan menutup di sekelilingmu.
Namun sesungguhnya, keinginanku tidak pernah sebesar itu.
Aku hanya ingin kau bersinggah padaku, walau hanya sebentar—sekadar beristirahat sebelum kau kembali melanjutkan perjalananmu ke tempat yang memang kau pilih.
Dan kini, justru aku yang harus duduk diam, mendengarkanmu membicarakan kasih yang kau berikan kepada seseorang yang, di mataku, bahkan tidak pantas untuk menerimanya. Ada sesuatu dalam pilihanmu yang tak pernah benar-benar bisa kupahami.
Kau sungguh aneh, Anego.
“Journey… menurutmu, apakah Point Flag memang menyukaiku?” Suaranya turun perlahan, lirih dan ragu-ragu, seolah kata-kata itu harus dipetik satu per satu dari tempat yang paling rapuh di dalam dirinya.
Ia tidak menatapku secara langsung saat mengucapkannya; matanya justru beralih ke arah lain, mengikuti garis lantai seakan-akan di sana terdapat jawaban yang tak berani ia cari di wajahku.
Pertanyaan itu menyelinap masuk ke dalam kesunyian di antara kami, mengusik ketenangan yang sebelumnya kupaksakan ada. Rasanya seperti batu kecil yang dijatuhkan ke permukaan air yang tenang—riakannya mungkin tidak terlihat besar, tetapi cukup untuk membuat seluruh permukaan bergetar.
Aku merasakannya, tentu saja. Namun seperti biasa, aku tidak mengatakan apa pun.
Batin ku kelak terluka akibat perkataan mu—namun, aku tetap mendamba mu, bagaikan aku punya kesempatan. Dan tanpa aku sadari: aku sudah termenung terlalu lama untuk memberikan mu sebuah konfirmasi.
Aneh.
Untuk apa kau membutuhkan konfirmasi atas apa yang aku pikirkan? Bukan kah kamu petualang bebas? lakukan apa yang kau ingin—lagi pula, siapa aku bagi mu?
Aku tidak bergeming, menatap Anego saja tidak: aku tak yakin batin ku bisa tetap kudus bila aku menatap mu sekali lagi.
"Journey, kau baik-baik saja? Kau termenung." Tapi lantas, Anego mengguncang tubuhku pelan—Dan secara reflek, ataupun secara nafsu yang tak bisa aku pungkiri, pandangan tetap bersinggah kepadanya.
Aku seorang hipokrit.
Sialan—aku tak bisa memungkiri bahwa nafas ku tersengal, bahwa mata ku tertuju pada mu, dan hanya engkau, Anego.
Hati ku berdebar—namun, batin ku sudah menghina mu dengan sepuluh cara yang berbeda.
Anego, kau membuat ku merasa aneh. Bimbang terus menghampiri ku bila aku bersama mu.
Dengan tegukan, aku mengangguk. "..Point Flag-san mungkin berkata kebalikan.. tapi aku yakin tiada yang bisa menolak mu, Anego." Aku berbisik, meski separuh dari diri ku, ingin mengatakan sesuatu yang justru berbalik.
Hati ku masih memilih mu, tetapi—batin ku sudah lama meninggalkan angan-angan untuk menjadi kekasih mu.
Aku akan berkata bahwa aku tidak merasakan apapun kepada Anego kecuali penghormatan:
tapi apakah penghormatan datang dalam bentuk dimana aku ingin bibirnya untuk bercumbu dengan milikku?
Apakah penghormatan datang dalam bentuk menginginkan?
Apakah penghormatan membuat hati ku terasa sakit—berat, dan iri setiap kali tangannya merangkul pundak orang lain?
Journey—kamu memang seorang hipokrit.
Stay Gold tertawa ringan mendengar balasan ku: ia tampak puas dengan pujaan yang aku tuai—pandangannya beralih menuju surat cinta yang ia genggam, seakan ia sedang melatih dirinya untuk mengucapkan pengakuan cinta untuk sang pujaan hati.
“..kau memang pendengar yang baik, Journey.” Anego memuji, suaranya ringan namun tulus—ketulusan itu terlukis jelas di matanya, seakan-akan seseorang telah menyapukan kuas lembut di sana, meninggalkan kilau yang begitu mudah membuat siapa pun berharap menjadi satu-satunya yang dipandang demikian.
Aku hanya ingin—sekali saja, atau sesekali—merasakan arah tatapan itu jatuh kepadaku, dan kepadaku saja.
Apakah permintaan seperti itu terlalu berat untuk dikabulkan?
Untuk semua yang telah aku berikan—untuk semua mimpi yang pernah kubangun, untuk waktu yang kuhabiskan, untuk kata-kata yang hangus dilahap oleh keraguan dan ketakutan akan satu pertanyaan sederhana: mungkinkah semua itu hanya akan melukai hatimu?
Lalu apa yang sebenarnya pernah Anego berikan kepadaku?
Mataku mungkin layu karenamu, namun hatiku telah jauh lebih dulu gugur.
Pada saat-saat seperti ini, Tuhan menjadi satu-satunya tempat aku bersandar—tempat aku mengeluhkan nasib yang rasanya telah hancur menjadi bubur, tak mungkin lagi dikembalikan ke bentuk semula.
Maka sadarkanlah aku—wahai segala sosok yang bersemayam di langit sana—bahwa aku takkan pernah mampu memperoleh hatinya, apalagi raganya. Yakinkanlah aku bahwa belas kasih yang ia miliki memang ditakdirkan untuk seseorang yang benar-benar pantas menerimanya, seseorang yang bukan aku.
Anego… kamu sosok yang kejam.
