Actions

Work Header

Brief Encounter

Summary:

In which, George meets Max a year after their break up.

Notes:

Hi...... I wrote this after listening to A Couple Minutes by Olivia Dean, sooo.... maybe listening to it will set the mood better. Anyway, this is not beta read, so im sorry if there's any mistakes. I hope you like it!! Kudos and comments are appreciated. For non Indonesian reader, I think you can just put my story to google translate and it'll get translated just fine.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Selepas mengisi ulang bensin mobil miliknya, George memarkirkan sedan berwarna hitam itu di halaman parkir minimarket. Lelaki berusia 29 tahun itu berniat untuk mengganjal perutnya selepas sesi gym yang rutin ia lakukan pukul enam sore. Jemari lentik lelaki itu mengambil satu kotak susu coklat, satu bungkus kecil mixed nuts, serta protein bar. Setelahnya, ia mengantre untuk membayar semua belanjaannya. 

George baru saja akan masuk kembali ke mobil ketika lelaki itu akhirnya mengurungkan niatnya. Rencana untuk menyantap makanannya di dalam mobil berubah. Lelaki itu memutuskan untuk makan di tempat duduk yang tersedia di lantai dua minimarket tersebut. 

George mulai bisa merasakan angin berhembus meniup rambutnya ketika ia menaiki tangga menuju lantai dua minimarket yang memang dibuat semi outdoor itu. Langkahnya tertuju mantap ke salah satu meja di sudut ruangan. Ia baru saja akan duduk ketika mata besarnya menangkap sosok yang sedang duduk membelakangi dirinya. Sosok tersebut duduk menghadap ke luar, tepatnya menatap antrean mobil yang menunggu giliran isi bensin. 

Menelan ludah, George memberanikan diri untuk menghampiri sosok yang ia tatap. Hidung bangir lelaki itu mengerut ketika ia mencium bau asap menguar dari orang yang ia hampiri. 

 

“Max?” Panggil George dengan ragu, lelaki itu takut salah orang. 

Orang yang ia panggil terlonjak dan menoleh, mata biru dengan semburat kehijauan itu menatap lurus pada mata besar George. Max buru-buru mematikan rokoknya pada asbak yang sudah disediakan. 

“Hello? Earth to Max Emilian?” Panggil George sekali lagi. 

“Oh,” Max seperti tersadar dari kagetnya, “Hai George, duduk?” Max menawarkan bangku yang terletak di sebelahnya. 

“Thanks,” George duduk di sebelah Max, lelaki itu berdeham sebelum akhirnya bertanya, “Kamu ngerokok lagi?” 

Max menghela napas panjang, seperti sudah tau kalau pertanyaan ini akan muncul, sooner or later, “Iya, tapi jarang banget kok,” Jawab Max, “Maaf.” 

George mengernyit, “Kok minta maaf?” 

Max terdiam sejenak, “Kamu kan paling nggak suka kalau aku ngerokok.” Jawabnya. 

George terkekeh sambil mengunyah kacang almond, “Tapi itu kan dulu waktu kita masih pacaran.” 

 

Waktu kita masih pacaran 

Waktu kita masih pacaran 

Waktu kita masih pacaran

 

Perkataan George tersebut terngiang-ngiang di telinga Max, membuat alat pendengaran pria itu berdengung. Betul sekali, dua pria yang duduk bersebelahan tersebut adalah sepasang mantan kekasih. Putus kurang lebih satu tahun yang lalu dengan alasan tidak bisa–belum bisa–berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Lebih tepatnya, Max yang tidak bisa. 

 

Max menelan ludah kasar, ia meneguk minuman energi dengan lambang banteng yang berada di hadapannya, “Apa kabar Ge?” 

Mendengar pertanyaan itu George kembali terkekeh, “Baik-baik aja sih,” Jawab George, “Harusnya aku yang tanya, kamu apa kabar? Dulu kamu udah bisa lho berhenti ngerokok.” 

Max menatap lurus ke jalan raya, tangannya tidak bisa diam. Melihat Max yang ragu-ragu menjawab, George pun membuat asumsi, “Papa kamu, ya?” George menoleh, menatap Max lamat-lamat. 

 

Max menoleh, dua pasang mata berwarna biru itu saling bertemu. Mungkin George berimajinasi, namun lelaki itu yakin bahwa ia sedang melihat mata Max berkaca-kaca. Berkebalikan dengan matanya, leher Max justru menggeleng perlahan. 

George menghela napas, ia memutar tubuhnya menjadi menghadap Max sepenuhnya. Walau sedikit ragu, lelaki yang lebih tinggi itu melebarkan kedua lengannya. Mengundang Max untuk masuk ke dalam rengkuhannya. 

George hampir saja menarik kembali tangannya karena tak kunjung disambut sebelum akhirnya Max menghambur ke dalam pelukannya. Telapak tangan George mengusap-usap punggung bidang milik lelaki yang lebih tua. Kedua lelaki tersebut berpelukan dalam hening dan dinginnya malam. Tak sepatah kata pun berani George ucapkan. 

Tak berapa lama kemudian, Max mengendurkan pelukannya. George mau tidak mau juga ikut melepaskan pelukannya di tubuh Max. Max tidak menangis tersedu-sedu, namun George dapat melihat air mata yang menetes di sudut mata pria itu, yang mana langsung diusap dengan kasar oleh sang pemilik. 

 

“Thank you.” Ucap Max singkat. 

George mengangguk, “Anytime, I still care Max, always.” ucapnya, “Just hit me up kalau suatu saat kamu mau cerita.” 

Max tersenyum singkat, lelaki itu buru-buru mengambil kunci mobilnya yang berada di meja. Max lalu berdiri, “It was nice meeting you, aku pergi duluan ya.” 

“Max–”

“Oh, I’m glad you’re doing well, aku titip salam untuk Alex.” Ucap Max untuk terakhir kalinya sebelum lelaki itu berjalan cepat menuju tangga, tanpa sekali pun menoleh ke arah George. Max bahkan meninggalkan korek api, kotak rokok yang isinya baru berkurang satu, dan satu bungkus coklat dengan bungkus berwarna merah putih. 

Tak berapa lama, George melihat sosok Max di parkiran. Lelaki itu masuk ke dalam mobil SUV yang Max panggil dengan nama Rocky. 

 

Ping!

Alex: Sayang, malam ini dinner di apart aku ya, aku yang masak. Menu malam ini pad thai, how’s that sound? 

George tersenyum, membalas ‘perfect’ pada Alex. Saat lelaki itu memandang kembali ke parkiran, mobil Max sudah beralih, digantikan sebuah sedan berwarna merah terang. 




Notes:

So.... I hope thats good? Tell me how you like it. Thank you!