Work Text:
Selasa pagi cerah Nial langsung terasa suram saat ia menyadari apa yang kini ia pegang. Berbagai macam skenario langsung berdatangan di kepalanya. Ia hanya bisa terduduk di kloset kamar mandi rumahnya terdiam ditemani kipas exhaust yang terus menderu.
“Nanti aku bilang ke Mama gimana? Waduh apalagi Papa sama Kakak.” gumamnya sepelan mungkin berharap itu tenggelam dengan suara kipas dan flush. Kepala Nial mulai pusing dan air matanya hampir tidak terbendung ketika sebuah ketukan dari luar kamar mandi terdengar.
“Niy, kamu masih lama? Aku mules banget ini.” Dengan terburu-buru Nial pun membuang benda plastik itu ke dalam tong sampah dan menyeka air matanya yang lolos.
“Iya, sebentar Ga.” balasnya.
Klek, pintu kamar mandi pun terbuka dengan Raga yang menunggu sambil memegang perutnya. Nial pun segera menyingkir dari ambang pintu supaya Raga bisa segera masuk.
“MAKASIH NTIKK” seru Raga begitu ia menutup pintu tersebut. Raga sama sekali tidak memperhatikan wajah kalut Nial, tidak menyadari bahwa Nial sedang gemetaran. Tapi Nial sendiri pun berharap Raga tidak menyadarinya. Si cantik itu pun menguatkan diri untuk terlihat normal dan berjalan ke dapur untuk melanjutkan memasak sarapan untuknya dan Raga.
Nial sedang mencuci peralatan masak saat pintu kamar mandi terbuka dan derap langkah, atau nyaris berlari, Raga terdengar olehnya.
“NIAL!” Raga berseru saat menemukan yang ia cari di dapur. Yang dicari hanya membalikan badannya sedikit dari wastafel.
“Nial! Apa ini?” Belum juga Nial bertanya, Raga sudah memotongnya sambil menunjukan barang yang tadi ia buang. Wajah si cantik itu langsung pucat.
“Nial, ini punya kamu kan?” tanya Raga lagi. Nial hanya terdiam.
“Niy?” Nial membalas dengan anggukan terkaku, masih takut untuk menatap Raga.
“Gimana dong?” ucap Nial lirih. Raga tidak berkata apapun tapi langsung memeluk sosok cantik di depannya itu.
“Wait, gimana apanya?” Raga balas bertanya bingung. Ia melonggarkan pelukannya supaya bisa menatap mata Nial
“Aku hamil.” lirih Nial tertunduk.
“Ya terus?” Raga mengangkat dagu Nial dari tundukannya. Menatap dalam mata kekasihnya itu.
“Gimana kasih tau papa mama?” Mata Nial berkaca-kaca siap untuk menjatuhkan air mata takut.
“Aku takut, Ga.” lanjut Nial mulai terisak. Raga pun segera mencakup wajah Nial.
“Hah? Ngapain takut? Kita udah nikah 2 tahun. Mama papa malah seneng kali?” Si Cantik pum membatu sejenak dengan pernyataan pria yang sudah banyak andil di hidupnya 12 tahun kebelakang.
“Eh. Iya, ya. Kita udah nikah.” Raga hanya tertawa lalu mengecup bibir suaminya itu.
“Dih, bisa-bisanya lupa. Kita udah 28 tahun heh, bukan bocah SMA lagi.” Raga menoel hidung bangir suaminya sebelum memeluk eratnya kembali yang kali ini dibalas lebih erat oleh Nial yang tersenyum bahagia.
