Actions

Work Header

Ohyul burnout yang diciam-cium pacarnya sampe ketiduran.

Summary:

In conclusion, Ohyul dicium Ryul semuka-muka biar gak burnout dan overwhelmed lagi.

Notes:

semoga ga kayak tulisan orang ngablu karena ini ditulis jam 6 pagi

Work Text:

Ohyul burnout. Ohyul overwhelmed. Pokoknya Ohyul puyeng. Ohyul rasanya cuma pengen muntah, ngeluarin semua isi makan malamnya semalem karena tiba-tiba deadline untuk lagu buatannya malah dimajukan jadi nanti sore.

Padahal, liriknya belum selesai sama sekali; cuma stuck sampai paragraf kedua, dan Ohyul sudah kepalang hampir gila untuk melanjutkannya.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, gak menyangka tiba-tiba deadlinenya akan dimajukan secepat ini oleh produser serta editor untuk lagunya. Padahal kemarin-kemarin katanya sih, Ohyul disuruh buat santai aja.

Tapi, entah kenapa mereka malah seenaknya begini. 

Matanya rasanya panas, lelah dan berat karena seharian penuh berhadapan dengan komputer-komputer agensinya. Belum lagi jari-jari tangan kanannya yang rasanya udah kebas karena gak berhenti nekan pensil yang udah gak ada bentuknya itu.

Lalu disela-sela waktu ia mengistirahatkan saraf-saraf otaknya, ketukan pintu terdengar oleh telinganya. Ia sengaja memilih studio yang jauh dari Ryul–juga adik-adiknya agar fokus, bisa cepat menyelesaikan lagu antah berantah ini.

"Yul, ini aku Ryul. Kamu udah makan? kata Louis kamu dari semalem belom keluar dari sini." Ryul gak mencoba masuk, cuma pelan-pelan bertanya pada Ohyul dari depan pintu studio. Takut mengganggu.

Yang ditanya belum mau menjawab. Masih setia menutup mata lelahnya. Tapi, gak bisa dipungkiri kalau cacing-cacing dalam perutnya berteriak ingin diberi makan. Ia lapar. Juga rindu pada yang bertanya di balik pintu studionya.

"Aku beliin makanan nih, aku taro ya di depan pintu. Jangan sampe lupa makan ya, Yul. Takutnya kamu pingsan lagi kayak kemarin."

Ryul baru aja mau beranjak pergi kalau pintu yang tadi dia ketuk tiba-tiba terbuka. Menampilkan Ohyul yang jauh dari kata rapih; rambut panjangnya yang acak-acakan, matanya yang merah karena kelewat lelah, dan bibirnya yang pucat.

Ohyul rasanya udah mau nangis liat pacarnya muncul di depan mata. Entah karena capek, atau memang ingin clingy aja, kalau gak ditahan-tahan, pasti air matanya udah berjatuhan kayak hujan yang kebetulan lagi turun di luar sana. "Ryul, laper."

Ryul rasanya kasian, tapi gak bisa tahan buat tersenyum tipis. Pacarnya kalau sudah mode begini emang paling lucu, bakal jadi manusia paling manja seantero dunia, dan Ryul dengan senang hati menerima itu semua. "Ya udah yuk makan?"

Setelah itu gak ada yang terjadi selain Ryul yang dengan sabar nyuapin Ohyul yang benar-benar manja. Ryul telaten menyuapi Ohyul yang bersandar di sofa dengan mata tertutup, rasanya pengen tidur sekarang juga tapi ia masih lapar.

"Minum dulu nih, makanannya udah abis." Bahkan untuk sekedar minum pun rasanya Ohyul mager sekali. Lalu lagi-lagi Ryul dengan cekatan taruh sedotan di dalam minum Ohyul untuk ia beri pada Ohyul.

"Udah kenyang? mau kerja lagi? aku gak akan ganggu." Ryul serius pas ngomong ini, karena tau Ohyul paling gak bisa diganggu kalau lagi bekerja. Bisa-bisa semua orang kena imbasnya.

Tapi Ohyul yang ditanya malah cemberut, sengaja memajukan bibirnya. "Jangan kemana-mana. Disini aja, aku capek."

Lantas kepalanya ia taruh ke atas paha Ryul untuk menyamankan diri di atas sofa yang kecil itu.

Yang dijadikan bantal cuma bisa tersenyum kecil, lalu tangannya terangkat untuk mengelus-elus rambut Ohyul. "Tapi kan katanya nanti sore deadlinenya, Yul. Beneran gapapa, gak kamu lanjutin?"

"Biarin aja lah gak jadi juga lagu aku. Aku ngestuck dari semalem. Lagian tiba-tiba banget dimajuin deadlinenya, dipikir aku seorang musisi jenius kali ya." Ohyul ngomel-ngomel sambil tangannya meluk pinggang Ryul, ndusel-nduselin mukanya di perut rata Ryul.

"Ya udah, Aku temenin. Tapi, kalau tar kamu diomelin aku gak ikut campur ya." Dari rambut, sekarang tangan Ryul turun ke bahu Ohyul, memijat-mijat pelan bahu pacar kecilnya yang terasa tegang sekali.

"Ryul," Ohyul dibawahnya tiba-tiba manggil, sambil nunjuk bibirnya sendiri. "Cium."

Ryul cuma bisa ketawa kegemesan, lalu selanjutnya studio yang isinya cuma mereka berdua itu penuh dengan suara kecupan dari Ryul untuk Ohyul.

Ryul kecup bibir Ohyul yang agak kering karena kelamaan di studio, lalu membasahi bibir Ohyul dengan ludahnya sendiri. Melumat pelan bibir Ohyul, lalu pelan-pelan meminta ijin untuk melesatkan lidahnya untuk ia mainkan di dalam mulut Ohyul.

Dirasa udah gak ada pasokan oksigen yang bisa ia raup, Ohyul cepat-cepat mukul dada pacarnya yang masih sibuk basahin bibir keringnya. "Bentar aku gak bisa napaaas." Selalu paling lucu kalau Ohyul tiba-tiba ngerengek kayak gini.

Ryul sekali lagi cuma bisa ketawa kegemesan. Tangannya ia bawa untuk menangkup pipi Ohyul yang untungnya masih chubby. Lalu ia bubuhkan kecup pada pelipis Ohyul, lalu keningnya untuk beberapa detik, turun ke pucuk hidung Ohyul, lalu kedua pipi Ohyul yang sudah mulai memperlihatkan kehidupan daripada tadi.

Dan terakhir ia kecup lagi bibir pacarnya yang kembali menutup mata, udah gak sanggup buat makin lama terkena sinar lampu di atasnya.

"Lampunya mau aku matiin aja?" Tanya Ryul yang cuma bisa dibalas anggukan lemah oleh Ohyul.

Dengan hati-hati kepala Ohyul dia turunkan dari pahanya, lalu mematikan lampu studio yang hanya menyisakan lampu remang-remang yang sengaja dipasang.

Kemudian Ryul balik ke pacarnya di sofa yang posisinya sudah benar-benar lemas. Lalu Ohyul diangkat pelan-pelan agar bisa duduk dipangkuannya, agar bisa tidur lebih nyaman.

Yang diangkat ke pangkuan langsung menyamankan posisinya, kepalanya ia posisikan tepat di leher Ryul hinga nafas teraturnya bisa Ryul rasakan.

Hampir 15 menit lamanya posisi mereka bertahan seperti itu hingga ketukan kembali muncul di balik pintu studio.

"Kak ohyul, ini aku Louis, sama bang Woojin. Mau liat kakak soalnya kakak belum keluar studio dari semalem."

Kalau aja gak inget ada Ohyul yang tidur dipangkuannya, Ryul udah ketawa dengar suara louis yang menurut dia gemes banget. Ia lantas menutup kedua telinga Ohyul dengan pelan lalu berteriak, "Masuk aja, Ohyulnya lagi tidur."

Gak lama, Louis si bongsor dan Woojin yang mengikutinya di belakang masuk ke dalam studio yang remang-remang itu. Melihat orang tua jadi-jadiannya sedang pangku-pangkuan, alis Louis menukik heran.

"Kok udah pangku-pangkuan aja. Aku juga mau ikut pelukan."

Dan saat terbangun, Ohyul mendapati dirinya yang masih dipangku Ryul yang ternyata ikut tertidur, yang di sampingnya ada Woojin yang juga tertidur dengan kepalanya bersandar ke bahu Ryul.

Juga tangan yang sudah ia hapal di luar kepala melingkar di pinggangnya, Louis yang ikut-ikutan tidur di sofa sempit itu. Tangannya protektif memeluk Ohyul, lalu kepalanya yang bersandar pada sofa.

Entah kenapa, seluruh lelah Ohyul tiba-tiba hilang. Rasanya kalau dia diomelin sekarang oleh tim produser juga gak apa-apa. Pasalnya pemandangan teduh yang dia liat sekarang udah bikin hati dan kepalanya jauh lebih dingin dan tenang daripada tadi.

Hari itu ditutup dengan mereka berempat yang mutusin buat nginep di studio. Walau tau mungkin pas bangun nanti, badan mereka bakal sakit-sakit.