Work Text:
Disaat temannya yang lain sibuk huru-hara karena akhirnya naik ke kelas dua belas, atau bahasa gaulnya agit.
Athala malah merasa sebaliknya. Ia pikir apa enaknya sih, menjadi agit? Pikirnya kelas dua belas nanti tiap hari isinya hanya ujian, lalu membahas soal kampus, ujian lagi, membahas soal kampus lagi. Berulang begitu saja terus sampai memikirkannya pun Athala sudah mual duluan.
Athala merasa kehidupan agitnya akan berat; ia salah satu murid terpandang di sekolahnya. Selalu juara satu–atau paling-paling juara tiga setiap olimpiade. Ranking 1 umum yang namanya selalu disebut-sebut oleh mereka yang tak suka dengan pencapaian Athala.
Namun, apa yang bisa athala perbuat. Ia hanya bisa menerima beban di pundaknya yang ia rasa akan lebih berat daripada kelas sepuluh dan sebelas dulu. Tatapan-tatapan penuh harap dari hampir seluruh guru yang ada, buat Athala mau tidak mau tetap tersenyum selama menjalaninya.
Tapi, di suatu pagi yang random, Athala temukan alasan hidup agitnya tidak akan hitam putih seperti pikirannya.
Waktu itu motor Athala sialnya malah mogok, di tengah jalan yang lebih sialnya lagi Athala jarang lewati–jadi ia tak tau apa ada bengkel di dekat sini atau tidak. Pagi itu Athala punya jadwal konseling dengan guru BKnya, ia tidak boleh terlambat sebenarnya. Dengan berat hati, Athala meminta ijin untuk terlambat masuk karena alasan yang ada.
Mendorong motornya sudah cukup jauh dan Athala belum juga menemukan bengkel dimana pun. Lalu tiba-tiba, dari belakangnya ada mobil mahal—yang Athala sendiri tidak familiar dengan merknya.
Dari jendela bagian kemudi muncul seseorang, mahasiswa? sepertinya begitu. "Motornya mogok? Sini gue bantuin."
Athala yang sudah lelah karena berjalan cukup jauh, dengan senang hati menerima bantuan mahasiswa itu. Memutar balik motornya, lalu berjalan mengarah ke mobil hitam tersebut.
"Iya...kak. Kakak tau gak ya bengkel di deket sini ada apa enggak?"
Si yang sepertinya mahasiswa itu belum menjawab, malah sibuk menelfon seseorang yang sepertinya penting. "Yaudah tar lo ke sini aja langsung, motornya ada di sini juga kok."
"Eh maaf....? siapa namanya?" Raut wajahnya terlampau sopan saat bertanya untuk mahasiswa yang terlihat garang di mata Athala.
"Athala, kak."
"Oh iya, Athala," senyumnya sangat lembut, "Ini udah gue panggilin montir langganan gue. motornya lo taro aja di sini. Tenang aja aman kok, gak akan diambil, Dia udah on the way ke sini. Athalanya bareng gue aja, biar gak telat."
Athala yang sudah pusing pikirkan konselingnya dengan cepat menerima tawaran orang asing di depannya, "Boleh deh, kak. Maaf ya kalau aku ngerepotin."
Lagi, dengan senyum paling lembut yang Athala pernah lihat, mahasiswa itu menjawab, "Iya, gak apa-apa Athala."
Athala masuk ke dalam mobil si orang asing, lalu hidup kelas dua belasnya langsung berubah derastis.
"Kak, lo emang libur? kok bisa jemput gue."
Sudah 5 bulan lamanya dari mereka pertama bertemu. Ternyata orang asing itu namanya Ravif, dan Ravif bukan mahasiswa seperti yang Athala pikir. Ravif hanya beda satu tahun dengannya, yang mana ia juga masih kelas dua belas. Katanya sih, terlambat masuk sekolah.
"Gurunya pada rapat tadi, soalnya mau ujian kan. Athala mau kemana dulu?"
Seiring berjalannya waktu, kebiasaan Ravif yang menggunakan lo-gue kepada Athala perlahan menghilang, tergantikan oleh sebutan lebih lembut, juga cringe kata Athala, yaitu athala-aku. Berbeda jauh dari Athala yang masih tidak atau belum sopan terhadapnya. Tetapi, Ravif masih selalu tenang dalam menyikapi perilaku Athala.
"Aku mau ke puncak boleh gak, kak?" Athala dan kebiasannya yang tiba-tiba manis kalau ada maunya.
"Athala yang bener aja, besok Athala sekolah, katanya mau ujian." Tapi Ravif sudah biasa menghadapinya.
"Ini namanya refreshing tau, kaakk. Sebelum minggu ujian tuh aku harus refreshing."
Mana bisa Ravif tolak permintaan seorang Athala kalau dia sudah cemberut seperti itu.
Athala tidak semerta-merta menerima mentah-mentah segala pemberian ravif yang memang tidak terlalu berlebihan. Sekali-kali Ravif kirimkan makanan ke rumah Athala, yang dengan setengah hati Athala terima. Atau kadang Ravif kirimkan berbagai cemilan untuk menemani Athala belajar.
Athala awalnya selalu menolak, merasa tak enak, mereka hanya baru bertemu sekali. Kenapa bisa Ravif sebaik ini padanya? Pikiran buruk soal Ravif tak pernah tinggalkan pikirannya; takut-takut bisa aja ia di apa-apai, takut-takut kalau ia akan dicelakai.
Tetapi Ravif bersumpah, ia tak punya niat aneh, atau lebih parahnya lagi niat jahat. Ravif berani sumpah di atas makam orang tuanya kalau sedari melihat senyum ceria Athala untuk pertama kali waktu itu, Ravif rasa-rasanya hanya ingin melindungi Athala dari seluk beluk dunia yang terlampau jahat adanya.
Ravif juga sadar kalau dia tak boleh lewati jarak yang sudah terbentang diantara mereka. Jadi di beberapa waktu, Ravif mulai menjauh; menyadari kalau bisa aja ia buat Athala takut.
Kemudian di suatu malam saat Ravif sibuk mengurus event kelulusan sekolahnya yang akan datang, ada telfon dari Athala setelah dua bulan mereka tidak berkomunikasi.
"Halo, Athala?"
Belum ada jawaban dari yang jauh di sana, Ravif menerima telefon sambil sibuk merespon anggota panitianya yang lain.
"Athala? kenapa?"
Lalu akhirnya terdengar isak tangis yang terlampau pelan dari Athala. Buat Ravif kalang kabut kabur dari kesibukannya.
"Athala, take a deep breath ya. Kenapa?"
Masih ada jeda sebelum Athala menjawab, "Aku—aku diusir dari rumah tante aku. Katanya aku nyusahin."
Untuk seorang anak tunggal seperti Athala yang sudah ditinggal oleh orang tuanya sedari bayi lalu ditinggalkan begitu saja pada keluarganya, Athala sudah terbiasa berpindah dari satu rumah ke rumah saudara jauh atau bahkan orang lain yang ia tak kenal. Tapi, ia harap rumah ini rumah terakhir sebelum ia kuliah lalu hidup sendiri nanti.
Tetapi mungkin, dunia memang selalu menang kalau soal beri pukulan berat untuk penghuninya. Athala tiba-tiba diusir, dicaci maki, dikatai tak berguna oleh perempuan yang baru beberapa bulan ia tinggali rumahnya.
Putus asa dan merasa hilang; Athala mau tidak mau menelfon Ravif yang sudah dua bulan tak menghubunginya.
"Oke Athala, sebentar ya. Kamu cari tempat duduk dulu. Terus tenangin diri, dan shareloc juga ke aku ya? aku langsung ke kamu."
Seperti sihir yang selalu Athala baca pada buku dongengnya dulu, kalimat panjang dari Ravif langsung ia lakukan. Mencari tempat duduk sambil menggeret koper juga menggendong tasnya, menenangkan diri, lalu menyempatkan untuk share locationnya ke Ravif.
Saat datang, Ravif rasanya ingin menangis melihat Athala yang kecil dan rapuh menunggu kedatangannya.
"Athala, maaf lama." lalu jaketnya ia sampirkan pada bahu Athala. "Dingin ya? maaf aku telat."
Athala yang Ravif tau hanya berusaha kuat akhirnya bersni menatap balik Ravif yang khawatir. "Gak apa-apa vif, maaf ngerepotin."
Ravif tak sanggup, Athala langsung ia bawa dalam dekapannya, diusap-usap sayang kepalanya, dan tak sadar mengecup tipis pucuk kepala Athala. "Athala maaf, maaf ya telat, kamu gak ngerepotin sama sekali."
Yang disayang-sayang tak tahan, akhirnya runtuh dalam dekapan Ravif.
Seperti menjadi titik balik hubungannya dengan Ravif, Athala lama kelamaan mulai menerima lelaki itu dalam hidupnya.
"Kenapa sih tiba-tiba pengen ke puncak?" Ravif bertanya sambil tangannya sibuk mengaduk-ngaduk indomie Athala, bermaksud agar uap panasnya segera menghilang.
Yang ditanya hanya nyengir lebar, "Buat makan indomie!"
"Kamu kalo mau minggu ujian, refreshingnya selalu gini?" Lalu indomienya ia dorong ke arah yang punya.
"Enggak. Gue asbun aja sebenernya, gak pernah refreshing. Kalo mau ujian terus malah jalan-jalan kaya gini rasanya nilai gue bakal anjlok, dan orang-orang yang berekspetasi sama gue bakal kecewa." Athala dengan santai mengoceh sembari mulutnya sibuk mengunyah indomie rebus di depannya.
"Apalagi sekarang udah agit. Makin digibahin deh gue kalo nilai gue anjlok. Tapi fuck off aja deh sekarang, kan ada lo yang nemenin gue ini." katanya panjang lebar seraya tersenyum hingga matanya menyipit.
Ravif entah bisa dapat keberuntungan sebesar ini darimana. Keberuntungannya yang benama Athala itu, yang ia dapatkan disela-sela lelah hidup datang mendatangi setelah ditinggal orang tua untuk selama-lamanya.
"Iya aku temenin terus, thal."
Ravif rasanya ingin selebrasi; tunjukan pada dunia, pada alam semesta kalau semuanya masih berpihak padanya. Ia masih diberi kesempatan untuk dapatkan keberuntungan semanis Athala.
Tanpa tau, Athala juga diam-diam selalu menyelipkan syukurnya karena sudah bertemu Ravif diantara doa pada Tuhan yang ia dulu ia anggap tak ada hadirnya.
