Actions

Work Header

🫂The Human Side of a Legend (Yuzuru-Keiji drabbles)

Summary:

A little piece for the fragile soul.

Desclaimer: Hanya sebuah eksplorasi emosi, tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.

Notes:

Ini pertama kali aku bikin fanfic real person kategori figure skating dan bertokoh utama Yuzuru. Aku tertarik buat bikin fanfic Yuzu-Keiji di sini, karena entah kenapa, fanfic figure skating rpf yg tokoh utama dan relasi utamanya Yuzu-Keiji di sini jarang banget dan susah dicari.
Aku sebenernya jarang dan nyaris nggak pernah bikin fanfic real person karena satu dan dua hal. Tapi yang ini nggak tau kenapa selalu jadi topik skenario di kepalaku. Jadi sayang aja gitu kalo nggak dijadikan sebuah tulisan apalagi karya yang bisa dibaca banyak orang. Hahaha.

Tidak ada niat untuk menyinggung pihak lain, semuanya adalah PURE FICTION yang didasari dari beberapa kejadian kecil di dunia nyata untuk mengeksplorasi human emotion, terkhusus kerentanan seseorang dan apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Chapter 1: ⛸️💔The Weight of Zero Degrees

Summary:

Ketika Keiji menjadi tempat bersandar saat Yuzuru terlampau hancur selama berlatih 4A dengan susah payah

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Lampu rink Sendai berdengung rendah, satu-satunya suara yang menemani napas Yuzuru yang serak. Di atas hamparan putih itu, ia tampak seperti noktah kecil yang malang. Sudah jam empat pagi. Baginya, es ini bukan lagi kawan; es ini adalah hakim yang baru saja menjatuhkan vonis mati pada ambisinya.

Brug!

Lagi. Untuk kesekian kalinya, tubuhnya menghantam permukaan keras itu dengan suara yang memuakkan. Linu di pinggulnya sudah berubah jadi rasa panas yang membakar, tapi egonya jauh lebih terluka. Ia mengejar 4A seolah mengejar sesuatu yang tak terlihat—terasa begitu dekat tapi selalu luput dari jemari. Axis-nya hancur. Putarannya ganjil. Dunia menunggunya menjadi orang pertama yang mendaratkan 4A, tapi malam ini, ia merasa kurang dari sekadar manusia.

Yuzuru menyerah. Ia tidak sanggup bangkit lagi. Ia membiarkan tubuhnya merosot, ambruk di dekat tembok pembatas. Awalnya hanya isakan kecil yang tertahan di tenggorokan, namun rasa putus asa itu meluap seperti bendungan pecah. Yuzuru merebah ke samping, menggulung tubuhnya yang ringkih di atas es. Ia menangis tersedu-sedu, merintih pelan seolah sedang memohon ampun pada setiap inci ototnya yang ia siksa tanpa ampun. Di sana, di tengah kesunyian subuh, dia hancur berkeping-keping.

Di balik kegelapan bangku dan pilar-pilar pinggir rink, Keiji berdiri mematung. Ia sudah ada di sana sejak Yuzuru terjatuh untuk kedelapan kalinya dalam satu jam terakhir.

Mendengar suara Yuzuru menangis adalah jenis rasa sakit yang tidak punya obat. Itu bukan tangis kemarahan, tapi tangis keletihan yang teramat sangat. Keiji hanya bisa diam, membiarkan hatinya teriris setiap kali bahu Yuzuru yang gemetar itu terangkat karena isakan. Ia memberi Yuzuru waktu. Ia membiarkan sahabatnya itu "berkabung" atas kesempurnaan yang tak kunjung datang.

Empat puluh lima menit berlalu sampai isakan itu mereda menjadi napas yang berat.

Yuzuru bangkit dengan sisa tenaga. Langkahnya lunglai, terhuyung seperti orang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. Saat pintu rink terbuka, ia terkesiap. Keiji ada di sana. Berdiri dengan tatapan getir, seolah ia bisa merasakan setiap memar di tubuh Yuzuru. Yuzuru tidak bicara. Matanya sayu, hanya menyisakan warna merah di tepian kelopaknya. Ia menatap Keiji seolah bertanya: "Kenapa kamu harus melihatku sehancur ini?"

Keiji mengulurkan satu tangan, sebuah tawaran bantuan yang halus. Namun, Yuzuru tidak mengambil tangan itu. Alih-alih, ia membiarkan gravitasi mengambil alih. Seluruh berat badannya ia jatuhkan ke dada Keiji. Ia ambruk tepat di pelukan pria yang selalu menunggunya di daratan saat ia terlalu jauh terbang.

"Keiji..." rintihnya nyaris tak terdengar.

Keiji menangkap tubuh dingin itu, merengkuhnya seolah ingin mentransfer seluruh kehangatan hidupnya pada Yuzuru yang membeku. Yuzuru tidak kuat lagi menahan beban kakinya. Mereka berdua jatuh terduduk di lantai pinggir rink. Yuzuru membenamkan wajahnya di ceruk leher Keiji, meremas jaket pria itu hingga kucel, dan kembali menangis—tertahan. Kali ini tangisnya lebih tenang, tapi lebih dalam—sebuah pelepasan akhir karena ia tahu, setidaknya saat ini, ia tidak sedang mendaki sendirian.

Keiji tetap diam. Ia hanya mempererat pelukannya, membiarkan air mata Yuzuru membasahi bahunya. Di tengah remang subuh di rink es Sendai, ia membiarkan Yuzuru menjadi lemah, karena hanya di pelukannya, Yuzuru tidak perlu menjadi legenda.

Cukup menjadi Yuzuru yang sedang terluka.
*
Keiji berlutut di lantai, jemarinya yang hangat bergerak telaten membuka ikatan tali sepatu skating Yuzuru. Setiap tarikan tali itu terasa seperti sedang melepas beban yang menyiksa. Sementara itu, Yuzuru hanya duduk mematung di atas bench. Matanya yang sembab dan memerah menatap lurus ke arah rink yang putih kosong—lapangan perang yang baru saja mengalahkannya.

"Yuzu," panggil Keiji lembut. Suaranya bergema di ruangan yang sunyi. "Mau mandi dulu di sini? Atau mau langsung pulang?"

Tidak ada jawaban. Yuzuru masih tampak seperti cangkang kosong yang nyawanya tertinggal di tengah es. Keiji menghentikan aktivitasnya, menatap lurus sahabat masa mecilnya dan hatinya benar-benar mencelos melihat raut wajahnya. Yuzuru tidak pernah terlihat se-tidak berdaya ini. Perlahan, sehati-hati mungkin, seolah sedang menyentuh porselen yang retak, Keiji menepuk tangan Yuzuru.

"Yuzu?" ulangnya lebih pelan.

Yuzuru menoleh sangat lambat. Tatapannya begitu layu, sampai Keiji merasa dadanya sesak karena cubitan rasa iba.

"Mandi dulu, ya?" tawar Keiji lagi. "Aku temani di dalam. Kalau kamu butuh apa-apa, atau kalau kakimu lemas, aku ada di sana."

Yuzuru hanya mampu mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan egonya runtuh total dan membiarkan Keiji menuntun langkah lunglainya menuju ruang ganti dan shower.

Lantai ruang ganti itu dingin dan berbau kaporit serta kayu lembap. Keiji menuntun Yuzuru duduk di bangku kayu panjang. Yuzuru cuma diam saat Keiji mulai membantu melepaskan lapisan baju latihannya yang basah oleh keringat dan sisa es yang mencair.

Saat baju itu terangkat, Keiji harus menahan napas. Di bawah lampu neon yang pucat, dia bisa melihat tubuh Yuzuru penuh dengan "tanda perang". Ada memar keunguan di pinggul, merah lecet di siku, dan kulit yang pucat saking dinginnya.

Yuzuru bangun dengan kaki gemetar ke dalam bilik shower, memutar keran air hangat. Begitu air menyentuh pundak, Yuzuru langsung berjengit. Bukan karena airnya panas, tapi karena air itu seolah membangunkan semua rasa sakit yang tadi sempat mati rasa. Yuzuru menyandarkan kedua tangannya di dinding keramik shower, menunduk membiarkan air mengguyur kepalanya. Keiji tetap di sana, berdiri waspada di balik bilik shower.

Tiba-tiba, bahu Yuzuru kembali terguncang. Suara isakannya kalah oleh suara air yang jatuh, tapi Keiji tetap bisa mendengarnya. Tanpa sepatah kata pun, Keiji menggulung lengan panjang dan celana jeans-nya, mengambil shower puff, menuangkan sabun, dan mulai membantu menggosok punggung Yuzuru dengan gerakan paling lembut yang dia bisa.

"Sakit?" tanya Keiji pelan saat jemarinya melewati memar besar di punggung bawah Yuzuru.

Yuzuru menggeleng kecil, tapi kepalanya semakin merunduk. Satu tangannya mengerat di depan dadanya. Napasnya mulai pendek-pendek. Keiji tahu Yuzuru pasti akan menangis lagi.

Keiji tidak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma mematikan keran, mengambil handuk besar, dan membungkus tubuh Yuzuru yang basah. Di ruangan yang penuh uap panas itu, mereka berdua terdiam lama, membiarkan kesedihan itu larut bersama air yang mengalir ke lubang pembuangan.
*
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari gedung rink Sendai. Langit sudah mulai berubah warna—gradasi ungu tua yang perlahan dijilat oleh warna oranye pucat di ufuk timur. Fajar yang indah. Namun bagi Yuzuru, cahaya itu terasa menyakitkan. Pagi biasanya membawa harapan, tapi hari ini, pagi hanya mengingatkannya bahwa ia harus menghadapi dunia lagi dengan kegagalan yang sama.

"Bisa jalan sampai mobil?" tanya Keiji, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia menatap jalanan parkiran yang terasa sangat jauh bagi seseorang yang baru saja menghantam es berjam-jam. Yuzuru tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melirik Keiji dengan tatapan datar.

Tanpa menunggu lama, Keiji berbalik dan merendahkan tubuhnya. "Naiklah."

Yuzuru pasrah. Ia membiarkan dirinya diangkat oleh Keiji, melingkarkan lengannya di leher sahabatnya itu. Sementara seorang staf rink yang berjaga membawakan kopernya di belakang. Yuzuru membenamkan wajahnya di pundak Keiji. Ia memejamkan mata, merasakan ritme langkah kaki Keiji yang stabil dan kokoh. Pelan-pelan, kepalanya merebah sepenuhnya di punggung Keiji, menyerah pada rasa kantuk dan letih, membiarkan aroma jaket Keiji menjadi satu-satunya kenyamanan yang tersisa sebelum matahari benar-benar terbit.

Notes:

Ingat selama Yuzu latihan 4A sendirian? Sosok Keiji dalam imajinasiku ingin kuadakan untuk menemaninya agar tidak hancur sendirian