Actions

Work Header

2026 - 20 = bad year

Summary:

Twenty years is a long time to watch something fall apart.

A house once meant to be warm turns into a battlefield of broken glass, sharper words, and things a child should never have to understand. Some stories are written to be shared.

This one might just be written to survive.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

20 tahun sebelum 2026. Hari itu, hari Sabtu yang ceria. Para warga berombong-rombong menghadiri acara pernikahan kedua orang tuaku. Yang ada di bayanganku, acara itu megah, senang, dan tidak ada hal yang janggal. Tapi, ternyata berbeda ya?

Tepat pada tanggal awal bulan Juli, kedua orang tuaku resmi menjadi suami istri. Saat itu aku masih di dalam pelukan Tuhan.

 

1 tahun setelah orang tuaku menikah—mulai banyak masalah yang muncul. Ayahku aktif narkoba. Ayahku selingkuh. Tapi, aku tidak bisa membantu…. maaf….. aku masih dipeluk Tuhan.

2 tahun setelah orang tuaku menikah—orang tuaku saling melempar perkataan yang buruk. Barang-barang di rumah hancur lebur. Vas bunga kesayangan nenekku pun ikut pecah berkeping-keping.

Dan 3 sampai 9 tahun mereka menikah—tidak ada hari yang tenang. Semuanya berisi teriakan amarah. Cacian makian. Pukulan. Darah. Tangis.

10 tahun setelah orang tuaku menikah—aku resmi memiliki dua Ayah. Ibuku lari dari rumah dan menikahi pria lain. Tapi saat itu, aku hanya bisa menatapnya lesu. Aku tidak tahu apa yang Ibuku lakukan saat itu.

Lalu, 20 tahun setelah orang tuaku menikah—aku yang menyaksikan mereka duduk di pengadilan agama. Tapi, aku tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Netraku tidak berani menatap kedua wajah yang saling membenci itu.

 

“Huh, harusnya hari ini aku sekolah. brengsek. Bukan melihat dua orang ini.” Gumamku.

 

Aku membuka aplikasi notes di ponselku. Mengetik semua kalimat yang tidak dapat ku lontarkan. Layar ponselku redup, tapi jari-jariku masih terus bergerak.

Aku tidak tahu ini akan kuberikan ke siapa. Mungkin hanya untuk diriku sendiri—versi kecilku yang dulu, yang hanya bisa diam, menyaksikan karya Tuhan yang gagal.

Di depanku, dua orang itu masih berbicara. Bukan—lebih tepatnya saling menyerang. Dengan suara yang lebih pelan dari dulu, tapi tetap tajam. Tetap menusuk.

Lucu ya.

Dulu mereka pakai piring dan kata-kata sebagai senjata. Sekarang hanya kata-kata, tapi rasanya… sama sakitnya.

“Kalau waktu bisa diulang, aku pengen satu hari aja. Satu hari di mana rumah itu tenang. Nggak ada teriakan. Nggak ada tangisan. Nggak ada aku yang pura-pura tidur biar semuanya cepat selesai.”

Notes:

keluh kesah