Actions

Work Header

Blame the Alcohol

Summary:

Tidak ada yang lebih sialan daripada menikmati wajah Juhoon saat mabuk.

Notes:

I fully support, care about, and love all the members, and how I show that is none of your business. So if this kind of story makes you uncomfortable, feel free to leave. If you're okay with the tags, enjoy!

Work Text:

Martin menghembuskan asap rokoknya ke udara, membiarkannya larut bersama angin malam yang dingin dan menusuk kulit tubuhnya yang tak berlapis atasan. Dari balkon lantai tiga rumah Juhoon, ia bisa melihat jelas taman belakang yang dipenuhi manusia. Gemerlap lampu dan deretan mobil mewah terparkir di halaman.

Pesta itu megah. Bau mesiu bercampur parfum mahal menempel pada orang-orang berpakaian parlente. Martin tak peduli untuk apa taman belakang itu disulap sedemikian rupa, atau kesepakatan apa yang sedang diusahakan di balik senyum dan gelas kristal itu.

Ia hanya ada di sini karena Juhoon meminta, dan Martin tentu mengiyakan ajakan sahabat sehidup sematinya itu. Toh, ia hanya perlu bergoleran di kasur empuk yang terlalu besar untuk satu orang, lalu mendengarkan celotehan Juhoon tentang betapa membosankannya orang-orang dewasa di pesta itu sampai pagi datang tanpa terasa.

Sebuah notifikasi masuk. Pesan berisi foto Juhoon muncul di layar ponsel, jas membingkai tubuhnya dengan rapi. Martin membalas singkat pesan itu, menanyakan kapan acara ini akan berakhir. Tak lama kemudian jawaban dari Juhoon datang, membuat Martin refleks mematikan rokoknya dan melangkah keluar dari balkon.

Pintu kamar terbuka.

Juhoon masuk lebih dulu, langkahnya sedikit goyah. Di belakangnya, James menyengir sambil menahan pintu dengan bahu, dua botol kaca menggantung santai di tangannya. Martin tak perlu bertanya untuk tahu itu alkohol.

Juhoon bahkan tidak benar-benar melihat ke arah Martin. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti seperti kehilangan arah. Napasnya panjang, seakan seluruh pesta di bawah sana masih menempel di dadanya. James lewat di sampingnya, menutup pintu dengan kaki.

Kedua botol itu diangkat oleh James. Cairan di dalamnya berkilau tertangkap lampu kamar, memantul di wajah Martin yang masih datar.

Martin bersandar pada kusen pintu, menatap mereka bergantian.

“Acaranya kan belum kelar.”

“Nah, itu masalahnya,” James menyeringai. “Gue bosen. Juhoon bilang ada lo di sini.”

Di luar, musik pesta masih berdetak pelan, teredam jarak dan ketinggian. Tapi di dalam kamar Juhoon, waktu seakan melunak.

Dua jam berlalu dengan dua botol yang tandas. Awalnya mereka menghabiskan waktu dengan bermain PS dan kartu. Tapi tak lama kemudian, James yang pertama menuangkan minuman ke gelas.

Kadar alkohol Juhoon paling lemah di antara mereka bertiga. James masih cukup sadar akan sekitar, cukup sadar untuk mengeluhkan ayahnya yang sejak sore tadi terus membicarakan urusan yang membuat kepalanya pening. Sementara itu, mata Juhoon sudah terpejam rapat. Tubuhnya terkulai, jatuh di antara paha Martin dan stik PS yang terlepas dari genggamannya.

Martin pusing bukan main. Alkohol dan celotehan James yang seakan tak mengenal jeda membuat kepalanya berkunang-kunang. Namun ia masih bisa bicara dengan benar. Ia mendengarkan James, sesekali mengangguk walau tak benar-benar menanggapi. Tangannya mengacak asal rambut Juhoon, memastikan pemuda itu tetap nyaman meski tertidur di posisi hanya beralaskan karpet.

James akhirnya berdiri setelah mengecek jam tangannya.

“Gue cabut, lah,” katanya singkat. Ia melirik Juhoon yang terlelap, lalu Martin. “Awas nanti muntah.”

James mengambil jasnya. Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi pelan. Musik jazz dari bawah samar terdengar, tapi kamar itu kini sunyi.

Juhoon mulai bergumam tak jelas, napasnya berat. Tangannya mengibas-ngibas kemejanya sendiri, wajahnya mengernyit.

“Panas… gerah,” katanya lirih.

Matanya terpejam, tapi jemarinya sudah meraba untuk membuka kancing kemeja. Martin refleks menahan tangan itu. Lalu ia menghela napas pelan dan menggeser posisi Juhoon dengan hati-hati.

Dengan tenaga yang bahkan tak ia sadari masih ia miliki, Martin mengangkat tubuh Juhoon ke atas kasur. Pemuda itu tetap menggerutu soal panas, tapi suaranya makin melemah, tenggelam dalam kantuk berat.

Martin berdiri di sisi kasur sejenak. Kemeja Juhoon sudah kusut. Satu per satu kancingnya ia buka, lalu ia letakkan di meja lampu tidur. Jas yang tadi dilempar sembarang kini dilipat seadanya. Martin memastikan semuanya longgar, menyisakan Juhoon tanpa atasan.

Kali ini suara Juhoon terdengar lagi. Matanya masih tertutup, tangannya bergerak ke mana-mana dan mulai membuka resleting celana dengan gerakan buru-buru.

Martin dengan cepat mengunci pergerakan tangan Juhoon. Remote AC ia ambil untuk mendinginkan suhu ruangan. Keringat mulai turun dari pelipisnya saat tangan Juhoon malah memberontak dan menyenggol apa saja yang ada di dekatnya.

Ia akhirnya mulai diam saat suhu AC semakin dingin. Namun kali ini Martin yang menelan ludah saat melihatnya.

Tidak ada yang lebih sialan daripada menikmati wajah Juhoon saat mabuk.

Wajahnya lembut tanpa sudut yang terlalu tegas. Kulitnya putih dan sangat halus, memantulkan cahaya dengan samar, dihiasi semburat merah muda tipis di pipi. Hidungnya bangir. Semuanya tampak menggemaskan di mata Martin.

Lalu pandangannya turun ke bibir.

Sial. Sejak kapan Juhoon punya bibir seranum ini?

Martin merasa bodoh karena baru menyadarinya. Kenapa warnanya merah muda? Bukankah Juhoon perokok elektrik aktif? Apakah vape tidak membuat bibir menghitam? Ah, mungkin Martin harus mencobanya kapan-kapan.

Atau… ia mencoba dari bibir Juhoon saja. Pikiran-pikiran itu berulang di otaknya.

Persetan dengan pesta di taman sana.

Persetan dengan pintu balkon kamar yang terbuka lebar.

Martin mencuri satu ciuman.

Cup.

Sialan. Bolehkah ia mencobanya lagi?

Wajah Juhoon ia tatap lama sekali, berharap pemuda itu tiba-tiba membuka mata dan menghentikannya sebelum ia melakukan sesuatu yang lebih bodoh.

Tapi Juhoon tetap tertidur. Napasnya hangat, teratur. Dada telanjangnya naik turun pelan di bawah cahaya lampu kamar yang redup. Satu tangannya terkulai di samping kepala, yang lain masih terlipat di atas bantal.

Martin buru-buru menjauh. Tangannya naik menutup wajah sendiri. “Bego…” desisnya pelan.

Ia melirik Juhoon lagi, memastikan pemuda itu masih terlelap. Juhoon hanya bergumam kecil, mengerutkan alis sejenak, lalu kembali tenang seperti sebelumnya.

Martin menelan ludah. Ia duduk di tepi kasur, menunduk dengan kedua siku bertumpu pada lutut. Tangannya menyisir rambut sendiri dengan kasar.

Di belakangnya, Juhoon bergerak. Martin menoleh dengan cepat. Juhoon berguling sedikit ke samping, wajahnya kini menghadap Martin. Rambutnya berantakan, sebagian menutup dahi.

“Martin...”

Suara itu sangat lirih. Martin membeku.
Juhoon tidak membuka mata. Mungkin hanya ocehan orang mabuk yang tersesat di antara mimpi indahnya.

“Hm?” jawabnya pelan tanpa sadar.

Juhoon tidak merespons. Namun tangannya bergerak mencari sesuatu di udara sebelum akhirnya menemukan pergelangan Martin. Jemarinya menggenggam lemah di sana, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu saat tidur.

Martin menghela napas pelan. “Lo nyusahin banget, Ju,” gumamnya lirih. Namun ia tidak melepaskan diri. Sebaliknya, ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat ke kasur. Lututnya menyentuh sisi ranjang, lalu perlahan ia naik, berhati-hati agar tidak membangunkan Juhoon.

Kasur itu memang terlalu besar untuk satu orang. Dan sekarang terasa pas untuk dua. Martin berbaring dengan menjaga jarak secukupnya. Ia memosisikan tangannya agar Juhoon tetap bisa menggenggamnya tanpa harus menarik terlalu kuat. Kepalanya menyentuh bantal di sisi lain, cukup dekat hingga ia bisa merasakan hangat napas Juhoon di udara.

Juhoon bergumam pelan. Tubuhnya bergerak sedikit, seperti mencari posisi yang lebih nyaman. Tanpa membuka mata, ia justru bergeser mendekat, jarak di antara mereka menyusut hampir tanpa disadari.

Dada Juhoon kini nyaris menyentuh lengannya.

Martin menoleh. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat semuanya dengan jelas, bulu mata Juhoo yang entah berapa jumlahnya, tahi lalat kecil di ujung bawah pipi, dan bibir yang tadi sempat ia cium tanpa izin.

Martin cepat-cepat memalingkan wajahnya. “Gue bisa gila...”

Lampu kamar masih menyala redup, tapi matanya mulai terasa berat. Alkohol yang tadi tidak terlalu ia rasakan kini perlahan menyusup ke tubuhnya.

Martin menatap langit-langit kamar. Lalu matanya perlahan terpejam. Tangan Juhoon masih menggenggam pergelangannya. Bahu mereka masih bersentuhan. Dan entah sejak kapan, Martin tidak lagi memikirkan pesta di bawah sana, tidak juga memikirkan ciuman bodoh yang tadi ia curi. Kantuk akhirnya menariknya turun. Perlahan, sunyi kamar itu menelan mereka berdua.