Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 4 of Dongeng Sebelum Tidur
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2026-04-05
Words:
1,068
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
20
Bookmarks:
3
Hits:
830

Everything it's fine because I've you

Summary:

Kisah cinta Donghyuck dan Mark yang tidak akan berhenti begitu saja.

Notes:

Jikalau semua yang terjadi di dunia ini hanyalah fiksi belaka. Mereka aslinya sudah menikah🫶🏻

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Donghyuck terbangun dari mimpinya dalam keadaan sesak yang memenuhi dada. Nafas yang tercekat dan debuman jantung yang berdebar kencang menemani dirinya yang berproses untuk kembali sadar setelah lelapnya. 

 

Setelah beberapa detik terduduk di atas kasurnya dan masih dalam keadaan panik yang melanda dirinya, Donghyuck berdiri dan mulai memanggil nama sang pujaan hati. 

 

"Mark!!!", "Sayang!!", dan "Kamu dimana?!" adalah ucapan yang selalu ia ulang dengan nada tinggi yang bergetar karena panik sambil tubuhnya bergerak gusar berkeliling kediaman mereka mencari dimana keberadaan si leo manis tersebut.

 

Saat Donghyuck sudah sampai di dapur, tepat bersebelahan dengan taman kecil belakang rumah mereka, Mark datang dengan keadaan berlumuran tanah di beberapa bagian wajah dan tangannya, tidak lupa tangannya yang menggendong keranjang berisi sayuran hasil tanam mereka.

 

"Apa sih, Hyuck? Kamu berisik banget, deh," ucap Mark dengan nada sewot yang ketara, "minggir, jangan halangin pintu, aku mau nyiapin makan malam." 

 

Bukannya memberikan jalan untuk Mark masuk ke dalam rumah, Donghyuck melemparkan dirinya untuk memeluk tubuh yang lebih tua. Pelukan yang sangat erat, seakan jika Donghyuck longgarkan untuk sejenak, maka Mark akan pergi menghilang dalam sekejap dari pandangannya.

 

Mark yang bingung dengan kelakuan suaminya, hanya berdiri kaku walau ada sedikit rasa jengkel karena jam makan malam akan tiba tapi suaminya malah berkelakuan aneh tapi rasa jengkel yang sempat hinggap di dadanya perlahan menghilang dan berubah menjadi rasa khawatir karena terdengar suara isakan kecil dan rasa basah yang perlahan ia rasakan di bahunya, tepat dimana Donghyuck menyisipkan wajahnya.

 

"Hyuck? Kamu gapapa?" tanya Mark sambil memeluk tubuh Donghyuck dengan satu tangan, namun yang ia rasakan malah tubuh Donghyuck yang semakin bergetar yang dibersamai dengan tangisan yang semakin keras.

 

"Hyuck??? Sayang? Hey, kamu kenapa? Sayang..." Mark sungguh khawatir karena bagaimanapun juga dia sudah berjanji suci untuk setia dengan suaminya, dalam keadaan suka maupun duka dan melihat Donghyuck yang menangis membuat Mark merasakan sesak yang mulai menjalar di dadanya. 

 

Merasa Donghyuck tidak akan menjawab dalam waktu dekat, Mark memilih untuk menuntun sambil memeluk Donghyuck untuk duduk di kursi, menaruh keranjang berisi sayur di atas meja makan agar Mark mampu memeluk dan memberikan kenyamanan maupun kehangatan kepada sang pemilik hati secara utuh. 

 

Butuh beberapa menit untuk Donghyuck mampu perlahan mengolah emosinya yang baru saja membludak tanpa bisa ditahan, "Aku pikir kamu pergi..." lirih Donghyuck dengan isakan kecil yang masih menemani. 

 

"Pergi?"

 

"Mimpiku rasanya nyata banget, Mark. Kamu pergi, kamu ninggalin aku, I feels so scared," Donghyuck mengeratkan pelukannya membawa tubuh yang lebih tua semakin dekat padanya, "disitu aku rasanya hampa banget, aku bingung karena seumur hidupku diisi dengan keberadaanmu tapi tiba-tiba kamu pergi and you leave me alone in this damn world

 

Sejujurnya, Mark tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan masih memproses untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, setelah menyadari bahwa ketakutan yang Donghyuck alami adalah hal nyata, ketakutan yang tidak dibuat-buat, Mark perlahan mengusap punggung Donghyuck dengan penuh sayang dan kehati-hatian. 

 

"Hyuck, I'm here. It's okay, apa yang kamu alami sebelumnya cuman mimpi karena kenyataan aku di sini sama kamu, lagi pelukin kamu, lagi sayang sayangin kamu," ucap Mark dengan nada lembut yang tenang, seakan ingin memberikan kehangatan pada si gemini yang sedang dilanda ketakutan akan kehilangannya.

 

Mark melonggarkan pelukan mereka, lalu membingkai wajah rupawan dengan hiasan konstelasi yang indah, yang berada dihadapannya dengan tangannya yang lentik. Mark dengan tatapan matanya yang teduh dan menenangkan, berbeda sekali dengan tatapan mata Donghyuck yang redup, penuh dengan kekhwatiran. 

 

Mark memajukan wajahnya, mulai mengecup wajah suaminya dengan lembut. Dimulai dari dahi, turun perlahan ke kedua mata dan pipi, kecupan singkat di hidung, lalu diakhiri dengan pagutan lembut di bilah bibir Donghyuck. Ciuman manis yang memberikan ketenangan untuk Donghyuck yang gusar. 

 

"Nih, bahkan aku cium cium kamu," ujar Mark setelah menyudahi ciuman mereka, "aku disini sama kamu, suamiku yang paling aku sayang sealam semesta dan suamiku yang paling tengil tapi paling bisa bikin aku kecintaan," ucapan itu Mark akhiri dengan kekehan kecil dan kecupan singkat pada bibir Donghyuck. 

 

Donghyuck perlahan mulai merasa tenang walaupun masih ada sediki rasa gelisah yang mengganjal hatinya tapi afirmasi yang suaminya berikan dan kecupan manis yang ia dapatkan. Donghyuck tidak akan berbohong bahwa dia bisa merasa benar-benar tenang setelah apa yang baru saja ia rasakan melalui mimpinya yang sialan tersebut. Mimpi buruk yang memperlihatkan hidupnya yang menyedihkan saat ditinggal pergi sang kekasih hati tapi melihat bahwa Mark masih disini seperti yang si manis ucapkan benar-benar melegakan untuk jiwa san raganya yang baru saja diberikan cobaan kecil. Mark nya yang manis, dengan suara tawa yang tidak akan pernah ia bosan dengarkan, dengan pelukannya yang menenangkan dan nyaman, dan dengan bibirnya yang manis, yang tidak akan pernah bosan untuk Donghyuck cium. 

 

"Aku sayang banget sama kamu," setelah mengucapkan itu, Donghyuck menarik leher Mark dan mencium bibir si leo. Mark mencengkram baju Donghyuck dengan erat saat Donghyuck menekan lehernya untuk memperdalam ciuman mereka. Ciuman yang semakin lama membuat mereka semakin mabuk kepayang.

 

Donghyuck yang merasa Mark sudah kehabisan nafas, memilih untuk menyudahi ciuman tersebut walau dalam hati masih ingin mencumbu bibir yang tidak akan pernah tidak bisa menggoda imannya, kalau bisa Donghyuck ingin berciuman setiap hari, setiap waktu sampai dipisahkan warga. 

 

Mark dengan wajahnya yang merah, bibirnya yang bengkak dan nafasnya yang tersengal-sengal seperti sekarang adalah pemandangan yang berani Donghyuck bayar dengan mahal. Namun, tatapan Mark yang sebelumnya sayu, perlahan berubah menjadi tatapan tajam yang penuh emosi, "Dasar cabul! Dicium sekali malah ketagihan! Memang ya, laki laki tuh kalau dibaikin dikit langsung bablas," misuh Mark dengan alisnya yang mengkerut tajam dan bibirnya yang mencebik, walau usaha yang Mark berikan untuk wajahnya terlihat marah dan kesal malah berakhir terlihat lucu dan menggemaskan di mata Donghyuck. 

 

"Hehehe... maaf ya, sayang... tapi bibirmu emang enak dan menenangkan," Donghyuck menyengir memperlihatkan giginya merasa tidak berdosa atas apa yang baru saja ia lakukan. 

 

"Tch, kamu aja yang pikirannya cuman keisi buat ngambil kesempatan dalam kesempitan," masih dalam agenda mengomel atas tindakan Donghyuck, "lagian, sore tuh jangan dipakai buat tidur, jadinya mimpi aneh aneh kan." 

 

"Sana mandi, lihat tuh wajah sama baju kamu udah kotor kena tanah," ujar Mark sembari mencoba melepaskan diri dari pelukan Donghyuck yang masih menahan dirinya, namun suaminya tersebut seakan menolak dirinya untuk lepas dari dekapan nya, "Lee Donghyuck! Lepasin gak, aku mau masak."

 

"Kita mandi berdua aja, Sayang. Mumpung sama sama kotor," Donghyuck ucapkan itu sembari bergerak cepat memanggul Mark di pundaknya dan berjalan ke kamar mandi secepatnya, tidak lupa menepuk pantat Mark yang sekal dengan jahil.

 

"Ngga mau! Lepasin aku, Lee Donghyuck! Aku mau masak! Dasar lelaki cabul!!!" 

Notes:

Maaf ya kalau aneh tapi semoga kalian merasa sedikit terhibur🤗

Series this work belongs to: