Work Text:
Satu rokok menyala disambar ujung rokok yang lain. Bara kecilnya membesar sepersekian detik sebelum angin menggerusnya pelan. Dari rooftop gedung sekolah, riuh musik dan sorakan pentas seni terdengar seperti gema yang teredam. Suaranya cukup jelas dan menusuk telinga.
Martin menjatuhkan tubuhnya ke satu-satunya kursi di sana. James duduk santai di lantai semen, tak peduli debu menempel di celananya.
Pintu logam terdorong keras hingga membentur tembok. Seonghyeon tiba-tiba muncul dengan tas hitam tersampir asal di bahu. Wajahnya merah dengan rahang mengeras. Alisnya menukik tajam seperti siap menantang siapa pun yang akan bicara di hadapannya.
James mengangkat kepala. “Kenapa lo?”
Dua permen rasa anggur Martin sodorkan. “Mau nggak?”
Tapi gerakan kecil itu malah membuat ekspresi Seonghyeon semakin gelap. Ia menepis tangan Martin. Permen itu nyaris jatuh.
Angin berembus membawa samar suara tawa dari bawah. Tawa yang tadi didengar Seonghyeon dengan jelas. Terlalu jelas. Keonho tertawa lepas di dekat panggung. Terlalu dekat dengan perempuan yang dirumorkan menjadi kekasihnya. Tangan Keonho melingkar apik di bahu perempuan yang entah siapa namanya—Seonghyeon mendadak lupa.
Pemandangan sialan itu terjadi berulang di kepala Seonghyeon seperti kaset rusak yang diputar paksa.
“Lo liat dia nggak?”
Martin berhenti tersenyum. “Siapa? Keonho?”
James menghembuskan asap. “Kenapa emang? Kan cuma ketawa-ketawa doang.”
Seonghyeon menatapnya tajam. “Rumornya udah kayak apa. Terus dia malah—” Ia menghembuskan napas kasar, menendang kaleng bekas minuman hingga berguling menghantam tembok.
“Lo marah karena cemburu, atau karena apa sih?” James bertanya tenang, “Takut?”
Seonghyeon terdiam.
“Takut apa? Takut diambil?” ulang James dengan nada mengejek paling menyebalkan yang pernah Seonghyeon dengar.
Martin memutar rokok di jarinya. “Lo takut sama apa? Sama dunia? Sama ayahnya Keonho?”
Ucapan itu terdengar seperti palu yang dipukul keras ke dalam dada Seonghyeon.
“Gue nggak takut.”
“Skill bohong lo jelek,” Martin menjawab cepat.
Seonghyeon mengangkat kepala. Tatapannya berubah. Tidak lagi meledak-ledak. “Gue cuma nggak mau ngerusak.”
“Ngerusak apa?” James kini bertanya lebih pelan.
“Semuanya lah, gila lo.”
“Pertemanan gue sama dia. Hubungan dia sama keluarganya... hidup dia,” Lanjutnya pelan.
Musik di bawah berganti lagu dengan irama pelan, seolah bisa ikut dengan apa yang Seonghyeon rasakan.
“Lo pikir dia nggak takut juga?” Martin memecah lamunan Seonghyeon. “Lo kira dia santai-santai aja?”
Seonghyeon bukan tipe yang ragu pada dirinya sendiri. Ia akan mengejar apa yang ia mau.
Tapi Keonho berbeda.
Keonho punya ayah yang memandang nama keluarga mereka seperti mahkota. Seonghyeon pernah melihat sendiri bagaimana Keonho berubah menjadi remaja paling patuh saat ada di hadapan pria itu.
Dan Seonghyeon yakin, kalau suatu hari ia mengaku bahwa anak tunggal kebanggaan itu bisa membuat Seonghyeon bertekut lutut dan melakukan apapun, tamparan tidak akan hanya jatuh ke pipinya. Tapi juga ke Keonho. Dan ia tidak akan sudi sampai kapanpun.
“Juhoon juga gitu,” Martin tiba-tiba berkata.
Seonghyeon dan James menoleh.
“Awalnya gue mikir mau bawa kabur dia aja sejauh-jauhnya.” Martin tertawa saat mencoba mengingat-ingat apa yang ada di pikirannya saat itu, bahunya terangkat santai. “Tapi dia mau tuh bertahan sama gue.”
Nada suaranya melunak. “Dia bilang, kalau harus hidup sesuai orang lain terus, kapan dia hidup buat diri sendiri?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Di lapangan, nama Keonho terpanggil dengan keras. Penampilan band-nya sudah selesai. Dan seolah kebiasaan, kepala Seonghyeon menoleh ke pagar pembatas.
James memperhatikannya. “Lo marah tuh bukan karena dia ketawa sama cewek itu, Hyeon.”
“Lo marah karena harusnya lo yang berdiri di situ tanpa takut siapa yang lihat.”
Seonghyeon menelah ludah.
James dan Martin menginjak putung rokok mereka. “Kita turun duluan dah, lagi nggak bener pikiran lo.”
Martin membuka pintu. Sebelum turun, ia kembali menatap Seonghyeon. “Kalau Juhoon bisa berdiri di samping gue tanpa peduli siapa yang marah di rumahnya... kenapa lo pikir Keonho nggak bisa berdiri di samping lo?”
Langkah mereka menghilang. Seonghyeon ditinggal sendirian. Kali ini dadanya tak lagi hanya panas. Tapi penuh.
Ia selalu yakin pada dirinya sendiri. Dalam spektrum sifat manusia, ia ada di jejeran nekat. Ia rela dimusuhi satu dunia, bahkan dibenci sekalipun. Perasaannya bukan sesuatu yang akan ia sembunyikan selamanya. Ia hanya menahan diri karena Keonho.
Hanya itu.
Sorakan dan suara tepuk tangan kembali pecah. Seonghyeon berdiri. Rokoknya ia injak sampai padam. Lalu kakinya mulai membuka pintu rooftop dan menuruni tangga tanpa buru-buru.
Riuh acara semakin jelas saat ia mendekati lapangan. Lampu warna-warni menyapu wajah orang-orang. Ia langsung melihat Keonho. Dikerubungi anggota band-nya dan beberapa panitia. Tersenyum dan bergaya untuk jepretan foto. Seonghyeon berhenti beberapa meter dari mereka.
Dan Seonghyeon sadar sesuatu yang membuat dadanya semakin sesak. Seonghyeon tidak memanggil, tidak juga mendekat, ia hanya diam. Tapi Keonho terlihat mencari. Matanya tidak fokus pada orang-orang disekitarnya. Tidak juga pada penampilan selanjutnya dari panggung.
Keonho yang lebih dulu sadar. Tatapannya terangkat. Berhasil menemukan Seonghyeon di antara kerumunan. Ekspresinya berubah dan gerakannya langsung melambat. Ia pamit sebentar pada yang lain dan melangkah mendekat.
“Hai,” katanya pelan. “Lo dari mana?”
“Rooftop.” Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Seonghyeon memasukkan tangan ke saku celana. Tatapannya sekilas menyapu kerumunan tadi sebelum kembali ke Keonho.
“Lo bawa motor?”
Keonho menggeleng kecil. “Nggak. Tadi gue nebeng temen.”
Seonghyeon menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
“Balik bareng gue aja.”
“Sekarang? Acaranya masih lama.”
“Tapi lo udah selesai, kan?”
Keonho menelan ludah, menoleh ke arah panggung, lalu kembali ke Seonghyeon.
“Yaudah, gue izin dulu ya sama yang lain,” katanya pelan.
Seonghyeon tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan.
Keonho pergi sebentar.
“Ayo.” Seonghyeon berbalik arah tanpa banyak kata. Keonho mengikuti di belakangnya menuju parkiran.
Saat mereka melewati kerumunan, perempuan yang membuat dada Seonghyeon tadi menggebu sempat memanggil, “Keonho! mau ke mana?”
Keonho berhenti sebentar. Seonghyeon tidak menoleh. Tapi langkahnya melambat. “Mau pulang.”
“Loh, sama siapa?” Keonho melirik sekilas ke depan—ke punggung Seonghyeon.
“Sama dia.”
“Oh, oke! Hati-hati.” Senyuman tipis Keonho beri kali ini.
Mereka berjalan tanpa banyak bicara sampai ke parkiran. Lampu-lampu memantul redup di bodi kendaraan siswa yang berjejer. Suara musik dari lapangan masih terdengar. Seonghyeon membuka pintu sisi pengemudi tanpa menoleh. Keonho otomatis masuk ke kursi penumpang, gerakannya ragu sepersekian detik sebelum akhirnya menutup pintu.
Sunyi.
Tak ada suara apa pun kecuali AC dan getaran halus mesin yang mengisi ruang sempit itu. Seonghyeon tidak langsung menjalankan mobil. Tangannya menggenggam setir, diam.
Keonho meliriknya sekilas. “Kenapa?”
“Apanya?”
“Lo… aneh.”
Seonghyeon mengembuskan napas pelan, lalu akhirnya menginjak gas. Mobil mulai keluar dari area parkiran. Lampu jalan berganti-ganti menerangi wajah mereka. Beberapa detik berlalu masih tanpa suara apapun.
“Cewek tadi siapa?” tanya Seonghyeon akhirnya.
Keonho terdiam sebentar untuk berpikir siapa yang dimaksud. Lalu sadar siapa yang terakhir mereka temui. “Lo nggak tau? Namanya Ian, dia vokalis baru band sekolah.”
Seonghyeon hanya mengangguk pelan, matanya tetap lurus ke arah jalan.
“Lo deket sama dia?”
“Nggak,” jawab Keonho cepat. Lalu, “Nggak kayak yang lo pikir.”
Lampu merah menghentikan laju mobil. Seonghyeon akhirnya menoleh. Menatap Keonho untuk pertama kalinya sejak mereka masuk mobil.
“Gue mikir apa emang?”
Keonho balik menatap. Tatapannya tidak menghindar, tapi juga bukan tatapan berani. Ego mereka bertubrukan saat ini.
“Apa pun yang ada di pikiran lo tadi.” Dengan gelagapan Keonho berkata, buntu ingin menjawab apa. Lagipula, kenapa ia harus berkata aneh seperti itu?
Seonghyeon terdiam. Lampu berubah hijau, tapi waktu terasa seperti berhenti.
“Seonghyeon... lo marah ya?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Tidak ada jawaban apa pun yang Seonghyeon berikan. Mobil melaju lebih pelan saat mereka masuk ke jalan yang lebih sepi. Lalu berhenti di depan rumah dengan gerbang yang sangat tinggi dan lampu teras yang menyala terang.
Mesin masih hidup, tapi keduanya tidak langsung bergerak. Keonho menatap ke depan beberapa detik, lalu membuka sabuk pengamannya. Ia membuka pintu. Udara malam langsung masuk, membawa dingin yang tipis. Sebelum benar-benar keluar, ia menoleh.
“Hyeon.”
“Hmm?”
Keonho ragu sepersekian detik, lalu, “Thanks... udah anterin.”
“Besok gue anterin lagi.”
Mendengar jawabannya, senyum pertama Keonho malam ini terlihat. Seonghyeon mulai merasa seluruh organ tubuhnya terhenti, dadanya bergejolak aneh, dan otaknya tak mengingat apapun.
Keonho akhirnya turun, menutup pintu mobil pelan. Seonghyeon tetap di tempatnya, memperhatikan bagaimana satpam membuka gerbang sampai Keonho masuk ke dalam rumah.
Baru setelah itu, ia mengembuskan napas panjang. Mesin mobil masih menyala. Dan untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
• • •
Pintu terbuka pelan saat Keonho masuk. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Ah tidak, memang selalu sepi seperti ini setiap harinya. Ayahnya belum pulang. Hanya ada suara TV dengan volume kecil yang terdengar dari ruang keluarga, entah siapa yang menonton.
“Kok udah pulang?”
Keonho menoleh. “Eh.”
Adik ibunya—Jiwoo, duduk santai di sofa dengan selimut tipis di pangkuan. Seolah rumah itu juga miliknya sendiri. Jarak rumah mereka memang dekat, dan Jiwoo sudah terlalu sering keluar-masuk sampai rasanya wajar.
“Kenapa udah pulang?”
“Aku udah tampil,” jawab Keonho singkat sambil melepas jaketnya.
“Kamu sengaja kali pulang duluan.”
Keonho terkekeh kecil, tapi tidak menjawab. Maka Jiwoo artikan ia benar menebak.
“Tadi dianter siapa?”
“Seonghyeon.”
Helaan napas terdengar dari Keonho, lalu tubuhnya ia jatuhkan ke sofa sebelah. Punggungnya bersandar, kepalanya menengadah ke langit-langit.
“Berantem, ya?” tanya Jiwoo.
“Nggak.”
“Serius ah.” Nada Jiwoo jelas tidak percaya.
“Dia marah,” ucap Keonho akhirnya.
Jiwoo tidak bereaksi apa pun. Ia hanya menggeser sedikit posisinya. “Sini.”
Keonho bergerak mendekat. Ia menurunkan tubuhnya, membiarkan kepalanya jatuh ke pangkuan Jiwoo. Tangan lentik perempuan itu langsung terangkat, mengusap rambut Keonho pelan. Gerakannya lembut dan menenangkan.
“Kenapa dia marah?” tanyanya.
Keonho menutup mata. “Nggak tau, nggak ngerti.”
Jiwoo tersenyum tipis, menunduk sedikit menatap wajahnya. “Kamu takut waktu dia marah?”
“Takut. Aku tadi pengen peluk dia banget, aku ngerasa dia punya banyak hal yang nggak berani diomongin langsung.”
Jiwoo menatap Keonho dari atas. Senyum samar terlukis di wajahnya saat ia menatap lekat garis wajah Keponakannya. Begitu familiar, begitu serupa. Ada bayangan kakaknya di sana, pada lengkung hidungnya, pada cara alis tebal itu berkerut saat gelisah. Mereka benar-benar mirip tiada dua, seolah waktu tak benar-benar memisahkan mereka.
Dan setiap Jiwoo menyadarinya, ada sesuatu yang menghangat sekaligus menyayat jiwa. Jemarinya terus menyisir rambut Keonho, seolah menenangkan sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai di dalam diri anak itu.
Ia tak pernah tahu di belahan dunia mana kakaknya kini berada. Rasa sakit di masa lalu terasa wajar jika tak ada kabar darinya yang datang selama bertahun-tahun. Tapi mungkin lukanya sekarang tidak separah dulu, walau tidak akan pernah sembuh sepenuhnya. Jiwoo tidak berharap banyak. Hanya satu yang ia harapkan diam-diam, semoga perempuan itu selalu sehat dan dikelilingi orang-orang yang baik di mana pun ia berada.
Dan untuk Keonho… Setidaknya anak ini tidak benar-benar sendiri. Selama ia masih ada, Jiwoo akan tetap tinggal untuknya.
Sedari tadi indra pendengarannya ditajamkan saat Keonho mulai bicara. Nama Seonghyeon lagi. Dan akan selalu begitu, entah sampai kapan, mungkin sampai minggu depan, mungkin sampai dua bulan yang akan datang, atau bahkan tiga belas tahun selanjutnya. Sudah terlalu sering ia dengar.
Jiwoo tidak perlu tahu seberapa keras Keonho di luar sana. Tidak perlu tahu bagaimana anak itu berpura-pura biasa saja di depan dunia yang mungkin tidak selalu ramah. Tentang tawanya yang terlalu keras saat membawa temannya ke rumah, tentang ia yang pulang terlalu malam, tentang aroma asing yang ia bawa ke rumah walaupun tak pernah Jiwoo komentari, tentang semua cara Keonho mulai mencoba hal-hal yang bukan seharusnya untuk seusianya.
Dan anehnya, Keonho yang keras di luar sana… justru terlihat paling tenang saat bersama Seonghyeon. Seperti akhirnya ada yang memegang kendali, jadi ia tidak perlu.
“Tapi... emang boleh ya, Kak?”
Bisikan Keonho membuyarkan lamunan dan alur pikiran Jiwoo. Ia tetap mengusap rambutnya, memberi waktu pada Keonho untuk tetap melanjutkan.
“Apa yang boleh?” tanyanya santai.
Keonho menatap ke atas, tapi tidak benar-benar berani menatap mata Jiwoo.
”Laki-laki sama laki-laki…“ napasnya tertahan sebentar,
“...bukannya yang boleh itu cuma laki-laki sama perempuan?”
“Siapa yang bilang nggak boleh?” Jiwoo memiringkan kepala, “Ayahmu?”
Keonho langsung diam. Bahunya menegang. Jiwoo menghela napas, ia tahu persis bagaimana suasana di rumah ini. Bagaimana kerasnya batasan yang dibuat pria yang bahkan tidak benar-benar dekat dengan anak kandungnya sendiri. Dengan Keonho hidup di tengah itu saja sudah tidak mudah.
Jemarinya berhenti sejenak di dahi Keonho, lalu kembali bergerak, kali ini lebih pelan dan lebih hati-hati. Ia sadar Keonho menyukai laki-laki, entah sejak kapan... rasanya ia sendiri sudah lupa. Mungkin sejak Keonho kecil, ketika ia bercerita tentang seorang teman laki-laki yang selalu ia beri permen setiap hari hanya karena ia menyukai mata cokelatnya. Mungkin sejak Keonho usia sepuluh, yang tanpa sengaja membaca buku tentang seorang desainer laki-laki dan kekasih laki-lakinya. Mungkin sejak Keonho mengenakan seragam putih biru, diam-diam menonton film queer yang sedang ramai dibicarakan. Atau mungkin sejak beberapa bulan lalu, saat mereka berlibur ke luar negeri dan melihat dua laki-laki berciuman—dan raut wajah Keonho sama sekali tidak menunjukkan rasa heran.
“Denger ya,” suara Jiwoo lembut, “nggak ada yang salah dari apa yang kamu rasain.”
“Perasaan itu datang aja. Kamu nggak bisa nyuruh dia pergi cuma karena orang lain bilang itu salah,” lanjut Jiwoo santai.
Hening.
“Kalau kamu nyaman sama Seonghyeon…” Jiwoo meliriknya sebentar, "kalau kamu ngerasa aman waktu sama dia… Ya, nggak apa-apa."
Keonho menggenggam sedikit kain piyama Jiwoo.
“Tapi dia baik, kan?”
Keonho diam sebentar, lalu mengangguk malu-malu. “Baik...”
Benar kan apa yang Jiwoo bilang, nada suara Keonho berubah setiap membahas nama itu. Jiwoo tidak perlu bertanya lebih jauh. Ia sudah mengerti dinamika di antara mereka.
“Beneran boleh?” tanya Keonho lagi, kali ini hampir seperti anak kecil yang meminta kepastian.
“Boleh, Lagian... kalian cocok.”
Butuh beberapa detik sebelum kalimat itu benar-benar sampai dan tercerna di otak Keonho. Dan selanjutnya, wajahnya langsung memerah sampai ke telinga.
