Chapter Text
Dua orang itu akan terjun dari tebing jika kewarasan tidak mencegah mereka.
Ombak yang beriak di bawah seakan sedang berpaduan suara dengan keras, mengajak orang-orang di atas untuk melompat dan bergabung bersama mereka.
Mati, mati, mati, mati.
Tak sedikit orang-orang menghiraukan ajakan ombak— Padma salah satu memenuhi undangan tersebut. Mahasiswi yang terkenal ramah dan cerdas itu malah lebih memilih mengikuti ajakan paduan suara ombak di bawah ketimbang tetap berusaha untuk menjalankan hidupnya lebih lama.
Kalau dipikir, semuanya belum terlambat. Ia masih dapat mengubah situasi yang dihadapkan. Tapi, sayang, gadis itu menjadi sosok yang pesimis selama setengah tahun terakhir. Keputusannya tidak mengikuti kelas selama dua bulan agar bisa pergi ke Bali untuk berusaha merajut kembali jiwanya yang robek adalah upaya terakhirnya mencoba tetap bertahan.
Angin kencang menerpa pepohonan yang berdiri beberapa meter dari tebing. Siulan angin samar-samar terdengar di telinga. Dua orang yang berada di tebing itu; seorang gadis berambut pirang tengah duduk sambil memeluk lututnya dan seorang pemuda tengah menatap matahari terbenam di sampingnya. Keduanya diam, menikmati nyanyian ombak yang berisik di bawah sana. Kalau didengar lama-lama ada yang aneh dengan suara ombak.
Beberapa kali keduanya ke pantai, mereka tidak pernah mendengar ombak terdengar aneh seperti ini. Apa karena ketinggian tebing itu? Sebab mungkin yang dibilang orang-orang itu tidak salah. Ombak memang bisa bernyanyi. Nyanyian mereka berisi prosa-prosa kematian, seakan setiap hari adalah ritual pemanggil korban-korban untuk diajak beristirahat.
Gadis berambut pirang yang sedang duduk itu mengangkat wajahnya, bosan memandangi tanah di bawahnya. Tenggelamnya matahari sore ini mengingatkannya dengan momen perpisahannya dengan sang almarhumah.
Kala sore itu matahari bersinar panas—sedikit menyengat untuk ukuran sinar matahari sore yang siangnya barusan hujan. Saat itu ia baru saja menemani Padma dari kunjungan ke rumah seorang psikolog. Hari itu adalah momen pertamanya mengetahui Padma ternyata sudah menjalani sepuluh sesi konseling. Wajah kakak tingkatnya itu terlihat biasa—masih ceria dan energik, mereka bahkan sempat bermain-main lempar bola di lapangan luas di dekat perumahan. Menjelang senja, Padma berpamitan. Bersama jaket hitam bergambar mawar di punggung, kakak tingkatnya pergi meninggalkannya hingga tidak tampak lagi bayangannya.
Gadis pirang itu tidak bertemu dengannya lagi sampai hari di mana jasad Padma ditemukan. Ia akhirnya bertemu lagi dengan jaket hitam bergambar mawar di punggung tersebut di tumpukkan baju Padma di rumah tanpa ada sosok almarhumah menyambutnya.
Gadis itu mengelus-elus tanah di bawahnya, ia kembali menatap tanah tersebut. Mata birunya menatap sendu. Kantong matanya masih tampak menghitam, seperti bias.
“Kira-kira berapa lama Padma berdiri di tebing ini sebelum melompat?” Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut si gadis.
Pemuda di sebelahnya tidak menjawab. Tatapannya lurus memandang ke depan.
“Apa yang dia pikirkan di saat terakhirnya?” Telunjuk si gadis menggambar pola-pola abstrak di tanah.
Pemuda di sebelahnya masih bergeming, walau ada semili perubahan di wajahnya.
“Apakah dia menangis?” Gadis itu tetap berucap. Pemuda di sebelahnya tetap diam. Tak apa, gadis itu tetap akan berbicara, bahkan sepertinya dia sedang bermonolog.
Gadis itu berhenti berbicara sebentar, menyadari sesuatu. Telunjuknya berhenti menggambar. Sorot di mata birunya tak bisa dijelaskan setelah perasaan aneh muncul di dalam hatinya setelah ia menyadari sesuatu. Ia menoleh ke samping, kali ini berbicara ke si pemuda.
“Bagimu, apakah kita sempat terlintas di dalam pikirannya di waktu-waktu terakhirnya?”
Pertanyaan si gadis sukses memecah fokus si pemuda. Raut wajahnya yang tampak tegas, sedikit berubah hanya dengan satu pertanyaan yang menohok. Selain telat menyadari perasaannya sendiri, ia mulai memikirkan hal tersebut. Untuk pertama kali ia mengambil menghembuskan napas panjang sejak datang ke tebing itu.
Mereka diam kembali. Tidak mendapat jawaban dari orang di sebelahnya, gadis berambut pirang itu merebahkan dirinya di atas tanah. Matanya terpejam. Siul-siulan dari angin ternyata dapat menenangkan pikiran. Akhir-akhir ini, dirinya hampir menyusul Padma jika saja keluarga tidak segera menghentikan percobaannya.
Selama seminggu dia bertanya-tanya, mengapa Padma memilih tempat sejauh Desa Pecatu di Bali? Banyak tempat bunuh diri yang tidak memakan banyak biaya, di tengah hutan misalnya. Tapi, setelah mendengar siulan angin di tebing ini, gadis itu mendapat hipotesis lain mengapa Padma pergi ke desa di Bali ini. Ia menjadi tidak heran kenapa Padma memilih jauh-jauh pergi ke tebing Uluwatu daripada hutan yang antah-berantah.
Gadis itu membuka matanya. Lembayung terpantul di mata birunya. “Jika kau tidak menemukanku di rumah saat kita berdua sama-sama sudah pulang, coba temukan aku disini.” Ia tersenyum. “Disini nyaman.”
“Tidak lucu, Maria.” Suara pemuda di sampingnya terdengar tegas.
Gadis itu, Maria, tertawa kecil.
“Memang kau tidak merasakan ketenangan disini, Bujang?”
Raut muka pemuda di sebelahnya, Bujang, tidak dapat diartikan. Tapi, Maria gadis yang cerdas. Dia dapat menyimpulkan satu informasi hanya dengan melihat raut Bujang.
Pria itu tidak nyaman berada di tebing ini, saksi bisu pujaan hatinya bunuh diri yang menyisakan segala hal tentang Padma hanya tinggal sebagai kenangan yang menyedihkan dan penuh misteri.
Gadis se-ramah dan secerdas itu, yang biasanya selalu berdebat hanya dengan fakta dan teori, kenapa memilih untuk bunuh diri?
