Actions

Work Header

I Choose You

Summary:

Kenal lama sedari kecil membuat arah perasaan Sungho dan Jaehyun tidak terbaca. Tapi satu hal yang pasti, di kehidupan manapun, di galaksi manapun Jaehyun akan selalu memilih Sungho.

Chapter 1: Plumeria 29-30

Chapter Text

“Salah dah, harusnya gue bawa mobil.”

“Emang semua salah lu.”

Keduanya berhenti di halaman ruko yang tertutup untuk berteduh, beberapa kendaraan mengikuti mereka untuk menepi di sana. Si penumpang turun dari motor lalu melangkah menuju selasar untuk melepas kaos kaki yang dikenakan, sementara si pengemudi masih duduk di atas motor sambil melepas jaketnya yang mulai basah karena air hujan, kedua matanya tak luput dari langit memprediksi kapan hujannya akan reda sehingga ia bisa melanjutkan perjalanan menuju rumah.

“Kayaknya bakalan lama si hujan ini turun.” Jaehyun menyimpulkan sendiri, awan gelap memang masih menyelimuti daerah ini, rintik air hujan semakin deras setelah Jaehyun berujar demikian, “dan gue lupa bawa jas hujan.”

Sambil menyalakan satu batang rokok Sungho mengangguk, “Yaudahlah, tunggu reda aja.”

Jaehyun ikut duduk di sebelah Sungho dan melakukan hal yang sama, merogoh saku celana dan menyalakan satu linting tembakau. Asap rokok mengisi jarak antara mereka berdua, tidak ada percakapan namun hanya tarikan dan helaan nafas yang bicara.

Keduanya selesai menghadiri acara pernikahan salah satu rekan kerja Jaehyun. Tanpa pikir panjang Jaehyun langsung mengajak Sungho untuk menjadi plus onenya ke acara, bukan tanpa alasan namun saat ini hanya Sungho lah yang bisa Jaehyun andalkan dan tidak butuh waktu lama untuk Sungho menyetujui ajakan Jaehyun. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Jaehyun meminta Sungho untuk menjadi plus onenya begitupun sebaliknya.

Sungho membalas budi kali ini, karena sebelumnya ialah yang lebih dahulu meminta Jaehyun untuk menemaninya menghadiri acara pernikahan rekan kerja tempo hari. Dan hari ini rekan kerja Jaehyun yang menikah, makanya Sungho menyetujui ajakan tersebut.

Simbiosis mutualisme begitulah Jaehyun menyebutnya.

“Mingdep mau ikut gak? Crew resto gue mau ke Dufan.” Ajak Sungho.

“Kagak mau ah.” Jaehyun menjawab, “acara kantor lu kok gue ikut.”

“Boleh bawa orang luar jir.”

“Ya ajak aja kakak lu.”

Sungho menatap Jaehyun sinis, “ya kagak mau.”

Jaehyun menatap balik Sungho sinis, “ya gue juga gak mau, ntar disangkanya apa lagi.”

“Apa emang? Pacar?” Sungho bertanya dengan berbisik.

Jaehyun langsung menggeser posisi duduknya, membuat jarak keduanya semakin renggang. “Jauh-jauh lu dari gue.” Ia mematikan rokoknya yang sudah mulai habis, sementara Sungho terkekeh melihat tingkah laku Jaehyun. “Makanya lu cari pacar.”

“Lu juga cari pacar.” Sungho menunjuk Jaehyun dan menekankan nada bicaranya. “Gue udah mulai bosen diajak kondangan sama lu.”

“Lah lu juga ngajak gue kondangan kemarin!” Kesal, Jaehyun mulai menaikan nada bicaranya, “lu yang cari pacar.”

Di usia pengujung dua puluh tahun ini keduanya sama-sama putus asa dalam hal romansa, Jaehyun yang sibuk dengan pekerjaan, lembur dan hobi mana sempat memikirkan hal-hal demikian. Baginya rumah-kantor-makan-dan tidur nyenyak sudah sangat cukup. Sementara Sungho lebih memilih bekerja dengan hobi, bisa menghidangkan makanan terbaik sudah cukup baginya.

Intinya keduanya cukup sibuk untuk fokus ke diri sendiri dan tidak punya banyak waktu mengencani seseorang atau sekedar bertanya, 'kamu lagi apa?'

“Yaudah sih, gak ada pacar bukan berarti lu gak bisa makan.” Ujar Sungho.

“Bener, gak ada pacar bukan berarti lu gak ada duit.” Tambah Jaehyun, hal itu membuat Sungho terkekeh dan mematikan puntung rokoknya.

“Terus bukan berarti lu jelek.” Sambung Sungho.

“Lah guemah emang ganteng.”

Wajah masam kembali Sungho pasang, teman kecil merangkap teman sekolah sekaligus tetangganya ini memang punya kepercayaan diri lebih. “Udah gede ya lu, pas bocil dulu gak gini dah.”

Jaehyun tertawa, “emang dulu gue gimana?”

“Cengeng.”

 


 

“Udah jangan cengeng.”

Saat itu usia Sungho tujuh tahun ia baru pulang sekolah di persimpangan jalan besar bertemu anak laki laki mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya. Sepeda ia parkirkan di dekat trotoar sementara matanya terfokuskan pada anak laki laki yang menangis ini.

“Aku gak tau jalan pulang.” Ujar si anak yang dipanggil cengeng oleh Sungho.

“Ih kan kamu rumahnya sebelah aku. Kamu yang baru pindah itu kan?”

Jika Sungho ingat-ingat ia memang punya tetangga baru di sebelah rumahnya, baru pindah beberapa hari dan ia sempat melihat anak seumuran dengannya bermain truk pengeruk pasir di depan rumah. Sejujurnya ia tidak terlalu mengingat wajahnya tetapi Sungho mengenal motor matic pink berbunga yang dikemudikan ibu anak ini saat mengantarnya ke sekolah. Jelas-jelas itu motor tetangga barunya yang sering lalu lalang di depan rumah tempo hari.

“Ayo pulang.” Sungho kecil menarik tangan si anak cengeng, menuntunnya ke arah sepeda yang terparkir. “Mamah kamu gak ngejemput karena lupa kali, kamu pulang sama aku aja.” Ujarnya dan si anak cengeng mengangguk.

“Kamu mau naik sepeda?” Tanyanya lagi, “aku bonceng, kamu duduk di sini.” Sungho menunjuk besi antara jok sepeda dan stang namun anak itu menggeleng. “Yaudah.”

Keduanya berjalan menyusuri jalan raya yang tidak terlalu besar namun cukup ramai, motor berlalu lalang dan mobil terparkir di sisi jalan. Sungho menuntun sepeda sementara si anak cengeng mengikutinya, sesekali Sungho melirik ke arahnya takut takut si anak kembali menangis.

“Udah jangan nangis.”

“Gak nangis.”

“Kamu siapa namanya?”

“Jaehyun.”

“Aku Sungho.”

Jaehyun mengangguk, “beneran kamu rumahnya di sebelah rumah aku?”

“Bener.” Jawab Sungho yakin, “komplek rumah kamu yang depannya sawah kan?” Ia melihat Jaehyun mengangguk, “yaudah sama, rumah aku juga di situ tau.”

“Aku enggak hapal jalan pulang.” Jaehyun membantu Sungho memegangi jok sepeda, kedua kaki kecilnya mengikuti kemanapun Sungho pergi.

“Nanti juga hapal, kamu nanti beli sepeda biar gak usah nunggu mamah. Lama.”

Jaehyun mengangguk, menyetujui ide Sungho. Ia melihat sekelilingnya mulai menghapal jalan yang ia lewati, nampaknya jalan ini sama seperti tadi pagi saat diantar Bundanya, ada warung nasi kuning ibu tati (yang sekarang sudah tutup) dan patung dua tentara yang satunya menunjuk. “Bener, tadi pagi aku lewat sini.”

“Iyalah kan jalannya cuma ini. Bisa sih jalan sana.” Sungho menunjuk salah satu gang di sebelah gerobak cendol, “tapi jadinya muter gitu.”

Jaehyun mengangguk lagi, ia belum begitu familiar dengan lingkungan rumahnya yang baru. Ia hanya tahu nama jalan rumahnya ialah Plumeria nomor 30 berada di ujung gang dengan rumah bercat oranye, sementara gerbang kompleknya bertuliskan Grand Sahara Residence dengan bapak satpam di depannya dan portal yang dijaga ketat.

“Kamu di kelas apa Sungho?”

“Aku kelas C, kamu kelas apa?”

“Aku kelas A.”

“Yah beda.” Sungho menjawab dengan nada sedikit kecewa, ia kira Jaehyun berada di kelas yang sama, “pindah kelas aja, kamu sekelas sama aku.”

“Emang boleh?” Jaehyun bertanya penasaran.

“Ntar aku tanyain Bu Pipin, bisa gak pindah kelas.” Bu Pipin ialah wali kelas Sungho, Bu Pipin baik ia mengajar Bahasa Indonesia beberapa kali Sungho pulang sekolah selalu bertemu wali kelasnya di perempatan jalan dan Bu Pipin akan memberikan klakson motor sambil berteriak 'Hati hati di jalan, Nak' dan Sungho akan membalasnya dengan bel speda. “Ntar kan ada jembatan, belok kiri ya.”

Karena Jaehyun menolak untuk dibonceng, jadi keduanya berjalan kaki dan perjalanan tanpa speda cukup jauh. Sungho memakai topi sekolahnya untuk menghindari panas matahari yang semakin terik, sementara Jaehyun beberapa kali mengelus peluh yang menetes dari pipinya. Mereka tiba di tengah jembatan dan sempat berhenti dulu di tengah, melihat apa yang ada di bawah jembatan. Sungai kering dengan batuan besar dan ilalang berdiam diri di sana.

Jaehyun bilang ia baru pindah dari daerah utara karena ayahnya pindah tempat kerja, Jaehyun punya satu kakak laki-laki yang sekarang bersekolah SMA, ia juga bilang punya banyak koleksi mainan truk dan mobil mobilan. Sementara Sungho sudah punya rencana untuk mengajak Jaehyun bermain nanti sore setelah mengerjakan PR dari sekolah.

Cukup jauh mereka berjalan dari gerbang sekolah sampai akhirnya tiba di gerbang komplek perumahan, “Ih bener rumah aku di sini.” Jaehyun berujar setelah membaca plang di depan yang bertuliskan nama komplek perumahannya. Ia melihat bapak satpam yang membukakan plang jaga untuknya dan tersenyum.

“Kan aku udah bilang ih, aku juga rumahnya di sini.” Sungho masih mendorong sepedanya, melewati beberapa polisi tidur, hingga akhirnya mereka tiba di perempatan dengan air mancur di tengah jalan. “Belok ke kanan kan?”

“Iya bener.” Jawab Jaehyun antusias, dari depan sini ia bisa melihat rumahnya yang terletak di ujung jalan lalu plang di depan gang yang bertuliskan Plumeria 21-30. “Itu rumah aku.” Ia menunjuk rumah di ujung gang dengan mobil silver terparkir di depannya. “Rumah kamu yang mana Sungho?”

“Sebelah rumah kamu lah.”

Dan benar saja Sungho berhenti tepat di sebelah rumahnya, rumah bernomor 29 dengan tembok berwarna cream dan kolam ikan di halaman rumahnya. Pintu rumah terbuka lebar, Jaehyun bisa melihat sofa ruang tamu dan kipas angin yang menyala di dalam sana.

Sungho memarkirkan sepeda di garasi dan beberapa detik kemudian Jaehyun melihat Bundanya mengeluarkan motor sambil berteriak, “Aku jemput anakku sek.” Sontak Jaehyun berteriak dari halaman rumah Sungho, “Bunda aku udah pulang!”

“Nak?! Pulang sama siapa? Bunda lupa jemput maaf nak sayang.” Baru kali ini Sungho melihat Bunda Jaehyun dengan jelas, sepertinya seumuran dengan Mamanya, bunda Jaehyun memakai celana jeans biru terang dengan jaket coklat dan kunci motor berkalung di lehernya. Ia mengusap rambut dan wajah Jaehyun dengan penuh sayang, “Sama Sungho.” Jaehyun menatap teman barunya yang sedang terdiam di garasi halaman rumah.

“Yaampun nak, makasih sayang.” Bunda Jaehyun mendekati Sungho, memeluk Sungho kecil. Bunda wangi ayam goreng. Sungho tak luput dari usapan dan ciuman sayang Bunda Jaehyun, padahal Sungho hanya mengantarkan Jaehyun pulang sambil berjalan kaki, lagipula mereka bertetangga jadi Sungho sama sekali tidak keberatan. “Mana Bundanya?”

“Mamah kerja, di rumah cuma ada kakak.” Jawab Sungho singkat, ia bisa melihat Bunda Jaehyun yang mengintip pintu rumah yang terbuka, tangan Bunda Jaehyun masih ada di bahu dan pipinya sementara Jaehyun hanya melihatnya dengan tatapan heran.

“Bunda masak banyak, nanti makan sama kakak ya.”

Dan beberapa menit kemudian Sungho menerima dua kotak berukuran sedang yang berisi nasi kuning, bihun, ayam goreng dan perkedel kentang. Tak luput dari satu piring berisi potongan buah semangka dan melon, Bunda Jaehyun yang mengantarnya ke dalam rumah. Mamah mungkin sudah berbicara dengan Bunda namun Sungho baru menemui Bunda Jaehyun yang baik. Selain Ibu Pipin, Bunda Jaehyun juga sangat baik.

Itulah pertama kali Sungho melihat Jaehyun dan Jaehyun untuk pertama kalinya mengenal Sungho. Hari berikutnya mereka berangkat sekolah bersama, Jaehyun sudah ada sepeda yang ternyata milik kakaknya dahulu, Sungho akan menunggunya di ujung jalan Plumeria dan mereka berangkat sekolah pukul 06.40 pagi, melewati jalanan dan jembatan yang sama.

“Ini namanya jembatan apasih?” Tanya Jaehyun penasaran, ia sudah mulai hapal rute dari rumah ke sekolah begitupun sebaliknya.

“Jembatan Cilukba.” Jawab Sungho asal, karena sesungguhnya ia juga tidak tahu apa nama jembatan itu, namun nampaknya Jaehyun tidak terlalu banyak komplen.

Di sekolah mereka memarkirkan sepedanya bersebelahan, Jaehyun menunggu Sungho memasuki kelas lebih dahulu dan Jaehyun akan melambaikan tangan seraya berkata, “Nanti pulangnya bareng lagi ya.” Dan Sungho menjawab iya.

Begitulah rutinitas mereka semasa bersekolah, Sungho akan main ke rumah Jaehyun apabila kakaknya belum pulang, ia akan makan bersama Jaehyun dan disuapi oleh Bunda juga. Sore hari mereka menghabiskan waktu untuk berkeliling komplek menggunakan sepeda, Sungho membawa Jaehyun melewati gerbang belakang yang menghubungkan antara komplek perumahannya dengan komplek sebelah, melihat lapangan tennis dan lapangan basket yang ramai saat sore hari. Atau sekedar menghabiskan waktu di lapangan dekat bukit untuk bermain layangan, banyak anak kecil yang seumuran dengan Jaehyun namun ia memilih untuk tetap bermain bersama Sungho di rumah.

Jaehyun baru mengetahui bahwa Papah Sungho adalah seorang dokter dan bekerja di rumah sakit, sementara Mamah Sungho bekerja di kantor pajak, itulah sebabnya kedua orang tuanya jarang ada di rumah. Sementara Sungho hanya tau Ayah Jaehyun bekerja kantoran yang pulang jam lima sore setiap harinya.

Pernah suatu waktu Jaehyun tidak menemukan sepeda Sungho yang terparkir di sekolah, ia memutuskan untuk mencari ke ruang kelas namun nyatanya Sungho tidak ada di sana. Jaehyun buru-buru pulang ke rumah dan menghentikan kayuh sepedanya tepat di depan rumah Sungho, sepedanya terparkir di halaman rumah maka Jaehyun pikir Sungho sudah ada di rumah saat itu.

Namun saat pukul lima sore Kakak dan Mamah Sungho menggedor pintu rumah Jaehyun, Mamah bertanya apakah Sungho sedang bersamanya atau tidak, Jaehyun menjawab tidak. Raut wajah Mamah langsung cemas sedangkan Kakak buru buru mengambil handphone menelepon Ibu Pipin dan satpam depan gerbang komplek, siapatau mereka melihat Sungho.

Bunda juga terlihat panik namun berusaha menenangkan Mamah yang mulai gemetar, ini pertama kalinya Sungho tidak pulang bersama Jaehyun dan ternyata Sungho memang belum sampai ke rumah. Hujan gerimis mulai membasahi jalanan, Jaehyun masih mencerna apa yang terjadi sampai akhirnya Mamah memegang kedua bahunya sambil bergetar.

“Jaehyun... anak Mamah kemana Jaehyun.”

Yang selama ini Mamah tahu jika ia dan Sungho sering bermain bersama, berangkat dan pulang sekolah bersama, namun sore ini Jaehyun belum melihatnya. Buru-buru Jaehyun mengambil payung dan satu jas hujan di dekat rak sepatu. Ia menghiraukan teriakan Bunda yang bertanya hendak kemana, ia juga mengabaikan perkataan Kakak Sungho yang ingin mencegahnya.

Jaehyun hanya ingin temannya kembali ke rumah, ia mencari Sungho ke gang bagian depan, melihat setiap warung yang buka siapatau Sungho duduk di sana sambil memakan real good beku, namun nihil. Jaehyun bahkan bertanya ke satpam depan komplek dan jawaban yang di dapat sama, bapak satpam juga berinisiatif untuk mencari Sungho ke area depan komplek, siapatau Sungho berada di sana.

Namun Jaehyun teringat lapangan dengan bukit yang biasa menjadi tempat mereka bermain layangan, tanpa ragu Jaehyun langsung berlari ke sana. Tidak peduli dengan payung yang tidak lagi melindunginya dari hujan atau cipratan air yang mengenai wajahnya. Ia berlari sambil berteriak memanggil nama Sungho, takut-takut temannya itu sedang berada di sekitarnya.

Ketika mencapai puncak bukit, Jaehyun bisa melihat Sungho duduk di pinggir lapangan dekat tangga dan untungnya bangunan itu bekas podium yang tadinya digunakan warga untuk upacara atau acara kemerdekaan. Jaehyun berlari ke arah Sungho, memastikan Sungho baik baik saja dan tidak terluka.

“Kamu kemana ajasih! Dicariin mamah tau!” Tangan Jaehyun yang basah menarik tangan Sungho, menyuruhnya berdiri dan memakaikan jas hujan yang dibawa. “Ayo pulang udah sore, nanti Papah kamu keburu pulang.”

“Aku gak mau ketemu papah.” Sungho mematung di tempat namun tidak melepaskan genggaman tangan Jaehyun. “Aku gak mau ketemu papah.” Ulangnya.

Jaehyun mengernyitkan dahi, “Emang kenapa? Kan papah kamu baik.”

Gelengan kepala Sungho berikan, langit sudah mulai oranye meskipun air hujan masih menghiasi langit. “Gak mau.” Ujarnya lagi.

Sungguh Jaehyun tidak tahu apa yang Sungho lalui di hari sebelumnya, padahal tadi pagi temannya ini masih berperilaku seperti biasa meskipun banyak diam. Jaehyun sungguh kehabisan ide, di rumahnya ada Bunda dan Mamah yang cemas menunggu, ia tidak mau berlama-lama di luar sini dan membiarkan Sungho kedinginan dengan seragam sekolah.

Ia menarik tangan Sungho memaksanya untuk berjalan sementara Sungho masih berujar enggan untuk pulang, enggan bertemu papah. Payung yang Jaehyun pegang sudah mulai tidak karuan hingga di dekat gerbang belakang komplek yang sepi ia menghentikan langkahnya.

“Kamu kenapasih?! Mamah kamu di rumah aku nyariin kamu tau!” Teriak Jaehyun.

Mendengar Jaehyun berteriak, Sungho malah menangis. Air mata membasahi kedua pipinya bercampur dengan air hujan, ia masih berkata enggan pulang dan enggan bertemu papah. Jaehyun menghela nafasnya, ia membenarkan topi jas hujan yang dipakai Sungho. “Yang bener pake jas hujannya, basah tau.”

Padahal saat itu Sungho bisa melihat pakaian Jaehyun lebih basah karena terciprat air hujan, payung yang Jaehyun pegang tidak banyak melindungi dirinya dari rintik air hujan. Akhirnya Sungho memilih diam dan mengakhiri tangisannya, ia lanjut berjalan mengikuti langkah Jaehyun yang berada di depannya.

“Nanti aku aja yang ketemu papah kamu.” Ujar Jaehyun asal, “Kamu sembunyi di rumah aku aja.” Sambungnya, Sungho mengangguk ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Jaehyun. “Sekarang kamu pulang dulu, kasian mamah kamu nyariin tadi mau nangis di rumah aku.”

Lama menutup mulut saat hendak memasuki komplek teman kecil Jaehyun ini barulah membuka suara, bahwa ia bertengkar dengan Papah karena tidak menurut dan tidak ingin menjadi dokter seperti papah. Maka dari itu, daripada terkena marah papa lagi Sungho memilih pergi dari rumah, enggan bertemu kakak, mamah apalagi papahnya. Ia takut dimarahi oleh papah, karena jika papah marah lebih seram dari mamah ujarnya.

“Kamu bilang aja ke papah kamu, jadi dokter gak seru. Kalau papah kamu marah lagi, kamu langsung lari ke rumah aku.” Jaehyun memberi saran padahal ia juga belum tahu ingin menjadi apa saat dewasa nanti.

Usianya saat kejadian ini sekitar delapan tahun, kelas dua sekolah dasar. Belum terpikir saat itu ia akan menjadi apa, atau kemana ia akan melanjutkan sekolah atau berkuliah nanti. Jaehyun kecil hanya memikirkan unggul di pelajaran olahraga dan menghemat uang jajan untuk bisa membeli play station.

“Jangan marahin aku Je.” Gumam Sungho.

“Enggak marah.” Jawab Jaehyun, “Kamu jangan pergi ya.”

Sungho mengangguk, langkah kaki kecilnya menuntun masuk ke dalam gang plumeria, di depan rumah nomor 30 sudah ada bapak RT dan beberapa bapak satpam yang berkumpul. Sementara anak yang mereka cari sudah Jaehyun bawa pulang, Mamah langsung memeluk Sungho sementara tangan mungilnya masih menggenggam tangan Jaehyun.

Ayah Jaehyun yang saat itu sudah pulang memberikan handuk kepada anaknya dan anak tetangga, “Ketemu dimana dek?”

“Di lapangan belakang gerbang komplek.” Jaehyun menjawab.

Ayahnya tersenyum, “Kok bisa tau Sungho ada di situ?”

Jaehyun mengangkat kedua bahunya, “Tau aja.” Ia melihat Sungho yang masih dipeluk Mamah dan ditenangkan oleh Papahnya. temannya itu hanya diam mungkin mencerna semuanya. Mungkin juga ia baru menyadari ternyata Papahnya tidak sejahat itu, bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat mungkin terjadi di dalam keluarga.

Sejak hari itu, Jaehyun tidak lagi meninggalkan Sungho. Jika ia belum melihat Sungho di parkiran sepeda, ia akan menunggu dan apabila Sungho akan ke suatu tempat sepulang sekolah, Jaehyun akan ikut. Begitupun sebaliknya, meski selama enam tahun bersekolah mereka tidak pernah satu kelas namun saat pergi dan pulang selalu bersama menaiki sepeda, melewati jalanan yang ramai dengan kendaraan, melewati jembatan cilukba dan mampir sebentar di toko kelontong gang depan untuk sekedar membeli layangan dan es kiko yang dibagi dua.

 


 

“Gue inget inget, lu juga cengeng.” Gumam Jaehyun, ia memperhatikan Sungho lewat kaca spion sebelah kiri. Kedua lengannya memegangi stang motor, menyetir dengan handal melewati beberapa truk besar di jalan Soekarno-Hatta.

“Kapan gue cengeng?”

Jaehyun tersenyum, “Kalau diceritain lu malu gak?”

Sungho memilih untuk memukul helm Jaehyun, membuat si pengemudi mengaduh mengeluh sakit.

Meski rintik hujan belum berhenti sepenuhnya namun keduanya memilih untuk melanjutkan perjalanan pulang. Menyusuri jalan raya besar dengan truk berlalu-lalang, berbelok melewati gedung gedung pemerintahan di pinggir jalan, melewati rumah sakit besar yang tidak pernah sepi pengunjung, melewati jembatan cilukba.

Lalu motor yang ditumpangi mereka berbelok ke gerbang komplek, Jaehyun sempat memberikan klakson untuk bapak satpam yang sedang berjaga sambil meminum segelas kopi. Mereka masuk melewati gerbang depan, melewati kawasan depan komplek dan berbelok menuju jalan Plumeria. Jaehyun berhenti tepat di depan rumah Sungho, membiarkan Sungho turun dengan aman.

"Gue anterin sampe depan rumah." Ujarnya.

"Iyalah orang rumah lu di sebelah." Sungho sewot, ia membuka gerbang rumah dengan sedikit kesal, "Besok-besok bawa mobil ah."

"Boleh aja asalkan lu yang nyetir." Jaehyun terkekeh melihat raut wajah Sungho yang kesal, ia maju beberapa meter ke depan rumahnya, memarkirkan motor dan membuka jaket yang basah karena hujan. Sementara Sungho masih di garasi rumah menggantungkan jaket dan baju batiknya yang basah.

"Makasih yah udah nemenin." Ujar Jaehyun, garasi mereka bersebelahan dan ia bisa melihat Sungho dari depan rumahnya.

"Kayak bukan pertama kali aja lu ngerepotin gue."

Jaehyun kembali terkekeh mendengar jawaban Sungho, ia buru-buru masuk ke dalam rumah. Bunda belum pulang dari rumah nenek, ia langsung menuju kamarnya di lantai dua, membuka jendela dan melihat Sungho dari jendela kamarnya. Namun Sungho memilih untuk menutup tirai kamar, membiarkan Jaehyun seperti biasanya di jendela seberang. Teman kecilnya itu masih di sana, merapikan rambut sambil memutar radio Ardan kesukaannya.

"Orang gila." Gumam Sungho, namun ia tersenyum melihat tingkah laku Jaehyun.

Jaehyun mungkin terlihat menyebalkan dengan tingkah laku begitu aneh dan narsistik yang terkadang melonjak tinggi, namun itulah dirinya. Berteman sedari kecil membuat Sungho tahu bagaimana tulusnya Jaehyun berteman dengannya, dan Sungho sama sekali tidak keberatan apabila Jaehyun meminta bantuannya. Karena memang sedari dahulu, Jaehyun selalu ada untuknya.

Jam delapan malam selepas makan, handphone Sungho berdering menunjukan nama Jaehyun di layar panggilan.

"Apa?"

'Buka jendela kamar.'

Sungho melangkah ke jendela, membuka tirai dan kuncinya, telepon masih belum terputus tapi Sungho sudah bisa melihat Jaehyun di depan balkon kamarnya membawa satu piring kue brownies coklat. "Apanih? Ada acara apa di rumah lu?"

Jaehyun mematikan telepon dan memberikan piring ditangannya untuk Sungho. "Bunda bawa brownies dari nenek, suruh ngasih ke lu."

"Kenapa gak lewat depan?"

"Males pake sendal guenya, Nyo."

Sungguh alasan yang masuk akal namun Sungho tidak banyak protes, ia membawa masuk piring dengan potongan brownies ke dalam kamarnya. Kembali ia mendengar Jaehyun mengomel seharusnya jendela kamar Sungho tetap terbuka sehingga ia tidak perlu menelepon dan hanya perlu berteriak untuk memanggil Sungho.

"Piringnya gue kembaliin besok." 

Jaehyun memberi hormat, "Siap, chef." Seraya tersenyum, Sungho hanya mengerutkan dahi tingkah Jaehyun yang seperti ini bukanlah hal aneh untuknya. "Selamat malam, chef nyanyo." Ia menutup jendela kamar beserta tirainya, Sungho bisa melihat ruangan yang tadinya terang langsung berganti suasana runyam, itu berarti Jaehyun sudah menyalakan lampu tidur.

Sungho tersenyum melihat Jaehyun melambaikan tangan dari dalam kamar, bayangan tangannya bisa Sungho lihat dengan jelas. Mungkin itu hal biasa tapi Sungho cukup nyaman dengan apapun yang Jaehyun lakulan untuknya, malam itu Sungho membalas ucapan selamat malam Jaehyun melalui pesan singkat dan Jaehyun membalasnya dengan emoji jempol.

"Orang gila." Gumam Jaehyun sambil berguling ke kiri dan ke kanan di atas kasur.