Work Text:
Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana komunikasi, Anton menjadi salah satu mahasiswa yang cukup—nganggur dibanding teman-teman sebayanya. Temannya yang lain, sudah sibuk pitching dengan brand kesana kesini, sedangkan dia cuma di kamar bersama dengan laptop abu-abu miliknya sejak SMA nya yang masih bisa bertahan untuk membuka adobe lightroom dan adobe photoshop yang dimodif tambah RAM hingga 16GB dan graphic card yang belum GTX.
Adiknya dan kedua orang tuanya bukan tidak tahu keadaan Anton. Mereka semua tahu, tahu bagaimana Anton terus mencoba kesana-kesini. Karena passionnya di bidang fotografi, jelas—karir yang dijanjikan tidak semulus yang lain. Tidak ada pandangan karir yang bisa diterka dengan jelas. Atau pekerjaan tetap yang menjanjikan.
Beberapa kali Anton dipanggil untuk diminta bantuan oleh teman-temanya yang bekerja di agensi periklanan. Mimpinya sejak awal, untuk bekerja bersama dengan brand-brand besar ternama mulai dari nasional, multinasional, hingga internasional. Namun kembali, ia hadir sebagai pengganti yang belum tentu hasil fotonya akan dipakai untuk campaign ataupun project yang dijanjikan.
Yang ia syukuri, setidaknya ia dibayar untuk pekerjaan yang tidak bermanfaat untuk mereka. Setidaknya, ia berkesempatan untuk berpartisipasi sedikit pada campaign yang tidak menggunakan hasil fotonya itu. Sedikit banyak juga hasil fotonya dipakai namun nama yang tertulis bukan miliknya. Apakah ia mempermasalahkan?
Sebagai seorang fresh graduate yang memiliki standar atas pekerjaannya sendiri, Anton tentu marah. Marah atas dirinya kenapa ia tidak bisa marah dan bertanya dengan penanggung jawab campaign itu. Namun apa yang bisa ia lakukan selain berharap ada panggilan sebagai fotografer pengganti selanjutnya?
Hari ini, Anton miliki panggilan selanjutnya. Panggilan sebagai fotographer cover majalah sekaligus katalog fashion attire. Jika ditelaah dari surat tawaran dan perjanjian kontrak, photoshoot kali ini akan berlangsung selama tiga hari dalam kurun waktu seminggu.
Setelah meeting dengan salah satu stylistnya, Anton sudah mendapatkan beberapa referensi untuk foto hari ini. Ia sudah siap dengan gear miliknya dan berpamitan setelah sarapan ke studio foto di area Kemang, Jakarta Selatan. Sebelum itu ia mampir ke Kemang Village di jam sebelas siang untuk membeli kopi dan bertemu langsung dengan model yang akan menjadi pusatnya di tiga hari ke depan.
Song Eunseok.
Laki-laki yang selalu hadir di beberapa acara fashion week ibukota, terkenal dengan setelan-setelan yang fenomenal dan selalu hadir dengan baju-baju yang dipercayakan oleh desainer ternama. Song Eunseok yang itu. Janjinya mereka bertemu di cafe kecil di lantai 2.
Sesuai dengan janji, laki-laki itu hadir di ujung ruangan dengan segelas kopi panas di hadapannya. Anton dengan ragu menghampiri, melepas jaket kulit coklat miliknya dan merapikan rambut yang belum sempat ia sisir. “Halo. Permisi, Mas Eunseok?” ia mencoba menyapa ramah.
Sapaan itu dijawab ketus, tidak ada balasan senyuman dari pemuda dengan tatapan yang dingin. “Ya. Telat kamu.” jawabnya dingin. Saat itu juga, Anton merasa suhu AC di Kemang Village mendadak menjadi 0 derajat. “Ah maaf mas. Tadi ada kecelakaan di area Tebet, jadi harus muter.” ia mencoba menjelaskan dan duduk di hadapannya.
Setelah memesan dan duduk kebingungan, Anton merasa ada yang tidak beres. Awalnya, Eunseok sendiri yang menawarkan untuk membangun bonding antara dirinya dengan photographer magang yang di hadapannya. Tapi sekarang, 15 menit berlalu tanpa perbincangan sama sekali.
“Mas Eunseok udah tahu konsep buat nanti?” Anton mencoba membuka percakapan. Eunseok hanya mengangguk sebagai jawaban.
Adegan selanjutnya, ipad berukuran sedikit besar dari tangannya ia keluarkan di hadapan. “Kenapa? kamu mau nawarin asuransi?” jawabannya cukup spontan, menurut Anton.
“Enggak mas. Ini saya mau kasih lihat hasil riset dan referensi pose buat Mas Eunseok. Emang saya kelihatan kayak agen asuransi ya?”
Situasi saat itu cukup canggung, mengharuskan Anton berpura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan membentuk senyum yang tidak terlihat tulus sama sekali. “Jadi gini Mas Eunseok, kan saya udah dapet ya foto-foto baju yang bakal kita foto hari ini. Mas Eunseok udah lihat juga kan? Ada yang bikin Mas Eunseok kurang nyaman gak ya, kira-kira? Soalnya ada celana pendek untuk shoot hari ini.”
Eunseok menggeleng. “Saya nggak pernah shoot pake celana pendek sih, tapi saya gak masalah. Cuma saya gak suka kalau pose kayak gini, saya kelihatan aneh.” Eunseok menunjuk beberapa referensi pada moodboard. Sialnya yang ditunjuk, menjadi pose paling favorit Anton yang ingin ia coba.
“Saya nggak suka kalau megang leher begitu. Aneh.”
“Tapi bukannya mas pernah ya pose begini buat Lunic?”
“Itu doang sekali karena dipaksa sama ownernya. Abis itu nggak pernah lagi, saya gak mau yang begini.”
Ekspresi wajahnya pasti, keras. “Mas ada rekomendasi pose?” Anton mencoba mencari solusi. “Gak tau. Kan kamu photographer nya.” Sedikit banyak, kepala Anton mulai meledak. “Tapi kan mas modelnya.” Kalimat itu lepas, tanpa ia sadar.
Bukan tanggapan yang baik yang terlihat dari wajah model satu itu, melainkan mata yang membelalak melotot besar menatap Anton heran. “Ya kamu yang mikir?” kali ini Song Eunseok jelas, marah. Ia berdiri. “Cepet. Kita ke studio, nanti keburu macet. Kamu bawa mobil kan?”
Anton mengangguk cepat menjawab. Padahal maksudnya bukan seperti itu. Maksud Anton, ingin menjawab diskusi lebih lanjut soal pose-pose yang akan digunakan nantinya. Tumpukan kertas referensi yang baru dia print semalam tak sempat ia keluarkan sama sekali, karena sang model terlanjur marah.
Mereka kini berada di parkir mobil B2, tepat di depan mobil hitam Anton terparkir. Mobil listrik ini cukup luas untuk dipenuhi dengan keperluan milik Anton di kursi belakang. Anton mencoba ramah dengan membukakan pintu penumpang untuk Eunseok, namun yang ia dapat hanya tepisan tangan sedikit kencang. “Gak usah, saya bisa buka sendiri.”
Anton menurut. Ia berbalik ke pintu pengemudi untuk masuk dan merapikan beberapa barang yang tergeletak di kursi penumpang, termasuk botol minum hydro flask hitam miliknya dan kertas-kertas CV maupun kontrak kerja yang tak bernilai, itu.
“Kamu gak punya pacar ya?” kalimat itu hal paling aneh bagi Anton yang ia dengar hari ini dari mulut Eunseok. Laki-laki itu baru saja duduk di mobil miliknya dan terpaksa mengantarnya ke studio dan pertanyaan sensitif ini keluar dari mulutnya dengan wajah datarnya.
“Kenapa nanya begitu, mas?”
“Mobil kamu, berantakan banget. Kayak gak ada yang urus.”
“Mas mau urusin?”
Lagi-lagi mulutnya benar-benar tidak bisa ditahan. Entah ada sihir apa di kepala Anton hari ini. “Eh maaf mas. Iya maksudnya saya gak punya pacar. Terus saya banyak job mendadak dari bulan lalu jadi jarang pulang ke rumah buat beres-beres barang jadi semua saya tinggal di mobil aja dan belum sempet beresin lagi. Maaf ya mas kalau mobil saya berantakan. Apa Mas Eunseok kalau mau nyaman saya pesenin taksi aja ya mas? Takutnya Mas Eunseok nggak nyaman di mobil saya yang isinya barang-barang saya yang kelihatan kayak oversharing pemiliknya ini.”
Eunseok menutup matanya tenang, mencoba paham atas seribu jawaban Anton yang diucapkan dalam lima belas detik. “Ya, santai. Saya kan cuma nanya. Udah gapapa, saya disini aja. Repot kalau mau ke lobby lagi.” lagi-lagi, suhu AC mobilnya berubah menjadi 0 derajat.
Siang hari di Jakarta, menjelang makan siang cukup penuh. Terutama area Kemang dan sekitarnya. Jadi kemungkinan mereka terlambat tetap ada walaupun jarak yang ditempuh cukup dekat, tidak sampai 5 kilometer. Seharusnya dalam waktu maksimal 30 menit mereka sudah sampai, tapi setelah hampir 40 menit perjalanan, mereka masih berada di lampu merah.
Alunan lagu yang disetel dalam mobil juga terus menyala dengan tenang. Tidak ada protes dari yang lebih tua, tidak ada permintaan untuk mengganti atau mulut yang terbuka untuk ajak bicara. Hening mobil diisi dengan lagu-lagu Sheila on 7 ataupun Dewa19 ditemani oleh klakson marah di tengah matahari yang membakar area Kemang.
“Mas Eunseok haus gak?” dihitung sudah hampir 45 menit sejak perjalanan dan sepertinya laki-laki di sebelahnya mulai kepanasan karena kaca film yang dipasang tidak bisa melawan matahari yang marah hari itu. “Enggak. Gapapa.”
‘Bohong’ ucap Anton dalam hati. Ia bisa melihat Eunseok mulai kepanasan dengan baju dua lapis yang ia pakai hari itu. AC mobil juga sudah di suhu paling dingin yang bisa ia nyalakan. “Kita bentar lagi sampe, bentar ya mas. Maaf jadi telat lagi.” Anton meminta maaf sekali lagi. Saat jalanan mulai lancar, telepon masuk di layar intercom mobil.
“Angkat aja, mas. Kak Wonbin, nanyain tuh kayaknya.”
Selagi Anton fokus dengan jalanan ke depan, sesuai dengan perintah, Eunseok mengangkat telepon dari personal assistantnya.
“Halo? Anton, udah ketemu sama Eunseok? Kalian udah dimana? Orang brand udah disini, nih. Tapi mereka mau makan siang tadi, jadi lagi makan. Kayaknya bentar lagi balik. Kalian udah dimana?”
“Halo Wonbin. Ini Eunseok. Udah ketemu sama Anton, santai. Kita udah mau masuk parkiran ini.”
“Kalian jadinya kesini bareng?”
“Ya kan tadi lu sendiri yang ngedrop gue sendirian di KemVille terus lu berharap gue terbang, nih?”
“Ya.. Enggak. Udah ah. Cepet kesini. Belom makan siang kan?”
“Belom. Udah nanti aja. Bawel ah.”
Secara sepihak sambungan dimatikan oleh Eunseok. “Itu gapapa Kak Wonbin dimatiin call nya begitu?” tanya Anton kebingungan.
“Gapapa. Kenapa manggil dia kak, deh? Saya dipanggil mas?” tanya Eunseok penasaran setelah kaca mobil kembali tertutup.
“Ya, karena Kak Wonbin kakak tingkat saya, mas. Sekaligus mantan gebetan saya waktu kuliah?” Anton menjawab ragu. Takut melihat ekspresi yang dibuat oleh Eunseok setelah mendengar pernyataannya barusan. Parkiran gedung studio ini cukup gelap, untungnya. Jadi ekspresi yang dibuat Eunseok tak terlihat di mata Anton.
“Emang kenapa mas? Mas mau saya panggil kak juga kayak Kak Wonbin?”
Mobil berhenti setelah mendapatkan parkiran. Lampu mobil menyala dan Anton mendapati Eunseok yang baru saja melepas sabuk pengamannya. “Wonbin tau?” lagi-lagi pertanyaan yang tidak diduga.
“Yuk mas. Udah ditungguin Kak Wonbin di dalem.” Anton mencoba berpura-pura tidak mendengar apa-apa dan keluar dari mobilnya cepat. Anton belum berani menjawab apa-apa karena hari ini ucapannya terlalu banyak keluar tanpa arah. Eunseok seharusnya tidak perlu soal kisahnya dengan Wonbin, soal dia yang pengangguran tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun sepertinya, Eunseok memberinya sihir sejak pertemuan di KemVille tadi pagi.
Eunseok hendak bertanya kembali, mengulang pertanyaannya. Namun Anton berjalan lebih cepat di hadapannya, jauh lebih cepat. Sehingga ia putuskan untuk menyimpan kembali pertanyaannya yang ramai berbisik di kepala nya.
Langkah kaki mereka memasuki ruangan yang penuh dengan lampu dan lantai kayu yang kokoh. Setelah berbagai kejadian yang terjadi karena kepala Anton yang mengambil keputusan sendiri, mereka akhirnya sampai di studio foto milik KALUNA—majalah fashion yang dikenal oleh para desainer ternama dan panutan untuk beberapa mahasiswa fashion design.
Hari ini Eunseok akan menjadi model untuk cover bulan depan dan model katalog untuk Lavi on Réau yang masuk di dalam edisi tiga bulan kedepan dan tentu ditemani oleh Wonbin dan Anton sebagai fotografernya hari ini. Mereka bertukar sapa dengan Wonbin, orang-orang Lavi dan juga beberapa penanggung jawab KALUNA.
Setelah selesai dengan agenda salam dan sapa, Eunseok masuk ke dalam ruang rias sedangkan Anton diberikan beberapa penjelasan mengenai alat-alat yang bisa ia gunakan, termasuk kehadiran Yushi yang akan menjadi assistant sementaranya hari ini. Bersama dengan Yushi, Anton mulai mengatur lighting dan menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan nantinya.
“Hari ini fotonya santai sih. Bajunya nggak macem-macem mostly baju cowok. Windbreaker dan lain-lain, karena kayaknya ini first time Lavi ngeluarin artikel cowok. Jadi kita nanti point out di warna yang nyala aja. Bisa kan ya, Yushi?”
Yushi mengangguk. “Bisa kok, kak.” Anton mengangguk mengerti. “Kita seumuran ah, kayaknya. Gausah pake kak manggilnya, aneh tau.” Anton terkekeh sembari merapikan beberapa peralatan yang perlu disiapkan, termasuk baterai dan flash kamera yang baru saja dikeluarkan untuk dicoba.
Setelah menunggu beberapa saat, Eunseok hadir dengan fit pertamanya. Windbreaker hijau gelap dipadu dengan kaos putih polos di dalamnya dan celana selutut warna hitam. Eunseok berjalan tanpa menyapa Anton maupun Yushi, ia berjalan dan segera mengambil posisinya di depan backdrop putih bersih yang sudah disiapkan.
Anton dengan sigap mengambil tumpukan kertas yang ia siapkan sejak semalam. Kertas-kertas yang berisi referensi pose yang bisa Eunseok gunakan hari ini. “Siang Mas Eunseok. Hari ini kita bakal ada lima looks buat windbreaker ya, dengan lima warna berbeda. Saya udah kasih beberapa referensi yang bisa mas coba. Nanti kita coba dulu ya beberapa, kalau ada yang kurang cocok kita diskusi lagi.”
Eunseok beberapa kali membolak-balik kertas-kertas yang agak kusut yang penuh dengan catatan pena biru milik Anton. “Kabarin saya kalau kita udah bisa mulai ya, mas.” Anton beranjak untuk kembali ke posisi ke belakang kamera, namun Eunseok menahan tangannya cepat. “Mulai sekarang aja. Gapapa.” tangannya terlepas, memberikan kembali kertas kusut ke hadapan Anton.
Anton mengangguk mengerti ia mengambil kertas referensi miliknya dan kembali ke posisi. “Yushi, reflektornya ya.” ia mengarahkan Yushi untuk ke posisinya dan memulai pemotretannya. “Satu, dua, tiga.”
Click. Click. Click.
Suara jepretan dan cahaya terus bersahut-sahutan. Anton fokus dengan objek indah di hadapannya, sedangkan Eunseok fokus memikirkan harus melakukan gaya apalagi yang harus ia keluarkan. Setelah tiga menit bergerak dengan suara jepretan kamera yang tak berhenti, Yushi yang juga sudah mulai kepanasan karena terkena panas lampu, mereka mengambil istirahat sejenak.
Eunseok kembali ke tempat duduk khusus model, sedangkan Anton kembali meraih kertas referensi miliknya dan menghampiri Eunseok yang sedang minum segelas kopi, lagi. “Mas Eunseok. Ini saya doang yang merasa atau emang gak ada satupun referensi yang saya siapin mas pake?”
Eunseok meletakan gelas kopinya. Memutar tubuhnya menghadap Anton yang terlihat, basah. Keringat bercucuran di dahi miliknya. “Ya, emang. Saya gak srek sama referensi kamu.”
“Dicoba dulu mas. Kan saya bilang, kalau emang engga cocok kita bisa diskusi sama orang Lavi juga. Kalau gitu, mas ada ide?”
“Emang yang saya coba tadi nggak cocok?”
“Mas, tadi mas cuma berdiri. Gak ada pose yang nonjolin bajunya sama sekali. Coba abis ini, kita lebih tonjolin baju nya, ya mas? Produknya kan windbreaker nya Lavi, jadi kita kasih lihat senyaman apa. Mas bisa coba masukin tangan ke kantong yang disini. Gimana mas?”
Eunseok mengangguk untuk menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan Anton. “Mau coba sekarang, mas? Udah minum air putih, lagi?” Anton memberikan sebotol air mineral 330 ml yang masih tersegel sempurna. “Makasih.” jawabnya singkat.
Sesi photoshoot kedua dimulai. Masih dengan setelan yang sama, Eunseok kini mencoba saran dari Anton. Dalam sekejap, posenya kembali berganti sesuai kemauannya. “Coba Mas Eunseok hadep ke kanan dikit, agak serong.” ia menurut kali ini. Dengan wajah khasnya yang keras, visualnya cukup indah untuk model pakaian seperti ini.
Setelah berpadu dengan ribuan suara dan cahaya, rasanya Anton cukup mendapatkan foto yang bagus untuk setelan pertama. Eunseok pun ikut melihat beberapa preview foto yang ditampilkan di layar yang cukup besar. “Nah ini oke kok Ton, lihat deh.” Yushi menunjuk beberapa foto yang sukses mereka ambil tadi.
“Iya, badan Mas Eunseok juga fit sama windbreaker nya sih, jadi bagus. Gue suka sih ini. Mbak Joy gimana?” Joy—salah satu staff yang bertanggung jawab atas Lavi hadir menemani photoshoot mereka hari ini. “Aku paling suka yang ini malah.” Joy menunjuk foto yang memperlihatkan Eunseok yang melihat tepat ke arah kamera, saat sedang merapikan rambutnya.
Anton mengangguk setuju sedangkan Eunseok memilih untuk kembali ke ruangan rias bersama Wonbin. Di dalam sana, sang PA mulai merasakan udara yang tidak nyaman antara Eunseok dengan Anton. “Jadi, kenapa sama Anton? Kok kayaknya kalian gak akur.”
“Gak akur dari mana, coba?”
“Jangan kira gue bego ah Seok. Dikira gue ga denger Anton jelasin ke lu panjang lebar tapi lu gak ada sama sekali ngikutin saran dia. Kenapa sih?”
“Gue cuma gak suka sama referensi dia.”
“Tiga hari doang Seok sama dia. Abis ini udah. Mas Sungchan kan nanti balik dari Berlin minggu depan. Jangan jahat-jahat sama bocah baru lulus lah.”
“Kenapa sih? Gak ada yang jahat. Mentang-mentang dia adek tingkat lu ya, makanya maunya dibaik-baikin terus?”
“Seok. Tau dari mana coba?”
“Anaknya yang ngomong tadi. Katanya lu adek tingkatnya. Sama ya adalah. Emang dia suka oversharing gitu ya?”
“Enggak ah. Harusnya?”
Eunseok hanya menanggapi dengan “Ooh.” yang cukup besar terbentuk di mulutnya. Hening sejenak dilalui oleh Eunseok dan Wonbin yang sudah kembali rapi dengan setelan kedua. Setelah beberapa perbincangan santai, Anton datang menghampiri ke dalam ruang rias.
“Kak sorry. Disini boleh numpang ganti baju gak ya? Basah banget gue nih.” Anton datang dengan baju yang cukup basah dan kantong plastik berisi baju ganti miliknya. “Anton lu gapapa kan? Perasaan AC nyala deh disini.” Wonbin langsung menghampiri Anton cepat. Meletakkan tangannya di atas dahi yang tanpa sadar ditepis oleh yang lebih muda. Matanya melirik ke arah Eunseok yang memandangi mereka berdua. “Ini dimana ruang gantinya, kak?”
“Di ujung sana Ton. Masuk aja. Kalau perlu sesuatu bilang ya.”
Anton bergegas masuk, sedangkan Wonbin kembali duduk di sofa tunggu yang disediakan. “Kenapa dia? Panas?” tanya Eunseok penasaran. “Enggak. Kayaknya emang kepanasan aja. Tapi gak demam.” jawab Wonbin singkat.
“Kok peduli banget deh, Bin?”
“Ya kerjaan ini juga dari gue. Kalau dia kenapa-kenapa juga gaenak lah, gue Seok.”
Setelah Anton kembali dengan baju gantinya, ia mengajak Wonbin bicara sebentar. “Kak sorry kalau agak nawar, tapi kayaknya kita harus selesai cepet hari ini. Bisa gak ya? Soalnya gue ada lanjut lagi jam 9 nanti.”
“Bisa kok. Cuma sisa tiga setelan lagi, kan?” Anton mengangguk sebagai jawaban. “Bisa. Nanti gue bilangin Eunseok ya. Udah fokus aja. Beneran gak sakit kan, Ton?”
“Enggak kak aman. Kayaknya cuaca hari ini emang agak panas aja.”
Sesi kedua akhirnya dimulai. Sama seperti sesi pertama Eunseok masih belum mau mendengarkan saran apapun dari Anton. Ia terus melakukan berbagai pose sesuai kepalanya. Hasil meeting yang dijalankan oleh Anton dan Seulgi—stylist Lavi minggu lalu tak ada hasil sama sekali.
Hingga di setelan kelima, Anton mulai menyerah. “Mas Eunseok ini style terakhir ya. Kita butuh tiga pose utama kayak sebelumnya. Jadi tolong fokus di tiga pose sesuai dengan nyamannya mas ya. Kursi boleh dipake lagi kayak tadi ya. Bilang saya kalau mau istirahat sebentar.”
Suara jepretan kembali beradu di studio foto kecil yang cukup berantakan. Anton tak banyak bicara, ia biarkan Eunseok bergerak semaunya seperti yang ia bicarakan sebelum mulai tadi. Namun, siapa sangka di beberapa pose terakhir Eunseok menggunakan beberapa pose referensi yang diberikan oleh Anton di print out referensi yang kusut.
Ia ingat beberapa tulisan tangan tak jelas tertulis “Hood diangkat, senyum ke kanan, ke arah kamera. Bisa dicoba.” jadi Eunseok coba lakukan pose itu tanpa Anton sadar.
Setelah selesai, slate ditutup kencang oleh Yushi dan Joy bertepuk tangan kencang disusul oleh staf yang bertugas lainnya. “It’s a wrap ya Kaluna. Thank you semuanya. Thank you Anton and Yushi, Eunseok juga. Gak nyangka gue baru bisa ketemu fresh graduate kayak kamu, Ton. Good job.” Joy menutup seluruh runtutan shooting hari ini dengan membawa beberapa bungkus burger ke dalam studio untuk menjadi bingkisan setelah kerja keras hari ini.
Setelah runtutan acara selesai dilakukan, Anton kembali merapikan barang-barang sebelum berpamitan untuk ke tempat kerja selanjutnya. Anton juga berpamitan dan berterima kasih kepada Yushi dan sekaligus bertukar nomor telepon. “Lusa kita ketemu lagi ya, Shi. Kabarin ya. Thank you.”
Lalu selanjutnya ia menuju ke ruang rias milik Eunseok dan Wonbin berada. “Halo kak, Mas Eunseok. Thank you buat semuanya hari ini ya. Buat Mas Eunseok, sorry kalau gue masih banyak kurangnya soalnya udah lama gak handle sama model juga sih haha. Kak Wonbin thank you buat kerjaannya ya, sumpah you a helper banget kak.”
Anton tertawa lepas saat berbicara ringan dengan Wonbin. Sedangkan bersama dengan Eunseok seluruh perbincangan terasa lebih kaku dan tajam. “Anton. Boleh ngobrol sebentar gak berdua, di luar?”
“Eh. Seok lu pulang gimana ya? Mau dipesenin taksi dulu? Gue langsung ke stasiun ini mau balik Bogor. Kayaknya gak bisa anter lu dulu. Mobil gue tinggal sini aja, lah.” Tanya Wonbin mendadak.
“Eh Kak Wonbin mau pulang? Mas Eunseok sama gue aja kak. Gapapa gak, mas? Eh kalau gak nyaman gapapa sih mas. Saya nawarin aja.”
“Bukannya tadi katanya buru-buru?” tanya Eunseok bingung. “Nanti jam sembilan sih mas. Ini kan masih jam tujuh nih. Cuma kalau mau naik taksi gapapa mas. Kalau gitu saya duluan ya. Kak Wonbin, makasih banyak ya.”
“Anton. Saya ikut aja, sekalian ada yang mau saya omongin juga.”
Langkahnya yang baru keluar dari pintu rias, tertahan sejenak. Menengok ke arah suara. “Gapapa gak, Ton? Ngerepotin gak?” Anton menggeleng menjawab. “Aman kok kak. Nanti tolong share location apartement nya Mas Eunseok aja.”
“Yaudah tunggu dulu disini Ton, biar anaknya ganti baju dulu.” Wonbin mempersilahkan Anton duduk di sofa hitam di ruang rias sembari menunggu. “Kak Sungchan kabar baik, kak?” tanya Anton mendadak.
“Baik kok. Lagi di Berlin dia ngurusin pameran seniornya, minggu depan pulang. Harusnya kalau gak pergi dia, photoshoot ini sama dia.”
“Waduh. Ini gue kayak walmart version Kak Sungchan gak sih, kak?” Anton terkekeh ringan. “Ya, nggak lah Anton. Itu Mbak Joy aja seneng sama result lu. Kan nanti tinggal dipoles lagi aja.” jawab Wonbin menjelaskan.
Setelah perbincangan penuh rindu, Eunseok kembali dengan baju yang sudah diganti. Keduanya berpamitan dengan Wonbin yang masih perlu mengurus beberapa keperluan Eunseok untuk pemotretan lusa dan beberapa baju yang harus dikembalikan setelah pemotretan hari ini.
Kini, Anton dan Eunseok kembali hadir di parkiran studio KALUNA, tempat dimana Eunseok melontarkan pertanyaan yang belum terjawab oleh Anton tadi siang. Parkiran studio cukup sepi untuk hari ini. Anton bergerak ke pintu pengemudi sedangkan Eunseok masuk ke pintu penumpang seperti tadi.
Mesin dinyalakan agar tidak pengap dan kepanasan. Anton mengambil botol yang setia menemani di mobil, menyesap air yang tetap sedikit dingin itu lega sebelum memulai pembicaraan. “Jadi mau ngobrolin apa mas? Mau sekalian mampir buat makan malem?”
“Nggak usah. Kan kamu masih ada jadwal. Saya sebentar aja mau ngobrol soal hari ini. Soal photoshoot kita.”
“Oh iya, kenapa mas?”
“Soal pose referensi buat lusa, kamu udah dapet final nya dari Mbak Seulgi? Kalau udah saya minta boleh? Saya mau cek, mumpung sisa satu hari sebelum photoshoot.”
Anton menaiki alisnya bingung. “Udah sih mas. Tapi belum saya print out. Mas mau lihat dari ipad saya?” Anton menawarkan ipad yang baru saja ia keluarkan dari tas besarnya itu. Ia membuka dokumen dan menyodorkan kepada Eunseok.
“Style besok masih soal outer tapi lebih ke street style. Saya belom pernah lihat foto-foto Mas Eunseok dengan baju kayak gini sih, cuma kayak tadi disesuaiin aja mas. Sama kalau bisa kita coba semunya, masukan dari Mas Eunseok, Mbak Seulgi dan saya sendiri. Biar kita sama-sama lihat perbandingannya, mana yang cocok, mana yang ga cocok.”
Eunseok mencoba paham saat memperhatikan jari-jari panjang milik Anton bergerak menggeser layar-layar dokumen yang menunjukan foto-foto referensi yang menjadi patokan untuk lusa besok. “Mas sementara ada request?”
“Ada.” jawabnya dengan cepat. Dalam hati Anton bersyukur, setidaknya ada progress bonding antara dirinya dengan model yang akan ia foto lusa nanti. “Saya request, kamu bicara santai sama saya. Kayak kamu sama Wonbin.”
Alis milik yang lebih muda kembali naik dengan heran. “Kenapa mas?” tanyanya spontan. “Maksud saya, emang gapapa ya mas? Saya sungkan dan kita nggak terlalu kenal dan deket. Saya takut kurang ajar gitu rasanya.”
“Kamu ngobrol santai sama Wonbin kamu gak ngerasa kurang ajar, tuh?”
Anton menggeleng. “Kan dia kakak tingkat saya mas. Dari saya maba saya uda kenal sama dia. Apalagi dia mantan—ya itu, maksud saya.”
“Ya terus, saya harus jadi gebetan kamu dulu supaya kita bisa ngobrol santai, Anton? Lagian ini juga biar progress kita lebih lancar juga.”
“Tapi kalau tiba-tiba kelepasan jangan dipecat ya, mas?”
“Kan udah ada kontrak yang dibikin sama Wonbin. Yang ada saya yang kena penalti. Anggep aja saya temen kamu, kayak kamu anggep Wonbin.”
“Mas mau saya anggep jadi mantan gebetan saya juga?”
Lagi-lagi mulut ini disihir setiap kali kedua mata bertemu dengan mata besar milik Song Eunseok. Sihir itu bekerja, memperlihatkan sisi Anton yang ditutupi. Sosok yang selalu terbuka, berisik, tak berpikir panjang. “Maksud saya, kakak tingkat saya, mas.”
“Ya. Terserah kamu. Tapi Wonbin tahu soal kamu?”
“Mas ini Kak Wonbin udah kirim lokasinya kita jalan ya.”
Eunseok menarik napas. “Emang kenapa sih, kalau suka cowok? Biasa aja kali. Gausah malu.” Fokus Anton yang tadinya berada di map kecil di interkom mulai memudar dan menengok ke arah sumber suara. “Kak Wonbin gak tau. Udah kan ya, kak?”
Air mukanya berubah. Lebih muram dari sebelumnya dan fokusnya kembali pada interkom. “Kak Eunseok mau pergi kemana dulu gak, sebelum pulang? Kebetulan tempat kakak deket sama bar yang mau saya datengin.”
“Buat kerja.” ia melanjutkan dengan cepat.
Eunseok menatap Anton yang fokus menyetir sejenak. Tangannya lebih kekar dari yang ia bayangkan. Kamera yang ia bawa memang terlihat cukup berat jadi mungkin itu juga hasil dari pekerjaannya sehari-hari. Namun yang buat Eunseok bingung adalah pernyataannya.
Untuk apa anak seumurnya pergi ke bar untuk kerja di malam hari. Untuk apa? Tapi seharusnya bukan urusannya kan? “Emang bar nya dimana?” tanya spontan.
“Eternal Wings. Deket Arteri, sana lagi. Gak begitu jauh sama apart lu kak. Tapi bar gay itu, jangan kesana ya. Bahaya.”
“Lah kenapa? Kamu boleh?”
“Lah kan gue kerja, kak.”
“Emang kenapa gak boleh?”
“Bahaya. Banyak yang ngincer lu pasti, apalagi model kayak lu gini kak.”
“Emang aku kenapa?”
“Cantik.”
Suaranya lembut masuk ke dalam telinga Eunseok. Terdengar halus dan tulus. Namun yang mengucap tak membentuk ekspresi apapun. Matanya fokus pada jalanan yang mulai ramai. “Jangan kesana ya kak. Percaya deh sama gue.” ia mengingatkan sekali lagi.
“Iya. Bawel.” Eunseok mulai bisa mengucapkan kata-kata lebih santai, membuat ekspresi lebih nyaman dari sebelumnya. Sampai akhirnya obrolan diakhiri perihal perasaan Anton terhadap personal assistantnya. “Yah. Kak Wonbin kan dari awal naksirnya sama Kak Sungchan. Satu kampus juga tau kalau ketua UKM foto itu emang deket dan nempel sama Kak Wonbin walau gak ada status. Dari awal juga gue gak punya harapan. Makanya dia gak tau, kak.”
Eunseok kira, Anton adalah anak-anak yang akan mengusahakan segala cara untuk mendapatkan cintanya. Tapi Eunseok bisa melihat bahwa laki-laki di hadapannya, yang baru saja beranjak dewasa adalah anak laki-laki yang mencoba bangkit dari kerapuhan.
Menurut sudut pandang Eunseok, fotografernya saat ini adalah sebuah guci yang sedang mencoba diperbaiki. Pecahan demi pecahan dikumpulkan dan lem kuat itu mencoba menahan. Anton adalah pecahan guci dan tekadnya adalah lem kuatnya. Eunseok bisa melihat, anak laki-laki ini; serius dalam menjalani hidupnya.
—
Suara pintu mobil tidak lagi dikunci terdengar setelah keduanya sampai di drop off apartemen milik Eunseok. “Kalau butuh apa-apa, bilang Kak Wonbin aja ya kak. File nya gue kasih ke Kak Wonbin nanti malem.”
Eunseok beranjak keluar dari mobil. Sedang yang lebih muda memperhatikan pasti tidak ada lagi yang tertinggal. Terkecuali titipan pesan saat Eunseok hendak menutup pintu. “Jangan mabok. Jangan kemaleman pulangnya. Besok kamu kesini, aku mau minta foto buat portofolio.”
“Hah?” Anton kali ini benar-benar kebingungan. Pertama, karena pesan pertama Eunseok yang seakan-akan adalah ayahnya dan kedua, tidak ada perjanjian mengharuskan ia datang ke apartemen sang model untuk proses pemilihan portofolio.
“Kesini Anton. Denger gak? Kan udah punya alamatnya. Aku di lantai 8. Kamar 856. Nanti pencet bel aja. Aku infoin Wonbin supaya info ke kamu.”
“Kak tapi kan ini gak ada di kontrak? Ini gue takut ngelanggar privasi lu, juga gak sih?”
“Kan aku kasih kamu izin. Aku yang suruh, aku yang ajak, aku yang minta. Kamu kurang duitnya?”
Jujur dari hatinya, Anton ingin sekali menjawab iya. “Nggak kak. Maksudnya tuh—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya Eunseok kembali menambahkan. “Besok jam 11 siang ya. Aku perlu buat casting lagi soalnya.”
Anton menghela napas cukup panjang di dalam mobil. “Iya kak. Besok gue kabarin Kak Wonbin. Selamat istiahat, Kak Eunseok.” ia menjawab sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya. “Iya. Hati-hati kerjanya.” yang di luar membalas dan menghilang dari pandangan yang lebih muda dalam sekejap.
