Work Text:
Satu malam di Jakarta Selatan, hindari jemu yang kian bercabang undang Keonho tenggelam dalam kursi kayu belah suatu kerumunan. Bising obrolan insan di sekeliling bagaimanapun teredam alunan musik jazz yang berupaya buang kesepian dari sisi kosong kanan dan kirinya. Jemarinya menyusuri garis cair es batu melekuk turun di atas gelas kaca yang membalut minum pesanan, entah apa isi dituangkan pun Keonho tak sampai ingatannya.
Ruangan yang ia singgahi cenderung penuh interior akan nuansa redup, dindingnya hijau gelap semacam pohon pinus membersamai dekorasi merah marun yang anehnya malah indah diterpa percikan gemerlap perak lampu, kursi-kursi kayu tersebar seolah adu siapa yang paling buat mewah. Keonho juga dibuat tergugah oleh lukisan di ujung tangga sebesar dinding kamar, corak warna segar layaknya baru diciptakan tadi senja.
Suasana bar macam penuh rayu. Keonho menyesap minuman yang bisikkan pikat hingga kerongkongan dikecup cairan asam dan manis jadi satu.
“Kayaknya salah kostum,” gumamnya pada hembus angin yang turut bersenandung bahagia. Tuxedo hadiah dari kakek dikenakannya penuh besar hati, Keonho percaya malam ini adalah penampilan terbaiknya selama sembilan belas tahun hidup di dunia.
Cheek To Cheek dimainkan rupanya picu sukacita di sepanjang ruangan. Sepasang perempuan dan laki-laki di atas panggung sana direngkuh oleh berbagai alat musik milik para ahli ‘tuk nyanyikan melodi seindah aslinya, ia menikmati teramat bagaimana pantofel diketuk seirama pada lantai di bawahnya.
Pandangan teduh didekorasi lentik cantik sang bulu mata diedarkan kepada sekeliling tiap sudut tertangkap, Keonho temukan dirinya tersenyum atas pemandangan banyak sejoli saling pancarkan tatap penuh cinta. Pun area yang lebih lapang jua riuh oleh sekumpulan pria barangkali berumur empat puluh tahun hingga lebih. Kadang tawanya menggelegar, kadang simak satu dan lainnya tukar cerita akan jauh perjalanan berkelana.
Kemudian di sana, Keonho berhentikan liar netranya pada seorang pemuda dengan tuxedo yang sama apik dan sejajar. Surainya agak panjang disisir melekat ke belakang, terang benderang. Tubuhnya kelihatan tinggi semampai kendati sedang duduk rapi di tempatnya sendiri. Keonho tersentak sadari yang ada di sana turut menatap ke arahnya.
Barangkali Keonho salah paham, namun laki-laki itu kirim senyumnya melayang-layang hingga ingatan. Katanya ini hal lumrah, jadi Keonho berikan angguk sopan seolah terima apapun yang akan terjadi setelahnya. Tangannya mendadak sentuh putar arloji yang peluk pergelangan, entah apa akan muncul perbedaan untuk obati gugup yang merayap buat jantungnya berdegup? Tentu, tidak ada.
Ia masih mencacau setengah mati, pun pemuda di sebelah sana masih perhatikan dirinya seintens mungkin hingga jalur nafasnya seolah diinvasi. Keonho beranikan diri menantang mata itu jauh lebih berambisi, sebisa mungkin untuk koyak senyum manis yang perdaya kondisi hatinya, barangkali di tengah-tengah mereka akan muncul grafik hati lawan hati cari yang mendominasi.
Aduh, ngapain kayak gitu sih liatinnya ah elah mending samperin sekal— KOK BERDIRI MAU KEMANA DIA BERDIRI… KOK… WOIIII.
Begitu hingga tubuh menjulang dari seberang berakhir terpampang nyata penuhi indra penciuman Keonho dengan natural musk dan lemon segar di sekelilingnya. Sesak sekali relung dengan wangi baru yang terasa merindukan. Kemudian tangan yang lebih besar tarik punggung kursi di samping Keonho. Ciptakan ruang untuk ia menyelipkan diri.
“Hey,” panggilnya lembut dan kaku, Keonho tahu ia berusaha tak terlihat menakutkan, kendati suaranya terdengar dalam dan agak serak. “Do you mind if I sit here?”
“Hello.” Keonho pasang senyum manis meskipun ragu masih terpatri, tak berlandaskan apapun pikirnya selain beramah-tamah. “Please do. I have no company, though.”
“Thanks. I'm Martin, by the way.” Si pemilik nama ulurkan tangan yang melebar, ekspektasikan jabatan penuh hangat nan dikabulkan oleh Keonho dalam hitungan detik. “Is it like some me-time for you?”
“I think, yeah? I'm… Keonho.”
Martin telinganya memerah, Keonho goyangkan tungkai teramat resah.
“Yah, gue ganggu dong nanti.”
Keonho mengibaskan tangannya kelewat cepat. “Nggak kok, rest assured.” Dirutukinya diri sendiri sebab terdengar sangat bersemangat.
“Really?”
“Mm-hm. It's actually my first time coming to such a place like this.” Kekeh renyah terdengar kikuk malahan buat Martin berevaporasi pula. Keonho tangkap bagaimana alis yang sewarna rambut milik Martin terlihat ekspresif dan main peran paling utama dengan raut wajahnya.
“Wow, and completely by yourself.”
“What? Like, is it… Strange?”
Martin terlihat panik. “Not at all! Berani aja, biasanya orang sungkan mau dateng ke sini sendirian as first-timer.”
“Gitu…” Keonho mengangguk-angguk tipikal orang pacu pikiran untuk perpanjang percakapan, diteguknya kembali minuman berwarna menyenangkan untuk hilangkan dahaga yang mendadak kuasai abilitas bicara. “What about you? Sering kesini ya?”
Lawan bicaranya mengetuk-ngetuk meja di hadapan mereka, mungkin menghitung. “Nggak juga, sih. Sebulan tiga kali? Empat kali?”
“That's often…”
“My mother used to sing here.”
Netra Keonho membulat serupa bola pingpong, satu-satunya alasan mengapa Martin kini keluarkan tawa tipis bentuk reaksi atas pemandangan wajah manis tersaji oleh yang lebih kecil. “Sumpah? Keren banget, sekarang udah enggak?”
“Iya, udah pensiun dia gampang capek ke tempat yang banyak orang. Gue disuruh lanjutin ngisi, sih…”
“Tapi?”
“Tapi gue nggak mau. I enjoyed jazz with all of my heart, but my voice just… does not belong to this place. Takutnya kalau maksain, gue nggak hanya kecewain banyak orang, tapi juga diri sendiri.” Keonho sudah tunjukkan kagumnya pada tutur kata Martin yang berbaris rapi tanpa banyak emosi terpancar, cenderung datar seolah situasinya tak lagi jadi masalah. “It's the last thing I want to feel about myself.”
“I see, that's a valid reason though. Terus tanggapan nyokap lo gimana?”
Keonho menatap dengan fokus, lain dari adu pandang kali pertama— kali ini ia malah menanti. Hadirkan pendar merah di sekitar pipi Martin hingga Keonho menyadari kalimatnya yang terlempar beberapa detik lalu. “Eh sorry, nggak bermaksud kepo. No need to answer me if you're not feeling like answering it.”
“Hahaha enggak apa-apa, I found it fun talking to strangers like this daripada harus cerita ke orang yang gue kenal. Nyokap gue… Berusaha ngebujuk sih, tapi ya gue nggak mau. Gue bilang, gue prefer fokus ngejar kampus luar aja and just like that— she finally let go.”
“Wait… Lo baru mau kuliah?”
“Iya, tapi gue lulus tahun lalu. Kenapa?”
Keonho tertawa hampir lepas, intimidasi yang dirasakannya ternyata hanya perasaan semata. Keduanya hanya terpaut jarak satu tahun, harusnya Keonho tak perlu sebegitu gugupnya.
“What the fuuck, I thought you were 22 or something. No offense but you are so damn tall bro I hardly recognized— sorry, I mean…”
“Hahaha chill! I get it most of the time. Emang genetik aja, nggak pure Indo soalnya.”
“Pantesan.” Keonho ber-oh ria lepas semua tegang di sela-sela tubuh, punggungnya sedikit lebih lemas untuk akhirnya bersandar pada kursi. “Eh, emang lo ngincer kampus mana?”
“Honestly? Belum tau, lebih ngincer negaranya sih. Either USA or Aussie. Basic ones ya?”
Pomade Keonho kurang berani, terlihat dari surainya yang sudah terjatuh ke sisi samping wajah manisnya. Entah apa yang membelokkan moral Martin malam itu, dibuangnya segala edukasi bahwasanya anak laki-laki tak boleh sembarangan sentuh orang asing. Buktinya Keonho tak menolak, malah tahan nafas seorang diri sesaat jemari Martin sisipkan helai rambut hitam legamnya ke belakang telinga.
“Lo SMA kan? Nggak mungkin udah kuliah.”
Keonho jilat bibir bawahnya yang mengering, satu tangannya dijauhkan dari pandangan yang lebih tua untuk remas ujung jas kaku, jadikan pakaian itu tempatnya lampiaskan jerit tertahan usai Martin inisiasi kontak fisik yang kedua. “Kenapa nggak mungkin sih?”
Pun Keonho mengangguk tetap. “Tapi iya bener gue SMA. Baru mau kelar tahun ini...”
“Nggak kaget,” sahut Martin lugas seolah jawabannya sudah dibuat sejak puluhan detik sebelumnya. “Lo kecil soalnya.”
“Ck! Emang ada orang yang lebih besar dari lo?”
Renyah sekali gelak tawa yang lebih tinggi, ikut beri warna di tengah perbincangan keduanya. Sadar Keonho tak ungkit apapun sejak rambutnya yang diselipkan, Martin pakai semua tekad tersisa di malam itu untuk mencolek dagu yang menurutnya cantik di depan mata. “Nggak salah. That's cute tho.”
“Siapa sih yang cute?”
“If the shoe fits.”
Macam buang rasa malu seutuhnya, Martin tersenyum lebar hingga bebaskan deretan gigi rapi yang kian percantik rupanya. Mungkin Keonho juga kuras waras yang tersisa, ia tutupi setengah wajahnya sendiri yang terlukis jejak merah jambu meskipun lampu temaram membantu banyak meredakan efek yang tercipta. Di balik tangan yang membalut wajah itu, disematkan juga senyum lebar buat hidungnya sedikit mengkerut.
Keonho mana tahu kalau satu pasang kekasih di ujung sudut sana, kini juga hadir di kursi dirinya dan pemuda asing yang sayangnya sangat manis. Saling lempar tatap entah apa maknanya kendati yang diketahui hanyalah sepotong nama tanpa filosofi. Martin di hadapannya seolah objek fotografi, biarkan sudut pandang Keonho jadi lensa yang potret keindahan duniawi.
“Lo gimana kalau tentang kuliah?” Martin kembali buka pembicaraannya. “Lowkey regretted that I hadn't prepared everything since last year.”
Somethin’ Stupid.
Mungkin memang mau main-main pula tempat ini yang mulai menyanyikan lagu jauh lebih romantis dari sebelumnya.
I know, I stand in line until you think / You have the time to spend an evening with me.
Sialan, Martin hela nafas untuk fokuskan diri simak jawaban yang diucapkan laki-laki di sebelahnya. Keonho menaikkan kedua bahunya acuh. “Ya… Pada umumnya aja. Nyari yang di sini.” Disusul dengan dirinya yang berkali-kali menjilat bibir bawah bahkan tak temukan sudut mengering.
“Kemana? UI?”
“Ketebak banget tuh?” Si alis tebal lirik sekumpulan pemain musik berbakat yang amalkan tugasnya dengan baik di panggung kecil. “Iya, bokap nyokap lulusan situ juga jadi yaa lumayan dipush ke sana.”
“Worst case kalau nggak dapet, gimana?”
Keonho menghela nafas sedikit lebih dalam. “Swasta. BINUS mungkin atau... Nggak tau deh. Pokoknya nggak dibolehin keluar.”
And if we go someplace to dance / I know that there's a chance you won't be leaving with me.
Lawan bicaranya mengernyit keheranan, rasanya ingin gali seluruh dari kisah milik Keonho malam ini juga. “Hah kenapa deh…”
“My sister also moved out for college. Potentially bakal keluar lagi buat kerja on-site. Gue bungsu, they expected me to help them at home.”
“Crazy, that's complicated…” Martin mengangguk paham, posisikan dirinya di tempat Keonho yang penuh pertimbangan. Ia terlihat berpikir untuk lanjutkan kalimatnya pun mengorek seluruh kosakata yang mampu validasi perasaan Keonho manisnya, “and pressuring.”
“Very much so.”
The time is right, your perfume fills my head / The stars get red / And, oh, the night's so blue.
Keduanya tenggelam. Keonho dalam pikiran sedangkan Martin dalam binar netra milik Keonho yang serupa ribuan kelap-kelip bintang di gulita malam. “Tapi ya, Keonho.”
“Mmm?”
And then I go and spoil it all / By saying somethin' stupid / Like, "I love you”.
Keonho mendongak walaupun kursinya sedikit lebih tinggi, siapa pula Martin untuk buang-buang kesempatan yang hadir guna perhatikan satu dari banyaknya Mahakarya Tuhan paling sempurna?
Ia menghitung jumlah titik-titik hitam kecil yang tersebar adil di kulit wajah Keonho, rasanya ia ingin tarik garis sambung keseluruhan jadi rasi bintang yang tuntun pelaut di samudera lepas. Bulu mata Keonho panjang-panjang dan lurus manis, mungkin akan menggelitik jika menggores pipi Martin layaknya bulu angsa di permadani surga. Dua pasang alis tebal adalah perwujudan paling cakap seolah elemen penyempurna dari yang telah ada. Martin mungkin jatuh cinta.
“Lo cantik banget.”
Pupil dilatasi, Martin tertawa menyadari perubahan yang sinkron langsung terbentuk. Keonho tak ucapkan barang satu balasan pun sebab lidahnya kelu sibuk memproses satu jenis pujian yang jarang didapatkan. Padahal Ibunya berulang kali bilang bahwasanya ia tampan dengan tuxedo malam ini, Ayah perkuat dengan sebutan gagah yang jujur buat Keonho angkat dagunya berlagak percaya diri.
Biarlah kali ini dia seolah tumbuhan putri malu yang kuncup kala diberi tepukan pada satu titik, tak terduga juga satu kata bisa jadi puncaknya. Cantik. Keonho baru tahu perutnya bisa dibuat melilit dengan enam huruf yang biasanya diperuntukkan para perempuan seperti Ibu dan Kakak. Mungkin juga untuk bingkai-bingkai terisi ciptaan para seniman handal.
“But I'm a man…”
“So?” Martin meraih pelipis Keonho yang terpampang jelas sebab rambutnya disisir ke belakang. Ibu jari yang lembut dan mendominasi menyusuri satu jalan dari sudut kening menjalar ke bawah, sapu bersih kulit wajah Keonho hingga garis rahang. “If you are pretty, then pretty. Sejak kapan cantik nggak bisa buat laki-laki?”
“It's not like that — I…”
“Do you like that? Get called pretty. What do you feel?”
Keonho menggigit bibir dalamnya kebingungan, aneh pula dia tak kunjung menjauhkan wajahnya dari genggam Martin yang menghangatkan. “I’m… Fluttering.”
“So you like it.” Rasa-rasanya memang hilang moral dan setir kendali Martin, cekatan sekali dirinya menghampiri bibir bawah laki-laki di hadapan masih dengan ibu jari yang sedikit goyah gemetar. “Pretty Keonho.”
Satu malam di Jakarta Selatan, Martin habiskan dua gelas minuman tanpa kadar alkohol untuk jaga dan abadikan seluruh bait per bait yang dituliskan Keonho pada melodi bungkus segala perkara. Tentang hidup dan angan akan masa yang belum tersampaikan, diiringi kulit hangat di rendahnya suhu yang sesekali dan banyaknya bersentuhan.
