Actions

Work Header

Only For You

Summary:

Hanya Gao Tu yang cemburu dan sangat overthink hingga melakukan sesuatu yang sedikit konyol.

Work Text:

Rumah besar itu selalu sunyi di pagi hari, tetapi bukan sunyi yang dingin atau menyedihkan. Sunyi di rumah itu hangat, lembut, seperti selimut tipis yang disampirkan di bahu ketika udara terlalu dingin. Sunyi yang menyimpan gema langkah kaki dua orang yang sudah terlalu lama hidup di tengah badai, hingga pada akhirnya ketenangan terasa seperti sesuatu yang mewah, sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan bisa mereka miliki.

Di aula utama yang dipenuhi cahaya pucat dari jendela-jendela tinggi berbingkai kayu, Shen Wenlang duduk di sofa panjang dekat perapian dengan kaki bersilang. Jubah rumahnya jatuh rapi di tubuhnya, setiap lipatannya tampak terlalu tenang, terlalu sempurna, seolah-olah bahkan saat baru bangun tidur pun pria itu masih terlihat seperti lukisan.

Di sampingnya, Gao Tu bersandar setengah rebah sambil mengayun-ayunkan satu kaki ke udara. Ia tidak pernah bisa diam terlalu lama. Bahkan saat sedang santai, tubuhnya selalu bergerak sedikit, jarinya mengetuk sandaran sofa, kakinya menendang udara, atau kepalanya menoleh ke sana kemari seperti ada terlalu banyak hal di dunia yang harus diperhatikannya.

“Aku bilang padanya,” ujar Shen Wenlang tiba-tiba sambil menutup bukunya, suaranya berubah datar dengan sengaja meniru nada tua dan cerewet kepala dapur mereka.

“Kalau dia berani memotong daging itu setipis kertas lagi, aku akan menyuruhnya makan talenan sekalian.”

Gao Tu langsung tertawa begitu keras sampai ia buru-buru menutup mulutnya sendiri. Bahunya bergetar, tubuhnya nyaris jatuh ke samping karena menahan tawa. 

“Kau benar-benar bilang begitu? Jangan bohong. Tidak mungkin kau benar-benar mengatakannya.”

Shen Wenlang menoleh pelan. 

“Apa aku terlihat seperti orang yang bercanda?”

“Ya! Sangat!” 

Gao Tu memukul bahunya ringan tanpa tenaga. 

“Kau tahu tidak? Akhir-akhir ini kau selalu terlihat seperti sedang bercanda. Dulu kau menatap orang seperti ingin mengubur mereka hidup-hidup. Sekarang kau mulai mengancam orang dengan talenan.”

“Kalau itu membuatmu tertawa, aku bisa menjadi lebih buruk lagi.”

Dan setelah mengucapkan itu, ia tersenyum.

Bukan senyum tipis yang biasanya hanya muncul sepersekian detik sebelum menghilang lagi. Bukan senyum samar yang lebih mirip lengkungan kecil di sudut bibir. Kali ini Shen Wenlang benar-benar tersenyum lembut, tenang, dan terlihat hangat. Mata tajamnya sedikit membulat ketika ia tersenyum, dan di sudut matanya muncul kerutan halus yang membuatnya tampak jauh lebih muda, jauh lebih lembut, seperti bulan sabit yang baru tumbuh di langit malam.

Tawa Gao Tu langsung terhenti.

Ia hanya menatap.

Awalnya ia mengira senyum itu akan hilang dalam beberapa detik. Biasanya Shen Wenlang memang seperti itu. Memberi satu senyum kecil, lalu kembali pada wajah tenangnya yang nyaris dingin. Tetapi kali ini tidak.

Senyum itu tetap ada.

Ketika mereka berpindah dari topik dapur ke rencana makan malam nanti malam, senyum itu masih ada. Ketika Shen Wenlang kembali membuka bukunya dan membalik halaman dengan tenang, senyum itu masih bertengger di bibirnya. Bahkan ketika Gao Tu menghela napas panjang karena baru ingat ia lupa menyuruh pelayan menjemur pakaian, Shen Wenlang mengangkat wajah dari bukunya dan berkata, 

“Kalau begitu suruh mereka melakukannya sekarang,” dengan nada tenang dan sialnya masih tersenyum.

Semakin lama Gao Tu memperhatikannya, semakin aneh perasaannya. Dadanya terasa sempit.

“Kenapa kau tersenyum terus, sih...” gumamnya tanpa sadar.

“Hm?” Shen Wenlang mengangkat wajah dari bukunya dan menoleh ke arahnya masih dengan senyuman di wajahnya.

Gao Tu langsung mengalihkan pandangan. Ia pura-pura merenggangkan tubuh dan bergeser sedikit ke ujung sofa, seolah hanya sedang mencari posisi yang lebih nyaman. Padahal sebenarnya ia sedang berusaha melindungi dirinya sendiri dari sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan. Karena untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang sangat bodoh dan sangat mengganggu muncul di kepalanya.

‘Bagaimana kalau ada orang lain yang melihat senyum itu?’

‘Bagaimana kalau seseorang di luar sana melihat Shen Wenlang tersenyum seperti ini, lalu terpesona?’

‘Bagaimana kalau ada yang jatuh cinta?’

‘Bagaimana kalau seseorang melihat mata Shen Wenlang yang melembut, melihat kerutan kecil di sudut matanya, melihat cara bibirnya terangkat begitu tenang, lalu mulai berpikir bahwa pria itu tampan?'

‘Tidak.’

‘Lebih buruk lagi.’

‘Bagaimana kalau mereka benar-benar jatuh cinta padanya?’

Gao Tu tiba-tiba duduk lebih tegak. Ia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya tanpa sadar sudah mengepal di atas lututnya.

Itu konyol.

Sangat konyol.

Shen Wenlang adalah pasangannya. Alpha-nya. Mereka tinggal serumah, tidur di ranjang yang sama, makan bersama setiap hari. Tidak ada alasan untuk cemburu pada sesuatu seperti senyum. Tetapi tetap saja...

Ia cemburu.

Cemburu yang aneh, memalukan, dan begitu kekanak-kanakan sampai ia sendiri ingin menenggelamkan wajahnya ke bantal. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa panas dan gelisah, sesuatu yang membuatnya ingin menggigit leher siapa pun yang berani menatap Shen Wenlang terlalu lama.

“Apakah kau mau teh?” tanya Shen Wenlang beberapa saat kemudian.

Gao Tu langsung menoleh dan itu adalah kesalahan besar karena Shen Wenlang masih menatapnya dengan senyum itu.

“Tidak usah!” jawabnya terlalu cepat.

Shen Wenlang sedikit mengernyit. “Kau baik-baik saja?”

“Tentu saja aku baik-baik saja. Kenapa aku tidak baik-baik saja?”

“Kau terlihat gugup.”

“Aku tidak gugup!”

“Kalau begitu kenapa wajahmu merah?”

“Itu karena...” Gao Tu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Karena rumah ini terlalu panas!”

Shen Wenlang menatapnya selama beberapa detik lebih lama, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia harus mempercayai alasan itu atau tidak. Pada akhirnya ia hanya mengangguk kecil, tetapi tatapannya masih tertahan di wajah Gao Tu beberapa saat sebelum akhirnya kembali ke bukunya.

Hari itu berlalu dengan aneh. Gao Tu mulai menghindar sedikit demi sedikit. Tidak terlalu jelas, tidak sampai mencurigakan. Hanya hal-hal kecil. Ketika Shen Wenlang duduk terlalu dekat, ia pura-pura pergi mengambil air. Ketika Shen Wenlang menatapnya sambil tersenyum, ia buru-buru melihat ke arah lain. Ketika malam tiba dan mereka sedang duduk berdampingan di ruang kerja, Gao Tu bahkan sengaja memilih kursi yang sedikit lebih jauh.

Shen Wenlang jelas menyadarinya. Beberapa kali pria itu menatapnya cukup lama, seolah ingin bertanya apa yang terjadi. Tetapi pada akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa. Dan entah kenapa, justru itu membuat Gao Tu semakin gelisah.

Keesokan paginya, Shen Wenlang harus berangkat ke kantor seperti biasa. Gao Tu juga menjalani rutinitas yang sama seperti setiap hari yaitu menyiapkan pakaiannya, memastikan sarapannya disentuh meskipun hanya sedikit, merapikan dasi dan kerahnya sebelum mengantarnya sampai ke depan pintu.

“Aku berangkat dulu,” kata Shen Wenlang sambil merapikan ujung mansetnya.

Gao Tu berdiri di depannya sambil membetulkan kerah jasnya yang sebenarnya sudah sempurna. Shen Wenlang menundukkan kepala sedikit agar ia lebih mudah menjangkaunya. Gerakan itu begitu akrab, begitu alami, hingga biasanya Gao Tu akan merasa tenang hanya dengan melihatnya. Lalu jari-jari Shen Wenlang terangkat dan menyentuh rambutnya pelan.

“Jaga diri,” ujar Shen Wenlang lirih. “Aku akan pulang lebih awal hari ini.”

Dan lagi-lagi, ia tersenyum. Senyum itu terlalu lembut. Terlalu hangat. Seperti matahari di pagi musim dingin. Seperti bulan sabit yang menggantung tenang di langit. Seperti sesuatu yang begitu indah hingga Gao Tu tiba-tiba ingin menyembunyikannya dari seluruh dunia.

‘Jangan tersenyum begitu.’

Kalimat itu hampir lolos dari bibirnya.

‘Jangan tunjukkan senyum itu pada orang lain.’

‘Jangan biarkan siapa pun melihatmu seperti ini.’

Tetapi pada akhirnya Gao Tu hanya mengangguk cepat dan membuka pintu.

Begitu Shen Wenlang pergi, ia langsung menutup pintu lagi dan bersandar di sana. Punggungnya menempel di daun pintu, napasnya berantakan.

“Kenapa dia tersenyum terus?!” gerutunya frustasi sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

Setelah beberapa menit mondar-mandir tanpa tujuan di ruang tamu, Gao Tu akhirnya meraih mantelnya. Ia butuh bantuan. Atau setidaknya, ia butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung menertawakannya. Karena itu, setengah jam kemudian ia sudah duduk di dalam restoran tempat ia berjanji bertemu Shaoyou.

Restoran itu tidak terlalu ramai. Shaoyou sudah duduk di meja pojok dekat jendela dengan semangkuk sup di depannya. Ia mengaduk sup itu perlahan sambil memasang wajah malas seperti biasa, wajah seseorang yang tampak seolah tidak pernah benar-benar tertarik pada apa pun di dunia ini.

“Maaf aku terlambat,” kata Gao Tu sambil menjatuhkan dirinya ke kursi di hadapannya membuat Shaoyou mengangkat satu alisnya heran. 

“Tidak apa-apa. Tapi wajahmu terlihat seperti seseorang yang baru saja mengetahui dunia akan kiamat. Kau bertengkar dengan Shen Wenlang?”

“Tidak!” jawab Gao Tu terlalu cepat. “Kami tidak bertengkar. Kami baik-baik saja. Dia baik-baik saja. Itu masalahnya!”

Sheng Shaoyou berkedip lambat. “Aku rasa aku kehilangan beberapa bagian penting.”

Dan begitu kalimat itu keluar, Gao Tu seperti bendungan yang jebol.

“Dia tersenyum sepanjang hari, A-You! Sepanjang hari! Dari pagi sampai malam! Dia bicara, dia tersenyum. Dia baca buku, dia tersenyum. Dia bahkan menanyakan apakah aku mau teh sambil tersenyum! Kau tahu senyum yang kumaksud, kan? Senyum yang lembut itu! Yang bikin matanya kelihatan bulat sedikit! Yang ada kerutan kecil di sudut matanya! Yang membuat orang ingin memeluknya!”

Sheng Shaoyou membeku sambil memegang sendok di udara. 

“Senyum?” ulangnya perlahan.

“Iya, senyum!”

“Shen Wenlang?”

“Iya, Shen Wenlang!”

“Shen Wenlang yang itu?”

“Memangnya ada berapa Shen Wenlang di dunia ini?!”

Sheng Shaoyou menatapnya dengan ekspresi yang sangat datar, ekspresi seseorang yang sedang berusaha keras memutuskan apakah omega di depannya itu sedang bercanda atau sedang kehilangan akal.

“Gao Tu,” katanya akhirnya sambil meletakkan sendok. 

“Sejujurnya, aku tidak tahu harus memberitahumu ini atau tidak, tapi... menurutku Shen Wenlang hanya seperti itu di depanmu.”

“Tidak mungkin!” Gao Tu langsung membalas. “Dia tersenyum ke semua orang!”

“Aku belum pernah melihat dia tersenyum. Bahkan sekali.”

“Itu karena kau tidak memperhatikan!”

“Tidak, aku cukup yakin aku akan memperhatikan kalau Shen Wenlang tiba-tiba berubah menjadi manusia yang punya ekspresi.”

Gao Tu membuka mulut hendak membantah, tetapi Sheng Shaoyou sudah melanjutkan dengan nada tenang.

“Yang pernah kulihat dari Shen Wenlang hanyalah dua hal. Tatapan yang membuat orang ingin menulis surat wasiat dan wajah seperti dia sedang mempertimbangkan cara paling efisien untuk membuang mayat.”

“Itu berlebihan!”

“Tidak. Aku bahkan sedang berusaha memperhalusnya.”

“Tapi dia benar-benar tersenyum!” Gao Tu mencondongkan tubuh ke depan dengan frustrasi. 

“Dia tersenyum sepanjang hari! Kalau dia terus seperti itu, orang-orang pasti akan mulai memperhatikannya. Mereka pasti akan berpikir dia tampan. Mereka pasti akan—”

“Mereka pasti akan apa?”

“Mereka pasti akan menyukainya!”

Kalimat itu keluar begitu saja dan setelah mengatakannya, Gao Tu langsung membeku begitu pula Shaoyou yang juga terdiam. Lalu perlahan, sangat perlahan, sudut bibir Shaoyou mulai terangkat.

“Oh,” katanya pelan. “Jadi ini masalahnya.”

“Bukan begitu!”

“Tidak, tidak. Sekarang aku mengerti.” 

Shaoyou bersandar di kursinya dan melipat tangan di dada. Matanya mulai berbinar dengan cara yang sangat mencurigakan, cara yang selalu muncul setiap kali ia mendapatkan ide yang kemungkinan besar akan menghancurkan harga diri seseorang. 

“Kau cemburu.”

“Aku tidak cemburu!”

“Kau datang ke sini, memesan teh yang bahkan belum kau sentuh, lalu menghabiskan sepuluh menit penuh untuk menggambarkan betapa indahnya senyum Shen Wenlang. Gao Tu, kalau itu bukan cemburu, aku tidak tahu lagi apa namanya.”

Gao Tu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. 

“Ya Tuhan... aku benci diriku sendiri.”

“Aku justru menikmatinya.”

“Diam!”

Shaoyou tertawa pelan, lalu mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya berubah menjadi berbahaya, seperti seseorang yang baru saja menemukan cara sempurna untuk menciptakan kekacauan.

“Kau serius ingin tahu?” bisiknya.

Gao Tu menurunkan tangannya perlahan. “Tahu apa?”

“Ingin tahu apakah semua yang kau rasakan itu benar? Ingin tahu apakah Shen Wenlang memang tersenyum pada semua orang, atau hanya padamu?”

Gao Tu menatapnya curiga. “Kenapa aku merasa kau akan mengatakan sesuatu yang buruk?”

Karena senyum Shaoyou sekarang terlihat jauh lebih mengkhawatirkan daripada senyum Shen Wenlang. Gao Tu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai hampir sakit. 

“A-You, jangan bilang kau mau menyuruhku menguntit dia atau memata-matai bos-bos di tempat kerjanya. Aku… aku bukan kriminal.”

“Tenang saja.” 

Shaoyou melambaikan tangan dengan santai seolah mereka sedang membicarakan menu makan siang, bukan sesuatu yang berpotensi menghancurkan harga diri Gao Tu seumur hidup. 

“Ideku jauh lebih gila dari itu.”

Gao Tu menatapnya dengan ngeri. “…itu sama sekali tidak membuatku tenang.”

Shaoyou mendadak menarik kerah bajunya dan menyeret Gao Tu mendekat sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Ia menurunkan suaranya menjadi bisikan pelan yang nyaris tenggelam oleh suara musik dari kafe tempat mereka duduk. Gao Tu mendengarkan dalam diam. Semakin lama, matanya semakin membelalak, sementara wajahnya berubah merah dengan kecepatan yang bahkan tidak masuk akal.

Sementara itu, suasana di kantor pusat HS Group terasa seperti berada tepat di tengah badai. Para karyawan bahkan mulai saling bertukar pandang dengan wajah pucat sejak pagi, karena bos mereka hari itu tampak lebih mengerikan dari biasanya. Shen Wenlang berdiri di depan meja kerjanya dengan kemeja hitam yang membuatnya terlihat seperti bayangan dingin yang baru keluar dari neraka. Ekspresinya datar, tapi justru itu yang membuat semua orang semakin takut. Matanya yang tajam menyapu tumpukan dokumen di atas meja, lalu berhenti pada satu berkas sebelum ia mengangkatnya perlahan.

“Ini,” katanya pelan.

Hanya satu kata. Namun seluruh ruangan langsung membeku. Ia melempar berkas itu ke meja asistennya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat pria itu tersentak hebat.

“Menurutmu ini sesuai dengan standar?”

Asisten itu langsung pucat. “S-Saya pikir…”

“Pikir?” 

Shen Wenlang mengangkat alis sedikit. Suaranya turun satu oktaf, tenang, dingin, dan jauh lebih menakutkan daripada jika ia berteriak. 

“Kalau kau hanya ingin ‘berpikir’, kau bisa keluar dari sini dan menjadi penyair. Aku membayarmu untuk bekerja.”

Tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras setelah itu. Seluruh lantai kantor terasa mencekam. Biasanya Shen Wenlang memang dingin, tajam, dan tidak mudah didekati. Semua orang di HS Group sudah terbiasa dengan itu. 

Tapi hari ini berbeda. 

Hari ini ia tampak seperti seseorang yang sedang menahan keinginan untuk memburu sesuatu sampai ke ujung dunia. Dan yang paling menakutkan adalah, semua orang tahu bahwa “sesuatu” itu jelas bukan mereka.

Setelah menghancurkan mental tiga departemen hanya dalam waktu satu pagi, Shen Wenlang akhirnya kembali duduk di kursinya. Pena di tangannya diketukkan perlahan ke meja. 

Sekali. 

Dua kali. 

Tiga kali. 

Gerakan kecil yang tidak biasa. Ia bahkan sempat mengusap pelipisnya sebentar, tanda lain yang membuat sekretaris di luar hampir yakin dunia akan kiamat. Masalahnya bukan dokumen, proyek atau pun rapat. Masalahnya adalah…

Gao Tu.

Omega-nya yang biasanya seperti bayangan kecil yang selalu mengikutinya ke mana pun. Gao Tu yang menggerutu tanpa henti, berbicara terlalu cepat saat gugup, menatapnya terlalu lama lalu buru-buru membuang muka saat ketahuan. Ia akan duduk terlalu dekat, memegang ujung lengan bajunya tanpa sadar, atau diam-diam tersenyum hanya karena Shen Wenlang menyuapinya sepotong makanan.

Tapi sejak semalam, ada sesuatu yang berubah. Gao Tu tetap tersenyum. Tetap berbicara. Tetap memeluknya. Hanya saja semuanya terasa… sedikit terlalu singkat. Tatapannya menghindar. Pelukannya terlepas terlalu cepat. Ia seperti gugup berada di dekat Shen Wenlang, seolah pria itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. Shen Wenlang sudah bertanya pagi tadi, langsung, tanpa berputar-putar. Gao Tu hanya tersenyum gugup dan berkata tidak ada apa-apa sebelum buru-buru mengganti topik.

Shen Wenlang membenci itu. Karena ia tidak tahu apa yang salah. Karena ia tidak tahu apa yang membuat Gao Tu terlihat seperti itu. Karena lebih dari apa pun, ia takut telah menyakiti omega itu tanpa sadar. Akhirnya ia mengambil ponselnya dan menekan satu nama yang jarang ia hubungi kecuali benar-benar terpaksa.

“Halo?” suara Hua Yong terdengar santai dari seberang sana. 

“Gao Tu kenapa?”

Suara Shen Wenlang rendah, pendek, dan nyaris terdengar seperti ancaman. Di seberang sana, Hua Yong langsung diam.

“…selamat siang untukmu juga,” katanya akhirnya.

“Dia menghindariku.”

Hua Yong berkedip beberapa kali meskipun Shen Wenlang tidak bisa melihatnya. “Kenapa kau berpikir dia menghindarimu?”

“Aku tahu.”

Nada suara Shen Wenlang begitu yakin hingga terdengar hampir keras kepala.

“Dia omega-ku. Aku tahu emosinya. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Tadi malam dia tidak mau menatapku. Pagi ini juga sama.”

“Oh.” Hua Yong berpikir sejenak. “Apa kalian bertengkar?”

“Tidak.”

“Kalian berselisih?”

“Tidak.”

“Kau mengatakan sesuatu?”

“Tidak.”

“Kau mungkin tidak sengaja melakukan sesuatu?”

“Tidak.”

“Kau lupa tanggal penting?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa dia menghindarimu?!”

“Itu,” kata Shen Wenlang pelan sambil memejamkan mata beberapa detik, “yang sedang kutanyakan padamu.”

Hua Yong menghela napas panjang.

“Aku bukan cenayang, Wenlang.”

“Kalau begitu tebak.”

“AKU BUKAN—”

Hua Yong memutuskan untuk berhenti sebelum darah tinggi. Di seberang sana, Shen Wenlang terdiam cukup lama. Ketika ia bicara lagi, suaranya jauh lebih pelan.

“Aku harus tahu apa yang dia pikirkan.”

Hua Yong langsung terdiam.

“Sebelum aku menyakitinya tanpa sadar.”

Nada itu. Nada yang begitu lembut, begitu hati-hati, nyaris terdengar rapuh. Hua Yong belum pernah mendengarnya dari Shen Wenlang sebelumnya.

“…baiklah,” katanya akhirnya dengan suara lebih pelan. 

“Aku akan cari tahu. Tapi aku tidak menjanjikan apa pun. Dan Wenlang?”

“Apa.”

“Cobalah... jangan membunuh siapa pun.”

Shen Wenlang menutup telepon. Dan seluruh kantor, entah bagaimana, langsung merasa sedikit lebih aman karena setidaknya hari itu bos mereka tidak membanting ponselnya.

Sementara itu, di lobi HS Group, Gao Tu berdiri kaku dengan kedua tangan memeluk kotak makan siang terlalu erat sampai sisi kardusnya penyok. Wig panjang yang menutupi bahunya terasa panas dan gatal, bulu mata palsu membuat setiap kedipan terasa aneh, dan hoodie kebesaran yang ia pakai karena ia menolak mati-matian untuk mengenakan gaun tetapi malah membuatnya terlihat semakin mencurigakan. 

Ia bisa merasakan tatapan para pegawai yang melintas, bisik-bisik pelan yang berusaha ditahan tapi tetap sampai ke telinganya, dan ia sungguh ingin lantai di bawah kakinya terbuka lalu menelannya hidup-hidup.

“Dia siapa?”

“Pegawai baru?”

“Cantik sih… tapi kenapa pakai hoodie?”

“Wig-nya agak aneh ya?”

“Tidak kok, lucu. Kayaknya tipe omega pemalu.”

Pipi Gao Tu memanas begitu hebat sampai ia merasa mungkin sebentar lagi ia benar-benar akan terbakar di tempat. Ia menundukkan kepala semakin dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik rambut palsu yang terlalu panjang. 

‘Ini memalukan. Ini sangat memalukan. Kenapa ia ada di sini? Kenapa ia tidak menolak saja dari awal? Kenapa ia masih berteman dengan Shaoyou?’

Pikirannya langsung melayang ke restoran tadi.

“Aku tidak akan melakukannya,” kata Gao Tu untuk ketiga kalinya.  “Tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin. Kau gila.”

“Ya, aku tahu. Tapi kau masih belum bilang kalau ideku jelek.”

“Karena idemu bukan jelek. Idemu kriminal!”

“Mana kriminalnya?” Shaoyou mengangkat sebelah alis. “Aku cuma menyuruhmu pergi ke kantornya dan berpura-pura jadi omega yang tertarik sama dia.”

“‘Cuma’, katanya.” Gao Tu menatapnya tidak percaya. 

“A-You, aku bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya dan sekarang kau mau aku menggoda Wenlang?”

“Bukan menggoda. Menguji.”

“Itu sama saja!”

“Tidak.” Shaoyou menunjuknya dengan serius seolah sedang menjelaskan teori ilmiah yang sangat penting. 

“Menggoda artinya kau memang berniat membuat dia tertarik. Sedangkan menguji artinya kau hanya ingin lihat reaksinya. Sangat berbeda.”

“Itu tidak berbeda sama sekali!”

Shaoyou mendengus. “Kalau begitu terus saja cemburu diam-diam.”

“Aku tidak cemburu!”

“Kau cemburu.”

“Aku tidak!”

“Kalau begitu kenapa dari tadi kau ngomel tentang bagaimana Shen Wenlang tersenyum ke orang lain? Kenapa kau terus bilang, ‘Gimana kalau dia senyum ke semua orang ya? Gimana kalau dia kayak gitu ke semua omega?’” Shaoyou menirukan suaranya dengan nada berlebihan yang membuat Gao Tu ingin melemparnya. “Kalau bukan cemburu, itu apa?”

Gao Tu membuka mulut, siap membantah, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Karena sialnya, Shaoyou benar.

Ia memang cemburu.

Ia benci melihat Shen Wenlang tersenyum pada orang lain. Benci membayangkan senyum kecil dan langka itu bukan hanya miliknya. Ia tahu itu kekanak-kanakan. Ia tahu Shen Wenlang tidak melakukan apa-apa yang salah. Tapi tetap saja, ada bagian kecil di hatinya yang keras kepala dan egois, bagian yang ingin menyimpan semua hal lembut dari pria itu hanya untuk dirinya sendiri.

Melihat ekspresinya, Shaoyou langsung tersenyum penuh kemenangan. “Nah. Ketahuan.”

“Aku benci kau.”

“Kau lebih benci tidak tahu jawabannya. Dengar, kalau kau ingin tahu apakah Shen Wenlang akan tersenyum ke orang lain, buat saja dia berada di situasi itu. Datang ke kantornya. Menyamar. Dekati dia.”

Gao Tu menatapnya seperti baru saja mendengar hukuman mati.

“…kau bercanda.”

“Aku tidak pernah se-serius ini.”

“A-You.”

“Kau tinggal pakai wig, mungkin sedikit lip tint, lalu bawa makanan. Bilang kau datang untuk bertemu Tuan Shen.” Semakin lama, mata Shaoyou semakin berbinar penuh semangat. “Lalu kita lihat. Kalau dia tetap dingin, berarti senyum itu memang cuma buatmu. Tapi kalau dia malah tersenyum—”

“Berhenti!” Gao Tu menutup kedua telinganya. “Aku tidak mau dengar bagian itu!”

“Tapi kau penasaran.”

“Aku malu!”

“Tapi penasaran.”

“Aku akan mati karena malu!”

“Tapi penasaran.”

Gao Tu mengerang keras tidak bisa membantah karena Shaoyou benar. Itu yang paling menyebalkan. Ia memang malu. Sangat malu. Tapi ia juga… sangat ingin tahu. Dan sekarang, karena dirinya sendiri bodoh dan lemah, ia benar-benar berdiri di lobi HS Group dengan wig di kepala dan hoodie kebesaran di tubuhnya.

“Ada yang bisa dibantu, nona?” suara resepsionis membuat Gao Tu hampir melompat kaget.

Seorang wanita muda berdiri di depannya dengan senyum ramah. Gao Tu langsung panik. Ia tidak boleh bicara. Kalau ia membuka mulut, semuanya akan berakhir saat itu juga. Dengan buru-buru ia hanya menggeleng, terlalu cepat, terlalu gugup, sampai gerakannya terlihat aneh dan canggung. Resepsionis itu malah tersenyum semakin lembut.

“Oh, tidak usah gugup,” katanya ramah. “Apa Anda ingin bertemu seseorang?”

Gao Tu menggigit bibirnya pelan. Ia bahkan belum sempat memikirkan bagaimana caranya naik ke lantai tempat Shen Wenlang bekerja. Sejak turun dari taksi, ia terlalu sibuk menyesali seluruh keputusan hidupnya, terutama keputusan untuk mendengarkan Shaoyou. 

Wig panjang di kepalanya terasa semakin berat setiap detik, hoodie kebesaran yang menutupi tubuhnya membuatnya kepanasan, dan bulu mata palsu yang dipasang terlalu rapi itu membuat matanya terasa aneh setiap kali berkedip. Ia sudah hampir memutuskan untuk mengubur Shaoyou jika ini tidak berhasil ketika suara lift di ujung lobi berdenting pelan.

Seketika, seluruh ruangan mendadak hening. Para pegawai yang tadi masih berbisik langsung menegakkan badan, beberapa buru-buru merapikan pakaian mereka, dan bahkan resepsionis di depannya yang sedari tadi mencoba mengajaknya bicara ikut menoleh cepat ke arah lift dengan wajah tegang. Gao Tu, yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ikut mengangkat kepala perlahan, lalu seketika berharap lantai di bawah kakinya menelan dirinya hidup-hidup. 

Shen Wenlang baru saja keluar dari lift.

Pria itu melangkah keluar dengan wajah dingin dan ekspresi yang begitu suram sampai rasanya seperti seluruh cahaya di lobi ikut meredup. Kemeja hitam yang ia kenakan rapi sempurna, rambutnya tersisir seperti biasa, dan matanya yang tajam menyapu ruangan dengan cara yang membuat siapa pun yang terkena tatapannya ingin langsung menulis surat wasiat. 

Aroma iris yang menguar dari tubuhnya biasanya samar dan tenang, tapi hari itu aroma itu terasa dingin, tajam, dan menyesakkan, seperti langit gelap sebelum badai. Para karyawan menyingkir secara naluriah. Seseorang di dekat meja resepsionis bahkan nyaris tersandung kursi karena terlalu panik.

“Sepertinya mood Direktur Shen buruk…”

“Lebih buruk dari biasanya…”

“Tadi mataku sempat ketemu matanya. Aku rasa umurku berkurang lima tahun.”

“Siapa yang bikin dia marah pagi-pagi begini…?”

Gao Tu hanya bisa menatap. Itu bukan wajah seseorang yang sedang tersenyum. Itu bahkan bukan wajah netral. Itu adalah wajah “jangan sentuh aku kalau kau tidak ingin hilang dari dunia ini.” Dan entah kenapa, melihat itu membuat jantung Gao Tu berdegup begitu keras sampai dadanya sakit. Karena tiba-tiba, rencana Shaoyou yang bodoh itu mendadak terasa masuk akal. 

Jadi benar… Shen Wenlang memang tidak pernah tersenyum seperti itu pada orang lain. Ia tidak pernah melembut untuk orang lain. Ia tidak pernah memandang orang lain dengan cara ia memandang Gao Tu. Senyum kecil itu, tatapan lembut itu, cara Shen Wenlang memanggil namanya dengan suara rendah dan hampir tidak terdengar itu, semuanya memang hanya untuknya.

Dadanya langsung terasa hangat. Terlalu hangat. Hangat sampai rasanya ingin meledak. Semua rasa cemburu, takut, dan gelisah yang mengganggunya sejak semalam runtuh begitu saja dalam satu detik. Yang tersisa hanya kebahagiaan aneh yang membuat kepalanya kosong. 

Karena terlalu bahagia, Gao Tu bahkan tidak sempat memikirkan lagi tentang wig di kepalanya, hoodie kebesaran yang ia pakai, atau fakta bahwa saat ini ia terlihat seperti omega perempuan asing yang muncul entah dari mana. Tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum otaknya sempat mengejar. Ia berlari.

“Eh—nona?!”

“Tunggu—APA YANG DIA LAKUKAN?!”

“Ya Tuhan, omega itu mau mati?!”

“Nona, jangan dekat-dekat—!”

Seluruh lobi langsung gempar. Para pegawai hanya bisa menatap dengan ngeri saat sosok “omega perempuan” itu berlari lurus ke arah Shen Wenlang yang sedang berdiri di tengah ruangan dengan aura pembunuh. Lalu, tepat di depan semua orang, Gao Tu langsung memeluknya erat-erat.

Seketika, dunia seperti berhenti. Resepsionis menjatuhkan pulpennya. Salah satu manajer di dekat lift menutup mulut dengan tangan. Asisten pribadi Shen Wenlang memejamkan mata dan dalam hati mulai menyiapkan pidato belasungkawa untuk omega malang itu. 

Sementara Shen Wenlang sendiri membeku. Tubuhnya langsung menegang, tatapan matanya yang tajam turun ke sosok asing yang tiba-tiba memeluk pinggangnya tanpa izin. Insting alpha-nya naik dalam sekejap, tajam dan marah. Aroma iris di sekelilingnya langsung berubah semakin dingin.

'Berani-beraninya omega menyentuhku.’

Tangannya bergerak sedikit, siap melepaskan pelukan itu dengan kasar. Siapa pun orang ini, apa pun alasannya, ia akan—

“A-Lang…”

Suaranya pelan. Begitu pelan sampai nyaris tenggelam di tengah napas Gao Tu yang tidak teratur. Namun bagi Shen Wenlang, suara itu menghantamnya lebih keras daripada apa pun. Tubuhnya langsung membeku total. Karena ia mengenal suara itu. Ia mengenalnya terlalu baik. 

Dan tepat setelah itu, aroma sage segar yang selama ini tersembunyi di balik parfum dan pakaian akhirnya sampai ke inderanya. Samar, tapi cukup. Cukup untuk menghancurkan semua amarahnya dalam satu detik. Pupil Shen Wenlang mengecil. Napasnya tercekat. 

“…Gao Tu?”

Suara itu keluar sangat pelan, nyaris seperti bisikan. Namun di dalamnya ada terlalu banyak hal sekaligus, kaget, tidak percaya, lega, marah, bingung sampai untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, para pegawai di Shen Group mendengar sesuatu yang hampir terdengar seperti kepanikan dalam suara Shen Wenlang.

“Tunggu, apa dia bilang Gao Tu?”

“Jangan-jangan itu Tuan Gao?!”

“Tidak mungkin…”

“Direktur Shen… barusan terdengar lembut?”

“Dan dia belum membunuh siapa-siapa…”

Shen Wenlang menunduk cepat, kedua tangannya langsung memegang bahu Gao Tu. Jemarinya sedikit gemetar, hanya sedikit, sangat kecil, tapi cukup jelas bagi Gao Tu yang mengenalnya lebih baik daripada siapa pun. 

“Gao Tu,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. 

Matanya bergerak cepat dari wig yang miring di kepala Gao Tu, ke bulu mata palsu, ke hoodie kebesaran, lalu kembali ke wajahnya yang merah padam. 

“Apa yang kau pakai…? Dan kenapa kau datang seperti ini?”

Gao Tu menengadah perlahan. Wajahnya sudah merah sampai ke telinga. Wig di kepalanya bergeser miring karena tadi ia berlari terlalu cepat, dan sekarang ia tampak begitu memalukan sampai ia sendiri tidak sanggup menatap Shen Wenlang terlalu lama. 

“Aku… Aku bawa makan siang…” katanya lirih. 

Shen Wenlang berkedip sekali. Lalu sekali lagi. Ia tampak benar-benar sedang memproses apa yang baru saja didengarnya. “…dengan menyamar seperti ini?”

Gao Tu merasa dirinya akan mati. Ia benar-benar akan mati. Kalau bukan karena malu, maka karena Shen Wenlang sedang menatapnya dengan tatapan yang terlalu intens untuk seseorang yang berdiri di tengah lobi kantor. 

Namun sebelum Gao Tu sempat mengatakan apa pun lagi, Shen Wenlang tiba-tiba menariknya lebih dekat. Satu tangan melingkar erat di pinggangnya, satu lagi menahan bahunya, seolah pria itu takut Gao Tu akan menghilang kalau ia melepaskannya.

“Omega bodoh…” gumam Shen Wenlang pelan sambil menundukkan kepala. 

Dahinya menyentuh bagian atas wig itu dengan hati-hati, dan suaranya bergetar tipis oleh emosi yang bahkan ia sendiri tidak sempat sembunyikan. 

“Kenapa kau melakukan ini? Kau tahu aku hampir marah setengah mati.”

Gao Tu membeku. Karena Shen Wenlang benar-benar terdengar takut. Bukan marah pada pelukannya. Bukan marah karena ia datang ke kantor. Tapi takut karena sesaat tadi ia mengira ada omega asing yang menyentuhnya, dan baru sadar beberapa detik kemudian bahwa itu adalah Gao Tu. Ketika Gao Tu membuka mulut, siap menjelaskan sesuatu, Shen Wenlang mengangkat wajahnya lagi dan menatapnya lurus-lurus.

“Jawab aku, Gao Tu.”

Baru saat itu Gao Tu sadar mereka masih berada di lobi. Masih ada banyak orang. Masih ada karyawan, resepsionis, asisten pribadi, bahkan dua manajer yang sekarang pura-pura sibuk melihat ponsel mereka sambil diam-diam menguping. Pipinya langsung memanas dua kali lipat. Tanpa berkata apa-apa, ia buru-buru menyembunyikan wajahnya lagi di dada Shen Wenlang.

Shen Wenlang terdiam sebentar, lalu perlahan menyadari tatapan semua orang di sekitar mereka. Ekspresinya langsung berubah. Aroma iris yang tadinya hanya dingin mendadak menjadi tajam dan protektif. 

Ia mengangkat kepala dan menyapu seluruh lobi dengan tatapan datar yang membuat semua orang spontan menunduk atau buru-buru membuang muka. Tatapan itu seolah berkata dengan sangat jelas,

‘Ini omegaku. Lihat sekali lagi dan kalian mati.’

Tidak ada seorang pun yang cukup bodoh untuk membantah. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Shen Wenlang mengeratkan pelukannya di pinggang Gao Tu, memiringkan tubuhnya sedikit untuk menutupi omega itu dari pandangan orang lain, lalu menuntunnya masuk kembali ke lift.

Begitu pintu lift tertutup dan mereka akhirnya sendirian, Gao Tu malah semakin menempel. Wajahnya masih tersembunyi di dada Shen Wenlang, dan kedua tangannya memegangi bagian depan kemeja pria itu seolah ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. 

Shen Wenlang menatap angka lantai yang bergerak perlahan di atas pintu lift sambil menarik napas panjang. Satu tangannya tetap berada di pinggang Gao Tu, jempolnya bergerak pelan mengusap sisi hoodie yang kebesaran itu.

“Gao Tu,” katanya pelan setelah beberapa saat. “Setidaknya beri aku sedikit penjelasan.”

Gao Tu menggeleng cepat. “Tidak sekarang…”

“Baiklah,” jawab Shen Wenlang segera. “Nanti juga tidak apa-apa.”

Nada suaranya terlalu lembut. Dan itu justru membuat Gao Tu semakin malu.

Ketika lift akhirnya berhenti di lantai paling atas dan mereka masuk ke ruang kerja pribadi Shen Wenlang, Gao Tu langsung berlari ke sofa dan melepas wig di kepalanya dengan gerakan panik. Rambut aslinya yang sedikit berantakan jatuh ke dahinya, dan ia buru-buru merapikannya sambil membelakangi Shen Wenlang. Di belakangnya, Shen Wenlang menatap Gao Tu merapikan diri, matanya tanpa sadar melunak.

‘Dia cantik berambut panjang,

‘Tapi aku lebih suka dia yang biasa. Lebih cantik, lebih… Gao Tu.’.

Beberapa detik kemudian, Gao Tu menoleh. Shen Wenlang masih berdiri di dekat pintu dengan tatapannya masih tertuju padanya. Lalu perlahan, sangat perlahan, sudut bibir pria itu terangkat sedikit. Senyum kecil dan lembut, begitu langka. Senyum yang hanya pernah Shen Wenlang tunjukkan pada satu orang di dunia ini.

“Kamu…” Gao Tu langsung menatapnya dengan mata membulat, masih setengah tidak percaya pada apa yang baru saja ia lihat. “Kamu tersenyum.”

Seolah baru sadar apa yang sedang ia lakukan, Shen Wenlang langsung menegakkan badan. Tangannya naik refleks menutupi mulutnya, seakan-akan itu bisa menghapus ekspresi yang sudah terlanjur tertangkap jelas di wajahnya. 

“Ah.” Ia berdeham pelan, lalu memalingkan wajah sedikit ke samping. “Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Jawaban itu terlalu cepat, terlalu canggung, dan justru karena itulah Gao Tu tidak bisa menahannya lagi. Tawa kecil lolos dari bibirnya, lembut dan pendek, tetapi penuh begitu banyak hal yang bercampur jadi satu, kelelahan setelah seharian menahan gugup, rasa malu karena penyamarannya terbongkar, rasa lega karena ketakutan terbesarnya ternyata tidak terjadi, dan sedikit kebahagiaan yang membuat dadanya terasa hangat. Tawa itu membuat Shen Wenlang menoleh lagi dengan alis sedikit terangkat, tampak bingung sekaligus waspada.

“Apa yang lucu?” tanyanya pelan.

Gao Tu menggeleng sambil masih tersenyum kecil. Ia menundukkan kepala sebentar, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah memanas lagi. 

“Aku cuma…” Ia berhenti, lalu tertawa pelan sekali lagi. “Aku cuma ingat alasan kenapa aku melakukan semua ini.”

Shen Wenlang yang sejak tadi bersandar perlahan berjalan ke arahnya dan mencondongkan tubuhya. Gerakannya tenang, tetapi sorot matanya tajam dan tidak membiarkan Gao Tu menghindar. 

“Begitu?” tanyanya. “Kalau begitu jelaskan padaku. Kenapa kamu menyamar?”

Gao Tu langsung menegang. Ia merapatkan kedua lututnya dan duduk makin menyusut di ujung sofa, sementara tangannya diam-diam meremas wig panjang yang tadi ia lepaskan dan sembunyikan di dalam tas. Ia bahkan tidak berani menatap Shen Wenlang terlalu lama. Wajahnya sudah merah sampai ke telinga.

“Aku…” Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Kamu jangan marah dulu, ya.”

Shen Wenlang mengangkat sebelah alis. “Tergantung apa yang akan kamu katakan.”

“A-Lang!” Gao Tu langsung menoleh padanya dengan wajah semakin merah. “Jangan kayak gitu! Dengar dulu!”

Shen Wenlang duduk di sofa sampingnya dan menyilangkan tangan di dada, tampak tenang seperti biasa. Tetapi aroma alpha itu melunak pelan, tidak lagi setajam saat tadi ia masuk ke ruangannya dengan ekspresi dingin yang membuat seluruh kantor ketakutan. 

Ia menunggu. 

Dan karena Shen Wenlang tetap diam, Gao Tu akhirnya menarik napas panjang sebelum bicara cepat-cepat, seperti seseorang yang sedang berusaha melemparkan semua rasa malunya sekaligus sebelum keberaniannya hilang.

“Aku menyamar karena aku ingin tahu… apakah kamu tersenyum ke orang lain juga.”

Ruangan itu langsung hening. Shen Wenlang tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Gao Tu. Tatapan itu begitu lama sampai Gao Tu langsung panik dan buru-buru melanjutkan sebelum pria itu sempat bereaksi.

“Kamu tahu, kan, akhir-akhir ini kamu jadi sering tersenyum?” katanya dengan suara semakin kecil. Tangannya bergerak gelisah di atas pangkuannya. 

“Aku suka. Sangat suka. Aku suka banget waktu kamu tersenyum. Tapi…”

 Ia menelan ludah dan menunduk lebih dalam. “Tapi itu juga bikin aku khawatir.”

Shen Wenlang masih diam.

“Kamu tampan kalau tersenyum,” lanjut Gao Tu pelan. “Sangat tampan. Dan aku…” 

Ia berhenti sebentar, wajahnya memerah parah sampai ia ingin menghilang saja. 

“Aku takut kalau orang lain juga akan…” Ia menggigit bibirnya sebentar sebelum akhirnya memaksa kata-kata itu keluar. “…terpesona.”

Setelah itu ia langsung menutup wajah dengan kedua tangan, terlalu malu untuk melihat ekspresi Shen Wenlang. Tetapi pria itu masih tidak bicara. Hening yang tercipta malah terasa semakin berat, membuat jantung Gao Tu berdegup makin cepat.

“Aku cuma ingin tahu,” katanya lagi dari balik telapak tangannya, suaranya jauh lebih pelan, 

“Apa kamu bakal tersenyum ke orang lain juga. Atau… apa kamu bahkan sadar kalau aku ada di dekatmu waktu aku nyamar.”

Ia menurunkan tangannya perlahan dan memelintir ujung bajunya gugup. 

“Shaoyou bilang kalau kamu benar-benar cuma tersenyum buat aku, kamu nggak bakal tersenyum ke orang asing. Bahkan mungkin kamu bakal marah.”

Ia mengangkat kepala sedikit dan melirik Shen Wenlang dengan ragu-ragu. 

“Dan ternyata… kamu memang nggak senyum sama sekali waktu keluar dari lift tadi. Kamu malah kelihatan…” Gao Tu berhenti sejenak, lalu berkata lebih pelan, “…menyeramkan.”

Pipinya kembali panas. “Beda banget sama waktu kamu sama aku.”

Shen Wenlang tetap diam. Diam yang terlalu lama. Diam yang membuat perut Gao Tu terasa mual. Ia mulai menyesal. Mungkin ini benar-benar ide yang bodoh. Mungkin Shen Wenlang marah. Tiba-tiba Shen Wenlang bergerak. Ia mencondongkan tubuh ke depan lalu mengangkat tangan, meraih dagu Gao Tu dengan lembut tetapi tegas, memaksanya menatap lurus ke arahnya.

“Aku ingin memastikan satu hal,” katanya pelan.

Suaranya rendah. Sangat rendah. Dan entah kenapa itu justru membuat Gao Tu semakin gugup.

“Kamu menyamar sebagai omega perempuan…” Shen Wenlang berhenti sejenak, menatapnya tanpa berkedip. “…untuk menguji apakah aku tersenyum ke orang lain?”

“…iya,” jawab Gao Tu lirih.

Shen Wenlang menatapnya beberapa detik lagi sebelum bertanya lagi, kali ini lebih pelan tetapi entah kenapa terdengar lebih berbahaya. 

“Dan kamu memelukku di lobi perusahaan di depan semua orang…?”

Gao Tu langsung tersentak. 

“Bukan!” katanya cepat-cepat sambil menggeleng panik. “Bukan bagian dari rencana! Aku nggak bermaksud meluk kamu di depan umum!”

Shen Wenlang tidak melepaskan dagunya. “Oh?”

“Aku serius!” Gao Tu menunduk lagi, ingin kabur saja kalau bisa. 

“Aku cuma…” Suaranya mengecil. “Aku terlalu senang.”

Shen Wenlang terdiam.

“Waktu aku lihat kamu keluar dari lift,” lanjut Gao Tu dengan suara yang sedikit bergetar, 

“kamu nggak senyum sama sekali. Bukan cuma nggak senyum, kamu kelihatan marah banget. Semua orang takut sama kamu.” 

Ia tertawa kecil, malu sendiri. “Dan itu… membuktikan kalau A-You benar. Kamu cuma tersenyum ke aku.”

Ia menunduk lagi. “Aku lega. Aku senang banget.” 

Kedua tangannya buru-buru menutup wajah. “Makanya tubuhku bergerak duluan. Aku kaget sendiri tahu-tahu udah meluk kamu…”

Shen Wenlang menghela napas panjang. Sulit ditebak apa yang ia rasakan dari wajahnya antara lega, tidak percaya, kesal, atau justru terlalu tersentuh sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Jadi kamu memelukku,” katanya pelan, “bukan untuk menguji reaksiku.”

Gao Tu menggeleng cepat.

“Tapi karena kamu bahagia?”

Kali ini Gao Tu mengangguk cepat-cepat seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal. “Mm.”

Shen Wenlang memejamkan mata sesaat. Seolah-olah ia sedang berusaha menahan sesuatu. Entah tawa, entah rasa gemas, entah perasaan lain yang terlalu besar sampai membuat dadanya sendiri sesak. Ketika ia membuka mata lagi, tatapannya berubah lembut. Begitu lembut sampai Gao Tu merasa dadanya ikut mencelos.

“Gao Tu,” katanya perlahan, “aku tersenyum karena kamu. Hanya kamu.”

Aroma iris di sekeliling mereka berubah semakin hangat. Manis, pekat, dan memenuhi seluruh ruangan sampai membuat Gao Tu sulit bernapas.

“Aku tidak bisa, dan tidak mau, tersenyum pada orang lain.”

Gao Tu berkedip beberapa kali, lalu menunduk sambil bergumam pelan, “Iya… aku baru tahu hari ini.”

Shen Wenlang mendekat lagi sampai hampir tidak ada jarak di antara mereka. Tangannya naik ke pipi Gao Tu dan mengusapnya perlahan, begitu hati-hati seakan-akan Gao Tu adalah sesuatu yang rapuh dan berharga.

“Kalau kamu ingin tahu apakah aku hanya tersenyum untukmu,” bisiknya pelan, suara rendah itu terdengar jauh lebih mematikan daripada saat ia marah, “…kamu tidak perlu menyamar. Kamu hanya perlu melihatku.”

Gao Tu langsung memerah lagi. Tetapi kali ini ia juga tertawa kecil, tawa malu sekaligus lega karena sekarang ia sadar betapa bodohnya dirinya tadi.

“Jadi…” katanya pelan, masih belum puas meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. 

“Kamu nggak senyum sama sekali ke orang lain?”

“Tidak.”

“Sedikit?”

“Tidak.”

“Kalau misalnya sengaja—”

“Gao Tu.”

Nada suara Shen Wenlang membuat Gao Tu langsung menutup mulut.

Detik berikutnya Shen Wenlang menariknya ke dalam pelukannya. Erat. Hangat. Penuh rasa memiliki. Gao Tu langsung membeku beberapa saat sebelum perlahan membalas pelukan itu, wajahnya tersembunyi di dada Shen Wenlang.

“Jangan lakukan penyamaran bodoh seperti itu lagi,” bisik Shen Wenlang di rambutnya.

Gao Tu mengangguk cepat. “Mm…”

“Hanya aku yang boleh melihatmu seperti itu.”

Gao Tu langsung mendongak dengan mata membulat. “Lho?!”

Shen Wenlang menatapnya beberapa detik, lalu untuk pertama kalinya sejak tadi benar-benar tersenyum lagi. Senyum hangat, lembut, yang hanya muncul saat ia melihat satu orang ini.

“Rambut panjang itu cocok untukmu.”

“A-Lang!!!”

Gao Tu langsung meninju bahunya dengan malu-malu, wajahnya merah padam sampai ke ujung telinga. Tetapi Shen Wenlang hanya tertawa pelan. Dan tawa itu membuat dada Gao Tu kembali terasa hangat, karena akhirnya, sekarang ia benar-benar tahu.

Senyum itu memang hanya untuknya.