Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-10
Words:
1,133
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
21
Bookmarks:
1
Hits:
231

Hujan di Hari Festival

Summary:

Arjuna.
Pemilik namanya indah, siapapun dengan mudah jatuh. Begitu pikir yudistira. Seperti yang biasa dia lakukan hanyalah menatap lamat si arjuna yang melengkungkan senyum tanpa ia berkontribusi dalam menciptakannya.

"Manabisa, dia ngupil pun aku cinta" - Yudistira

Semua berawal dari hujan di hari festival

Notes:

SUNNOTE YAH ❤️💚 slight BEERLENS 🤏🏻

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

Arjuna

Pemilik namanya indah, siapapun dengan mudah jatuh. begitu pikir yudistira

Seperti yang biasa dilakukannya hanyalah menatap lamat si arjuna yang melengkungkan senyum tanpa ia berkontribusi dalam menciptakannya. Menopangkan dagu di atas jari jari sambil mengetukkannya di pipi, sudut bibirnya terangkat saat junanya-

huh ?

“juna ku?”

bisiknya kecil sambil berangan angan.

 

Padahal arjuna “nya” hanya bercanda dengan mas kula. Orang bilang jika dia bercanda harusnya kamu tertawa, bukan jatuh cinta.

Hela nafasnya memberat

 

“manabisa, dia ngupil pun aku cinta”

 

keluhnya dalam telungkupan lengan kecilnya yang mampu menyembunyikan seluruh wajahnya.


1 tahun lalu

Festival day

yudis duduk di gazebo samping tenda jajanan yang sudah tutup. Kakinya mengayun kecil, gazebonya terlalu tinggi buat dia napakin kaki ke tanah, matanya bergerak mengikuti turunnya hujan, bete sedikit sambil kerucutin bibirnya

 “huft…”

Lucunya

Alasan dia masih stay awalnya mau menunggu temannya, mas kula, yang tadi sibuk memberi tanda tangan di hall dekat gazebonya duduk. namun pada akhirnya, ia harus pulang sendiri

“yuuuud, maaf ya, dewa tiba tiba dateng, padahal kemarin udah bilang bakal absen nonton kita”

ia berujar dengan wajah cantiknya yang memelas

“iya udah kau pergi sana mas, aku pulang sendiri nanti”

“hehe, maaf ya ntiik. Nanti kamu kabarin mas kalo sudah nyampek, oke?? atau kamu bisa chat aja ke dewa kalau aku ga bales chat ka-”

“sstt udah, iya mas kula iyaa”

sambil mendorong punggung mas kula ini menjauh, bawel

Nakula yang diperlakukan begitu hanya mencebik, tetapi tetap pergi dan melambaikan tangannya dengan kekasihnya, Sadewa.

dan disinilah yudis, terjebak hujan.


Anak ini gampang sakit sebenarnya, mama yang melarang dia hujan hujanan dulu bikin dia terlalu terbiasa buat hidup dalam lingkaran nyaman. Jadi dia cuma bisa menatap rintiknya tanpa menyentuhnya. Pegangan di ujung kayu yang didudukinya, sambil berharap tuhan berbaik hati memberinya spare waktu buat jalan ke kosannya, deket kok- 10 menit juga sampe, pikirnya

yudis juga gampang bosen, daripada diem, dia keluarin gitar yang sejak tadi duduk di sampingnya. Jemari panjang ramping itu mulai memetik senar, bersenandung lagu yang dia tampilkan belum lama tadi.

“kalau ada… sembilan nyawa ~ mau samamu saja semuanya”

 

......

 

di sisi lain laki-laki coat hitam, perawakannya lebih tinggi dari yudis, dengan selempang “Juara Favorit”, berlarian sambil menutupi kepalanya menggunakan buket bunga super besar yang ia peroleh dari kontes tadi.

 

mendekat ke arah gazebo- ke arah yudis

 

Terengah engah dan mendudukkan dirinya di samping yudis dengan berantakan. yang di datangi secara tiba-tiba juga terkejut, mengerjap bingung.

Jujur saja, dia sedikit pendiam dengan orang asing.

Namun kali ini rasanya berbeda, ia dengan refleks menghentikan petikan gitar sembari menggeser duduknya, memberikan sedikit ruang padanya.

Ia pindahkan gitar ke sisi kosong di sampingnya, memberikan atensi penuhnya kepada orang yang terasa familiar ini

 

Menawan

 

hatinya berkata demikian, padahal yang dilihat hanyalah tubuhnya yang kebasahan, rambut hitam dengan sentuhan abu, dan wajahnya menunduk menghindar dari air hujan.

Sesungguhnya hanya sekilas saja terlihat, tapi yudis tertarik. Rasanya pria ini bersinar ditengah derasnya hujan.

 

“kau oke ? mau minum ?”

ucap yudis tanpa sadar, bingung kalimat ini bisa ucapkan begitu saja pada orang asing ini.

 

“sumpah, thank you yud, kebetulan yang betul. Haus banget woi ”

 

Semakinlah dia bingung, “yud?” bisa dia kenal sama yudis ?

yudis cuma bisa bantu ngambilin air dari kantong gitarnya. Diulurkan minumnya ke orang itu dalam keadaan udah dibuka rapih, tutup botolnya dipegangin yudis

 

“minum pelan pelan aja, kau kacau gitu”

 

Yang disuruh pun mengangguk menurut, mengambil botol dari yudis dan minum pelan pelan sambil mengibaskan air hujan yang menempel di buketnya.

 

“huh asli ku kira hujannya ga deres. aku cuman balik buat ngambil ini bentar, padahal tadi udah di parkiran. Nyesel bolak balik dah, Oh- thank you minumnya ”

matanya menyipit akibat senyum hangat yang ia berikan. tangannya meletakkan botol di atas paha yudis dengan natural.

 

Yang kecil hanya mengangguk kecil, diambilnya botol itu dan mencoba untuk berperilaku biasa.

Bayangkan saja, tiba tiba berbicara panjang lebar, tiba tiba menyentuh pahanya- maksudnya menyetuhnya dengan botol minum, tiba tiba memanggil namanya,

yang mengejutkan lagi yudis suka.

 

Ia menyukai sensasi ini…. bukan berdebar hei, yang benar saja

ia hanya merasa senang ada yang mengenalnya mungkin ?

entahlah, bukankah harusnya malah menyeramkan.. yudis juga heran

 

“lah, kau juga ngapain masih di sini yud ? bukannya festivalnya udah rampung dari sebelum hujan ?”

 

“oh- Cuma mau duduk sini aja. Nunggu kawanku tadinya”

ujarnya sambil melihat hujan.. ia hanya tidak mau menatap orang disampingnya

 

“tadinya ? terus sekarangnya ? mana kawanmu itu ?” ia menatap yudis heran

 

“ditinggal. biasalah, urusan rumah-rumahannya”

Yudis tersenyum kecil, mengingat mas kula pergi dengan beribu maaf tetapi wajahnya sumringah sebab kekasihnya datang.

Lain di mulut lain di wajah ya.

 

mau bareng aku aja?

 

Yudis mengerjap dan menoleh ke samping, gugup

“hah... e-engga usah, kau pulang duluan aja. Aku di sini aja”

 

“aku bawa mobil, kau tenang aja, ku antar sampai aman. Tapi kita nunggu dulu sampe redaan lah ya, kuyup pula nanti kita ke parkiran” ucapnya lugas, tanpa keraguan

 

Hanya dua kali tawaran, tetapi yudis tidak bisa- lebih tepatnya tidak mau menolak. Walaupun ada yang mengganjal di hatinya, bingung diungkapkan atau tidak, ia sungkan

 

“hmm.. okelah” ia mengangguk kecil dan berusaha terlihat santai

 

“btw tadi aku nonton kau perform sama nakula, gila enak banget ya suaranya, banyak juga dia fansnya kulihat”

Ujar pria itu sembari mengistirahatkan tangannya di kedua sisi tubuhnya, berpegangan santai pada lantai kayu yang didudukinya.

 

“kau- kenal sama mas kula ?”

“loh iyalah. Kan kemarin aku yang antarkan dia waktu latihan samamu di studio”

 

Yudis merasa bodoh di detik ini.

Ingatannya dilempar ke dua hari yang lalu, latihan pra festival dengan band nya. Ia ingat betul mas kula bilang akan terlambat sebab jadwalnya sedikit bersinggungan dengan klub teaternya.

Dan ia ingat betul, mas kula diantar oleh satu orang yang katanya “bintang teater”.

Padahal ia sempat bersalaman dan mengenalkan diri satu sama lain, mengapa yudis tidak ingat ?

 

Ah sial. Malu sedikit. bohong, malu banyak.

 

“ah.. kau si itu ya, si bintang teater ?”

 

“hah ? hahahahha, panggilan apa itu woi ? kau lupa namaku yud ? … Ah, memang artis gini ya”

 

“woi manaada artis, aku cuman- uh cuma sedikit pelupa”

sungguh ia malu, tapi yang ini harus diucapkan biar dia tidak makin pusing

 

Maaf, jadi siapa namamu?

 

Lelaki ini terbahak mendengar pertanyaan kecil yang terucap dari bibir yudis, sungguh lucu melihatnya kebingungan.

 

“hahaha sejak tadi kau nggak sebut namaku ternyata karena itu, berani juga kau ya mau diantar pulang orang asing ?”

 

“loh kan aku sudah minta maaf samamu ? lagipula kau tawari aku, daripada mati di sini kedinginan”

pipinya memerah sedikit, ia tidak mau menatap orangnya, menahan malu meskipun alis dan bibirnya mengerut protes.

 

Dipegangnya dagu yudis agar saling bertatapan. ia tersenyum jenaka

 

Arjuna Arkana,

panggil saja juna. kali ini harus kau ingat selamanya. oke, yudistira?”

 

diusapnya pelan poni miring yudis sambil menahan tawa

 

Yang diperlakukan begitu hanya bisa berusaha mengalihkan pandangan, dengan wajah memerah sepenuhnya sambil berusaha mengibaskan tangan arjuna dari kepalanya.

Kepalang malu, tapi tetap saja,

 

"ahh iya iya ! Juna, aku bisa ingat."

 

yudis menyukai sensasi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-fin.

Notes:

My 1st AU ueueueu 🫠 maaf banyak kekurangan, aku akan belajarr !

-K