Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-10
Words:
1,165
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
29
Bookmarks:
1
Hits:
393

untukmu yang menjelma debu.

Summary:

Surat yang ditulis Shavi dalam pengembaraan kehilangan kasihnya.

Sh as Shaviandra
Kh as Kafka

Notes:

kalo di hp bacanya pake desktop site

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Shaviandra
Jl. Bougenville 25
Bandung, Jawa Barat

Kafka, the sweetest
Jl. Kamelia Raya
Bandung, Jawa Barat


Dear Kafka,

Aku dengar kabarmu dari Jani, kemarin sore saat kami tidak sengaja bertemu di kafe yang sempat menjadi tempat kamu kerja. Katanya kamu sudah pergi. Aneh rasanya menulis kalimat itu. Seolah-olah kalau aku menuliskannya dengan cukup hati-hati, mungkin maknanya akan berubah. Mungkin kamu hanya pindah kota, mungkin hanya mengganti nomor. Mungkin kamu sedang sibuk dan belum sempat membalas. Tapi tidak, katanya kamu sudah benar-benar pergi. Ternyata kamu sudah meninggal. Dan yang paling membuatku tidak tahu harus merasa apa adalah kenyataan bahwa kamu meninggal minggu lalu. Dunia sudah berputar tujuh hari tanpa kamu, sementara aku masih menjalani hidup seperti biasa tanpa tahu apapun. Tujuh hari. Tujuh hari di mana matahari masih terbit, orang-orang masih tertawa di jalan, dan aku mungkin saja sedang duduk minum kopi atau berjalan pulang tanpa tahu bahwa di suatu tempat kamu sudah tidak lagi di dunia ini.

Aku tidak tahu kenapa kabar itu baru sampai padaku sekarang. Mungkin memang tidak ada alasan bagiku untuk tahu lebih cepat. Atau memang kamu sengaja sebab tak ingin aku terjebak di lingkaran kesedihan tak berakhir itu? Tapi bagaimana ya, sayang, aku memang sudah terkurung kesedihan sejak semuanya berakhir kala itu. Aku ingat sore itu kita berdua duduk di taman, tak banyak percakapan. Baik kamu dan aku sama-sama menunggu untuk saling memutuskan sesuatu untuk kita, rupanya dunia luarlah yang memutuskan itu untuk kita. Aku juga ingat bagaimana keluargamu memanggil hubungan kita sebagai penyakit. Bagaimana mereka berkata seolah-olah cinta bisa diperbaiki seperti tulang retak. Saat itu, kuingat kamu menunduk. Pikirku, mungkin kamu sedang menimang pilihan yang tak akan menghancurkan semua orang. Aku tidak pernah marah padamu karena itu. Aku marah pada dunia yang membuatmu percaya bahwa mencintaiku adalah sesuatu yang harus kamu tinggalkan.

Aku tidak tahu seperti apa hari-harimu setelah kita berpisah. Aku tidak tahu apakah kamu masih berjalan dengan hati-hati seperti dulu. Sekarang aku juga tidak akan pernah tahu. Yang tersisa hanya bayanganmu di ingatan-ingatan kecil. Cara kamu tertawa, cara kamu memanggil namaku, cara dunia terasa lebih tenang saat kita masih berdiri di sisi yang sama. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal, di manapun kamu sekarang, aku tidak pernah menganggap kita sebagai kesalahan. Dunia saja yang terlalu sempit untuk kita waktu itu. Dan mungkin yang paling membuatku sedih adalah bahkan setelah semuanya, aku masih di sini, sementara kamu sudah pergi membawa seluruh kemungkinan yang tak sempat kita jalani.

Kasihmu,

Shavi


 

Shaviandra
Jl. Bougenville 25
Bandung, Jawa Barat

Kafka
Jl. Kamelia Raya
Bandung, Jawa Barat


Hi Kafka,

Sudah tiga bulan sejak aku mendengar kabar tentang kamu. Anehnya, dunia tidak berhenti seperti yang sempat kubayangkan waktu itu. Hari-hari tetap berjalan dengan cara yang sangat biasa. Orang-orang masih mengeluh soal cuaca, kopi masih terasa pahit di pagi hari, dan jalanan masih penuh oleh orang yang pulang terlalu larut. Aku juga masih hidup seperti biasa, setidaknya dari luar kelihatannya begitu. Aku mulai mencoba melakukan hal-hal kecil lagi seperti duduk lebih lama di kafe, berjalan tanpa tujuan di sore hari, dan membaca buku yang dulu sempat kutinggalkan setengah. Semuanya kulakukan dengan harapan sederhana, mungkin suatu hari perasaan hidup itu akan kembali terasa, meskipun hanya sedikit.

Kadang pikiranku masih dipenuhi kamu tanpa sengaja. Untungnya, sudah tidak terasa seperti gelombang besar yang datang menghantam,tapi seperti bayangan yang lewat pelan di sudut pikiran. Ada momen-momen kecil yang masih membuatku teringat. Misalnya saat seseorang memutar sendok di gelas minumannya, seseorang tertawa dengan cara yang hampir mirip denganmu, atau lagu lama yang dulu kita dengarkan diam-diam karena takut orang lain akan bertanya terlalu banyak. Dulu aku pikir ingatan-ingatan itu akan menghancurkanku setiap kali datang. Tapi sekarang rasanya seperti sesuatu yang tinggal di dalam diriku dengan tenang, sedih juga, tapi tidak lagi membuatku berhenti bernapas.

Aku masih belum benar-benar menemukan spark yang orang-orang bilang akan kembali suatu hari nanti. Tapi mungkin tidak harus seperti dulu. Mungkin hidup setelah kehilangan memang tidak dimaksudkan untuk terasa sama lagi. Mungkin cukup kalau aku bisa kembali tertawa tanpa rasa bersalah, atau menjalani hari tanpa terus menerus memikirkan semua kemungkinan yang tidak sempat kita jalani bersama. Aku tidak tahu apakah kamu akan bangga melihatku mencoba seperti ini, tapi aku ingin percaya bahwa di mana pun kamu sekarang, kamu tidak ingin aku berhenti hidup hanya karena kamu sudah tidak ada. Jadi aku akan tetap berjalan pelan-pelan dari sini. Membawa kenangan tentang kamu bukan sebagai luka yang terbuka, tapi sebagai sesuatu yang pernah membuat hidupku terasa sangat nyata.

Tetap kasihmu,

Shavi


 

Shaviandra
Jl. Bougenville 25
Bandung, Jawa Barat

Cintaku, Kafka
Jl. Kamelia Raya
Bandung, Jawa Barat


Kamu yang tersayang,

Kali ini tidak kusurati kamu seperti biasa, barangkali kamu bosan membacanya di atas sana. Malam ini, aku sembahyang pada bintang paling terang. Ku tadahkan kedua tanganku, memohon ampun agar terangnya tidak menyilaukan mataku. Sayang, sepertinya aku kian buta dibuatnya, tapi bagaimana ini, mataku tak bisa beranjak dari kilaumu yang membutakan. Atau mungkin aku enggan.

Pelita, begitu aku ingin memanggilmu. Kau pelitaku, pelita hidupku. Kau yang tentukan arah hidupku, kemana selanjutnya harus kulemparkan jalanku? Menuju kau kah pelita? Atau justru perlulah diriku menjauh dari jangkauanmu? Tolong tuntun aku, seperti roh kudus menuntun umatnya menuju surga. Kamulah surgaku, pelita.

Andai kesempatan menghampiri, aku akan setia kupaskan kullit jeruk untuk kamu. Bahkan kalau perlu, aku akan sulamkan dagingmu yang hancur lebur demi bisa bersama lagi. Biarlah mulut-mulut orang yang telah mengggerinda segala bentukmu hingga hancur lebur itu terperosok jurang neraka. Neraka yang ku ciptakan untuk mereka, untuk jari yang menunjuk padamu kala kamu dilanda krisis hebat. Nerakaku untuk mereka yang menyusahkanmu, pelita.

Dariku yang kebingungan,

Shavi


 

Shaviandra
Jl. Bougenville 25
Bandung, Jawa Barat

Kafkaku, selamanya
Jl. Kamelia Raya
Bandung, Jawa Barat


Halo Kafka,

Siang tadi, aku tak sengaja berpapasan dengan ibumu. Semua ucapannya siang tadi masih bergema di telingaku hingga saat ini, katanya aku menyebar penyakit padamu, katanya gara-gara aku kamu meninggal. Baru juga ku tahu alasanmu meninggal. Entahlah siapa yang sebenarnya akan membaca suratku kali ini, dari awal pun bukan kamu. Meskipun begitu, aku tetap tulis surat, dengan harapan suratku dapat melebur bersama debumu. Benarkah aku alasanmu menggantung semua hiruk pikuk kehidupanmu kala itu, Kafka? Jika iya, benarlah ucapan ibumu, bahwa akupun perlu menggantung seluruh harapku pada dunia ini.

Surat ini akan menjadi yang terakhir, aku sudah tidak mampu menulis lagi. Tanganku barangkali sudah patah. Tidak, tanganku sekarang pasti sudah terkulai lemas rapat dengan tubuhku yang tergantung. Atau apakah aku mengiris pergelangan tanganku? Belum tahu mau ku apakan diriku ini, yang jelas aku akan pergi ke tempatmu malam ini. Aku akan bawa semua surat dan puisiku padamu, akan aku bacakan di depan wajahmu yang kegelian sendiri. Malam ini akan aku obati segala rinduku padamu, sekalian bertanya apa yang benar-benar ada di kepalamu saat itu.

Kalau memang benarlah apa kata mereka, kalau cinta kita dosa. Mengapa pula Tuhan tumbuhkan? Atau setan kah yang menumbuhkan cinta ini? Ah sudahlah, aku akan cari jawabannya sama kamu malam ini. Tunggu aku di sana, dengan senyum paling hangat kamu. Peluk aku juga saat aku datang. Penuhi aku dengan wangi badanmu.

Yang selamanya mencintaimu,

Shavi

Notes:

follow x gua plis temenan sm gua plis @rummynt