Work Text:
Musim dingin mencapai puncaknya di bulan Februari, seakan waktu sendiri kian melambat menjelang upacara kelulusan yang semakin mendekat, bersamaan dengan seluruh rangkaian akademis telah usai. Lembaran-lembaran ujian telah dilipat menjadi kenangan. Pengumuman kelulusan pun telah dipasang, dan di puncak daftar itu terukir satu nama; Choi Youngjae, seorang pemuda yang kini menjadi pusat bisik kagum teman-teman seangkatannya.
Hari ini, sekolah tidak lagi seramai biasanya. Hanya segelintir anggota klub yang masih bertahan untuk berkumpul, beberapa adik kelas yang tenggelam dalam tumpukan buku di perpustakaan, serta beberapa wali kelas yang berjalan pelan di lorong-lorong yang mulai kehilangan riuhnya. Youngjae sendiri baru saja menyelesaikan urusan administratif untuk pendaftaran kuliah. Kini, ia memilih berdiam di sudut favoritnya di perpustakaan, enggan tergesa meninggalkan tempat yang telah menjadi saksi perjalanan panjangnya untuk mendapatkan peringkat satu itu.
Di bagian paling belakang perpustakaan, di ujung rak-rak tinggi yang menjulang terdapat ruang duduk nyaris tersembunyi. Meja-meja tersusun rapi sepanjang dinding, menghadap langsung ke jendela besar yang memamerkan lapangan belakang sekolah. Kehangatan dari pemanas ruangan memeluk lembut tubuhnya, menciptakan kontras yang menenangkan dengan udara dingin membekukan di luar sana. Rasa kantuk perlahan merayap di pelupuk matanya.
Alunan musik lofi mengalir lirih di telinganya, seperti bisikan halus yang meninabobokan. Kesunyian ruangan terasa hidup dalam caranya sendiri, ditemani pemandangan salju yang turun perlahan, satu per satu, hinggap di dahan-dahan pohon yang kini nyaris telanjang. Dunia di luar tampak membeku dalam diam, sementara di dalam, kehangatan kecil itu menjaga Youngjae tetap terjaga.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima sore. Di luar sana sudah mulai gelap dan Dohoon juga belum kembali dari kegiatan perpisahan klub sepak bolanya itu. Youngjae masih berada di sini karena sang teman minta untuk ditunggu agar mereka pulang bersama nanti.
Di hari pertama masuk SMA, dunia terasa terlalu bising bagi Youngjae. Suara sepatu yang beradu dengan lantai koridor, tawa yang terlalu keras dari kelompok yang sudah saling mengenal, dan papan pengumuman yang penuh nama-nama asing. Ia berdiri agak terlalu lama di depan daftar kelas, membaca ulang baris yang sama, seolah berharap menemukan nama yang familiar. Tapi apa daya, dia baru pindah dari pinggiran kota. Tidak ada yang ia kenal di Seoul kecuali keluarganya, apalagi teman sebaya.
“Mencari nama siapa?”
Suara itu datang dari samping, ringan, nyaris seperti angin yang lewat. Youngjae menoleh dan menemukan seorang anak laki-laki dengan tas yang disampirkan sembarangan di satu bahu, rambutnya sedikit berantakan seolah tak pernah benar-benar tunduk pada sisir.
Kim Dohoon.
Ia menunjuk baris yang sama. “Kita sekelas.”
Sederhana. Tanpa basa-basi. Tanpa upaya menjadi akrab, bibir yang bergerak lucu tiap berceloteh entah apa karena Youngjae cukup kikuk untuk membuka ruang pertemanan baru.
Itulah pertemuan mereka yang pertama. Kesan pertama yang ia tahu, Dohoon cukup ramah dan friendly, namun semakin lama mereka semakin dekat, ternyata pemuda itu juga sebenarnya pemalu. Hanya saja, ia lebih memiliki banyak tenaga untuk mengusahakan agar lingkup pertemanannya lebih luas. Berbeda dengan Youngjae yang tertutup.
Persahabatan mereka tumbuh bukan seperti api yang menyala cepat, melainkan seperti cahaya pagi yang perlahan masuk melalui celah tirai di musim panas. Tidak terasa, tapi pasti.
Mereka mulai duduk berdampingan karena kebetulan, lalu karena kebiasaan. Dohoon yang selalu datang sedikit terlambat akan menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah Youngjae, nafasnya masih terburu, sambil berbisik, “Udah mulai belum?” dan Youngjae, tanpa menoleh, hanya akan menggeser catatannya sedikit ke kanan.
Di kantin, Dohoon akan mengambil kursi di hadapannya tanpa bertanya. Di perpustakaan, mereka akan memilih meja yang sama, meskipun seluruh ruangan kosong.
Seiring waktu, keberadaan satu sama lain menjadi sesuatu yang terlalu biasa untuk dipertanyakan, tapi terlalu penting untuk diabaikan. Dohoon tidak pernah protes karena Youngjae mungkin terlihat tidak ingin berteman, namun justru orang seperti Youngjae yang di cari karena ia tidak perlu banyak bicara untuk merasa nyaman. Youngjae tumbuh menjadi safe place-nya.
Ada hal-hal kecil yang tidak pernah mereka bicarakan, namun diam-diam mereka simpan.
Cara Dohoon selalu menunggu Youngjae merapikan buku sebelum benar-benar beranjak, meski ia sendiri tidak sabaran. Cara Youngjae menghafal jadwal latihan Dohoon tanpa pernah sekalipun menontonnya secara terang-terangan.
Cara mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh seakan ada jarak tak kasat mata yang mereka jaga bersama, dan di antara semua itu, tumbuh sesuatu yang lebih halus dari sekadar pertemanan. Sesuatu yang selalu mereka elak di hati masing-masing.
Teman-teman mereka, tentu saja, tidak sebuta itu untuk mengetahui apa yang berada jauh di dalam hati itu.
“Kalau kalian bukan pacaran, berarti kalian lagi nunggu apa?” suatu kali Shinyu berkomentar setengah bercanda, setengah penasaran saat kerja kelompok kimia di lab sekolah.
Dohoon hanya mendengus pelan, menggigit sedotan minumannya. “Nunggu lebaran monyet.”
Tawa pecah di meja itu, membuat Youngjae yang ada di kelompok lain pun ikut menoleh karena penasaran. Youngjae hanya menggeleng tipis, matanya turun kembali pada pipet tetes yang ia pegang karena tidak ingin terlalu tahu apa kelompok itu bicarakan.
Tidak ada yang bertanya lebih jauh karena dirasa itu bukan pembahasan yang nyaman untuk Dohoon, lagipula mereka tidak perlu konfirmasi apa apa karena semuanya sudah tau. Justru hanya Dohoon dan Youngjae yang mungkin berpura-pura tidak tahu.
Bukan karena tidak mengerti apa yang tumbuh di antara mereka, melainkan karena mereka terlalu mengerti. Persahabatan itu adalah sesuatu yang telah mereka bangun perlahan, dengan tangan yang hati-hati dan waktu panjang. Dan perasaan menginginkan lebih dari sebuah pertemanan terasa seperti sesuatu yang bisa meruntuhkan semuanya hanya dengan satu langkah yang salah. Tentu saja mereka pernah bertengkar karena hal-hal kecil untuk menyelaraskan apa yang mereka suka dan tidak suka, atau sekedar perbedaan pendapat. Pertengkaran yang membuat mereka mendiamkan satu sama lain sudah sering terlewati. Namun untuk perasaan yang itu, keduanya memilih untuk diam. Atau mereka yang menganggapnya untuk lebih baik diam. Memilih tetap berada di sisi satu sama lain, tanpa melangkah lebih jauh karena dirasa sudah cukup.
Salju di luar jendela semakin rapat, menutup pandangan lapangan sedikit demi sedikit. Youngjae membuka matanya kembali, napasnya mengembun tipis di udara hangat yang terasa semakin sunyi.
Dohoon belum datang.
Namun, seperti sejak hari pertama itu, tanpa perlu ia kirim pesan berulang, Youngjae tahu bahwa Dohoon akan tetap datang. Selalu begitu, dan mungkin, justru di situlah letak masalahnya. Ia jadi perlu menunggu lebih lama.
Ia menyandarkan punggungnya perlahan pada kursi, membiarkan lelah merambat seperti salju yang turun tanpa suara. Kelopak matanya turun sedikit demi sedikit, hingga pada suatu titik, kantuk mengambil alih tanpa izin. Kepalanya miring ke samping, jatuh begitu saja seolah tubuhnya tak dapat menahan beban itu.
Namun ia tidak pernah benar-benar terjatuh.
Pelipisnya berhenti pada sesuatu yang hangat, tenang, kokoh, dan diam-diam terasa akrab. Sejenak ia terdiam dalam batas antara sadar dan mimpi, sebelum akhirnya membuka mata. Di sana, tepat di tempat kepalanya bersandar, bahu Dohoon menunggu tanpa peringatan atau pun di pinta.
“Oh,” kedipan cepat menghalau sisa kantuk, Youngjae buru-buru menegakkan tubuhnya, meski jejak hangat itu masih tertinggal samar di pelipisnya. “Udah selesai?”
Dohoon tidak langsung menjawab.
Ia hanya menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat seperti seseorang yang menyimpan sesuatu yang lebih lucu daripada yang ingin ia akui. “Hmm,” gumamnya ringan, “Tapi kayaknya ada yang lebih sibuk tidur daripada nungguin.”
Youngjae mengerutkan kening, mencoba menjaga nada suaranya tetap datar karena entah kenapa ia sedang merasa sensitif sekarang. “Aku nggak tidur.”
“Oh ya?” Dohoon memiringkan kepalanya sedikit, menatapnya lebih dekat dari biasanya. “Baru aja kamu hampir ngorok di bahu orang.”
Youngjae terdiam sepersekian detik, lalu segera memalingkan wajahnya ke arah jendela. “Lebay.”
“Tersinggung?” tanya Dohoon, nadanya terlalu santai untuk seseorang yang jelas sedang menggoda.
“Enggak.”
“Berarti boleh di ulangin lagi?”
Kali ini Youngjae menoleh cepat, alisnya terangkat. “Jangan aneh-aneh.”
Dohoon tertawa pelan mendengar nada suara yang terdengar lirih karena malu-malu. Di dukung oleh pipi Youngjae yang memerah hingga ke telinga.
Perpustakaan itu tetap sunyi. Hanya ada suara pemanas ruangan yang berdengung lembut, dan sesekali bunyi halus salju yang menyentuh jendela. Rak-rak tinggi berdiri seperti penjaga diam, dan lampu-lampu hangat menggantung rendah, menciptakan dunia kecil yang terasa terpisah dari yang lain.
Dohoon melirik sekeliling. Tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua setelah seorang adik kelas keluar dan menutup pintu perpustakaan. Penjaga yang biasa pun sedang keluar sebentar saat Dohoon masuk. Mungkin ke toilet.
Ia kembali menatap Youngjae, kali ini lebih lama. Seolah sedang memastikan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak ingin ucapkan keras-keras.
Ini adalah hari terakhir mereka berada di tempat ini. Hari terakhir Dohoon mengenal Youngjae sebagai bagian dari dunia yang sama bernama SMA. Besok, waktu akan berganti wajah. Hari akan menyebut mereka dengan nama lain yang lebih dewasa, lebih jauh, dan entah bagaimana terasa asing namun tetap harus mereka hadapi.
Di sudut perpustakaan itu, di tempat yang selalu dipilih Youngjae seolah tanpa perlu dipikirkan, Dohoon duduk dalam diam. Maniknya tertuju pada sosok di sampingnya, menatap lekat dengan cara yang terlalu lama untuk disebut sekadar kebiasaan atau pertemanan. Ada sesuatu yang ia timbang dalam sunyi.
Pikirannya bergerak liar, berputar lebih cepat dari yang bisa ia kejar, seakan setiap kemungkinan saling bertabrakan tanpa jeda. Di tengah itu semua, jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. Lebih keras dan lebih keras, berlomba dengan keputusan yang belum sempat ia buat.
“Je,” panggilnya pelan.
Youngjae menoleh, sedikit waspada. “Apa?”
Jarak di antara mereka sudah tidak seperti tadi. Entah sejak kapan Dohoon bergeser lebih dekat. Cukup dekat hingga nafas mereka nyaris saling bersentuhan.
Entah sempat atau memang keinginan jauh di lubuk sana, Youngjae tidak mundur untuk menghindar. Sedangkan Dohoon menahan nafasnya nafasnya sejenak, kontras dengan degup jantungnya yang semakin berpacu. Matanya turun sekilas ke bibir Youngjae, lalu kembali naik, mencari izin yang tidak sampai di ucapkan. Mengerti jawaban itu hanya dengan bahasa tubuh.
Saat tidak ada penolakan, tidak ada gerakan menjauh, Ia bergerak dengan cepat dan ringan, seperti tidak sengaja melakukannya namun terlalu akurat untuk disebut seperti itu.
Ranumnya menyentuh bibir Youngjae dalam sebuah kecupan singkat dan ragu, dilapis kehangatan nyata diantara keduanya. Manik cokelat yang melebar terkejut menatapnya, wajah berangsur memerah bak kepiting rebus, genggaman yang ia lakukan mengerat di tangan sendiri. Dohoon tahu Youngjae juga merasakan yang sama dengannya. Rasa degupan jantung yang berdetak seperti hendak ingin keluar dari rongganya.
Ketika ia menjauh, jarak di antara mereka kembali ada namun terasa jauh lebih berbeda dari sebelumnya. Jika dideskripsikan itu terasa ringan, namun bukan ringan yang kosong. Lebih seperti sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya setelah lama dibiarkan menggantung.
Youngjae masih menatap Dohoon, matanya belum sepenuhnya kembali fokus, mencoba mencerna apa yang baru terjadi di otak jeniusnya yang mendadak tidak berfungsi.
“Kamu barusan—” suaranya berhenti di tengah, tidak selesai, seperti ia sendiri tidak yakin ingin menyelesaikannya atau tidak.
Dohoon mengusap tengkuknya pelan, tawa kecil keluar, tapi kali ini tidak ada nada menggoda di dalamnya. Lebih gugup dari biasanya. “Iya.”
“Iya itu maksudnya apa?” Youngjae akhirnya berhasil mengerutkan kening, meski pipinya belum juga kehilangan warna merahnya.
Dohoon menarik napas, dalam, lalu menghembuskannya pelan. Untuk sekali ini, ia tidak bersembunyi di balik candaan. Sudah jatuh di dalam pun sekalian basah, pikirnya.
“Iya…aku barusan cium kamu.”
Sunyi kembali turun di antara mereka, tapi kali ini berbeda. Tidak canggung, hanya terasa padat. Seperti udara yang penuh sesuatu yang belum sempat dikenali.
Youngjae menelan pelan. “Kenapa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cara ia mengucapkannya membuat Dohoon tersenyum tipis. Karena ia tahu, yang ditanyakan bukan alasan, melainkan keberaniannya. Dohoon menoleh sedikit, menatap jendela yang kini hampir sepenuhnya tertutup putih. “Karena kalau aku nggak ngelakuin sekarang,” katanya pelan, “Aku bakal kepikiran terus nanti.”
“Cuma itu?” Youngjae mengangkat alis, meski suaranya masih sedikit goyah, tidak puas dengan jawaban pemuda Kim itu.
Dohoon kembali menatapnya, kali ini lebih lurus dengan jeda dramatis yang dibuat. Atau setidaknya itu yang dirasakan Youngjae, padahal Dohoon luar biasa gugup. “Dan karena aku suka kamu.”
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada kata-kata berlapis. Justru karena itu, kalimatnya jatuh dengan lebih pasti tanpa keraguan sedikit pun. Tidak ada ungkapan ambigu yang bisa membuat Youngjae mengartikan ke arah lain.
Sedangkan Youngjae tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Dohoon lama, mencoba membaca sesuatu yang sebenarnya sudah ia pahami sejak lama, hanya belum pernah diakui.
“Harusnya kamu bilang dari dulu,” gumamnya akhirnya, suaranya pelan.
Dohoon tertawa kecil. “Harusnya kamu juga.”
Youngjae menghela napas pendek, lalu menggeleng. “Kalau gagal gimana?”
“Ya kita bakal awkward dan mungkin nggak akan kayak gini lagi seumur hidup,” jawab Dohoon cepat.
Youngjae menatapnya tajam.
Dohoon mengangkat bahu. “Atau…yahhh mungkin nggak. Kita kan udah pernah berantem lebih parah dari ini dan nanti bisa akting nggak terjadi apa-apa.”
Itu benar, dan entah kenapa kenyataan sederhana itu membuat bahu Youngjae yang sejak tadi sedikit tegang, perlahan turun. Ia melirik ke arah meja, lalu kembali ke Dohoon. “Sekarang gimana?”
Dohoon memiringkan kepala. “Kamu nyesel?”
Youngjae diam sejenak. Lalu, perlahan, ia menggeleng. “Enggak,” sahut Youngjae dengan cepat, seluk dalam hatinya juga merasa tidak perlu ada hal lain lagi yang ditahan. Dohoon juga harus mengetahui apa isi hatinya.
Dohoon tersenyum, kali ini lebih lepas. “Berarti…kita lanjut aja?”
“Lanjut apa?” Youngjae masih mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang, meski ujung bibirnya mulai mengkhianatinya untuk membuat lengkungan tinggi.
Dohoon sedikit mendekat lagi, tapi tidak terburu-buru seperti tadi. “Yah…yang tadi.”
Youngjae menatapnya beberapa detik, lalu mendengus pelan, hampir seperti menyerah. “Kamu selalu buru-buru.”
“Kalau sama kamu, aku kebiasaan nunggu,” balas Dohoon cepat. “Sekali-sekali aku duluan, nggak apa-apa kan?”
Ada jeda kecil sebelum Youngjae benar-benar menyadari kapan ia memutuskan, menggeser sedikit posisinya mendekat ke Dohoon, mendadak lupa kalau mereka masih berada di area sekolah.
“Ya…jangan buru-buru banget.”
Dohoon tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap Youngjae, memastikan, seperti tadi. Kali ini, Youngjae tidak mengalihkan pandangannya. Saat jarak di antara mereka kembali menghilang, tidak ada lagi keraguan yang sama seperti sebelumnya. Bukan lagi percobaan yang disengaja.
Namun, saat ujung hidung itu bersentuhan, suara pintu perpustakaan yang terbuka membuat keduanya menjauh secepat kilat. Jantung terasa mencelos dari rongganya takut-takut kalau ketahuan berbuat tidak senonoh. Youngjae terdiam kikuk, sedangkan Dohoon dengan cepat mengambil tasnya untuk disampirkan ke salah satu bahu, kemudian menarik tangan Youngjae untuk segera pergi dari sana, setengah berlari.
“Yah! Youngaje-ya!” seru Dohoon kala langkah itu semakin lebar menjauh dari komplek sekolah. Sore menjadi malam dimana trotoar sepi. Tentu saja, siapa yang mau berkeliaran di cuaca dingin seperti ini.
Setelah mereka agak jauh dari sekolah, Dohoon melepaskan genggaman yang sedaritadi masih menggandeng lengan Youngjae, kemudian tertawa kencang, kali ini benar-benar lega. Baik lega dari takut ketahuan, atau perasaan yang selama ini ia pendam akhirnya tersampaikan.
“Jangan begitu lagi di sekolah!” protes Youngjae dengan bibirnya yang dikerucutkan. Gemas dan lucu, membuat Dohoon kembali terkekeh pelan akan hal itu. Memberikan kata maaf pada Youngjae dengan simpul.
Mereka berjalan keluar berdampingan seperti biasa, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Salju masih turun dengan ringan dalam tiap langkah yang mereka ambil.
Dohoon menarik resleting jaketnya, lalu melirik ke samping. Tanpa banyak pikir, tangannya kembali mencari milik Youngjae. Mengaitkan jemari keduanya tanpa ada niat untuk dilepaskan.
Youngjae tidak protes. Ia hanya menyesuaikan langkahnya, sedikit lebih dekat. Dan untuk pertama kalinya sejak hari pertama mereka bertemu di depan papan pengumuman itu, tidak ada lagi yang perlu mereka tunggu.
“All those fights between us were worth a shot, right?”
- yojereun -
The End
