Work Text:
Keonho tak pernah menyangka akan datangnya hari dimana akhirnya ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Martin sudah berubah. Ke arah yang jauh lebih berbahaya. Ke arah yang buat dirinya ingin lari dan mengubur diri alih-alih harus mengakui bahwa kini, rasa sayang yang entah sejak kapan ada di dalam hatinya itu semakin tumbuh subur bahkan tanpa perlu ia beri pupuk.
Keonho harus akui, Martin memang selalu terlihat menarik baginya. Bagaimanapun, Keonho tidak buta. Perawakannya yang tinggi dan wajahnya yang selalu terlihat lembut dengan senyum yang tak pernah luput adalah salah satu dari begitu banyak daya tariknya. Pun, bagaimana Martin selalu dapat bawa senang di manapun yang ada dia di dalamnya selalu mampu buat hatinya menghangat. Martin memang begitu gampang untuk buat orang-orang jatuh hati. Keonho jadi kalang kabut sendiri.
Kali pertama Keonho sadar bahwa jantungnya berdegup dengan lebih kencang saat Martin ada di dekatnya adalah saat hujan dengan kejamnya membuat ia harus terjebak di rumah Seonghyeon malam-malam. Setelah berkutat dengan materi presentasi seharian. Ojek online yang dipesannya selalu gagal datang, katanya ini sudah larut dan hujannya terlalu deras untuk mereka mau menjemputnya. Seonghyeon pun tak bisa lakukan apa-apa mengingat jas hujan yang dipunyanya cuma satu pasang. Keonho cuma akan berakhir dengan basah kuyup jika Seonghyeon nekat mengantarnya pulang.
Lalu, entah darimana ide itu datang, tiba-tiba Seonghyeon sudah menelpon Martin dan memintanya untuk menjemput Keonho di rumahnya. “Apaan sih, Hyeon. Kenapa malah Kak Martin? Hujan deres begini kasihan dia. Mana udah malem juga.” Namun, Seonghyeon tetap mengabaikannya dan menjauh seraya melanjutkan pembicaraannya dengan Martin di telepon. Saat kembali, wajah Seonghyeon sudah diriasi dengan senyum lebar. “Orangnya udah di jalan, ya,” ucap Seonghyeon buat matanya membola dan panik menjalar di sekujur tubuhnya.
“Hah? Seonghyeon, bener-bener lo ya! Ah, bentar. Gue telepon dulu biar orangnya gak jadi kesini.” Buru-buru ia keluarkan ponselnya dan mendapati enam kali percobaannya tidak mendapat jawaban sama sekali. “Dibilangin udah di jalan, Keonho. Jangan ngeyel, deh. Lagian orangnya mau-mau aja.” Kini Seonghyeon sibuk tertawa sambil melontarkan segala gurau seperti, ‘Nanti di jalan jangan lupa peluk yang kenceng. Hujan gini pasti dingin, kan,’ dan semacamnya. Keonho yang waktu itu masih belum sadar akan perasaannya pun heran mengapa wajahnya perlahan memanas dan ia yakin warnanya sudah berubah jadi merah. Pada akhirnya, ia hanya bisa diam mengabaikan segala omong kosong yang keluar dari mulut temannya.
Saat akhirnya ia dengar suara deru motor yang berhenti tepat di depan rumah Seonghyeon, Keonho lagi-lagi heran kenapa jantungnya sekarang berdegup dengan kencang. Biasanya ia tak seperti ini. “Udah, sana keluar. Ngapain malah bengong?” ucap Seonghyeon sambil mendorong pelan tubuhnya. Kakinya ia bawa untuk melangkah menuju teras, dapati hujannya sudah berubah jadi rintik yang jauh lebih ramah sekarang. Martin menyambutnya dengan senyum hangat, buat pegangannya pada helmnya mengencang.
“Kak, makasih ya udah mau jemput Keonho. Beneran deh, daritadi pesen ojek gak ada yang mau ambil.” Seonghyeonlah yang bersuara pertama kali sambil membuka gerbang, sedang Keonho sibuk memakai sepatunya. “Iya, santai aja. Tadi hujannya emang deres banget sih, Hyeon. Jadi, emang gak heran kalau gak ada yang mau ambil.”
Sekarang, Keonho sudah berdiri tepat di samping Seonghyeon. Pandangannya jatuh ke arah manapun yang bukan Martin. “Hey, udah siap? Mau jalan sekarang?” Sial, segala upayanya untuk mengabaikan lelaki jangkung di hadapannya ini tetap akan gagal mengingat sekarang ia akan diantar pulang olehnya.
“Iya, udah siap. Sekarang aja, yuk, kak,” ucapnya yang dihadiahi anggukan dari Martin dan tangannya yang tiba-tiba menjulur untuk ambil alih helm yang semula ia genggam. Keonho yang terkejut pun hanya bisa mematung saat helm itu kini sudah terpasang dengan apik di kepalanya. ‘Anjir, Kak Martin ngapain sih makein gue helm segala?’ Dan jangan tanya bagaimana keadaan Keonho sekarang. Mukanya sudah semerah tomat, pun badannya kaku layaknya manekin di toko baju. Seonghyeon yang di sampingnya pun sama sekali tak membantu, senyum khasnya semakin melebar seraya pundaknya menyenggol-nyenggol tubuhnya pelan.
“Yuk, Keonho?” ucapan Martin barusan akhirnya dapat buat tubuhnya kembali bergerak. Ia mengangguk sebagai balas lalu dengan perlahan menaiki motornya. “Kita pulang sekarang ya, Hyeon,” ucap Martin. “Iya, kak. Sekali lagi makasih, ya. Hati-hati.” Setelahnya motor itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Martin nampak fokus dengan jalanan sedang Keonho masih sibuk menata hatinya yang sibuk jumpalitan.
“Nanti, kalau hujannya deres lagi kita stop buat pakai jas hujan ya? Gue ada bawa dua, tadi Seonghyeon bilang lo gak ada jas hujan,” ucap Martin mengisi keheningan. “Eh, iya kak. Makasih, ya. Maaf malah jadi ngerepotin gini guenya.” Dapat ia lihat Martin menggeleng, “Enggak ngerepotin sama sekali, Keonho. Gue malah seneng sih bisa jemput lo begini.” Ada tawa yang menguar di akhir kalimat buat tubuh dinginnya menghangat.
“Hah, gimana maksudnya, kak? Kok malah seneng?” Lagi-lagi Martin menggeleng, “Gapapa. Ya, seneng aja pokoknya.” Keonho tanpa sadar memutar bola matanya malas, “Kebiasaan deh, selalu gak jelas.” Tawa Martin kali ini meledak, entah apa yang lucu dari perkataannya barusan Keonho tidak mengerti. “Oh, iya. Kalau dingin boleh banget loh kalau mau peluk,” dan yang kali ini, perkataan Martin dapatkan pukulan yang lumayan kencang di pundaknya. “Diem deh, kak!”
Keonho bisa mati muda kalau begini. Kenapa hatinya ribut sekali padahal sudah sering Martin lontarkan perkataan yang semacam ini. Laki-laki ini memang hobinya tebar pesona. Namun, kenapa yang kali ini Keonho seperti hampir terjerat ke dalamnya?
Kali kedua adalah saat Keonho harus mengikuti susulan ulangan harian geografi sendirian di perpustakaan sepulang sekolah. Seharusnya, ada sang guru yang mendampinginya. Namun, barusan ia dapat kabar kalau beliau harus menghadiri rapat bersama dinas yang mengharuskannya meninggalkan Keonho sendiri dengan lembar kertas ulangan yang masih banyak sekali kosongnya. Keonho lupa belajar tadi malam, terlalu asyik memainkan game di ponselnya bersama Seonghyeon.
Sebenarnya, Keonho merasa sangat beruntung karena dengan absennya sang guru, ia dapatkan waktu yang tak terbatas untuk putar kepalanya dan cari jawaban untuk soal-soal di hadapannya. Masalahnya, kini sudah tiga puluh menit terhitung sejak pertama kali ia coba untuk kerjakan dan hanya sepuluh soal yang berhasil ia jawab. Masih ada tiga puluh soal lagi, enam di antaranya berupa hitungan tentang dinamika penduduk dan tetek bengeknya yang bahkan rumusnya tak dapat ia ingat. Kepalanya resmi memanas sekarang.
“Eh, Keonho? Ngapain di perpus sendiri?” Suara yang familiar itu sontak buat kepalanya mendongak temui Martin yang kini sudah berdiri menjulang di hadapannya. “Eh, kak. Ini ada susulan ulhar geo.” Martin mengangguk-angguk, lalu menarik kursi di hadapannya untuk mendudukan diri. “Kelihatan kayak yang stress banget gitu.”
“Ya, soalnya gue emang stress. Demi deh, ini soalnya susah banget. Gue mau muntah,” ucap Keonho sambil menjambak rambutnya buat Martin tertawa. “Geo doang ini, kecil,” mendengarnya, Keonho tak dapat tahan untuk buat matanya yang melotot sebal. “Kecil darimananya? Kalau kecil ini gue udah kelar daritadi kali.” Martin tersenyum, “Coba siniin kertasnya, gue mau lihat.” Keonho pun menggeser kertas di hadapannya. Martin langsung jatuhkan fokus untuk membaca satu persatu soalnya.
“Yaelah, ini beneran gampang, Keonho. Ini mah lo yang gak belajar, ya?” Dan Keonho bisa apa selain menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tampilkan cengiran khas anak badungnya. Martin hanya geleng-geleng kepala di buatnya lalu bangkitkan diri untuk pindah posisi duduknya jadi di sebelah Keonho. “Eh, lo mau ngapain, kak?” Keonho kaget saat dapat ia rasakan hangat yang menguar dari tubuh Martin yang kini jaraknya begitu dekat. Pun, indra penciumannya langsung dipenuhi bau wangi yang Keonho suka. Jantungnya lagi-lagi berdegup dengan cepat buat dirinya kelimpungan.
“Mau ngajarin lo. Ini masih banyak banget yang belum keisi, takut keburu di usir satpam.” Lalu, setelahnya keduanya sibuk ditelan berbagai macam bahasan soal. Beberapa kali Martin tertawa saat dapati Keonho yang berkali-kali ia terangkan bagaimana caranya untuk menghitung dan tetap saja temui salah di akhirnya. Juga tangan mereka yang tak sengaja bersentuhan saat akan mengambil kertas untuk coretan atau bergantian pulpen yang hanya satu untuk berdua buat hatinya berdesir aneh dan menghangat. Semuanya Keonho coba untuk abaikan saja.
“Nah, selesai deh akhirnya.” Tepat tiga puluh lima menit kemudian, lembar kertas itu sudah terjawab total. Keonho yang luar biasa senang tak dapat tahan dirinya untuk tak loncat dari kursi, “Makasih, kak. Makasih, makasih, makasih. Sumpah, ini kalau enggak ada lo habis gue. Enggak akan kelar ini.” Martin kini menarik dirinya untuk kembali duduk, lalu mengusak puncak kepalanya dengan lembut. Keonho dibuat mematung karenanya. “Iya, sama-sama. Makanya, lain kali tuh belajar.”
“Gue gak betah kak belajar gitu lama-lama. Otak gue pusing, bosen juga cuma ngadep buku,” ucapnya terus terang sembari berusaha menenangkan euforia yang terasa membuncah di dalam dirinya. “Kalau gitu, belajarnya sama gue aja. Kalau ada temen gak akan bosen, kan?” Keonho bersumpah jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak saat ia dengar ucapan Martin barusan. “Loh, bukannya kelas 12 udah harus fokus ya buat persiapan TKA sama UTBK? Kalau belajar bareng gue yang kelas 11 ini apa gak malah ganggu? Materinya kan udah beda juga?”
“Masih semester satu gini masih bisa santai kali. Lagian kan gue cuma nemenin belajar, sambil dikit-dikit ya ngajarin lo kalau lo ada bingung. Sisanya, gue bisa belajar materi gue sendiri. Jadi, gimana? Mau gak?” Keonho terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawaban apa yang harus ia berikan. Di satu sisi, ia merasa senang. Membayangkan sesi belajarnya yang akan menyenangkan karena kini ia punya teman. Pun, waktu-waktu yang akan ia habiskan bersama Martin dengan lebih banyak buatnya—sebentar, kok malah jadi kesana? ‘Anjir, Keonho. Lo mikirin apaan sih?’ sontak ia gelengkan kepalanya, berusaha mengusir segala pemikiran aneh yang menghinggapinya.
Namun, ia masih ragu. Atau lebih tepatnya sungkan. Ia takut kemampuannya dalam menyerap materi yang lamban itu akan menghambat sesi belajar bersama. Ia takut akan lontarkan begitu banyak tanya karena ia banyak sekali bingungnya. Ia juga takut akan perasaan aneh yang bersarang di hatinya ini akan buat ia bertingkah konyol di hadapan Martin saat waktu-waktu yang berjalan hanya diisi oleh mereka berdua saja.
“Keonho, gimana? Mau enggak? Kok malah bengong?” Lamunannya barusan langsung buyar saat ia lihat wajah Martin yang entah sejak kapan jadi sebegini dekat dengan wajahnya. Keonho yang kaget pun langsung memerah dan buru-buru menarik kursinya mundur, menciptakan jarak aman untuk segala hal yang buat perasaannya meresah. Dan entah apakah ia berhalusinasi atau memang raut wajah Martin berubah jadi lebih sedih saat ia saksikan Keonho yang menarik dirinya menjauh.
“Ah, iya. Soal itu, nanti gue pikir-pikir lagi deh, kak,” adalah jawaban yang akhirnya Keonho berikan. Dahinya berkerut saat matanya kembali membuat ilusi dan lihat wajah Martin yang semakin tertekuk sedih meskipun hanya sepersekian detik karena kini senyum lebarnya sudah kembali hiasi wajahnya.
“Oke deh kalau gitu. Nanti kabarin lagi aja ya lewat chat.” Hal itu berhasil buat Keonho terjaga semalaman, sibuk menimbang-nimbang jawaban antara iya dan tidak. Di antara bingungnya, masih terselip perasaan aneh yang buat hatinya berdebar saat ingat bagaimana tangan mereka bersentuhan di perpustakaan sore tadi. Bagaimana tangan Martin terulur untuk mengusak surainya gemas ketika dirinya kelewat senang saat akhirnya dapat selesaikan semua soalnya. Dan bagaimana Martin menatap dirinya dengan netranya yang pancarkan hangat pun senyumnya yang terpatri bahagia.
Perlahan tapi pasti, Keonho sadar akan perasaannya sendiri. Akan kemana arah hatinya ini pergi. Dan sadarnya ini buahkan hasil pada dirinya yang jadi takut setengah mati.
Kali ketiga adalah kemarin, saat Martin tiba-tiba mengajaknya pergi untuk menemaninya mencari buku di sebuah toko buku indie yang letaknya ada di gang sempit tengah kota. Keonho yang baru saja bangun dari tidur panjangnya di hari Sabtu sudah harus kelabakan saat dapatkan pesan, ‘Nanti temenin gue yuk ke Lucky Boomerang Bookshop. Sekitar jam 12 gimana? Soalnya dia tutupnya sore.’
Keonho langsung bangkit dari tidurnya, membalas dengan jawab iya, lalu berlari ke kamar mandi mengingat kini jarum jam sudah tunjukkan pukul setengah sebelas. Sisanya, ia habiskan waktu dengan sibuk menggonta-ganti pakaian mana yang cocok untuk dikenakan di harinya yang akan dihabiskan bersama Martin. Baru Keonho sadari bahwa tingkahnya ini sedikit aneh di bajunya yang ketiga. ‘Ngapain gue sebegininya deh? Perasaan tiap main sama Seonghyeon gue pake jaket sama sweatpants aja juga santai.’
Namun, hal itu tentu saja tidak membuatnya berhenti dari kegiatannya mengeluarkan separuh dari isi lemarinya, berusaha mencari pakaian terbaiknya. Meskipun kini di kepalanya muncul seribu satu pertanyaan yang jawabannya sudah sedikit banyaknya ia temukan setelah kejadian di perpustakaan beberapa minggu yang lalu. Mungkin ia memang jatuh hati. Mungkin Martin memang gampang sekali buatnya terjerat dalam pesonanya hingga buat Keonho susah lari. ‘Oke, Keonho. Sekarang bukan waktunya lo mikirin hal ini.’
Akhirnya, pilihannya ia jatuhkan pada kemeja flanel warna abu-abu yang ia padu padankan dengan celana jeans baggy-nya. Tak lupa ia kenakan kacamata, telalu malas untuk pasang lensa kontak yang selalu buat matanya kering. Menatap pantulan dirinya di depan kaca dan merasa puas, kini ia hanya tinggal menunggu kapan Martin akan datang. Dengan jantungnya yang berdegup dengan kencang tentunya.
Tiga puluh menit kemudian, ia sudah berada di atas motor Martin yang membelah padatnya jalanan hari Sabtu. Masih diawali dengan helmnya yang dipakaikan oleh Martin. Masih juga diakhiri dengan pipinya yang merona merah salah tingkah buat ia cepat-cepat naik ke motor untuk sembunyikan wajah. Sisa perjalanan pun hanya diisi dengan obrolan singkat. Banyaknya Martin yang memulai karena Keonho masih sibuk menenangkan isi pikirannya yang sibuk berputar pada satu kesimpulan: ia betulan jatuh cinta.
“Sampai, deh,” ucapannya barusan sukses buyarkan Keonho dari kusut pikirannya. Ia sampai-sampai tak sadar bahwa motor Martin sudah berhenti dan ia harus lekas turun sebelum situasinya jadi semakin aneh. Saat ia edarkan pandang, ia baru sadar, ini bukan toko buku. “Loh, kok malah di Circle K?”
“Iya, soalnya kan toko bukunya ada di dalem gang. Motor gak bisa masuk, harus titip parkir disini dan jalan sebentar kesana. Deket doang, kok. Gapapa, kan?” Keonho hanya mengangguk. Lalu, tiba-tiba tangannya sudah berada dalam genggam jemari Martin. Yang terasa lembut, yang terasa hangat melingkupi tangannya yang jauh lebih kecil. “Eh?”
“Lo kan gatau jalannya. Jadi, harus digandeng deh biar gak ilang.” Demi Tuhan, Keonho dapat rasakan jantungnya seakan-akan ingin melompat keluar. Suaranya tercekat di tenggorokan buat ia hanya bisa beri anggukan kecil dan mengikuti kemana Martin pergi. Susah payah ia abaikan rasa nyaman yang asalnya dari tautan tangan mereka berdua, akan senyumnya yang ia tahan agar tak semakin mengembang lebar bahagia.
Jika kesimpulan yang tadi muncul di dalam kepalanya masih dapat ia debat, yang satu ini tidak. Kini, ia benar-benar yakin, ia benar-benar paham, kalau dirinya memang jatuh cinta. Pada laki-laki yang sedang menggenggam tangannya hangat. Pada laki-laki yang selalu buat ia kelimpungan dengan afeksi tipis-tipis yang diberikan. Pada laki-laki yang namanya, Martin Edward.
Satu hal yang Keonho gagal pahami adalah bagaimana tangan mereka tetap bertaut bahkan setelah keduanya sampai di toko buku. Bagaimana tangan mereka hanya terlepas jika Martin memerlukan kedua tangannya untuk membuka buku yang menarik perhatiannya. Bagaimana tangan Martin selalu kembali seperti sela-sela jemarinya adalah rumah bagi jemari Martin untuk pulang. Keonho benar-benar gagal paham.
Kini, hari Minggunya dihabiskan dengan dirinya yang sibuk terlentang di atas kasur. Pandangannya jatuh ke langit-langit kamarnya, sedang pikirannya mengembara jauh meski porosnya masih saja di satu orang. Martin. Yang buat sisa hari Sabtunya berjalan dengan kacau karena segala perlakuan lembutnya mampu kirim sinyal bahaya ke dalam pikirannya.
Saat Martin dengan sabar menunggunya memesan makanan karena dirinya memang terlalu pemilih. Saat sayur di piringnya disingkirkan dan dipindahkan ke piringnya sendiri karena Keonho tidak suka tapi lupa memesan yang tanpanya. Atau saat tangan Martin dengan perlahan merapikan rambutnya yang berantakan setelah memakai helm di perjalanan. Semuanya buat sinyal bahaya terus muncul dan Keonho tidak suka.
Minggunya pun tak jauh berbeda kacaunya dengan Sabtunya. Ada belasan pesan dari Martin yang belum ia balas meski jam kirimnya sudah kedaluwarsa. Keonho tidak mengerti apakah tindakan yang judulnya ‘Menghindari Martin’ ini benar untuk dilakukan, intinya ia merasa aman. Ia masih belum sanggup harus kembali berhubungan dengan Martin jika perasaan yang baru ia temukan namanya ini—jatuh cinta—kemarin siang masih terasa meletup-letup. Ia harus temukan cara bagaimana untuk mengontrolnya karena yang ia tahu pasti, jatuh cintanya ini tak akan berakhir bahagia.
Keonho tahu betul bagaimana Martin yang memang selalu bersikap baik kepada semua orang. Hangat yang ia bawa itu memang terasa untuk semua teman-temannya. Dan disini, Keonho malah jatuh cinta. Harusnya kalau ia sudah tahu dariawal, ia lebih bisa menjaga perasaannya. Menganggap perilaku Martin sebagai hal yang biasa saja sesama teman dan bukannya malah sayang. Tapi, dasarnya Keonho yang kelewat bodoh. Sekarang, ia pula yang harus berurusan dengan perasaan rumit ini sendirian.
Ponsel di sebelahnya kembali berbunyi buat ia jatuhkan pandang untuk memeriksa siapa yang baru saja kirimkan pesan. Oh. Oh. Itu Martin. ‘Hey, kok gak bales chat gue sih dari kemarin? Halooo, Keonho kemana yaaa?’ Keonho menggerutu kesal saat ia merasa ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya, yang munculnya dari pesan yang ia anggap lucu. ‘Sadar, Keonho. Lo gak boleh naksir sama dia.’ Keonho putuskan untuk abaikan lagi pesannya. Persetan dengan keinginan membalasnya yang sama kuatnya, ia butuh ketenangan.
Sisa Minggunya ia habiskan dengan sibukkan diri bersama segala hal yang dapat ia lakukan. Membantu ibu membuat kue, ikut si kakak—James—pergi membeli dimsum, dan mengantar ayahnya membeli makan untuk burung-burung peliharannya. Ponselnya sengaja ia tinggalkan di meja. Pun, saat kembali dan dapati ada beberapa pesan baru yang asalnya masih dari Martin, ia masih pilih untuk tetap abai.
“Lo ngehindarin Kak Martin, ya?” adalah apa yang menyambutnya saat kakinya baru saja berjalan 3 langkah memasuki kelasnya. Lagi-lagi Seonghyeon dan mulutnya itu buat Keonho jadi kesal sendiri. “Ngomong apaan sih lo? Siapa yang ngejauhin? Gak ada tuh.” Keonho masih berusaha bersikap santai dan melanjutkan kakinya melangkah agar sampai ke tempat duduknya yang letaknya di pojok. Dalam hati, Keonho panik. Darimana Seonghyeon bisa tahu kalau ia memang menjauhi Martin?
“Halah, gak usah bohong deh. Semalem anaknya chat gue, kebingungan dia katanya lo gak bales chat-nya dari hari Sabtu. Kenapa sih, Keonho?” Dirinya yang kini sudah duduk manis di kursinya itu hanya menggeleng, lalu membuka ponselnya berusaha cari distraksi. “Lo gak kasihan apa sama dia? Beneran sedih dan bingung lho anaknya,” ucap Seonghyeon masih berusaha bawa Martin ke dalam pembicaraannya.
“Ya, gue lagi sibuk aja. Gak sempet pegang hp, jadi gak kebaca juga chat-nya,” ucap Keonho seadanya. “Dan gue harus percaya gitu sama omongan lo? Seorang Keonho yang gak bisa lepas dari hp tiba-tiba jadi manusia paling sibuk sampai hpnya gak kepegang? Lucu lo.” Keonho benci bagaimana Seonghyeon memang benar. Keonho juga benci bagaimana Seonghyeon dapat buatnya mati kutu dan tak mampu berikan jawaban yang lebih meyakinkan.
“Kan, gak bisa jawab. Kenapa, sih, Keonho? Cerita sama gue,” kali ini Seonghyeon berucap dengan lebih lembut buat Keonho rasa-rasanya ingin jujur saja dan menerangkan segala hal yang buat hatinya gundah sejak kemarin Sabtu. Namun, Keonho rasa sekarang bukan waktu yang tepat mengingat lima belas menit lagi bel akan berbunyi dan mereka harus keluar berbaris untuk upacara.
Keonho lagi-lagi hanya mampu menggeleng, “Nanti aja ceritanya. Ini bentar lagi kan mau upacara.” Ia banyak bersyukur saat Seonghyeon akhirnya menyerah dan tak lagi memaksanya untuk tuang segalanya. Meski Seonghyeon tetap berkata, ‘Beneran nanti lho, ya? Awas aja enggak jadi cerita. Gue dorong lo ke kelasnya Kak Martin sekalian,’ buat Keonho jadi ngeri sendiri.
Seninnya berjalan dengan sedikit melelahkan. Ada banyak sekali upaya yang ia lakukan agar dirinya tidak berpapasan dengan Martin. Seperti saat upacara yang sialnya buat baris kelasnya dengan kelas Martin berdekatan. Keonho harus menempelkan dirinya di balik tubuh temannnya yang lebih tinggi agar badannya tak kelihatan dari radar Martin. Atau seperti saat istirahat yang buat ia harus berjalan memutar ambil jalur yang lebih jauh daripada harus melewati kelas Martin yang berada dekat dari kantin itu.
Keduanya sulit dilakukan karena ia sadar akan bagaimana netra Martin yang berusaha mencari Keonho di barisan. Matanya seperti menelisik satu-satu, mencari di celah mana Keonho berusaha sembunyikan dirinya dan menghindar. Keonho juga sadar akan tubuh tinggi menjulang yang sibuk bersandar di tembok area belakang kantin, lagi-lagi berusaha mencari dimana dirinya berada. Yang satu ini dapatkan hadiah dari mata mereka yang sempat bersitatap sepersekian detik sebelum akhirnya Keonho buru-buru pergi dengan nasi yang belum sempat ia beli.
“Gila lo ya, gue belum sempet beli es teh woy. Kenapa udah ditarik keluar kantin aja?” pun juga dihadiahi dengan omelan dari Seonghyeon yang hanya mampu membawa pulang nasi goreng dan kerupuk di tangannya. “Loh, lo juga belum beli apa-apa? Gimana, sih? Ayo balik lagi ke kantin,” tangan Seonghyeon sudah bergerak untuk menarik pergelangan tangannya namun ia kalah cepat. Keonho duluan menarik tangan Seonghyeon untuk duduk di kursi seraya menyodorkan botol minumnya. “Udah, lo minum ini aja. Gue gamau kalau harus balik ke kantin.”
“Sumpah, lo aneh banget, Keonho. Kenapa sih sebenernya?” Seonghyeon masih luapkan kekesalannya yang kali ini agak mereda karena fokusnya sudah ganti dengan bungkusan nasi goreng di hadapannya pun botol minum Keonho yang ia terima senang hati.
“Tadi ada Kak Martin,” jawab Keonho pelan. Netra Seonghyeon sontak melebar, buru-buru ia telan nasi di mulutnya. “Tuh, kan, bener. Lo emang lagi ngejauhin Kak Martin,” Keonho hanya bisa menjawab dengan cengiran khasnya, bingung harus mengelak bagaimana lagi jika separuh dari persoalannya sudah ia jabarkan. “Gamau tahu, lo harus cerita sekarang. Istirahatnya masih lama, masih keburu. Ayo, buruan.”
“Dih, kok maksa?” kesalnya. “Gue gamau aja kalau gara-gara kalian yang lagi begini tuh persiapan kita buat tampil di Market Day jadi keganggu, Keonho. Tinggal bulan depan.” Sial, Keonho betulan lupa akan hal itu. Ia juga lupa kalau hari ini akan ada latihan di studio kecil yang sudah Martin sewa di dekat rumahnya. Keonho tak mungkin bisa menghindar mengingat dia adalah vokalisnya. Sia-sia segala usahanya untuk kabur-kaburan dari Martin hari ini.
“Gue juga kasihan lihat Kak Martin sedih semalem. Dia beneran sampai tanya ke gue, apa dia ada salah sama lo atau gimana. Dia bingung, Keonho. Katanya, Sabtu siang kalian masih baik-baik aja. Kenapa tiba-tiba lo berubah dan ngejauhin dia gitu?”
Ingin rasanya Keonho datangi Martin dan katakan yang sebenarnya. Mengatakan bahwa ini semua bukan salahnya melainkan salah Keonho sendiri. Ia yang terlalu bodoh, yang terlalu mendamba kasih sayang hingga buat ia jatuhkan hati. Ia yang ketakutan setengah mati akan perasaannya dan sedang berusaha cari jalan yang dapat membawanya keluar dari labirin rumit hatinya sendiri. Ada perasaan bersalah dan tidak suka yang merayapi saat Keonho sadar akan dirinya yang jadi alasan mengapa Martin menyalahkan dirinya sendiri.
“Gue suka sama Kak Martin,” ucap Keonho lirih. “Iya, terus?” balas Seonghyeon terlalu tenang. Sebentar, ini bukanlah reaksi yang Keonho bayangkan akan keluar belah bibir Seonghyeon. “Bentar. Kok lo gak kaget, sih?” Kali ini, wajah Seonghyeonlah yang berkerut heran. “Kenapa harus kaget? Gue udah tahu kali kalau lo suka sama Kak Martin dari dulu.” Hah, gimana? Kenapa Seonghyeon bisa bilang begitu? Ia suka Kak Martin dari dulu? Ia saja baru sadar akan perasaannya sendiri kemarin Sabtu.
“Hah, dari dulu? Hyeon, gue aja baru sadar gue suka sama dia kemarin Sabtu. Makanya, gue takut dan menghindar.” Seonghyeon yang sudah selesai menyantap nasi gorengnya itu kini pusatkan seluruh fokusnya pada Keonho. “Berarti lo yang telat sadarnya, Keonho. Dan ngapain takut, deh? Gak paham gue sama lo.”
“Telat sadar gimana, sih? Gue yang gak paham sama lo kali.” Seonghyeon hanya berdecak malas, “Keonho, the way you’ve looked at him since the first day you met him says it all. You look at him like he’s the one who hung moon in the sky atau apa deh kata qoutes-quotes yang di tiktok itu.”
“Ya mungkin awalnya lo emang cuma kagum sama Kak Martin, secara dia emang keren sih. Tapi, makin kesini perasaan kagum lo itu berubah, gak cuma sekedar kagum lagi. Lo suka sama dia, Keonho. Lo mau tahu gak hal apa yang bisa buat gue sadar kalau perasaan lo itu udah berubah?” Keonho mengangguk pelan.
“Lo inget sore-sore waktu kita semua nunggu Kak Martin buat dateng ke studio tapi sampe malem dan jam sewanya habis tapi dia masih belom dateng juga?” Ingatannya kembali pada hari Sabtu yang kalau bisa ingin sekali Keonho hapus dari ingatannya. “Tiba-tiba dia ngabarin kalau dia kecelakaan dan tangannya retak buat dia gak bisa dateng ke studio.” Oh, Keonho mual sekali mendengarnya.
“Lo langsung nangis, Keonho. Lo kalang kabut, panik, dan nyeret kita semua buat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan pun lo gak bisa berhenti nangis sampai gue sama Kak Juhoon bingung harus pakai cara apa biar lo bisa lebih tenang.” Keonho masih betul-betul ingat akan dirinya yang menangis sepanjang perjalanan. Isi kepalanya penuh dengan bagaimana kondisi Martin saat itu. Bagaimana kecelakaannya bisa terjadi dan kenapa parahnya sampai buat tangan Martin retak.
“Lo mungkin bisa bilang kalau lo begitu ya karena khawatir sama temen lo aja. Tapi, gak, Keonho. Gue yang temen lo dari SMP aja pas gue nabrak pohon mangganya Pak Tono lo gak nangis anjir. Lo malah ngetawain gue,” Seonghyeon berdecak kesal. Keonho tidak bisa untuk menahan tawanya yang kini pecah. Sedikit banyak berterimakasih pada Seonghyeon dan hiburannya di sela-sela gundahnya.
“Darisitu gue udah mulai mikir sih, ‘Wah, ini anak naksir Kak Martin deh kayaknya’. Dan pemikiran gue semakin di dukung sama lo yang makin kesini makin perhatian sama Kak Martin. Lo yang selalu salah tingkah di deketnya Kak Martin padahal Kak Martinnya juga enggak ngapa-ngapain,” tangannya otomatis bergerak untuk menepuk bahu Seonghyeon pelan begitu mendengarnya. “Aduh, apaan sih? Gue kan ngomong fakta.”
“Tapi, gue sama sekali gak sadar kalau gue suka sama dia, Hyeon. Gue baru mulai sadar waktu—gatau deh tiba-tiba gue kayak deg-degan terus tiap ada Kak Martin. Puncaknya ya kemarin Sabtu ini. Gue yang tahu kalau gue suka sama Kak Martin jadi takut sendiri, Hyeon.”
“Takut gimana? Takut sama apa coba?” tanya Seonghyeon. “Ya, takut sama semuanya? Hyeon, gue harusnya sadar kalau Kak Martin emang begitu ke semua orang. Dia kan emang baik dan perhatian. Gak seharusnya gue malah jadi suka begini,” Keonho mengaku dengan lemah. “Gue takut gue gak bisa kontrolnya dan malah buat Kak Martin gak nyaman. Gue takut gue bakalan ngerusakin pertemanan ini, Hyeon.”
“Kenapa lo harus takut sama hal yang belom pasti terjadi? Sama hal-hal yang cuma ada di pikiran lo sendiri?” Keonho terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Because i don’t want to lose him. He brings so many good things into my life, Hyeon. Gue banyak senengnya sama dia dan gue gamau kehilangan itu semua. Gue takut Kak Martin ngejauhin gue kalau dia tahu tentang ini and that’s why gue akan ngejauhin dia dulu sampai gue tahu gimana caranya buat kontrol perasaan gue. Kalau perlu sampai perasaan ini hilang aja sekalian.”
“Dan lo tahu darimana kalau dia pasti bakalan ngejauhin lo kalau dia tahu tentang ini? Itu semua sumbernya dari kepala lo, Keonho. Belum tentu bener.” Ada tawa hambar yang menguar darinya, “Kalau bener, gimana?” Seonghyeon mendengus sebal, “Terserah lo deh. Gue gak bisa maksa lo juga kan harus gimana-gimananya? Cuma gue gamau aja sih lo nyesel di akhir karena lo kalah sama rasa takut lo sendiri itu.”
“Maksudnya?” Benar-benar, deh. Seonghyeon harus banyak menelan sabar karena punya teman seperti Keonho. “Ya lo coba inget-inget sendiri deh, sama lo bandingin kalau perlu, gimana perlakuan Kak Martin ke lo sama ke kita. Kalau masih gak paham, enggak ngerti lagi deh. Gue angkat tangan.”
Sisa Seninnya ia habiskan dengan banyak termenung. Materi yang disampaikan guru di depan kelasnya tak pernah sampai ke kepalanya yang kini sibuk memutar perkataan Seonghyeon siang tadi bak kaset rusak. Sebenarnya, ada satu cabang pikiran yang muncul di kepalanya. Yang buat ia takut dan pilih untuk abaikan itu. Ia takut banyak berharap. Takut akan terluka oleh angan-angannya sendiri. Karena, mana mungkin seorang Martin juga jatuhkan hati kepadanya, kan?
Bel pulang sekolah yang biasa Keonho sambut dengan sukacita kini hanya dapat beri lemas pada tubuhnya. Grup chat yang berisikan empat orang itu—Martin, Juhoon, Seonghyeon, dan dirinya—sudah ribut sedari tadi membahas akan tempat dimana mereka harus bertemu sebelum akhirnya berangkat bersama menuju studio.
“Yuk, kita udah ditungguin nih sama mereka di warung Pak Jaya. Lo gak bawa motor, kan? Bonceng gue kayak biasanya berarti, ya?” Keonho cuma bisa mengangguk lemah dan melangkahkan kakinya gontai menuju parkiran kelas 11. Pun, saat motornya dilajukan dan kembali berhenti tepat di samping motor Martin dan Juhoon, Keonho masih sibuk menundukkan kepalanya. Ia berusaha dengan berbagai cara untuk hindari Martin sekarang.
“Ini mau langsung ke studio atau makan dulu? Masih ada setengah jam lagi, sih. Gue emang ambil jam sewanya start jam setengah lima,” ucap Martin. “Kalau makan dulu aja gimana? Biar latihannya lebih fokus juga kan kalau perutnya udah keisi,” Juhoon menanggapi. Seonghyeon pun turut mengangguk setuju, “Boleh, deh. Mau makan dimana emangnya?”
“Mau makan dimana, Keonho?” Namanya yang disebut tiba-tiba oleh laki-laki yang berusaha ia hindari seharian itu mampu buatnya terkejut. “Eh, apa? Gimana? Kok malah tanya gue?” Juhoon tertawa mendengarnya yang sibuk berucap dengan terbata-bata. Martin tersenyum, “Mau makan dimana, Keonho? Yang lo bisa makan dan doyan.” Martin dan segala perhatiannya. Keonho jadi paham mengapa namanya tiba-tiba disebut dan dimintai pendapat. Martin tahu betapa sulitnya ia dalam memilih makanan dan Martin maunya Keonho tidak kesusahan sekarang.
“Oh, gimana kalau ayam geprek yang deket studio aja? Gue pengen ayam saus mentainya,” yang langsung disetujui oleh Martin dan segera mimpin jalan untuk mereka semua menuju kesana. Meskipun setelahnya Keonho masih berusaha untuk hindari segala interaksi dengannya. Bahkan saat Martin langsung mengambilkan sendok di meja dekat kasir karena Keonho tidak suka jika makan langsung pakai tangan. Atau saat Martin menyingkirkan kubis dan timun dari piringnya. Keonho masih mengabaikan semuanya. Tetap menunduk dan hanya mengucapkan terima kasih dengan singkat. Pun, Keonho sibuk abaikan bagaimana hatinya yang menghangat, kupu-kupu yang beterbangan memenuhi dadanya, dan bagaimana tatapan Martin yang seakan enggan lepas darinya. Semuanya buat Keonho hampir gila.
Setelahnya, mereka kembali lajukan motornya menuju studio. Ruangan gelap bernuansa coklat dengan lampu kuning temaram dan temboknya yang dilapisi peredam itu biasanya jadi tempat yang buat Keonho merasa nyaman. Namun, dengan sosok Martin yang masih berusaha membuat Keonho mau berbicara dengan dirinya, nyaman itu tak lagi dapat Keonho rasakan.
“Berarti ini udah fiks, ya? Kita bawain empat lagu. Dua di awal, dua di akhir,” semuanya langsung mengangguk setuju. “Lagu yang masih susah di lo yang mana, Keonho? Biar kita fokus latihan hari ininya ke lagu itu dulu.” Lagi-lagi dirinya yang dimintai pendapat. “Kok tanya gue doang, kak? Gimana yang lain?”
“Iya, ini nanti gantian juga, kok. Hari ini fokus sama lagu yang bikin lo susah dulu. Next session, baru ganti ke yang lain. Bisa Seonghyeon, Juhoon, atau gue. Begitu seterusnya, semuanya kebagian.” Baru setelah itu, latihan benar-benar di mulai. Mereka gunakan waktu dua jam yang mereka sewa dengan sebaik mungkin. Beberapa kali, Seonghyeon mengacau dengan tempo bassnya. Atau Martin yang telat pindah ke chord selanjutnya. Dan Juhoon yang mengeluh tangannya pegal karena ada satu lagu dari My Chemical Romance yang mereka pilih untuk bawakan.
Sementara, Keonho, kacau yang beberapa kali muncul dari dirinya berasal dari tatapan Martin yang terasa berat padanya. Saat lirik dari lagu Tulus yang bunyinya, ‘Ini semua bukan salahmu, punya magis perekat yang sekuat itu,’ dan bisa ia lihat Martin berikan ia sebuah tatapan yang kalau boleh ia beri nama sebagai cinta itu buat bibirnya tiba-tiba kelu dan tak lagi dapat keluarkan suara. Berkali-kali, Keonho menggerutu dalam hati. ‘Fokus, Keonho. Dia kan biasanya juga begitu. Kenapa lo jadi kepedean kalau Kak Martin suka sama lo juga?’
Sesi latihan itu pun di akhiri saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh kurang lima belas menit. “Oke, guys. Segini dulu deh latihan buat hari ini,” ucap Martin mengakhiri. “Tolong diinget buat hari ini, Keonho jangan tiba-tiba suka berhenti lagi ya di tengah-tengah lagu, ya. Seonghyeon juga, jangan lari dari tempo. Buat Juhoon, semangat deh ngegebukin drumnya pas MCR nanti. Gue juga bakal berusaha cepetin lagi pindahin jari-jari gue. Emang agak kewalahan kita di lagu yang satu itu.” Buat semuanya mengangguk setuju dan mulai mengemasi barang bawaan mereka.
“Keonho,” panggil Martin tiba-tiba buat semuanya seolah berhenti. Seonghyeon di depannya sudah tersenyum dan cepat-cepat menyuruh Juhoon untuk keluar dari studio bersamanya. Tolong ingatkan Keonho untuk memukul Seonghyeon setelah ini.
“Eh, iya. Kenapa, kak?” jawab Keonho pelan. “Boleh gue minta waktunya sebentar? Gue cuma mau obrolin beberapa hal yang gue rasa emang ngeganjel di antara kita.” Mampus, Keonho ingin lari rasanya. “Boleh-boleh aja, sih, kak. Tapi, gue pulangnya sama Seonghyeon. Jadi, gak bisa lama-lama. Takut dia nungguin gue.”
Martin hanya mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya dan mengetikkan entah apa disana. “Gue udah chat Seonghyeon dan suruh dia duluan aja,” Martin kini mengangkat ponselnya sejajar dengan mata Keonho buat Keonho sontak menganga karena tidak ada lagi hal yang bisa jadi alasannya melarikan diri sekarang. “Oke,” Keonho menyerah.
“Ngobrolnya disini aja gapapa, kan? Masih sisa banyak juga waktu rent-nya,” ucapan Martin barusan sanggup buat Keonho bingung. “Loh, bukannya selesai jam setengah tujuh, ya? Ini aja kita harusnya udah keluar, soalnya udah lebih,” Keonho barusan melihat jam di ponselnya, setengah tujuh lewat sepuluh. “Hehe, sebenernya gue rent ini gak cuma dua jam sih. Emang udah diniatin mau ngobrol disini sama lo.” Mata Keonho sontak membola, pun ritme jantungnya yang tambah cepat sebab perkataan Martin barusan sangat di luar praduga.
“Wah, berarti ini gue kayak dijebak dong?” dan segala sesuatu yang keluar dari mulutnya hanya asal bicara saja. Sebuah usaha untuk tutupi rasa bersalahnya yang buat Martin sampai harus sebegininya karena Keonho sibuk bersembunyi darinya, juga sedikit harap dapat cairkan suasana.
“Kalau gak begini lo bakalan kabur terus dari gue.” Martin lalu berjalan ke arah sofa yang letaknya di ujung ruangan, mendudukan dirinya disana sedang Keonho masih setia berdiri di dekat pintu ingin lari keluar. “Duduk sini, Keonho. Kita obrolin semuanya. Gue gak suka kalau harus nebak-nebak sendiri salah gue ada dimana,” lalu Keonho bisa apa selain menurutinya?
“Jadi, kenapa lo tiba-tiba ngehindar? Chat gue enggak ada yang lo bales. Awalnya gue kira lo kecapekan aja, jadi lupa. Eh, Minggunya gue chat ulang juga gak di jawab,” Martin langsung menerangkan duduk masalahnya pinta penjelasan. Dari nada bicaranya dapat Keonho dengar terdapat sirat sedih yang buat hati Keonho semakin runyam. Ini semua salahnya.
“Tadi, di sekolah juga. Lo setiap lihat gue kayak yang mau lari. Gue ada salah apa, Keonho? Please, bilang ke gue. Jangan malah kayak gini,” nada bicaranya semakin lirih buat benang-benang di kepala Keonho semakin kusut. Martin sudah sampai begini, kalau Keonho cuma mau lari tanpa beri penjelasan yang berarti, itu sama saja seperti dirinya yang tidak menghargai. Namun, jika ia harus jujur dan mengungkapkan segala hal yang ia rasakan, Keonho masih belum siap pada konsekuensi yang akan datang secara bersamaan. Menjadi jujur memang mematikan. Menaruh hatinya untuk dibaca oleh Martin dengan gamblang terlalu menakutkan.
Keonho menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mulai bicara, “Lo gak ada salah sama sekali, kak. Malah gue rasa semua salahnya ada di gue.” Keonho lihat raut wajah Martin yang berubah tunjukan sebuah tanda tanya. “Maksudnya?” Menjadi jujur memang mematikan. Namun, jika ia harus menahan perasaannya lebih lama lagi terasa jauh lebih menyesakkan. So, he’s just gonna ruin the friendship.
“I like you, that’s why i’m avoiding you. Gue baru sadar kalau ternyata gue punya perasaan ini ke lo, kak. Yang intensinya beda, gak lagi kagum cuma-cuma ke temen aja. Because i want you as more than just a friend and that scares me.” Ada tawa yang ia paksakan untuk keluar, yang harusnya jadi sebuah pertanda bahwa ini hanya percakapan ringan dan bukannya sebuah obrolan yang buat hatinya terasa sakit. Sayangnya, gelak yang keluar malah terdengar hambar. Buat Keonho merasa dirinya terdengar sangat menyedihkan sekarang.
“Gue takut gue gak bisa jaga perasaan ini. Gue takut gue gak bisa simpen sendiri dan bayangan kalau suatu saat nanti lo tahu cuma bikin segalanya makin kelihatan menakutkan buat gue, kak,” lanjutnya. Martin masih setia mendengarkan, kini bahkan dapat ia rasakan tatapannya melembut seolah beri ketenangan.
“Gue takut gue bakalan ngerusak pertemanan kita. Gue takut lo bakalan ngejauhin gue. I really don’t want to lose you, kak. Makanya, kemarin gue ngehindar tuh karena gue lagi cari cara gimana biar perasaan gue ini lebih bisa gue kontrol. Maaf gue malah bikin lo jadi nyalahin diri sendiri gitu.”
Ada hening jatuh di antara keduanya. Keonho sibuk menundukkan kepala, malu karena baru saja memberikan hatinya untuk Martin baca. “Keonho,” namanya mengalun dari belah bibir Martin dengan halus. “Kenapa lo harus takut sama semua hal yang adanya cuma di kepala lo sendiri? Kenapa lo gak tanya ke gue dulu gimana perasaan gue daripada bikin skenario gak jelas yang buat lo sakit hati?” yang satu ini mampu buat Keonho angkat kepalanya.
“Hah?” Martin tersenyum, tangannya menjulur untuk menangkup tangan Keonho di dalamnya. “I like you too—No, i love you. I’ve loved you ever since i’ve known you, Keonho,” ada kelembutan dan banyak kasih sayang yang terselip di celah-celah kata yang Martin ucap barusan.
Keonho dapat rasakan pipinya memerah dan jantungnya berdegup kencang sekali sampai ia ingin muntah. Kalau ini mimpi, Keonho tak pernah ingin bangun lagi. Meskipun Keonho yakin ini bukankah salah satunya karena semuanya terasa begitu nyata. Martin tetap setia menatapnya dengan penuh cinta dan yang Keonho inginkan hanyalah sembunyikan wajahnya pada ceruk leher Martin karena ia salah tingkah.
“Semua skenario jelek di kepala lo gak akan terjadi karena gue juga sayang sama lo. So, no. You’re not gonna lose me. If anything, you’re stuck with me now.” Untuk kali ini saja, biarkan pikiran Keonho yang ambil kendali. Sebab, tanpa ia sadari, kini wajahnya benar-benar sudah bersembunyi dan cari hangatnya di ceruk leher Martin. Si empunya hanya tertawa, bawa tangannya untuk mengusap lembut punggungnya. Ia merasa sangat kecil dalam pelukan Martin.
“Tiba-tiba banget meluk?” kini tangan yang satu pindah untuk mengusap surai hitamnya. “Diem, aku malu.” Sebuah kekehan kecil lolos dari bibir Martin karenanya, “Oh, udah pakai aku kamu nih ceritanya?” Keonho tak dapat tahan keinginannya untuk menjambak rambut Martin. “Ah, sakit, sayang.” Pun, Keonho tak dapat tahan gejolak senang di hatinya saat mendengar panggilan itu diperuntukkan olehnya. Keonho semakin jatuh cinta.
Mereka bertahan di posisi yang sama—Keonho yang kini berakhir dalam pangkuan Martin, sedang Martin sibuk berikan usapan lembut juga beberapa gurau canda untuk hasilkan tawa dari Keonho—sampai durasi sewa studio habis. Setelahnya, mereka berdua bangkit dengan Keonho yang sibuk memalingkan dirinya agar tak bertemu dengan wajah Martin saat malunya kembali meningkat mengingat ia yang sudah bersikap begitu manja kepada yang lebih tua.
“Ini kenapa lagi kok daritadi kayak yang gamau lihat aku gitu?” tanya Martin dengan nada menggoda. “Kak Martin kalau gak bisa diem aku pulang sendiri ajalah,” ucapnya sambil mempercepat langkah kakinya menuju parkiran. “Eits.” Namun, agaknya ia lupa bahwa Martin punya tinggi yang di atas rata-rata sehingga usahanya jadi sia-sia belaka. Pergelangan tangannya di raih, lalu jemarinya lagi dan lagi berhasil temukan rumah di sela jemari Keonho.
“Inget gak tadi aku bilang apa?” Keonho hanya bisa menggeleng, gagal paham apa maksud Martin. “You’re stuck with me now, kecil. Kamu gak bisa kemana-mana. Jadi, pulangnya harus sama aku juga.” Dan agaknya ia juga lupa kalau Martin adalah orang yang paling jago gombal sehingga perkataannya barusan buat Keonho kembali salah tingkah. “Diem, deh! Dasar jelek! Nyesel aku suka sama kamu.”
Tawa Martin di buat meledak sebelum akhirnya mereda dan tawarkan, “Ini mau langsung pulang atau mampir-mampir dulu?” Keonho berpikir sejenak buat ia ingat akan satu kemauannya, “Kalau mampir ke toko es krim yang deket Gramedia itu dulu gimana? Aku pengen es krimnya yang pake waffle itu dari kemarin,” yang dapatkan sebuah anggukan tanda setuju dari Martin. Karena, siapalah Martin untuk bisa menolak permintaan dari kesayangannya?
Hari Seninnya yang Keonho pikir akan berakhir dengan ia yang kembali habis di makan pikirannya—sibuk mencari cara agar perasaannya ini hilang—ternyata salah besar. Keonho sama sekali tak menyangka, kalau salah satu dari banyaknya hari yang dibencinya ini akan diakhiri dengan dirinya yang menyantap es krim coklat dengan waffle rasa matcha berdua bersama Martin. Laki-laki yang ia pilih untuk labuhkan hatinya. Laki-laki yang mulai sekarang akan jadi hal penting di hidupnya. Laki-laki yang akan ia sayangi dalam kurun waktu yang Keonho harap selamanya.
