Work Text:
Saat itu Eom Seonghyeon dan Ahn Keonho ada di kelas yang sama—tujuh dua.
Namanya juga baru lulus sekolah dasar, jadi rasanya wajar kalau kelas mereka selalu ribut lima menit sebelum guru masuk, buku paling belakang mereka penuh coretan, dan suara tawa mereka lebih sering terdengar daripada suara guru yang menjelaskan.
Dan di tengah semua itu, ada Keonho. Dia sudah mencuri perhatian sejak minggu pertama. Ia terlalu mudah mengobrol. Selalu ada cerita tentang hal-hal yang bahkan tidak ditanyakan. Tentang kemarin sore, tentang guru yang salah menyebut nama, tentang hal yang tiba-tiba terlintas di kepalanya. Dan anehnya, anak-anak di kelas selalu mendengarkan. Entah karena ceritanya memang lucu atau karena cara Keonho menyampaikannya membuat semua cerita itu terasa lebih hidup.
Hampir setiap hari guru harus menegurnya.
“Keonho, bisa duduk yang bener?”
“Keonho, dengerin dulu!”
Sedangkan Seonghyeon kebalikannya. Wajahnya datar, ekspresi juga ketus. Karena itu banyak yang mengira ia galak. Padahal sebenarnya dia hanya tidak suka basa-basi. Itu saja.
Sampai suatu saat tidak ada siapa pun yang bisa Keonho ajak bicara, termasuk teman sebangkunya yang sedang tidur nyenyak. Keonho memutar tubuhnya ke kursi belakang, senyum lebar ia berikan.
"Nama kamu siapa sih? Aku lupa."
“Sean.”
“Pendek amat jawabnya.”
"Emang harus panjang? Aku Eom Seonghyeon."
Keonho tertawa. "Ngak harus kok! Aku Ahn Keonho. Tapi kamu pasti sudah tau."
Seonghyeon menatapnya datar. “Iya. Kamu kan paling berisik.”
Dan begitulah awalnya, cuma dari dua anak yang kebetulan duduk berdekatan dan sama-sama tidak suka suasana canggung.
Di kelas tujuh, Seonghyeon mendaftar eskul basket. Ia rutin latihan, dikenal lumayan jago dalam mengumpan dan membaca pergerakan teman setimnya. Keonho masuk klub renang yang berada tidak jauh dari sekolah.
Awalnya mereka memang teman. Teman yang saling pinjam pulpen. Teman yang saling mengobrol lewat kertas saat pelajaran mulai membosankan. Teman yang duduk bersebelahan saat ada kerja kelompok.
“Kamu ngerti matematika tadi?” tanya Keonho suatu hari.
“Ngerti.”
"Ajarin aku, dong! Aku kurang ngerti."
“Makanya lihat kalau guru nerangin, kamu jangan ngobrol terus.”
Teman sebangku Keonho tertawa mendengarnya. Seonghyeon mendengus, tapi tetap menjelaskan. Dan Keonho benar-benar mendengarkan.
Beberapa minggu berubah menjadi bulan. Tanpa mereka sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil mulai terbentuk. Sebelum Seonghyeon bersiap untuk eskul, ia akan memberi Keonho satu susu stroberi, dan mereka selalu pulang bersama jika ada waktu. Keonho senang diperlakukan seperti itu. Mereka pulang naik sepeda. Terkadang Keonho dijemput ayahnya, dan Seonghyeon hanya bisa melambaikan tangan.
Teman-teman mereka mulai sadar.
“Cie, Keonho nungguin siapa tuh?”
“Seonghyeon tuh jutek tapi sama kamu beda ya?”
Keonho tertawa. “Apa sih.”
Seonghyeon biasanya memutar mata.
Lalu suatu sore, sepulang sekolah saat mereka berjalan untuk mengambil sepeda yang terparkir, langit masih sangat terang dan gerbang belum terlalu ramai, Seonghyeon berjalan sedikit lebih lambat.
“Keonho.”
“Hm?”
“Kalau aku bilang aku suka kamu, kamu bakal ketawa, ya?”
Keonho berhenti melangkah, hening menyelimuti beberapa detik.
"Hah? Suka aku? maksudnya?"
Seonghyeon menggaruk tengkuknya. “Iya, suka. Nyaman. Suka itu kayak… kamu seneng aja kalau ada orang itu.”
Keonho menatapnya cukup lama sampai rasanya Seonghyeon ingin menarik ucapannya.
“Ooh. Terus kalau aku suka kamu juga, kita ngapain?” tanya Keonho bingung.
Aduh, Seonghyeon rasanya ingin pingsan sekarang juga melihat wajah temannya ini.
“Ya… ngelakuin sesuatu bareng-bareng?”
“Tiap hari kan kita bareng.”
Seonghyeon menggeleng cepat. “Jauh lebih sering.”
Keonho mengangguk setelah berpikir. “Ya udah.”
“Ya udah apanya?”
“Ayo kita ngelakuin sesuatu bareng-bareng lebih sering!”
Begitu saja. Pacaran mereka paling cuma makan bareng di kantin. Paling cuma ngobrol panjang saat istirahat. Paling cuma saling ejek dengan sedikit lebih lembut dari biasanya.
Cinta monyet, kata orang-orang. Tapi di usia yang baru menginjak tiga belas tahun, apa lagi yang dibutuhkan selain seseorang yang selalu hadir di sebelahmu setiap hari?
Seonghyeon mulai berani mengajak Keonho bermain di taman kota—tidak jauh dari rumah Keonho, tapi lumayan jauh dari rumahnya sendiri. Dan Seonghyeon tidak keberatan sama sekali.
Tanpa mereka sadari, hubungan yang dimulai dari candaan anak Sekolah Menengah Pertama itu, yang seharusnya hanya sebentar saja, justru bertahan lebih lama dari yang pernah mereka rencanakan.
Hampir lima tahun hubungan itu berjalan.
Bukan lagi hubungan yang canggung seperti dulu. Hubungan mereka sudah melewati ulang tahun bersama, ujian kenaikan kelas, pertengkaran kecil yang tidak jelas apa alasannya, sampai malam-malam panjang yang dipenuhi percakapan tidak penting. Tak terhitung berapa banyak topik yang sudah mereka bahas. Dari hal receh seperti guru eksak yang menyebalkan, sampai percakapan serius tentang mau jadi apa saat dewasa nanti.
Mendaftar di Sekolah Menengah Atas yang sama rasanya seperti kelanjutan yang wajar, walaupun mereka berada di kelas yang berbeda. Kadang Seonghyeon menjemput Keonho, kadang mereka hanya sempat bertemu sebentar di parkiran.
Kenaikan ke kelas sebelas membuat mereka semakin berubah. Mulai banyak yang selalu mereka lakukan. Bermain skateboard di taman kota, menonton film saat hari libur, mencoba makanan yang sedang terkenal di media sosial, sampai menginap di rumah Keonho.
Lingkaran pertemanan mereka juga semakin melebar. Dan yang pasti, semua teman dekat mereka tahu bagaimana hubungan itu berjalan. Lima tahun. Lima tahun berarti sudah saling hafal kebiasaan. Sudah kenal nada suara mana yang berarti lelah, mana yang kesal, mana yang hanya pura-pura baik-baik saja.
Seonghyeon semakin jatuh cinta pada basket. Latihannya semakin sering, waktunya semakin padat saat mendekati turnamen. Sedangkan Keonho berubah pelan-pelan. Klub renang mulai jarang ia datangi. Bukan karena letaknya lebih jauh dibandingkan saat SMP, tapi saat ini ia menemukan hal lain yang berhasil membuat matanya jauh lebih berbinar. Musik datang seperti sesuatu yang tiba-tiba mengisi ruang kosong yang sebelumnya tidak ia sadari.
Dan Keonho ternyata punya suara yang bagus. Awalnya hanya ikut-ikutan. Tapi lama-lama, ia mulai diajak menjadi vokalis tetap di band sekolah.
Seonghyeon mendengarkan semua ceritanya. Selalu. Tapi ada jarak tipis yang tak terlihat. Mereka memang seperti biasa. Masih memposting kebersamaan mereka di sosial media. Masih mengobrol saat istirahat kalau sempat. Seonghyeon terkadang memberi susu stroberi.
Tapi, karena beda kelas dan kegiatan, waktu mereka tidak lagi sebanyak dulu. Masing-masing punya kesibukan yang semakin serius. Dari situ, pelan-pelan muncul ruang kosong kecil yang tidak langsung terlihat. Ruang yang nantinya bisa diisi oleh siapa saja. Dan mungkin, dari situlah semuanya mulai berubah.
Namanya Martin Edwards.
Kelas dua belas. Gitaris band sekolah.
Keonho dekat dengan semua anggota band, karena ia mudah bergaul, mudah membuat suasana menjadi hidup. Namun, Edwards berbeda. Ia memuji Keonho tanpa ragu, terus menerus, seolah tidak pernah kehabisan alasan untuk menyebut Keonho berbakat.
Dan untuk pertama kalinya, Keonho merasa dilihat dengan cara yang berbeda. Perasaan itu asing, tapi menyenangkan.
Latihan band mereka jadi semakin sering dilakukan. Tidak lagi hanya setelah sekolah, kadang mereka menyewa studio sampai sore, kadang sampai malam kalau mereka diundang untuk tampil.
Awalnya, Seonghyeon masih menunggu. Lalu ia mulai berhenti saat pesannya dibalas lebih lama. Telepon semakin jarang diangkat. Waktu bersama mulai terasa seperti sesuatu yang harus dijadwalkan, bukan lagi kebiasaan. Dan mereka tidak pernah benar-benar membicarakan hal itu. Seolah-olah selama tidak diucapkan, semuanya masih baik-baik saja.
Malam itu, Seonghyeon tak bisa menunggu lagi. Ia mengambil jaket, menyambar kunci mobil, dan keluar tanpa banyak berpikir. Jalanan sudah sepi ketika ia menyalakan mesin. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, tapi pikirannya jauh lebih riuh dipenuhi hal-hal yang tidak ingin ia akui.
Ia tidak peduli bahwa jam menunjukkan hampir tengah malam. Besok hari libur, seharusnya mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi Keonho sama sekali tak membalas pesannya.
Jadi Seonghyeon memutuskan datang saja. Ini bukan pertama kalinya ia tiba-tiba muncul di rumah Keonho. Biasanya Keonho akan tertawa, lalu menyuruhnya masuk dan mereka tidur bersama sampai matahari terbit.
Sesederhana itu.
Ia sudah hampir sampai ketika sorot lampu mobilnya menangkap dua sosok. Mobilnya melambat. Lalu berhenti.
Keonho.
Dan Martin Edwards.
Seonghyeon tidak langsung turun. Ia hanya diam menatap. Seolah kalau ia cukup lama melihat, adegan itu akan berubah. Atau hilang. Atau setidaknya terasa tidak seburuk ini.
Tapi tidak ada yang berubah.
Edwards mengatakan sesuatu, Seonghyeon jelas tidak bisa mendengarnya, tapi ia bisa melihat bagaimana Keonho tersenyum.
Beruntung Seonghyeon membawa mobil yang lain, Keonho jadi tidak sadar bahwa ia datang. Ponsel di saku celana ia ambil, jemarinya dengan cepat mencari kontak kapten basketnya.
“Kenapa? Kalo mau minta maaf karena main lo jelek mulu dari kemaren, mending gue matiin deh. Gue udah bilang kalo ada masalah pribadi jangan dibawa ke lapangan.”
Seonghyeon diserbu rentetan kalimat. Suara seseorang di seberang terdengar kesal.
“Kak... lo masih sama Martin, kan?”
Hening sebentar.
“Lo nelpon buat nanya ginian doang? Anjing lo ya, gue udah putus dari bulan lalu sama si Edwards itu!”
Telepon langsung diputus sepihak.
Seonghyeon mungkin akan jauh lebih lega jika kapten basketnya—Juhoon, masih memiliki hubungan dengan Martin Edwards. Setidaknya ia bisa berpikir semuanya hanya sebatas urusan band.
Tapi ternyata tidak. Dan dadanya terasa semakin sesak.
Ia tidak bergerak. Mesin mobil masih menyala, lampu depan redup menerangi jalan. Dari kejauhan, Seonghyeon melihat Edwards akhirnya menaiki motornya. Suara mesin terdengar pelan sebelum akhirnya menjauh, meninggalkan jalanan yang kembali sepi. Seonghyeon tetap di tempatnya. Tak lama, Keonho berbalik lalu masuk ke dalam rumah tanpa menyadari bahwa seseorang memperhatikannya sejak tadi.
Baru setelah itu Seonghyeon menjalankan mobilnya pelan, ia berhenti tepat di depan rumah Keonho, namun tidak langsung turun. Matanya menatap halaman rumah yang kosong. Tidak ada tiga mobil yang biasanya terparkir rapi di sana.
Artinya, hanya ada Keonho di rumah. Jemarinya mengetuk pelan setir mobil. Lalu ia meraih ponsel, membuka kontak kakak Keonho, dan mengirim pesan singkat.
Izin nginep ya, Kak.
Tidak lama, balasan masuk. Seperti biasa juga, ia diizinkan tanpa banyak tanya. Mereka percaya padanya. Selalu percaya. Keluarga Keonho sudah terbiasa dengan kehadiran Seonghyeon. Ia sopan, tahu batas, dan entah sejak kapan rumah itu juga terasa seperti tempatnya sendiri.
Seonghyeon akhirnya membuka gerbang perlahan dan masuk mobil lagi untuk parkir. Ia diam sebentar setelah memakirkan mobil, tak yakin dengan apa yang ia lakukan. Tapi apa peduli, ia sudah sampai di sini. Maka ia harus turun sekarang.
Udara malam terasa dingin, tapi tidak cukup untuk meredakan sesuatu yang berisik di dalam dadanya. Ia menutup gerbang kembali tanpa bunyi, kakinya tidak ke arah pintu utama, karena itu sudah pasti dikunci. Langkahnya menyusuri sisi lain dari rumah satu lantai yang sangat luas itu.
Ia berhenti di satu titik. Jendela kamar Keonho. Seperti yang Seonghyeon pikirkan. Tidak dikunci. Senyum tipis nyaris tak terlihat muncul di wajahnya.
Bodoh.
Keonho terlalu percaya diri dengan tembok rumahnya yang tinggi. Siapa sangka, malam itu justru Seonghyeon yang memanfaatkannya.
Ia tidak mengetuk. Jendela besar itu ia dorong pelan. Tidak ada suara keras, hanya gesekan kecil yang nyaris tak terdengar. Ada celah yang cukup untuk dirinya, lalu ia masuk begitu saja.
Pemandangan pertama yang dilihat matanya adalah Keonho bertelanjang dada. Baru selesai mandi, rambutnya sedikit berantakan, atasan piyama yang akan dipakai masih tergenggam di tangan.
“Hah?!”
Matanya langsung membesar saat melihat sosok di depan jendelanya.
“Kamu ngapain?!”
Seonghyeon menutup jendela di belakangnya, lalu mengunci dengan santai.
“Kenapa kamu masuk dari situ?!” suara Keonho naik satu oktaf.
“Biasain kunci jendela, kalo ada orang lain yang masuk tapi bukan aku gimana?”
Seonghyeon... memang, apa bedanya orang lain dan kamu?
Keonho ingin membalas, tapi kata-katanya terhenti karena Seonghyeon tiba-tiba berjalan mendekat. Dan sebelum Keonho sempat bereaksi apa pun—Seonghyeon menariknya ke dalam pelukan.
Erat. Sakit. Sesak.
Keonho benar-benar tidak siap. Pelukan yang Seonghyeon beri bukan sekadar erat. Itu menekan seluruh tubuh Keonho. Seolah Seonghyeon benar-benar takut melepas. Seolah kalau ia melonggarkan sedikit saja, Keonho akan hilang dari pandangan matanya. Keonho mencoba bergerak, tapi cengkeraman di pinggangnya justru semakin kuat. Napas Seonghyeon tidak teratur, hangat tapi terlalu dekat. Dan sebelum Keonho sempat benar-benar memproses semuanya, Seonghyeon mulai bergerak.
Diciumnya pipi Keonho. Sentuhan singkat yang cepat, tapi datang bertubi-tubi.
“Stop dulu,” Suara Keonho melemah, antara bingung dan terkejut. Tapi Seonghyeon tidak berhenti. Gerakannya melambat.
Dari pipi turun ke rahang. Semakin rendah. Napasnya semakin terasa di kulit Keonho. Seonghyeon berhenti sesaat, tapi pelukannya tidak longgar. Justru semakin kuat dan tidak mau memberi jarak.
“...sebentar aja,” suaranya rendah. Hampir seperti permohonan walaupun lebih terdengar seperti perintah.
Keonho menegang. Ia takut. Ia tidak mengenali sosok Seonghyeon yang seperti ini. Tangannya juga masih diam, tidak tahu harus mendorong atau justru membalas pelukan itu. Dadanya naik turun tidak teratur, napasnya tersendat karena jarak mereka yang terlalu dekat.
“Seonghyeon—”
Kalimatnya terputus. Karena Seonghyeon bergerak lagi. Ia melepaskan pelukan dan mendorong Keonho mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai bagian belakang lutut Keonho menyentuh kasur. Lalu jatuh terduduk tanpa sempat menahan.
“Pake bajunya.”
Keonho dengan cepat memakai atasan piyama yang masih tergenggam erat di tangan.
“Cantik banget, sayang...”
Bukan salah Keonho jika pipinya semerah delima hanya karena Seonghyeon menatapnya memakai baju dengan binar yang bertebaran di mata, seolah ia adalah lukisan langka yang tak boleh disentuh sembarang orang.
Seonghyeon naik ke kasur. Lalu Ia menarik Keonho untuk menjatuhkan seluruh badannya. Kini posisi mereka berbaring dengan tangan Seonghyeon memeluk pinggang Keonho. Jarak mereka nyaris tidak ada, napas mereka saling bertabrakan di udara yang sama.
Jantung Keonho rasanya berdetak terlalu kencang. Seonghyeon menatapnya dalam. Seolah sedang mencari sesuatu, atau memastikan sesuatu itu masih ada.
“Aku... boleh nggak kalo aku minta kamu buat jaga jarak sama Kak Edwards. Boleh?”
Jantung Keonho seperti berhenti satu detik.
“Maksud—”
Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Seonghyeon menariknya erat ke dalam pelukan, ia menyembunyikan kepalanya ke leher Keonho. Rasanya sesak karena Seonghyeon meremat pinggangnya.
Tangannya yang sempat kaku akhirnya bergerak, menahan bahu Seonghyeon pelan, mencoba memberi jarak walaupun sulit.
“Sean... kamu kenapa sih?” suaranya lebih pelan sekarang.
Seonghyeon diam beberapa detik. Napasnya masih berat. Keonho mulai merasa bergidik saat lehernya diberi cium dan digigit pelan.
Seonghyeon sialan. Itu pasti akan meninggalkan bekas.
“Aku liat kamu tadi,”
Tubuh Keonho langsung menegang. “liat apaan?”
“Kamu sama dia?”
“Itu cuma-”
“Cuma apa?” potong Seonghyeon cepat. Kali ini ia mengangkat wajahnya, menatap mata Keonho langsung. “Cuma nganterin balik?”
Nada suaranya tidak meledak, tapi Keonho mengerutkan kening. “Ya emang. Kita abis dari studio, terus dia nganterin aku pulang. Kenapa sih?”
Seonghyeon menarik napas panjang, lalu tertawa kecil. “Kan ada aku, sayang. Aku bisa jemput kamu, lho. Lagian ini udah malem banget. Kamu sekarang lebih sering sama dia daripada sama aku.”
Keonho langsung menghela napas. “Nggak juga. Kamu lebay.”
Dari banyaknya kata yang tadi Seonghyeon ucapkan, yang terakhir mengusik ego Keonho.
“Nggak apanya?” Seonghyeon menatapnya tajam. “Chat aku kamu bales berapa lama? Terus telepon aku kamu angkat kapan terakhir?”
Keonho terdiam sebentar, itu cukup lama untuk jadi jawaban. “Aku sibuk, Seonghyeon,” katanya akhirnya. “Kamu juga sibuk, kan?”
“Beda.”
“Apa yang beda sih?" nada Keonho mulai naik. “Aku nggak ninggalin kamu.”
“Tapi rasanya kayak gitu.”
“Terus kamu maunya apa? Aku harus gimana?”
Seonghyeon benci jika Keonho menyudutkannya. Ia hampir lupa jika kekasihnya ini keras kepala, tidak mau kalah, dan ingin merasa paling benar setiap bertengkar dengannya. Tapi sekali lagi, Seonghyeon selalu menyanggupi itu.
“Kamu jangan terlalu deket sama dia, itu aja.”
“Dia kan temen band aku.”
“Ya aku tau.”
“Ya terus?”
Seonghyeon tidak langsung menjawab. Ia bisa saja bilang banyak hal. Tentang cara Edwards melihat Keonho. Tentang bagaimana Keonho tertawa tadi. Tentang perasaan tidak enak yang sejak tadi bergemuruh di dadanya. Tapi saat ia melihat wajah Keonho sekarang. Matanya yang sedikit sayu. Rambut yang masih basah. Dan bahunya yang lemas.
Seonghyeon berhenti.
Keonho mengusap wajahnya kasar. “Udah ya, aku capek.”
Itu bukan nada merasa bersalah. Dan di situ Seonghyeon sadar. Keonho tidak sedang minta dimengerti karena dia salah. Dia sudah terlalu lelah untuk memperpanjang percakapan ini.
Seonghyeon menatapnya, lalu napas panjang keluar pelan. “…iya.”
Keonho mengernyit, seperti tidak menyangka responnya secepat itu.
“Ya udah,” lanjut Seonghyeon, “Nggak usah dilanjutin.”
“Aku nginep ya.”
Seonghyeon berdiri dari kasur, melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Gerakannya santai, seolah tidak ada apa-apa yang baru terjadi di antara mereka. Keonho memperhatikannya sebentar. Lampu kamar sudah Seonghyeon matikan. Mereka sama-sama berbaring di kasur yang sama seperti puluhan malam sebelumnya.
“Sean,” panggil Keonho pelan.
“Apa?”
“Good night.”
Seonghyeon menatap langit-langit kamar dalam gelap. “Hm.”
Tidak ada kata maaf dari Keonho. Tidak ada penjelasan apa pun.
Kasur sedikit bergeser saat Keonho mengubah posisi, membelakangi Seonghyeon. Lalu, tanpa banyak suara, Seonghyeon mendekat. Lengannya menyelinap ke pinggang Keonho, menariknya pelan sampai tubuh mereka benar-benar dekat. Tidak erat seperti sebelumnya.
“Tidur,” gumamnya pelan sebelum Keonho mengucapkan sesuatu apa pun yang sebenarnya tidak ia pedulikan.
Keonho akhirnya tidak bergerak lagi. Napas Seonghyeon jatuh pelan di tengkuknya. Wajahnya sedikit diturunkan, hidungnya menyentuh rambut Keonho.
Pelukan itu tetap ada sampai Keonho benar-benar tertidur lebih dulu, sementara Seonghyeon masih terjaga beberapa saat lebih lama. Ia menatap kosong ke depan. Tepat pada cermin di hadapannya. Ia bisa melihat pantulan mereka berdua, mata Keonho yang tertutup, serta wajahnya yang tanpa ekspresi apa pun.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, memeluk Keonho tidak terasa seperti pulang.
