Work Text:
“Mas Na...”
“Dalem, Ibuk. Pripun?” Nakula menghampiri tempat perempuan paruh baya tersebut duduk santai di teras depan rumah mereka, mengambil tempat duduk di sisi kanannya.
“Mas Na sekarang sudah umur berapa?”
“Lho, Ibuk lupa to? Nangis lho mas ini.”
Kekeh halus menjadi balasan dari rajukan yang diutarakan.
“Jawab dulu, Mas...”
“Tahun ini 21, Ibuk. Ada apa to buk?”
Jerat khawatir selimuti hati saat menyadari angka itu masih cukup lama untuk terwujud. Harap melambung agar sang ibu tetap berada di sisi saat hari ulang tahunnya yang ke-21.
“Wah dah tua ya kamu mas. Dah dewasa belum tuh?” Ibuk tersenyum jahil, tahu betul sifat anaknya yang sangat mudah digoda.
“Sudaaah, Ibuk. Dah kuliah lho mas tuh, ish!”
“Hahahaha, iyaa nak. Jadi sudah bisa Ibuk ajak bicara serius ya, mas?” jeda hadir, buat rasa tak nyaman mengisi ruang di antaranya, “Mas Na kan dari kecil selalu tanya mengenai Bapak...”
“Itu dulu, Ibuk. Sekarang mas cuma mau fokus sama Ibuk saja.” potong Nakula cepat, jelas menghindari topik yang sang ibu coba hadirkan.
Hangat hadir di punggung tangan Nakula, genggaman erat diberikan, seolah permintaan untuk didengar disampaikan telak tanpa kata yang terucap meminta.
“Ibuk selalu bilang ke mas, 'Bapak masih kerja, belum bisa pulang', begitu kan?” Nakula mengangguk dalam diam, “Ibuk gak bohong loh mas. Memang Bapak kamu meninggalkan kita demi pekerjaannya di luar negeri. Tapi itu bukan karena keinginan Bapak sepenuhnya. Ada banyak hal, tapi ngga bisa Ibuk jelaskan.”
Duduknya mulai tak nyaman, namun Nakula tetap diam, karena Ia tahu sang ibu masih belum selesai.
“Ada banyak sekali yang ngga bisa Ibuk ceritakan, tapi satu hal yang Ibuk mau kamu tahu, mas...” jemari yang mulai terlihat tanda penuaan mengusap lembut punggung tangan sang pemuda, buat senyum tipis hadir secara alami pada wajah eloknya yang terbingkai surai sewarna langit.
Namun secepat senyum itu hadir, hilangnya pun tak kalah singkat.
“Bapak ngga pergi sendirian, mas. Dia bawa Sadewa, anak Ibuk, kakak kembar kamu.”
Seketika, segala pertanyaan dalam 20 tahunnya hidup terjawab.
Rasa marah, sedih, bahagia, yang selalu hadir tanpa sebab dalam hidupnya yang datar.
Dirinya yang kerap terjatuh sakit saat tubuhnya dalam kondisi terbaik.
Hingga kerinduan entah pada siapa tertuju yang terus dirasakan setiap harinya.
Bukan karena dirinya yang memiliki kondisi tertentu. Bukan pula wujud halusinasi aneh seperti yang beberapa temannya katakan. Hanya raga dan jiwanya yang terus merindu separuhnya untuk bersatu.
Namun belum selesai Nakula menata perasaannya dari seluruh informasi baru yang diterima, suara lembut Ibuk kembali menyampaikan kabar yang buat dirinya terdiam.
.
.
“Dua hari lalu Ibuk dikabarin, dia bakal ke sini bulan depan.” “H—hah, siapa buk?” “Sadewa, nak. Dia akhirnya dibolehkan ketemu Ibuk sama kamu.”
.
.
Hela napas keluar kala Nakula mengingat kembali percakapannya dengan sang ibu. Kini dirinya duduk di salah satu cafe bandara, menunggu sang kakak, sosok yang baru dirinya ketahui eksistensinya tepat satu bulan lalu.
“Touched down.”
Sebuah notifikasi pesan baru di layar ponsel pintarnya yang entah kenapa membuat degup jantung Nakula kian cepat.
Pesan itu diabaikan karena Nakula sudah mengabari posisinya lebih dulu. Pun Ia lebih memilih menyesap teh panasnya untuk menenangkan diri.
Degup jantung tak kian kembali normal, berulang kali mengatur napas sembari memejamkan mata adalah hal terbaik yang terpikirkan olehnya.
“Hey, um— Nakula, right?”
Suara berat itu seolah berusaha menghancurkan segala usaha Nakula. Terlebih uluran tangannya yang tepat berada di hadapan saat Ia membuka mata, buat jantung Nakula seolah meronta ingin keluar dari tubuhnya.
Gugup setengah mati. Dicampur rasa yang tak dapat Ia artikan. Entah senang, bingung, canggung, Nakula tak dapat menggambarkannya. Ia menyadari dirinya terlihat bodoh saat ini.
“I—iya halo, mas.” uluran tangan disambut, hangat genggaman mengalirkan rasa seolah mendesak air matanya keluar. Tatap mata tak berani dibawa beradu agar pertemuan pertama tidak menjadi kenangan Nakula menangis cengeng di depan sang kakak.
“Hm? Mas? Kita kembar, seumuran, Nakula.”
“Kata Ibuk, kamu kakak aku, Mas. Di daerah sini, kembar pun tetap dianggap kakak adik.”
“Oh, okay then. Pleasure to meet you, Adek.”
Selama 20 tahun hidup, ini pertama kalinya Nakula dipanggil seperti itu. Rasanya aneh. Tapi Nakula menyukainya.
.
.
Pada akhirnya, Nakula tetap menangis, dan Sadewa justru menjahilinya. Tangis dicampur tawa. Mereda saat raga direngkuh erat dengan kekeh geli bersuara berat hadir di dekat telinga. Isak menghilang terganti gumam. Kekehan berganti kata menenangkan. Momen pertemuan pertama yang nantinya akan dikenang puluhan tahun lamanya. Buat Nakula kesal membayangkan tawa Sadewa setiap saatnya.
“Mas Dewa, thank you for coming here. Punya saudara itu salah satu impianku sejak kecil.”
“Iya, adek. Terima kasih sudah mau ketemu mas, ya.” bisik Sadewa, diikuti telapak tangannya yang bergerak perlahan di punggung Nakula, “sudah nangisnya, kita masih di cafe, remember?”
“Ish! Yowes to mas, wong aku yo gak pengen nangis gini, malu!”
“Uh— itu artinya apa, dek?”
“Arghh, mboh! Ayok pulang, ibuk nungguin!” merah menjalar di wajah elok Nakula, wujud rasa kesal bercampur malu saat kelepasan mengomel di depan si surai hitam kuning, sang kakak yang baru pertama kali ditemuinya.
“Kamu ini, pantas aku kadang tiba-tiba mau nangis, terus berubah cepat jadi kesal, ternyata karena kamu ya dek.”
“Bawel! Ayo buruan ih, mas lama, kutinggal.” sungut Nakula, seraya langkahnya bergerak cepat menjauh, sebelah tangannya sibuk mengusap air mata, sembari membawa salah satu tas milik Sadewa.
Buat senyum hadir di wajah tegas Sadewa saat melihat tingkah dan perkataan Nakula yang seolah bertolak belakang.
“Hahaha galaknya. Mas kan gak tau jalan, jangan ditinggal, dong.”
“Ya makanya ayo!”
Langkah Sadewa berubah menjadi lari, memotong jarak raga keduanya, pun tawa lepasnya mengikis tumpukan rindu yang kini memiliki tujuan.
“I'm glad you're my twin brother, Nakula Nalendra.”
“Hmph, as you should, Sadewa Sagara.”
.
.
— fin.
published with write.as
