Chapter Text
“Katanya bisa gesek-gesek juga biar enak.”
Seungmin gagal menyembunyikan senyumnya mendengar kalimat barusan diucapkan dengan nada yang terang dimaksudkan terdengar polos oleh omega yang sekarang masih sibuk menatapnya, jelas menangkap bagaimana kalimat itu bereaksi padanya.
“Betul?”
Dia memutuskan untuk balik bertanya, “Siapa yang bilang begitu ke kamu?”
Jeongin mengerjap, lalu menggeleng dan memalingkan muka. “Nggak ada.”
Seungmin mengangkat alis. “Kamu nonton film porno?”
Rona merah sontak mewarnai pipi Jeongin yang agak pucat. “Nggak. Aku baca.”
“Oh,” kekeh Seungmin geli.
“Jadi?” tanya Jeongin, sekarang menutul-nutul lengan Seungmin yang memutuskan untuk kembali fokus pada tablet di tangannya.
“Hm?”
“Jadi betul?”
“Hmmm.”
Jeongin jelas tak puas dengan reaksi abu-abu itu. “Seungmin, nggak mau coba gesek-gesek sama aku?”
Untuk kesekian kalinya hari itu, Yang Jeongin berhasil membuat alpha yang katanya workaholic itu mengalihkan pandangan dari tabletnya dan tumpukan file digital di dalam sana. “Apa yang digesek-gesek?” tanyanya dengan senyum.
“Uh…” Tangan Jeongin yang semula memangku wajahnya bergerak untuk menutupi rona yang mulai menjalar lagi. “Punyamu sama punyaku.”
“Apanya?” tuntut Seungmin, meski jelas tak ada paksaan dalam pertanyaan itu.
Jeongin menghela napas, tapi memutuskan untuk tak membalas lagi. Sekarang setelah dia mengalihkan pandangan ke langit-langit ruang tamu rumah Seungmin yang terhitung besar, Seungmin juga kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya lagi.
“Seungmin, Seungmin.”
Panggilan itu kembali membuat Seungmin mengulum senyum. “Ya?”
“Aku boleh senderan? Di kamu?”
“Silakan.”
Maka Jeongin merangsek mendekat untuk kemudian bersandar di bahu Seungmin, mengintip progress pekerjaannya di dalam layar.
“Kenapa?” tanya Seungmin setelah untuk beberapa saat Jeongin hanya diam.
“Nggak apa-apa. Aku mau lihat apa yang bikin kamu sibuk. Boleh?”
“Kamu udah lihat.”
“Kalau nggak boleh, aku tutup mata.”
Seungmin tertawa — nyaris lepas. “Boleh.”
Jeongin ikut tertawa kecil, meski dia tak tahu apa tepatnya alasan Seungmin tertawa — dia ‘kan tak sedang melawak.
“Seungmin.”
“Hm?”
“Kalau gesek-gesek, boleh?”
Satu pertanyaan itu membuat Seungmin menoleh lagi, menelusuri wajah Jeongin yang sekarang tampak penasaran — seakan itu belum cukup, matanya yang agak sipit berbinar memantulkan wajah Seungmin di sana; jelaslah bahwa di mata Jeongin memang hanya ada dia.
“Sini,” kata Seungmin setelah meletakkan tabletnya di atas meja.
“Boleh?”
Seungmin memejam sekali, tapi tak menjawab. Direntangkannya tangannya untuk menyambut Jeongin yang kemudian mendudukkan diri di pangkuannya dengan nyaman. Jeongin belum sempat bergerak lebih jauh karena lengan Seungmin langsung menyergapnya, mengurungnya dalam pelukan erat sementara dari posisinya sekarang, ia tahu kalau si alpha sudah memegang tabletnya lagi.
“Kamu kerja lagi, ya?”
“Iya.”
“Oh,” kata Jeongin pendek. Dia berusaha bergerak, tapi hasilnya nihil. Pelukan Seungmin terlalu erat — maka dia katakan, “Seungmin, kamu meluknya kekencengan. Aku jadi nggak bisa gesek-gesek.”
Seungmin tertawa lagi. “Nggak usah, kalau begitu.”
“Terus aku ngapain?”
“Diem di situ.”
“Nggak bakal ganggu kamu?”
“Nggak, tuh.”
“Nggak berat?”
“Nggak.”
“Oke. Kapan-kapan kita coba gesek-gesek, ya.”
Sudah berapa kali ya Seungmin tertawa hari ini?
“Kamu harusnya bilang ‘oke’, bukannya ketawa,” tegur Jeongin padanya.
Seungmin mencoba meredakan tawanya yang lama-lama menjadi kekehan lembut, lalu membenamkan kepala di ceruk leher Jeongin. “Oke,” katanya.
