Actions

Work Header

Sebelum Aku Tahu Namanya Cinta

Summary:

Apa yang salah denganku?

Itu pertanyaan pertama yang muncul. Diikuti oleh sepasukan pertanyaan lain yang tidak kalah kejamnya. Kenapa aku bisa merasa seperti ini? Apa aku tidak normal? Apa yang akan orang katakan kalau mereka tahu? Apa yang akan Seonghyeon katakan kalau dia tahu?

Pikiran terakhir itu yang paling menyakitkan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Aku tidak pernah pandai memulai percakapan.

 

Bukan karena aku sombong, bukan karena aku tidak mau. Tapi karena selama tujuh belas tahun hidupku, tidak ada satu pun orang yang pernah benar-benar berhenti dan bertanya, "Hei, sudah mendapat teman sekelompok?" Jadi aku belajar untuk tidak mengharapkan apapun itu. Aku belajar menjadi bayangan di kelas, yang hadir tapi tidak terasa. Yang namanya ada di absen tapi wajahnya tidak ada di ingatan siapapun.

 

Sampai hari itu.

 

Sampai dia.

 

Hari pertama masuk SMA, aku duduk di bangku paling pojok dekat jendela karena memang itulah yang tersisa ketika aku masuk terlambat tiga menit akibat angkutan umum yang mogok di tengah jalan. Aku tidak kenal siapapun. Aku tidak berharap mengenal siapapun. Aku hanya ingin melewati hari ini seperti hari-hari sebelumnya, diam, tidak terlihat, lalu pulang.

 

Tapi kemudian pintu kelas terbuka.

 

Dan Eom Seonghyeon berjalan masuk.

 

Aku tidak langsung tahu namanya. Aku hanya tahu bahwa ruangan itu terasa berbeda begitu dia ada di dalamnya, seperti seseorang menyalakan lampu di tempat yang sudah lama gelap. Dia berdiri di depan pintu sebentar, menatap bangku-bangku yang tersisa, dan ada sesuatu di cara dia berdiri itu yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Dia tidak tinggi-tinggi amat. Rambutnya agak coklat dan sedikit acak-acakan di bagian depan, seperti baru kena angin. Pipinya bulat, dagunya lancip. Matanya seperti bulan sabit dan berbinar dengan cara yang aneh, seperti mata anak kecil yang baru pertama kali melihat salju.

 

Cantik, pikirku.

 

Lalu aku langsung memaki diriku sendiri dalam hati karena memakai kata itu untuk seseorang yang jelas-jelas laki-laki.

 

Dia akhirnya memilih bangku di sebelahku karena itu satu-satunya yang kosong. Dia menarik kursi, duduk, lalu menoleh ke arahku dengan senyum yang tidak aku minta tapi entah kenapa terasa seperti pemberian terbesar yang pernah aku terima.

 

"Hai," katanya. Suaranya agak pelan, sedikit malu-malu. "Aku Seonghyeon."

 

Aku menatapnya dua detik terlalu lama sebelum akhirnya menjawab, "Keonho."

 

Dia mengangguk kecil, lalu memutar pandangannya ke depan. Aku juga melakukan hal yang sama. Tapi tanganku gemetar sedikit di atas meja, dan aku tidak tahu kenapa.

 

Itu awalnya.

 

Sesederhana itu. Sesederhana nama yang diucapkan dengan suara pelan di bangku pojok kelas, di hari pertama yang harusnya tidak berarti apa-apa.

 

Tapi ternyata berarti segalanya.

 

Minggu pertama, kami tidak banyak bicara. Aku tidak pandai memulai percakapan, dan Seonghyeon sepertinya juga tidak terlalu agresif dalam berteman. Tapi ada kenyamanan yang aneh di antara kami, semacam keheningan yang tidak canggung. Kami sama-sama duduk di pojok, sama-sama sering melewatkan makan siang di kantin karena lebih memilih duduk di kelas. Bukan karena kami memutuskan itu bersama. Tapi entah bagaimana kami selalu berakhir di tempat yang sama.

 

Suatu hari dia datang membawa dua kotak susu coklat. Dia meletakkan satu di depanku tanpa berkata apa-apa, lalu duduk di sebelahku sambil membuka miliknya sendiri.

 

Aku menatap kotak susu itu lama.

 

"Kenapa?" tanyaku akhirnya.

 

Dia mengangkat bahu. "Kamu kelihatan lapar."

 

"Aku tidak lapar."

 

"Kamu kelihatan lapar," ulangnya lagi, mantap, seolah itu bukan pendapat tapi fakta. Lalu dia menyesap susunya dengan tenang, tidak peduli apakah aku mengambil milikku atau tidak.

 

Aku mengambilnya. Tentu saja aku mengambilnya.

 

Dan itulah bagaimana kami mulai berteman. Pelan, tanpa deklarasi, tanpa momen dramatis. Hanya kotak susu coklat dan dua anak laki-laki yang sama-sama tidak terlalu pandai bicara tapi entah kenapa selalu punya banyak hal untuk diceritakan satu sama lain.

 

Aku belajar tentang Seonghyeon dengan cara yang lambat dan menyenangkan, seperti membaca buku yang kalimat-kalimatnya terlalu indah untuk dibaca cepat-cepat. Aku belajar bahwa dia suka mengkerut alisnya ketika sedang berpikir. Bahwa dia selalu menggaruk tengkuknya ketika berbohong, meskipun dia jarang bohong. Bahwa dia tertawa dengan cara yang agak aneh, seperti menahan tawa itu terlalu lama sampai akhirnya meledak dalam satu tarikan napas pendek yang membuat matanya berair.

 

Aku belajar bahwa dia cengeng.

 

Bukan dalam arti yang buruk. Tapi dalam arti yang paling murni, yang paling manusiawi. Suatu sore kami menonton film di ponselnya, film animasi yang seharusnya tidak menguras air mata siapapun, dan ketika karakter utamanya berkorban di akhir cerita, Seonghyeon menghapus sudut matanya dengan punggung tangannya secara diam-diam, berpikir aku tidak melihat.

 

Aku melihat.

 

"Kamu nangis?" tanyaku, dan aku salah mengira nada itu akan keluar sebagai ejekan. Tapi yang keluar malah sesuatu yang terlalu lembut, terlalu hangat.

 

Seonghyeon mendengus. "Tidak."

 

"Matamu merah."

 

"Debu."

 

"Seonghyeon."

 

"Keonho."

 

Kami saling menatap sebentar, dan kemudian dia menyerah, menunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "Iya, aku nangis. Puas? Kasian tahu karakternya. Dia sudah berjuang keras sekali tapi tetap harus mati."

 

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, menatap cara dia mengintip dari sela-sela jarinya untuk melihat reaksiku, dan ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku. Sesuatu yang tidak punya nama saat itu. Sesuatu yang aku abaikan karena aku takut kalau aku perhatikan lebih lama, aku tidak akan bisa pura-pura tidak tahu.

 

Tapi sesuatu itu terus bergerak.

 

Terus tumbuh.

 

Pelan-pelan, seperti tanaman yang tumbuh di celah beton, yang tidak seharusnya ada di sana tapi terlalu gigih untuk berhenti.

 

Kami menjadi dekat dengan cara yang tidak pernah aku rencanakan. Tiba-tiba saja Seonghyeon sudah ada di setiap bagian hariku, seperti latar belakang yang perlahan menjadi gambar utama. Kami pulang bersama hampir setiap hari. Kami berbagi earphone di koridor, satu sisi untukku, satu sisi untuknya, mendengarkan lagu-lagu yang aku rekomendasikan atau yang dia paksa aku dengarkan sambil berkata, "Pokoknya kamu harus dengerin lagu ini!", Kami mengerjakan tugas bersama di perpustakaan di tengah kota yang sepi sampai penjaganya harus mengusir kami karena sudah lewat jam tutup.

 

Dan semakin lama aku mengenalnya, semakin aku tidak mengerti bagaimana aku pernah hidup tanpa mengenalnya.

 

Yang membuatku takut bukan perasaannya sendiri.

 

Yang membuatku takut adalah betapa alaminya itu terasa.

 

Suatu hari di bulan ketiga, kami sedang duduk di gazebo yang letaknya di tepi taman sekolah, tempat yang kami temukan tidak sengaja ketika kami tersesat mencari ruang alat musik. Angin sore berhembus pelan. Seonghyeon berbaring telentang di lantai berbasis kayu itu dengan lengan sebagai bantalnya, menatap langit di tepi kiri wajahnya dengan ekspresi yang tenang dan jauh. Aku duduk di sebelahnya, memeluk lutut, mencoba tidak terlalu sering melihat ke arahnya.

 

"Keonho," panggilnya tiba-tiba.

 

"Apa."

 

"Kamu senang nggak, kita berteman?"

 

Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya, tapi karena jawabannya terlalu besar untuk muat di dalam satu kata. Senang? Aku lebih dari senang. Aku merasa untuk pertama kalinya dalam hidupku ada seseorang yang melihatku bukan sebagai bayangan, tapi sebagai manusia utuh dengan segala kekurangannya, dan masih memutuskan untuk tetap tinggal meskipun tahu banyak kemungkinan buruknya.

 

"Senang," jawabku akhirnya, pelan.

 

Seonghyeon tersenyum ke langit-langit gazebo. Senyum yang tidak aku lihat langsung karena aku sedang memalingkan wajah, tapi aku rasakan kehangatannya dari sudut mataku. "Aku juga," katanya. "Aku nggak nyangka bisa sedekat ini sama kamu."

 

"Kenapa?"

 

"Karena awalnya kamu kelihatan nggak mau dideketin."

 

Aku menoleh ke arahnya tanpa sadar. "Aku kelihatan gitu?"

 

Dia menoleh balik, dan tiba-tiba jarak kami terasa sangat dekat. Wajahnya ada di sana, bulat dan hangat dan terlalu dekat, dengan mata beningnya yang menatapku dengan cara yang sangat jujur. "Iya. Tapi waktu aku duduk di sebelah kamu, kamu nggak usir aku. Jadi aku pikir, mungkin kamu cuma nggak tahu caranya mulai."

 

Dadaku sesak.

 

Bukan dengan cara yang menyakitkan. Dengan cara yang lebih buruk dari itu, dengan cara yang terasa seperti sesuatu yang sudah lama kosong tiba-tiba diisi penuh sampai tidak tahu harus diapakan.

 

"Kamu benar," kataku, pelan sekali.

 

Dia tersenyum lagi. Kali ini aku melihatnya langsung, dan aku membenci diriku sendiri karena satu-satunya hal yang bisa aku pikirkan adalah betapa indahnya senyum itu.

 

Betapa aku ingin terus melihatnya.

 

Betapa aku tidak ingin ada hari yang berlalu tanpa melihatnya.

 

Malam itu, di kamarku, aku berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong ke langit-langit dan pertama kalinya aku mengizinkan diri sendiri untuk memikirkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku memikirkannya dengan serius, dengan cara yang tidak aku lakukan sebelumnya karena selama ini aku terlalu sibuk menyangkalnya.

 

Dan kesimpulan yang aku dapatkan membuatku ingin menghilang.

 

Aku suka Seonghyeon.

 

Bukan suka sebagai teman. Bukan suka sebagai seseorang yang nyaman diajak bicara. Tapi suka dengan cara yang membuat jantungku berpacu setiap kali dia tersenyum ke arahku. Suka dengan cara yang membuat aku ingin tahu apa yang dia pikirkan setiap detik. Suka dengan cara yang membuat aku cemburu ketika ada orang lain yang membuatnya tertawa lebih keras dari yang biasanya aku bisa.

 

Aku suka laki-laki. Aku suka Seonghyeon.

 

Kalimat-kalimat itu berputar di dalam kepalaku seperti roda yang tidak mau berhenti, dan aku menutup mata seraya berusaha untuk menjenuhkan isi pikiranku yang sedang bertengkar sendiri.

 

Apa yang salah denganku?

 

Itu pertanyaan pertama yang muncul. Diikuti oleh sepasukan pertanyaan lain yang tidak kalah kejamnya. Kenapa aku bisa merasa seperti ini? Apa aku tidak normal? Apa yang akan orang katakan kalau mereka tahu? Apa yang akan Seonghyeon katakan kalau dia tahu?

 

Pikiran terakhir itu yang paling menyakitkan.

 

Karena kehilangan Seonghyeon adalah hal yang tidak bisa aku bayangkan. Seonghyeon sudah menjadi bagian dari rutinitasku, bagian dari nafasku. Pagi tanpa pesannya yang masuk pukul lima, terasa seperti pagi yang belum selesai. Hari tanpa suaranya terasa seperti hari yang kekurangan sesuatu yang fundamental.

 

Jadi aku memutuskan untuk menyimpannya.

 

Perasaan itu. Aku akan menyimpannya rapat-rapat di tempat yang tidak ada cahaya, tidak ada udara, sampai ia mati sendiri karena tidak ada yang menghidupinya. Aku akan baik-baik saja. Aku akan tetap berteman dengan Seonghyeon seperti biasa, dan aku akan memastikan tidak ada yang berubah, tidak ada yang bocor, tidak ada yang bisa dibaca dari cara aku menatapnya atau cara aku menjawab pesannya terlalu cepat atau cara aku selalu memastikan payungku cukup lebar untuk kami berdua ketika hujan tiba-tiba turun sepulang sekolah.

 

Itu rencanaku.

 

Rencana yang bodoh, tentu saja. Karena kamu tidak bisa memenjarakan sesuatu yang sudah terlanjur hidup.

 

Bulan keempat, Seonghyeon mulai sakit.

 

Bukan sakit yang serius, hanya flu yang tidak sembuh-sembuh karena dia keras kepala dan tidak mau istirahat. Tapi dia masuk sekolah dengan mata yang sedikit sembab dan suara yang serak, dan setiap kali dia bersin aku ingin marah padanya karena tidak menjaga dirinya dengan baik.

 

"Kamu harusnya istirahat di rumah," kataku suatu siang, ketika kami duduk di kantin dan dia terus-terusan menyesap teh hangatnya dengan tatapan kosong.

 

"Nggak bisa. Ada ulangan."

 

"Kesehatanmu lebih penting dari ulangan."

 

Dia melirikku dengan ekspresi setengah mengantuk. "Kamu khawatir?"

 

"Tidak." Bohong.

 

Seonghyeon tersenyum tipis, dan bahkan dalam kondisi sakit dan dengan hidung yang sedikit merah, dia tetap terlihat seperti sesuatu yang aku tidak punya kata-kata untuk menggambarkannya. "Makasih ya, Keonho."

 

Aku memalingkan wajah. "Minum tehnya."

 

Tapi tangan kiriku di bawah meja, menggenggam ujung seragamku terlalu kencang. Karena yang ingin aku lakukan saat itu adalah menyentuh dahinya untuk mengecek suhu, adalah membungkus bahunya dengan jaket yang aku pakai, adalah mengatakan bahwa ia sangat penting karena aku tidak tahu harus bagaimana kalau ia tidak ada.

 

Yang aku lakukan tidak satupun dari itu.

 

Yang aku lakukan hanya duduk di sana, menahan segalanya seperti yang sudah aku latih, dan berharap perasaan ini cukup lelah untuk akhirnya berhenti berdenyut.

 

Tapi dia tidak berhenti.

 

Semakin hari semakin kuat, seperti arus sungai di musim hujan yang mengikis batu perlahan-lahan sampai batunya tidak lagi berbentuk sama.

 

Aku tidak lagi berbentuk sama.

 

Dan yang paling menyiksaku adalah, aku pikir Seonghyeon tidak tahu. Aku pikir aku sudah cukup pandai menyembunyikannya, sudah cukup terlatih untuk menjaga jarak yang tepat, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, cukup untuk terlihat normal.

 

Tapi suatu hari, ketika kami sedang berjalan pulang dan hujan mulai turun rintik-rintik, Seonghyeon tiba-tiba berhenti di tengah trotoar dan menatapku dengan ekspresi yang aneh. Ekspresi yang tidak bisa aku baca, yang tidak masuk dalam kategori manapun yang pernah aku pelajari dari wajahnya selama hampir setengah tahun ini.

 

"Keonho," panggilnya.

 

"Apa?"

 

Dia diam sebentar. Hujan mulai turun lebih lebat. Aku membuka payung dan mengangkatnya, dan secara otomatis aku geser sedikit ke arahnya supaya dia tidak basah, gerakan yang sudah menjadi refleks tanpa aku sadari kapan itu terbentuk.

 

Seonghyeon menatap payung itu. Lalu menatapku lagi.

 

"Nggak ada apa-apa," katanya akhirnya, pelan. Lalu dia melangkah lebih dekat ke arahku, masuk ke bawah payung, dan bahu kami menyentuh.

 

Aku tidak bergerak.

 

Aku tidak bernapas selama dua detik.

 

Lalu Seonghyeon berkata, dengan suara yang hampir habis dimakan suara hujan, "Makasih selalu ada buat aku, ya."

 

Dan aku tidak tahu bagaimana caranya sebuah kalimat sederhana bisa sekaligus menjadi obat dan racun pada saat yang sama. Tapi itulah yang terjadi. Dadaku penuh dengan sesuatu yang hangat dan menyakitkan, dan aku hanya bisa berjalan di sebelahnya dalam diam, di bawah satu payung yang sedikit terlalu kecil untuk dua orang tapi tidak ada satupun dari kami yang mempermasalahkan itu.

 

Dan aku tahu, di momen itu, di bawah hujan yang turun dengan sepenuh hati, bahwa aku sudah kalah.

 

Aku sudah kalah jauh sebelum pertarungan ini bahkan mulai.

 

Notes:

Ini karya pertamaku. Sedikit agak bingung karena pertama kali menulis untuk publik. Semoga suka! :)

Request are open!