Work Text:
Ia pernah ingin menjadi manusia.
Manusia sungguhan, bukan sejenis robot yang mesti menuruti perintah sisipan di dalam program. Manusia sungguhan, yang punya pilihan, bukan tumpukan tugas yang mesti dikerjakan tanpa banyak pertanyaan.
Ia pernah ingin menjadi pahlawan.
Pahlawan sungguhan, yang menggunakan kekuatan untuk kebaikan, bukan untuk menyelesaikan misi tanpa mempertimbangkan baik-buruknya lagi. Pahlawan sungguhan, yang membasmi kejahatan dengan menyatukan kekuatan bersama teman—
[“Dazai-kun, Odasaku-san, jika datang suatu hari di mana tidak ada lagi Divisi Operasi Khusus dan Port Mafia, suatu hari di mana kita menjadi lebih bebas dalam menentukan pilihan, aku ingin kita bertiga—
“Jangan katakan, Ango. Jangan katakan apa-apa lagi.”]
—hahaha teman.
Ia pernah ingin memilikinya. Ia pernah memilikinya. Sekarang tidak, tidak lagi. Ia tidak memilikinya. Ia tidak ingin memilikinya lagi.
Sudah cukup, ia tidak ingin apa-apa lagi. Ia tidak ingin menjadi manusia lagi, ia tidak ingin menjadi pahlawan lagi.
Ia sungguh tidak ingin apa-apa lagi.
Mungkin Dazai benar, pikirnya. Mungkin, mungkin segala hal yang ia inginkan tak akan pernah bisa ia dapatkan. Seperti kebebasan, seperti persahabatan. Karena tidak seperti Dazai dan Odasaku, ia adalah seorang pengecut, dan seorang pengecut adalah mereka yang pantas hidup paling lama untuk setiap detiknya dihantui oleh penyesalan.
Jauh di dalam hutan bernama hati, dinaungi oleh pohon sakura kerinduan yang bunganya bermekaran, ia mengubur segala hal yang ia inginkan. Kebebasan, dan—
persahabatan.
.
.
.
Ango tidak berjumpa dengan mereka, mereka yang pertama kali menjumpainya.
Malam telah bersua, tetapi pekerjaan tambahan datang bersama dua orang pria berbau seperti oli dan bangkai. Ia ingin mengeluh, ia memang digaji oleh pemerintah untuk pekerjaan pura-pura ini, ia bahkan digaji oleh Port Mafia untuk mengerjakannya dengan sempurna, tetapi ia tidak digaji untuk meladeni keduanya bercengkerama. Ia tidak digaji untuk setelan formalnya yang jadi ikut berbau bangkai dan oli. Ia tidak digaji untuk mendengarkan celoteh salah satu anggota eksekutif termuda sembari menenggak beberapa gelas minuman beralkohol di bar hingga gelap buta.
Ia tidak digaji untuk datang tanpa diundang, atau untuk tinggal lebih lama di sana.
Ia memilih, memilih tetap berada di tengah-tengah mereka.
Untuk pertama kalinya ia memiliki pilihan, untuk pertama kalinya ia memiliki persahabatan.
.
.
.
Senja kala itu ia menghitung mundur.
Di suatu tempat di dalam bangunan ini, bom-bom telah dipasang, siap untuk menghancurkan apa saja yang ada di sana, termasuk dirinya yang terikat tak berdaya.
Ia masih menghitung mundur. Bukan untuk detik-detik yang bergulir sebelum bom meledak tanda akhir. Ia menghitung mundur untuk momen-momen di dalam hidupnya, berusaha mengingat apa saja yang akan ia tinggalkan nantinya, ia tidak boleh meninggalkan apa-apa, agen rahasia tak semestinya meninggalkan apa-apa ketika kematian tiba.
Tapi Ango meninggalkan sesuatu. Dua orang bodoh itu.
Untuk sepersekian detik yang singkat, ia nyaris melengkungkan senyum. Ia tidak boleh... tetapi ia tak kuasa untuk mengabaikan rasa sentimen ini.
Kalau saja ia diberi satu lagi kesempatan untuk duduk di bar itu lagi, memesan segelas minuman yang sama lagi, menahan tawa –ah ia tak akan lagi menahan tawanya, menahan kebahagiaannya. Ia ingin diberi satu kesempatan lagi, ia ingin, meski ia tidak diperbolehkan, ia ingin—
Matanya membulat ketika menemukan siapa yang berdiri di depan pintu tempatnya disekap. Ia melupakan hitungannya sama sekali.
“Odasaku-san! Kau tidak boleh kemari!”
Melalui sosok itu, ia diberikan satu kesempatan untuk bernapas lebih lama di dunia. Tetapi setelah ini, di dalam hidupnya tak ada lagi pilihan. Tak ada lagi persahabatan.
.
.
.
Ia menggenggam erat gelasnya yang masih terisi setengah.
“Dazai-kun, Odasaku-san, jika datang suatu hari di mana tidak ada lagi Divisi Operasi Khusus dan Port Mafia, suatu hari di mana kita menjadi lebih bebas dalam menentukan pilihan, aku ingin kita bertiga—
“Jangan katakan, Ango,” suara itu menjelma kawat yang mencekik lehernya kuat-kuat. “Jangan katakan apa-apa lagi.”
Ia kehilangan kata-katanya. Seandainya saja ia hanya kehilangan kata-katanya.
Jadi sebelum perasaan (yang tak boleh ia punya) mengontrol tindakannya, sebelum Dazai barangkali mengubah pikirannya, ia putuskan untuk pergi, meninggalkan Dazai yang termenung dalam diam, meninggalkan Odasaku yang sama sekali membisu; meninggalkan sehelai foto yang merekam sesuatu (sesuatu yang hilang dan tak akan pernah bisa kembali seperti dulu.)
Ia berharap hujan turun malam ini.
.
.
.
Deburan ombak nan jauh di sana sesekali mengisi keheningan di antara mereka.
“Apa kau membenciku?” ia menjatuhkan seikat bunga yang tadi ia genggam, nyaris tak percaya suara tawa yang kemudian terdengar berasal dari mulutnya sendiri.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan, ada banyak hal yang ingin ia ungkapkan, tetapi tak ada satu pun kata yang berhasil ia temukan. Ia ingin meminta maaf, namun kemudian ia sadar bahwa ia tak pantas untuk itu. Ia ingin berterima kasih seandainya lidahnya tidak dikunci hingga kelu.
“Kau...” suaranya bergetar, “masih ingat, aku pernah menulis jejak kehidupan dari anggota-anggota mafia yang telah gugur?”
Ia meraih figura tua yang tergeletak di sana, takjub pada fakta bahwa benda ini lebih bertahan lama ketimbang apa yang gambarnya rekam.
“Aku juga menulis jejak kehidupanmu di salah satu catatanku,” ia meletakkan kembali figura itu di tempatnya semula, “tenang saja, aku tidak akan menjualnya pada siapapun.”
Ia bangkit dari duduknya, berdiri tegak sembari menengadah ke langit yang cerah. Ia menutup matanya, berusaha mendengar suara deburan ombak lebih jelas, berusaha mencium aroma asin laut lebih dalam. Ia, sekali lagi terkejut, mendapati bibirnya melengkungkan senyum.
“Kau pasti membenciku. Dazai-kun saja membenciku.”
Angin yang menggoyangkan dedaunan seperti menjawab perkataannya.
.
.
.
Jauh di dalam hutan bernama hati, dinaungi oleh pohon sakura kerinduan yang bunganya bermekaran, ia mengubur segala hal yang ia inginkan. Kebebasan, dan—
persahabatan.
fin.
