Work Text:
Waktu menunjukan pukul 09.30 malam, Chenle masih terduduk di sofa ruang latihan SM. Ia baru saja menyelesaikan latihan perform untuk acara Bubble Boiling Festival bersama Renjun. Tangannya memegang ponsel, memonitoring hasil latihan. Sementara Renjun tampak berbaring di sofa sebelahnya.
“Latihannya sudah selesai kan? Aku mau pulang,” ujar Renjun kepada pelatih.
“Iya sudah selesai, kalian boleh pulang,” jawab pelatihnya.
Renjun bersorak kecil lalu berdiri dan merapihkan pakaiannya. Setelah mengambil tasnya, ia berkata, “Chenle-ya, aku mau mampir ke apartment Haechan. Anak itu minta ditemani makan hotpot, kau mau ikut?”
Chenle mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menjawab, “Mian, aku tidak bisa. Jisung tadi chat aku duluan katanya hari ini syuting dia selesai lebih cepat jadi mau ke apartment.”
Senyum penuh arti langsung menghiasi wajah Renjun. “Aigoooo, kalian mau kangen-kangenan yaa setelah LDR karena jadwal pribadi.”
“Kangen-kangenan apaan. Si Jisung mau malak aku minta bikinin spagethi aglio olio kaya buat Jaemin-hyung kemarin,” jawab Chenle sambil mencebikkan bibirnya.
“Hahahaha, anak itu masih cemburu aja sama Jaemin.” Renjun tertawa membayangkan Jisung yang merajuk cemburu karena kekasihnya habis kencan dengan orang lain. “Lagian kamunya juga demen banget godain Jisung, pake bilang ngedate-date segala. Udah tau pacar kamu suka ngerajuk.”
Chenle membalas dengan cengiran khasnya, “Hehehehe lucu soalnya kak lihat reaksi Jisung sama reaksi fans.”
Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi bagi member Dream, kalau hubungan Chenle dan Jisung lebih dari sekadar sahabat. Walau harus melewati hampir 8 tahun, baru keduanya melepas gengsi dan mengakui perasaannya masing-masing. Tentu saja itu tidak lepas dari bantuan para kakaknya yang gemas sama hubungan mereka.
Bagaimana tidak gemas? Mulai dari Mark, Renjun, Jeno, Haechan, dan Jaemin sudah sadar akan perasaan kedua maknae itu, tapi yang tidak menyadari adalah mereka sendiri. Hahaha.
“Kalo gitu aku jalan duluan ya Le, titip salam buat Jisung. Bye bye.” Renjun melambaikan tangannya lalu keluar bersama dengan manager-hyung.
“Bye bye!” seru Chenle.
Ting!
Suara notifikasi pesan muncul dari ponsel Chenle.
Glassman: Cheollo cheollo-ya,
Glassman: Aku baru selesai syuting, sebentar lagi otw apartment kamu yaa
Chenle: okeee, hati-hati di jalan Jii
Setelah membalas pesan itu, Chenle melompat berdiri dan bergegas pulang ke rumahnya.
==
Setelah sesi makan malam dengan menu special spagethi aglio olio yang Jisung idamkan, Chenle dan Jisung pindah ke kamar utama apartment. Bersiap-siap untuk istirahat.
Chenle sudah selesai mandi dan berganti baju ke piyama bermotif beruang. Ia berbaring di ranjang empuknya sambil menggulir layar ponsel. Sembari menunggu Jisung selesai mandi, pemuda Shanghai itu iseng membaca topik tentangnya di aplikasi X. Terdengar sedikit narsis, tapi bagi Chenle itu bisa membangkitkan mood dia dan mempelajari mana hal-hal yang harus diperbaiki dari penampilannya.
Topik yang sedang ramai diperbincangkan adalah tentang video perkenalan Tim Tenor dari variety show Voices of Youth.
Macam-macam respon Chenle baca, dari yang antusias, tidak sabar, dan banyak juga respon gemas dari para penggemar. Bagaimana tidak gemas? Chenle yang berdiri di tengah tampak terlihat sangat kecil di antara anggota Tim Tenor yang lain. Sebenarnya Chenle sudah pernah menjelaskan, kalau bukan dia yang kecil tapi memang anggota Tim Tenor yang tingginya melebihi rata-rata.
Lalu Chenle melihat satu cuitan yang berisi tangkapan layar video perkenalan dengan caption berbentuk orang tinggi yang berdiri sejajar dengan satu orang pendek di antaranya. Orang pendek itu tepat di atas posisi berdiri Chenle.
“What is this??? Aku gak sekecil itu ya!” gerutu Chenle yang sedikit tidak terima dengan caption itu. Hei, tinggi Chenle itu 176 cm loh. Hanya kebetulan lagi berkumpul sama orang tinggi saja!
Mengingat ia masih seorang idol dan tidak bisa berkomentar langsung di pos tersebut, Chenle men-screenshot pos itu, memangkas fotonya supaya hanya terlihat caption dan foto, lalu mengunggahnya ke bubble.
Siapa yang bikin ini? Tulisnya di aplikasi tersebut.
Lalu selanjutnya banyak balasan yang ia terima, tapi tidak ia baca semuanya. Kebanyakan responnya adalah menertawakan Chenle dan bilang kalau dia memang kecil dan menggemaskan.
Chenle meletakkan ponselnya sedikit agak kasar ke sisi ranjang yang kosong. Bersamaan dengan Jisung yang keluar dari kamar mandi.
“Hey, kenapa?” tanya Jisung sambil mendekat. Jisung sudah berpakaian lengkap, dengan handuk kepala yang masih menggantung di lehernya. Terlihat tetesan rambut masih ada di rambut hitam pemuda itu.
Chenle bangun dari posisi tidurnya dan duduk bersila menghadap Jisung. Bibirnya mencebik seperti anak bebek lalu mengadu, “Huh, aku dibilang kecil mulu, Jisung! Padahal aku tinggi, nggak pendek!”
Jisung terkekeh melihat wajah cemberut kekasihnya. Ia naik ke ranjang lalu duduk di hadapan Chenle. Ia mengusap pipi chubby-nya, “Siapa yang bilang kamu pendek, hmm?”
Chenle mengambil ponselnya, lalu menyerahkannya ke Jisung, “Nih lihat sendiri!”
Jisung melihat ke ponsel yang diberikan, tawanya langsung pecah. “Hahahahahaha, kenapa captionnya pas banget sama foto.”
“Yaa! Jangan tertawa, kalo kamu di situ kamu juga paling pendek!” seru Chenle tidak terima. Lalu pemuda bersuara merdu itu berbaring dan membelakangi Jisung dan lanjut ngedumel. “Kamu sama aja kaya yang lain. Aku tuh gak sependek itu ya!”
“Hahaha, imutnya,” komen Jisung melihat kekasihnya meringkuk ngambek dan memunggunginya.
“Gak usah muji-muji aku! Udah baik aku masakin kamu, tapi kamu malah ngeledekin,” omel Chenle dari balik punggungnya yang kecil itu.
Tangan Jisung meraih pinggang Chenle, “Chenle-yaaa, jangan ngambek dooong…” Jisung menarik pinggang sang kekasih, supaya berhenti memunggunginya. Tapi Chenle malah semakin memperkuat posisinya, enggan berbalik.
“Gak mau! Aku lagi gak mau lihat kamu, nyebelin.”
Jisung masih tertawa. “Hey, itu berarti kamu gemesin Le, bukan berarti kamu pendek..”
“Bodo amat.”
Masih dengan tawa kecil, Jisung ikut berbaring. Dengan sedikit kekuatan, ia membalik tubuh kecil Chenle. Tangan kiri Jisung langsung melingkar di pinggang Chenle, sementara tangan kanannya mengusap lembut belakang kepala Chenle.
“Chenle-yaaa, kamu gemes banget tau gak. Apalagi kalo lagi ngambek gini, hahaha.”
“Huh… padahal aku udah rajin ngegym loh tapi tetap digemes-gemesin…” ujar Chenle. Ia ikut memeluk pinggang Jisung dan menyenderkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.
“Kamu itu gemesnya alami, Le. Kalo kata sijeuni, bisep boleh besar tapi tingkah kamu tetep lucu beneran gemes kaya kucing.” kata Jisung. “Apalagi kalo ngambek gini, tambah seneng mereka hahaha.”
Chenle memukul punggung Jisung, “Udah stop jangan godain aku.”
“Iya, iya…” balas Jisung, tanpa berhenti mengusap belakang kepala kekasihnya.
Selanjutnya hanya diisi keheningan yang nyaman. Dua tubuh tersebut tetap saling merengkuh, melampiaskan rasa rindu mereka yang belakangan ini terbendung karena jadwal. Menikmati aroma yang familiar dan menenangkan.
“Udah lama banget gak nyium bau Jisungie.” Chenle menghirup banyak-banyak aroma yang menguar dari badan kekasihnya. Jisung membalas hal yang serupa.
“Aku juga. Kangen bau alami kamu, bau susu. Bau anak kecil pendek yang gemesin−aduhhh.” Kalimat Jisung terhenti karena cubitan di pinggangnya.
“Ngeselin.”
“Hahaha maaf, maaf sayangkuuu. Jangan ngambek lagi yaaa, sayang.”
“Ung…”
Jisung tidak bisa menahan senyumnya melihat telinga dan leher Chenle merona karena panggilan sayang itu. Tapi bukan Jisung kalo gak iseng, pemuda jangkung itu mendekatkan bibirnya ke kuping merah Chenle dan berbisik, “Chenle-ya, wo ai ni.”
Chenle makin menenggelamkan kepalanya ke dada Jisung, tidak menjawab. Tapi walau begitu pun Jisung sudah tau jawabannya.
==
END
