Work Text:
Malam ini langit kota sedang cantik-cantiknya.
Lampu-lampu jalan di bawah tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi, berkelip di antara lalu-lalang kendaraan.
Di balkon lantai dua sebuah rumah kos, Martin sedang asyik sendiri.
Laki-laki tinggi itu duduk disebuah kursi plastik sambil menyandarkan punggungnya ke pagar balkon dengan satu kakinya sedikit ditekuk santai.
Jemarinya menjepit sebatang rokok, sesekali diisap pelan, lalu dihembuskan ke udara.
Asapnya menari-nari, terbawa oleh angin malam.
Belum lama Martin berdiam sendiri disini, suara pintu yang terbuka pelan memecah keheningannya.
Pacarnya yang selalu cantik dan lucu, bernama Juhoon, muncul dari balik kamar dengan rambutnya yang sedikit berantakan.
Baru satu langkah Juhoon keluar ke balkon, ia berhenti sebentar ketika melihat kepulan asap itu.
Tak banyak bicara, Juhoon tetap mendekat dan langsung duduk di pangkuan Martin, mencari posisi paling nyaman seperti itu sudah jadi kebiasaan.
"Rokok terus," gumamnya pelan, nadanya lebih ke manja daripada benar-benar marah.
Martin terkekeh kecil. Tangan kirinya otomatis melingkar di pinggang Juhoon, menahannya agar tidak jatuh. "Lagi pengen aja sayang," jawabnya santai.
Juhoon hanya menggeleng pelan dengan wajah malas, tapi tetap merapatkan tubuhnya. "Kamu bau rokok."
"Baru juga nyalain satu," balas Martin sambil tersenyum, lalu mengusap pelan sisi lengan Juhoon.
Tak lama, mereka mulai tenggelam dalam obrolan ringan.
Dari Juhoon yang mengeluh tentang dosennya, sampai Martin yang bercerita soal rencana bermain dengan teman-temannya.
Sesekali mereka tertawa, sesekali hanya diam menikmati suasana.
Rokok di tangan Martin perlahan tinggal puntungnya saja. Ia pun mengetuk-ngetukkan sisa abu ke asbak yang ada di meja sebelah mereka, sebelum akhirnya mematikan rokok itu.
Begitu “urusan merokok” selesai, fokus Martin langsung kembali ke Juhoon.
Matanya turun ke bibir Juhoon, tatapannya berubah menjadi lebih lembut, tapi jelas penuh dengan maksud dan niat.
"Mau ngapain kamu?" Juhoon langsung sadar, refleks menahan dada Martin dengan satu tangan.
"Mau cium kamu," jawab Martin jujur, nadanya dibuat manja. "Boleh ya?"
Juhoon langsung menggeleng. "Enggak mau. Kamu bau rokok. Pahit."
Martin mendengus pelan. "Lah, kan udah dimatiin."
"Tetep aja," balas Juhoon cuek.
Martin mencoba mendekat sedikit lagi. "Ya ampun, pelit banget sih. Dikiiiit aja."
"Gak mau. Pahiiiit"
"Udah gak sayang ya sama aku? Makanya gak mau dicium?"
"APASIH MARTIN KOK ALAY BANGET?!"
"Mau ciiiiuuuummmm."
Juhoon hanya bisa menghela napas dengan malas melihat tingkah pacarnya itu.
Juhoon pun turun perlahan dari pangkuan Martin. "Yaudah. Diem dulu di situ."
Martin cuma bisa melongo, bingung. "Loh, kok kabur? Mau ke mana?"
Juhoon tidak menjawab. Ia masuk ke dalam kamar, meninggalkan Martin yang kini sendirian lagi di balkon.
Tak lama, Juhoon keluar lagi.
Kali ini tangannya membawa sesuatu.
Sebuah permen lolipop rasa stroberi yang masih terbungkus.
Ia berhenti di depan Martin, lalu menyodorkannya. "Nih. Kalau mau cium, makan ini dulu."
Martin langsung tertawa. "Lah, serius nih?"
"Serius" jawab Juhoon datar.
Dengan pasrah tapi sambil tersenyum, Martin mengambil permen itu. Ia membuka bungkusnya, lalu mulai menyesap rasa manis stroberi yang langsung memenuhi mulutnya.
Juhoon yang tadi masih berdiri kembali duduk kepangkuan Martin.
Melingkarkan lengannya ke leher yang lebih tinggi.
Juhoon memperhatikan dengan ekspresi puas. "Kalau udah gak rasa rokok, baru boleh cium."
Martin hanya mendengus geli sambil melanjutkan sesi memakan permennya itu.
Beberapa saat pun berlalu.
Rasa pahit tembakau di mulut Martin perlahan tertutup oleh rasa manis permen. Ia lalu menatap Juhoon lagi, matanya sedikit menyipit jahil.
"Udah nih. Sekarang udah boleh ciumkan?" tanyanya.
"Bentar," kata Juhoon.
Ia tiba-tiba mengambil alih permen itu dari mulut Martin.
Tanpa malu, ia ikut menyesapnya sebentar.
Lalu, tanpa pikir panjang, ia menaruh permen itu ke dalam asbak di meja sebelah mereka.
Martin langsung mengernyit. "Kok ditaruh di situ?"
"Udah gak mau lagi," jawab Juhoon santai. "Jadi mau cium gak?"
Martin tertawa pelan.
Belum sempat Martin menjawab, Juhoon sudah mendekatkan wajahnya ke arah Martin.
Tanpa basa-basi lagi, Martin langsung menarik tengkuk Juhoon perlahan dan akhirnya mempertemukan bibir mereka.
Ciuman itu awalnya hangat dan pelan untuk beberapa saat;
Lalu semakin lama semakin dalam.
Martin menggigit pelan bibir bawah Juhoon hingga membuat Juhoon sedikit terperanjat akibat ulah pacarnya itu, namun ia sudah terlalu larut dalam ciuman itu.
Keduanya bisa saling merasakan sedikit rasa pahit yang tertinggal dari rokok tadi, tetapi selebihnya rasa yang ada didominasi oleh rasa manis dari permen stroberi itu.
Kemudian, selain bibir yang bertautan manis, tangan mereka pun tidak tinggal diam.
Tangan Juhoon mencengkeram kaos Martin sedikit, sementara Martin merengkuh pinggang Juhoon dengan erat.
Entah berapa lama mereka tenggelam dalam tautan itu, sampai akhirnya Juhoon mulai merasa kehabisan napas.
Ia pun memukul pelan bahu Martin memberi sinyal untuk berhenti, namun yang lebih tinggi itu masih terus menyerang bibir yang lebih kecil.
Juhoon pun mendorong paksa bahu Martin.
"Hah... kamu... kamu mau bunuh aku ya?" protesnya terengah-engah saat tautan mereka akhirnya terlepas.
Martin tertawa puas, matanya berbinar melihat wajah Juhoon yang merah. "Abisnya kamu manis banget sayang."
Ia mencoba maju lagi, tapi kali ini Juhoon sigap menutup mulutnya dengan tangan.
"Heh! Udah! Sekali aja cukup!"
Martin langsung memasang wajah merajuk.
Bibirnya dimajukan, lalu ia menyandarkan kepalanya ke bahu Juhoon.
"Jahat banget sih kamu... Udah gak sayang ya sama aku..." gumamnya dramatis.
Juhoon mendengus, tapi tidak menjauh.
Ia malah mengangkat tangannya, melingkarkannya pelan di leher Martin, lalu mengusap rambutnya dengan lembut, jemarinya menyisir helai-helai rambut pirang itu dengan gerakan menenangkan.
Martin yang tadinya masih memasang wajah merajuk perlahan melunak.
Ia tidak lagi mencoba mendekat untuk mencium, hanya diam menikmati sentuhan itu, kepalanya semakin didekatkan ke bahu Juhoon, mencari kenyamanan pada pacarnya itu.
Perlahan pandangan Martin lalu jatuh ke meja kecil di samping mereka, tepatnya ke asbak, tempat permen tadi sekarang tergeletak.
"Yah," katanya pelan, "sayang ya permennya padahal belum abis."
Juhoon ikut melirik. "Kenapa? Kamu masih mau?"
Martin menggeleng pelan, lalu menatap Juhoon lagi, senyum nakalnya muncul kembali.
"Enggak..." ia berhenti sebentar, mendekat sedikit, "orang yang lebih manis daripada permen lagi aku pangku ini."
Juhoon mematung sebentar, lalu wajahnya memerah cepat.
"Hih! Lebay!" Ia memukul lengan Martin, kali ini lebih keras. "Alay banget sumpah!"
Martin malah tertawa keras, jelas menikmati reaksi itu.
Beberapa detik mereka hanya diam, menikmati kebersamaan itu.
Perlahan angin malam mulai terasa lebih dingin.
"Masuk yuk. Ntar kamu masuk angin."
Juhoon mengangguk kecil. Ia hendak berdiri, tapi belum sempat bergerak, Martin sudah lebih dulu menyusupkan tangan ke bawah lutut dan punggungnya.
Sekejap, Juhoon sudah terangkat dalam gendongan bridal style.
"Martin ih! Aku bisa jalan sendiri!" protesnya kaget, tangannya refleks melingkar di leher Martin.
"Bawel ah," balas Martin santai, sambil berjalan masuk ke kamar.
Juhoon mendengus, tapi tidak benar-benar melawan. Kepalanya malah bersandar ke bahu Martin.
Martin tersenyum kecil, lalu lanjut melangkah masuk ke dalam kamar sambil masih menggendongnya.
Pintu pun ditutup pelan di belakang mereka, meredam suara dari luar, meninggalkan balkon, sisa asap, dan permen yang terbengkalai di asbak menjadi saksi bagaimana Martin dan Juhoon berbagi kasih malam itu.
