Work Text:
Seli suka yang cantik-cantik. Kamar yang dia hias dengan penuh atensi, pakaian yang dia pilih, bahkan casing ponsel yang dia pakai sehari-hari juga jadi sasaran kesenangannya atas hal-hal yang cantik.
"Tapi lucu, kan? Kayak aku." Kata Seli, saat dia ditanya Ali tentang pelindung ponselnya yang (menurut Ali) terlalu ramai. Ali cuman memasang wajah jijik.
Raib juga cantik. Rambut hitam panjangnya selalu bikin orang-orang memujinya. Poninya menjadi sentuhan manis di wajahnya. Panjangnya sudah melewati alisnya. Sepertinya sudah lama sejak ia memotongnya, mengingat jadwal padat kami yang dipenuhi petualangan. Matanya sering jadi korban rambut poninya yang terlalu panjang itu.
Seli jadi teringat saat mereka di klan matahari minor. Ketika Raib memakai jepit rambut bulan dari Ali. Wajah yang tadinya ditutupi beberapa helai rambut itu jadi terlihat lebih jelas. Seli yakin dia melihat bidadari hari itu. Bahkan lebih cantik. Dia tidak melebih-lebihkan.
"Eh? Ada apa Sel?" Raib kaget. Seli lebih kaget, dia baru sadar tangannya lagi menyingkirkan rambut Raib agar wajahnya lebih terlihat olehnya.
"O-oh, enggak, tadi eh... aku takut rambut kamu kena kuah bakso." Dia hanya tertawa gugup sambil menyelipkan rambut Raib ke telinganya. Malu.
Ali ikut nimbrung sambil menyendok baksonya. "Ada apa, sih, yang ada di mukanya Raib? Dilihatin mulu dari tadi."
Aduh. Sudah selama itu ya Seli melamun?
Seli mulai meracik semangkuk bakso yang dia abaikan dari tadi. "Siapa sih yang gak betah nontonin mukanya Raib? Muka secantik itu udah cocok dipajang di museum."
Raib mengangkat alisnya. Sudut bibirnya juga naik sedikit. Hangat familiar mulai terasa di wajahnya. Tidak biasanya Seli mengeluarkan kalimat seperti itu kepadanya. "Apa, sih. Jangan aneh-aneh, deh."
Setelah menelan baksonya, Ali mengangguk setuju. "Iya juga."
Seli baru lihat kondisi Raib setelah Ali setuju dengan ucapannya. Kuping yang terlihat karena rambutnya diselipkan di sana tadi memerah. Seli yang melihat itu merasa dadanya seperti diremas dari dalam. Detak jantungnya menjadi lebih cepat.
Seli menyikut lengan Raib sambil memasang senyum jahil. Senyum yang agak dipaksa, bermaksud untuk menggoda Raib. Raib segera menyuruhnya diam.
.
.
Mereka jalan balik ke kelas setelah menghabiskan bakso mereka. Seli bersisian dengan Raib.
"Tadi itu, kenapa Sel?" Raib tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang ambigu.
Seli jadi panik sendiri.
Tadi aku ngeliatin Raib lama banget pasti dia jadi gak nyaman. Sampai megang-megang rambutnya juga. Atau jangan-jangan, Raib bisa baca pikiran? Dia gak pernah cerita aja ke aku sama Ali. Berarti Raib denger semua pikiranku tentang dia, dong? Raib jadi makin gak nyaman!
"MAAF BIKIN KAMU GAK NYAMAN!" Seli menyatukan telapak tangannya di depan wajahnya sendiri. Sebagai bukti permohonan maafnya yang serius. Dia masih berharap Raib tidak benar-benar bisa membaca pikirannya.
Raib terdiam sebentar, terlihat terkejut. Tak lama kemudian ia tertawa. Manis. Sepertinya kebutuhan gula Seli seminggu ini sudah terpenuhi.
"Nggak, kok. Aku cuma kaget, tiba-tiba kamu memujiku segitunya."
Seli sedikit lega. Setidaknya Raib (mungkin) tidak bisa membaca pikirannya. Raib tidak berkomentar tentang isi pikiran Seli saat bengong tadi. Tapi apa yang gadis cantik itu katakan selanjutnya membuat Seli panik lagi.
"Secantik ini gak mau diajak jalan sama kamu besok?"
...
"Eh?"
Seli belum sempat membalas kalimat Raib karena Raib mengganti tujuannya ke kamar mandi. Seli disuruh Raib untuk ikut Ali saja ke kelas.
Sebenarnya Seli memikirkan pertanyaan (atau ajakan?) Raib sampai bel pulang sekolah berbunyi. Tapi Seli memilih untuk berpura-pura lupa kejadian tadi. Untuk kesehatan jantungnya. Untungnya Raib juga tidak mengungkit kejadian itu.
.
.
"Ada masalah apa, sih, si putri satu itu!!" Seli menenggelamkan wajahnya ke bantal kasur. Padahal dia belum mengganti baju seragamnya.
Pulang sekolah tadi mereka tidak naik angkot seperti biasanya. Raib mau berjalan kaki—dengan teknik teleportasi. Alasannya sih, katanya dia tidak mau berdempet-dempetan di cuaca panas hari ini. Dia bersumpah teknik teleportasinya tidak akan ketahuan orang lain. Lagi pula kamu juga pakai ILY. Itu jawaban Raib ketika disudutkan Ali.
Seli iseng bercerita tentang parfum barunya di perjalanan pulang mereka.
"Aku punya parfum baru sekarang, loh, Ra. Aku lupa mau ngasih tahu kamu tadi."
"Oh iya?"
"Iya! Kayaknya masih awet, deh, wanginya. Aku baru—."
Raib tahu kebiasaan Seli yang suka menyemprot parfum ke lehernya. Jadi, belum sempat Seli menyelesaikan kalimatnya, Raib sudah mendekatkan hidungnya ke leher Seli.
"Mhm. Wanginya enak, Sel. Cocok juga sama aroma badan kamu. Jadi makin wangi." Raib sudah menjauhi kepalanya dari leher Seli. Sedangkan yang dipuji masih terdiam di tempat. Rasanya sekujur badan Seli membeku. Padahal Raib tidak mengeluarkan kekuatannya sama sekali.
"Ah.. ahaha. Iya, kan?"
Seli yang mulai mengumpulkan kesadarannya melangkah mundur. Seli bukan seperti Raib yang wajahnya otomatis memerah ketika malu. Dia lebih bisa mengontrol dirinya. Setidaknya itulah yang dia pikirkan.
Sekarang Seli hanya bisa mengalihkan wajahnya dari Raib. Menghindar dari kontak mata yang disengaja ataupun tidak. Tapi genggaman tangan mereka, sebagai syarat melakukan teknik teleportasi untuk Seli, belum dilepas dari tadi.
"Anu.. Seli?" Setelah hening setengah menit, Raib yang memilih untuk memecahnya. "Aku tinggal ya?"
Seli baru sadar mereka sudah berada di kamarnya. Dia langsung melepas genggaman tangannya. "Oh. I-iya. Hati-hati di jalan, Ra. Dadah." Seli melambaikan tangannya, masih agak canggung.
Raib tertawa kecil, lalu membalas Seli dengan lambaian tangannya juga. Setelah itu dia menghilang.
Memikirkan kejadian tadi membuat wajah Seli memerah. Semerah emoji hati yang dikirim Raib di room chat-nya. Raib memberi kabar bahwa ia sudah sampai di rumahnya sekaligus berterima kasih karena Seli sudah menemaninya pulang sekolah. Seli hanya membaca pesan itu lewat notifikasi.
Raib memang selalu baik padanya. Berteman selama kurang lebih 3 tahun selama masa remajanya juga membuat Raib lebih mengenal Seli daripada siapa pun. Seli sudah sangat nyaman dengan keberadaan Raib. Sampai-sampai dia rasa, Raib harus selalu ada di setiap halaman cerita hidupnya.
Dia sangat bersyukur kesalahapahaman dari klan matahari minor sudah terselesaikan dengan baik. Seli tidak tahu akan seperti apa nasibnya kalau Raib terus menjauhinya.
Seli memang suka yang cantik-cantik. Raib itu cantik. Banget. Bukan cuma tampang dan perawakannya, sifatnya juga. Raib baik kepada semua orang, bahkan orang yang baru dia temui sekalipun.
Kalimat yang Raib buat juga sangat cantik. Sepertinya itu hasil dari membaca seribu (lebih) buku dalam 18 tahun hidupnya. Seli selalu suka puisi yang Raib buat ketika mereka diberikan tugas membuat puisi.
Intinya, Seli suka Raib.
Naksir teman sendiri itu hal yang biasa kan? Apalagi mereka sudah berteman dekat selama 3 tahun. Sudah melalui banyak petualangan dan pertarungan. Tentu hubungan mereka bakal lebih (sangat) dekat.
Yang tidak biasa itu Seli suka sama orang yang, dia tahu sendiri, sudah punya gebetan. Berteman 3 tahun dengan Raib juga membuat Seli sangat kenal orang yang Raib sukai.
Seli menghela napas yang cukup berat. Dia sudah terbiasa dengan pikiran tersebut. "Percikan" perasaan itu selalu muncul lagi karena, ya, orang yang dia taksir selalu muncul setiap harinya. Dan selalu berakhir dengan dia menanam lagi perasaannya dalam-dalam.
Makanya Seli tidak menganggap serius pertanyaan Raib setelah dari kantin tadi. Mungkin Raib hanya ingin berjalan-jalan santai dengannya sebelum mereka mengurus hal-hal dunia paralel yang berat. Mungkin Seli akan mengajaknya ke mall besok. Sebagai teman dekatnya.
Seli akhirnya bangkit dari tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi. Ia akan mengirim pesan ajakan ke mallnya setelah ia selesai bersih-bersih. Sekalian membersihkan pikirannya.
.
.
Satu hal yang Seli tidak tahu, Raib juga merasakan hal yang sama dengannya.
"Tadi, aku kayaknya berlebihan banget ke Seli," Raib merebahkan dirinya di kasur sambil mengingat-ingat sikapnya terhadap Seli hari ini. "Habisnya dia lucu banget? Aku bales godain malah diem."
Raib mengira kalau Seli memujinya hanya karena dia ingin. Membalasnya dengan godaan sedikit tidak masalah, kan? Raib juga berpikir kalau pertanyaannya tadi tidak akan dianggap serius oleh Seli.
Raib hanya ingin menghabiskan waktunya lebih banyak dengan Seli. Gila kalau dipikir-pikir Raib pernah menjauhi Seli selama dua minggu. Bahkan tidak peduli kalau saja Seli tidak pernah bangun dari kasurnya pada hari itu. Untungnya itu hanya perasaan sesaat. Rasa sayangnya ke Seli lebih besar. Ia berjanji setiap hari rasa sayangnya ke gadis matahari itu akan selalu bertambah.
Tapi Raib sangat paham sahabatnya yang satu itu tidak memiliki perasaan lebih kepadanya. Makanya dia tidak berharap banyak. Tapi apapun yang ia lakukan bersama Seli, meski hanya perjalanan pulang sekolah yang singkat, Raib akan taruh kenangan tersebut di bagian yang paling penting dalam dirinya. Di bagian orang yang paling ia sayangi—selain keluarga dan orang-orang terdekatnya.
