Work Text:
Suara sepatu kets itu beradu dengan paving batu, terdengar suaranya yang berderap ringan namun cepat. Untuk sesaat, kets itu berhenti melangkah. Kemudian mengambil jalan kembali seolah urung melangkah maju, namun beberapa langkah kembali, sepatu itu berhenti untuk beberapa waktu. Lagi, ia memutar arah dan kembali melangkah.
Sepertinya untuk beberapa saat si pemilik kets cokelat itu—Kaveh, terlihat ragu untuk mengambil keputusan. Namun kali ini, ia meyakinkan keputusannya dan melakukan apa yang selama ini mengganggu benaknya.
Padahal Kaveh punya banyak pekerjaan, ia tidak bisa mengurus urusan orang lain. Terakhir kali—lusa kemarin, Kaveh ikut campur urusan orang lain, ia terlambat mengerjakan proyek pesanan kliennya dan itu membuat Kaveh harus bergadang. Ia sendiri sudah kesulitan dengan pekerjaannya, namun .. tidak, tidak bisa. Sudah satu bulan Kaveh melihat Layla duduk di kafe itu, semakin hari cangkir kopinya semakin banyak. Apalagi dengar-dengar Layla sedang menjalani semester akhirnya.
Kali ini Kaveh akan ikut campur, jika ada yang bisa ia bantu maka akan dengan senang hati Kaveh membantu Layla. Pemuda ini pun mempercepat langkahnya, ia segera menghampiri meja adik tingkatnya. Ia mendapati Layla masih di bangku yang sama—sebelah jendela, ada di sisi kanan kafe namun berada di tengah antara 3 meja yang ada.
Tanpa meminta izin, Kaveh langsung menarik kursi. "Kapan terakhir kali kamu tidur?" tanyanya langsung karena kantong mata Layla itu mirip seperti isi mehrek! Lebar sekali! Ini meresahkan.
Yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya itu mengalihkan pandangannya kemudian menunduk sopan. "Ah, kak Kaveh. Selamat siang. Uh, ku pikir .. mungkin ya," Kaveh mengangguk dengan was-was. "Tiga hari lalu?"
"Memang apa sih yang kamu kerjakan itu?" Kaveh pun melirik ke arah laptop Layla. Disana terbuka web dengan tabs kecil-kecil yang Kaveh yakini itu adalah tabs jurnal-jurnal pendukung, hasil searching di kanal internet—hanya itu. Aneh sekali, apakah Layla tidak membuka sosial media sebagai refreshing barang sedetik? Kaveh tidak bisa seperti gadis ini, ia pasti sudah mengerjakan sembari membuka tabs sosial media untuk refresing sebentar.
"Ah, itu. Akhir-akhir ini kan ada perubahan di bulan, jadi aku membantu profesor untuk meneliti akan hal itu. Lumayan loh, aku ikut jadi penulis kedua dan ini akan menjadi portofolio yang bagus untukku. Tentu saja aku dibayar kok."
Ah, seperti itu. Memang akhir-akhir ini ada perubahan bulan di langit Teyvat, rasanya bahkan lebih cerah saat malam dan syahdu. Jika dirinya tidak bisa tidur, Kaveh memilih jalan-jalan malam untuk menenangkan pikirannya baru ia tidur dan itu membuat kualitas tidurnya membaik. Yah, lupakan soal dirinya, kini fokus Kaveh adalah Layla.
"Daaan, kamu bergadang selama 3 hari karena ini? Maksudku, aku paham kalau menjadi co-writer dosenmu di artikel itu benar-benar berpengaruh, tapi maksudku adalah, setidaknya tolong istirahat? Lihat, bahkan gelas kopimu lebih banyak dari jam tidurmu?" Kaveh menggeleng, mulai mengomel dan Layla menyengir tanpa dosa.
"Mau gimana lagi, kak. Nanti malam aku harus kembali ke kampus. Mengobservasi bulan." setelah mengatakan itu, Layla menguap dan hendak minum kopinya lagi, tapi Kaveh menahan tangan Layla. Gadis itu jelas terkejut, kemudian menarik kembali tangannya.
"Eh?"
"Ah, maaf," Kaveh buru-buru menarik tangannya saat mendapati ketidaknyamanan di ekspresi Layla. Pemuda ini kemudian meluruskan niatnya. "Kamu mungkin menganggapku aneh dan konyol karena ikut campur dalam urusan sepele, tapi aku tidak bisa diam saja saat melihat orang yang ku kenal," dan disukainya. "Kesusahan. Apalagi sudah satu bulan aku melihatmu disini, semakin lama semakin terlihat mengkhawatirkan. Apakah profesormu tidak memberi jadwal?"
Biasanya akan diberikan jadwal dan Kaveh sendiri yakin pengamatannya pun tidak dilakukan setiap malam. Setelah penggulingan rektor Azar kemarin, regulasi di Akademiya dibenahi termasuk dengan jam kerja dan hidup seimbang antara kuliah dan kehidupan pribadi. Jika profesor yang mengajak Layla bekerjasama tidak memberikan hal itu, sudah pasti itu pelanggaran. Kaveh akan membantu Layla untuk mengadukan masalah ini pada senat akademiya.
Layla mengangguk, gadis itu mengambil ponselnya dan mencari jadwal yang diberikan. "Iya, sudah kok. Jadwalnya sudah cukup longgar, tidak seketat itu. Hanya saja ini kan fenomena baru, aku ingin melakukan yang terbaik agar nantinya kalau ada mahasiswa lain yang mencantumkan sitasi, itu bisa dipertanggungjawabkan." Kini Layla menunjukkan layar ponselnya. Disana nampak jadwal penelitian yang dijalankan.
Kaveh hanya melihat jadwal Layla, jadi gadis ini sebenarnya hanya mendapat 3x giliran observasi malam dalam seminggu, kemudian mencari jurnal pendukung setidaknya 2 hari sekali berarti jika Kaveh perhitungkan, satu minggu bisa 3-4 jurnal, kemudian senin pagi berkumpul untuk mendiskusikan penemuan minggu kemarin, dan sekarang sudah memasuki bulan ketiga pengerjaan. Kaveh pun menatap Layla, sebenarnya ia penasaran dengan jadwal harian gadis itu tetapi ia khawatir membuat suasana menjadi canggung dan tidak nyaman.
"Kamu tidak membuat jadwal harian?" Layla mengangguk, menjawab pertanyaan Kaveh dengan sedikit penjelasan kalau ia memiliki jadwalnya sendiri tapi memang itu penuh dengan kegiatan.
Seolah menjadi kesempatan, Kaveh berdehem pelan dan berpikir ia bisa mengetahui jadwal Layla dan siapa tahu bisa mengajaknya pergi makan malam atau mungkin sekadar jalan-jalan. Tetapi itu nanti saja! Fokus utama Kaveh saat ini Layla—iya, maksudnya jadwal gadis ini. "Sesibuk apa? Bisa deskripsikan singkat? Senin sampai minggu." Kaveh mengeluarkan tabletnya, ia akan mencatatnya dan memikirkan solusi untuk Layla.
"Ah, maaf merepotkan kak Kaveh," Layla seperti merasa bersalah karena membuat Kaveh mengkhawatirkannya.
Pemuda ini menggeleng pelan, "Tidak, tidak masalah," justru Kaveh ingin memperhatikan Layla. "Aku sedang senggang. Ceritakan saja, siapa tahu aku dapat ide membuat sesuatu untukmu. Lumayan, bisa masuk portofolioku dan kamu terbantu?"
Untuk sesaat Layla ragu, namun karena sama-sama menguntungkan, Layla pun menjelaskan. "Kurang lebih, karena aku mahasiswa akhir, aku hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir, sudah selesai kok tinggal menyusun dalam bentuk jurnal saja. Tetapi aku tidak bisa bersantai karena aku langsung daftar jenjang berikutnya, jadi aku juga belajar dan mempersiapkan untuk tes masuk, dan menambah portofolio pengalaman. Jadi aku mulai daftar beberapa kegiatan, salah satunya menjadi co-writer dengan profesor bimbinganku soal fenomena bulan baru, terus menjadi pembicara di beberapa seminar, aku juga akan menerbitkan jurnal dan rencanaku adalah studi literasi karena profesor menyarankan itu dan lumayan bisa menjadi latihanku sebelum menulis tesis. Terus aku berpartisipasi pembangunan di desa Aaru, aku bagian penentu arah mata angin."
Wow, sangat sibuk.
"Jadi, kapan kamu istirahat? Weekend?"
"Ah.." Layla seolah tersadar sesuatu, dan itu jujur membuat Kaveh merasa was-was, ia curiga gadis ini tidak memikirkan dirinya sendiri. "Aku istirahat kok, kalau tidur?"
"Dan makan?"
"Iya, dan makan."
Rasanya tidak hanya itu deh, Kaveh ingin tahu lebih lanjut. "Kebersihan diri juga?"
"Tentu saja, eh tapi itu bukan istirahat?"
"Bagaimana dengan skincare?" setidaknya kalau perempuan kan rajin merawat diri.
Layla diam sesaat dan itu membuat Kaveh resah, "Yah, kalau itu aku pasti rutin kok kak. Aku masih bisa menjaga diri. Apakah ini berhubungan dengan caramu membantu?" tanyanya ragu-ragu.
Apakah Kaveh terlalu menggebu dalam niat baiknya? Oh astaga, ini agak memalukan. Pemuda ini pun diam sesaat, ia berdehem pelan. "Iya, karena menyesuaikan jadwal harus disesuaikan dengan kebiasaan sehari-harimu. Itu termasuk berapa kali kamu makan, jika ada sakit perlu diingatkan minum obat, lalu saat kebersihan butuh waktu berapa lama karena mungkin saja kamu perlu melakukan skincare rutin atau pergi ke spa," Kaveh gugup, ia harap ia tidak terdengar seperti orang cabul yang sok tahu. "Jika pertanyaan itu mengganggumu, beritahu saja kegiatan harianmu."
Namun saat netra keduanya bertemu, Layla malah tersenyum senang. "Terimakasih sudah memikirkanku sejauh itu, maaf merepotkan—"
"Oh tidak, kok, tidak." Kaveh buru-buru mengelak kalau ia direpotkan dan ia melihat senyum gadis itu seolah menerangi harinya meski menurut perkiraan cuaca, sore nanti hujan angin, tetapi hari ini adalah hari cerah.
"Kak Kaveh memang baik ya dari dulu, terimakasih," rona merah di wajah Layla seperti strawberry segar di musim panas—manis. "Kalau tidak keberatan, aku akan bercerita panjang, bagaimana Kak?"
Setelah itu Kaveh mulai mengajukan beberapa pertanyaan dasar seperti keseharian yang dijalani Layla, makanan apa saja yang dikonsumsinya, lalu apa ada riwayat sakit tertentu, dan tentu saja hal yang disukai ataupun tidak disukai Layla. Sisa sore hari itu, Layla agak bebas dari kesehariannya yang begitu suntuk dan melelahkan. Kaveh menjadi angin segar untuknya dan kali ini minuman yang ada di meja bukan lagi kopi, melainkan teh lavender yang menenangkan.
Kaveh sendiri senang menghabiskan sorenya dengan Layla, setidaknya ia tahu bahwa dirinya meringankan beban yang dirasakan oleh gadis itu meski sesaat.
Setelah interview sore hari yang agak terburu-buru itu, Kaveh mendapatkan informasi soal Layla. Gadis yang sudah ia sukai agak lama itu ternyata bukan pekerja keras tetapi terpaksa mengerjakan tugas meski harus bergadang—ini Kaveh bisa mengerti dan sedikit menggelitik perutnya, Layla sering ketiduran dan uniknya gadis itu bisa tidur sambil berdiri ataupun duduk atau bahkan berjalan! Layla punya sleep walking, mudah kagum dengan kemampuan orang-orang hebat, dan .. oh astaga, demi apapun, Kaveh ingin cekikikan dan guling-guling saat mengetahui kalau Layla itu suka minum segelas susu hangat. Sekali lagi, segelas susu hangat! Jika mereka punya hubungan, Kaveh siap menghampiri asrama Layla setiap malam hanya untuk mengantarkan segelas susu hangat.
Malamnya Kaveh langsung mengerjakan sesuatu, proyek baru untuk Layla dan pekerjaan lainnya. Ia mengerjakan dengan senang dan sesekali bersenandung, padahal biasanya muka Kaveh begitu kusut dan uring-uringan. Bahkan kini radio pun berputar, menyenandungkan lagu yang disukai Layla.
Jatuh cinta itu unik, karena kamu akan memiliki segunung kekuatan tanpa batas untuk pujaan hati. Mulai hal remeh untuk tersenyum padanya sampai hal mustahil seperti memetik bintang pun bisa dilakukan. Semua rasa lelah dan kesulitan itu berganti dengan bahagia akan bayangan sang kasih dapat hidup dengan lebih nyaman dan baik dari sebelumnya.
//
Seminggu setelahnya, Layla mendapatkan yang didesign oleh Kaveh. Itu adalah smart watch yang berbentuk bintang. Jelas ini adalah hal terbaru dan bahkan perusahaan elektronik tidak membuatnya, pun kalau ada harganya pasti fantastis! Layla sempat ragu untuk menerimanya, namun Kaveh memaksa. Mau tidak mau pun, Layla memakai smart watch bintang itu mulai dari hari ini.
Setelah kepergian Kaveh, Layla menatap desainnya—cantik, dominan berwarna biru gelap dan kuning cerah. Layar touch screen itu menunjukkan jam analog, yang jika di geser ke bawah akan terlihat animasi luar angkasa yang cantik. Untuk sesaat Layla kagum karena ia bisa melihat galaksi andromeda yang berputar kemudian berpindah ke galaksi milky way. Ia juga bisa memilih untuk melihat planet atau bintang mana. Jujur, menurut Layla semua ini benar-benar indah meski ia hanya bisa melihat di layar kecil.
Aku suka dengan langit, namun sayangnya aku tidak bisa melihat setiap hari, apalagi jika sedang mendung.
Namun Layla tidak bisa terus-terusan kagum dan menatap jam ini, ia harus pergi ke perpustakaan dan mencari sumber refrensi untuk tugas akhirnya. Gadis ini pun segera bergegas dan mengerjakan tugas akhirnya. Ia perlu tambahan refrensi dan mencari sumber lainnya untuk bahan pembicaraan di sebuah talk show kecil yang diadakan adik kelasnya.
Dari pagi sampai jam makan siang, Layla menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk belajar dan mencari bahan materi. Sampai kemudian jam itu berkelip untuk beberapa saat, ini membuat Layla terkejut dan panik, ia pikir jamnya akan meledak, namun ternyata tidak. Itu berisi notifikasi pengingat untuk makan siang. Layla berkedip beberapa kali lalu memencet notifikasinya. Disana terlihat animasi bintang yang berkelap kelip kemudian meledak seperti kembang api, mengingatkan dirinya untuk segera makan siang dan ditambah dengan informasi tempat makan mana saja yang sedang ada promo murah.
Tanpa sadar, Layla menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Aku sih nggak ada makanan yang nggak aku suka kak, semua aku makan kecuali yang mahal. Biasalah ya Kak, mahasiswa. Aku carinya yang murah dan ngenyangin, kadang tuh ada yang beneran enak tapi mahaalll banget, sedih.
Kaveh mengingat keluhannya akan hal sepele, itu membuat Layla senang sekaligus takjub. Ketelitian pemuda itu dalam mendesain suatu hal itu luar biasa. Rasa kagum dan respeknya pada Kaveh pun semakin melambung tinggi, ia ingin segera lulus dari Akademiya dan menjadi salah satu lulusan yang keren. Namun sebelum melangkah sejauh itu, mari kita isi perut dan tenaga. Apalagi diskon yang di tawarkan di kedai makanan baru buka ini sangat menggiurkan—Layla bisa mendapat 1 porsi makan seukuran pria dewasa dan segelas teh jumbo dengan harga setengah porsi jika beli di kantin.
Jam makan siang Layla berjalan dengan memuaskan, ia makan makanan enak, poris banyak dan ramah kantong pelajar. Itu membuat Layla sedikit .. mengantuk, ia memilih untuk berjalan-jalan menurunkan makanannya. Namun saat melihat bangku yang terlihat nyaman—berada di bawah pohon rindang, Layla merasa terundang untuk duduk dan menikmati hembus angin sembari melihat kota Sumeru saat jam makan siang.
Benak yang tadinya berkecambuk riuh, kini menjadi lebih tenang dan damai seperti hembusan angin saat ini. Layla mengandah ke langit, ia tidak bisa melihat bintang maupun pantulannya saat siang. Jadi ia melihat ke sekitar. Ternyata rasanya sama saja, ia tetap menjadi observant. Itu .. agak membuat Layla merasa agak rileks karena ia tidak perlu mengerahkan fokusnya hanya untuk mencatat pergerakan planet atau perubahan fenomena di angkasa.
Perlahan, Layla mengantuk. Beberapa hari terakhir ia cukup sibuk dan kurang istirahat. Lambat laun, ia pun bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya. Lima menit tidur siang seharusnya tidak masalah, kan? Tidak masalah. Gadis ini pun tidak perlu menghitung ada berapa domba yang melomat hanya untuk pergi ke alam tidur. Layla pun terlelap begitu saja.
Kadang aku sering ketiduran Kak, dimanapun itu jadi kayaknya .. aku butuh alarm juga soalnya kadang mau alarm ponsel pun aku sendiri lupa atau kepalang ngantuk untuk settingnya. Kalau ada jam berdering 10 menit setelah aku tidur, itu kayaknya keren banget!
Setelah 10 menit terlelap, Layla terbangun karena smart watch yang diberikan Kaveh berbunyi dan bergetar. Gadis ini terkejut kemudian melihat sekeliling baru pada jam di tangannya. Oh.. Layla pun buru-buru menghentikan alarm itu.
"Eeh? Sudah 10 menit! Aku harus kembali ke perpus!" Layla langsung berdiri namun itu membuatnya pusing. Gadis ini pun kembali duduk terlebih dahulu untuk meredakan pening di kepalanya. Astaga, ia ceroboh sekali, atau jangan-jangan sedang anemia? Akan Layla cek nanti sore ke dokter.
"…" Ia baru sadar kalau jam pemberian Kaveh ini sangat berguna untuknya. Ia belum berterimakasih dengan benar, Layla pun mengirim pesan singkat pada seniornya.
'Halo kak Kaveh, sejauh ini jamnya keren banget! Makasih ya kak, aku traktir makan ya kak! Kabari kapan bisanya.'
'Hii! Senang kalau jamnya membantu, weekend gimana? Kamu yang pilih tempat makannya, aku ikut aja.'
'Oke! Kebab ya Kak?'
'Kebab!'
Baik Kaveh maupun Layla tersenyum setelah setuju untuk makan kebab bersama. Apa yang spesial? Mungkin karena keduanya ingin bertemu lagi dan mengobrol untuk waktu yang lama, lebih lama dari minggu kemarin.[/]
