Work Text:
.
.
.
Kata Keiten, anak kelas tiga IPS empat itu bilang, sudah dua tahun semenjak Pak Riaan masuk ke sekolah ini setelah dinyatakan lulus P-tiga-K, dan Pak Dane kenapa masih aja belum ngedeketin guru bahasa inggris super cakep itu. Sayang banget lengan besar Pak Dane nganggur gak ada yang gandeng tiap kondangan, minimal banget Pak Riaan yang menggelayut di sana. Kan, gak apa-apa juga?
Bel pulang sudah berbunyi lima puluh menit yang lalu, tetapi Dane terjebak bersama beberapa anak murid yang ia hukum karena tidak mengerjakan PR. Sementara itu, Keiten, baru menulis setengah dari keseluruhan kertas, terus saja menyerocos tentang Pak Dane yang jomblo ngenes, Pak Dane yang gak bisa move on, Pak Dane yang ditinggal kawin, Pak Dane ini, dan Pak Dane itu.
“Itu temen-temenmu udah pada beres, sisa kamu aja. Buruan selesain tugasnya. Bapak juga mau pulang.”
“Siapa suruh ngasih hukuman. Sama-sama gak bisa pulang kan kita jadinya?”
Wah, murid bajingan.
Anak-anak zaman sekarang emang kerjaannya ngejawab mulu. Dulu kalau dimarahin guru, Dane bisa takut setengah mati. Sekarang, gak ada takut-takutnya. Mana kabar kalau Dane ditinggal tunangannya kawin sama orang lain sudah menyebar ke mana-mana. Dane dicap sebagai guru jomblo-ngenes-gak bisa move on-mending download bumble aja.
“Tapi jujur aja, deh. Menurut Bapak, Pak Riaan cakep, gak?”
Pertanyaan itu menarik perhatian Dane dari video live tiktok orang jualan speaker mobil warna-warni. Dane mikir, iya sih, Riaan tuh cakep—banget malah. Kayak bule. Mungkin karena itu dia jadi guru bahasa inggris. Kemampuannya juga di atas rata-rata. Kalau lagi jadi pembina upacara, dalam amanatnya terkadang diselipin quotes dalam bahasa inggris, sementara yang lain ngango gak ngerti.
Dua tahun yang lalu, pengumuman P-tiga-K menggemparkan dunia pencari kerja. Dane yang memang sudah lama bergelar pegawai negeri sipil resmi under Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, turut menantikan siapa yang akan dilempar ke SMA mereka. Siapa yang akan menggunakan batik biru Korpri itu, dan kalau banyak tingkah, siap Dane tatar. Lima orang ditugaskan, tiga orang menjadi penata usaha, dua lainnya menjadi guru.
Salah satunya Riaan, yang ditugaskan menjadi guru bahasa inggris untuk kelas sebelas. Dane pernah gak sengaja lewat, mulutnya nyerocos gak jelas dalam bahasa orang. Wah, jago. Kemudian mata mereka saling ketemu. Riaan nunduk kecil, bentuk hormat formalitas untuk senior, lalu tersenyum kecil.
Bohong kalau Dane ngaku dia gak dag-dig-dug melihat pemandangan surgawi begitu. Oh, jadi ini guru yang membuat banyak muridnya menggatal itu.
“Cakep, kok.” Itu terdengar aneh, rasanya kayak lagi dijahilin sama anak murid sendiri. “Semua guru di sekolah ini kan cakep semua, termasuk Bapak. Kalau gak cakep, gak dibolehin jadi guru di sini.”
Keiten mencibir, ia menutup bukunya—oh, akhirnya dia selesai, Hagiwa sudah nunggu lama banget di depan kelas—lalu maju ke depan untuk meminta nilai. “Pak Dane main aman. Kalau beneran naksir bilang aja, Pak.”
“Jangan ngawur kamu.”
“Aku mau bantuin kok, Pak.”
“Yang perlu kamu urusin itu—” Dane mencoret soal nomor tiga, empat, dan tujuh dengan pulpen merahnya, “—adalah nilai matematikamu yang makin anjlok gini.”
“Tapi, Pak, matematika kan emang susah—”
“Loh, Dane? Masih ngajar?”
Tepat sekali ada Pak Youngjun yang berhasil menyelamatkan Dane dari cerewetnya Keiten. Guru geografi itu sudah siap pulang, dengan jaket hitam, tas ransel hadiah dari ASUS di punggung, dan tas laptop di genggaman. Ia masuk dan mencoba mengintip apa yang dikerjakan Keiten.
“Keiten dihukum ya, Pak?”
“Iya. Nih anak kebiasaan banget lupa ngerjain PR. Saya bodo amat dia pulang telat. Biarin aja dia ditinggalin rombongannya.”
“Keiten, kamu udah kelas dua belas loh, masih aja gitu. PR Geografi juga sering banget gak kamu kerjain.”
Keiten manyun. Sial sekali dimarahi dua guru sekaligus siang-siang bolong gini. Mana MBG hari ini gak enak lagi.
“Iya, iya, nanti aku lebih rajin lagi, deh.”
“Beneran, ya? Bapak lihat kamu main roblox terus, kurang-kurangin.”
Dane mengernyit, “Kok Pak Youngjun tahu si Keiten main roblox terus?”
“Soalnya saya main juga.”
“Oh….”
Gak ekspek, bjir.
Selain Dane, ada pula Youngjun yang bergelar guru cakep di sekolah ini. Nomor satu tetap Dane, tapi itu selfclaim. Pak Youngjun sudah lebih dulu setahun ngajar di sini, terkhusus Geografi. Sama-sama pegawai negeri sipil juga, bedanya Pak Dane lebih sering galak, Pak Youngjun anteng, kalem, lempeng, tapi tangannya suka tiba-tiba nyubit pinggang murid kalau kesel. Pick your struggle aja, mau diomelin apa mau dipelintir kulit pinggangnya.
Hari ini hari senin. Tadi beliau yang bertugas menjadi pembina. Pak Youngjun ngasih amanat gak nyampe delapan menit udah: Mungkin itu saja dari saya, mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam berucap, wassalam. Beres upacara beliau langsung ngajak Dane nge-es teh di kantin belakang.
“Pak Youngjun? Saya nyari-nyari sampean dari tadi, ternyata di sini.”
Lah, itu Pak Riaan? Kok ke sini?
Keiten ngelirik Dane yang terdiam, anak satu ini iseng banget nyikut-nyikut guru matematikanya yang kayaknya sedang star struck itu. Gak tahu aja ada backsound almost paradise dan animasi bunga-bunga imajiner di belakang Pak Riaan yang hanya muncul di kedua mata Dane.
Mungkin ini semua terjadi karena Keiten ngecengin dia dan Riaan? Mungkin karena Keiten sering kali menanyakan soal Riaan kepadanya? Sehingga itu menjadi sugesti dan menjelaskan mengapa tatapan Dane terkunci pada Riaan yang masuk ke dalam kelas dan menghampirinya. Berarti ini semua salah Keiten, setelah ini Dane akan ngasih PR lebih banyak lagi untuk bocah kematian satu itu (Hagiwa masih nungguin di luar, celingak-celinguk kenapa temennya masih belum kelar aja).
“Eh, Riaan. Aku baru mau ngasih tahu kalo habis ini mau ada rapat operator di aula dinas, jadi kayaknya aku gak bisa nganterin. Kalo Dane, bisa nganterin Riaan?”
“Hah?” Itu Dane.
“Hah?” Kalo ini Riaan.
Setahu Dane, Riaan ini ternyata masih satu keluarga sama Youngjun, keluarga jauh lah. Rumah mereka juga sekomplek, makanya Riaan ditugaskan di sekolah yang sama dengan Youngjun karena sesuai KTP. Sebulan ini, motor Riaan rusak, diserempet Pajero. Masih ngumpulin pundi-pundi receh untuk ambil DP motor baru, rencananya sih filano aja, makanya Riaan selalu nebeng Youngjun tiap beres ngajar.
“Kalo sama Dane enak, dia pake mobil soalnya.”
“Eh, aku hari ini motoran aja, Pak,” sanggah Dane cepat.
“Oh, iya soalnya gak hujan, ya. Ya udah gak apa-apa, Riaan bareng Dane aja, ya? Dane mau kok nganterin, ya ‘kan?”
Riaan ketawa—canggung. Masalahnya Pak Dane dan Pak Riaan ini gak kenal-kenal amat, gak deket-deket amat. Memang betul sudah dua tahun Riaan ngajar di sini, tapi Dane belum pernah berinteraksi lebih jauh dengan guru cakep satu ini, terus tahu-tahu disuruh boncengan?
“Kalau aku sih gak apa-apa nganterin, tapi Pak Riaannya gimana? Mau gak kuanterin?”
Cihuy.
Keiten tuh yang ngomong.
Dane melotot ke arah anak itu. Bener-bener kurang ajar.
Gak ada yang salah juga dari sekadar nganterin, ‘kan? Ya namanya rekan kerja, kalau lagi kesusahan ya Dane mau bantu, kok. Siapa pun yang mau dianterin sama Dane, gas aja lah. Gak masalah. Gak masalah banget.
Tapi semisal ada polisi tidur terus Dane mendadak nge-rem dan ngebiarin Riaan meluk dia dari belakang gitu boleh, gak? Too much, ya?
“Boleh, sih.” Riaan melangkah mendekat, “tapi arah pulang kita kan beda tuh, gak apa-apa, Pak Dane?”
“Gak apa-apa, kok.”
Fwiwit. Pak Youngjun, Riaan, dan Dane serentak menoleh pada Keiten yang bersiul.
Kalau hujan, Dane akan pakai mobil ayla keluaran 2023-nya itu demi menghindari basah dan becek. Sehari-harinya, ia menggunakan motor PCX hitam kebanggaannya itu, dengan seragam khaki khas PNS, sepatu pantofel Buccheri, tas ransel hitam yang isinya ada laptop mac, tumblr corkcicle—sering kali dikira pesugihan babi ngepet karena kok barang-barang yang dipakai mahal-mahal semua? Sampai pulpen buat nyorat-nyoret buku Keiten aja merknya Uni Mitsubishi Jetstream Prime.
Old money, bos. Orang tua udah kaya duluan. Punya kebun sawit dan karet. Pewaris, bukan perintis.
Anyway, mereka lagi jalan bareng menuju parkiran, Dane ngelirik Riaan sebentar. Itu orang masih kikuk aja, Dane bingung gimana supaya suasana di antara keduanya bisa lebih cair.
Apa cipok aja, ya?
Dane langsung menggeleng, menghapus pikiran-pikiran setan itu dari dalam kepala.
Kunci diputar, mesin dinyalakan, bensin penuh, helm dipasang rapat. Riaan duduk di belakang, agak jauh.
“Pak Riaan, kalau terlalu jauh duduknya nanti jatoh. Majuan aja gak apa-apa.”
Kalo kata Keiten sih, modus.
“Eh, iya.” Riaan mendekatkan duduknya agak lebih maju. Dane mengulum senyum.
“Gimana tadi ngajarnya? Anak-anak pada bandel, gak?”
“Hah?”
“GIMANA TADI NGAJARNYA?”
“Oh, aman. Lancar aja, kok.”
“Hah?”
“AMAN! LANCAR AJA, KOK!”
Siapa suruh ngajakin ngobrol pas lagi motoran gini. Yang terdengar nyaring itu angin, bukan suara merdunya Riaan.
“PAK RIAAN!”
“IYA?”
“UDAH NIKAH?”
“BELUM!”
“SAMA!”
Kalau sepanjang perjalanan ngobrolnya teriak-teriak begini terus, tidak akan ada kemajuan (kemajuan … apa?). Dari kejauhan terlihat gerobak pedagang es dawet sedang mangkir di sisi taman. Matahari berada di pucuk kepala, panasnya menjilat kulit. Yang dingin-dingin kayaknya seger.
Dane memakirkan motornya di dekat gerobak. “Bentar, ya. Beli dawet dulu, haus.”
“Oh, iya.”
“Bang, dawetnya dua.”
“Eh, saya gak usah….”
“Gak apa-apa.”
“Duh, jadi gak enak. Saya yang bayar, ya?”
“Gak apa-apa, Pak Riaan. Aku aja.”
“Saya aja, Pak Dane.”
Riaan sudah mulai mengeluarkan dompet, kemudian ditahan oleh Dane. “Gak usah, aku aja. Gak apa-apa, ini aku yang traktir.”
Melihat momen super jomok tersebut, abang-abang penjual es dawet menyipitkan mata dan berpikir: nih yang begini di kota-kota besar emang banyak, nih. Tapi apa pedulinya beliau. Yang penting dagangannya laku, duit masuk kantong, dan istri bisa beli sembako.
Dane menarik dua bangku dari sisi gerobak. “Pak Riaan, duduk sini.”
“Iya, makasih, Pak.”
“Sempet ngajar Keiten gak di kelas sebelas kemarin?”
Riaan melepas ranselnya dan meletakkannya di pangkuan. “Gak, deh, kayaknya. Saya ngajar buat yang kelas IPA.”
“Oalah. Itu anak super kurang ajar. Demen banget iseng.”
“Pak Dane sering diisengin ya sama Keiten?”
“Iya, haha.”
Melihat ia yang tertawa manis begitu, membuat Dane berpikir ulang tentang impresinya terhadap Riaan. Riaan bukan hanya sekadar guru cakep—cantik—idaman anak-anak muridnya, mungkin, sekarang Dane juga mengidamkannya. Ada semburat merah tipis yang perlahan terbubuh di kedua pipi pria itu ketika sedang tertawa, dan Dane takjub.
Dua gelas es dawet tersaji di atas meja plastik kecil. Abang es dawet mengerling singkat ke arah Dane, good luck katanya.
“Untungnya saya sudah P3K terus ditugaskan di sini, Pak. Di sekolah sebelumnya saya kekurangan jam, jadi status sertifikasi selalu stuck.”
“Bagus, deh. Semoga betah di sini, gak usah ke mana-mana lagi.”
“Iya, udah nyaman juga ngajar anak-anak.”
Dane tertawa ringan. “Anak-anak tuh kadang emang nyebelin, tapi kalau lagi manis, ngangenin.”
“Iya anak-anak kita emang gitu.”
Anak-anak kita. Kalian kah yang nikah, melahirkan, dan membesarkannya?
Percakapan mengalir begitu saja. Bahasan mulai dari carut-marutnya urusan administrasi tenaga pendidik, nakalnya anak-anak, sampai ke urusan pribadi. Dane sempat mengisahkan bagaimana dia dijuluki guru jomblo ngenes karena ditinggalkan oleh tunangannya sendiri. Riaan hanya bergumam, tidak mau bertanya lebih jauh takut menyinggung.
“Istilahnya jatah mantan. Dia main sama mantannya di belakangku, terus sekalian kabur berdua, kabarnya udah nikah sekarang.”
Mimik Riaan tampak simpatik. “Turut sedih ya, Pak.”
“Haha, sekarang sih udah gak apa-apa. Kejadiannya tahun lalu, kok.”
“Kalau ada yang masih nge-ganjel, cerita aja sama saya boleh. Nomor saya ada aja di grup kalau mau chat.”
“Oke, deh. Eh, Pak Riaan sendiri gimana? Ini pertanyaan yang nyebelin sih, tapi maaf, kenapa belum nikah juga?”
“Memang belum saatnya aja, Pak.”
“Tapi calon ada, ‘kan?”
Riaan menggeleng pelan, ia menyeruput dawetnya. “Gak ada, Pak.”
Aneh rasanya, mengingat Riaan ini sosoknya sangat rupawan tetapi belum memiliki pasangan.
“Masa sih, Pak? Pak Riaan kan cakep gini, masa gak ada pacar?” Dane kayaknya lu terlalu kepo, deh.
“Terakhir saya pacaran tuh kuliah, Pak. Habis itu gak pernah lagi.”
“Gak bisa move on, ya?”
Riaan tersenyum, “lebih ke … gak diterima masyarakat, Pak.”
Dane … connected the dots. Mungkin apa yang ada di dalam pikirannya ini benar, mungkin juga salah. Mungkin alasan Riaan sampai sekarang belum menikah jauh lebih kompleks daripada miliknya. Memang betul Dane ditinggalkan tunangannya kabur dengan orang lain, tetapi Dane tidak merasa ia seterpuruk itu. Lagipula, perempuan itu dijodohkan dengannya, bukan pilihannya, ia hanya menuruti apa kata orangtua.
Dane sadar bahwa ia tertarik dengan perempuan—dan laki-laki ketika ia SMA. Ia tertarik dengan teman satu tim futsalnya saat mereka bermain di bawah hujan dan rambut basah itu membuat jantungnya berdegup. Riaan pun sama, Riaan juga membuat jantungnya berdebar tidak keruan. Selama ini Dane selalu menutupi itu, karena ia tahu bagaimana perlakuan Masyarakat di negeri ini.
“Hmm. Jadi, daripada aku, kayaknya mending kamu deh, yang kalau ada apa-apa, cerita aja sama aku.” Senyum Dane tampak tulus, “nomorku juga ada di grup, kok. Chat aja.”
Lalu Riaan tertawa, lebih lepas, lebih lega. Ada perasaan diterima mendengar jawaban Dane tadi. Untuk pertama kali, akhirnya, Riaan merasa ketegangan itu perlahan sirna. “Terima kasih, Pak Dane.”
“Dane aja.”
“Gak enak aku, Pak.”
“Gak apa-apa.” Dane menghabiskan seluruh es dawetnya, pipinya menggembul lucu karena seluruh jeli hijau dawet berada di dalam sana. “Aku boleh jujur, gak?”
“Jujur … apa?”
“Kamu sadar gak kalau kamu tuh … hmm—” Dane menoleh, menatap Riaan, “—cantik?”
“…. Huh?”
“Euler’s Identity.”
“….”
“Persamaan matematika paling cantik yang pernah ditemukan. Richard Feynman sampai menyebutnya permata, dan rumus paling luar biasa dalam matematika. Kenapa disebut indah? Karena persamaan euler ini mencakup lima hal penting matematika dalam satu rumus. Angka nol, angka satu, angka pi, yaitu bilangan irasional; apa itu bilangan irasional? Bilangan yang desimalnya tidak pernah berakhir, yaitu tiga koma satu empat dan seterusnya, lalu angka e, yang juga merupakan bilangan irasional, tapi e ini angka dasar dari logaritma, sering banget muncul di kalkulus dan di … itu, apa namanya … studi bunga majemuk! Nilainya kira-kira dua koma tujuh satu delapan, bla bla bla, panjang banget, dan seterusnya. Terakhir, angka i, yaitu akar kuadrat dari negatif satu, alias bilangan imajiner; kenapa disebut bilangan imajiner? Karena, di dunia nyata; di dunia kita ini, gak ada bilangan yang kalau dikalikan dengan dirinya sendiri menghasilkan bilangan negatif, artinya bilangan negatif gak punya akar kuadrat yang real. Tapi, di matematika, banyak banget situasi yang memaksa kita untuk mencari akar dari bilangan negatif. Persamaan Euler ini nyatuin banyak hal, angka biasa dan angka imajiner, even konsep lingkaran, hasil akhirnya malah sederhana—m-maksudku, dia kompleks, tapi setelah dipahami, ternyata … sederhana….”
Kebiasaan Dane dalam menjelaskan matematika terbawa sampai ke depan crush sendiri itu gimana ceritanya? No wonder, he’s a math geek. Riaan yang ia pikir sederhana, ternyata kompleks, segera mengingatkannya dengan Euler’s identity. Apalagi persamaan Euler sendiri digadang-gadang sebagai persamaan yang indah, cantik, just like Riaan himself.
“Pak Dane, gak ada satu pun yang saya ngerti.”
Dane tertawa canggung, “iyaa, aku paham, maaf udah nyerocos gak jelas. Aku tuh kadang gak sadar—”
“Saya gak tahu siapa itu Richard Feynman, apa itu angka pi, atau angka i, saya gak ngerti bilangan irasional atau bilangan imajiner.”
Dane semakin salah tingkah, kalang-kabut dengan keteledoran sendiri. “Iya, iya, maaf ya Pak Riaan. Kita pulang—”
“Inti dari maksud Pak Dane itu … saya cantik, ‘kan?”
Dane menelan ludah gugup, ia tidak mengiyakan, juga tidak mengindah. Diam memperhatikan wajah Riaan yang semakin membuatnya suka. Semburat merah itu tadinya tipis, sekarang semakin terang.
“Makasih ya, Dane.”
Aduh.
Tepat di dada.
Senyumnya, tersipunya, rona merah muda itu, dan matanya yang turut tersenyum. Ingin rasanya Dane hilang kendali, tetapi mengingat ia masih menggunakan seragam PNS dan berada di sebelah gerobak dawet, membuatnya berpikir ulang, nanti direkam orang, lalu viral masuk TV. Duh, kalau bisa ini Dane langsung telpon wedding organizer aja dan pesen tiket ke Santorini, biar bisa langsung saya terima nikahnya.
Perjalanan pulang diisi dengan Dane yang tersenyum lebar, dan tangan Riaan yang memegangi kecil ujung baju kemeja Dane. Sepanjang jalan, kasmaran menghinggapi kepalanya; Dane jatuh cinta, Dane sangat suka sekali. Dadanya tumbuh kebun bunga; bunga-bunganya bermekaran setiap kali melihat Riaan dan senyumnya. Mabuk kepayang. Belum apa-apa Dane sudah mau jadi tukang kebun. Yang mau metik bunganya, nanti dia gebuk.
Maaf anak-anak, Bapak duluan, ya. Menggatalnya batalin aja, soalnya guru idaman kalian demennya sama Bapak juga, wle.
.
.
.
“Gimana tadi?”
Youngjun duduk di kursi teras kediaman Riaan dan menemukan pria itu sedang menjahit pinggiran bajunya yang robek. Riaan tersenyum singkat; benang ditarik, diikat, lalu ia melihatkan hasil jahitannya dengan bangga.
“Kak, kamu tahu Euler’s Identity, gak?”
Youngjun menyeruput teh hangat yang disajikan untuknya, ia tampak tidak tertarik. “Pasti Dane yang ngide.”
Riaan kegirangan. “Most beautiful equivalent ever found, and that means, he told me I’m beautiful.”
Apa lah itu, Youngjun gak peduli. Si gila matematika satu itu kalau mau gombal terlalu akademis.
Youngjun terlampau capek setiap hari mendengarkan curhatan Riaan dan kesukaannya pada Dane. Pak Dane hari ini ganteng sekali jadi pembina upacara. Pak Dane kemarin senyum sama aku loh, hihi. Pak Dane ini dan Pak Dane itu. Sudah, biar ia saja yang maju kalau gitu. Youngjun yang mengide untuk membuat dua orang itu boncengan. Mana ada rapat operator di dinas setelah pulang sekolah, bodoh kali si Dane bisa percaya. Riaan juga, pulang habis dianter, dadah-dadah, lalu masuk ke dalam rumah sambil jingkrak-jingkrak.
Di sisi lain, Youngjun seneng bisa melihat keponakannya bisa balik ceria lagi kayak dulu. Tentu saja ia tahu apa yang terjadi dengannya, dan Youngjun seratus persen tidak menganggap itu mengganggu.
“Nanti pas marahannya, jangan ngadu ke aku.”
“Idih.” Bunyi pesan masuk. Riaan menutup mulutnya sendiri. “Dane nge-chat!”
“Bodo amat.”
“Dane nge-chat, Kak!”
“Emang apa katanya.”
Riaan memperlihatkan layar hp-nya.
Isi chat Dane: Hai cantik.
Ingin rasanya besok Youngjun kempesin motor PCX kebanggaan si Dane-Dane itu.
.
.
.
Selesai.
