Actions

Work Header

Sikat Gigi Cuci Muka

Summary:

“Bantu bersihin muka aku.” Keonho menjawab dengan mata sayu menahan kantuk, pun di ujung kalimatnya ia menguap lebar persis kucing yang tinggal menutup mata. “Capek banget, please, mandinya besok pagi-pagi boleh ya?”

Duh, emangnya Martin siapa sih buat menolak kemauan yang tersayang?

Notes:

I don't do double check this time so perhapsss a few part would look so messy...

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Bersihin muka terus sikat giginya dulu kalau gak mau mandi, Keonho, baru tidur.”


Si pemilik nama malahan merespons dengan dengung rengekan sambil meregangkan tubuh sekuat tenaga, ranjangnya berantakan jadi bukti bahwasanya belum juga dirapikan sejak asrama ditinggalkan pagi tadi untuk pergi ke agensi. Berbeda dengan keempat anggota tertuanya yang masing-masing telah hapus bersih jejak latihan hari ini dengan air hangat dan sabun hingga wanginya bagaimanapun menyebar di penjuru lorong apartemen mereka.


“Keonho, ayo dong. Lengket nanti tidurnya nggak nyenyak.”


Martin yang sedari tadi bicara akhirnya gunakan cara terakhir sekalipun mengharuskan dirinya menarik Keonho bangun dari ranjang. Disaksikan Eom Seonghyeon yang jadi malas untuk melangkah masuk, membiarkan dirinya bersandar pada daun pintu disusul decakan protes. “Buruan napa, bau asem lo sampe sini.”


“Gak bau!” Fisik yang letih buat Keonho membalas setengah sebal walaupun paham Seonghyeon hanya senang cari celah untuk bergurau, alih-alih menatap Seonghyeon, dia malah melirik ke Martin yang masih berdiri di hadapannya. Tahu betul bahwasanya yang paling muda diam-diam memang nggak percaya diri, Keonho itu tak jarang mengecek wangi tubuhnya yang menurut Martin selalu buatnya ingin bawa ke pelukan hangat. 


“Iya, iya nggak bau tapi tetap harus mandi.”


Kalimatnya terdengar selayaknya keputusan final yang mampu undang gerak Keonho untuk berakhir duduk di pinggir ranjang, Martin seketika memerah begitu yang lebih muda melingkarkan kedua lengannya mengelilingi si pemilik tubuh tinggi dan membiarkan wajah manis itu tenggelam di paha kiri Martin. Manja sekali. Menggumam entah apa, Martin mana peduli malahan bawa tangan lebarnya untuk mengelus pucuk kepala Keonho seolah sedang hitung berapa banyak surai rambut yang tertanam di kepalanya.


“Ngomong apa sih, adek?” Tangan Martin akhirnya menjulur jua, raih dagu Keonho supaya mendongak menatap ke atas. Ke arahnya.


“Bantu bersihin muka aku.” Keonho menjawab dengan mata sayu menahan kantuk, pun di ujung kalimatnya ia menguap lebar persis kucing yang tinggal menutup mata. “Capek banget, please, mandinya besok pagi-pagi boleh ya?”


Duh, emangnya Martin siapa sih buat menolak kemauan yang tersayang?


Jadilah kini keduanya benar-benar ada di kamar mandi yang untungnya cukup dijejali dua anak laki-laki untuk saling berdiri di depan wastafel. Martin menuangkan cairan pembersih wajah ke kapas lembut yang dibagi menjadi dua, kemudian ia memiringkan badannya untuk menunduk temukan wajah Keonho yang sudah mendongak. 


Menurut sekali, padahal Martin belum ucapkan sepatah kata. Manis sekali, matanya juga terpejam taruh seluruh percayanya kepada yang lebih tua.


“Cantik banget sih,” puji Martin tulus dengan jari-jarinya yang berangsur temukan rahang Keonho untuk digenggam.


Ditorehkan perlahan kapas basah itu pada kulit wajah Keonho yang tak dipoles apapun hari ini selain polusi ibukota. Mulai dari pipi kanan dan kiri. Pindah ke hidung bangir yang bergerak teratur dengan nafas hangat, pun naik ke kening yang jadi tempat Martin banyak labuhkan kecup selamat malam. Lebih tepatnya di titik hitam manis supaya mudah untuk diingat.


Keonho kerahkan kedua tangannya untuk meremas kedua sisi baju Martin yang dikenakannya malam ini. Matanya memang terlampau berat tapi dahsyat sekali degup jantung si kecil buat senyuman tak tertahankan mengintip juga dari sudut bibir. Kedua kaki Keonho rasa-rasanya seolah bergerak sendiri guna mengikis jarak yang mengisi di antara dirinya dan Martin. “Siapa yang cantik?”


“Keonho,” jeda Martin diiringi tangannya yang menyingkap poni Keonho hingga kening di baliknya tak lagi dijebak sekumpulan rambut lepek. “kamu yang cantik.” 


“Hehehe.”


Tawa yang lebih tua ikut bertalun pada dinding-dinding kamar mandi nan dingin, anehnya hanya ada perasaan hangat yang bungkus keduanya dalam dada. Ibu jari Martin menyapu pipi Keonho yang sedikit naik sebab senyumannya masih melekat betah, disapunya sedikit basah pembersih wajah dari sana hingga akhirnya Keonho buka tirai matanya.


“Hai.”


“Mm-hmm.”


“Facial wash-nya juga mau dipakein?”


“Mmm-hmm.”


Martin terkekeh geli, sempatkan menaruh satu kecupan singkat di ujung hidung si kecil hingga Keonho mengerut salah tingkah. Kalau boleh berpendapat, Keonho harusnya pantas terima lebih banyak kecup di tempat lainnya. Namun diurungkan pintanya usai Martin kembali hadir dengan busa di tangan yang sedikit terlalu tebal, lalu dibalurkan kepada seluruh wajah Keonho. Pijatan pelan kelewat nyaman menutupi dingin yang memang tak mengganggu, toh hadir yang tercinta sudah bisa jadi penghangat untuk satu dan lainnya– jadi Keonho kembali pejamkan mata serapat-rapatnya.


“Udah. Bilas dulu, adek.” 


“Bilasin…”


“Susah dong akunya, bilas dulu sendiri sekalian sikat gigi. Nanti tonernya baru dipakein lagi.”

“Kamu juga.”


“Aku ngapain?” Martin alisnya naik.


“Sikat gigi juga.”


“Aku udah lho, kan aku udah mandi tadi.”


Ck! Gak peka. “Ya lagiii, kenapa sih emang? Gak mau sikat gigi bareng aku?”


Tanpa perlu berhadapan, Martin tangkap wajah cemberut yang lebih muda dari refleksi cermin wastafel. Padahal wajahnya masih dipenuhi busa sabun cuci muka, namun Martin tahu betul tersimpan kerutan di kening dan hidung yang sempat ia titipkan kecup singkat barangkali nanti akan Keonho kembalikan. “Mintanya yang manis dong.”


“Nggak niat banget, yaudah nggak usah lah sana keluar aja. Aku minta pakein tonernya di kamar aja sama Seong–”


“Iyaaaa ayo sikat gigi bareng, bilas dulu ah mukanya kamu kayak marshmallow.” Martin letakan tangan besarnya pada bibir Keonho untuk memberhentikan sisa ucapan si manis yang akhirnya kembali masuk ke kerongkongan. Kemudian ia meraih dua sikat gigi yang warnanya dihapal di luar kepala, oranye dan biru laut. “Minggu depan beli sikat gigi baru, yuk?”


“Mau yang couple,” kata Keonho usai wajahnya kembali terlihat, jauh lebih segar meskipun kuyup hingga tetes-tetesnya mengalir jatuh dari garis rahang dan dagu manisnya. Telapak tangan terbuka lebar untuk meminta sikat gigi miliknya pindah dari genggaman Martin, namun bukannya dapatkan benda itu, Keonho malah rasakan dagu tajam yang lebih tua direbahkan pada telapaknya. “Ih… tangan aku masih basah!”


“Cakep banget, sayang.”


“Sumpah cringe banget lo minggir gak?”


As if you were not begging for getting praised last week.


I wasn’t begging for it?”


“Emang iya? Bukannya dipanggil cantik langsung diem? Adek can–”


Martin melotot di ujung kalimatnya sebab Martin nggak pernah menduga si kecil akan tarik kerah kaosnya yang memang sudah longgar untuk membungkuk jauh hingga bibirnya ditabrak oleh Keonho pun dengan ranum basah hasil mencuci muka. 


Entah siapa yang paling merah di antara mereka, yang Martin ketahui ia hanya berharap bisa berhentikan waktu sebab nggak sampai lima detik Keonho telah kembali buat jarak dan ribut sendiri mencari pasta gigi di ujung wastafel. Diikuti oleh Martin sekalipun dirinya enggan buka topik apapun hingga nafas keduanya dapat terdengar jelas, air mengalir seolah ambil dua peran untuk jadi musik pengiring dan ledekan menyedihkan.

Keonho pikirannya jadi menyusun dialog yang berpotensi tersimpan di benak Martin. Jangan-jangan Martin nggak suka dicium kalau nggak diminta, jangan-jangan Martin nggak suka dicium di bibirnya. Jangan-jangannya banyak sekali, tak sadar pun Keonho meremat batang sikat giginya kelewat keras hingga pola-pola ukiran yang menghias benda itu tercetak jelas di kulit telapak tangan. Wajahnya yang terbakar perlahan mereda, sayangnya malah pindah ke kedua matanya. Kegiatan sikat gigi berdua yang ia bayangkan akan penuh tawa malah diwarnai hening, kelewat hening hingga telinganya bisa dengar degup jantungnya sendiri. Jangan-jangan hanya Keonho yang berdegup sebegini riuhnya.


“Keonho–”


“Aku udah, mau ke–”


“Keonho.” 


Duh, Keonho mana bisa acuhkan namanya kalau Martin yang sebutkan.


Jadilah si kecil berdiam diri dengan kedua tangan tertata rapi di samping kanan kiri torso, seolah siap terima rentetan omelan yang akan melayang, seolah siap terima Martin yang akan pandangnya tak suka. Seolah Keonho tak pernah berekspektasi akan dapatkan dirinya diangkat sebegitu mudahnya dibuat duduk di pinggir wastafel, kedua kakinya tak menapak lantai barang sejinjit, lalu seketika tingginya jadi hampir sejajar dengan yang lebih tua. “Coba ulang tadi gimana?”


“M-maaf… Kakak nggak suka, ya?”


“Nggak tau deh? Nggak berasa tadi, makanya ulang dulu.”


Mungkin kalau di dalam animasi akan ada telinga yang jatuh turun di atas kepala Keonho, atau mungkin ekornya akan berhenti berkibas perlahan-perlahan ketika tangannya sedikit gemetar menarik kerah Martin untuk maju. Berbeda total dengan kali pertama ia melakukannya, keraguan jadi yang paling jelas bisa Martin saksikan sebab Keonho berulang kali menatap mata dan bibirnya bergantian seolah berkali-kali minta keyakinan. 


Martin juga mana tega, tangan lebar miliknya dituntun untuk bingkai pinggang Keonho harap-harap bisa jadi dorongan untuk yang lebih muda reka ulang adegan beberapa menit lalu. Matanya ditutup rapat sambil tarik Martin semakin mendekat, bulu mata kebanggaan ikut menyapu pipi Martin sebelum bibir keduanya kembali bersua. Jejak wangi pasta gigi tercium kuat, bahkan bisa dikecap sekalipun keduanya hanya menempel dan berdiam diri. Namun Keonho mampu rasakan pinggangnya dicengkeram lembut, sesekali ditekan pun penuh usapan. Jadilah lengannya yang berawal dari genggam kencang pada kerah Martin berangsur berubah untuk peluk leher jenjang lelakinya. 


Rasa-rasanya mau menangis, sebab Keonho mana tahu caranya berciuman. Umurnya baru tujuh belas tahun, masa remaja awalnya dihabiskan untuk melatih diri usai lepas semua kelihainnya di kolam renang. Keonho mana tahu caranya merengkuh yang benar, namun Martin pula biarkan dirinya mengira-ngira seorang diri. Mungkin Keonho lupa bahwasanya Martin sama tak berpengalamannya, dirinya selalu pandang Martin jauh lebih dewasa kendati keduanya bahkan tak terpaut genap satu tahun perbedaan. Sedetik sebelum ia inisiasi gerakan tambahan, nyatanya Martin memang lebih dewasa, digerakannya sedikit bibir bawah Keonho dengan lumat lembut harap-harap Keonho mampu rekam curahan sayangnya. Diam-diam Keonho merutuki tinggi Martin yang tetap saja buatnya harus bekerja lebih untuk menengok ke atas.


“Udah?” Martin buka pertanyaan dengan wajah yang dibawa sedikit menjauh, namun tak sejauh itu sebab dirinya pun masih mau rasakan terpaan nafas hangat Keonhonya.


Keonho masih di sana, tangannya masih memeluk, namun dirinya pilih diam dengan pandangan terkunci pada ranum sang kakak yang rasanya masih menggelitik miliknya. Belum, nggak mau udah, mau lagi, dicium lagi. Sayangnya Keonho hanya bisa terjemahkan maunya dengan tatapan memelas yang Martin pahami persis seperti pikiran Keonho, tak meleset barang selangkah sebab kini ia kembali jemput cium hangat nan jauh lebih percaya diri. Keonho meremat anak rambut Martin yang tumbuh memanjang hampir sentuh tengkuknya, jari-jemari menyelip di antaranya bak temukan jalan pulang.


Kemudian pintu diketuk keras disusul teriakan James menghasilkan dorongan di dada Martin hingga dirinya menabrak dinding yang jaraknya dua meter di belakang, Keonho lincah sekali keluar dari kurungannya untuk melompat turun dari wastafel dan sesegera mungkin atur nafasnya dengan mudah berkat bakat hasil berenang. Sebelum benar-benar buka kenop pintu di hadapannya, Keonho kembali meraih sang kakak untuk ditinggalkan kecupan manis di pipi kanan yang rasa-rasanya masih direbus hingga mendidih.


“Nanti pagi sikat gigi bareng lagi boleh ya, Kakak?”













Notes:

Probably will do mass posting since my X is sick #fuckmylife but feel free to find me there @ Lingerigo ;)