Chapter Text
Kehidupanku tidak pernah menarik: sekolah, keluarga, percintaan—kupikir semuanya adalah cetak biru dari suatu prototip membosankan bernama kenormalan. Dan itu cukup menjelaskan mengapa dengan sengaja aku memilih menjadi pegawai kantoran alih-alih melontarkan mimpiku jauh ke angkasa. Aku tidak pernah keluar dari batas kewajaran, tidak pernah menjadi pusat perhatian, dan sejujurnya hidup semacam ini cukup menyenangkan dibanding jatuh-bangun mengejar cita-cita. Telanjur tumbuh besar dalam lingkungan biasa saja membuatku berpikir apa salahnya menghabiskan sisa umur dengan jalan yang tidak jauh berbeda.
Aku akan seterusnya duduk di kubikel standar ini, mungkin ketika mencapai usia tiga puluh mencoba mencari pasangan hidup dengan kriteria tidak perlu muluk-muluk, lalu membesarkan keluarga yang normal. Setidaknya jika begitu aku tidak punya penyesalan di hari tua nanti mengenai masa muda yang amburadul.
“Taemin ssi, mohon kerjasamanya mulai hari ini.”
Kedua sudut bibirku terangkat selebar yang dapat membuat orang lain menganggapku ramah tanpa terkesan murahan. Memberikan tatapan penuh perhatian tapi tidak menghakimi. Menjabat tangan dengan kekuatan secukupnya yang tidak terlalu lemah.
“Aku akan dengan senang hati bekerja bersamamu, Choi Minho ssi.”
Aah, kuharap kehidupanku tetap bertahan normal.
~~~
“Bagaimana pegawai baru itu?”
Kim Kibum menyeruak begitu saja dari sisi samping mesin penjual minuman otomatis, aku hampir menjatuhkan koin dari lubang yang sudah tersentuh. Cengiran lelaki perlente itu tidak berubah meski aku memberikan tanggapan pertama berupa putaran bola mata jenuh. Botol air mineral menggelinding di bukaan bawah; aku meraihnya.
“Jadiii?”
“Heran bagaimana bagian pemasaran bisa mengendus hal ini dengan cepat.” Kemudian tanganku berhenti di tengah jalan sebelum bibir botol sempat menyentuh milikku. Aku mengalihkan pandangan pada Kibum dan menonjok perutnya pelan. “Hei, itu benar. Bukankah kau baru saja pulang dari Jepang? Mana oleh-olehnya?”
Sekarang giliran Kibum memutar bola mata. Ia melangkah dari samping mesin otomatis dan mengikuti tempo kedua kakiku menyusuri lantai keramik koridor. “Taemin, please. Jepang sudah seperti rumah pacarku sendiri; aku bisa bangkrut kalau kau minta oleh-oleh tiap saat ke sana—rokok?”
Aku mencabut sebatang sigaret yang mencuat dari karton yang diacungkannya. “Pacar yang tidak pernah kaumiliki, maksudnya?” Kepalan tangannya bersarang di lenganku. “Duh, kau bisa meremukkannya.”
“Nonsense. Apa pula dengan sifat defensif itu,” katanya sambil menyulut rokok menggunakan pemantik; aku menumpang sekalian. Kami telah tiba di ruang merokok tempat sejumlah pegawai lain menikmati istirahat siang. Posisi favorit kami, dua baris kursi besi di dekat jendela tertutup, masih dibiarkan kosong.
“Defensif dalam hal apa?”
“Pegawai baru itu, dong! Kau menghindari pertanyaanku sedari tadi,” seru Kibum gemas, nada suaranya melejit beberapa tingkat lebih tinggi. Aku mengorek telinga sambil mencebik pelan.
“Daripada menghindar, lebih tepat melewatinya,” jawabku seraya mengempaskan tubuh di kursi. “Dia semacam... orang biasa yang kau temui di mana-mana.”
“Ah, tipikal pegawai kantoran?”
“Sedikit ironis karena kita berdua juga tipe yang sama, tapi memang begitu.” Aku mengembuskan asap putih ke udara, memandangi bagaimana partikel lembut itu perlahan terdispersi ke udara di sekitarnya. Ingatanku lantas melayang pada pria jangkung berpostur tegap yang sejak awal minggu menempati meja di sampingku. Seorang pegawai yang menurut desas-desus dimutasi dari cabang perusahaan yang berada di Incheon.
Rambut hitam lebat yang dipotong pendek. Alis tebal. Air muka serius walaupun sering tersenyum pada rekan-rekan barunya. Kemeja putih yang dikenakannya terlihat rapi meski tidak berasal dari merk glamor, jam tangannya cukup berharga, tapi sepatunya biasa saja.
Semua orang berusaha mengorek identitasnya lebih jauh, tapi, seperti yang semua orang normal sudah lalui, ia tidak memiliki apa pun di balik etos kerjanya yang tinggi. Mungkin sekadar kenyataan dia punya kakak laki-laki, tapi memangnya kenapa kalau demikian. Para penerkam gosip segera saja meninggalkannya.
“Dia benar-benar orang yang bisa kau temui dimanapun,” simpulku, baru sedetik kemudian menyadari telah mengatakan hal yang sama beberapa saat lalu. Kibum menyalakkan tawa singkat.
“Bisa kutebak. Apa yang kau harapkan dari tempat ini.”
“Benar, makanya berhentilah ikut campur urusan divisi kami,” jawabku mudah, kemudian menghela napas panjang dengan sigaret masih di bibir. Istirahat akan berakhir dalam lima belas menit, tapi pegawai muda yang miskin sepertiku lebih memilih menikmati rokok hasil tilapan Kibum dari suatu tempat ketimbang membeli makan. Toh hanya sampai pukul lima.
Kibum mengerang panjang sambil menjorokkan badannya sedikit ke belakang, kedua sikunya menyandar di punggung kursi. “Beginilah kehidupan pegawai kantoran yang sesungguhnya,” katanya, satu tangan sedikit dimajukan untuk meraih sigaret dari bibirnya. “Semuanya datar dan membosankan. Tidak ada kisah cinta terlarang antara sekretaris dan direktur, tidak ada rumor penggelapan uang—”
“Itu hanya ada di drama,” komentarku, tapi lelaki ini tidak mendengarkan.
“—rasanya aku bisa kering kerontang kapan saja!” Kibum melemparkan kepala ke belakang. Teman yang sedikit berlebihan, aku tahu. “Aah, aku merindukan masa-masa sekolah yang dinamis dan penuh semangat.”
“Kau yakin itu bukan akibat dari hormon yang tidak bisa dikendalikan?” balasku sambil merunduk untuk mengambil selebaran yang jatuh di dekat kaki kursi. Sebelum aku bisa menghibur kebosananku, bagaimanapun, siku Kibum yang tajam telah menyodok rusukku keras-keras.
“Choi Minho,” bisiknya dengan lagak konspirasi. Aku mendengus, tapi ikut mengarahkan pandangan pada lelaki yang sedang mendorong pintu ruangan. Huh, aku tidak pernah melihatnya sebagai tipe perokok.
“Ck, kau tidak pernah bilang dia bakal sekeren itu,” tuduh Kibum sambil sekali lagi menyikut rusukku. Aku menggosok-gosok sisi tubuh dan kembali memungut selebaran entah bekas milik siapa.
“Maaf kalau aku tidak tertarik.” Tampaknya ada restoran pasta yang baru buka di pusat kota.
“Hm, sepertinya dia tidak lebih tua dariku.” Sementara itu, Kibum masih mengemukakan analisisnya pada lelaki malang yang menyulut rokok di kursi tidak jauh dari kami. Aku membalik selebaran untuk mengecek menu dan harga makanan. “Di atas seratus delapan puluh sentimeter. Bercukur rapi. Belum menikah.”
Aku menoleh mendengar kepingan informasi terakhir. “Tahu dari mana?”
“Tidak pakai cincin, tidak ada bekas cincin,” jawab Kibum khidmat, seolah memang sudah tugasnya untuk menilai orang lain dalam pelototan mata yang tidak bisa disebut subtil. “Tapi sedang mengetik sesuatu di ponsel. Mungkin punya pacar.”
“Yah, baiklah. Tapi apa kau tahu ada restoran—”
“Hmm, mata yang bagus. Bulu matanya juga panjang.” Kibum membalas tatapanku. “Kau bilang apa tadi?”
“Restoran Italia. Promo sampai akhir minggu.” Aku melambaikan selebaran di tanganku, yang segera digantikan udara kosong karena Kibum menyambarnya secepat kilat. Dengan Kibum yang merunduk di hadapan selebaran, aku menggerakkan bola mata ke lokasi Choi Minho berada.
Merokok sambil berkutat dengan ponsel. Menggunakan kedua tangan untuk mengetik. Alis saling mendekat dengan kening mengernyit. Dasi gelapnya menggelantung di udara akibat posisi duduk yang meringkuk ke depan, siku menumpu paha.
Choi Minho, huh? Aku memutar tutup botol dan mulai menenggak isinya, puntung sigaret sudah berakhir di asbak karena toh istirahat akan segera berakhir. Di hadapan semua orang, lelaki itu tampak ramah dan supel, tapi sekarang lebih mirip bos mafia dengan ekspresi demikian. Barangkali dia sedang tidak berada dalam suasana hati baik, barangkali memang tidak ada alasan terlihat berbunga-bunga di ruangan pengap seperti ini. Yang mana saja, aku tidak bisa berkata terkejut dengan perubahan signifikannya. Dia juga manusia.
“Taemin, sudah diputuskan kita pergi akhir minggu ini,” kata Kibum sambil melipat selebaran menjadi empat dan menyisipkannya ke saku kemeja. Ia menghirup rokoknya lagi. “Kapan kita bisa makan enak jika tidak ada harga promosi semacam ini. Luangkan akhir pekanmu untuk kemewahan langka ini.”
“Kau yang traktir,” balasku.
“Sampai pohon uangku berbuah, aku khawatir itu tidak bisa, anak muda.” Kibum menepuk-nepuk puncak kepalaku, kemudian beranjak berdiri. “Yuk, kembali. Ada pertemuan pukul dua tepat.”
Aku tidak punya alasan untuk tetap tinggal, sehingga memenuhi permintaan Kibum bukan sesuatu yang memberatkan. Setelah menghabiskan air mineral dan membelesakkan botolnya ke tempat sampah plastik, aku membuntuti teman lamaku ke pintu, tapi sepasang mata menghentikanku di tengah jalan.
Choi Minho menatapku lekat-lekat. Kedua bola mata cokelat gelapnya dipenuhi sesuatu yang tidak kupahami maknanya.
Kemudian bibirnya terbuka, “Taemin ssi, bukan?” Dia mencampakkan sisa sigaret ke asbak dan mengurai kedua tungkai panjangnya sebelum menjulang berdiri. “Kenapa tidak kembali bersama? Aku juga sudah selesai.”
Menilai dari silinder yang sebenarnya hampir tidak berkurang, aku yakin bukan itu maksudnya. Tapi siapa aku untuk menilainya macam-macam. Aku mengangkat bahu dan menahan pintu sedikit lebih lama agar dia bisa keluar terlebih dulu. Kibum telah merekat di satu kelompok kecil rekan-rekannya yang agaknya sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.
Langkah Minho panjang dan efisien. Posturnya santai tapi tidak membungkuk. Kepalanya terangkat tegak dengan tatapan mata lurus ke depan.
Aku sungguh-sungguh menyalahkan Kibum untuk menulariku dengan segala sikap aku-membacamu ini. Bajingan yang sudah kutemui sejak masih sekolah menengah atas itu selalu menilai orang dalam satu kali pandang, membuat kesimpulan, tapi pada akhirnya tidak pernah repot-repot menanyakan kebenarannya. Bagaimanapun, aku menyadari dia lebih sering benar daripada tidak, sepenuhnya berkebalikan denganku.
Ah, itu mengingatkanku. “Minho ssi,” panggilku. Lelaki ini menoleh. “Biasanya hari Kamis manajer akan mengajak kita semua makan malam bersama. Kau sudah mendengarnya, bukan?”
Selama sesaat, dia hanya menampilkan kekosongan. “Begitukah?” gumamnya, lantas mengangguk kecil seraya mengembalikan tatapan ke depan. “Akan kuingat-ingat. Terima kasih sudah memberitahuku.”
“Tidak masalah.”
“Dan juga,” katanya, hampir menindih kalimatku di saat yang bersamaan, “lelaki yang tadi, apa dia temanmu?”
Aku menduga dia penasaran karena tidak pernah melihat Kibum sebelumnya di area kerja kami, tapi jujur saja aku tidak melihatnya sebagai orang yang senang mengamati. “Ya. Kim Kibum.” Tetap saja aku memberikan jawaban. “Teman dari sekolah yang sama.”
“Hmm, pantas kalian terlihat dekat.” Minho menoleh dengan seulas senyum sopan. “Kita tidak pernah bertemu di luar tempat kerja. Senang rasanya melihatmu lebih santai.”
“Ah, sungguh?” Aku mendengarkan nada suaranya yang berangsur-angsur melembut, semakin rileks. Barangkali ekspresi tegang di ruang merokok tadi memang tidak sepantasnya menjadi patokan nilai kepribadian.
“Ya.”
Kami sudah tiba di depan ruang kerja, dia mengangguk kecil ke arahku sebelum duduk di kubikelnya sendiri yang berada tepat di sebelah milikku. Orang-orang bergantian masuk, seperti biasa terlihat jauh lebih mengantuk setelah istirahat siang. Aku menarik kursi mendekati meja dan mulai menyortir berkas-berkas yang bertebaran di sekitar kibor komputer. Jika beruntung, semua kerepotan ini bisa selesai tepat waktu dan aku tidak perlu pulang terlambat.
Samar-samar aku mendengar satu suara rendah berbicara, “Masih kerja, jangan ganggu. Akan kuhubungi nanti.”
Kedua kakiku menjejak lantai cukup kuat hingga roda kursiku menggelinding ke belakang, pandanganku serta-merta bebas dari partisi. Minho menurunkan ponsel ke meja dan mulai menggulung lengan kemeja sampai mendekati siku. Lagi-lagi aku menemukan ekspresi keras yang sama seperti tadi.
Minho mendadak menggerakkan kepala ke kanan, matanya menghunjam milikku selama sepersekian detik sebelum senyumnya terbit. “Ada yang bisa kubantu, Taemin ssi?”
“Uh, hanya mengecek apakah manajer sudah datang atau belum,” kilahku payah sembari menggerakkan telunjuk ke meja yang jelas-jelas masih kosong di bagian depan ruangan. Minho mengikuti arah pandangku sebagai respon, lantas kembali menghadapku.
“Sepertinya belum. Jangan khawatir.”
“Yeah, kupikir juga begitu.” Aku menawarkan senyum garing dan perlahan menggeret kursiku maju. “Duluan, ya.”
Aku harus berhenti mengamatinya. Kebiasaan Kim Kibum ini sungguh mengganggu.
~~~
Jika diamati, sebenarnya semua pengamat dan penggosip bermula dari kebosanan tidak tertahankan terhadap kehidupan masing-masing, sehingga menajamkan telinga atau menjingkatkan langkah ke pagar privasi orang lain dianggap sebagai kegiatan yang seru—rumput tetangga lebih hijau, kata mereka, dan mungkin memang begitu adanya. Ada rekan kerja mendapat panggilan dari ponsel, telinga seketika siap merekam; ada sedikit ketidaknyamanan di wajah, benak sudah menyediakan berbagai asumsi lezat; sepasang pegawai laki-laki dan perempuan berjalan bersama di koridor, rumor telah tersusun di ujung bibir dan hanya butuh satu sentilan untuk menyebarkannya ke mulut-mulut lain yang juga kelaparan.
Itu bukan sifat yang baik, tapi perkantoran adalah markas para penggosip ulung, dan mau tak mau aku mulai tertular kecenderungan untuk memanaskan setiap hal kecil yang ada, apalagi dengan adanya Kim Kibum yang berkeliaran di sekitarku. Dia menyatukan pengamatan amatirnya dengan kebosanannya—bam, bisa saja kau datang besok pagi disambut rumor telah menjadi kekasih gelap asisten manajer. Kibum, dan para pegawai kantoran pada umumya, adalah orang-orang yang saking bosannya sampai berbahaya.
Aku berusaha tidak memikirkannya lebih jauh, tapi ketika Choi Minho tampak keberatan dengan ajakan makan malam bersama manajer, benakku mulai menyalakan pemantik dan siap menyulut apa saja yang ditawarkannya sebagai alasan. Senyum lelaki itu terlihat sedikit terpaksa saat manajer berceloteh ke sana-kemari yang intinya adalah paksaan subtil untuk ikut. Tangannya yang bertumpuk di depan sebagai sikap memperhatikan yang sopan saling mengepal. Mungkinkah sikap keberatannya berhubungan dengan telepon bernada dingin kemarin...?
Yup, Lee Taemin, ceburkan dirimu bersama semua pemangsa rumor itu. Kau tidak ada bedanya dengan mereka.
“Jadi, Choi Minho, kau ikut, kan?” simpul manajer sambil menaik-turunkan alisnya penuh penekanan. Aku menghela napas dan beranjak berdiri.
“Maafkan aku, manajer,” selaku, membuat kedua orang itu menoleh. Salah sendiri mengobrol tepat di belakang mejaku; aku tidak akan merasa bersalah meski dinilai telah menguping keseluruhan pembicaraan yang mendominasi ruangan yang hening ini. Aku memberi senyum terkendali pada pria berambut tipis yang mendongak menatapku separuh mendelik tersebut. “Tapi sebenarnya aku meminta Choi Minho tinggal sedikit lebih lama di sini bersamaku. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya.”
“Lee Taemin? Biasanya kau yang paling bersemangat kuajak minum di antara semua pemalas ini,” pungkas manajer sambil melambaikan satu tangan ke seluruh puncak kepala yang separuh menunduk di depan meja masing-masing. Aku meringis kecil. Kayak tidak tahu saja, batinku jenuh. Orang paling muda selalu diumpankan sebagai penggembira hati manajer di tiap acara minum-minum, dan sialnya aku mendapat peran itu.
“Maaf, manajer, tapi ini cukup mendesak,” kataku lagi. Aku menatap Choi Minho yang berdiri geming di sampingku, lalu kembali pada lawan bicaraku. “Kalau sempat, kami akan menyusul nanti. Tempat yang biasa, bukan?”
Aku sudah menjadi badut selama dua tahun terakhir. Mungkin itu juga yang menjadi pertimbangan manajer yang akhirnya setuju, beralih menggusah sisa pegawai dalam ruangan untuk mengikutinya ke kedai minum yang sejujurnya tidak satu pun dari kami sukai. Aku tetap berdiri, memberikan senyum ambigu pada orang-orang yang melirikku iri, dan hanya mengempaskan tubuh kembali ke kursi setelah orang terakhir selesai beres-beres untuk menyusul sisa rombongan. Minho mendekati mejaku.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” dia bertanya, mata melebar dengan niatan tulus ingin tahu—atau setidaknya itu yang dapat kuartikan dari keseluruhan ekspresinya. Aku merebahkan kepala ke punggung kursi, melonggarkan dasi sambil setengah mengerang letih.
“Tidak ada,” jawabku berikutnya, mencabut dasi seluruhnya dari kerah dan menggulungnya menjadi gumpalan tidak rapi yang teronggok di pinggir meja. Aku bergerak mematikan komputer. “Maaf kalau aku lancang, tapi kau kelihatan sangat tidak ingin ikut.”
Minho bungkam. Aku menoleh.
“Jadi aku salah?”
“Tidak,” dia berujar, senyum perlahan-lahan menyeberangi wajahnya. Sebelah sikunya menyandar pada partisi. “Sebenarnya tidak ada yang menyukai acara minum-minum bersama atasan, bukan begitu?”
Ajakan mengobrol yang kasual ini sedikit membuatku terperangah, tapi aku mengangguk. “Apalagi kalau kau menjadi yang termuda.”
“Bung, aku pernah mengalaminya juga,” Minho mengerang, hidungnya mengerut tidak suka. “Itu yang terburuk. Di akhir acara, hanya kau yang rugi, terlebih jika harus mengantarkan atasanmu yang teler pulang ke rumah. Belum termasuk ikut dipandang enak oleh istrinya dan masih harus mengeluarkan uang untuk naik taksi ke rumahmu sendiri.”
“Jangan mengingatkanku.”
“Aku terkejut karena tampaknya suasana sama saja dimanapun kau berada.” Dia tertawa kecil.
Ini adalah pembicaraan kami yang terpanjang setelah seminggu Minho dipindah ke sini. Dia memiliki cara bicara yang menyenangkan, harus kuakui itu. Kata-katanya jelas dan, meski banyak, diartikulasikan dengan kecepatan yang tepat untuk membuat orang tetap bertahan mendengarkan. Cara dan gesturnya saat berkata-kata terlihat seperti orang yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian dan ditugasi menguasai kerumunan besar.
“Jadi, apa kau memutuskan pulang?” aku bertanya setelah memasukkan sisa pekerjaan ke ransel. Minho menurunkan tangan dari puncak partisi.
“Kupikir begitu.”
Aku memperhatikan kepalanya hilang-timbul di balik partisi, sedang mengemasi barang-barangnya sendiri. “Aku tidak memimbulkan masalah dengan menghindarkanmu dari acara minum-minum itu, kan?”
Ketika Minho berdiri, lelaki itu menjulang jauh sekali dibanding aku yang masih duduk. Dia tersenyum dan telah melintangkan tali tas menyeberangi torso. Messenger bag yang biasa, sama sekali tidak spesial, sama seperti keseluruhan penampilannya kecuali wajah yang kebetulan lumayan tampan. Nah, aku benar-benar terdengar seperti pegawai paruh baya yang nyinyir.
“Semua akan baik-baik saja,” katanya. “Terima kasih untuk bantuanmu hari ini, walaupun mungkin kita tidak akan bisa kabur lain kali.”
Tapi nadanya setengah berseloroh. Aku mengikutinya berdiri dan kami berjalan meninggalkan ruangan yang sudah sepi. Ini pertama kali aku berjalan dalam jarak yang cukup jauh di samping Choi Minho. Langkahnya panjang, posturnya santai meski tetap tegak, kedua tangannya melesak dalam saku celana. Orang semacam dia bisa terlihat normal di mana saja, dan mungkin aura penuh kendali di sekitarnya mengambil porsi lumayan besar.
Kami tiba di lobi dan, mendekati pintu keluar, aku baru sadar tidak tahu bagaimana dia akan pulang nantinya. Choi Minho selalu datang terlalu pagi untuk kutemukan di halte bus dan tidak pernah kudapati saat jam pulang karena Kibum selalu punya cara menyeretku dalam masalahnya.
Benar juga, Kibum tidak menggangguku hari ini. Pantas saja terasa damai.
“Taemin ssi, kita berpisah di sini,” mendadak Minho menceletuk di sebelahku. Dia masih tampak tenang, masih penuh kendali. Aku berasumsi dia memarkirkan kendaraannya di suatu tempat di sekitar sini.
“Ah, tentu saja. Sampai besok.”
Minho tersenyum sedikit lebih lebar. “Sekali lagi terima kasih. Aku memang sedikit buru-buru malam ini, jadi kau sungguhan menyelamatkanku.”
Dia tidak menunjukkan tanda-tanda bergegas sepanjang perjalanan, sepanjang obrolan kami selepas sisa penghuni ruangan cabut ke kedai minum. Alisku melejit naik dengan heran. Dia bahkan tidak mencoba memberikan alasan itu pada manajer tadi.
Tapi Choi Minho sudah membalikkan badan sebelum aku bertanya. Punggungnya semakin mengecil seiring jarak yang diciptakannya dariku, tapi belum lenyap benar ketika tiba-tiba berbelok ke arah mobil dengan mesin menyala yang berada di pelipir jalan. Dia membuka pintu belakang, melepaskan tas dan melemparkannya ke dalam, sebelum berpindah ke pintu penumpang depan. Mobil itu melaju tak lama setelahnya.
Aku masih mematung di pelataran kantor dan, ketika akal sehat kembali menyergap, menampar pelan pipiku sendiri.
Tidak ada pertanyaan, Taemin. Jangan berpikir macam-macam tentang orang yang sangat normal seperti Minho.
