Work Text:
Keonho tidak mengerti. Hari ini dingin, cukup dingin. Terbukti dari syal Kak Juhoon yang rapat menutupi lehernya, seolah lehernya akan lari dan tergeletak jatuh begitu saja ke lantai jika tidak buru-buru ditutupi.
Terbukti dari hoodie Kak Martin yang entah sudah masuk pengering selama beberapa hari terakhir atau ya … simpelnya nggak dicuci. Untuk memperkuat sugesti, karena Keonho sudah lihat hoodie yang sama dikenakan 4 hari berturut-turut termasuk hari ini.
"Kak, hoodie-mu ada dicuci nggak, sih?"
Maka dari itu, kaki Keonho menendang betis Kak Martin yang duduk di sebelahnya baru beberapa saat saja dan entah kenapa sialnya sudah berhasil menyeludupkan hampir sebagian keripik kentang Keonho ke belakang tubuhnya sebelum Keonho rebut paksa.
"Anjir, chipsku!" Keonho melotot. Memandang sedih bungkus keripik kentang yang sudah hampir kosong.
Tawa menyebalkan Kak Martin terdengar lebih keras dari biasanya. "Makasih, dek." Dicuilnya sekali dagu Keonho. Dua kali. Keonho mendengus malas, matanya mengernyangi Kak Martin.
Kak Martin rupanya dapat sinyal, sebelum Keonho mendaratkan pukulan lagi yang kali ini menargetkan lengannya, dia lari meninggalkan ruang tamu memasuki kamar sambil teriak-teriak nggak jelas. Kak Martin nggak pernah gagal bikin Keonho sebal.
"Hah …" Keonho menghela napas pasrah. Lanjut doomscrolling di handphonenya sebelum langkah kaki terdengar mendekat, Eom Seonghyeon keluar dari kamar mereka bertiga, –iya, kamar Kak Martin, Keonho, dan Seonghyeon.
Napas Keonho tercekat.
Dia mulai merinding.
Karena dingin?
Iya, kali.
Matanya masih lekat di handphone sampai Eom Seonghyeon duduk di sofa tepat di sebelahnya, lutut mereka bersentuhan. Tipis, tapi kena. Keonho mulai nggak paham sama getiran yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Keonho berusaha kalem aja. Toh, dia juga nggak mengartikan ini sebagai apa-apa. Mungkin bener. Efek dingin, kali. Masih lanjut mengunyah chipsnya yang tinggal remah-remah sambil sibuk liat-liat postingan fans di weverse.
"Mana yang lain?" Suara Seonghyeon memecah hening di ruang tamu. Lah, tapi kenapa, ya, suaranya agak beda– berat…? Diberat-beratin, kah, sama si Eom Seonghyeon? Ah, ngapain juga?
Karena Ahn Keonho menganut kesopanan tiada batas tanpa pandang bulu dan pandang umur, seperti kata mamah, kalau diajak orang ngobrol biasakan jangan main handphone, jadi Keonho tolehkan kepalanya ke samping, untuk secara tiba-tiba merasakan matanya melebar dan bulu kuduknya makin naik saja karena pemandangan di depan.
Eom Seonghyeon, sialan! Eom Seonghyeon, dengan rambut setengah basah, sepenglihatan Keonho –lembab– mungkin sudah dikeringkan pakai handuk saja, atau mungkin cuma dibiarkan saja, atau mungkin Seonghyeon mencelupkan kepalanya ke dalam ember berisi air atau apa-apa yang masuk akal bagi Keonho sekarang tapi pemikiran itu diputus karena entah kenapa, sialnya, sayangnya, bau sabun yang menguar dari Seonghyeon jauh lebih tercium sekarang, atau hidung Keonho yang tiba-tiba jadi lebih peka. Keonho menarik konklusi bahwasannya Eom Seonghyeon baru habis mandi.
Tapi, kenapa dia mandi siang-siang gini?
Keonho tentu nggak akan nanya itu karena buat apa juga.
Sadar malah terpongah, Keonho berdehem sebelum menjawab. "Kak James sama Kak Juhoon tadi katanya mau tidur, Kak Martin juga tadi kamu liat ke dalem, kan?" Keonho melihat mulut Eom Seonghyeon membentuk huruf O sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti. Tunggu, kenapa Keonho jadi lihat bibir Eom Seonghyeon? Apaan, sih, ini?
Belum lagi paham dirinya kenapa, Seonghyeon malah main asal comot keripik kentang yang ada di pangkuan Keonho. Yang ada di pangkuan Keonho. Pangkuan Keonho. Pangkuan. Keonho.
Lalu dengan entengnya naruh satu tangannya, bertengger, di paha Keonho. Diam. Malah sibuk main handphone dengan satu tangannya lagi dan merosot dan menjatuhkan beban seluruh tubuhnya di sandaran sofa dan meninggalkan Keonho yang tidak bisa memaksa dirinya untuk mengunyah lagi.
Astaga, tiba-tiba wajahnya jadi panas sekali.
Efek dingin, kali…?
Keonho nggak mau ambil pusing. Ya. Maunya, sih, begitu, maunya juga nggak setransparan itu, tapi tubuhnya yang menegang dan pahanya yang tiba-tiba kaku nggak bisa digerakkan sudah lumayan terekspos ke permukaan.
Kegiatan doomscrolling hampir sepenuhnya dilupakan.
Yang ada di pikirannya sekarang? Lari saja ke kamar.
Sebaliknya, yang bisa keluar dari belah bibirnya adalah, "bentar, aku mau minum …"
"Oh? Oke." Kok kayak kecewa gitu? Mungkin perasaan Keonho saja karena dia sudah cepat-cepat melangkah ke dapur, tidak, setengah berlari, hanya untuk lepas dari tangan Eom Seonghyeon tanpa sempat melihat wajahnya. Tidak masuk akal, tapi entah kenapa cuma ini satu-satunya yang bisa Keonho lakukan.
Dengan satu gerakan cepat, Keonho menaruh gelas di pantry dan menuangkan air ke dalamnya. Matanya melirik Eom Seonghyeon di seberang, ruang tamu. Niatnya hanya sekejap. Tiba-tiba air yang masuk ke kerongkongan hampir memaksa keluar kembali.
Gila.
Keonho memaksa meneguk airnya.
Gila.
Itu apa? Itu. apa.
Keonho refleks membalikkan badan dan mengipas-ngipasi wajahnya yang mungkin saat ini sudah semerah badut konyol. Dipikir-pikir, memanglah dia badut.
Dipikir-pikir, mengapa pula dia sampai bersikap seperti ini.
Dipikir-pikir, Eom Seonghyeon itu bajingan juga, ya.
Eom Seonghyeon duduk di sana, sekelebat hanya terlihat seperti postur duduk biasa, tapi, astaga, kenapa tiba-tiba ada permen kaki di mulutnya? Itu atraktif! Belum lagi tiba-tiba banyak hal lain yang Keonho baru sadari, Eom Seonghyeon cuma pakai jersey basket NBA kemarin, dan celana panjang rumahan yang terlihat nyaman.
Keonho yang merasa nggak nyaman sekarang.
Gila Eom Seonghyeon apa-apan sih kenapa dia cuma pakai jersey ketekan di cuaca dingin kayak gini, coba?
Gila.
Nggak kedinginan, apa?
Mau berlagak keren?
"Lama amat minumnya."
Keonho tersentak kaget mendengar suara Seonghyeon lalu membalikkan badan cuma untuk melihat sesuatu yang lagi-lagi dia nggak mau tapi tetap berhasil bikin dia kepanasan sendiri.
Kali ini tatapan intens Eom Seonghyeon mungkin sanggup menembus bola matanya, atau kornea matanya, atau kelopak matanya, semuanya yang ada.
"Sini."
Eom Seonghyeon menepuk sofa di sebelahnya. Keonho meneguk ludah susah payah.
Tapi dia berjalan, berjalan, berjalan, sampai dunia terasa menyempit dan sekarang dia merasa kecil sekali berada di hadapan Eom Seonghyeon.
"Apa." Berusaha terdengar biasa, atau Keonho mengharapkan setidaknya nada galak, tapi yang berhasil keluar dari mulutnya adalah suara lirih.
Astaga, ini bukan efek dingin lagi.
Eom Seonghyeon mulai mengerling nakal dan cengengesan hampir dibuat-buat sehingga napasnya lah satu-satunya yang bergema di ruang tamu.
Kemudian dan demikian pula dan entah atas dasar apa menarik kedua tangan Keonho dengan satu tarikan cepat sampai Keonho berakhir terduduk di pahanya.
Brengsek.
Sialan.
Lutut Keonho tertekuk di samping tubuh Seonghyeon, namun dia tidak memikirkan itu sama sekali karena untuk apa dia memikirkan hal itu di saat wajahnya dan wajah Eom Seonghyeon begitu dekat sekarang sehingga Keonho bisa saja hitung berapa pori-pori yang Eom Seonghyeon punya?
Untuk apa juga dia memikirkan itu di saat posisi mereka saat ini jauh lebih mengkhawatirkan dan sialnya, terlalu tidak seharusnya?
Atau, memang seharusnya?
Apa Eom Seonghyeon sudah kehilangan akal sehatnya sekarang?
Apa Ahn Keonho juga tidak lebih baik karena merasa ini benar?
Tidak ada yang bicara selama beberapa menit untuk keheningan yang mencekik mereka kedepan karena Keonho sibuk menatap bola mata Seonghyeon yang bersih sekali–yang baru sekarang disadarinya, dan Seonghyeon yang asyik menghitung jumlah bulu mata lentik Ahn Keonho yang memang sudah mencolok.
Tangan Keonho bertengger canggung di sisi tubuhnya.
Eom Seonghyeon tersenyum. Tipis. Hanya ada kelembutan yang terasa terlalu intim di sana. Seonghyeon mengulurkan tangan untuk pada akhirnya menyerah melawan keinginannya– memegang tulang pipi Ahn Keonho, awalnya ragu-ragu, lalu mengusapnya menjadi pola yang teratur.
"Merah banget pipinya."
Ahn Keonho berkedip. Satu. Dua. Tiga. Tiba-tiba semuanya terasa terlalu nyata. Tiba-tiba dia jadi sadar dengan sentuhan Seonghyeon. Tiba-tiba beban yang menghimpit Seonghyeon saat ini adalah beban dari tubuhnya.
Lutut Keonho seketika melemas.
Usapan Eom Seonghyeon masih terasa. Bahkan lebih jelas. Kulitnya yang pasti dua kali lipat lebih merah sudah mempermalukannya.
Namun entah kenapa dia jadi lebih berani. Ada sesuatu yang berkobar di dadanya.
Keonho ingin tahu bagaimana jadinya. Keonho memang selalu ingin tahu.
"Ngapain sih kita kayak gini? Mau ciuman?"
Fuck it, lah.
Apa lagi kalau bukan itu?
Kali ini pupil Seonghyeon yang melebar. Telinganya memerah spontan. Keonho balas memicingkan mata. "Enggak, kah?"
"Yaaaaaa …."
Eom Seonghyeon terlihat gelagapan. Keonho sudah mau tertawa sebelum dibungkam dengan,
Cup!
Napasnya tercekat.
Eom Seonghyeon menciumnya. Kecupan singkat. Ringan.
Sebelum otak Keonho dapat memproses lebih lanjut, tubuhnya sudah bekerja lebih dulu. Mengecup kembali Eom Seonghyeon yang mengira dia menang lalu entah bagaimana keduanya berakhir dengan Ahn Keonho yang mendorong bahu Eom Seonghyeon sehingga Eom Seonghyeon sepenuhnya bersandar di sandaran sofa.
Mereka saling bertatapan sebentar sebelum kecupan ringan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam ketika tangan Seonghyeon sudah memegang pinggang Keonho dengan intensitas yang pas di atas pangkuannya semata-mata agar Keonho seimbang pun dengan tangan Keonho yang gelagapan mencengkram–menjambak–rambut-rambut tipis di tengkuk Seonghyeon.
Ciuman itu dalam, namun tidak terburu-buru. Permen kaki yang berada di mulut Seonghyeon beberapa waktu lalu sudah hilang entah kemana dan dengan cara yang Keonho tidak peduli karena permen kaki sialan itulah yang membuat Keonho merasakan manisnya cumbuan Seonghyeon.
Mulut Seonghyeon jadi manis luar biasa.
Sejenak mereka menemukan ritme yang pas, lalu berantakan, lalu pas lagi, lalu berantakan lagi dengan cara yang lebih parah. Kepala miring ke kanan dan ke kiri untuk menemukan posisi yang tidak bikin Seonghyeon terlalu menengadah dan Keonho terlalu menunduk di pangkuannya. Mereka tidak tahu cara berciuman yang benar karena kehidupan mereka hanya berputar di antara ketukan musik, gerakan tarian, dan bait lagu.
Namun, kali ini, penasaran yang menggelitik dan perasaan yang membucah membuat semua kendali lepas tangan.
Mereka meluap-meluap.
Pagutan dilepas. Mereka terengah-engah. Bajingannya Seonghyeon, sebajingan-bajingannya Seonghyeon, pindah untuk mengecupi pipi Keonho dan berlama-lama di rahang sehingga Keonho harus mengadah sedikit ke kiri untuk memberikan akses. Keonho melenguh, melepaskan suara yang dia tidak tahu dia bisa buat.
Lalu begitu saja Keonho melihat Kak Martin ada di sana.
Berdiri.
Melongo.
Mata melebar.
Clueless as fuck.
Hari itu dihabiskan dengan Ahn Keonho yang berpikir bahwa mungkin saja ini memang efek dari cuaca dingin sehingga dia harus terpaksa turun dari pangkuan nyaman itu dan bergegas memisahkan diri dari Eom Seonghyeon yang sama sekali tidak berbeda situasi dan kondisinya.
Ketika Kak Martin bersuara di belakangnya,
"Oy! Lanjutin dulu, lah!" Masih terdengar bingung tapi Keonho tahu pasti nada itu ditujukan untuk mengejek.
Keonho bersumpah dia sakit perut dan bisa mengunci dirinya dua hari atau kalau perlu seminggu penuh di dalam kamar mandi ketika mendengar Seonghyeon yang malah membalas dengan suara serak,
"Iya, nanti."
Mungkin Ahn Keonho merasa kepanasan karena dia harus bersatu dengan Eom Seonghyeon sialan yang sialnya cukup tampan dan memabukkan dan tahu cara memangku orang– agh!
