Actions

Work Header

Make Up

Summary:

“So… can I be your someone? We don’t have to start this right now—we can take it slowly. Would you walk in with me, Sasa?”

Sage tersenyum; matanya menyipit membentuk bulan sabit. Juno bersumpah akan mengunci momen itu dalam ingatan.

"Then show me the way, Juno the freakiest.”

Notes:

hi, udah lama idenya aku keep karena bingung juga mau di up gak ya... aku mau sedikit kasih visual untuk castnya ya.

Juno: Kim Juhoon
Sage: Eom Seonghyeon
Amora: Lee Dain/Rora
Asa: Enami Asa

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Seminggu yang lalu, adik kembarnya—Amora—membujuknya untuk menjadi model. Awalnya ia menolak mentah-mentah, ia tak punya pengalaman jadi muse, apalagi berjalan di atas karpet merah. Namun, begitu tahu acara kali ini bertajuk “Fashion Center of Couple”—dan ia tidak akan tampil sendirian, melainkan bersama quiet crush-nya, Sage (teman Amora sejak ospek, yang sering jadi muse make-up-nya)—ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Seribu kiat akan ia gaungkan demi kemajuan misinya mendekati si cantik herbal.

“Juno, lu diem deh. Mau gua pakein alis biar makin perfect.” Amora sudah kelimpungan mengejar waktu. Belum lagi kedua modelnya masih belum memakai kostum yang dipilih partnernya—sekaligus gebetannya—Kak Asa.

“Sasa, kamu bisa, kan, ikutin blush yang jadi inspirasi aku? Itu yang di iPad. Aku mau modif Bang Juno dulu, ya. Agak ribet dia, bregedesss,” keluhnya sambil berulang kali menghapus lalu merias kembali wajah kembarannya.

Sage, yang mulanya sedang memilih warna lipstik yang kira-kira cocok, menoleh. Dilihatnya dua saudara itu cekcok kecil—entah Juno yang ngarang soal Amora bau apek belum keramas, atau Amora yang ngarang soal napas Juno.

“Bau napas lu tuh… bau dugong.”

“Yeh, kepala lu tuh bau prengus,” balas Juno, sebelum Amora menggetuk kepalanya.

Sage hanya menggeleng, lalu mengikuti arahan Amora. Untungnya ia cukup pandai, jadi rasanya tak terlalu membebani—malah bisa sedikit membantu. Ia mengambil brush, mengetuk-ngetukkannya pelan, lalu mengaplikasikannya ke pipinya yang mulus. Ruangan mendadak senyap. Ketiganya tampak serius dengan tugas masing-masing—ya, mungkin kecuali Juno yang tugasnya cuma duduk diam karena alisnya sedang disisir dan dibentuk. Kalau dipikir-pikir, kata hening kurang cocok untuk menggambarkan hari ini.

iPad Amora tiba-tiba menampilkan panggilan LINE dari sang kekasih. Amora mundur dari posisinya, meraih iPad yang tadinya jadi contekan Sage. Otomatis Sage berhenti.

“Asemeleketek, my mbg nelpon. Wait ya, models.”

Selagi Amora menerima panggilan, Sage sempat melirik sebentar ke kanan. Seketika netranya bertemu dengan si Tiga Januari. Ia cepat-cepat membuang muka setelah mendapat tatapan damba dari yang lain.

Kenapa gugup, ya?

Telepon mati. Amora buru-buru memakai jaketnya, lalu mengambil eyeliner dan tiba-tiba menyodorkannya pada Sage yang masih melamun—membuatnya sedikit tersentak.

“Kak Asa kejebak lampu merah. Katanya mau minggir aja, ninggalin mobilnya di RS. Depannya macet. Hmm… tolong pakein Juno eyeliner ya, Sa. Yang simple aja.”

Itu pesannya, sebelum ia lari keluar ruangan, meninggalkan mereka berdua dalam canggung. Sage menelan ludah. Kalau ia harus memakaikan Juno eyeliner, berarti jarak mereka bakal jauh lebih dekat, kan?

Tak jauh berbeda, Juno pun serasa mau terbang.

Apa-apaan ini, Amora.

Sage bangkit dari kursinya dan melangkah kecil ke seberang. Juno memperhatikan tiap geraknya. Pipi ranum Sage yang tampak berkedut malu, poni yang digulung dan bergerak tertiup kipas, sampai tangan Sage yang menggenggam eyeliner terlalu erat.

“Kak Juno… maaf ya kalau ini kurang sopan. Izin aku aplikasiin ini ke muka kamu…” Kali ini Juno yang hampir teriak. Jangankan segaris eyeliner—kalau pun wajahnya harus dicat hijau ala cosplay Hulk, ia akan jalani demi Sage herbal seorang.

“Iya, Sasa—eh, Sage.”

Keceplosan.

“Gapapa, Kak. Sasa aja biar enak,” ujar Sage sambil merapikan surai si Tiga Januari. “Merem ya, Kak. Maaf kalau aku nggak sejago Amora.”

Juno bingung mau menjawab apa, jadi ia hanya berdeham kaku. Meski matanya terpejam, ia bisa merasakan Sage sudah menghapus jarak di antara mereka. Wangi parfum menyeruak, dan hembusan napas hangat Sage menerpa pipinya.

Sage sendiri berusaha tenang, menggambar garis tipis di ujung mata Juno. Namun rasanya selalu kurang pas.

Ia menghapusnya lagi dengan kapas yang ditetesi sedikit makeup remover. Sudah tiga kali mencoba, tapi ia masih belum puas. Juno membuka sebelah mata. Dilihatnya Sage membungkuk sampai tampak pegal, dengan dahi berkerut dan bibir maju—kesal tapi lucu. Karena tak tahan, Juno terkekeh… dan terjadilah insiden tak diinginkan, garisnya jadi tercoret.

“Kamu… kok ketawa ih? Kan jadinya kecorettt!” Baru kali ini Juno melihat Sage kesal. Lucu juga.

“Sorry, sorry, Sa. Nggak maksud. Janji anteng,” ujarnya.

Sage meneteskan lagi sedikit makeup remover pada helai kain kapas yang baru, lalu menghapus coretan itu pelan-pelan, hati-hati agar tak merusak riasan yang sudah Amora buat sebelumnya. Tapi posisi membungkuk terlalu lama membuatnya semakin pegal.

“Eeee… pegel,” bisiknya.

Sage tak bermaksud mengeluh ke Juno; itu refleks, keluar begitu saja—untuk dirinya sendiri. Tapi dalam jarak sedekat ini, tentu Juno menangkap bisikan halusnya.

Tanpa pikir panjang, Juno menarik pinggang Sage. Sage terseret duduk tepat di pangkuannya. Juno segera memejamkan mata dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi, terlalu pengecut—dan terlalu malu—dengan tindakannya sendiri. Sage yang kaget pun tak langsung berdiri.

“Kak… anu, aku—” Juno membuka mata. “Katanya pegel. Duduk aja sini. Kita juga lagi ngejar waktu, kan?” Oke. Sepertinya Sage sempat lupa waktu mereka yang mepet. Dan… duduk di atas paha Juno memang enak. Maksudnya, ia jadi tidak perlu membungkuk.

“O-oke, Kak. Aku izin, ya.” Sage kembali condong. Tangan kirinya menahan pipi Juno dengan alas tisu, menjaga poni agar tak mengganggu. Tangan kanannya, dengan lebih hati-hati, mencoba menarik garis eyeliner hingga rapi.

Di sisi lain, Juno merangkai kalimat dalam kepalanya. Rasanya ingin berlama-lama begini. Sage duduk di pangkuannya, dan lengannya melingkari pinggang Sage—meski semua ini cuma gara-gara eyeliner.

Thanks to Amora. Bocah itu bawa berkah juga.

“Sa… do you have someone?”

Sage menghentikan gerakannya seketika. Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh dan duduk tegak. Juno ikut duduk tegak, seolah takut Sage menghilang. “Tiba-tiba banget. Jawaban jujur… secara romantis sih, nggak.”

Good. Good enough.

Kalimat itu terasa seperti kemenangan. Seperti menang lotre, Juno tersenyum.

“So… can I be your someone? We don’t have to start this right now—we can take it slowly. Would you walk in with me, Sasa?

Sage tersenyum; matanya menyipit membentuk bulan sabit. Juno bersumpah akan mengunci momen itu dalam ingatan.

"Then show me the way, Juno the freakiest.”

Bad influence nih, si panda. Itu dari dia, kan, taunya? Juno the—” Belum sempat Juno menyelesaikan kalimatnya, Amora muncul dari belakang dan menjitak kepala kembarannya. “Gue denger, ya. Bregedesss. Pengen gue timpuk si Juno.”

Satu, dua, tiga…

Sage langsung melompat dari pangkuan Juno. Kaget setengah mati. Sejak kapan Amora ada di sini? Di dekat gorden berdiri Kak Asa, membawa dua paper bag, menatap Sage dengan senyuman maut.

“Hai,” sapa Kak Asa.

Sage membeku. Bahkan eyeliner di tangannya jatuh ke lantai. Rasanya ingin meloncat dari tebing tertinggi demi mengusir malu. Sementara itu, Juno mengusap belakang kepalanya sambil menyumpah serapahi panda nakal.

“Amora, sejak kapan ada di sini?” tanya Sage, takut kalau dugaannya benar.

“Dari pas lo ditanya punya someone apa nggak, gue sama Kak Asa udah di gorden. Kita rekam malah tadi,” jawab Amora tanpa dosa.

Kak Asa mengangguk, lalu menunjukkan layar ponselnya—rekamannya terpampang jelas.

Aah, ia makin ingin mengubur diri.

Amora memungut eyeliner yang jatuh, lalu menyerahkannya kembali pada Sage. “Nih. Lo pakein yang sebelahnya, nanggung, Sa.”

Sage menggeleng. Sudah cukup. Malunya sudah sampai ubun-ubun. “Kamu aja deh, Ra.”

Ia malah buru-buru kabur ke arah Kak Asa yang sedang membuka paper bag, menanyakan baju yang harus ia pakai hari ini—kabur dari Juno, juga dari Amora.

“Ini. Kamu ganti dulu sana,” kata Kak Asa.

"I-iya, Kak Asa. Makasih.” Sage menerima bajunya. “Amora, aku ganti baju dulu, ya. Lip pakai belakangan aja!” Sage menghilang secepat mungkin. Biarlah rasa malunya ia telan mentah-mentah.

“Ra, keren nggak gue?” tanya Juno.

“Najis lu… tapi keren sih.”

Notes:

see y'all soon