Actions

Work Header

drown

Summary:

Di tengah-tengah tekanan profesi sebagai pengacara, Yuji Itadori berusaha mencari suaka ketika pegangannya mulai goyah. Siapa sangka, ia akan menemukannya dalam dekapan hangat dari seorang Hiromi Higuruma.

Notes:

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tumpukan map berkas Megantara Sanjaya di atas meja Yuji sungguh berantakan. Kertas-kertas berserakan, saling tumpang tindih, bahkan beberapa lembar di antaranya mengubur cangkir kopi yang hanya tersisa ampas kering di dasar gelas. Dari tempat duduknya, Yuji menatap semua itu dengan mata tersengat perih. Huruf-huruf di lembar kertas seolah bergerak sendiri, seperti sengaja mengejeknya yang sejak tadi berusaha keras tetap tenang.

Punggungnya menegang kaku. Sorot biru dari layar laptop memantul di lensa kacamata, menjadi satu-satunya penerangan di bilik kerja yang redup. Kursor di layar berkedip tanpa henti di ujung kalimat yang belum selesai sejak dua jam lalu. Ia sudah membaca paragraf yang sama berulang kali—mungkin lima atau lebih—namun setiap kali sampai di baris terakhir, pikirannya seperti terputus. Kata-kata itu ada di depan mata, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya.

Yang lebih mengganggu sebenarnya bukan tumpukan berkas di meja.

Ponselnya yang tergeletak di samping papan tik terus menyala, memunculkan notifikasi dari portal berita satu-persatu. Judul-judul tebal memenuhi layar. Semua membawa nama Mega, dan semuanya terdengar seperti vonis yang sudah dijatuhkan sebelum proses sidang benar-benar selesai. Di kolom komentar, ribuan orang berlomba menghakimi. Satu kata muncul berulang kali: bersalah. Seakan segalanya sudah pasti.

Rahang Yuji mengeras.

Ia tahu, orang-orang di luar sana tak melihat perkara ini seperti dirinya. Mereka tak menyadari celah-celah dalam bukti yang diajukan jaksa penuntut umum. Mereka tidak mendengar bagaimana saksi ahli di sidang sebelumnya bicara berputar-putar tanpa alasan jelas. Bagi publik, semua itu tak penting. Mereka hanya butuh satu nama untuk disalahkan, satu wajah untuk dijadikan sasaran. Dan begitu arus kebencian itu mengalir, Mega sudah tenggelam jauh di dalamnya.

Yuji melepas kacamatanya, lalu mengusap wajah dengan kasar. Ia menarik napas dalam, tapi udara tetap menghimpit berat, seperti tersangkut di tenggorokan. Sesuatu di dalam perutnya bergejolak panas, seakan mencengkeram ulu hati, lambat-lambat naik ke dada, membuat napasnya memendek. Yang ia takutkan bukanlah kekalahan. Ia takut ada satu detail kecil yang terlewat, satu bagian penting yang bisa mengubah segalanya, tapi tak kunjung ia temukan. Ia takut esok hari berdiri di ruang sidang dengan tangan kosong, sementara satu-satunya orang yang masih percaya padanya harus menanggung beban yang tak pernah ia lakukan.

Mata Yuji kembali jatuh pada map berstempel nama sang klien. Ujung jarinya menekan tepi kertas itu hingga kusut. Ini sudah jauh melampaui soal nama baik firma atau harga diri seorang pengacara. Di balik map itu ada kehidupan seseorang. Ada masa depan yang bisa runtuh, hanya karena orang-orang lebih suka membaca judul berita bombastis daripada menunggu kebenaran yang belum utuh ia sampaikan.

Tak sanggup lagi menahan riuh di kepalanya sendiri, Yuji mendorong kursinya ke belakang. Roda kursi berdecit halus di lantai, memecah kebisuan yang menggantung di ruangan. Ia bangkit dengan langkah terseret dan keluar dari biliknya. Lorong firma hukum itu lengang, hanya diterangi oleh lampu langit-langit yang temaram, membuat bayangannya memanjang di lantai.

Di ujung lorong yang kosong, seberkas sinar merembes dari bawah pintu. Hanya ada satu ruangan yang masih terang malam itu. Dari celahnya, pendar kuning merayap keluar, memotong bayangan di atas karpet tebal kantor yang sudah sepi.

Yuji berhenti melangkah. Ia berdiri sesaat, lalu mendekat perlahan. Dari balik celah pintu itu, ia mengintip ke dalam.

Hiromi masih duduk di balik meja kayunya yang besar. Lengan kemeja hitamnya digulung sampai siku, tapi bagian lain kainnya tampak sarat lipatan. Sebatang pena tergenggam erat di jemarinya yang kuat, sementara di hadapannya berlembar-lembar dokumen belum tersentuh sepenuhnya. Wajahnya datar seperti biasa—tenang, rapi, dan sulit ditebak. Namun, Yuji menangkap sesuatu yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Kantung mata Hiromi tampak tebal, seolah kelelahan yang dikecapnya sudah terlalu dalam untuk hilang hanya dengan tidur semalam.

Yuji hampir mengetuk pintu ketika sebuah suara dari dalam terdengar.

“Masuk, Yuji.”

Dengan hati-hati, ia mendorong pintu tanpa suara. Seketika hawa dingin langsung menyergap kulitnya, menusuk lebih tajam daripada udara di lorong. Ruangan itu beraroma kertas, kayu berlapis pelitur mahal, dan kopi hitam yang telah kehilangan hangatnya. Napas Yuji tercekat, lalu ia melangkah masuk.

“Pak,” ucapnya pelan, serak hampir tenggelam oleh dengungan pendingin ruangan. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. “Terkait persidangan Mega selanjutnya…”

Perhatian Hiromi berpindah pada Yuji. Pria itu mengangkat wajah, menatap Yuji seolah menimbang-nimbang isi kepalanya. Tanpa kata, Hiromi menutup map di hadapannya dan menunjuk ke arah sofa kulit di sudut ruangan dengan dagu.

“Duduk.”

Yuji menurut. Begitu punggungnya menyentuh sandaran sofa, seluruh tubuhnya seolah runtuh. Bahunya kaku sejak tadi, dan kini ia sadar betapa erat kedua tangannya terlipat di pangkuan sampai jari-jarinya memucat.

Yuji datang ke sini dengan satu tujuan: mencari pegangan. Ia ingin berdiskusi soal strategi, menyusun ulang pembelaan, dan menemukan celah dari argumen jaksa yang mungkin bisa dipatahkan. Di kepalanya, semuanya sudah ia susun rapi. Kalimat demi kalimat, urutan demi urutan.

Namun, begitu duduk di sana, di bawah pencahayaan remang-remang dan keheningan yang mencekik, semua itu lenyap.

Kata-kata hilang dari pikirannya, tergantikan oleh suara-suara lain. Judul berita dengan pilihan kata yang menyudutkan. Komentar-komentar tajam di layar ponselnya. Nama Mega yang terus diseret ke mana-mana, seolah orang-orang di luar sana sudah lebih dulu membuktikan bahwa Mega adalah penjahat sesungguhnya.

Yuji menunduk. Matanya tertuju pada ujung sepatunya. Dadanya terhimpit, seperti rongga di dalamnya menyempit. Ia menarik napas panjang, tapi udara yang masuk nyatanya begitu sedikit, seolah tak sampai ke paru-parunya. Jari-jarinya yang bertaut mengencang lagi.

“Saya…” Suaranya terhenti.

Yuji terdiam. Tenggorokannya kering dan ia harus menelan ludah sebelum akhirnya melanjutkan.

“Saya takut, Pak.”

Kata itu keluar sangat lirih, penuh akan beban yang tak bisa disembunyikan.

Tatapan Yuji kini tertuju pada kedua tangannya yang tergeletak di atas lutut. Ujung jari-jarinya bergemetar halus, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat dadanya semakin buncah. Ia sudah menekan tangannya sekuat mungkin, tapi tubuhnya seperti punya kehendak sendiri yang sulit dikendalikan.

“Di luar sana… sudah banyak yang percaya kalau Mega bersalah,” bisiknya terburu-buru, seolah takut keberaniannya hilang jika ia berhenti bicara. “Mereka tidak tahu seluk beluk perkara ini. Mereka hanya membaca judul berita, lalu menonton potongan-potongan opini yang disebar ke mana-mana. Semua dibuat ramai, dibuat seolah-olah meyakinkan, padahal mereka tidak peduli apa yang sebenarnya sudah dialami oleh Mega.”

Lisan Yuji kebas. Asam yang bercokol di pangkal tenggorokannya sejak tadi kini mulai menjalar ke ujung lidah.

“Bagaimana kalau di sidang selanjutnya saya gagal?” pertanyaan itu keluar dengan nada bergetar. “Bagaimana kalau ada satu hal penting yang saya lewatkan? Bagaimana kalau saya tidak cukup cepat menanggapi argumen jaksa, atau tidak teliti mencari celah… lalu orang yang tidak bersalah benar-benar harus masuk penjara?”

Ucapannya terputus di tengah.

Yuji menutup wajah dengan kedua belah tangannya. Dinding pertahanannya sedikit demi sedikit goyah. Panas mulai mendesak di sudut mata, tapi Yuji masih mati-matian menghalau isaknya. Ia menyadari betapa kecil dirinya. Terlalu kecil untuk memikul nasib seseorang sendirian, sementara dadanya bergemuruh oleh amarah yang tak tahu harus ia taruh ke mana.

Ia benci kenyataan bahwa niat baik tidak selalu cukup. Ia benci kenyataan bahwa kebenaran bisa kalah bahkan sebelum diutarakan di ruang sidang. Dan yang paling ia benci malam itu adalah kecemasan bahwa semua usahanya bisa hancur, hanya karena ia manusia biasa yang bisa salah.

Ruangan itu kembali sepi.

Dari balik tangkupan jemarinya, Yuji memejamkan mata rapat-rapat. Ia menunggu teguran yang sudah terbayang sejak tadi — kalimat dingin dan tajam yang biasa keluar dari mulut Hiromi. Sesuatu seperti: “Air mata tidak akan membantu perkara, Yuji. Tenangkan dirimu, lalu kembali ke berkas.”

Itulah yang Yuji kenal dari atasannya. Namun, teguran itu tak juga datang.

Yang terdengar malah suara kursi yang beringsut pelan. Lalu langkah kaki yang ringan di atas karpet.

Yuji masih menunduk ketika ia merasakan sisi sofa di sebelahnya turun sedikit. Udara dingin di sekitarnya menyingkir, digantikan oleh kehadiran seseorang yang duduk terlalu dekat. Beberapa detik kemudian, sebuah tangan besar turun dan menimpa bahunya.

Hangat.

Bobotnya berlabuh mantap, tapi sentuhannya ringan, seolah orang itu sendiri sedang mencari cara agar tak membuat Yuji semakin hancur. Ada jeda singkat—ragu, canggung, seperti seseorang yang jelas tak terbiasa menghibur orang lain. Lalu tekanan itu menguat sedikit, bukan untuk memaksa, tapi untuk menyangga.

Bahu Yuji tersentak. Bukannya mereda, sentuhan tersebut justru membuat sisa pertahanannya luluh lantak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

Sebelum Yuji mampu bereaksi, lengan yang kuat itu lebih dulu merengkuhnya. Tarikannya lembut, hati-hati, seolah memberi ruang bagi Yuji untuk mundur bila ia mau. Tubuhnya menegang selama sepersekian detik—refleks alami. Namun, rasa lelah di kepalanya sudah terlalu besar untuk dilawan. Otot-ototnya mengendur, dan kepalanya jatuh bersandar pada dada bidang Hiromi.

Dari jarak sedekat itu, Yuji menangkap aroma yang samar dari tubuh atasannya. Ada wewangian mahal yang khas, bercampur kain kemeja katun, serta debu kertas arsip yang menempel setelah berjam-jam duduk di antara gunungan berkas. Tidak ada yang manis atau hangat dari aroma itu, tapi justru membawa jejak familiar. Dan entah bagaimana, itu cukup untuk membuat simpul ketat di dadanya sedikit melonggar.

Hiromi memeluknya dalam diam.

Tak ada kata-kata panjang yang dipaksakan agar terdengar menenangkan. Tak ada nasihat tentang bagaimana seorang pengacara seharusnya bersikap. Hanya tangan besar yang membelai punggung Yuji. Setiap gerakan menjelma isyarat yang diam-diam berkata bahwa pria itu masih ada di sana. Bahwa malam ini memang berat, tetapi Yuji tak harus menanggung semuanya sendirian.

Yuji membenamkan wajahnya, menyembunyikan sisa isaknya pada dada berlapis kemeja hitam tersebut. Buku-buku jarinya memucat seiring kuatnya ia meremas kain pakaian Hiromi. Ia berpegangan padanya, takut jika ia melonggarkan kepalannya barang sedikit, badai kepanikan akan kembali menyeretnya.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Yuji kehilangan hitungan. Namun pelan-pelan, rasa kebas yang membekukan ujung-ujung jarinya mulai memudar. Rongga dadanya tak lagi terasa sempit, membiarkan udara masuk tanpa mencekik tenggorokan. Ia tahu tumpukan berkas di mejanya tidak akan selesai sendiri. Ia juga tahu pandangan menghakimi dari dunia luar masih akan menantinya besok pagi.

Akan tetapi, dalam jarak sedekat ini, telinga Yuji menangkap sesuatu yang lebih nyata dari ketakutannya: degup jantung Hiromi yang berirama tenang dan stabil. Ritme itu meresap, mengurai satu demi satu simpul keputusasaan yang sejak tadi mengikat lambungnya.

Perlahan, cengkeraman tangan Yuji mengendur. Ia menghela napas panjang, membiarkan lelahnya luruh sepenuhnya pada kehangatan tubuh pria itu. Di ruangan ini, di bawah rengkuhan lengan yang melindunginya, Yuji akhirnya menyadari satu hal.

Malam ini, ia tidak harus menahan beratnya dunia sendirian.

Notes:

dinamika pair mereka tuh bikin jatuh cinta asliii

Series this work belongs to: