Work Text:
Adalah kiranya sepuluh tahun berlalu sejak insiden percobaan bunuh diri yang dilakukan Youngjae di balkon kamarnya. Ia kini terduduk di depan mejanya, sibuk mengurut pelipis karena harus mengoreksi artikel milik mahasiswanya yang akan menjadi salah satu materi di seminar beberapa minggu ke depan.
“Bagaimana, Mister? Sepertinya masih harus merevisi bagian pembahasan, ya?”
Youngjae diam, memperbaiki posisi kacamata yang turun hingga ke ujung hidung, kemudian menatap wajah mahasiswanya yang terlihat antusias. Kira-kira bagaimana Youngjae memberitahu dia bahwa revisi yang harus dikerjakan jauh lebih banyak daripada yang ditanyakan—tanpa membuat mahasiswa itu merasa tertekan?
Beberapa kalimat yang masih butuh parafrase, alinea yang berantakan, juga tanda baca yang diletakkan tidak sesuai tempatnya. Rasanya Youngjae tidak sampai hati jika harus mengatakan semuanya tanpa menyakiti hati mahasiswa tersebut. Padahal ia sudah jelas-jelas menyampaikannya saat pertemuan pertama dulu, namun sepertinya mahasiswa yang ini kurang memperhatikan apa yang ia sampaikan.
“Mister? Bagaimana? Bagian mana yang harus direvisi?”
Youngjae menarik napas panjang sebelum melirik ke arloji di pergelangan tangannya. Sudah hampir memasuki jam makan siang. Ia tersenyum tipis, “saya akan kirimkan dokumen yang sudah ditandai nanti sore melalui surel. Kamu bisa lihat di sana.”
Ada jeda sejenak sebelum mahasiswa itu pada akhirnya mengangguk. Ia menutup laptopnya, kemudian memberi salam dan keluar dari ruangan kantor Youngjae. Dengan begitu, barulah Youngjae dapat menghela napas lega. Setidaknya ia masih memiliki sedikit waktu untuk beristirahat sebelum temu janji dengan mahasiswa lainnya untuk bimbingan skripsi. Jadi Youngjae melangkah ringan menuju kantin fakultas, memesan americano dingin dan mengambil jatah makan siang untuk dosen, kemudian duduk di salah satu bangku yang kosong di sudut.
Minuman pahit itu turun mengaliri kerongkongannya yang kering.
Manik mata Youngjae memindai keadaan di sekeliling. Mahasiswa dan mahasiswi berbaur di sekitarnya, menikmati makan siangnya masing-masing. Setiapnya membawa buku atau hanya sekedar botol minuman yang diisi air minum gratis di kantin fakultas. Hal itu membuat Youngjae tersenyum, terlebih saat melihat sepasang mahasiswa yang saling menyuapi sambil menemani salah satunya mengerjakan sesuatu di laptopnya. Rasa-rasanya, Youngjae pernah mengalami hal serupa. Namun semakin ia menggali ingatannya untuk menemukan kenangan itu, kepalanya akan berdenyut luar biasa nyeri. Jadi ia hanya akan diam, menikmati makanannya, dan membiarkan kenangan itu hilang begitu saja.
Ketika itu, seorang yang menurutnya asing tiba-tiba meletakkan nampan makannya di hadapan Youngjae. Kacamatanya berbingkai penuh, menggunakan kemeja berwarna gelap dan menggulung lengannya hingga ke siku. Orang itu menyapa santai, “saya izin duduk di sini, ya.”
Youngjae mengangkat kepala, menemukan laki-laki asing sekaligus familiar yang kini sudah sibuk menikmati makan siangnya itu. Ia bertanya, “dosen baru?”
Laki-laki tadi mengangguk, “iya. Fakultas Sastra.”
Saat itu juga Youngjae langsung berdiri, membungkuk untuk mengucap salam, dan mengulurkan tangan. “Choi Youngjae. Fakultas Matematika dan Sains.”
Seharusnya Youngjae heran, bukan, kenapa dosen baru dari fakultas lain harus jauh-jauh datang kemari untuk sekedar menikmati makan siangnya? Namun ia tidak ambil pusing. Ia tersenyum tipis demi memberi kesan ramah pada dosen baru dari fakultas sastra tersebut. Dan senyumnya semakin melebar saat dosen itu menyambut uluran tangannya.
“Shinyu.”
Ada desiran aneh yang Youngjae rasakan saat mendengar nama tersebut. Begitu tautan tangan keduanya terlepas, ia segera menggali ingatan mana yang kiranya memiliki kenangan dengan seorang bernama Shinyu karena nama itu terdengar begitu familiar. Namun nihil. Kepalanya justru terasa berat dan ia bisa merasakan sebuah palu seolah dipukulkan langsung ke kepalanya. Ia melenguh pelan, “aah—”
Mendengar suara Youngjae yang mengeluh itu, Shinyu buru-buru mengulurkan sebotol air putih dingin yang sudah dibuka ke hadapan Youngjae. “Minum pelan-pelan saja.”
Dengan kata-kata itu, kepala Youngjae justru menekan semakin kencang. Ia tidak salah. Ia benar-benar pernah berada di situasi ini. Ada botol air putih di depannya, bermacam hidangan makan siang, juga seseorang yang wajahnya asing di ingatannya. Namun Youngjae yakin betul. Ia ada di atap sekolah siang itu. Dan orang yang mengulurkan botol itulah yang menyuapinya beberapa kali sambil mendengarkannya berbicara macam-macam.
Tanpa sadar, sebulir cairan hangat menetesi pipi Youngjae. Ia tidak tahu mengapa ia tiba-tiba menangis, jadi ia buru-buru mengusap air matanya dan menatap dosen baru di hadapannya yang memperhatikannya tanpa banyak bertanya.
“Maaf, aku juga nggak mengerti kenapa tiba-tiba menangis…”
Shinyu menggeleng, “tidak masalah. Santai saja denganku.”
Lagi-lagi sesuatu yang asing sekaligus familiar ini menyapa indera pendengaran Youngjae. Ia mendongak untuk menatap wajah Shinyu lama sekali—sambil terus-terusan mengusap air matanya yang jatuh.
“Kamu nggak banyak berubah, ya,” kata Shinyu lagi.
Youngjae tidak paham. Ia hanya mengangguk dan membisikkan maaf berkali-kali sambil berusaha menghabiskan makan siangnya yang terasa berantakan. Pun dengan Shinyu yang juga kembali fokus pada makanannya.
Begitu makanan Shinyu habis, ia segera berdiri untuk berpamitan. Tangannya membawa nampan yang telah kosong untuk dikembalikan ke dapur.
“I love you, Youngjae. I'll always love you,” bisik Shinyu samar.
Pernyataan perasaan yang asing itu baru terdengar beberapa saat setelah Youngjae menyelesaikan makan siangnya. Air matanya telah kering, meskipun meninggalkan sedikit jejak basah pada pipinya. Detik itu pula, ribuan ingatan yang dihapus susah payah oleh seseorang di masa lalu itu kembali menghantamnya secara terburu-buru. Youngjae tersedak, mengambil botol air minum yang ditinggalkan Shinyu dan segera menoleh ke sekeliling. Netranya mencari sosok Shinyu yang tadi sempat duduk di hadapannya, namun sosok itu tidak pernah ada.
Youngjae bangkit, berdiri dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lagi-lagi sosok dosen dengan kemeja gelap itu tidak ada di kantin ini. Ia mendesah, dan air matanya kembali jatuh semakin deras saat melihat sesuatu yang ditinggalkan Shinyu di meja tempat keduanya makan bersama beberapa saat yang lalu.
Sehelai bulu halus berwarna putih.
Itu dia. Shinyu sang Malaikat telah kembali. Malaikat penjaganya.
