Work Text:
Sudah sekian tahun lamanya Caine hidup sebatang kara di dalam bunker beton ini, sejauh mata memandang hanya ada gurun pasir gersang yang tiada ujungnya. Kehidupan yang monoton ini serasa bisa membuatnya gila, kesehariannya hanya diisi dengan merawat tanaman, membersihkan setiap lantai bunker yang terasa tak berujung, dan meratapi nasibnya yang mengenaskan ini.
Dulu kehidupannya dipenuhi dengan apresiasi terhadap pencapaiannya, ‘𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘵𝘪𝘴𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘢𝘣𝘢𝘥 𝘪𝘯𝘪’ '𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘵𝘪𝘴𝘵 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘵’ '𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘶𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴' begitu kata mereka.
Dulu hari-harinya ditemani dengan suara canda tawa teman dan keluarganya, sekarang semua itu hanya menjadi kenangan yang ada di kepalanya saja. Tidak ada yang tersisa, pikirnya. sekarang dirinya hanya ditemani suara angin dan generator yang selalu menyala setiap saat, bukan lagi canda tawa orang orang yang dulu ada di sekitarnya.
Entah apa yang terjadi pada dunia ini, tiba tiba saja orang orang berjatuhan satu demi satu ke tanah. Dunia yang berisik tiba tiba saja menjadi sunyi selama beberapa saat, kemudian disusul dengan teriakan segelintir orang yang selamat, panik mereka rasakan karena tiba-tiba saja orang-orang di sekitaran mereka terkapar begitu saja di tanah. Tak pernah ada yang bisa menjelaskannya, termasuk Caine. Peristiwa xx tahun itu masih menjadi misteri baginya.
Tahun-tahun awal pasca kejadian misterius itu, orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan perlindungan, entah berlindung dari apa mereka pun juga tak tau. Mereka beramai ramai menjarah berbagai tempat untuk mendapatkan barang apa saja yang bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup. Melihat banyak orang berjalan dengan luka lebam dimana mana bukan lah hal yang tidak biasa kala itu. Mereka yang berhasil bertahan hidup adalah mereka yang serakah dan juga mereka yang mempunyai kekuatan fisik.
Dan disinilah Caine sekarang, duduk diam di lantai teratas bunker, melihat gurun pasir luas lewat kaca tebal yang sudah terlihat sangat kotor karena pasir yang terus menerpanya. Ia menyeruput pesan teh hangat yang ada di mug yang bertuliskan 'always smile' yang ada di genggamannya.
Caine menghembuskan nafasnya kasar, frustasi dengan keadaan. Jujur saja, ia sudah berkali kali mencoba mengakhiri penderitaan ini, tapi seolah semesta tak menyetujui setiap percobaannya selalu saja gagal. Ia berpikir, salah apakah dia sampai tuhan begitu membencinya dan mengurungnya di dalam lubang kehampaan yang tiada ujung, sampai sampai ia tak boleh keluar dari penderitaan batin ini.
Saat Caine sedang sibuk dengan pikirannya, tiba tiba saja Ia melihat siluet orang orang terlihat seperti sedang berkelahi dari kejauhan. Kaca kotor di depannya ini menjadi penghalang untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Ada rasa panik ia rasakan ketika melihat siluet orang orang itu, tak heran, karena sudah hampir setahun ini Caine tidak melihat manusia lain karena ia tak pernah keluar dari bunkernya. Bukan tanpa alasan, ia hanya takut tentang kesialan apa lagi yang menantinya saat ia keluar dari zona amannya ini.
Ia membelalak ketika melihat salah satu dari orang orang itu mengangkat senjatanya dan menembak semua orang di dalam rombongan itu. Tiba tiba rasa panik memenuhi tubuhnya tak kala sesosok siluet itu mulai membesar, berjalan menuju ke arah bunker— ke arahnya. Ia berlari, bersembunyi menghindari kaca, takut dirinya akan bernasib sama dengan orang orang yang sudah tergeletak di luar sana.
Tak berapa lama waktu berselang, terdengar gedoran keras dari arah pintu utama bunker.
Nafasnya tercekat "Bagaimana bisa?"
Pasalnya bunker ini terbuat dari beton dan baja, bagaimana bisa manusia biasa bisa sekuat itu mengendor pintu bunker hingga getarannya terasa pada dinding-dinding bunker.
Teriakan terdengar dari arah pintu. Bukan, bukan teriakan yang kasar ataupun menyakitkan, tetapi suara itu terdengar lembut. Suaranya tak begitu jelas, karena terendam dengan beton beton yang tebal.
Seolah terhipnotis dengan suara lembutnya, Caine secara tidak sadar melangkahkan kakinya ke arah pintu itu. "Ini adalah ide buruk" pikirnya.
Tanpa sadar Ia menahan nafasnya, "S-Siapa?" Tanya Caine lewat intercom yang ada di pintu tersebut.
Orang yang ada di sisi lain intercome menjawab dengan tergesa-gesa "Namaku Rion, Rion Kenzo." Ada jeda sedikit ketika pria itu mengambil nafas "Aku sangat membutuhkan air saat ini, tolong, tolong selamatkan aku" pintanya dengan suara yang semakin mengecil di akhir.
Caine mengambil sebuah pistol kecil yang kemudian ia simpan di pinggangnya untuk berjaga jaga sebelum membuka sedikit pintu bunker itu dengan kesusahan karena berat pintu itu luar biasa, Ia melirik pria misterius itu dari atas sampai bawah, hal pertama yang Caine sadari setelah membukakan pintu adalah tubuhnya yang dipenuhi dengan luka luka lebam dan nafasnya yang pendek. Rasa iba ia rasakan setelah dengan seksama memperhatikan pria itu.
Tapi sebelum mempersilahkannya masuk Caine lebih dulu menunjuk pada senjata api laras panjang yang dipegang pria itu "Simpan itu dulu" pintanya.
Dengan tergesa-gesa pria itu menyimpan senjatanya dibalik punggung, setelah memastikan senjata itu tidak lagi ada di genggamannya, Ia pun mempersilahkan pria yang mengatakan namanya adalah Rion itu untuk masuk ke dalam bunkernya setelah memastikan keadaan sekitar tidak ada orang lain.
Caine mempersilahkan Rion untuk duduk di salah satu kursi yang ada, sembari ia mengambilkan air minum untuk Rion. Rion duduk sambil mengatur nafasnya.
Caine melihat dengan lebih dekat lagi pria tersebut setelah menyodorkan segelas air putih untuk pria itu minum. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi, ia juga bisa melihat otot-otot pada tubuh pria itu walaupun tubuhnya dilapisi dengan pakaian.
Pikirannya terbang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, mempersilahkan orang asing yang baru saja ia temui kedalam rumahnya. Yang benar saja?! Apa yang sedang kamu pikirkan Caine! Ia adalah orang asing, bisa saja dia akan membunuhmu demi menguasai bunker ini. Apakah kau tidak belajar dari kejadian di masa lalu?! Benar benar gila! Bagaimana kalau–
“Hey” ucap Rion sambil menjentikkan jarinya didepan wajah Caine. Caine tersentak pelan, tersadar dari pikirannya yang sudah kemana-mana.
Ia kembali memasang wajah datarnya seolah tidak terjadi apa apa, “Kenapa?” ucapnya.
Rion yang mendengarnya nada datar itu hanya tersenyum, “Tak apa, aku hanya ingin berterima kasih sudah memberiku air” ucapnya dengan senyum tulus.
Caine hanya membalasnya dengan datar “Ya”. Ia melirik ke arah luka luka yang ada di tubuh pria itu, dengan langkah pelan dia berjalan menuju kotak first aid kit yang mulai dilapisi oleh debu dan mengambilnya.
Ia duduk di samping Rion dan menatapnya sebentar seolah meminta izin, Rion membalasnya dengan senyuman kecil. Ia meneliti terlebih dahulu luka luka yang bisa terekspos, firasatnya mengatakan bahwa ada lebih banyak luka di balik kaos pendek yang dikenal pria itu. “Bisakah kau melepasnya dulu?” pintanya.
Rion hanya mengangguk dan perlahan menaruh barang barangnya di lantai, mulai dari tas besar, tactical vest, sampai dengan kaos tipis yang digunakannya. Tanpa sadar Caine meneguk ludahnya sendiri saat melihat otot-otot besar yang dilengkapi oleh tato yang menghiasi kulit lengannya. Ada sedikit guncangan di dalam hatinya.
Ia dengan hati hati menuangkan obat antiseptik kekapas kecil, perlahan ia membersihkan luka luka Rion mulai dari wajahnya hingga luka yang ada di torsonya. Rion sedikit meringis ketika antiseptik menyentuh lukanya yang terbuka.
Caine membersihkan luka-luka pada tubuh Rion sambil memperhatikan setiap lekuk tubuh pria itu yang terlihat sangat sempurna seperti pahatan di patung marmer Yunani kuno. Bagaimana bisa pria ini bisa mempertahankan bentuk tubuhnya di keadaan yang seperti sekarang ini? pikir Caine.
Setelah selesai mengobati luka pada tubuh Rion, Caine mendongak dan mendapati pria itu sudah membuang muka dan wajahnya berwarna merah muda, aneh pikirnya. Caine memundurkan tubuhnya untuk menjauh, ia kemudian berdehem melumasi tenggorokannya yang tiba tiba terasa kering. “Apa kau baik-baik saja?” Ucap Caine
“Y-ya” balasnya terdengar gugup. Caine dengan cepat membereskan first aid kit dan menaruhnya kembali ke tempat awal.
Rion kembali memakai pakaiannya dengan pelan, menghindari gesekan antar luka-luka dengan kaos yang ia pakai. “Jadi, siapa namamu jika aku boleh bertanya?”
Oh! Caine dari tadi terlalu sibuk sampai lupa mengenalkan dirinya pada pria ini. “Caine. Caine Chana”
“Oh, senang bertemu orang baik sepertimu. Jarang sekali ada orang yang mau membukakan pintu pada orang asing sepertiku” ucap Rion sambil terkekeh diakhir.
Caine yang mendengarnya hanya mengangguk.
“Ngomong-ngomong dari mana kau berasal?” Tanya Caine dengan rasa penasaran
“Aku datang dari arah Timur, bunker ku tak begitu jauh dari menara radio” balas Rion.
Caine berpikir sebentar, mengingat ingat tentang area di sekitar menara radio. “Oh! Bunker yang berwarna merah bukan? 502?”
“Iya, betul sekali!” balas Rion.
“Aku pernah berbicara dengan seorang wanita dari bunker mu di radio, kalau tidak salah namanya Key”.
“Oh, benarkah? Dia memang sering sekali menghubungi orang orang dari bunker lain” Balas Rion dengan senyumnya yang merekah.
“Oh, begitu..” Jawab Caine.
“…” Keheningan mengisi kecanggungan diantara mereka ketika topik pembicaraan telah habis.
“Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke bunker ku” Pecah Rion mengusir kecanggungan diantara mereka, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Oh,, baiklah. Apakah kau sudah merasa lebih baik?” Balas Caine dengan nada khawatir
“Iya. Lagipula aku sudah terbiasa, luka luka kecil seperti ini tidak lagi berpengaruh padaku”
Caine terdiam sejenak “Kalau begitu apakah kamu membutuhkan sesuatu? Sebotol air mungkin”
“Ah.. boleh jika kamu tidak keberatan” jawab Rion sambil ia kembali memakai rompi dan tas besarnya.
Caine menjawabnya dengan anggukan kan segera mengambil satu botol air untuk diisi air bersih yang kemudian ia berikan pada Rion “Ini, semoga saja cukup untuk perjalananmu”
“Terimakasih” balas Rion sambil menerima botol itu yang kemudian ia simpan kedalam tas besarnya.
Caine kemudian berjalan disusul Rion dibelakangnya menuju pintu besar yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Perlahan ia menarik pintu itu sedikit untuk memastikan bahwa keadaan diluar aman, setelah memastikan tidak ada ancaman bahaya diluar sana ia mulai membuka pintu itu sedikit demi sedikit sampai dirasa cukup lebar.
Rion berjalan melewati pintu besar itu, sebelum memulai perjalanannya kembali ia memutar badannya menghadap pria bersurai merah yang telah dengan rendah hati menolongnya. “Terimakasih, sekali lagi”
“Tak apa” balas Caine dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya “semoga perjalananmu berjalan lancar”.
Pria bersurai ungu tua itu hanya membalasnya dengan anggukan sebelum membalikan badannya dan memulai perjalanan panjangnya menuju arah Timur.
Caine hanya dia memandangi punggung pria itu yang perlahan mengecil. Ekor matanya menangkap beberapa jasad yang tergeletak mengenaskan dari kejauhan, jujur saja ia penasaran kenapa Rion bisa berada di dalam pertengkaran itu? Apakah masalahnya separah itu sampai-sampai mereka memukuli Rion dan Rion harus balik membunuh mereka?
Entahlah. Sebenarnya rasa penasarannya tinggi, tapi lebih tinggi lagi rasa takutnya. Bisa saja ia juga dihabisi oleh Rion jika pria itu tidak suka dengan rasa penasarannya yang berlebih itu. Curiosity killed the cat, you know?
Ia kembali menutup pintu bunker dan menguncinya rapat rapat. Entah kenapa ia merasa lelah, mungkin karena ia sudah lama tidak berinteraksi dengan manusia lain. Social battery-nya tidak sebesar sebelumnya.
Caine berpikir, mungkin setelah ini ia akan mandi dan kemudian tidur sepertinya adalah ide yang bagus.
