Actions

Work Header

The World Is Too Big for Someone as Soft as You

Summary:

Semua orang di sekolah mengira Martin Edwards adalah anak bermasalah hanya karena tubuhnya terlalu besar dan wajahnya terlalu dingin untuk dianggap ramah. Tapi bagi Kim Juhoon, Martin hanyalah seseorang yang sudah terlalu lama berdiri sendirian—dan mungkin, seseorang yang paling ingin dia lindungi meski tangannya terlalu kecil untuk dunia yang sering jahat padanya.

Notes:

fanfic ini dibuat inspired by karakter tsumugi rintaro dari anime kaoru hana wa rin to saku.
happy reading!

Work Text:

Hujan turun tipis tepat setelah bel terakhir berbunyi. Koridor lantai tiga langsung ramai suara kursi digeser, langkah kaki, dan obrolan siswa yang buru-buru pulang sebelum hujan makin deras.

Di tengah keramaian itu, Kim Juhoon masih duduk di bangkunya sambil membereskan buku perlahan. Teman-teman sekelasnya sudah berdiri mengelilinginya lebih dulu.

“Juhoon, tugas fisika lo udah selesai?”

“Yang nomor lima ngerti nggak sih?”

“Eh nanti belajar bareng lagi nggak?”

Juhoon hanya tertawa kecil sembari menjawab satu-satu dengan suara lembut seperti biasa. Dia memang seperti itu. Pintar, ramah, dan terlalu mudah disukai orang.

Secara natural, guru-guru mudah mengenali dan menyukai murid-murid yang memang menurut dan berprestasi seperti Juhoon. Teman sekelas juga suka berada di sekitar Juhoon yang terkesan tidak berisik dan tidak sulit diajak bekerja sama. Saking bersinarnya, bahkan kakak kelas pun hafal namanya.

Kadang Juhoon sendiri bingung kenapa hidup sosialnya bisa semudah itu. Karena jika dipikir-pikir, dia tidak pernah benar-benar berusaha menjadi pusat perhatian.

Berbeda dengan Martin Edwards.

Martin terlalu mudah diperhatikan orang justru karena semua orang takut duluan. Tinggi badannya nyaris absurd untuk anak SMA. Bahunya lebar, tatapannya tajam, dan wajahnya terlalu dingin untuk dianggap ramah.

Padahal aslinya Martin hanya pendiam. Sama seperti Juhoon, Martin juga tidak pernah membuat keributan, tidak pernah mencari masalah, dan bahkan jarang bicara jika tidak ditanya. 

Tapi entah sejak kapan dan mengapa juga seluruh sekolah memutuskan sendiri—yang jelas output-nya berkebalikan dengan Juhoon—memberikan cap pada Martin sebagai pribadi yang menyeramkan.

Awalnya Juhoon juga tidak dekat dengannya, ditambah mereka juga berada di kelas yang berbeda. Kelas Juhoon berada dua ruangan lebih kanan daripada Martin. Mereka berdua juga tidak berada di ekskul yang sama. Hidup mereka hampir tidak bersinggungan.

Sampai suatu siang di kantin tahun lalu. Semua meja penuh sewaktu Juhoon datang telat karena belajar persiapan OSN sebelum istirahat kedua. Atau lebih tepatnya—hampir semua meja penuh. Karena di pojok dekat vending machine masih ada satu meja kosong.

Satu meja dengan Martin duduk sendirian di sana. Dan yang paling aneh adalah padahal kantin penuh sesak, namun tidak ada satupun orang yang duduk semeja dengannya.

Martin sedang makan pelan sambil melihat ponselnya waktu Juhoon datang membawa nampan. 

“Hai, boleh gak aku ikut duduk di sini?”

Martin mengangkat kepala. Ekspresinya benar-benar terlihat terkejut saat itu, hingga Juhoon selalu bisa mengingatnya sampai sekarang. Ekspresi Martin seolah tidak menyangka ada orang yang mau bertanya begitu.

“Oh.. kursi lain penuh, kah?” Suara Martin tidak aneh selain penuh kegugupan. Kedengarannya sama saja dengan suara dan cara bicara siswa-siswa lain pada umumnya. 

Juhoon mengangguk santai meskipun sebenarnya masih ada beberapa kursi kosong di sisi lain kantin. “Boleh nggak?”

Martin diam dua detik sebelum mengangguk kecil.

Dan begitulah semuanya mulai. Aneh. Karena bahkan setelah itu hubungan mereka tumbuh tanpa sesuatu yang dramatis. Juhoon hanya mulai sering duduk bersama Martin di setiap istirahat kedua selama persiapan OSN, meskipun ada hari-hari kantin tidak padat.

Lalu Juhoon yang mulai menyapa Martin lebih dulu di koridor. Martin selalu menunduk kecil dengan kikuk dan berjalan lebih cepat setiap kali Juhoon selesai menyapa. Entah menghindari tatapan orang-orang, atau Martin memang salah tingkah saja.

Sampai Juhoon juga mulai sadar jika Martin sebenarnya lucu. Lucu dalam cara yang kikuk. Juhoon menyadari Martin yang selalu bingung jika dipuji. Martin juga diam-diam hafal minuman favorit Juhoon, kemudian membelikannya dari vending machine yang memang berada di dekat meja mereka.

Juhoon juga tahu refleks Martin berdiri di sisi luar trotoar ketika Juhoon sengaja mengejar langkah Martin sepulang sekolah. Bagaimana Martin selalu menunduk sedikit setiap kali Juhoon mengajaknya bicara setelah istirahat kedua selesai dan mereka berjalan bersama menuju kelas masing-masing.

Seolah tubuh besar itu membuat Martin sendiri takut terlihat terlalu mengintimidasi pada Juhoon.

Semakin dekat mereka, semakin Juhoon paham juga jika Martin mungkin kesepian. Bukan karena tidak mau berteman, tapi karena terlalu lama dijauhi sampai Martin berhenti mencoba.

Makanya saat Martin menyatakan perasaannya pada Juhoon beberapa bulan kemudian, itu bahkan terdengar lebih seperti pengakuan takut.

“Juhoon, aku minta maaf. Aku harusnya nggak punya perasaan kayak gini, tapi aku suka sama kamu.” Sunyi sebentar selama Martin menunduk sedikit. “Kalo kamu nggak nyaman, nggak apa-apa.”

Dan Juhoon hampir ingin tertawa sekaligus menangis saat itu. Karena tidak ada satu pun bagian dari Martin yang terasa memaksa, tidak pernah. Mereka akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih detik selanjutnya.

Dan reaksi sekolah?

Kacau.

“Seriusan?”

“Juhoon dipaksa nggak sih?”

“Martin serem banget anjir.”

“Kasian Juhoon.”

Awalnya Juhoon mencoba tidak peduli, sampai lama-lama ia lelah juga. Terutama karena Martin sendiri seperti sudah terlalu terbiasa mendengar hal-hal begitu. Martin tidak pernah marah ataupun membela diri. Martin hanya diam. Seolah memang sudah menerima bahwa orang-orang akan selalu melihatnya buruk duluan. Dan justru itu yang membuat dada Juhoon sakit.

Seperti sore ini hujan di luar semakin deras di saat Juhoon akhirnya keluar kelas. Teman-temannya masih ngobrol sambil berjalan di sampingnya sampai salah satu dari mereka tiba-tiba berhenti.

“Eh.”

“Pacar lo.”

Juhoon otomatis mengangkat kepala. Di ujung koridor lantai satu, Martin berdiri sendirian dekat tangga. Jaket garis tiga berwarna hitam ada di lengannya, sedang tasnya disampirkan pada bahu kanan, bersama earphone menggantung di leher.

Tinggi tubuhnya langsung mencolok di tengah keramaian siswa lain. Martin pasti sudah menunggu lama. Karena rambut depannya sedikit lembab kena tampias hujan yang tak jauh dari posisi berdirinya.

Begitu mata mereka bertemu, ekspresi Martin langsung berubah kecil sekali. Softened. Nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan baik-baik. Dan anehnya itulah ekspresi favorit Juhoon di dunia ini.

Tapi sebelum Juhoon sempat jalan mendekat, bisik-bisik kecil mulai terdengar lagi.

“Serem banget sumpah.”

“Dia nungguin dari tadi?”

“Juhoon beneran gapapa ya?”

“Kalau gue sih takut.”

Langkah Juhoon melambat. Entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Karena untuk pertama kalinya dia benar-benar melihat situasinya dari luar.

Martin berdiri sendirian di sana. Tidak mengganggu siapa-siapa, tidak bicara apa-apa, bahkan terlihat jelas orang-orang dengan sengaja berdiri lebih jauh dari Martin.

Sekalipun Martin hanya sedang menunggu Juhoon keluar kelas, itu saja tetap membuat orang takut padanya. Dan yang paling menyakitkan bagi Juhoon, Martin pasti sadar semua tatapan itu, ia memang selalu sadar.

Makanya Martin jarang mendekat duluan di tempat ramai. Jarang menggenggam tangan Juhoon di depan orang, apalagi untuk sekedar muncul di kelas Juhoon. Karena Martin tidak mau Juhoon semakin menjadi bahan omongan.

Something painfully warm and sad suddenly twisted inside Juhoon’s chest.

Sebelum Juhoon sadar, kakinya sudah berjalan lebih cepat.

“Juhoon—?” salah satu temannya memanggil bingung.

Tapi Juhoon tidak berhenti. Ia langsung mendekat ke Martin yang tampak sedikit terkejut melihatnya datang secepat itu.

“Maaf, kamu udah lama nunggu?”

Martin menggeleng kecil. “Nggak, that’s okay.”

Padahal hujan di luar hampir berhenti, tidak mungkin jika Martin berdiri di sana kurang dari 30 menit. Juhoon menatap wajah Martin beberapa detik. Lalu tanpa bicara apa-apa, Juhoon menggenggam tangan Martin di depan semua orang.

Those warm hands. Juhoon teramat suka dengan tangan besar Martin yang selalu membungkus tangannya dengan sempurna. Refleks saja Martin menggenggam balik lebih hati-hati daripada yang Juhoon perkirakan.

Martin sedikit terkejut karena ia pikir Juhoon akan malu melakukan skinship di sekolah akibat rumor-rumor itu. Tapi semua kekhawatiran Martin tentang hal itu mendadak dibantah dalam satu action yang dilakukan Juhoon sekarang.

“Pulang sekarang, yuk,” kata Juhoon pelan.

Martin masih terlihat bingung. “Masih gerimis… beneran mau sekarang?”

“Iya, ayooo...” Tiba-tiba Juhoon merengek kecil sambil menarik lengan Martin agar segera berjalan.

Cepat-cepat Martin mengangguk. Di saat mereka mulai jalan bersama menyusuri koridor, bisik-bisik itu memang belum hilang. Tapi kali ini Juhoon tidak peduli. Karena di tengah semua orang yang salah memahami Martin, hanya Juhoon yang tahu satu hal pasti jika tidak ada orang di sekolah ini yang lebih lembut dari Martin.

 


 

Hujan masih berbentuk gerimis kecil saat mereka keluar gerbang sekolah. Langit sore berwarna abu pucat, jalanan basah memantulkan lampu toko yang mulai menyala satu-satu di sepanjang trotoar.

Juhoon dan Martin berjalan berdampingan di bawah payung biru tua milik Martin. Atau lebih tepatnya Martin yang menyesuaikan langkah, sebab kaki Juhoon lebih pendek dan Juhoon selalu jalan agak pelan.

Setiap hari di saat seperti ini, biasanya Juhoon akan membicarakan banyak hal kecil sepanjang perjalanan ke stasiun kereta. Mulai dari guru matematika yang selalu menyebalkan meski Juhoon suka dengan pelajarannya, tentang snack baru di minimarket dekat rumahnya, tentang teman ekskulnya yang banyak bicara, atau sekadar cerita random yang bahkan tidak penting.

Martin biasanya mendengarkan semua cerita Juhoon dengan seksama. Memberikan respon sama panjangnya dengan cerita yang Juhoon bagi. Hanya cerita Juhoon yang selalu Martin tunggu, sebab Martin sendiri tidak punya cerita apa-apa.

Tapi hari ini berbeda. Sepanjang jalan, Juhoon diam. Bukan diam nyaman seperti biasanya, lebih seperti pikirannya sedang tenggelam terlalu jauh. Martin menyadari itu hanya dalam beberapa menit mereka menjauh dari gerbang sekolah.

Sekalipun Juhoon terlihat pendiam, Martin sudah hafal jenis-jenis diamnya. Yang ini terasa salah.

Martin melirik sedikit ke samping. Juhoon sedang menatap lurus ke depan sambil memegang tali tasnya sendiri. Rambut hitamnya bergerak pelan terkena angin lembab sehabis hujan.

Cantik.

Terlalu cantik sampai Martin kadang bingung kenapa orang-orang lebih sibuk takut pada dirinya dibanding melihat betapa luar biasanya Juhoon.

Mereka berhenti sebentar di lampu merah penyeberangan. Suara kendaraan lewat memenuhi udara saat Martin akhirnya membuka suara pelan.

“Kamu capek, ya?”

Juhoon menggeleng kecil.

“Lapar?”

Juhoon menggeleng lagi. Martin diam sebentar. Biasanya Juhoon akan tertawa kecil jika Martin mulai mode khawatir begini. Tapi kali ini tidak dan itu membuat perut Martin ikut terasa tidak enak.

Langkah mereka berlanjut lagi sampai akhirnya Martin tidak tahan dengan keterdiaman Juhoon dan gejolak di perutnya. “Ada yang bikin kamu kepikiran, kah? Kamu mau cerita? Aku mau dengerin kok.”

Juhoon tidak langsung menjawab, keheningan beberapa detik itu membuat Martin semakin cemas. Sebelum akhirnya—

“Martin.”

“Hm?”

Suara Juhoon kecil sekali. Nyaris tenggelam oleh suara hujan yang kembali bertambah deras. Martin menunduk sedikit dan seketika langkahnya langsung melambat.

Karena mata Juhoon basah di sana. Bukan mata merah habis diusap berlebihan atau berkaca-kaca sedikit, ini benar-benar penuh air mata yang terus ditahan supaya tidak jatuh.

Martin langsung berhenti melangkah. Paniknya muncul begitu cepat sampai ia bahkan tidak sempat menyembunyikannya. “Kenapa nangis? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing? Oh, kamu kedinginan, maaf, jaketnya nggak aku pakein, sini…”

Jaket yang sedari tadi ditenteng di lengan segera Martin sampirkan pada bahu Juhoon. Setelahnya Juhoon masih tidak berkata apa-apa. Martin berdiri kikuk dengan payungnya. Ia menggigit sudut bibirnya mencoba tidak terlalu tampak cemas meski mustahil.

“Kenapa, sayang?”

Juhoon langsung menunduk sedikit, entah menyadari rasa malu menangis tiba-tiba, atau karena Martin yang memanggilnya sayang sejelas itu. Sebaliknya justru itu yang membuat dada Martin seperti diremas. Karena berpikir jika Juhoon bukan tipe orang yang mudah menangis di depan orang lain. Apalagi di jalan begini.

“Aku…” Juhoon menarik napas kecil. “Aku sedih.”

Martin semakin bingung, “Kenapa sedih?”

Beberapa detik setelahnya, Juhoon akhirnya mengutarakan sesuatu yang tidak pernah Martin bayangkan sebelumnya. “…aku benci cara mereka lihat kamu.”

Hujan kecil terdengar pelan di atas payung. Lampu penyeberangan kedua yang jaraknya masih beberapa langkah di depan mereka berubah hijau. Orang-orang mulai lewat di sekitar mereka. Tapi Martin hanya bisa diam.

Sementara Juhoon tetap bicara dengan suara pelan yang mulai goyah. “Mereka ngomong seolah kamu jahat.”

Air mata pertama Juhoon jatuh lebih dramatis dari yang Juhoon sendiri kira. Padahal kini ekspresi Juhoon masih tenang, masih lembut. Namun itu yang membuat Martin semakin hancur.

“Mereka takut sama kamu cuma karena…” Juhoon menelan napas sebentar. “Cuma karena kamu tinggi dan pendiem.”

Martin merasa tenggorokannya tiba-tiba sesak karena ia benar-benar tidak menyangka. Semua tatapan aneh, bisik-bisik, rumor—Martin sudah terlalu terbiasa sampai lama-lama berhenti peduli. Atau setidaknya Martin pikir begitu.

Tapi sekarang melihat Juhoon menangis karena hal itu… rasanya aneh sekali. Seperti ada sesuatu dalam diri Martin yang pelan-pelan ikut retak.

“Aku tadi lihat kamu nungguin aku,” lanjut Juhoon lirih. “Dan kamu cuma berdiri di sana…” Suaranya pecah sedikit, “…tapi mereka ngomong tentang kamu kayak kamu orang jahat.”

Martin menatap Juhoon beberapa detik tanpa suara. Lalu pelan-pelan, ia mengangkat tangan besarnya dengan canggung. Ragu sebentar sebelum akhirnya Martin menyentuh pipi Juhoon penuh kehati-hatian, menghapus air mata Juhoon dengan ibu jarinya.

Gestur yang sangat lembut sampai hampir terasa bertolak belakang dengan tubuh besarnya. “Sayang,” ujar Martin pelan. “Aku nggak sedih.”

Juhoon langsung menggeleng cepat. “Aku yang sedih.”

Martin bersumpah his heart almost stopped. Tidak ada yang pernah menangis demi dirinya sebelumnya. Tidak ada yang pernah terlihat sesakit ini hanya karena dunia salah memahami dirinya. Mendadak Martin sadar sesuatu yang mengerikan, bahwa ia mungkin sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Juhoon.

“Aku takut.” Juhoon kembali bicara tanpa melihat Martin.

“Takut apa?”

Juhoon akhirnya membalas tatapan Martin, dan entah kenapa ekspresinya terlihat makin sedih. “Dunia tuh luas banget.”

Martin diam.

“Dan kadang orang-orang jahat banget sama kamu padahal mereka nggak kenal kamu.” Suara Juhoon tetap di nada yang pelan, hanya saja tiap katanya bikin dada Martin makin hangat sekaligus sakit.

“Aku…” Juhoon menarik napas kecil. “Aku nggak bisa ngelakuin banyak buat lindungin kamu.”

Martin langsung mengernyit kecil. “Hah?”

“Aku kan kecil.”

Martin benar-benar harus menahan senyum di situ karena cara Juhoon bicara terlalu serius. Seolah ini genuinely masalah besar.

Juhoon melanjutkan, “Aku nggak mungkin tiba-tiba jadi superhero terus bikin semua orang baik sama kamu.”

Martin akhirnya melepaskan satu tawa kecilnya. Ia menggeleng pelan dan menyentuh pipi Juhoon untuk kembali mengusap air mata yang sempat berjatuhan. Terlintas di pikirannya how can someone be this soft?

Dan Juhoon langsung menarik ingusnya dengan cepat setelah mendengar tawa kecil itu. “Aku serius, Martin.”

I know.” Martin menepuk puncak kepala Juhoon dua kali.

Hangat tangan Martin membuat hangatnya langsung naik sampai dada kekasih kecilnya. Juhoon menunduk lagi. “Aku sedih banget hari ini.”

Martin menatap wajah Juhoon cukup lama. Lalu tanpa sadar, sesuatu dalam dirinya pelan-pelan terasa tenang. Sebenarnya ada satu ketakutan yang selama ini tidak pernah Martin bilang.

Sejak awal mereka pacaran, sebagian kecil dirinya selalu berpikir mungkin Juhoon menerimanya karena kasihan. Karena Juhoon memang baik kepada semua orang. Mungkin Juhoon hanya tidak tega menolak. Mungkin Juhoon hanya melihat Martin sebagai anak kesepian yang butuh seseorang. Dan Martin tidak pernah cukup berani untuk bertanya.

Tapi sekarang? Melihat Juhoon menangis diam-diam karena dunia terlalu jahat padanya…

Martin akhirnya ngerti.

Oh.

Perasaan ini nyata.

Kesadaran itu terasa jauh lebih menakutkan daripada semua rumor sekolah digabung jadi satu. Ini semua berarti sekarang Martin punya sesuatu yang benar-benar takut ia hilangkan. Martin meraih tangan Juhoon dan menggenggamnya erat.

Juhoon kembali mengangkat pandangannya. “Kenapa?”

Martin menatap kekeasih kecilnya itu beberapa detik. Lalu pelan-pelan mengangkat tangan mereka yang masih tergenggam. Tangan Juhoon memang kecil. Jauh lebih kecil dari tangannya sendiri. Tapi Martin tetap menggenggamnya seperti sesuatu yang paling berharga di dunia.

“Juhoon.”

“Hm?”

“Aku nggak butuh superhero.” Suara Martin rendah, terdengar terlalu lembut dari biasanya yang memang selalu mengikuti tempo bicara Juhoon. Martin menatap matanya lurus-lurus sekarang. Yang jika Juhoon bisa mengaku dengan lantang, sejujurnya jantungnya hampir berhenti detik ini.

“Kalau dunia jahat sama aku, tapi masih ada kamu di samping aku…” Martin tersenyum kecil, yang anehnya selalu bisa membuat napas Juhoon goyah. “…itu udah lebih dari cukup.”

Refleks Juhoon menunduk lagi karena wajahnya mulai panas.

Sial.

Kenapa Martin kadang bisa ngomong kayak gitu sih?

Cara Martin berbicara memang bukan tipe flirting cheesy yang berlebihan. Justru karena jarang bicara—atau jarang ada yang mengajak Martin bicara—setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu terasa terlalu tulus.

Dan itu sangat bahaya bagi jantung Juhoon. Mereka masih berdiri di pinggir trotoar dekat lampu penyeberangan. Orang-orang lewat di sekitar mereka, suara kendaraan masih ramai, bersama gerimis kecil yang turun tipis di ujung payung.

Tapi Juhoon rasanya sudah tidak peduli apa-apa lagi. Mukanya panas seirama dengan dadanya yang terasa penuh. Sedih yang tadi menumpuk pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut.

Martin masih menggenggam tangannya saat akhirnya Juhoon pelan-pelan bersuara, “Aku pengen peluk.”

Martin langsung freeze, “Hah?”

Juhoon tetap menunduk di saat yang sama telinganya memerah hebat. “Aku pengen peluk kamu.” Suaranya kecil, terdengar jelas malu-malu, tapi memang jujur.

Dan Martin bersumpah otaknya langsung blank beberapa detik. Ia tidak menyangka Juhoon bisa se-terang-terangan ini di tempat umum. Martin bahkan refleks lihat sekitar dulu. “Di sini?”

Juhoon akhirnya mengangkat kepala sedikit. Matanya masih basah oleh sisa tangis sebelumnya. “Iya.”

Meninggal dah aku.

Martin langsung menarik napas kecil seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri. Setelahnya pelan-pelan Martin membuka sebelah tangannya. Memberikan gestur sederhana yang berhasil membuat Juhoon merasa disambut.

Tanpa banyak kata lagi, Juhoon langsung masuk. Literally masuk ke dalam pelukan Martin seolah itu tempat paling aman di dunia. Tubuh Martin yang besar jelas terasa lebih hangat. Dan karena tinggi badannya absurd, dagu Juhoon otomatis hanya sampai dada atas Martin.

Martin langsung melingkarkan kedua tangannya patah-patah dengan hati-hati sekali. Seolah Juhoon sesuatu yang gampang pecah. Dan begitu Martin mengeratkan pelukannya, Juhoon langsung sadar betapa menenangkan berada di pelukan Martin. Ini akan Juhoon masukan ke dalam daftar hal menyenangkan yang dilakukan hanya bersama Martin.

Suara jalanan sejenak terasa jauh. Angin dingin tidak terlalu terasa lagi. Bahkan pikiran Juhoon yang tadi berat berangsur-angsur menjadi ringan.

Martin menunduk sedikit. “Hari ini kenapa cengeng banget?” Suara beratnya terdengar dekat banget di atas kepala Juhoon.

Juhoon langsung nyubit kecil pinggang Martin. “Ini gara-gara kamu.”

“Loh salah aku?”

“Iya.”

Martin tertawa kecil lagi. Jika Juhoon boleh jujur, ia rela dunia berhenti di situ saja kalau perlu. Karena Martin jarang terlihat tertawa di sekolah. Jadi setiap kali Martin tertawa, dada Juhoon selalu ikut menghangat.

Beberapa detik berlalu, mereka tetap diam di situ. Sampai akhirnya Martin kembali ke realitas lebih dulu dibanding Juhoon yang masih belum mau lepas.

“Sayang..”

“Hm.”

“Keretanya nanti ketinggalan.”

“…biarin.”

Martin diam-diam memejamkan matanya menahan gemas. Jelas Juhoon selalu berusaha menjaga kedisiplinan, berusaha tepat waktu, populer sebagai anak akademik yang teladan.

Namun kini tiba-tiba Juhoon menyatakan tidak masalah tertinggal kereta menuju pulang ke rumah hanya demi pelukan. Martin akhirnya menghela napas kecil sambil menyandarkan dagunya sebentar di atas kepala Juhoon.

“Aku sayang banget sama kamu.”

Juhoon agak terkejut, sebelum tangannya kembali memeluk Martin lebih erat. “Aku juga. Meski badan aku lebih kecil dari kamu, tapi rasa sayang aku segede badan kamu.”

Suaranya hampir tidak terlalu terdengar tapi jelas Martin dengar, dan tertawa lebih lama merespon kalimat Juhoon. Kali ini Martin percaya jika cintanya sudah tepat dijatuhkan bukan pada tangan yang sama besarnya dengan tangannya, tapi pada tangan yang paling pas di pelukannya.