Actions

Work Header

"just a little longer. i'll be back to myself soon."

Summary:

Di balik punggung kokoh milik Hiromi Higuruma, Yuji Itadori menemukan sesuatu tidak terduga—bahwa pria tersebut ternyata lebih rapuh dari yang ia bayangkan.

Notes:

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Cahaya dari layar ponsel Yuji meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang tampak letih di permukaan kaca gelap. Namun, matanya masih terpaku di sana.

Baru dua jam yang lalu pesan dari Kento masuk. Tiga kali Yuji membacanya, dan tiga kali pula hatinya mencelos. Hiromi kalah. Klien mereka—seorang ibu yang tidak sengaja merenggut nyawa laki-laki dewasa demi melindungi putrinya yang dilecehkan—tetap dijatuhi vonis berat. Ketukan palu hakim sore itu seolah mengunci mati pintu keadilan. Tak ada ruang untuk pembelaan, tak ada celah untuk kondisi keterpaksaan dalam kasus tersebut.

Yuji meletakkan ponselnya tertelungkup di meja. Dadanya terasa sesak.

Ia tahu betul bagaimana Hiromi menguras habis energinya untuk kasus ini. Yuji ada di sana, menemani pria itu membedah tumpukan berkas hingga larut malam. Ia duduk diam di ruang rapat, mendengarkan simulasi pembelaan yang diulang terus-menerus hingga suara Hiromi terdengar parau. Yuji sempat percaya, jika ada satu orang yang bisa menyelamatkan ibu itu, orangnya adalah Hiromi Higuruma.

Namun, di ruang sidang, kebenaran sering kali harus tunduk pada kekuasaan. Keluarga pelaku bukan orang sembarangan; mereka punya nama besar dan pengaruh yang kuat. Ayah pelaku merupakan salah satu pejabat di pemerintah provinsi. Tekanan itu bekerja seperti udara—tak terlihat, tapi sanggup memiringkan timbangan keadilan secara perlahan diam-diam.

Ketika waktu menunjukkan selesainya jam kantor, satu per satu rekan kerja Yuji sudah pulang. Kento sempat berhenti di sebelah mejanya, menepuk bahunya pelan, dan menyuruhnya beristirahat. Berkata bahwa sisa pekerjaan hari ini bisa dilanjutkan esok pagi. Yuji membalas dengan anggukan singkat, dibarengi oleh senyuman yang sebenarnya tidak mencapai mata.

Namun, hingga pukul setengah delapan malam, deretan huruf di atas meja Yuji hanya menjelma menjadi garis-garis buram yang sulit dipahami. Pikirannya kosong.

Akhirnya, Yuji menyerah.

Ia merapikan meja dengan gerakan kelewat cepat—menumpuk kertas dan menjepit map tanpa benar-benar melihatnya. Sebelum pulang, ia memutuskan mampir ke pantry untuk menyeduh teh. Ia butuh sesuatu yang hangat. Malam ini, ia hanya ingin menenangkan pikiran yang sudah semrawut semenjak menerima informasi soal kekalahan atasannya.

Pintu pantry terbuka pelan, dan langkah Yuji seketika terhenti.

Hiromi berdiri di sana, memunggunginya. Kedua tangannya mencengkeram kuat tepi meja pualam. Setelan jas hitamnya masih tampak rapi, namun bahunya yang biasa tegak kini melengkung turun. Ada kelelahan yang begitu pekat dari siluetnya, seolah gravitasi tiba-tiba terasa jauh lebih berat bagi pria itu.

"Eh, Pak Hiromi?" Suara Yuji keluar lebih lirih dari yang ia duga. "Bapak belum pulang?"

Punggung itu sedikit tersentak. Perlahan, Hiromi memutar tubuhnya. Sorot matanya menemukan Yuji, dan untuk sepersekian detik, Yuji menangkap sesuatu yang rapuh di balik wajah tenang itu. Sesuatu yang pecah namun berusaha disembunyikan dengan cepat.

"Saya kira siapa," gumam Hiromi. Suaranya datar, kehilangan wibawa yang biasanya menggema di ruang sidang. "Ternyata kamu, Yuji."

"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud mengejutkan Bapak."

"Tidak apa-apa." Hiromi bersandar pada tepi meja, tangannya masih memegang pinggiran pualam itu seolah ia butuh tumpuan agar tidak jatuh. "Ini salah saya karena melamun."

Hening merayap di antara mereka. Yuji menatap wajah atasannya, merasa bingung harus berkata apa.

"Pak Hiromi..." Yuji mencoba memberanikan diri untuk bertanya. "Bapak... baik-baik saja?"

Hiromi menatapnya lekat. Sorot mata itu tampak sangat lelah, seolah ia tengah menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan pasal hukum mana pun.

"Bohong," jawab Hiromi pelan, "kalau saya bilang iya."

Rasa tidak terima muncul di dada Yuji. "Pak, saya tahu perjuangan Bapak. Kita kalah bukan karena argumen kita lemah. Kita kalah karena—"

"Yuji."

Hanya satu kata, namun cukup untuk menghentikan kalimat Yuji.

"Saya tahu. Saya tidak apa-apa." Hiromi tidak sedang bersikap defensif. Nada suaranya terdengar layaknya seseorang yang telah menelan sesuatu yang teramat pahit, dan memutuskan untuk membiarkannya mengalir ke tenggorokan tanpa perlawanan. "Saya sudah bisa menebak akhir dari putusan itu, jauh sebelum hakim mengetuk palunya."

Kata-kata Yuji tertahan. Ia menutup bibirnya kembali, menelan bulat-bulat semua pembelaan yang rasanya tak lagi ada gunanya.

"Jangan hanya berdiri di sana," lanjut Hiromi sambil sedikit mengangkat dagunya. "Masuk sini."

Kaki Yuji terasa berat saat melangkah. Nada bicara itu tidak terdengar seperti perintah atasan, melainkan sebuah permintaan tolong yang tidak terucapkan. Yuji memahaminya. Ia sudah cukup lama berada di sisi pria ini untuk tahu kapan ia sedang dibutuhkan.

Ia melangkah masuk. Membiarkan pintu pantry menutup perlahan di belakang punggungnya.

Yuji mempersempit jarak di antara mereka, namun ia menahan langkahnya di titik yang dirasa cukup aman—tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terkesan lancang merangsek ruang pribadi atasannya.

Namun, di luar dugaan, Hiromi-lah yang bergerak menghapus sisa jarak itu. Pria itu melangkah maju dan menyandarkan kepalanya di bahu Yuji. Gerakannya lambat, seolah beban yang selama ini ia pikul akhirnya menyerah untuk ditahan sendiri. Kedua lengannya melingkar di pinggang Yuji dengan ragu, memeluk dengan pegangan seseorang yang sudah terlampau lelah untuk berdiri tegak.

Seluruh otot tubuh Yuji membeku. Jantungnya berdebar kencang. Di bawah pendar lampu pantry, ia merasa dunianya berhenti sejenak. Pria di pelukannya ini adalah sosok yang biasanya begitu tangguh, yang tak pernah gentar menghadapi apa pun.

Tapi sekarang, Yuji bisa merasakan bahu itu bergetar halus. Sangat tipis, namun nyata.

"Sebentar saja," gumam Hiromi, suaranya teredam di balik kerah kemeja Yuji. "Tolong, tahan sebentar saja. Saya janji tidak akan lama."

Tak ada air mata, tak ada keluhan. Hanya pelukan yang perlahan mengerat, seolah Hiromi sedang mencari pegangan agar tidak runtuh ke lantai.

Yuji menelan ludah, mencoba menguasai perasaannya sendiri. Tanpa banyak berpikir, tangan kanannya bergerak naik. Ia menyentuh rambut Hiromi dengan sangat hati-hati, memberikan usapan ringan. Selembut mungkin, seolah ia sedang menjaga sesuatu yang sangat mudah retak.

Hiromi sempat menegang sesaat, membuat Yuji hampir menarik tangannya kembali karena takut dianggap lancang. Namun kemudian, perlahan-lahan, ketegangan di tubuh Hiromi meluruh. Pria itu akhirnya membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya. Wajahnya terbenam semakin dalam di ceruk leher Yuji.

Yuji mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Tangan kirinya pun ikut terangkat, membalas pelukan itu dan mendekap punggung Hiromi dengan mantap.

Mereka diam di sana, ditemani suara mesin pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terus berjalan. Keheningan itu kini tak lagi terasa canggung. Yuji melupakan teh yang ingin ia seduh. Ia hanya berdiri tegak, membiarkan tubuhnya menjadi sandaran bagi sosok yang selama ini memanggul beban dunia sendirian.

Bagi Yuji, di malam yang kelam ini, memberikan bahunya tanpa menuntut penjelasan adalah bentuk dukungan paling tulus yang bisa ia berikan.

Notes:

semua pekerjaan pasti bikin capek. semoga kalian yang sedang dan masih terus berjuang, dikuatkan bahunya ya. jangan lupa istirahat. semangat guys <3

Series this work belongs to: