Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-24
Words:
1,247
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
58
Bookmarks:
1
Hits:
461

What They Called It

Summary:

Katanya, Keonho hanya kagum.

Notes:

I fully support, care about, and love all the members, and how I show that is none of your business. So if this kind of story makes you uncomfortable, feel free to leave. If you're okay with the tags, enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ahn Keonho itu permata di rumahnya—yang terkasih. Ibunya mencintainya dengan cara yang nyaris tak berbatas. Apa pun yang Keonho inginkan, selalu ada jalan untuk memberikannya. Ayahnya mungkin tidak banyak bicara, tapi selalu memastikan Keonho tidak pernah merasa kurang. Bahkan kakaknya tak pernah benar-benar keberatan untuk mengalah. Ia rela memberi satu dunia jika itu yang Keonho minta.

Keonho itu segalanya. Segalanya untuk Keonho.

Dan mungkin karena itu, tidak ada yang benar-benar siap saat satu hal kecil pada suatu malam datang dan mengubah cara mereka saling memandang.

Meja makan masih hangat oleh percakapan. Piring-piring belum disingkirkan, dan obrolan mengalir ringan. Topik berganti begitu saja, dari hal-hal sepele hingga cerita yang tak penting. Lalu, di sela semua itu, Keonho berbicara.

“Sean itu baik banget, tau.”

Ibunya tersenyum. “Iya dong. Ke temen kan harus baik. Adek juga harus baik, ya, sama temen-temen adek.”

“Dia selalu jagain adek. Kayak… kalau adek diem aja, dia suka tau adek kenapa. Terus dia nggak pernah marah, lho.”

Kakaknya tertawa kecil. “Wah, hebat dong dia.”

“Iya! Dia tuh lembut, baik banget…” lanjut Keonho, binar di matanya tak bisa disembunyikan.

Keonho terus bercerita tentang Seonghyeon. Satu per satu pujian keluar begitu saja, mengalir tanpa disaring. Ia berhenti sebentar, lalu berkata polos, “Adek nyaman kalau deket-deket sama dia.”

Ibunya berpandangan dengan ayahnya, lalu kembali menatap Keonho.

“Adek suka deh sama Sean. Adek sayang banget sama dia…” senyum lebar menghiasi wajahnya.

Tatapan yang biasanya lembut kini dipenuhi tanya. Keluarganya saling berpandangan. Awalnya hanya diam, mencoba memahami arah pembicaraan yang pelan-pelan bergeser. Tapi semakin Keonho bercerita, semakin jelas sesuatu yang sebenarnya ingin mereka abaikan.

Ibunya masih tersenyum, tapi matanya mulai mencari jawaban di wajah ayahnya. Sementara kakaknya menunduk, ujung jarinya mengetuk meja tanpa sadar.

“Adek…” panggil ibunya akhirnya, lembut, terlalu lembut. “Itu… bukan sayang yang kayak gitu, ya.”

Keonho mengerjap. “Hah?”

Ia benar-benar tidak mengerti rasa sayang seperti apa yang dimaksud. Cara Keonho menyayangi Seonghyeon sama seperti ia menyayangi kakaknya. Cara Keonho mendengarkan Seonghyeon bicara sama seperti ia mendengarkan ibunya yang mendongeng sebelum tidur.

“Maksud ibu, adek tuh cuma seneng temenan sama Sean,” lanjut ibunya, cepat-cepat merapikan kata. “Soalnya Sean baik sama adek.”

Kagum,” kakaknya menambahkan.

“Itu namanya kamu kagum. Nanti juga ilang kok.”

“Oh…”

Keonho akhirnya mengangguk kecil, mudah sekali percaya.

“Berarti adek cuma kagum, ya? Tapi adek sayang Sean kayak adek sayang kalian...”

“Temenan yang baik aja, Keonho,” ayahnya akhirnya berbicara.

Keonho dibesarkan dengan cinta yang selalu mendahului segalanya. Ia terbiasa menerima, terbiasa dipeluk, terbiasa diayomi. Dunia di sekitarnya mengajarinya bahwa ia boleh bersandar, karena akan selalu ada yang siap menahannya.

Keonho masih mengingat malam itu dengan sangat jelas. Malam ketika ia baru berusia sepuluh tahun, duduk di kursi makan dengan kaki yang belum sepenuhnya menyentuh lantai, dan perasaannya yang begitu sederhana diberi nama lain oleh orang-orang yang paling ia percaya.

Dan yang paling jelas dari semuanya adalah, apa yang mereka sebut sebagai kagum itu tidak pernah benar-benar menghilang.

“Kenapa diem aja dari tadi, sayang?”

Suara Seonghyeon menariknya kembali ke malam yang berbeda. Ke masa sekarang. Ke diri Keonho yang sudah tujuh belas tahun.

Mereka duduk berdampingan di kedai itu, di kursi yang sudah terlalu sering mereka datangi sejak kecil. Tempat itu masih sama. Penjualnya masih orang yang sama seperti beberapa tahun lalu. Lampu jalan di sekitar masih redup seperti dulu. Meja yang selalu dicat ulang setiap kali warna cokelatnya mengelupas pun masih sama.

“Nggak… aku lagi capek aja,” jawab Keonho pelan.

Seonghyeon mendengus kecil. Hening lagi. Sudah dua jam mereka di sana. Tenaga untuk berbicara sudah habis, jadi mereka hanya diam sambil melamun, bergelut dengan pikiran masing-masing.

Bahu mereka bersentuhan. Tangan Keonho digenggam erat di bawah meja. Itu cukup untuk membuat Keonho sadar betapa ia selalu ingin berada di jarak sedekat ini.

Pikirannya berkelana lagi.

Hari-hari setelah percakapan di meja makan malam itu berjalan seperti biasa. Keonho masih menyebut nama Seonghyeon. Masih bercerita dan masih tertawa saat mengingat hal-hal yang mereka lakukan.

Tapi jelas ada yang berubah. Setiap kali nama itu muncul, ibunya kadang terdiam sebentar. Senyumnya tetap ada, tapi tak lagi setulus sebelumnya. Kadang, ibunya hanya mengangguk tanpa banyak menanggapi. Kadang, ia cepat-cepat mengalihkan topik.

“Gimana di sekolah hari ini?”

Atau…

“Tadi jajan apa di kantin?”

Dan ibunya mulai menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia ucapkan.

Kekhawatiran. Ibu Keonho tidak pernah mengatakan hal itu dengan lantang. Tidak pernah menyebutnya secara lantang. Tapi Keonho cukup sering mendengar potongan-potongan dari televisi yang menyala keras, dari obrolan orang dewasa yang dikira anak-anak tidak akan mengerti—tentang bagaimana orang-orang seperti itu dianggap aneh, tidak wajar, bahkan memalukan.

Waktu berjalan. Dan seperti yang sering orang dewasa harapkan, hal-hal yang seharusnya hilang, terlihat benar-benar hilang.

Banyak nama baru yang mulai sering muncul di meja makan saat Keonho masuk Sekolah Menengah Atas. Termasuk Ian.

“Ian bilang…”

“Ian tadi lucu banget, deh…”

“Ian tuh baik banget. Dia suka bantuin adek…”

Ibunya memperhatikan dari awal. Kali ini ia tidak mengalihkan topik, justru bertanya lebih banyak. Ayahnya mulai ikut menimpali dan menggoda.

Keonho sering pulang lebih sore.

“Mau main sama Ian, ya?”

Keonho mengangguk. Dan ibunya merasa lega. Karena akhirnya, semuanya terlihat benar. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan saat Keonho bermain bersama Seonghyeon, karena sekarang ada Ian, seolah semuanya kembali ke jalur yang seharusnya.

Mereka tidak tahu bahwa Ian adalah orang pertama yang menyebut Keonho itu cantik.

Mereka tidak tahu bahwa Ian juga yang bilang tidak apa-apa jika Keonho memakai lipstik.

Mereka tidak tahu bahwa dari Ian, Keonho akhirnya mengerti kenapa setiap nama Seonghyeon disebut, dadanya langsung terasa berisik.

Semuanya bermula dari Ian. Tempat paling tenang untuk hal-hal yang tidak pernah berani Keonho pahami sendirian. Keonho sangat menyayangi Ian, dengan cara yang sederhana, yang tidak membingungkan, yang tidak membuatnya harus bertanya setiap malam. Karena bersama Ian, semuanya terasa berbeda. Tidak ada degup yang berlebihan, tidak ada gugup yang datang tanpa alasan.

Keonho akan tertawa kecil setiap kali Ian dengan santainya bercerita tentang perempuan yang ia anggap menarik. Dan dari situ, Keonho mengerti satu hal bahwa Ian juga hidup dengan perasaan yang tidak semua orang pahami. Hanya saja, berbeda dengan dirinya, Ian tidak pernah terlihat takut untuk menjadi itu.

“Mau pulang kapan, sayang? Udah jam sepuluh. Kamu udah dicariin, nih.”

Ponsel Keonho disodorkan oleh Seonghyeon yang menatapnya lembut.

Buyar sudah lamunan Keonho.

Tulisan ibu tertera di layar. Keonho menatap layar itu lama. Di bawah meja, genggaman tangan Seonghyeon masih ada. Hangat dan tenang, seperti sesuatu yang selalu bisa ia jadikan tempat pulang.

“Halo, Bu…”

“Iya… ini bentar lagi adek pulang, ya.”

Ia menatap wajah Seonghyeon. Senyum tipis muncul di sana.

“Ibu mau adek beliin apa?”

Di bawah meja, jari Keonho diusap lembut.

“Oke, love you too.”

Telepon ditutup.

“Sean…”

“Hmm?”

Keonho menatapnya. Lama.

Lampu kedai yang redup jatuh di wajah Seonghyeon, membentuk bayangan halus di garis rahangnya. Tidak banyak yang berubah dari Seonghyeon, masih orang yang sama, masih dengan cara yang sama saat menatap Keonho, masih dengan kesabaran yang itu-itu saja. Keonho menunduk, menatap jari-jari mereka yang saling terkait. Terlalu pas, sampai rasanya aneh membayangkan kalau genggaman itu tidak ada.

Dulu, ia pernah diberi satu kata untuk menjelaskan semua ini.

Kagum. Kata yang sederhana. Namun sekarang, Keonho tahu kata itu tidak pernah tepat. Karena apa yang ia rasakan tidak pernah sesederhana itu. Ia menarik napas pelan. Lalu, ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan Seonghyeon.

“…ayo pulang,” kata Keonho akhirnya.

Seonghyeon. Yang dulu duduk di sebelahnya saat mereka bahkan belum tahu apa arti kata perasaan. Seonghyeon. Yang tetap di sana saat semuanya mulai terasa membingungkan. Seonghyeon. Yang tidak pernah pergi, bahkan saat Keonho sempat tidak mengerti dirinya sendiri.

Seonghyeon, sahabatnya sejak kecil. Dan sekarang, kekasihnya.

Notes:

Ian from Hearts2Hearts.